Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

ASAS-ASAS PENDIDIKAN

Dosen :

Prof. Dr. Ibnu Hajar, M. Pd

NAMA : FADHILLAH RAHMA PURBA


NIM : 419 334 2004

PENDIDIKAN BIOLOGI BILINGUAL


FAKULTAS MATEMATIKA dan ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR

Assalamu‟alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahirabbil „alamin, Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan saya
kemudahan sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Shalawat
berangkaikan salam saya panjatkan kepada Baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW
yang kita nanti-nantikan syafa‟atnya di akhirat kelak.

Terima kasih juga kepada semua pihak yang telah memberikan bimbingan dan doa
sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan sebaik-baiknya.

Saya berharap semoga makalah ini bisa bermanfaat dan menambah wawasan rekan rekan
semua. Namun saya akui bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna, sehingga saya
mngharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya
yang lebih baik.

Medan, 20 Agustus 2019

Fadhillah rahma purba


NIM. 419 334 2004
Daftar isi

BAB I................................................................................................................................................3
PENDAHULAN ................................................................................................................................4
A. Latar Belakang ................................................................................................................................ 4
BAB II .......................................................................................................................................................... 4
PEMBAHASAN .......................................................................................................................................... 4
A. Asas pokok pendidikan................................................................................................................... 4
B. Macam macam asas pendidikan .................................................................................................... 5
1. Asas Tut Wuri Handayani ......................................................................................................... 5
2. Asas belajar sepanjang hayat..................................................................................................... 5
3. Asas kemandirian dalam belajar ............................................................................................... 6
4. Asas kasih sayang ........................................................................................................................ 6
5. Asas demokrasi............................................................................................................................ 7
6. Asas keterbukaan dan transparansi .......................................................................................... 7
7. Asas tanggung jawab .................................................................................................................. 8
8. Asas kualitas ................................................................................................................................ 8
C. PENERAPAN ASAS ASAS PENDIDIKAN di SEKOLAH dan LUAR SEKOLAH ............... 9
1. Keadaan yang di temui ............................................................................................................... 9
2. Permasalahan yang dihadapi ................................................................................................... 10
3. Pengembangan penerapan asas-asas pendidikan .................................................................. 12
BAB III....................................................................................................................................................... 13
PENUTUP.................................................................................................................................................. 13
A. Kesimpulan .................................................................................................................................... 13
Daftar Pustaka ............................................................................................................................ 14
BAB I

PENDAHULAN
A. Latar Belakang

Pendidikan dapat dikatakan sebagai proses memansiakan manusia, Pendidikan juga


merupakan usaha sadar yang sistematik selalu bertolak dari sejumlah landasan serta
mengindahkan sejumlah asas-asas tertentu. Asas tersebut sangat penting, karena pendidikan
merupakan pilar utama terhadap perkembangan manusia suatu bangsa. Asas pendidikan
merupakan suatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berfikir, baik pada tahap
perancangan maupun pelaksanaan pendidikan.

Khusus di Indonesia terdapat sejumlah asas yang memberi arah dalam merancang dan
melaksanakan pendidikan itu. Asas-asas tersebut bersumber dari kecenderungan umum
pendidikan di dunia maupun yang bersumber dari pemikiran dan pengalaman sepanjang sejarah
upaya pendidikan di Indonesia.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Asas pokok pendidikan


Asas pendidikan merupakan suatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan berfikir,
baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan. Di indonesia, terdapat beberapa
asas pendidikan yang memberi arah dalam merancang dan melaksanakan pendidikan itu. Diantara
asas tersebut adalah asas tut wuri handayani, asas belajar sepanjang hayat, dan asas kemandirian
dalam belajar dan lain sebagainya (Tirtaraharja, 2005)

1
B. Macam macam asas pendidikan
1. Asas Tut Wuri Handayani
Asas tut wuri handayani yang merupakan asas pendidikan indonesia hingga saat ini
bersumber dari asas taman siswa. Asas ini dikumandangkan oleh ki hajar dewantara yang
bermakna bahwa setiap orang berhak mengatur dirinya sendiri dengan berpedoman kepada
tata tertib kehidupan yang umum. Tut Wuri Handayani juga mengandung arti pendidik
dengan kewibawaan yang dimiliki mengikuti dari belakang dan memberi pengaruh, tidak
menarik-narik dari depan, membiarkan anak mencari jalan sendiri, dan bila anak melakukan
kesalahan baru pendidik membantunya. (Jurnal Pendidikan, No.2:24).

Asas Tut Wuri Handayani ini kemudian dikembangkan oleh Drs. R.M.P.
Sostrokartono (filusof dan ahli bahasa) dengan menambahkan dua semboyan lagi,
yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso. Kini ketiga semboyan
tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan asas, masing-masing sebagai berikut;
a. Ing Ngarso Sung Tulodo ( jika di depan memberi contoh)
b. Ing Madya Mangu Karsa (di tengah membangkitkan kehendak)
c. Tut Wuri Handayani (jika di belakang memberi dorongan).

2. Asas belajar sepanjang hayat


Asas belajar sepanjang hayat merupakan sudut pandang dari sisi lain terhadap pendidikan
seumr hidup, proses belajar mengajar disekolah setidaknya mengembang sekurang kurangnya
dua misi, yakni membelajarkan peserta didik degan efisien dan efektif, dan serentak dengan
itu, meningkatkan kemauan dan kemampuan belajar mandiri sebagai sebagai basis dari
belajar sepanjang hayat.

Istilah belajar sepanjang hayat erat kaitannya dengan istilah “pendidikan seumur hidup”.
UNESCO Institute for Education menetapkan suatu definisi kerja yakni pendidikan seumur
hidup adalah pendidikan yang harus :

1. Meliputi seluruh hidup setiap individu.


2. Mengarah kepada pembentukan, pembaharuan, peningkatan dan penyempurnaan secara
sistematis pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dapat meningkatkan kondisi hidupnya.
3. Tujuan akhirnya adalah mengembangkan penyadaran diri (self fulfilment) setiap individu.
4. Meningkatkan kemampuan dan motivasi utnuk belajar mandiri.
2
5. Mengakui kontribusi dari semua pengaruh pendidikan yang mungkin terjadi, termasuk yang
formal, non formal dan informal.

Ada 2 misi yang diemban dalam proses belajar mengajar berdasarkan latar pendidikan
seumur hidup yaitu :: membelajarkan peserta didik dengan efisien dan efektif dan serentak
dengan itu, meningkatkan kemauan dan kemampuan belajar mandiri sebagai basis belajar
sepanjang hayat.

3. Asas kemandirian dalam belajar


Dalam kegiatan belajar mengajar, sedini mungkin dikembangkan kemandirian dalam
belajar itu dengan menghindari campur tangan guru, namun guru selalu siap untuk ulur
tangan bila diperlukan. Perwujuudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru
dalam peran utama sebagai fasilitator dan motifator. Salah satu pendekatan yang memberikan
peluang dalam melatih kemandirian beelajar peserta didik adalah sistem CBSA (cara belajar
siswa aktif).

Haris Mujiman dalam Joni Raka, T 43 mencoba memberikan pengertian belajar mandiri
dengan lebih lengkap. Menurutnya belajar mandiri adalah kegiatan belajar aktif, yang
didorong oleh niat atau motif untuk menguasai suatu kompetensi guna mengatasi suatu
masalah. Di sini belajar mandiri lebih dimaknai sebagai usaha siswa untuk melakukan
kegiatan belajar yang didasari oleh niatnya untuk menguasai suatu kompetensi tertentu.
Belajar mandiri dapat diartikan sebagai usaha individu untuk melakukan kegiatan belajar
secara sendirian maupun dengan bantuan orang lain berdasarkan motivasinya sendiri untuk
menguasai suatu materi pembelajaran. Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan
menempatkan guru dalam peran utama sebagai fasilitator dan motifator.

4. Asas kasih sayang


Kasih sayang adalah salah satu kodrat Tuhan Yang Maha Kuasa dan diberikan di lubuk
hati yang paling dalam kepada manusia, karena itu proses kegiatan pendidikan harus
menerapkan asas kasih sayang. Di mata Tuhan Yang Maha Kuasa semua manusia sama,
walaupun banyak faktor pembeda tetapi harkat dan maraba manusia idak ada bedanya di
hadaan Tuhan.

3
Kehidupan yang dilandasi kasih sayang bukan mencari kesalahan melainkan memaafkan
kesalahan dan mencari solsi nk mengaasi kesalahan dan kelemahan . interaksi dalam proses
pendidikan adalah kelemah lembutan, kemrahan hati, kesabaran, kesederhanaan, ketulusan,
kejujuran. Jika menerapkan interaksi tersebut, maka suasana dan hubungan antara pendidik
dengan peserta didik terjalin dalam kasih sayang (Nursid Sumaatmadja. 2002 : 60)
5. Asas demokrasi

Asas demokrasi yang dikembangkan dan diterapkan pada proses dan kegiatan pendidikan,
mengacu kepada kesetaraan antar subyek sebagai umat manusia dalam suasana interaksi
edukatif, sesuai dengan posisi serta tugas masing – masing. Pendidik berbeda dengan peserta
didik, menjadi acuan, dalam rangka membentuk serta mengembangkan peserta didik sebagai
sumber daya manusia yang bersikap mental demokratis.

6. Asas keterbukaan dan transparansi

Keterbukaan sebagai fenomena yang berkenaan dengan prilaku manusia yang terkait
dengan hati nurani, kebijakan, dan suatu keputusan (Nursid Sumaatmadja). 2002: 63).
Keterbukaan mengandung makna bahwa apa yang dilakukan dan apa yang ada dalam diri
seseorang dapat dan harus diketahui orang lain, tidak ada yang tersembunyi atau rahasia
dalam dirinya.

Oleh karena itu, maka dalam penetapan pemberian nilai tersebut harus ada keterbukaan
tentang prosedur yang digunakan pendidik dalam menentukan nilai dimaksud sehingga
peserta didik benar-benar dapat termotivasi untuk meningkatkan usaha dan kreatifitasnya
dalam belajar.

Dengan adanya keterbukaan dalam menetapkan sesuatu yang berkitan dengan


pengambilan keputusan, akan mengurangi dan bila mungkin meniadakan timbulnya
kecurigaan dalam pihak yang menerima keputusan. Keputusan yang di ambil merupakan
hasil kesepakatan atau sekurang-kurangnya, orang atau subyak yang dikenai keputusan telah
mengetahui criteria yang digunakan dalam pengambialan keputusan itu

4
7. Asas tanggung jawab

Aktivitas yang dilakukan dalam proses pendidikan harus selalu di dasarkan pada asas
tanggungjawab, karena kegiatan apapun yang dilakukan dalam pendidikan selalu diarahkan
untuk mencapai tujuan yakni mendidik dan membimbing peserta didik agar dapat tumbuh
dan berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan dan segala potensi yang dimiliki.
Sekecil apapun tindakan atau perbuatan yang dilakukan pendidik dalam proses pendidikan
harus dapat dipertanggungjawabkan dari segi pencapaian tujuan, bukan berdasarkan selera,
atau kemauan pendidik.

Secara lebih luas dan menyeluruh, tangggungjawab itu meliputi tanggungjawab kepada
diri sendiri, kepada keluarga, kepada masyarakat-bangsa dan Negara Indonesia, dan terutama
tanggungjawab terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha tahu.

8. Asas kualitas

Proses kegiatan pendidikan yang bertujuan untuk menciptakan sumber daya manusia
yang berkualitas, haruslah berlandaskan asas kualitas dalam segala perangkat, kerja, dan
kinerjanya. Kegiatan pendidikan yang berlandaskan kualitas akan dapat melahirkan peserta
didik menjadi manusia yang berkualitas yang menyangkut jasmani, keterampilan, etos kerja,
intelektual, emosional, sosial, spiritual, dan akhlak mulia sebagai pribadi utuh, jujur, terbuka,
dan bermakna bagi hidup dan kehidupan diri sendiri dan orang lain.

Dinamika kehidupan yang telah berkembang dan berada dalam suasana global dan
perdagangan bebas, menghadapkan berbagai hambatan dan tantangan sekaligus peluang
untuk peningkatan kemampuan dan keterampilan untuk mengisi peluang pasar bebas. Daya
saing akan semakin tinggi, dan ukuran yang digunakan adalah bukan saja tergantung pada
kualitas hasil akan tetapi justru lebih diutamakan pada kualitas proses pencapaiannya. Dalam
mengantisipasi dinamika, baik yang positif menguntungkan, maupun yang negative
merugikan, bangsa Indonesia sebagai warga dunia, harus memiliki kualitas, kualitas
penguasaan IPTEK, kualitas keterampilan, kualitas etos kerja, sosial kemasyarakatan,
emosional, dan kualitas spiritual. Tanpa memiliki kualitas-kualitas seperti itu, bangsa
Indonesia akan semakin tergantung kepada bangsa lain, menjadi sapi perah bangsa lain dalam

5
segala aspek khidupan. Oleh karena itu, penerapan dan pengambangan asa kualitas dalam
proses pendidikan, sangat strategis untuk membiana peserta didik menjadi sumber daya
manusia yang berkualitas dalam segala aspek kehidupan manusia.

C. PENERAPAN ASAS ASAS PENDIDIKAN di SEKOLAH dan LUAR SEKOLAH


Untuk memberi gambaran bagaimana penerapan macam macam asas pada sub bab sebelumnya,
maka akan dibicarakan :
1. Keadaan yang di temui

Dalam kaitan penerapan asas Tut Wuri Handayani, dapat dikemukakan beberapa keadaan
yang ditemui sekarang, yakni :

a. Peserta didik mendapat kebebasan untuk memilih pendidikan yang diminatinya


di semua jenis, jalur, dan jenjang pendidikan yang disediakan oleh pemerintah
sesuai peran dan profesinya dalam masyarakat. Peserta didik bertanggung jawab
atas pendidikannya sendiri
b. Peserta didik yang memiliki kelainan atau cacat fisik atau mental memperoleh
kesempatan untuk memilih pendidikan dan ketrampilan sesuai dengan cacat yang
disandang agar dapat bertumbuh menjadi manusia yang mandiri
c. Peserta didik di daerah terpencil mendapat kesempatan untuk memperoleh
pendidikan dan ketrampilan agar dapat berkembang menjadi manusia yang
memiliki kemampuan dasar yang memadai sebagai manusia yang mandiri, yang
beragam dari potensi dibawah normal sampai jauh diatas normal (Jurnal
Pendidikan,1989)

Dalam kaitan asas belajar sepanjang hayat, dapat dikemukakan beberapa keadaan yang
ditemui sekarang, yaitu :

a. Usaha pemerintah memperluas kesempatan belajar telah mengalami peningkatan.


Terbukti dengan semakin banyaknya peserta didik dari tahun ke tahun yang dapat
ditampung baik dalam lembaga pendidikan formal, non formal, dan informal;
berbagai jenis pendidikan; dan berbagai jenjang pendidikan dari TK sampai
perguruan tinggi

6
b. Usaha pengadaan dan pengembangan sarana dan prasarana yang semakin
meningkat: ruang belajar, perpustakaan, media pengajaran, bengkel kerja, sarana
pelatihan dan ketrampilan, sarana pendidikan jasmani
c. Pengadaan buku ajar yang diperuntukan bagi berbagai program pendidikan
masyarakat
2. Permasalahan yang dihadapi

a. Masalah Peningkatan Mutu Pendidikan


Kebijakan peningkatan mutu pendidikan tidak harus dipertimbangkan
dengan kebijaksanaan pemerataan pendidikan. Karena peningkatan kualitas
pendidikan harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pendidikan. Pendidikan
bertujuan membangun sumber daya manusia yang mutunya sejajar dengan mutu
sumber daya manusia negara lain.

Pemerintah mengusahakan berbagai cara dalam upaya peningkatan mutu


pendidikan, antara lain: (1) Pembinaan guru dan tenaga pendidikan di semua
jalur, jenis, dan jenjang pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan, (2)
Pengembangan sarana dan prasarana sesuai dengan perkembangan ilmu dan
teknologi, (3) Pengembangan kurikulum dan isi pendidikan sesuai dengan
perkembangan ilmu dan teknologi serta pengembangan nilai-nilai budaya bangsa,
(4) Pengembangan buku ajar sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi serta perkembangan budaya bangsa.

b. Masalah Peningkatan Relevansi Pendidikan

Kebijaksanaan peningkatan relevansi pendidikan mengacu pada


keterkaitannya dengan: ke-bhineka tunggal ika-an masyarakat, letak geografi
Indonesia yang luas, dan pembangunan manusia Indonesia yang
multidimensional.

7
c. Masalah pendekatan komunikasi oleh guru

Sekarang masih terdapat kecendrungan bahwa peserta didik terikat oleh


penggunaan komunikasi satu arah dalam kegiatan pembelajaran dengan
mengandalkan metode ceramah. Dalam komunikasi demikian,
pendididikmenempatkan dirinya dalam kedudukan yang lebih tinggi dari peserta
didik. Tidak jarang, peserta didik dijadikan objek komunikasi oleh seorang guru.
Dengan rendahnya umpan balik dari peserta didik, dan cenderung hanya
menghasilkan perubahan pengetahuan (Rogers dan Schoemaker, 1981 :
Depdikbud, 1983) memberikan implikasi yang negatif terhadap out put
pendidikan, yakni membuat peserta didik tidak terdorong untuk belajar mandiri,
mereka lebih bergantung kepada informasi yang diberikan pendidik.

d. Masalah peranan pendidik

Metode pembelejaran yang dilakukan oleh pendidik kepada peserta didik,


yakni metode ceramah dimana pendidik melakukan komuni kasi satu arah,
pendidik sering menempatkan dirinya sebagai orang yang paling dominan. Tidak
jarang, pendidik, dosen atau guru menempatkan dirinya sebagai orang yang
paling dan serba tahu dalam segala hal pada waktu kegiatan belajar berlangsung.
Tugas seorang pendidik sebenarnya mendorong peserta didik untuk mencari
informasi sendiri yang dikatakan sebagai upaya belajar mandiri.

e. Masalah tujuan belajar

Learning to know dan learning to do belum cukup untuk dijadikan tujuan


belajar. Oleh karena kemajuan teknologi terutama kemajuan transpotasi dan
komunikasi membuat dunia semakin sempit, sehingga intensitas interaksi
manusia semakin tinggi tanpa dibatasi oleh perbedaan suku, agama, ras, dan asal-
usul. Oleh karena itu, tujuan belajar diperluas dengan learning to life together dan
learnign to be.

8
3. Pengembangan penerapan asas-asas pendidikan

a. Meningkatkan mutu pendidikan

Dalam menghadapi masalah peningkatan sumber daya manusia sesuai


perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pemerintah telah dan sedang
mengupayakan peningkatan: mutu guru dan tenaga kependidikan, mutu sarana
dan prasarana pendidikan, mutu kurikulum dan isi kurikulum sesuai
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan nilai-nilai
budaya bangsa.

b. Meningkatkan relevansi pendidikan

Dalam upaya meningkatkan relevansi pendidikan, pemerintah melakukan


berbagai upaya (1) usaha menemukan cara baru dan pemanfaatan teknologi
pendidikan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik yang beragam, (2) usaha
pemanfaatan hasil penelitian pendidikan bagi peningkatan kualitas kegiatan
pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik, dan (3) usaha pengadaan
ruang belajar, ruang khusus (bengkel kerja, konseling, pertemuan, dan
sebagainya) yang menunjang kegiatan pembelajaran.

c. Mengembangkan komunikasi dua arah

Dalam meningkatkan umpan balik dari siswa, seorang guru harus


mengembangkan komunikasi dua arah. Siswa tidak hanya mendengarkan namun
juga memberikan respon dalam setiap permasalahan yang diberikan seorang
pendidik. Dengan demikian, peserta didik akan terdorong untuk belajar mandiri,
tidak tergantung kepada pendidik saja.

9
d. Menggeser peranan pendidik menjadi fasilitator, informator, motivator, dan
organisator.

Fasilitator sebagai penyedia layanan misalnya memberikan kasus yang


harus dipecahkan atau didiskusikan. Informator sebagai pemberi informasi
terkini yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran. Motivator sebagai pemberi
motivasi kepada peserta didik. Organisator yang membimbing peserta didik
menyelesaikan tahap-tahap pembelajaran yang telah ada.

f. Mengembangkan tujuan belajar menjadi learning to know, learning to do,


learning to life together, dan learning to be.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Pendidikan selalu berkaitan dengan manusia, dan hasilnya tidak segera tampak. Oleh karena itu
pendidikan harus dirancang dan dilaksanakan secermat mungkin dengan memperhatikan sejumlah
asas pendidikan

Pendidikan di Indonesia tidak lepas dari kiprah Ki Hajar Dewantara sang pelopor pendidikan yang
mempopulerkan tiga asas penting dalam kegiatan pendidikan yang masih dijadikan teladan sampai
sekarang yaitu asas tut wuri handayani, asas ing ngarso sungtolodo, dan asas ing madyo mangunkarso.
Ketiga asas ini saling berhubungan hendaknya menjadi acuan untuk menerapkan sistem pendidikan
yang tepat bagi bangsa ini dan terus menjunjung tinggi kebudayaan nasional daripada kebudayaan
asing. Semangat untuk terus melestarikan “Tut Wuri Handayani” dalam dunia pendidikan dirasa
begitu penting, mengingat makna dari semboyan Ki Hadjar tersebut yaitu membuat orang menjadi
pribadi yang mandiri.

10
Daftar Pustaka

kadir, A. (2012). Dasar dasar pendidikan. Jakarta: Kencana prenada media group.

Johnson, Elanie B. PH. D., (2009): Contextual Teaching and Learning; Mizan Media Utama, Bandung.

Tirtarahardja, Umar dan S.L. La Sulo. (2005): Pengantar Pendidikan. Rineka Cipta: Jakarta.

Tim Pengajar.(2011). Diktat Filsafat Pendidikan. UNIMED : Medan

Idris.Zahara.H, Jamal.Lisman.H, (1992), Pengantar Pendidikan, PT.Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.

http://www.melodramaticmind.com/2009/10/asas-asas-pendidikan-indonesia-dan.html

11