Anda di halaman 1dari 6

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Industri Kreatif merupakan gelombang ke empat dalam tahapan dalam tahapan
pembangunan ekonomi setelah ekonomi pertanian, industri, informasi yang akan menjadi
sektor ekonomi yang penting pada masa depan. Di Indonesia Industri kreatif sedang
berkembang dengan cepat, para ahli dan pakar ekonomi menyatakan bahwa pedapatan negara
sebagian disumbang oleh industri kreatif yang terus bertumbuh dan berkembang pada setiap
saat. Industri kreatif sendiri menurut Kementrian Perdagangan Indonesia adalah industri yang
berasal dari pemanfaatan aktifitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan
kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan mengekploitasi daya kreasi
dan daya cipta individu tersebut.
Industri kreatif saat ini memang memiliki peranan yang sangat penting pada
perekonomian suatu negara, bukan hanya di negara berkembang seperti Indonesia. Hal ini tidak
bisa dipisahkan karena industri kreatif memiliki peran meningkatkan perekonomian sebuah
negara secara global. Industri kreatif erat hubunganya dengan tingkat kreativitas manusia
sebagai sumber daya utama penggerak roda perekonomian. Banyaknya sektor industri kreatif
yang tercipta adalah sebagai buah dari kreativitas dan inovasi yang dikembangkan oleh
seseorang, (Yamdu.2014).
Untuk pengembangan tersebut, Indonesia memiliki Regulasi yang dinilai sesuai dengan
aturan-aturan dalam Ekonomi Kreatif yaitu UU No. 20 Tahun 2008 tentang UMKM, UU No.
33 Tahun 2009 tentang Perfilman – mendorong pengembangan industri perfilman, UU No. 3
Tahun 2014 tentang Perindustrian – mendorong pengembangan industri kreatif Nasional, UU
No 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta – memberikan perlindungan kekayaan intelektual bagi
karya kreatif, dan UU No 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan – Mendorong perdagangan
produk berbasis ekonomi kreatif.
Namun seiring dengan perkembangan industri kreatif dan peningkatan kebutuhan
masyarakat saat ini, kota Makassar belum memiliki wadah kreatifitas yang menampung
berbagai subsektor industri kreatif. Padahal banyak 3 pelaku seni dan industri kreatif, hanya
saja mereka belum memiliki wadah yang jelas, mereka hanya dikumpulkan saat ada festival,
selain itu hanya melakukan industri kreatif secara individiual. Harapannya kota Makassar
memiliki wadah untuk para komunitas industri kreatif dengan memberikan ruang pembelajaran
dan ruang mengembangkan kreatifitas seperti ruang kantor sewa (Cooffice) yang dibutuhkan
oleh para pekerja yang belum memiliki tempat bekerja, ruang bekerja santai (Co-working) yang
dibutuhkan oleh para pekerja dan komunitas kreatif untuk mengerjakan kerjaan dengan santai
dan dapat dipakai oleh umum,serta ruang membuat barang kreatif (Makerspace) yang
dibutuhkan oleh para enterpreneur untuk mewujudkan ide-idenya.
Oleh sebab itu, dengan membahas pentingnya industri kreatif yang juga merupakan
suatu peradaban yang perlu difasilitasi dan pentingnya memberi ruang untuk belajar dan
menuangkan berbagai inspirasi dalam berbisnis, serta memenuhi harapan enterpreneur untuk
memiliki wadah untuk bekerja yang menyenangkan maka sebuah “Makassar Creative Hub”
merupakan solisi yang tepat.untuk menjawab permasalahan dan harapan yang ada dengan
fungsi pokok CoOffice, Co-Working, dan Makerspace. Terdapat juga fungsi tambahan yang
mendukung untuk menjawab kebutuhan / harapan memiliki ruang bermain yang edukatif maka
di beri fungsi tambahan seperti ruang terbuka hijau dengan fungsi Emphiteater,game center,
gallery, retail dan lain-lain. Pada Makassar Creative Hub ini memfasilitasi untuk
pengembangan 6 sektor industri kreatif yaitu dalam bidang fasion, kerajinan tangan, musik dan
seni pertunjukan, foto dan vidiography, percetakan, dan animasi.
Perancangan Makassar Creative Hub ini menggunakan beberapa teori dan konsep yang
diterapkan pada pengembangan desain bangunan yaitu teori perilaku, teori Penzoningan, teori
Ruang Publik dan Interaksi, teori Sirkulasi, teori Co-working, Co-office dan teori Makerspace.
Sedangkan konsep yang diterapkan adalah konsep yang dihasilkan dari analisa tapak, analisa
pelaku/pengguna, konsep bangunan lebih mengarah akan dijadikan sebagai landmark kawasan.

1. 2 Tinjauan Teori
Menurut Creative HubKit British Council Creative Economy, Creative Space adalah
tempat, baik fisik atau virtual yang menyatukan komunitas atau pun orang-orang kreatif yang
didalamnya memberi ruang dan dukungan untuk komunitas, mengumpulkan, pengembangan
bisnis, dan bidang lainnya seperti sektor kreatif, budaya dan teknologi.
Tujuan Creative Space :
1) Menyediakan fasilitas dan pelayanan untuk kegiatan dari pertemuan, diskusi, meeting
sebuah organisasi hingga pelatihan keterampilan dan peluang global baik dalam kurun
waktu jangka pendek ataupun jangka panjang.
2) Untuk memfasilitasi kolaborasi antar komunitas.
3) Sebagai fasilitator antara komunitas atau orang kreatif dengan lembaga pengembangan
dan institusi kreatif dan non-kreatif.
4) Sebagai media komunikasi dan memperluas jaringan.
5) Memberikan apresiasi pada komunitas atau orang yang telah berkarya dan berinovasi
Creative Space dapat juga disebut dengan collectives, cooperatives, labs, incubators dan
bisa bersifat statis atau dinamis/online. Beberapa jenis Creative Space yang umum dijumpai
antara lain :
1) Studio : Menyediakan ruang kerja bagi individu atau kelompok kecil berupa Coworking
space.
2) Network : Creative Space dengan anggota yang tersebar di beberapa sektor tertentu.
3) Online Platform : Berhubungan dengan sesama komunitas hanya melalu media online
4) Center : Creative space dalam skala besar yang juga menyediakan beberapa fasilitas
penunjang seperti café, bar, cinema, ruang pameran, toko/shop.
5) Cluster : Creative Space yang menjadi tempat bernaung individu atau komunitas kreatif
pada wilayah tempat tinggal yang sama.
6) Alternative : Creative Space yang fokus pada kegiatan dengan komunitas baru, sektor
dan finansial

Creative Space juga dikelompokkan berdasarkan bentuk usahanya, antara lain :


1) Struktural : bentuk Struktural ini kemudian dibagi lagi menjadi 2 jenis yaitu Creative
Space yang dibentuk atas dasar Profit /Private dan atas dasar Non-Profit/social.
2) Sektor : bentuk Sektor ini kemudian dibagi lagi menjadi 2 jenis yaitu Multidisciplinary
Creative Space (gabungan beberapa jenis komunitas dalam satu tempat baik itu di
bidang kreatif, teknologi, budaya, sosial dan bisnis) dan Creative Space Spesifik (Games
Hub, Tech Hub).
3) Pelayanan : bentuk Creative Space ini menawarkan pelayanan fasilitas yang lengkap
mulai dari ruangan hingga event / kegiatan. Putu Rahayu Sitha Dewi

1.3 Alasan dan motivasi pemilihan proyek


a. KETERTARIKAN (INTEREST)
Makassar Creative Hub ini dapat menjadi wadah untuk kegiatan positif
yang akan mengembangkan minat dan bakat juga menghubungkan beberapa
kalangan dalam suatu tempat mulai dari entrepreneur, pelajar, pelaku start up,
dan pelaku kerajinan dan seni di bidang arsitektur, desain komunikasi visual
(DKV) , fashion dan fotografi..Fokusnya pada bidang berkarya, berelasi /
kolaborasi, belajar, diskusi dan promosi yang berkaitan dalam cakupan beberapa
karya yaitu arsitektur, desain komunikasi visual (DKV) , fashion dan fotografi.
b. KEPENTINGAN (URGENCY)
Berkaitan dengan program dari Badan Kreatif, pengembangan di bidang
ekonomi kreatif sedang gencar dilakukan. Di Kota Makassar belum terdapat
wadah yang memfasilitasi untuk program pengembangan ekonomi kreatif ini
seperti halnya creative hub yang dimiliki di beberapa kota seperti Kota
Bandung dan Kota Jakarta
Fasilitas untuk praktek (pengembangan diri) dan action untuk apresiasi
karya pemuda creative di kota Makassar termasuk terbilang kurang memadai ,
padahal motivasi dan pengalaman sangat penting bagi mereka untuk persiapan
diri dalam dunia kerja dan realisasi karya.

Makassar creative hub ini diharapkan dapat memberikan angin segar


bagi penyesuaian perkembangan zaman dengan kebutuhan para pemuda
kreatif yang ingin memulai jenjang yang lebih profesional dan lebih berpotensi
(berkeahlian). Selain itu, juga sebagai wadah bagi working space dan studio
untuk praktek karya (arsitektur, desain komunikasi visual, fashion dan
fotografi) . Kepentingan lainnya adalah untuk lebih mengenalkan masyarakat,
karya pemuda - pemuda kreatif kota Makassar yang diharapkan dapat
meningkatkan semangat berkreatif dan siap bersaing dalam karya untuk
memajukan perekonomian negara yang lebih mandi.

c. KEBUTUHAN (NEED)
Dibutuhkan tempat untuk menampung kegiatan-kegiatan tersebut
sebagai pemasaran karya dari para pemuda kreatif kota Makassar. Makassar
Creative Hub dibuat sebagai sarana belajar, berelasi, berkarya dan pameran
yang nantinya akan digunakan dari berbagai kalangan mulai dari kalangan
masyarakat kota Makassar, pelajar, entrepreneur dan tamu kehormatan lainya.

1.3 Tujuan dan Manfaat

1.3.1 Tujuan
Tujuan dari projek Makassar Creative Hub ini antara lain:
1.3.1.1.1 Menyiapkan pemuda / masyarakat yang memiliki kemampuan
dan keterampilan dalam ekonomi kreatif
1.3.1.2 Membangkitkan minat dan memotivasi masyarakat untuk terjun di
bidang industri kreatif
1.3.1.3 Menjadi wadah untuk menggali potensi – potensi masyarakat
untuk berkreasi / proses kreatif
1.3.1.4 Menjadi solusi bagi working space di kota Makassar
1.3.1.5 Menjadi sarana pengembangan diri di bidang arsitektur, Desain
Komunikasi Visual (DKV) , fashion dan fotografi..
1.3.1.6 Menjadi tempat pameran karya dan motivasi masyarakat dan
pemuda kreatif untuk semangat berkarya
1.3.2 Manfaat

Manfaat dari projek Makassar Creative Hub antara lain:


1.3.2.1 Membuka peluang pengembangan keterampilan / kemampuan bagi pelaku
enterpreneur berbagai kalangan (pelajar, pelaku start up dan pelaku di bidang
kesenian / pengerajin)
1.3.2.2 Memajukan pelatihan dan pengembangan diri di bidang arsitektur, Desain
Komunikasi Visual (DKV) , fashion dan fotografi
1.3.2.3 Mencoba menanggapi kemajuan dari pembangunan industri kreatif yang
berlangsung dalam masyarakat untuk mewujudkan karya pemuda kreatif bangsa