Anda di halaman 1dari 21

A.

Teori Piaget

Menurut Hudoyo (1990:3) matematika berkenan dengan ide (gagasan-gagasan), aturan-


aturan, hubungan-hubungan yang diatur secara logis sehingga matematika berkaitan dengan
konsep-konsep abstrak. Sebagai guru matematika dalam menanamkan pemahaman seseorang
belajar matematika utamanya bagaimana menanamkan pengetahuan konsep-konsep dan
pengetahuan prosedural. M Hubungan antara konseptual dan prosedural sangat penting.
Pengetahuan konseptual mengacu pada pemahaman konsep, sedangkan pengetahuan
prosedural mengacu pada keterampilan melakukan suatu algoritma atau prosedur
menyelesaikan soal-soal matematika. Menurut Sutawijaya (1997:177), memahami konsep
saja tidak cukup, karena dalam praktek kehidupan sehari-hari siswa memerlukan
keterampilan matematika.

Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetika, yaitu proses
yang didasarkan atas mekanisme biologis, yaitu perkembangan system syaraf. Dengan
bertambahnya umur maka susunan syaraf seseorang akan semakin kompleks dan
memungkinkan kemampuannya akan semakin meningkat. Jean Piaget meneliti dan menulis
subjek perkembangan kognitif ini dari tahun 1927 sampai 1980. Berbeda dengan para ahli-
ahli psikologi sebelumnya, Piaget menyatakan bahwa cara berpikir anak bukan hanya kurang
matang dibandingkan dengan orang dewasa karena kalah pengetahuan , tetapi juga berbeda
secara kualitatif. Menurut penelitiannya juga bahwa tahap-tahap perkembangan individu
serta perubahan umur sangat mempengaruhi kemampuan belajar individu. Piaget
mengembangkan teori perkembangan kognitif yang cukup dominan selama beberapa dekade.
Dalam teorinya Piaget membahas pandangannya tentang bagaimana anak belajar. Menurut
Jean Piaget, dasar dari belajar adalah aktivitas anak bila ia berinteraksi dengan lingkungan
sosial dan lingkungan fisiknya. Pertumbuhan anak merupakan suatu proses sosial. Anak tidak
berinteraksi dengan lingkungan fisiknya sebagai suatu individu terikat, tetapi sebagai bagian
dari kelompok sosial. Akibatnya lingkungan sosialnya berada diantara anak dengan
lingkungan fisiknya. Interaksi anak dengan orang lain memainkan peranan penting dalam
mengembangkan pandangannya terhadap alam. Melalui pertukaran ide-ide dengan orang lain,
seorang anak yang tadinya memiliki pandangan subyektif terhadap sesuatu yang diamatinya
akan berubah pandangannya menjadi obyektif.

Proses belajar haruslah di sesuaikan dengan perkembagan syaraf seorang anak, dengan
bertambahnya umur maka susunan saraf seorang akan semakin kompleks dan memungkinkan
kemampuannya semakin meningkat. Karena itu proses belajar seseorang akan mengikuti pola
dan tahap perkembangan tertentu sesuai dengan umurnya. Perjenjangan ini bersifat hierarki,
yaitu melalui tahap-tahap tertentu sesuai dengan umurnya. Seseorang tidak dapat
mempelajari sesuatu yang diluar kemampuan kognitifnya. Dalam perkembangan intelektual
ada tiga hal penting yang menjadi perhatian Piaget yaitu :

1. Struktur, Piaget memandang ada hubungan fungsional antara tindakan fisik, tindakan
mental dan perkembangan logis anak-anak. Tindakan (action) menuju pada operasi-
operasi dan operasi-operasi menuju pada perkembangan struktur-struktur.
2. Isi, merupakan pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada respon yang
diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya.
3. Fungsi, Adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektual.
Menurut Piaget perkembangan intelektual didasarkan pada dua fungsi yaitu organisasi
dan adaptasi. Organisasi memberikan pada organisme kemampuan untuk
mengestimasikan atau mengorganisasi proses-proses fisik atau psikologis menjadi
sistem-sistem yang teratur dan berhubungan. Adaptasi, terhadap lingkungan dilakukan
melalui dua proses yaitu asimilasi dan akomodasi.

Menurut Pieget, proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yaitu asimilasi,
akomodasi dan equilibrasi.

1. Asimilasi, adalah proses penyatuan informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada
dalam benak siswa.
2. Akomodasi, adalah proses penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi baru.
3. Equilibrasi, adalah proses penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan
akomodasi.

Menurut Piaget, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap
perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk
melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman
sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan
rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif,
mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.

B. Penerapan Teori Belajar Piaget Dalam Pengajaran Matematika


Penerapan dari empat tahap perkembangan intelektual anak yang dikemukakan oleh
Piaget, adalah sebagai berikut:

1. Tahap Sensorimotor (0-2 tahun)

Untuk mengembangkan kemampuan matematika anak di tahap ini, kemampuan anak


mungkin ditingkatkan jika dia cukup diperbolehkan untuk bertindak terhadap lingkungan.
Anak – anak pada tahap sensorimotor memiliki beberapa pemahaman tentang konsep angka
dan menghitung. Misalnya: Orang tua dapat membantu anak- anak mereka menghitung
dengan jari, mainan dan permen. Sehingga anak dapat menghitung benda yang dia miliki dan
mengingat apabila ada benda yang ia punya hilang.

2. Tahap persiapan operasional ( 2 -7 tahun)

Piaget membagi perkembangan kognitif tahap persiapan operasional dalam dua bagian:

a. Umur 2 – 4 tahun
Pada umur 2 tahun, seorang anak mulai dapat menggunakan symbol atau tanda untuk
mempresentasikan suatu benda yang tidak tampak dihadapannya. Penggunaan symbol
itu tampak dalam 4 gejala berikut:
 Imitasi tidak langsung

Menurut Wadsworth (dalam Paul Suparno, 2001:51), Anak mulai dapat


menggambarkan suatu hal yang sebelumnya dapat dilihat, yang sekarang sudah
tidak ada. Dengan kata lain, ia mulai dapat membuat imitasi yang tidak langsung
dari bendanya sendiri. Contohnya: Bola sesungguhnya dalam bentuk bola plastik.

 Permainan simbolis

Dalam permainan simbolis, seringkali terlihat bahwa seorang anak berbicara


sendirian dengan mainannya. Misalnya: Jika si anak merasa senang dengan bola,
maka ia akan bermain bola – bolaan. Menurut Piaget, permainan tersebut
merupakan ungkapan diri anak dalam menghadapi masalah, suasana hati,
ketakutan dan lain – lain.

 Menggambar
Menggambar pada tahap pra operasional merupakan jembatan antara permainan
simbolis dengan gambaran mental. Unsur permainan simbolisnya terletak pada
segi “kesenangan” pada diri anak yang sedang menggambar. Unsur gambaran
mentalnya terletak pada usaha anak untuk mulai meniru sesuatu yang real.

 Gambaran mental

Gambaran mental adalah penggambaran secara pikiran suatu objek atau


pengalaman yang lampau. Pada tahap ini, anak masih mempunyai kesalahan yang
sistematis dalam menggambarkan kembali gerakan atau transformasi yang ia
amati.

b. Umur 4 – 7 tahun (pemikiran intuitif)

Pada umur 4 – 7 tahun, pemikiran anak semakin berkembang pesat. Tetapi perkembangan
itu belum penuh karena anak masih mengalami operasi yang tidak lengkap dengan suatu
bentuk pemikiran atau penalaran yang tidak logis. Contoh: Terdapat 20 kelereng, 16 berwarna
merah dan 4 putih diperlihatkan kepada seorang anak dengan pertanyaan berikut: “Manakah
yang lebih banyak kelereng merah ataukah kelereng-kelereng itu?”

A usia 5 tahun menjawab: “lebih banyak kelereng merah.”

B usia 7 tahun menjawab: “Kelereng kelereng lebih banyak daripada kelereng yang berwarna
merah.” Tampak bahwa A tidak mengerti pertanyaan yang diajukan, sedangkan B mampu
menghimpun kelereng merah dan putih menjadi suatu himpunan kelereng atau dapat
disimpulkan bahwa anak masih sulit untuk menggabungkan pemikiran keseluruhan dengan
pemikiran bagiannya. Contoh lain, seorang anak dihadapkan dengan pertanyaan: “Manakah
yang lebih berat 1 Kg kapas atau 1 Kg besi?”. Anak tersebut pasti menjawab 1 Kg besi tanpa
berpikir terlebih dahulu.

3. Tahap operasi konkret (7 – 11 tahun)

Tahap operasi konkret dicirikan dengan perkembangan system pemikiran yang didasarkan
pada aturan – aturan tertentu yang logis. Tahap operasi konkret ditandai dengan adanya
system operasi berdasarkan apa- apa yang kelihatan nyata/konkret. Anak masih mempunyai
kesulitan untuk menyelesaikan persoalan yang mempunyai banyak variabel. ya. Misalnya,
bila suatu benda A dikembangkan dengan cara tertentu menjadi benda B, dapat juga dibuat
bahwa benda B dengan cara tertentu kembali menjadi benda A. Dalam matematika,
diterapkan dalam operasi penjumlahan (+), pengurangan (-), urutan (<), dan persamaan (=).
Contohnya, 5 + 3 = 8 dan 8 – 3 = 5

Pada umur 8 tahun, anak sudah memahami konsep penjumlahanyang sterusnya berlanjut
pada perkalian. Misalnya guru memberikan soal kepada siswa mengenai perkalian.

Guru: “Berapa 8 × 4, Dony?”

Dony: “ 32 Pak!”

Pada umur 9 tahun, penalaran anak masih cenderung tidak dapat menghubungkan
suatu rangkaian atau gagasan yang terpisah dalam suatu keseluruhan yang masih kurang
jelas.

Contohnya dalam menyelesaikan persoalan berikut:

Rambut Tina (T) kurang gelap daripada rambut Sinta (S).

Rambut Tina (Ts) lebih gelap daripada rambut Lily (L).

Rambut siapa yang lebih gelap?

4. Tahap operasi formal (11 tahun keatas)

Pada tahap ini, anak sudah mampu berpikir abstrak bila dihadapkan kepada suatu masalah
dan ia dapat mengisolasi untuk sampai kepada penyelesaian masalah tersebut. Contoh:
Seorang anak mengamati topi ayahnya yang berbentuk kerucut. Ia ingin mengetahui volum
dari topi ayahnya tersebut. Lalu ia mengukur topi tersebut dan memperoleh tinggi kerucut 30
cm dengan jari – jari 21 cm. Untuk menyelesaikan persoalan tersebut, maka guru sudah
terlebih dahulu memberikan konsep kepada siswa mengenai bangun ruang (volum limas).

Volum limas = ⅓(luas alas)(tinggi limas)

= ⅓ × л × r² × t²

= ⅓ × 3,14 × 7² cm² × 3 cm

= 154 cm³

A. Teori Bruner
Menurut Bruner (dalam Hudoyo,1990:48) belajar matematika adalah belajar mengenai
konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat di dalam materi yang
dipelajari, serta mencari hubungan antara konsep-konsep dan strukturstruktur matematika itu.
Siswa harus dapat menemukan keteraturan dengan cara mengotak-atik bahan-bahan yang
berhubungan dengan keteraturan intuitif yang sudah dimiliki siswa. Dengan demikian siswa
dalam belajar, haruslah terlibat aktif mentalnya agar dapat mengenal konsep dan struktur
yang tercakup dalam bahan yang sedang dibicarakan, anak akan memahami materi yang
harus dikuasainya itu. Ini menunjukkan bahwa materi yang mempunyai suatu pola atau
struktur tertentu akan lebih mudah dipahami dan diingat anak. Dalam setiap kesempatan,
pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai
dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik
secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan
keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan teknologi informasi dan
komunikasi seperti komputer, alat peraga, atau media lainnya. Bruner, melalui teorinya itu,
mengungkapkan bahwa dalam proses belajar anak sebaiknya diberi kesempatan
memanipulasi benda-benda atau alat peraga yang dirancang secara khusus dan dapat diotak-
atik oleh siswa dalam memahami suatu konsep matematika. Melalui alat peraga yang
ditelitinya itu, anak akan melihat langsung bagaimana keteraturan dan pola struktur yang
terdapat dalam benda yang sedang diperhatikannya itu. Keteraturan tersebut kemudian oleh
anak dihubungkan dengan intuitif yang telah melekat pada dirinya.

Peran guru dalam penyelenggaraan pelajaran tersebut, (a) perlu memahami sturktur mata
pelajaran, (b) pentingnya belajar aktif suapaya seorang dapat menemukan sendiri konep-
konsep sebagai dasar untuk memahami dengan benar, (c) pentingnya nilai berfikir induktif.
Dengan demikian agar pembelajaran dapat mengembangkan keterampilan intelektual anak
dalam mempelajari sesuatu pengetahuan (misalnya suatu konsep matematika), maka materi
pelajaran perlu disajikan dengan memperhatikan tahap perkembangan kognitif/ pengetahuan
anak agar pengetahuan itu dapat diinternalisasi dalam pikiran (struktur kognitif) orang
tersebut. Proses internalisasi akan terjadi secara sungguh-sungguh (yang berarti proses belajar
terjadi secara optimal) jika pengetahuan yang dipelajari itu dipelajari dalam tiga model
tahapan yaitu model tahap enaktif, model ikonik dan model tahap simbolik. Bila dikaji ketiga
model penyajian yang dikenal dengan teori Belajar Bruner, dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Model Tahap Enaktif


Dalam tahap ini penyajian yang dilakukan melalui tindakan anak secara langsung terlibat
dalam memanipulasi (mengotak-atik) objek. Pada tahap ini anak belajar sesuatu
pengetahuan di mana pengetahuan itu dipelajari secara aktif, dengan menggunakan
benda-benda konkret atau menggunakan situasi yang nyata, pada penyajian ini anak tanpa
menggunakan imajinasinya atau kata-kata. Ia akan memahami sesuatu dari berbuat atau
melakukan sesuatu.

2. Model Tahap Ikonik

Dalam tahap ini kegiatan penyajian dilakukan berdasarkan pada pikiran internal dimana
pengetahuan disajikan melalui serangkaian gambar-gambar atau grafik yang dilakukan
anak, berhubungan dengan mental yang merupakan gambaran dari objek-objek yang
dimanipulasinya. Anak tidak langsung mema nipulasi objek seperti yang dilakukan siswa
dalam tahap enaktif. Tahap ikonik, yaitu suatu tahap pembelajaran sesuatu pengetahuan di
mana pengetahuan itu direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual
(visual imaginery), gambar, atau diagram, yang menggambarkan kegiatan kongkret atau
situasi kongkret yang terdapat pada tahap enaktif tersebut di atas (butir a). Bahasa
menjadi lebih penting sebagai suatu media berpikir. Kemudian seseorang mencapai masa
transisi dan menggunakan penyajian ikonik yang didasarkan pada pengindraan
kepenyajian simbolik yang didasarkan pada berpikir abstrak.

3. Model Tahap Simbolis

Dalam tahap ini bahasa adalah pola dasar simbolik, anak memanipulasi simbulsimbul
atau lambang-lambang objek tertentu. Anak tidak lagi terikat dengan objekobjek seperti
pada tahap sebelumnya. Anak pada tahap ini sudah mampu menggunakan notasi tanpa
ketergantungan terhadap objek riil. Pada tahap simbolik ini, pembelajaran
direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak (abstract symbols), yaitu simbol-
simbol arbiter yang dipakai berdasarkan kesepakatan orangorang dalam bidang yang
bersangkutan, baik simbol-simbol verbal (misalnya hurufhuruf, kata-kata, kalimat-
kalimat), lambang-lambang matematika, maupun lambanglambang abstrak yang lain.
Sebagai contoh, dalam mempelajari penjumlahan dua bilangan cacah, pembelajaran akan
terjadi secara optimal jika mula-mula siswa mempelajari hal itu dengan menggunakan
benda-benda konkret (misalnya menggabungkan 3 kelereng dengan 2 kelereng, dan
kemudian menghitung banyaknya kelereng semuanya ini merupakan tahap enaktif).
Kemudian, kegiatan belajar dilanjutkan dengan menggunakan gambar atau diagram yang
mewakili 3 kelereng dan 2 kelereng yang digabungkan tersebut (dan kemudian dihitung
banyaknya kelereng semuanya, dengan menggunakan gambar atau diagram tersebut/
tahap yang kedua ikonik, siswa bisa melakukan penjumlahan itu dengan menggunakan
pembayangan visual (visual imagenary) dari kelereng tersebut. Pada tahap berikutnya
yaitu tahap simbolis, siswa melakukan penjumlahan kedua bilangan itu dengan
menggunakan lambang-lambang bialngan, yaitu : 3 + 2 = 5.

Selain mengembangkan teori perkembangan kognitif, Bruner mengemukakan teorema atau


dalil-dalil berkaitan pengajaran matematika. Berdasarkan hasil-hasil eksperimen dan
observasi yang dilakukan oleh Bruner dan Kenney, pada tahun 1963 kedua pakar tersebut
mengemukakan empat teorema/dalil-dalil berkaitan dengan pengajaran matematika yang
masing-masing mereka sebut sebagai ”teorema atau dalil”.

Keempat dalil tersebut adalah :

1. Dalil Konstruksi / Penyusunan (Contruction Theorem)

Di dalam teorema kontruksi dikatakan bahwa cara yang terbaik bagi seseorang siswa
untuk mempelajari sesuatu atau prinsip dalam Matematika adalah dengan mengkontruksi
atau melakukan penyusunan sebagai sebuah representasi dari konsep atau prinsip
tersebut. Siswa yang lebih dewasa mungkin bisa memahami sesuatu konsep atau sesuatu
prinsip dalam matematika hanya dengan menganalisis sebuah representasi yang disajikan
oleh guru mereka; akan tetapi, untuk kebanyakan siswa, khususnya untuk siswa yang
lebih muda, proses belajar akan lebih baik atau melekat jika para siswa mengkonstruksi
sendiri representasi dari apa yang dipelajari tersebut. Alasannya, jika para siswa bisa
mengkontuksi sendiri representasi tersebut mereka akan lebih mudah menemukan sendiri
konsep atau prinsip yang terkandung dalam representasi tersebut, sehingga untuk
selanjutnya mereka juga mudah untuk mengingat hal-hal tesebut dan dapat
mengaplikasikan dalam situasi-situasi yang sesuai. Dalam proses perumusan dan
mengkonstruks atau penyusunan ide-ide, apabila disertai dengan bantuan benda-benda
konkret mereka lebih mudah mengingat ide-ide tersebut. Dengan demikian, anak lebih
mudah menerapkan ide dalam situasi nyata secara tepat. Seperti yang diuraikan pada
penjelasan tentang modus-modus representasi, akan lebih baik jika para siswa mula-mula
menggunakan representasi kongkret yang memungkinkan siswa untuk aktif, tidak hanya
aktif secara intelektual (mental) tetapi juga secara fisik. Contoh untuk memahami konsep
penjumlahan misalnya 5 + 4 = 9, siswa bisa melakukan dua langkah berurutan, yaitu 5
kotak dan 4 kotak, cara lain dapat direpresentasikan dengan garis bilangan. Dengan
mengulang hal yang sama untuk dua bilangan yang lainnya anak-anak akan memahami
konsep penjumlahan dengan pengertian yang mendalam. Contoh lain, anak mempelajari
konsep perkalian yang didasarkan pada prinsip penjumlahan berulang, akan lebih
memahami konsep tersebut. Jika anak tersebut mencoba sendiri menggunakan garis
bilangan untuk memperlihatkan proses perkalian tersebut. Misalnya 3 x 5, ini berarti pada
garis bilangan meloncat 3x dengan loncatan sejauh 5 satuan, hasil loncatan tersebut kita
periksa ternyata hasilnya 15. Dengan mengulangi hasil percobaan seperti ini, anak akan
benar-benar memahami dengan pengertian yang mendalam, bahwa perkalian pada
dasarnya merupakan penjumlahan berulang.

2. Dalil Notasi (Notation Theorem)

Menurut apa yang dikatakan dalam terorema notasi, representasi dari sesuatu materi
matematika akan lebih mudah dipahami oleh siswa apabila di dalam representasi itu
digunakan notasi yang sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa. Sebagai
contoh, untuk siswa sekolah dasar, yang pada umumnya masih berada pada tahap operasi
kongkret, soal berbunyi; ”Tentukanlah sebuah bilangan yang jika ditambah 3 akan
menjadi 8”, akan lebih sesuai jika direpresentasikan dalam diberikan bentuk ... + 3 = 8
atau + 3 = 8 atau a + 3 = 8 Notasi yang dibeikan tahap demi tahap ini sifatnya berurutan
dari yang paling sederhana sampai yang paling sulit. Penyajian seperti dalam matematika
merupakan pendekatan spiral. Dalam pendekatan spiral setiap ide-ide matematika
disajikan secara sistimatis dengan menggunakan notasi-notasi yang bertingkat. Pada tahap
awal notasi ini sederhana, diikuti dengan notasi berikutnya yang lebih kompleks.

3. Dalil Kekontrasan dan Variasi (Contrast and Variation Theorem)

Di dalam teorema kekontrasan dan variasi dikemukakan bahwa sesuatu konsep


Matematika akan lebih mudah dipahami oleh siswa apabila konsep itu dikontraskan
dengan konsep-konsep yang lain, sehingga perbedaan antara konsep itu dengan konsep-
konsep yang lain menjadi jelas. Sebagai contoh, pemahaman siswa tentang konsep
bilangan prima akan menjadi lebih baik bila bilangan prima dibandingkan dengan
bilangan yang bukan prima, menjadi jelas. Demikian pula, pemahaman siswa tentang
konsep persegi dalam geometri akan menjadi lebih baik jika konsep persegi dibandingkan
dengan konsep-konsep geometri yang lain, misalnya persegipanjang, jajarangenjang,
belahketupat, dan lain-lain. Dengan membandingkan konsep yang satu dengan konsep
yang lain, perbedaan dan hubungan (jika ada) antara konsep yang satu dengan konsep
yang lain menjadi jelas. Sebagai contoh, dengan membandingkan konsep persegi dengan
konsep persegipanjang akan menjadi jelas bahwa persegi merupakan kejadian khusus (a
special case) dair persegipanjang, artinya: setiap persegi tentu ,merupakan
persegipanjang, sedangkan suatu persegipanjang belum tentu merupakan persegi. Selain
itu di dalam teorema ini juga disebutkan bahwa pemahaman siswa tentang sesuatu konsep
matematika juga akan menjadi lebih baik apabila konsepitu dijelaskan dengan
menggunakan berbagai contoh yang bervariasi. Misalnya, dalam pembelajaran konsep
persegipanjang, persegipanjang sebaiknya ditampilkan dengan berbagai contoh yang
bervariasi. Misalnya ada persegipanjang yang posisinya bervariasi (ada yang dua sisinya
behadapan terletak horisontal dan dua sisi yang lain vertikal, ada yang posisinya miring,
dan sebagainya), ada persegipanjang yang perbedaan panjang dan lebarnya begitu
mencolok, dan ada persegipanjang yang panjang dan lebarnya hampir sama, bahkan ada
persegipanjang yang panjang dan lebarnya sama. Dengan digunakannya contoh-contoh
yang bervariasi tersebut, sifatsifat atau ciri-ciri dari persegi panjang akan dapat dipahami
dengan baik. Dari berbagai contoh tersebut siswa akan bisa memahami bahwa sesuatu
konsep bisa direpresentasikan dengan bebagai contoh yang spesifik. Sekalipun contoh-
contoh yang spesifik tersebut mengandung perbedaan yang satu dengan yang lain, semua
contoh (semua kasus) tersebut memiliki ciri-ciri umum yang sama.

4. Dalil Konektivitas atau Pengaitan (Connectivity Theorem)

Di dalam teorema konektivitas disebutkan bahwa setiap konsep, setiap prinsip, dan
setiap ketrampilan dalam matematika berhubungan dengan konsep-konsep, prinsip-
prinsip, dan ketrampilan-ketrampilan yang lain. Adanya hubungan antara konsep-konsep,
prinsip-prinsip, dan ketrampilanketrampilan itu menyebabkan struktur dari setiap cabang
matematika menjadi jelas. Adanya hubungan-hubungan itu juga membantu guru dan
pihak-pihak lain (misalnya penyusun kurikulum, penulis buku, dan lain-lain) dalam upaya
untuk menyusun program pembelajaran bagi siswa. Dalam pembelajaran matematika,
tugas guru bukan hanya membantu siswa dalam memahami konsep-konsep dan prinsip-
prinsip serta memiliki ketrampilanketrampilan tertentu, tetapi juga membantu siswa
dalam memahami hubungan antara konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan ketrampilan-
ketrampilan tersebut. Dengan memahami hubungan antara bagian yang satu dengan
bagian yang lain dari matematika, pemahaman siswa terhadap struktur dan isi matematika
menjadi lebih utuh.
Perlu dijelaskan bahwa keempat dalil tersebut di atas tidak dimaksudkan untuk
diterapkan satu per satu seperti di atas. Dalam penerapan (implementasi), dua dalil atau
lebih dapat diterapkan secara bersama dalam proses pembelajaran sesuatu materi
matematika tertentu. Hal tersebut bergantung pada karakteristik dari materi atau topik
matematika yang dipelajari dan karakteristik dari siswa yang belajar. Misalnya konsep
Dalil Pythagoras diperlukan untuk menentukan Tripel Pythagoras.

B. Tahap-tahap dalam proses belajar mengajar


Menurut Bruner, dalam prosses belajar siswa menempuh tiga tahap, yaitu:
1. Tahap informasi (tahap penerimaan materi)
Dalam tahap ini, seorang siswa yang sedang belajar memperoleh sejumlah keterangan
mengenai materi yang sedang dipelajari.
2. Tahap transformasi (tahap pengubahan materi)
Dalam tahap ini, informasi yang telah diperoleh itu dianalisis, diubah atau
ditransformasikan menjadi bentuk yang abstrakatau konseptual.
3. Tahap evaluasi
Dalam tahap evaluasi, seorang siswa menilai sendiri sampai sejauh mana informasi
yang telah ditransformasikan tadi dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala atau
masalah yang dihadapi.
C. Alat-Alat Mengajar
Jerome Bruner membagi alat instruksional dalam 4 macam menurut fungsinya.
a. alat untuk menyampaikan pengalaman “vicarious”. Yaitu menyajikan bahan-bahan
kepada murid-murid yang sedianya tidak dapat mereka peroleh dengan pengalaman
langsung yang lazim di sekolah. Ini dapat dilakukan melalui film, TV, rekaman suara
dll.
b. Alat model yang dapat memberikan pengertian tentang struktur atau prinsip suatu
gejala, misalnya model molekul atau alat pernafasan, tetapi juga eksperimen atau
demonstrasi, juga program yang memberikan langkah-langkah untuk memahami
suatu prinsip atau struktur pokok.
c. Alat dramatisasi, yakni yang mendramatisasikan sejarah suatu peristiwa atau tokoh,
film tentang alam yang memperlihatkan perjuangan untuk hidup, untuk memberi
pengertian tentang suatu ide atau gejala.
d. Alat automatisasi seperti “teaching machine” atau pelajaran berprograma, yang
menyajikan suatu masalah dalam urutan yang teratur dan memberi ballikan atau
feedback tentang responds murid.
D. Aplikasi Teori Bruner Dalam Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar
Penerapan teori belajar Bruner dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan:
1. Sajikan contoh dan bukan contoh dari konsep-konsep yang anda ajarkan. Misal :
untuk contoh mau mengajarkan bentuk bangun datar segiempat, sedangkan bukan
contoh adalah berikan bangun datar segitiga, segi lima atau lingkaran.
2. Bantu si belajar untuk melihat adanya hubungan antara konsep-konsep. Misalnya
berikan pertanyaan kepada sibelajar seperti berikut ini ” apakah nama bentuk ubin
yang sering digunakan untuk menutupi lantai rumah? Berapa cm ukuran ubin-ubin
yang dapat digunakan?
3. Berikan satu pertanyaan dan biarkan biarkan siswa untuk mencari jawabannya sendiri.
Misalnya Jelaskan ciri-ciri/ sifat-sifat dari bangun Ubin tersebut?
4. Ajak dan beri semangat si belajar untuk memberikan pendapat berdasarkan intuisinya.
Jangan dikomentari dahulu atas jawaban siswa, kemudian gunakan pertanyaan yang
dapat memandu si belajar untuk berpikir dan mencari jawaban yang sebenarnya.
(Anita W,1995 dalam Paulina panen, 2003 3.16)
Sebelum kita mengimplementasikan teori belajar Bruner dalam pembelajaran
matematika, marilah kita terlebih dahulu bagaimana langkah-langkah penerapan
dapat dilakukan yaitu:
1. Sajikan contoh dan bukan contoh dari konsep-konsep yang anda ajarkan.
Misal : untuk contoh mau mengajarkan bentuk bangun datar segiempat, sedangkan bukan
contoh adalah berikan bangun datar segitiga, segi lima atau lingkaran.
2. Bantu siswa untuk melihat adanya hubungan antara konsep-konsep.
Misalnya berikan pertanyaan kepada siswa seperti berikut ini ” apakah nama
bentuk ubin yang sering digunakan untuk menutupi lantai rumah? Berapa cm
ukuran ubin-ubin yang dapat digunakan?
3. Berikan satu pertanyaan dan biarkan biarkan siswa untuk mencari jawabannya
sendiri. Misalnya Jelaskan ciri-ciri/ sifat-sifat dari bangun Ubin tersebut?
4. Ajak dan beri semangat siswa untuk memberikan pendapat berdasarkan
intuisinya. Jangan dikomentari dahulu jawaban siswa, gunakan pertanyaan yang
dapat memandu siswa untuk berpikir dan mencari jawaban yang sebenarnya.
(Anita dalam Panen, 2003)
Teori belajar Bruner ini didasarkan pada dua asumsi, bahwa :
1. Perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interaktif, artinya pengetahuan
akan diperoleh siswa apabila yang bersangkutan berinteraksi secara aktif dengan
lingkungannya.
2. Orang mengkonstruksikan pengetahuannya dengan cara menghubungkan hal-hal
yang mempunyai kemiripan dihubungkan menjadi suatu struktur yang memberi
arti.
Berikut ini disajikan contoh penerapan teori belajar Bruner dalam pembelajaran
matematika di sekolah dasar.
1. Pembelajaran menemukan rumus luas daerah persegi panjang?
Untuk tahap contoh berikan bangun persegi dengan berbagai ukuran, sedangkan
bukan contohnya berikan bentuk-bentuk bangun datar lainnya seperti, persegipanjang,
jajar genjang, trapesium, segitiga, segi lima, segi enam, lingkaran.
a. Tahap Enaktif
Dalam tahap ini penyajian yang dilakukan melalui tindakan anak secara
langsung terlihat dalam memanipulasi (mengotak atik)objek.
(a)

Untuk gambar a ukurannya: Panjang = 20 satuan , Lebar = 1 satuan


b ukurannya: Panjang = 10 satuan , Lebar = 2 satuan
c ukurannya: Panjang = 5 satuan , Lebar = 4 satuan

b. Tahap Ikonik
Dalam tahap ini kegiatan penyajian dilakukan berdasarkan pada pikiran internal
dimana pengetahuan disajikan melalui serangkaian gambar-gambar atau grafik yang
dilakukan anak, berhubungan dengan mental yang merupakan gambaran dari objek-objek
yang dimanipulasinya.
Penyajian pada tahap ini apat diberikan gambar-gambar dan Anda dapat berikan
sebagai berikut.
c. Tahap Simbolis
Dalam tahap ini bahasa adalah pola dasar simbolik, anak memanipulasi Simbol-simbol atau
lambang-lambang objek tertentu. Siswa diminta untuk mngeneralisasikan untuk menenukan
rumus luas daerah persegi panjang. Jika simbolis ukuran panjang p, ukuran lebarnya l , dan
luas daerah persegi panjang L.

Maka jawaban yang diharapkan L = p x l satuan


Jadi luas persegi panjang adalah ukuran panjang dikali dengan ukuran lebar.
Penerapan teori belajar Bruner dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan:
1. Sajikan contoh dan bukan contoh dari konsep-konsep yang anda ajarkan.
2. Bantu si belajar untuk melihat adanya hubungan antara konsep-konsep.
3. Berikan satu pertanyaan dan biarkan biarkan siswa untuk mencari jawabannya sendiri.
4. Ajak dan beri semangat si belajar untuk memberikan pendapat berdasarkan
intuisinya.Jangan dikomentari dahulu atas jawaban siswa, kemudian gunakan pertanyaan
yang dapat memandu si belajar untuk berpikir dan mencari jawaban yang sebenarnya.
5. Tidak semua materi yang ada dalam matematika sekoah dasar dapat dilakukan dengan
metode penemuan.
1. TEORI GESTALT
Psikologi Gestalt adalah suatu aliran psikologi yang mempelajari suatu gejala sebagai
suatu keseluruhan atau totalitas. Data-data dalam psikologi gestalt disebut phenomena
(gejala), sebab dalam suatu gejala terdapat dua unsur yakni objek dan arti. Objek adalah
sesuatu yang dapat dideskripsikan setelah objek tersebut ditangkap oleh indra. Pada objek
tersebut kiata akan memberikan arti dan sekaligus kita mendapatkan suatu informasi dari
objek tersebut.
a. Teori Medan
Teori Gestalt ini dipandang sebagai usaha untuk mengaplikasikan field theory (teori
medan). Teori ini dapat dideskripsikan sebagai system yang saling teerkait secara
dinamis dan setiap unsur-unsurnya saling terkait satu sama lain. Teori ini digunakan
dalam berbagai level pada konsep Gestalt. Psikologi Gestalt percaya bahwa apapun
yang terjadi pada seseorang maka itu akan mempengaruhi segala sesuatu yang ada
pada diri orang tersebut. Misalnya seseorang yang lidahnya kegigit tanpa sengaja,
orang itu akan merasa perubahan dalam menjalani kesehariannya, misalnya tidak bisa
menikmati makanan pedas karena perih jika terkena lidahnya.
b. Nature versus Nurture
Para Behavioris memandang otak sebagai penerima pasif dari sensasi yang nantianya
akan menjadi respon. Menurut Behavioris sifat manusia ditentukan oleh segala
sesuatu yang kita alami, sedangkan otak hanya sebagai penghubung. Akan tetapi
penganut Gestalt mengatakan bahwa otak memberi peranan yang aktif. Menurut
teoritis Gestalt, otak bereaksi terhadap sensoris yang masuk kedalam otak dan
melakukan penataan serta membuat informasi itu bermakna. Ini adalah “sifat alami”
dari otak ketika sensori masuk kedalam otak.
Menurut Gestalsian otak akan menciptakan suatu medan yang mempengaruhi informasi
yang masuk kedalam otak. Kekuatan inilah yang mengatur pengalaman sadar. Jadi apa yang
kita alami sacara sadar, itu adalah informasi sensoris yang telah dikelolah oleh medan
kekuatan dalam otak. Karena teori ini Gestaltian dipandang sebagai nativistik. Menurut
behaviorian kemampun otak itu bakan karena pengalaman. Akan tetapi gestaltian juga
menunjukkan bahwa kemampuan organisational otak bukan merupakan warisan.

1. Hukum Pragnaz
Hukum Pragnaz ini menunjukkan tentang berarahnya segala kejadian yaitu tentang suatu
keadaan seimbang. Keadaan yang seimbang ini mencakup sikap-sikap keturunan,
kesederhanaan, kestabilan, simetri dan sebagainya. Contohnya Ketika melihat awan,
kerapkali kita menghubungkan dengan objek yang ada dalam pikiran kita sehingga
menjadi sebuah bentuk yang mirip suatu objek nyata lainnya. Misalnya mirip wajah.
Contoh lain, Pada sebuah iklan, coba kita ingat kembali iklan pop mie. Pertama yang kita
lihat adalah isi iklan keseluruhannya, dengan menyajikan berbagai gambaran untuk
mendeskripsikan pop mie dan pada akhirnya kita tau bahwa itu iklan pop mie dengan
kemasan yang baru.

2. Hukum-hukum tambahan
Ahli-ahli psikologi Gestlat telah mengadakan penelitian secara luas dalam bidang
penglihatan dan akhirnya mereka menemukan bahwa objek-objek penglihatan itu
membentuk diri menjadi Gestalt-gestalt menurut prinsip-prinsip tertentu. Menurut Koffka
dan Kohler, ada prinsip-prinsip dapat dilihat pada hukum-hukum yaitu:
Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship);
yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure
(bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna
dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat
samar-samar, maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure. Pada
gambar diatas jika kita melihat kipas putih yang besar, maka yang menjadi bentuk
(figure) adalah kipas tersebut dan yang berwarnah hitam adalah latar (ground), demikan
sebaliknya.

3. Hukum Keterdekatan, yaitu Kedekatan (proxmity)


Bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang
pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu. Contohnya: Ketika kita
memasuki ruangan 302 USD Kampus 3, kita akan menemui banyak meja, tapi kita akan
lebih mudah melihat banyak meja tersebut dengan pengelompokan meja yang telah diatur
menjadi 3 baris.

4. Hukum Ketertutupan atau Ketertutupan (closure)


Bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan
yang tidak lengkap. Contohnya: Ketika kita sedang membaca bacaan, yang saat itu huruf-
hurufnya terpotong-potong karena tinta hasil fotocopy yang kurang jelas. Akan tapi pada
akhirnya kita dapat membaca tulisan tersebut dengan memperkirakan huruf apa saja yang
tertulis.
5. Hukum Kesamaan atau Kesamaan (similarity);
Bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek
yang saling memiliki. Pada contoh disamping, umumnya orang akan cenderung melihat
delapan kolom yang vertical dibanding empat baris yang horizontal, sebab adanya
kemiripan atau kesamaan yang membentuk arah vertical.

6. Arah bersama (common direction / continuity);


bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung
akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu. Contoh disamping menunjukkan
bahwa kita cenderung mengikuti aliran halus atau bentuk-bentuk yang berkelanjutan dan
bukan bentuk yang terputus. Menurut aliran ini, pembelajaran harus dimulai dari
masalah-masalah yang berkaitan dengan konsep yang akan diberikan dan berada dalam
kehidupannya sehari-hari. Ketika mengkonstruksi konsep, anak harus banyak diberikan
kesempatan untuk berdialog (berdiskusi) dengan temantemannya maupun dengan guru,
bereksplorasi, dan diberikan kebebasan bereksperimen. Jika kita akan mengajarkan
konsep fungsi kuadrat, maka konsep fungsi kuadrat akan lebih bermakna jika konsep
tersebut dikemas dalam bentuk masalah-masalah sehari-hari yang cukup sederhana
seperti berikut :
(1). Sekeliling kebun yang berbentuk persegipanjang dengan panjang 18 m dan lebar 12
m, akan dibuat parit pembuangan air. Jika si pemilik kebun hanya mampu membuat parit
seluas 99 m2 , berapa lebar parit yang direncanakan ?
(2). Pekarangan rumah berbentuk persegipanjang. Jika kelilingnya adalah 400 m,
bagaimanakah ukurannya supaya luasnya sebesar-besarnya ?

Aliran terapi Gestalt memandang bahwa konsep atau pengetahuan baru merupakan
struktur yang terorganisir dan merupakan masalah bagi anak. Langkah-langkah
pembelajaran menurut aliran ini, pertama anak dengan bantuan guru secara tidak
langsung diberikan kesempatan untuk menganalisis masalah-masalah yang diberikan
menjadi struktur yang lebih sederhana sehingga mudah dipahami anak. Kemudian anak
menyusun atau mensintesis penyelesaian masalah itu berdasarkan pada struktur yang
lebih sederhana dan sudah dimengerti anak. Selanjutnya anak mensintesis konsep atau
pengetahuan dalam bentuk yang lebih umum. Akhirnya anak mencoba melakukan
penerapan dari konsep yang sudah dipelajarinya.
2. Aplikasi Teori Gestalt Dalam Proses Pembelajaran
Akhmad Sudrajat[15] sebagaimana juga ditulis oleh Muhammad Surya menguraikan
beberapa aplikasi teori gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :
a. Pengalaman tilikan (insight);
Setelah berhasil dengan eksperimennya Kohler menyatakan bahwa tilikan memegang
peranan yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta
didik memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-
unsur dalam suatu obyek atau peristiwa.
b. Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning);
Kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam
proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif
sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah,
khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya.
Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis
dengan proses kehidupannya.
c. Perilaku bertujuan (purposive behavior);
Edward Tolman salah satu tokoh yang mengembangkan teori gestalt mengatakan
bahwa pada hakikatnya perilaku itu terarah pada suatu tujuan. Perilaku bukan hanya
terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya dengan tujuan
yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan efektif jika peserta didik
mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari
tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan membantu peserta didik dalam
memahami tujuannya.
d. Prinsip ruang hidup (life space);
Konsep ini di kembangkan oleh kurt lewwin dalam teori medan (field theory) yang
menyatakan bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana
ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan
dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta didik.
e. Transfer dalam pembelajaran
Maksud dari transfer dalam pembelajaran adalah pemindahan pola-pola perilaku
dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan gestalt,
transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu
konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi
konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya
penangkapan prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian
menyusun ketentuan-ketentuan umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi
apabila peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan
menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah
dalam situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik
untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.

3. Hubungan Teori Gestalt Dengan Kurikulum


Teori Gestalt atau Field Theory mempunyai tujuan yang jelas dan luas. Yakni bukan
hanya memberikan pengetahuan tapi, juga proses menghadapi dan memecahkan masalah,
pengembangan pribadi, dalam menentukan bahan pelajaran dipertimbangkan minat dan
perkembangan anak, lingkungan masyarakat anak dan bahan dari berbagai mata pelajaran.
Kurikulum meliputi perkembangan sosial, emosional, dan intelektual. Organisasi bahan
pelajaran dan metode mengajar diutamakan hubungan dan interaksi serta pemahaman. Fakta-
fakta atau informasi spesifik diperlukan untuk memperoleh pemahaman itu. Teori Gestalt ini
memandang belajar sebagai proses yang memerlukan aktifitas anak. Karena itu digunakan
metode problem solving dan inquiry approach. Anak sendiri harus menemukan jawaban
masalah, dengan bimbingan serta bantuan guru sejauh diperlukan. Jadi teori gestalt ini sangat
berhubungan sekali dengan kurikulum. karena sesuai dengan apa yang dinyataan oleh Nana
Sujana di dalam bukunya yang berjudul “ Teori-Teori Belajar Dalam Pembelajaran “ Bahwa
metode yang ada dalam kurikulum ini merupakan sarana yang bertujuan untuk menjelaskan
bagaimana cara membantu siswa dalam mencapai tujuan pendidikan yang berdasarkan
kaidah-kaidah dalam teori belajar.
Belajar bagi penganut Gestalian ( Brunner dan Holt) adalah memuaskan secara personal
dan tidak perlu didorong-dorong oleh penguatan eksternal. Kelas yang berorientasi Gestal
akan dicirikan dengan hubungan memberi-dan –menerima antara murid dengan guru. Guru
akan membantu sisiwa memandang hubungan dan mengoerganisasikan pengalaman mereka
kedalam pola yang bermakna. Belajar dalam Gestalt dimulai dari sesuatu yang familiar dan
setiap langkah dalam pendidikan di dasarkan pada hal-hal yang sudah dikuasai. Guru yang
berorientasi Gestalt akan banyak menggunakan metode ceramah untuk menjaga interaksi
antara guru dan murid, memorisasi fakta tanpa pemahaman akan dihindari. Ketika mereka
faham prinsip dibalik pengalaman belajar, maka tidak hanya akan diingat, tapi diaplikasikan
kedalam situasi yang baru dan mempertahankannya.Pendidikan di sekolah diberikan dengan
kepercayaan dan keyakinan bahwa anak-anak dapat dididik, dapat dipengaruhi prilakunya.
Yang terpenting ialah : bagaimanakah anak itu belajar? Kalau kita tahu betul,
bagaimana proses belajar itu berlangsung, dalam keadaan yang bagaimana belajar itu
memberi hasil yang sebaik-baiknya, maka kurikulum dapat direncanakan dandilaksanakan
dengan cara yang seefektifmungkin.

Daftar Pustaka

Hergenhahn B.R And H. Olson Matthew. 2008. Theories Of Learning Edisi keTujuh.
Jakarta: Kencana
Nasution, S. 2000. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta:
Bumi Aksara.

Simanjutak, Lisnawaty.1993. Metode Mengajar Matematika. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Uno, Hamzah B. 2008. Orientasi Baru Dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Bumi
Aksara.