Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Salah satu pendukung yang mempengaruhi keberhasilan reformasi birokrasi
khususnya di bidang pelayanan publik, yaitu akuntabilitas. Mengapa akuntabilitas
dianggap penting? Unsur – unsur apa saja yang melengkapi ketersediaan
akuntabilitas, serta bagaimana mekanisme akuntabilitas bisa mendukung
pelayanan publik yang baik.
Bagaimana akuntabilitas dikembangkan sehingga bisa menjalin sinergi yang posistif
dengan birokrasi dalam menjalankan fungsinya sebagai pelayan publik.
Undang-Undang tentang Akuntabilitas Kinerja Penyelenggara Negara (AKPN)
diperlukan untuk memastikan terwujudnya pertanggungjawaban setiap
penyelenggara negara atas segala keputusan yang dibuat, tindakan yang dilakukan,
kinerja yang dicapai dan dampak yang dihasilkan kepada publik.
Sebagai pemegang amanat dalam penyelenggaraan negara yang berorientasi pada
hasil, sudah selayaknya pertanggungjawaban penyelenggaraan negara lebih
berfokus pada pertanggung jawaban kinerja (performance acountability), yang
hasilnya memberi manfaat (outcome) bagi masyarakat. Selain itu, peningkatan
kinerja dilakukan agar pencapaian hasilnya semakin mendekati sasaran yang
ditetapkan.
Munculnya ide penyusunan RUU ini juga didorong oleh kenyataan, bahwa
akuntabilitas sebagai salah satu prinsip universal dan esensial dalam mewujudkan
tata pemerintahan yang baik, belum dapat diterapkan secara optimal.
Upaya penerapan akuntabilitas sudah dimulai di lingkungan instansi pemerintah.
Namun, fokusnya masih tertuju pada penerapan prinsip akuntabilitas keuangan
negara, yang memang telah didukung oleh sistem keuangan yang globally
accepted. Tetapi prinsip akuntabilitas kinerja, yang sangat dibutuhkan dalam
mewujudkan tata pemerintahan yang baik dan berorientasi pada hasil yang terukur

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 1


(result oriented government) justru belum didukung oleh sistem yang mantap, dan
masih perlu dikembangkan.
Untuk itu, diperlukan dukungan dasar hukum yang kuat, yang sama tingkatannya
dengan dasar hukum yang mendukung penerapan prinsip akuntabilitas keuangan
negara. Dasar hukum itu tidak hanya berlaku bagi lembaga pemerintah saja, tetapi
juga untuk penyelenggara negara lain, seperti legislatif, yudikatif, serta lembaga
penyelenggara negara lainnya. Hal ini menjadi penting, agar akuntabilitas kinerja
dapat berorientasi pada hasil dan terukur, serta dapat dilaksanakan secar optimal.
Disadari, saat ini DPR telah menyetujui 247 RUU menjadi program legislasi nasional
(Prolegnas) 2010 – 2014, di mana 55 RUU di antaranya menjadi prioritas Prolegnas
2010. Namun demikian, saya berharap RUU AKPN ini bisa diundangkan sebelum
tahun 2014, bahkan kalau mungkin pada tahun 2012.
Undang-Undang (UU) No.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah menjelaskan,
bahwa daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi
pelayanan, peningkatan peran serta, prakarsa dan pemberdayaan masyarakat.
Ketentuan tersebut menyiratkan sebuah diskresi dan tanggung jawab bagi
pemerintahan daerah untuk menyusun sebuah kebijakan daerah, baik yang bersifat
umum maupun khusus dalam bentuk petunjuk teknis operasionalnya. Kebijakan
demikian, akan menjadi pedoman bagi seluruh penyelenggaraan pemerintahan
daerah dalam menyelenggarakan agenda otonomi daerah sesuai tujuan
pemberiannya, yakni dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
memperbaiki kualitas pelayanan umum serta meningkatkan daya saing daerah
dalam suasana keserasian dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Otonomi daerah versi sistem pemerintahan Indonesia, menyatakan bahwa otonomi
daerah merupakan hak dan kewajiban yang diberikan pemerintah, dalam kerangka
memperbaiki dayaguna dan hasilguna penyelengaraan pemerintahan. Khusus
dalam konteks memperbaiki dayaguna dan hasilguna penyelenggaraan
pemerintahan, maka penyempurnaan manajemen pemerintahan daerah terhadap
berbagai aspek yang menopangnya menjadi prasyarat untuk segera dilakukan oleh
pemerintah daerah itu sendiri. Kondisi ini sejalan dengan pendapat Osborn dan
Gaebler (1992) yang berpendapat bahwa “Kegagalan utama pemerintahan saat ini

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 2


adalah karena kelemahan manajemennya. Masalahnya bukan terletak pada apa
yang dikerjakan pemerintah, melainkan bagaimana caranya pemerintah
mengerjakannya“. Pentingnya melakukan perbaikan dalam manajemen
pemerintahan di semua aspek, sebagai salah satu dari menataulang (reinventing)
sistem pemerintahan yang diartikan sebagai “fundamental redesign of the system of
government, the civil service system”.

B. MENGAPA PERLU AKUNTABILITAS?


Berkenaan dengan pembaharuan aspek-aspek manajemen pemerintahan,
setidaknya, bercermin dari pembaharuan manajemen pemerintahan pada saat
memasuki era reformasi, yakni berkaitan dengan sistem manajemen perencanaan,
SDM, pembiayaan, manajemen pelayanan umum, manajemen asset/investasi,
manajemen kolaborasi, dan manajemen konflik. Demikian pula pada aspek
pengawasannya, karena otonomi diberikan untuk mencapai tujuan tertentu yang
akan berkonsekwensi pada penggunaan sumber daya pemerintahan, baik dalam
lingkungan struktur pemerintahan daerah maupun sumber daya daerah lainnya,
maka diperlukan pula sebuah manajemen yang handal dalam melakukan
pengawasannya.
Pengawasan yang diperlukan bagi efektivitas penyelenggara pemerintahan di
kalangan pemerintahan daerah, seyogyanya bertumpu pada penumbuhan dan
pemeliharaan kultur pengawasan, sehingga kehadirannya akan dipandang sebagai
kewajaran dan konsekwensi berorganisasi yang sehat. Membangun kultur
pengawasan organisasional ini, tampaknya semakin relevan dalam kondisi
penertiban manajemen pemerintahan, yang tengah intensif dilakukan pemerintahan
nasional dewasa ini. Apalagi dengan kehadiran Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK) yang dibentuk melalui UU.No.30/2002, maka tanpa keterbangunan kultur
pengawasan di kalangan penyelenggara pemerintahan daerah, akan semakin
memperlemah keefektivan dalam menyelesaikan agenda yang diamanatkan
kebijakan otonomi pembangunan di daerah.
Dengan bergulirnya era reformasi telah memberi implikasi ke dalam berbagai sektor
kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Muara dari gerakan

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 3


reformasi tersebut, adalah semakin meningkatnya harapan dan tuntutan akan
terwujudnya good governance (tata pemerintahan yang baik) serta clean
government (pemerintahan yang bersih) yang direfleksikan dalam peningkatan
sektor pelayanan publik. Seiring dengan semakin meningkatnya tuntutan dan
kebutuhan masyarakat terhadap sektor pelayanan publik, serta dengan semakin
pesatnya kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, telah memberikan
kosekuensi kepada aparatur pemerintah selaku abdi negara dan abdi masyarakat
untuk dapat menyesuaikan diri, baik secara individual maupun institusional sesuai
dengan dinamika dan perkembangan lingkungan internal maupun eksternal
organisasi pemerintahan. Dengan memiliki kompetensi dan profesionalisme serta
sikap adaptif yang tinggi terhadap segala perubahan dan perkembangan situasi,
maka pelayanan publik yang dilakukan aparatur pemerintah kepada masyarakat
harus semakin memuaskan (service excellence). Untuk itu, tidak ada alternatif lain
kecuali meningkatkan kompetensi dan profesionalisme agar memiliki keunggulan
kompetitif dan memegang teguh etika birokrasi dalam memberikan pelayanan yang
sesuai dengan tingkat kepuasaan dan keinginan masyarakat.

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 4


BAB II

AKUNTABILITAS PNS

A. SEJARAH
Akuntabilitas berasal dari bahasa Latin:accomptare (mempertanggungjawabkan)
bentuk kata dasar computare (memperhitungkan) yang juga berasal dari kata putare
(mengadakan perhitungan). Sedangkan kata itu sendiri tidak pernah digunakan
dalam bahasa Inggris secara sempit tetapi dikaitkan dengan berbagai istilah dan
ungkapan seperti keterbukaan (openness), transparansi (transparency), aksesibilitas
(accessibility), dan berhubungan kembali dengan publik (reconnecting with the
public) dengan penggunaannya mulai abad ke-13 Norman Inggris,konsep
memberikan pertanggungjawaban memiliki sejarah panjang dalam pencatatan
kegiatan yang berkaitan dengan pemerintahan dan sistem pertanggungjawaban
uang yang pertama kali dikembangkan di Babylon, Mesir, Yunani, Romadan Israel.

B. PENGERTIAN AKUNTABILITAS
Istilah akuntabilitas berasal dari istilah dalam bahasa Inggris accountability yang
berarti pertanggunganjawab atau keadaan untuk dipertanggungjawabkan atau
keadaan untuk diminta pertanggunganjawaban. Akuntabilitas (accountability) yaitu
berfungsinya seluruh komponen penggerak jalannya kegiatan perusahaan, sesuai
tugas dan kewenangannya masing-masing. Akuntabilitas dapat diartikan sebagai
kewajiban-kewajiban dari individu-individu atau penguasa yang dipercayakan untuk
mengelola sumber-sumber daya publik dan yang bersangkutan dengannya untuk
dapat menjawab hal-hal yang menyangkut pertanggung jawabannya. Akuntabilitas
terkait erat dengan instrumen untuk kegiatan kontrol terutama dalam hal pencapaian
hasil pada pelayanan publik dan menyampaikannya secara transparan kepada
masyarakat.
Pengertian akuntabilitas ini memberikan suatu petunjuk sasaran pada hampir
semua reformasi sektor publik dan mendorong pada munculnya tekanan untuk
pelaku kunci yang terlibat untuk bertanggungjawab dan untuk menjamin kinerja

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 5


pelayanan publik yang baik. Prinsip akuntabilitas adalah merupakan pelaksanaan
pertanggung jawaban dimana dalam kegiatan yang dilakukan oleh pihak yang terkait
harus mampu mempertanggung jawabkan pelaksanaan kewenangan yang diberikan
di bidang tugasnya. Prinsip akuntabilitas terutama berkaitan erat dengan
pertanggung jawaban terhadap efektivitas kegiatan dalam pencapaian sasaran atau
target kebijakan atau program yang telah ditetapkan itu.
Pengertian akuntabilitas menurut Lawton dan Rose dapat dikatakan sebagai
sebuah proses dimana seorang atau sekelompok orang yang diperlukan untuk
membuat laporan aktivitas mereka dan dengan cara yang mereka sudah atau belum
ketahui untuk melaksanakan pekerjaan mereka. Akuntabilitas sebagai salah satu
prinsip good corporate governance berkaitan dengan pertanggungjawaban pimpinan
atas keputusan dan hasil yang dicapai, sesuai dengan wewenang yang dilimpahkan
dalam pelaksanaan tanggung jawab mengelola organisasi. Prinsip akuntabilitas
digunakan untuk menciptakan sistem kontrol yang efektif berdasarkan distribusi
kekuasaan pemegang saham, direksi dan komisaris.
Prinsip akuntabilitas menuntut 2 (dua) hal, yaitu :
1) kemampuan menjawab dan
2) konsekuensi. Komponen pertama (istilah yang bermula dari responsibilitas)
adalah berhubungan dengan tuntutan bagi para aparat untuk menjawab secara
periodik setiap pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan bagaimana
mereka menggunakan wewenang mereka, kemana sumber daya telah digunakan
dan apa yang telah tercapai dengan menggunakan sumber daya tersebut.

C. PRINSIP-PRINSIP AKUNTABILITAS

Di dalam pedoman ini, disepakati dan dirumuskan sejumlah 13 (tiga belas)


prinsip dan penjelasannya yang digunakan untuk menjelaskan hal-hal terkait
akuntabilitas pengelolaan bantuan kemanusiaan.

Ke-13 (tiga belas) prinsip-prinsip tersebut adalah:

1. Independensi, bahwa: Organisasi adalah otonom dan bebas dari pengaruh dan
kepentingan-kepentingan pemerintah, partai politik, donor/lembaga penyandang

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 6


dana, sektor bisnis dan siapapun yang dapat menghilangkan independensi
organisasi dalam bertindak bagi kepentingan umum.

2. Komitmen Organisasi, bahwa: Organisasi memiliki perangkat kebijakan yang


jelas dan tegas terkait kualitas dan akuntabilitas untuk dapat diterapkan dalam
pengelolaan bantuan kemanusiaan.

3. Kompetensi, bahwa: Organisasi memiliki dan mengembangkan kapasitas yang


relevan dalam pengelolaan bantuan kemanusiaan sesuai standar bantuan
kemanusiaan.

4. Non-Diskriminasi, bahwa: Organisasi pengelola bantuan selalu menerapkan


asas tidak membedakan orang menurut jenis kelamin, suku, agama, ras, dan
aliran politik.

5. Partisipasi, bahwa: Organisasi melibatkan pemangku kepentingan terkait dan


penerima manfaat dalam semua tahapan pengelolaan bantuan.

6. Transparansi, bahwa: Organisasi enyediakan informasi yang jelas dan benar


serta dapat dipertanggungjawabkan terkait dengan pengelolaan bantuan
kemanusiaan.

7. Koordinasi, bahwa: Organisasi berkomunikasi dengan pemangku kepentingan


dan organisasi pengelola bantuan kemanusiaan lainnya melalui wadah
koordinasi yang ada dalam pengelolaan bantuan kemanusiaan.

8. Pembelajaran dan Perbaikan, bahwa: Setiap pengalaman yang pernah dialami


dalam pengelolaan bantuan kemanusiaan menjadi bahan pembelajaran untuk
perbaikan.

9. Kemitraan, bahwa: Kerjasama pengelolaan bantuan kemanusiaan dilakukan


dengan asas kesetaraan.

10. Non-Proselitis, bahwa: Organisasi tidak melakukan upaya penyebarluasan


agama, keyakinan, paham, dan ideologi politik melalui distribusi bantuan
kemanusiaan.

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 7


11. Mekanisme Umpan Balik, bahwa: Organisasi memiliki mekanisme untuk
menerima saran, kritik dan tanggapan dari pemangku kepentingan untuk
peningkatan dan perbaikan pengelolaan bantuan.

12. Kemandirian, bahwa: Organisasi mampu melakukan upaya-upaya mobilisasi


sumber daya dan distribusi bantuan kemanusiaan yang tidak menimbulkan
ketergantungan.

13. Keberpihakan Terhadap Kelompok Rentan, bahwa: Organisasi memiliki


keberpihakan yang jelas kepada kelompok rentan (ibu hamil, ibu menyusui,
anak-anak, lansia, difabel/penyandang cacat, pengidap HIV AIDS, minoritas
seks) di setiap tahapan dan dampak pengelolaan bantu

D. ASPEK-ASPEK AKUNTABILITAS

1. Akuntabitas adalah sebuah hubungan

Akuntabilitas adalah komunikasi dua arah sebagaimana yang diterangkan oleh


Auditor General Of British Columbia yaitu merupakan sebuah kontrak antara dua
pihak.

2. Akuntabilitas Berorientasi Hasil

Pada stuktur organisasi sektor swasta dan publik saat ini akuntabilitas tidak
melihat kepada input ataupun autput melainkan kepada outcome.

3. Akuntabilitas memerlukan pelaporan

Pelaporan adalah tulang punggung dari akuntabilitas

4. Akuntabilitas itu tidak ada artinya tanpa konsekuensi

Kata kunci yang digunakan dalam mendiskusikan dan mendefinisikan akuntabilitas


adalah tanggung jawab. Tanggung jawab itu mengindikasikan kewajiban dan
kewajiban datang bersama konsekuensi.

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 8


5. Akuntabilitas meningkatkan kinerja

Tujuan dari akuntabilitas adalah untuk meningkatkan kinerja, bukan untuk mencari
kesalahan dan memberikan hukuman.

7 (Tujuh) ASPEK PENTING MEMBANGUN AKUNTABILITAS

Akuntabilitas, kini sering jadi tuntutan, wacana dan pembicaraan dalam


penerapan kebijakan publik, GCG, Risk Management dan pengembangan
organisasi. Namun dalam penerapan dilapangan, tak jarang aspek-aspek yang
mempengaruhi akuntabilitas tercecer dan tak terperhatikan secara utuh dan
lengkap. Lalu aspek apa saja yang harus diperhatikan dalam mengembangkan dan
membangun akuntabilitas dalam organisasi ? Sepengetahuan kami, khususnya
dalam praktik Risk Management pada perusahaan ritel, setidaknya ada 7 aspek
yang harus mendapat perhatian serius dari pemangku kepentingan organisasi.

1. Transparansi. Transparansi adalah harga mati.

2. Sistem dan Prosedur yang ter-update secara periodik setahun sekali dan
maksimal 2 tahun sekali.

3. Partisipatif Representatif. Keikutsertaan dari karyawan yang kemudian


terwakilkan dalam pembahasan kepentingan bersama pada jenjang yang lebih
tinggi, tentu akan relatif membawa aspirasi akar-rumput yang cukup jelas, faktual
dan lengkap.

4. Evaluasi dan Review. Pada tahapan ini, evaluasi dan review difokuskan pada
metodologi dan validitas pengumpulan masukan; proses pembuatan kebijakan;
dan respon penerapan kebijakan dari pengguna akhir (end user) di lapangan.
Juga perlu diperhatikan apakah konten dan konteksnya masih relevan,
memenuhi rasa keadilan, dan proposional sesuai kemampuan perusahaan ?
Pemberian “Service Level Survey Result” untuk semua Dept Head atau pimpinan
unit kerja, kiranya akan mampu meningkatkan layanan unit kerja kepada end-

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 9


user dan memberikan masukan berarti untuk perbaikan dan penerapan program
kerja yang lebih aktif

5. Keluhan dan Respon. Apakah ada wadah untuk menampung keluhan dari
semua pemangku kepentingan dan apakah responnya telah dilakukan dengan
cepat, tepat dan efektif sesuai harapan pemangku kepentingan ?

6. Monitoring. Pemantauan bisa dilakukan dengan pengetatan sistem dan


prosedur; kesungguhan atasan langsung untuk menjalankan program dan
kebijakan; komitmen pimpinan tertinggi untuk memastikan garis kebijakan telah
dilakukan dengan sungguhsungguh dan efektif; pemeriksaan rutin internal audit;
pembentukan Dewan Kehormatan; serta pelibatan eksternal audit yang
independen bila dirasakan perlu.

7. Kebijakan Futuristik. Apakah program-program dalam kebijakan itu mengacu


pada kepentingan jangka panjang untuk kemaslahatan semua pemangku
kepentingan, sesuai trend dan tuntutan industri sejenis ? Upaya lain untuk
membuat kebijakan futusistik yang membumi dan didukung sumber daya yang
ada dapat dilakukan dengan studi banding serta patok-duga (benchmark),
sehingga pada akhirnya dapat dirasakan akan semakin mendekatkan pada visi
dan misi perusahaan. Rasanya, bila ketujuh aspek tersebut diatas terpenuhi
maka bisa jadi untuk menjadi organisasi pembelajaran dan penerapan GCG
pada perusahaan, bukanlah suatu hal yang terlampau sulitdilakukan. Tak
percaya ? Coba saja 7 ”ajian pamungkas” membangun akuntabilitas itu !

Aspek yang terkandung dalam pengertian akuntabilitas adalah bahwa publik


mempunyai hak untuk mengetahui kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pihak
yang mereka beri kepercayaan. Media pertanggungjawaban dalam konsep
akuntabilitas tidak terbatas pada laporan pertanggungjawaban saja, tetapi
mencakup juga praktek-praktek kemudahan si pemberi mandat mendapatkan
informasi, baik langsung maupun tidak langsung secara lisan maupun tulisan.
Dengan demikian, akuntabilitas akan tumbuh subur pada lingkungan yang

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 10


mengutamakan keterbukaan sebagai landasan penting dan dalam suasana yang
transparan dan demokrasi serta kebebasan dalam mengemukakan pendapat.
Akuntabilitas, sebagai salah satu prasyarat dari penyelenggaraan negara
yang baru, didasarkan pada konsep organisasi dalam manajemen, yang
menyangkut :

1. Luas kewenangan dan rentang kendali (spand of control) organisasi.

2. Faktor-faktor yang dapat dikendalikan (controllable) pada level manajemen atau


tingkat kekuasaan tertentu.

Pengendalian sebagai bagian penting dari masyarakat yang baik saling


menunjang dengan akuntabilitas. Dengan kata lain, dapat disebutkan bahwa
pengendalian tidak dapat berjalan dengan efesien dan efektif bila tidak ditunjang
dengan mekanisme akuntabilitas yang baik, demikian pula sebaliknya. Dari uraian
tersebut, dapat dikatakan bahwa akuntabilitas merupakan perwujudan kewajiban
seseorang atau unit organisasi untuk mempertanggung jawabkan pengelolaan dan
pengendalian sumber daya dan pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan
kepadanya dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan melalui media
pertanggungjawaban secara periodik. Sumber daya ini merupakan masukan bagi
individu maupun unit organisasi yang seharusnya dapat diukur dan diidentifikasikan
secara jelas. Kebijakan pada dasarnya merupakan ketentuan-ketentuan yang harus
dijadikan pedoman, pegangan atau petunjuk bagi setiap usaha dari karyawan
organisasi sehingga tercapai kelancaran dan keterpautan dalam mencapai tujuan
organisasi yang telah ditetapkan.

E. ELEMEN – ELEMEN AKUNTABILITAS

Ferlie et al (1997;202-216) dalam Kumorotomo (2005) membedakan beberapa


model akuntabilitas yakni akuntabilitas ke atas, akuntabilitas kepada staff,
akuntabilitas ke bawah; akuntabilitas berbasis pasar dan akuntabilitas pada diri
sendiri. Dua model pertama menekankan pada konsep kontrol, pengawasan atau
pengendalian di dalam birokrasi publik. Akuntabilitas ke bawah, terhubung dengan
konsep partisipatif, bahwa aktifitas politik dan pelayanan publik harus memiliki kaitan

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 11


yang erat dengan proses konsultatif antara rakyat dengan wakilnya (legislatif).
Akuntabilitas berbasis pasar mengutamakan kompetisi dan mekanisme pasar
sehingga rakyat memiliki pilihan yang banyak terhadap kalitas pelayanan publik
yang dikehendaki. Sehingga perlu diperbanyak penyedia alternatif alternatif
pelayanan publik disamping memperluas informasi dan mentepkan standar
pelayanan publik yang baik. Akuntabilitas diri sendiri mengutamakan pada
penghayatan nilai nilai moraldan etika pejabat dalam menjalankan tugas pelayanan.

Polidano (1998) membedakan akuntabilitas menjadi dua yaitu akuntabilitas


langsung dan akuntabilitas tidak langsung. Akuntabilitas tidak langsung merujuk
pada pertanggung jawaban kepada pihak eksternal seperti masyarakat, konsumen,
atau kelompok klien tertentu, sedangkan akuntabilitas langsung berkaitan dengan
pertanggung jawaban vertikal melalui rantai komando tertentu.

Dwivedi dan Jabbra (1989) menguraikan akuntabilitas pelayanan publik yang


mencakup lima elemen sebagai berikut ; pertama, Akuntabilitas Administratif/
Organisasional (Administrative/ Organizational Accountability), Akuntabilitas ini
menuntut pemangkasan hubungan birokrasi antara tanggung jawab dan perintah
yang dilaksanakan; kedua, Akuntabilitas Hukum (Legal Accountability) ,
berhubungan dengan tindakan dalam domain publik untuk memperkuat proses
legislatif dan yudikatif. Ketika kekuatan legislatif dan yudikatif untuk menghukum
administrasi baik tidak dengan cepat maupun tidak luas, akuntabilitas hukum dapat
diterapkan, cepat atau lambat, atau hukum akan diubah; ketiga, Akuntabilitas Politik
(Political Accountability) Akuntabilitas politik dalam beberapa kasus memasukkan
akuntabilitas administrasi atau organisasi, terutama karena politisi terpilih
menganggap tanggung jawab baik politik maupun hukum untuk mencapai hasil
pekerjaan; keempat, Akuntabilitas Profesi (Profesional Accountability) menuntut
PNS profesional untuk menyeimbangkan antara pelaksanaan kode etik profesi
dengan kepentingan masyarakat. Sekali waktu, keduanya tidak dapat berjalan
bersamaan dan kadang-kadang juga sejajar atau bersaing untuk didahulukan;
kelima, Akuntabilitas Moral (Moral Accountability) Aktivitas pejabat publik harus

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 12


berakar pada prinsip moral dan etika sebagai pembenaran atas dokumen konstitusi
dan hukum, dan diterima publik untuk membentuk norma dan perilaku sosial.

Polidano membagi akuntabilitas kedalam tiga elemen utama yaitu: pertama,


Adanya kekuasaan untuk mendapatkan persetujuan awal sebelum sebuah
keputusan dibuat. Hal ini berkaitan dengan otoritas untuk mengatur perilaku para
birokrat dengan menundukkan mereka di bawah persyaratan prosedural tertentu
serta mengharuskan adanya otorisasi sebelum langkah tertentu diambil. Tipikal
akuntabilitas seperti ini secara tradisional dihubungkan dengan badan/lembaga
pemerintah pusat (walaupun setiap departemen/lembaga dapat saja menyusun
aturan atau standarnya masing-masing). Kedua, akuntabilitas peran, yang merujuk
pada kemampuan seorang pejabat untuk menjalankan peran kuncinya, yaitu
berbagai tugas yang harus dijalankan sebagai kewajiban utama. Ini merupakan tipe
akuntabilitas yang langsung berkaitan dengan hasil sebagaimana diperjuangkan
paradigma manajemen publik baru (new public management). Hal ini mungkin saja
tergantung pada target kinerja formal yang berkaitan dengan gerakan manajemen
publik baru; ketiga, peninjauan ulang secara retrospektif yang mengacu pada
analisis operasi suatu departemen setelah berlangsungnya suatu kegiatan yang
dilakukan oleh lembaga eksternal seperti kantor audit, komite parlemen,
ombudsmen, atau lembaga peradilan. Bisa juga termasuk badan-badan di luar
negara seperti media massa dan kelompok penekan. Aspek subyektivitas dan
ketidakterprediksikan dalam proses peninjauan ulang itu seringkali bervariasi,
tergantung pada kondisi dan aktor yang menjalankannya.

F. MENGAPA PERLU AKUNTABILITAS?


Berkenaan dengan pembaharuan aspek-aspek manajemen pemerintahan,
setidaknya, bercermin dari pembaharuan manajemen pemerintahan pada saat
memasuki era reformasi, yakni berkaitan dengan sistem manajemen perencanaan,
SDM, pembiayaan, manajemen pelayanan umum, manajemen asset/investasi,
manajemen kolaborasi, dan manajemen konflik. Demikian pula pada aspek
pengawasannya, karena otonomi diberikan untuk mencapai tujuan tertentu yang
akan berkonsekwensi pada penggunaan sumber daya pemerintahan, baik dalam

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 13


lingkungan struktur pemerintahan daerah maupun sumber daya daerah lainnya,
maka diperlukan pula sebuah manajemen yang handal dalam melakukan
pengawasannya.
Pengawasan yang diperlukan bagi efektivitas penyelenggara pemerintahan di
kalangan pemerintahan daerah, seyogyanya bertumpu pada penumbuhan dan
pemeliharaan kultur pengawasan, sehingga kehadirannya akan dipandang sebagai
kewajaran dan konsekwensi berorganisasi yang sehat. Membangun kultur
pengawasan organisasional ini, tampaknya semakin relevan dalam kondisi
penertiban manajemen pemerintahan, yang tengah intensif dilakukan pemerintahan
nasional dewasa ini. Apalagi dengan kehadiran Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK) yang dibentuk melalui UU.No.30/2002, maka tanpa keterbangunan kultur
pengawasan di kalangan penyelenggara pemerintahan daerah, akan semakin
memperlemah keefektivan dalam menyelesaikan agenda yang diamanatkan
kebijakan otonomi pembangunan di daerah.
Dengan bergulirnya era reformasi telah memberi implikasi ke dalam berbagai
sektor kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Muara dari gerakan
reformasi tersebut, adalah semakin meningkatnya harapan dan tuntutan akan
terwujudnya good governance (tata pemerintahan yang baik) serta clean
government (pemerintahan yang bersih) yang direfleksikan dalam peningkatan
sektor pelayanan publik. Seiring dengan semakin meningkatnya tuntutan dan
kebutuhan masyarakat terhadap sektor pelayanan publik, serta dengan semakin
pesatnya kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, telah memberikan
kosekuensi kepada aparatur pemerintah selaku abdi negara dan abdi masyarakat
untuk dapat menyesuaikan diri, baik secara individual maupun institusional sesuai
dengan dinamika dan perkembangan lingkungan internal maupun eksternal
organisasi pemerintahan. Dengan memiliki kompetensi dan profesionalisme serta
sikap adaptif yang tinggi terhadap segala perubahan dan perkembangan situasi,
maka pelayanan publik yang dilakukan aparatur pemerintah kepada masyarakat
harus semakin memuaskan (service excellence). Untuk itu, tidak ada alternatif lain
kecuali meningkatkan kompetensi dan profesionalisme agar memiliki keunggulan

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 14


kompetitif dan memegang teguh etika birokrasi dalam memberikan pelayanan yang
sesuai dengan tingkat kepuasaan dan keinginan masyarakat.

G. BAGAIMANA MEKANISME DAN PENGEMBANGAN AKUNTABILITAS?

BPKP (2007), melihat bahwa dalam pelaksanaan akuntabilitas di instansi


pemerintah, harus memegang teguh tiga prinsip yaitu pertama, Adanya komitmen
dari pimpinan dan seluruh staf instansi yang bersangkutan; kedua, Berdasarkan
suatu sistem yang dapat menjamin penggunaan sumber-sumber daya secara
konsisten dengan peraturan perundangundangan yang berlaku ; ketiga,
menunjukkan tingkat pencapaian sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan.

Tatang, menyebutkan beberapa metode untuk menegakan akuntabilitas antara lain


:

1. Kontrol Legislatif : Legislatif melakukan pengawasan terhadap jalannya


pemerintahan melalui diskusi dan sejumlah komisi di dalamnya. Jika komisi-
komisi legislatif dapat berfungsi secara efektif, maka mereka dapat
meningkatkan kualitas pembuatan keputusan (meningkatkan responsivitasnya
terhadap kebutuhan dan tuntutan masyarakat), mengawasi penyalahgunaan
kekuasaan pemerintah melalui investigasi, dan menegakkan kinerja.
2. Akuntabilitas Legal : Ini merupakan karakter dominan dari suatu negara hukum.
Pemerintah dituntut untuk menghormati aturan hukum, yang didasarkan pada
badan peradilan yang independen. Aturan hukum yang dibuat berdasarkan
landasan ini biasanya memiliki sistem peradilan, dan semua pejabat publik dapat
dituntut pertanggung jawabannya di depan pengadilan atas semua tindakannya.
3. Ombudsman: Dewan ombudsmen, baik yang dibentuk di dalam suatu konstitusi
maupun legislasi, berfungsi sebagai pembela hak-hak masyarakat. Ombudsmen
mengakomodasi keluhan masyarakat, melakukan investigasi, dan menyusun
rekomendasi tentang bagaimana keluhan tersebut diatasi tanpa membebani
masyarakat.
4. Desentralisasi dan Partisipasi: Akuntabilitas dalam pelayanan publik juga dapat
ditegakkan melalui struktur pemerintah yang terdesentralisasi dan partisipasi.

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 15


Terdapat beberapa situasi khusus di mana berbagai tugas pemerintah
didelegasikan ke tingkat lokal yang dijalankan oleh para birokrat lokal yang
bertanggung jawab langsung kepada masyarakat lokal. Legitimasi elektoral juga
menjadi faktor penting seperti dalam kasus pemerintah pusat. Tetapi cakupan
akuntabilitas di dalam sebuah sistem yang terdesentralisasi lebih merupakan
fungsi otonomi di tingkat lokal.
5. Kontrol Administratif Internal: Pejabat publik yang diangkat sering memainkan
peran dominan dalam menjalankan tugas pemerintahan karena relatif
permanennya masa jabatan serta keterampilan teknis. Biasanya, kepala-kepala
unit pemerintahan setingkat menteri diharapkan dapat mempertahankan kontrol
hirarkis terhadap para pejabatnya dengan dukungan aturan dan regulasi
administratif dan finansial dan sistem inspeksi.
6. Media massa dan Opini Publik: Hampir di semua konteks, efektivitas berbagai
metode dalam menegakkan akuntabilitas sebagaimana diuraikan di atas sangat
tergantung tingkat dukungan media massa serta opini publik. Tantangannya,
misalnya, adalah bagaimana dan sejauhmana masyarakat mampu
mendayagunakan media massa untuk memberitakan penyalahgunaan
kekuasaan dan menghukum para pelakunya. Terdapat 3 faktor yang
menentukan dampak aktual dari media massa dan opini publik. Pertama,
kebebasan berekspresi dan berserikat harus diterima dan dihormati. Di banyak
negara, kebebasan tersebut dilindungi dalam konstitusi. Derajat penerimaan dan
rasa hormat umumnya dapat diukur dari peran media massa (termasuk perhatian
terhadap pola kepemilikan) dan pentingnya peran kelompok kepentingan,
asosiasi dagang, organisasi wanita, lembaga konsumen, koperasi, dan asosiasi
profesional. Kedua, pelaksanaan berbagai tugas pemerintah harus transparan.
Kuncinya adalah adanya akses masyarakat terhadap informasi. Hal ini harus
dijamin melalui konstitusi (misalnya, UU Kebebasan Informasi) dengan hanya
mempertimbangkan pertimbangan keamanan nasional (dalam pengertian
sempit) dan privasi setiap individu. Informasi yang dihasilkan pemerintah yang
seharusnya dapat diakses secara luas antara lain meliputi anggaran, akuntansi
publik, dan laporan audit. Tanpa akses terhadap beragam informasi tersebut,

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 16


masyarakat tidak akan sepenuhnya menyadari apa yang dilakukan dan tidak
dilakukan pemerintah dan efektivitas media massa akan sedikit dibatasi. Ketiga,
adanya pendidikan sipil yang diberikan kepada warga negara, pemahaman
mereka akan hak dan kewajibannya, di samping kesiapan untuk
menjalankannya.

H. TINGKATAN AKUNTABILITAS

Tingkatan akuntabilitas menurut majalah Akuntansi:

1. Akuntabilitas Personal. Akuntabilitas berkaitan dengan diri sendiri.


2. Akuntabilitas Individu. Akuntabilitas yang berkaitan dengan suatu pelaksanaan.
3. Akuntabilitas Tim. Akuntabilitas yang dibagi dalam kerja kelompok atau tim.
4. Akuntabilitas Organisasi. Akuntabilitas Internal dan Eksternal didalam organisasi.
5. Akuntabilitas Stakeholders. Akuntabilitas yang terpisah antara stakeholders dan
organisasi.

I. DIMENSI AKUNTABILITAS

Dimensi akuntabilitas ada 5, yaitu (Syahrudin Rasul, 2002:11):

1. Akuntabilitas hukum dan kejujuran (accuntability for probity and legality)


Akuntabilitas hukum terkait dengan dilakukannya kepatuhan terhadap hukum
dan peraturan lain yang disyaratkan dalam organisasi, sedangkan akuntabilitas
kejujuran terkait dengan penghindaran penyalahgunaan jabatan, korupsi dan
kolusi. Akuntabilitas hukum menjamin ditegakkannya supremasi hukum,
sedangkan akuntabilitas kejujuran menjamin adanya praktik organisasi yang
sehat.
2. Akuntabilitas manajerial
Akuntabilitas manajerial yang dapat juga diartikan sebagai akuntabilitas kinerja
(performance accountability) adalah pertanggungjawaban untuk melakukan
pengelolaan organisasi secara efektif dan efisien.

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 17


3. Akuntabilitas program
Akuntabilitas program juga berarti bahwa programprogram organisasi hendaknya
merupakan program yang bermutu dan mendukung strategi dalam pencapaian
visi, misi dan tujuan organisasi. Lembaga publik harus
mempertanggungjawabkan program yang telah dibuat sampai pada pelaksanaan
program.
4. Akuntabilitas kebijakan
Lembaga-lembaga publik hendaknya dapat mempertanggungjawabkan
kebijakan yang telah ditetapkan dengan mempertimbangkan dampak dimasa
depan. Dalam membuat kebijakan harus dipertimbangkan apa tujuan kebijakan
tersebut, mengapa kebijakan itu dilakukan.
5. Akuntabilitas financial
Akuntabilitas ini merupakan pertanggungjawaban lembagalembaga publik untuk
menggunakan dana publik (public money) secara ekonomis, efisien dan efektif,
tidak ada pemborosan dan kebocoran dana, serta korupsi. Akuntabilitas financial
ini sangat penting karena menjadi sorotan utama masyarakat. Akuntabilitas ini
mengharuskan lembaga-lembaga publikuntuk membuat laporan keuangan untuk
menggambarkan kinerja financial organisasi kepada pihak luar.

J. ALAT-ALAT AKUNTABILITAS
1. Rencana Strategis
Rencana strategis adalah suatu proses yang membantu organisasi untuk
memikirkan tentang sasaran yang harus diterapkan untuk memenuhi misi
mereka dan arah apa yang harus dikerjakan untuk mencapai sasaran tersebut.
Hal tersebut adalah dasar dari semua perencanaan, penganggaran,
pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi kegiatan suatu organisasi. Manfaat dari
Rencana Stratejik antara lain membantu kesepakatan sekitar tujuan, sasaran
dan prioritas suatu organisasi; menyediakan dasar alokasi sumber daya dan
perencanaan operasional; menentukan ukuran untuk mengawasi hasil; dan
membantu untuk mengevaluasi kinerja organisasi.

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 18


2. Rencana Kinerja
Rencana kinerja menekankan komitmen organisasi untuk mencapai hasil
tertentu sesuai dengan tujuan, sasaran, dan strategi dari rencana strategis
organisasi untuk permintaan sumber daya yang dianggarkan.

3. Kesepakatan Kinerja
Kesepakatan kinerja didesain, dalam hubungannya antara dengan yang
melaksanakan pekerjaan untuk menyediakan sebuah proses untuk mengukur
kinerja dan bersamaan dengan itu membangun akuntabilitas.
4. Laporan Akuntabilitas
Dipublikasikan tahunan, laporan akuntabilitas termasuk program dan informasi
keuangan, seperti laporan keuangan yang telah diaudit dan indikator kinerja
yang merefleksikan kinerja dalam hubungannya dengan pencapaian tujuan
utama organisasi.
5. Penilaian Sendiri
Adalah proses berjalan dimana organisasi memonitor kinerjanya dan
mengevaluasi kemampuannya mencapai tujuan kinerja, ukuran capaian
kinerjanya dan tahapan-tahapan, serta mengendalikan dan meningkatkan proses
itu.
6. Penilaian Kinerja
Adalah proses berjalan untuk merencanakan dan memonitor kinerja. Penilaian ini
membandingkan kinerja aktual selama periode review tertentu dengan kinerja
yang direncanakan. Dari hasil perbandingan tersebut, terdapat hal-hal yang perlu
diperhatikan, perubahan atas kinerja yang diterapkan dan arah masa depan bisa
direncanakan.
7. Kendali Manajemen
Akuntabilitas manajemen adalah harapan bahwa para manajer akan
bertanggungjawab atas kualitas dan ketepatan waktu kinerja, meningkatkan
produktivitas, mengendalikan biaya dan menekan berbagai aspek negatif

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 19


kegiatan, dan menjamin bahwa program diatur dengan integritas dan sesuai
peraturan yang berlaku.

K. JENIS AKUNTABILITAS

Contoh diagram dari administrasi publik

Menurut Bruce Stone, O.P. Dwivedi, and Joseph G. Jabbra terdapat 8 jenis
akuntabilitas umumnya berkaitan dengan moral, administratif, politik, manajerial,
pasar, hukum dan peradilan, hubungan dengan konstituen dan profesional.

Akuntabilitas Politik

Akuntabilitas politik adalah akuntabilitas administrasi publik dari lembaga


eksekutif pemerintah, lembaga legislatif parlemen dan lembaga yudikatif
Kehakiman kepada publik .
Dalam negara demokrasi, pemilu adalah mekanisme utama untuk
mendisiplinkan pejabat publik akan tetapi hal ini saja tidak cukup dengan adanya
pemisahan kekuasaan antara badan eksekutif, legislatif dan yudikatif memang

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 20


dapat membantu untuk mencegah adanya penyalahgunaan kekuasaan yang
hanya berkaitan pada check and balances pengaturan kewenangan. Checks and
balances hanya bekerja dengan menciptakan pengaturan konflik kepentingan
antara eksekutif dan legislatif, namun segala keputusan yang berkaitan dengan
kepentingan publik masih memerlukan persetujuan kedua lembaga, dengan cara
ini, kedua lembaga yang merupakan lembaga hasil pemilu dalam pengambilan
keputusan-keputusan dalam hal kebijakan publik akan lebih pada merupakan
hubungannya dengan konstituen pada keuntungan pemilu yang akan datang
dibandingkan bila merupakan kebijakan yang sesungguhnya dari bagian
kebijakan administrasi publik. Biaya yang harus dikeluarkan dalam kegiatan
politik antara lain pemilu yang diperlukan dapat menjadikan anggota eksekutif
dan legislatif atau para pejabat publik lainnya rentan terhadap praktik-praktik
korupsi dalam pengambilan keputusan yang terdapat memungkinan akan lebih
menuju kepada keuntungan kepentingan pribadi dengan cara mengorbankan
kepentingan publik yang lebih luas.

Akuntabilitas administrasi

Aturan dan norma internal serta beberapa komisi independen adalah mekanisme
untuk menampung birokrasi dalam tanggung jawab administrasi pemerintah.
Dalam kementerian atau pelayanan, pertama, perilaku dibatasi oleh aturan dan
peraturan; kedua, pegawai negeri dalam hierarki bawahan bertanggung jawab
kepada atasan. Dengan diikuti adanya unit pengawas independen guna
memeriksa dan mempertanggung jawabkan, legitimasi komisi ini dibangun di
atas kemerdekaan mereka agar dapat terhindar dari konflik kepentingan apapun.
Selain dari pemeriksaan internal, terdapat pula beberapa unit pengawas yang
bertugas untuk menerima keluhan dari masyarakat sebagai akuntabilitas kepada
warga negara.

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 21


L. KINERJA MANA YANG HARUS AKUNTABEL?

Sebelum menuntut akuntabilitas agaknya perlu dibatasi beberapa konsep yang


mendasari aspek-aspek yang dituntut dari sosok kinerja aparatur di lingkungan
instansi pemerintah, antara lain:

(1) Kinerja merupakan perilaku pegawai yang ditampilkan pada saat proses, hasil
langsung (output), dan hasil ahir (outcomes) dari pelaksanaan tugas pokok dan
fungsi (tupoksi); Perilaku pegawai dalam organisasi secara konseptual terdiri dari
perilaku tugas (task behavior) dan hubungan antar manusia (humans behavior);

(2) Kompetensi (competencies) dipandang sebagai unsur kemampuan (ability)


dalam melaksanakan pekerjaan yang dihasilkan dari perolehan pengetahuan,
sikap dan keterampilan; Kemampuan (ability), merupakan salah satu unsur dari
kinerja (performance); Karena itu, kompetensi (competencies), secara sederhana
dikatagorikan ke dalam tiga jenis, yaitu: (1) kompetensi kepribadian (personal
competencies), kompetensi profesional (professional competencies), dan
kompetensi sosial (social competencies);

(3) Instansi pemerintah dipandang sebagai organisasi yang berstruktur, dan


karenanya pegawainya pun dipandang menempati posisi hirarhis sesuai tugas
dan fungsinya;

(4) Pegawai dapat dipandang secara individual dan atau kelompok; Posisi individual
pegawai pada umumnya dibagi ke dalam tiga katagori: (1) Unsur pimpinan; (2)
Unsur pembantu pimpinan; dan (3) Unsur pelaksana. Posisi kelompok pada
umumnya terdapat sebutan yang sama, apabila kantor tersebut mempunyai
struktur yang berjenjang; Ketiga unsur pegawai tersebut, pada umumnya
mempunyai tugas pokok dan fungsi yang sama, yang berbeda hanya bobot
peran yang dilakukan dari setiap tugas pokok dan fungsi tersebut;

Berkenaan dengan istilah akuntabilitas (accountability) secara harfiyah berasal


dari kata account (rekening, laporan, catatan) dan ability (kemampuan). Dalam
tatakelola pemerintahan, akuntabilitas bisa diartikan sebagai kemampuan aparatur

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 22


pemerintah dalam 4 menunjukkan laporan atau catatan proses dan hasil
pekerjaannya yang dapat dipertanggungjawabkan.

Akuntabilitas pada hakekatnya merupakan salah satu key factor dalam


menjawab segala tuntutan terhadap kinerja pemerintahan. Akuntabilitas yang
menjungjung tinggi prinsip equitable dan responsivness to people’s needs
merupakan resultante dari proses dan prinsip-prinsip good governance (efektivitas,
efisiensi dan tranparansi), serta tuntutan globalisasi yang diwujudkan dalam bentuk
demokrasi dan kompetisi.

Dalam konteks globalisasi inilah good governance telah menjadi parameter


pemenuhan tuntutan masyarakat terhadap kinerja aparatur pemerintahan. Dalam
konteks ini pula, aparatur pemerintah sebagai aktor dalam menjalankan proses
perumusan, implementasi dan evaluasi kebijakan pembangunan semakin dituntut
untuk mewujudkan good governance dan clean governance. Kinerja aparatur yang
semula berstandar pada prinsip responsibility (tanggungjawab) dan obligation
(kewajiban), kini harus pula perpatokan pada apa yang disebut sebagai
accountability.

Dengan demikian, upaya merumuskan standar akuntabilitas kompetensi pegawai


diartikan sebagai perumusan norma yang dijadikan tolok ukur kemampuan dalam
melaksanakan tugas pekerjaan yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu,
standar akuntabilitas kompetensi tersebut harus dipandang pula dalam kerangka
evaluasi kinerja, yang memerlukan instrumen pengukuran dan prosedur
pelaksanaanya.

Melalui Bagan-1 ingin ditegaskan bahwa analisis terhadap akuntabilitas kinerja


aparat instansi pemerintah perlu dimulai dari adanya standar kinerja dan kejelasan
tuntutan good governance dalam bentuk kejelasan tentang efektivitas, efisiensi dan
transparansi. Standar kinerja pun memiliki dua aspek sasaran, yang secara
substansial mengukur bermaksud (1) kemampuan pegawai dalam melaksanakan
tugas pokok dan fungsi, dan (2) tugas pokok dan fungsi pegawai baik secara
individu maupun kelompok dalam posisi jabatan yang menjadi tanggungjawabnya.

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 23


Khusus yang berkaitan dengan kemampuan dalam melaksanakan tugas pokok
dan fungsi pegawai, proses analisis difokuskan pada komponen kompetensi pribadi
(personal competencies), kompetensi profesional (professional competencies), dan
kompetensi sosial (social competencies).

Langkah-langkah untuk merumuskan standar akuntabilitas kinerja tersebut dapat


dipelajari dalam ilustrasi di bawah ini:

Gambar 1
Kerangka Analisis Standarisasi Akuntabilitas Kinerja Pegawai
Kompetensi perilaku dalam berhubungan dengan publik (Humans Bihavior)
Kompetensi Hubungan Sosial (Social Competencies)
Kompetensi dalam Pelaksanaan Tugas (Professional Competencies)
Kompetensi perilaku dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi (Task
Bihavior)

PERILAKU SEBAGAI PEGAWAI NEGARA


 Efektivitas,
 Efisiensi,
 Transparansi
 Kompetensi Pribadi (Personal Competencies)

TUPOKSI PNS
 pada Struktur Kepegawaian Good Governance (Equtable & Responsive to
People’s Needs)
 Kemampuan Melaksanakan Tupoksi Standar Kinerja PNS (Responsibility
& Obligation)

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 24


STANDAR AKUNTABILITAS KINERJA APARATUR PEMERINTAH
Namun, komponen-komponen kompetensi tersebut masih bersifat konseptual
yang pada tatanan praktis sulit untuk dilakukan. Karena itu, indentifikasi
kompetensi selanjutnya difokuskan pada dimensi-dimensi keperilakuan yang
secara praktis harus dapat diamati berdasarkan pelaksanaan tugas pokok dan
fungsi pegawai yang bersangkutan pada setiap unit kerja. Karena itu,
kompetensi pegawai tersebut cukup diamati dari dua komponen yang secara
kasat mata (praktis) dapat diamati, yaitu komponen yang berkenaan dengan
perilaku dalam melaksanakan tugas (task behavior) dan perilaku dalam
hubungan antar manusia (humans behavior). Kedua unsur kompetensi inilah
dipandang sebagai gambaran setiap kompetensi yang seyogyanya telah menjadi
kepemilikan dan diinternalisasikan dalam perilaku PNS, sehingga turut
memperkuat kinerjanya.
Parameter
Parameter yang diukur, berkenaan dengan intensitas kompetensi pokok yang
harus diperankan/dilakukan/dilaksanakan oleh masing-masing pegawai
berdasarkan aspek kepribadian, profesionalitas, dan hubungan sosial, sesuai
dengan posisinya dalam struktur organisasi pemerintahan. Rujukannya dapat
saja bersumber dari Job description dan Job specipication; Norma yang dijadikan
tolok ukur adalah laporan tercatat tentang intensitas perilaku yang
ditampilkan/dikerjakan/dilakukan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari yang
merentang dari tidak pernah menampilkan perilaku yang dimaksudkan, sampai
Selalu menampilkan perilaku yang dimaksudkan. Sekedar contoh untuk
mengukur tingkat akuntabilitas kinerja pegawai dapat disimak dari table 1 berikut:
Tabel-1
Contoh Parameter Akuntabilitas Kinerja Aparatur Pemerintah No 46 tahun 2011
Kompetensi Komponen Variabel Indikator
1 Personal Competen-cies
(1) Kemampuan dalam memberikan keteladanan
1. Kepercayaan terhadap diri sendiri
Tau menghargai potensi dirinya dengan santun dalam bertutur laku

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 25


2. Kepekaan/ kepedulian sosial

Murah hati terhadap sesama dengan berani mengambil resiko atas dasar
kebaikan bersama

3. Kejujuran
3) Tidak berbohong, bertindak curang, atau tindakan lain yang
sejenisehubungan dengan pekerjaan yang diamanatkan kepadanya.
(2) Kemampuan dalam memahami dan mengimplementasikan etos Kerja
4. Moralitas
4) Dapat membedakan tindakan apa yang sebaiknya sesuai fungsi dan
peranan, misalkan tidak menerima suap, menyalahgunakan prosedur
untuk kepentingan pribadi atau kelompok.
5. Semangat Kerja
5) Bekerja gesit, tidak malas, dan tidak banyak mengeluh.
6. Disiplin
6) Mampu mematuhi aturan-aturan organisasi yang telah ditetapkan
organisasi.
7. Pragmatis
7) Mampu memilih situasi dan kondisi yang sesuai dalam bertindak.
8. Kreativitas
8) Dapat menemukan ide dan gagasan, cara-cara baru dalam
pelaksanaan pekerjaan
9.Kemandirian/ Prakarsa/Inisiatif
9) Mampu bekerja dengan betul, tanpa menunggu perintah dan
pengawasan yang ketat.

M. LANGKAH-LANGKAH MENYUSUN LAKIP BAGI SKPD

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 26


Semakin meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap penyelenggaraan
pemerintahan yang baik dan bersih (good governance dan clean government) telah
mendorong pengembangan dan penerapan sistem pertanggungjawaban yang jelas,
tepat, teratur, dan efektif yang dikenal dengan Sistem Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah (SAKIP). Penerapan sistem tersebut bertujuan agar
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan dapat berlangsung secara
berdaya guna, berhasil guna, bertanggung jawab dan bebas dari praktik-praktik
kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN).

Akuntabilitas merupakan perwujudan kewajiban seseorang atau unit organisasi


untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya dan pelaksanaan
kebijakan yang dipercayakan kepadanya dalam rangka pencapaian tujuan yang
telah ditetapkan melalui media pertanggungjawaban berupa laporan akuntabilitas
kinerja secara periodik. itu sebagai Gambaran Pengertian Akuntabilitas.

Berikut akan saya rinci dan jelaskan sistematika penyusunan LAKIP satu persatu:

1. Executive summary atau dikenal juga dengan istilah Ikhtisar Eksekutif

Pada bagian ini disajikan tujuan dan sasaran utama yang telah ditetapkan dalam
rencana stratejik serta sejauh mana instansi pemerintah mencapai tujuan dan
sasaran utama tersebut, serta kendala-kendala yang dihadapi dalam
pencapaian. Disebutkan pula langkah-langkah apa yang telah dilakukan untuk
mengatasi kendala tersebut dan langkah antisipatif untuk menanggulangi
kendala yang mungkin akan terjadi pada tahun mendatang.

2. Bab I Pendahuluan

Pada bagian ini dijelaskan hal-hal umum tentang organisasi serta uraian singkat
mandat apa yang dibebankan kepada instansi (gambaran umum tupoksi) dan
sekilas pengantar lainnya

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 27


3. Bab II Perencanaan dan Perjanjian Kinerja

Dalam bab ini diikhtisarkan beberapa hal penting dalam perencanaan dan
perjanjian kinerja (dokumen penetapan kinerja) dengan rincian kelengkapan
dokumen sebagai berikut :

1. Rencana Strategis (Renstra)

Renstra merupakan rencana jangka menengah (lima tahunan), dalam renstra


ini memuat visi, misi, tujuan, sasaran dan program

Saya kira setiap SKPD pasti telah memiliki Renstra ini, namun yang
terpenting adalah bahwa pimpinan dalam SKPD harus mensosialisasikan
Renstra ini kepada karyawan atau seluruh pegawai dalam SKPD tersebut
baik secara tertulis seperti penempelan Visi, Misi pada dinding ruangan
maupun sosialisasi secara lisan dan ini akan lebih baik bila diungkapkan
dalam LAKIP tentang telah disosialisasikannya Renstra ini.

2. Dokumen Rencana Kinerja Tahunan (RKT)

Dokumen Rencana Kinerja Tahunan adalah penjabaran dari Renstra yang


telah dibuat maka disusunlah Rencana Kinerja Tahun yang bersangkutan,
dengan rincian

• Adanya Dokumen Rencana Kinerja Tahunan

Dokumen Rencana Kinerja Tahunan sebagaimana dimaksud sesuai


dengan Permen PAN dan RB Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman
Penyusunan Penetapan Kinerja dan Pelaporan AKIP

Dalam Dokumen Rencana Kinerja tersebut terdapat 3 (tiga) hal yang


harus terpenuhi yaitu:

1. Sasaran Strategis

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 28


Sasaran adalah hasil yang akan dicapai secara nyata oleh instansi
pemerintah dalam rumusan yang lebih spesifik dan terukur dalam
kurun waktu satu tahun.

Sasaran dalam Rencana Kinerja Tahunan harus berorientasi hasil

2. Indikator Kinerja

Indikator kinerja adalah ukuran kuantitatif dan kualitatif yang


menggambarkan tingkat pencapaian suatu kegiatan dan sasaran yang
telah ditetapkan. Indikator kinerja ini dapat berupa output maupun
outcome. Indikator kinerja Keluaran (outputs) adalah segala sesuatu
berupa produk/jasa (fisik dan/atau non fisik) sebagai hasil langsung
dari pelaksanaan suatu kegiatan dan program berdasarkan masukan
yang digunakan. Indikator kinerja Hasil (outcomes) adalah segala
sesuatu yang mencerminkan berfungsinya keluaran kegiatan pada
jangka menengah.

Outcomes merupakan ukuran seberapa jauh setiap produk jasa dapat


memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat.
3. Target

Merupakan ukuran kuantitatif dari setiap indikator kinerja yang akan


dicapai dalam suatu tahun tertentu.

Sebaiknya LAKIP dalam Bab II ini mengungkapkan hal-hal sebagai berikut :

o Dokumen RKT telah selaras dengan dokumen Renstra

o Sasaran dalam RKT telah berorientari hasil

o Indikator kinerja sasaran telah memenuhi kriteria indikator kinerja yang baik

o Dokumen RKT telah selaras dengan dokumen Rencana Kinerja Pemerintah


Daerah

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 29


o Dokumen RKT telah digunakan sebagai acuan untuk menyusun penetapan
kinerja (PK)

o Dokumen RKT telah digunakan sebagai acuan untuk menyusun anggaran


(RKA).

3. Dokumen Penetapan Kinerja

Melalui Inpres Nomor 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan


Korupsi, Presiden Republik Indonesia menginstruksikan tentang penyusunan
penetapan kinerja kepada menteri, jaksa agung, panglima TNI, kepala Polri,
kepala LPND, gubernur, bupati, dan walikota, sebagaimana tercantum pada
butir ketiga Inpres tersebut, yaitu sebagai berikut : "Membuat penetapan
kinerja dengan Pejabat di bawahnya secara berjenjang, yang bertujuan untuk
mewujudkan suatu capaian kinerja tertentu dengan sumber daya tertentu,
melalui penetapan target kinerja serta indikator kinerja yang menggambarkan
keberhasilan pencapaiannya baik berupa hasil maupun manfaat."

Penetapan kinerja merupakan pernyataan tekad dan janji dalam bentuk


kinerja yang akan dicapai, antara pimpinan instansi pemerintah/unit kerja
yang menerima amanah/tanggung jawab/kinerja dengan pihak yang
memberikan amanah/tanggung jawab/kinerja. Dengan demikian, penetapan
kinerja ini merupakan suatu janji kinerja yang akan diwujudkan oleh seorang
pejabat penerima amanah kepada atasan langsungnya. Penetapan kinerja ini
akan menggambarkan capaian kinerja yang akan diwujudkan oleh suatu
instansi pemerintah/unit kerja dalam suatu tahun tertentu dengan
mempertimbangkan sumber daya yang dikelolanya.

Penetapan kinerja pada dasarnya merupakan salah satu komponen dari


Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (Sistem AKIP), meski belum
diatur secara eksplisit dalam Inpres Nomor 7 Tahun 1999. Penyusunan
kontrak kinerja ini diharapkan dapat mendorong keberhasilan peningkatan
kinerja instansi pemerintah.

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 30


Secara ringkas, keterkaitan antara penetapan kinerja dalam sistem AKIP
dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Penyusunan penetapan kinerja dimulai dengan merumuskan renstra yang


merupakan rencana jangka menengah (lima tahunan) yang dilanjutkan
dengan menjabarkan rencana lima tahunan tersebut ke dalam rencana
kinerja tahunan.

2. Berdasarkan rencana kinerja tahunan tersebut, maka diajukan dan


disetujui anggaran yang dibutuhkan untuk membiayai rencana tahunan
tersebut.

3. Berdasarkan rencana kinerja tahunan yang telah disetujui anggarannya,


maka ditetapkan suatu penetapan kinerja yang merupakan kesanggupan
dari penerima mandat untuk mewujudkan kinerja seperti yang telah
direncanakan.

4. Dalam tahun berjalan, dilakukan pengukuran kinerja atas pelaksanaan


kontrak kinerja untuk mengetahui sejauh mana capaian kinerja yang dapat
diwujudkan oleh organisasi serta dilaporkan dalam suatu laporan kinerja
yang biasa disebut Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah
(LAKIP)

Dalam Penetapan Kinerja harus diungkapkan hal sebagai berikut :

1. Adanya Pernyataan Penetapan Kinerja yang telah sesuai dengan


Permen PAN dan RB Nomor 29 Tahun 2010,

2. Pernyataan Penetapan Kinerja dilampiri dengan formulir penetapan


kinerja, Penyusunan dokumen PK harus memperhatikan dokumen
perencanaan kinerja tahunan dan dokumen penganggaran dan atau
pelaksanaan anggaran (DPA)

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 31


3. Sasaran dalam PK harus berorientasi hasil

4. Indikator kinerja sasaran harus memenuhi kriteria indikator kinerja


yang baik

5. Dokumen PK telah dimanfaatkan untuk membantu dan mengendalikan


pencapaian kinerja SKPD

6. Dokumen PK telah dimanfaatkan untuk melaporkan capaian realisasi


kinerja dalam LAKIP SKPD

7. Dokumen PK telah dimanfaatkan untuk menilai keberhasilan SKPD

3. Bab III Akuntabilitas Kinerja

Dalam bab ini diuraikan pencapaian sasaran-sasaran organisasi pelapor, dengan


pengungkapan dan penyajian dari hasil pengukuran kinerja.

Beberapa hal yang harus diungkapkan dalam BAB ini adalah :

1. Adanya Pengukuran Kinerja yang dilakukan dengan membandingkan antara


target kinerja dan realisasi kinerja

• Sesuai dengan Permen PAN dan RB Nomor 29 Tahun 201 Pasal 10 Ayat :

o Setiap akhir periode instansi melakukan pengukuran pencapaian target


kinerja yang ditetapkan dalam dokumen penetapan kinerja.

o Pengukuran pencapaian target kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) dilakukan dengan membandingkan antara target kinerja dan realisas
kinerja.

• Format Pengukuran Kinerja harus sesuai dengan Permen PAN dan RB Nomor
29 Tahun 2010

• Telah terdapat Indikator Kinerja Utama (IKU) sebagai ukuran kinerja secara
formal…..

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 32


• Nah untuk IKU yang satu ini ada peraturan khusus yang mengaturnya yaitu
Permen PAN dan RB Nomor: 20/M.PAN/11/2008 tentang Petunjuk
Penyusunan Indikator Kinerja Utama

• Setiap Instansi Pemerintah harus menetapkan Indikator Kinerja Utama (IKU)

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 33


BAB III
PENUTUP

A. SIMPULAN
Salah satu pendukung yang mempengaruhi keberhasilan reformasi birokrasi
khususnya di bidang pelayanan publik, yaitu akuntabilitas.
Akuntabilitas dapat diartikan sebagai kewajiban-kewajiban dari individu-
individu atau penguasa yang dipercayakan untuk mengelola sumber-sumber
daya publik dan yang bersangkutan dengannya untuk dapat menjawab hal-
hal yang menyangkut pertanggung jawabannya.
13 (tiga belas) prinsip akuntabilitas, yaitu:
1. Independensi
2. Komitmen Organisasi
3. Kompetensi.
4. Non-Diskriminasi.
5. Partisipasi.
6. Transparansi.
7. Koordinasi.
8. Pembelajaran dan Perbaikan.
9. Kemitraan.
10. Non-Proselitis.
11. Mekanisme Umpan Balik.
12. Kemandirian.
13. Keberpihakan Terhadap Kelompok Rentan.

B. SARAN
Karena keterbatasan waktu dan referensi, diharapkan pembaca lebih
melengkapi lagi bahan ajar ini agar lebih lengkap dan lebih sempurna.

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 34


DAFTAR PUSTAKA

 Bimtek Keuangan; Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke


TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest
 BPKP (2007) “Akuntabilitas Instansi Pemerintah”, Pusdiklat
Pengawasan BPKP. Edisi Kelima.
 Dwivedi, O.P. and Joseph G. Jabbra. 1989. Public Service
Accountability A Comparative Perspective. Connecticut: Kumarian
Library.
 Dwiyanto, A (2010) “Patologi Birokrasi: Sebab dan Implikasinya bagi
Kinerja Birokrasi Publik“, dalam Mengembalikan Kepercayaan Publik
melalui Reformasi Birokrasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
 Kumorotomo, Wahyu (2005) “ Akuntabilitas dalam teori dan praktek” ;
Akuntabilitas Birokrasi Publik, Sketsa pada masa transisi. Yogyakarta;
MAP UGM dan Pustaka Pelajar.
 Polidano, C., “Why Bureaucrats Can’t Always Do What Ministers Want:
Multiple Accountabilities in Westminster Democracies.” Public Policy
and Administration 13, No. 1, Spring 1998, p 38.
 Rasul, Syahrudin, 2003. Pengintegrasian Sistem Akuntabilitas Kinerja
dan Anggaran dalam Perspektif UU NO. 17/2003 Tentang Keuangan
Negara. Jakarta: PNRI
 Turner, Mark and Hulme, David ,1997. Governance, Administrasi, and
Development: Making The State Work. London: MacMillan Press Ltd.
 Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
 Wiranto, Tatag : Akuntabilitas dan Transparansi dalam Pelayanan
Publik.
 Yoyon Bahtiar Irianto, Drs., H., M.Pd.: Centre of Policy & Planning
Studies, the Indonesian University of Education

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 35


BIODATA

Editrudis Natalisa yang biasa dipanggil “Edit “


adalah putri kedua dari pasangan ayahanda Alex
Lius,SM (Almarhum) dan ibunda Juliana.
Lahir di Manggarai Kabupaten Manggarai – Flores
pada 25 Desember 1968.
Menikah dengan Hyypolitus V.Atman serta memiliki tiga
(3) Orang anak bernama
 Mariano Atman,
 Maria Josephina Alexandra Atman dan
 Caecilia Atman

Riwayat Pendidikan Sekolah Dasar di SDK Sita pada tahun 1983, Pendidikan
Sekolah Menengah Pertama di SMP Katolik St Maria Imaculata Ruteng manggarai-
Flores pada tahun 1986, Pendidikan Sekolah Perawat Kesehatan Ende-Flores pada
tahun 1989, Pendidikan Program Bidan di SPK Kupang pada tahun 1990; Pendidikan
Akademi Kebidanan Kupang pada tahun 2007, serta memperoleh gelar Sarjana Sain
Terapan (SST) dari Poltekkes Kemenkes Yogyakarta tahun 2010, Memperoleh Gelar
Magister Pendidikan diperoleh pada Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
Universitas Nusa Cendana Kupang pada tahun 2013.

Pengalaman kerja sebagai Bidan Desa tahun 1989 sampai tahun 1993 menjadi
Bidan Pelaksana di RSUD Prof.DR.W.Z.Johannes Kupang tahun 1993 hingga tahun
2013.

Mulai tahun 2014 sampai saat ini beralih jabatan fungsional dari Bidan Ahli Madya
ke Widyaiswara Ahli Muda dan Bekerja pada Badan Diklat Prov.Nusa Tenggara Timur
sebagai Widyaiswara.

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 36


Tujuan hidup adalah mengabdi kepada Agama, Keluarga, Nusa dan Bangsa serta
mengembangkan keterampilan yang mengarah kepada pengembangan potensi diri
agar berguna bagi sesama manusia.

Bahan Ajar Akuntabilitas Prajabatan PNS Pola Baru @ E.Natalisa Page 37