Anda di halaman 1dari 19

I.

Tujuan
Mahasiswa mampu melakukan identifikasi senyawa golongan flavonoid dalam
tanaman.

II. Tinjauan Teori


Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Subkin gdom : Tracheobionta
Superdivisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Rosidae
Ordo : Myrtales
Famili : Myrtaceae
Genus : Psidium
Spesies : Psidium guajava L.
(Plantmor)

Gambar 1. Tanaman Jambu Biji

Tanaman jambu biji (Psidium guajava Linn) bukan merupakan tanaman asli
Indonesia. Tanaman ini pertama kali ditemukan di Amerika Tengah oleh Nikolai Ivanovich
Vavilov saat melakukan ekspedisi ke beberapa negara di Asia, Afrika, Eropa, Amerika
Selatan, dan Uni Soviet antara tahun 1887-1942. Seiring dengan berjalannya waktu, jambu
biji menyebar di beberapa negara seperti Thailand, Taiwan, Indonesia, Jepang, Malaysia,
dan Australia (Parimin, 2005). Jambu biji merupakan tumbuhan perdu dengan tinggi 5-10
m, batang berkayu, kulit batang licin, mengelupas, bercabang, dan berwarna cokelat.
Merupakan daun tunggal, berbentuk bulat telur, ujung tumpul, pangkal membulat, tepi rata
berhadapan, petulangan daun menyirip berwarna hijau kekuningan. Bunganya termasuk
bunga tunggal, terletak di ketiak daun, bertangkai, kelopak bunga berbentuk corong.
Mahkota bunga berbentuk bulat telur dengan panjang 1,5 cm, benang sari pipih berwarna
putih atau putih kekuningan. Berbuah buni, berbentuk bulat telur, dan bijinya kecil-kecil dan
keras (Parimin, 2005). Di berbagai daerah buah ini memiliki nama-nama khas tersendiri
seperti Sumatera: glima breueh (Aceh), galiman (Batak Karo), masiambu (Nias), biawas,
jambu krutuk, jambu krikil, jambu biji, jambu klutuk (Melayu). Jawa: jambu klutuk (Sunda),
hambu bhender (Madura). Sotong (Bali), guawa (Flores), goihawas (Sika). Sulawesi:
gayawas (Manado), dambu 16 (Gorontalo), jambu paratugala (Makasar). Maluku: luhu hatu
(Ambon), gayawa (Ternate, Halmahera) (Hapsoh dan Hasanah, 2011).

Kandungan kimia pada tumbuhan jambu biji pada buah mengandung vitamin C,
vitamin A, zat besi, kalsium dan fosfor. Kandungan vitamin C buah jambu biji lima kali
lebih banyak dibandingkan jeruk. Buah jambu biji mengandung saponin dengan oleanolic,
Morin-3-O-α-Llyxopyranoside dan morin-3-O-α-L-arabopyraoside dan flavonoid,
guaijavarin (BPOM, 2008). Kulit buah terutama mengandung 56-600mg asam askorbatn
(Kumar, 2012). Sedangkan pada daun jambu biji banyak mengandung senyawa aktif seperti
alkaloid, saponin, tannin, minyak atsiri, flavonoid, dan polifenol (Dalimartha, 2006).
Dilaporkan bahwa senyawa seperti phenolic, terpenoid, flavonoid, dan alkaloid memilki
aktivitas juvenil hormone sehingga memiliki pengaruh pada perkembangan serangga
(Elimamet al., 2009).

Flavonoid merupakan suatu senyawa polifenol yang mempunyai 15 atom karbon,


terdiri dari dua cincin benzene yang dihubungkan menjadi satu oleh rantai lurus yang terdiri
dari tiga atom karbon. Kerangka ini ditunjukkan dalam sistem C6-C3-C6 (Markham, 1988).
Selain itu flavonoid merupakan senyawa kimia yang memiliki sifat insektisida. Flavonoid
menyerang bagian saraf pada beberapa organ vital serangga sehingga timbul suatu
perlemahan saraf, seperti pernapasan dan 17 menimbulkan kematian (Dinata, 2009). Dalam
tumbuhan, aglikon flavonoid (flavonoid tanpa gula terikat) terdapat dalam berbagai bentuk
struktur, semuanya mengandung 15 atom karbon dalam inti dasarnya, yang tersusun dalam
konfigurasi C6-C3-C6 yaitu dua cincin aromatik yang dihubungkan oleh satuan tiga karbon
yang dapat atau tak dapat membentuk cincin ketiga. Cincin diberi tanda A, B, C, atom karbon
dinomori menurut sistem penomoran dengan menggunakan angka biasa untuk cincin A dan
C, serta angka "beraksen" untuk cincin B (Markham, 1988).

Gambar 2. Kerangka dasar flavonoid dan cara penomoran


Adanya gugus-gugus fungsi yang terikat pada cincin flavonoid dapat di
analisis dengan menambahkan suatu pereaksi geser pada larutan flavonoid dalam
metanol seperti larutan AlCl3 +HCl, AlCl3 , NaOMe, NaOAc, NaOAc + H3BO3
(Iwang Sudiro, 1988). Senyawa flavonoid ada yang berupa aglikon saja dan ada
pula yang berbentuk glikosida (aglikon dan gula). Flavonoid juga ada yang
berikatan dengan gugus sulfat yang disebut flavonoid sulfat dan ada yang terikat
dengan flavonoid lainnya disebut biflavonoid.
1. Agilikon Flavonoid
Aglikon Flavonoid dibagi dalam beberapa golongan dengan struktur
dasar seperti flavon, flavonol, isoflavon, katekin, flavanon, leukoantosianin,
auron, kalkon dan dihidroflavonol.
Gambar 3. Struktur kimia macam dari aglikon flavonoid
2. Flavonoid glikosida
Flavonoid glikosida adalah flavonoid dimana aglikonnya berikatan
dengan satu atau lebih gugus gula. Flavonoid glikosida dikelompokkan
menjadi 2 yaitu flavonoid-O-glikosida dan flavonoid-C-glikosida. Flavonoid-
O-glikosida adalah flavonoid dimana salah satu gugus hidroksil yang terikat
pada flavonoid berikatan dengan gula. Flavonoid-C-glikosida adalah flavonoid
dimana gula yang terikat langsung pada atom C daripada flavonoid atau inti
benzena dari flavonoid. Dalam kenyataaannya keberadaan di alam flavonoid-
O-glikosida jauh lebih banyak dibandingkan dengan flavonoid-C-glikosida.
a. Flavonoid O-glikosida
Flavonoid biasanya terdapat sebagai flavonoid O-glikosida, pada
senyawa tersebut satu gugus hidroksil flavonoid (atau lebih) terikat pada
satu gula (atau lebih) dengan ikatan hemiasetal yang tak tahan asam.
Pengaruh glikosilasi menyebabkan flavonoid menjadi kurang reaktif dan
lebih mudah larut dalam air (cairan). Walaupun setiap posisi dalam inti
flavonoid dapat diglikosilasi, kenyataannya hidroksi pada tempat tertentu
mempunyai peluang yang lebih besar untuk terglikosilasi ketimbang
tempat-tempat lain, misalnya 7-hidroksil pada flavon, isoflavon, dan
dihidroflavonon, 3-(dan 7-) hidroksil dalam flavonol dan dihidroflavonol;
dan 3-(dan 5-) hidroksil dalam antosianidin. Glukosa merupakan gula yang
paling umum terlibat selain galaktosa, ramnosa, xilosa, dan arabinosa
(Markham, 1988).

Gambar 4. Kerangka flavonoid O-glikosida


b. Flavonoid C-glikosida
Gula juga terikat pada atom karbon flavonoid dan dalam hal ini gula
tersebut terikat langsung pada inti benzena dengan suatu ikatan karbon-
karbon yang tahan asam. Glikosida yang demikian disebut C-glikosida.
Sekarang gula yang terikat pada atom C hanya ditemukan pada atom C
nomor 6 dan 8 dalam inti flavonoid. Jenis gula yang terlibat ternyata jauh
lebih sedikit ketimbang jenis gula O-glikosida, dan jenis aglikon flavonoid
yang terlibat pun sangat terbatas (Markham, 1988)

. Gambar 5. Kerangka flavonoid C-glikosida


3. Flavonoid Sulfat
Flavonoid Sulfat Golongan flavonoid ini mudah larut dalam air dan
mengandung satu ion sulfat atau lebih, yang terikat pada hidroksil fenol atau
gula. Secara teknis senyawa ini sebenarnya bisulfat karena terdapat sebagai
garam yaitu flavon-O-SO3K, bagian bisulfat ini biasanya terikat pada hidroksil
fenol yang masih bebas atau pada gula (Harborne, 1987). Senyawa ini
penyebarannya terbatas sekali yaitu pada angiospermae yang mempunyai
hubungan ekologi dengan habitat air.

4. Biflavonoid
Biflavonoid adalah flavonoid dimer dimana yang biasa terlibat di sini
adalah flavon dan flavanon yang secara biosintesis mempunyai pola oksigenasi
yang sederhana 5,7,4’ (kadang-kadang 5,7,3’,4’) dan ikatan dan ikatan antar
flavonoidnya berupa ikatan karbon-karbon atau kadang-kadang ikatan eter
(Gerger & Quinn, 1975). Monomer flavonoid yang digabungkan menjadi
biflavonoid dapat berjenis sama atau berbeda, dan 9 letak ikatan berbeda-beda.
Jenis ikatan karbon-karbon yang lebih sering ditemukan ialah ikatan 6,8’’(gol.
Agatisflavon), ikatan 8,8’’ (gol. Kupresuflavon), ikatan 6,3’’’(gol.
Robustaflavon) dan ikatan 3,8’’. Jenis ikatan eter ialah ikatan 6,4’’’(gol.
Hinokiflavon) dan ikatan 3’,4’ (gol. Oknaflavon). Banyak sifat-sifat
biflavonoid yang sifatnya sama dengan sifat monoflavonoid pembentuknya
(spektrum UV-Vis, Uji Warna, dll, sehingga sukar untuk dikenali tapi KLT
dapat membedakan monomer dan dimer dengan jelas dan dapat dipastikan
dengan cara peleburan basa atau dengan spektroskopi massa. Biflavonoid
jarang ditemukan sebagai glikosida dan penyebarannya terbatas pada
gimnospermae.

5. Aglikon Flavonoid yang optik aktif


Sejumlah Aglikon mempunyai atom karbon asimetrik sehingga
menunjukkan keaktifan oftik (memutar cahaya terpolarisasi datar). Yang
termasuk flavonoid oftik aktif adalah flavanon, dihidroflavanol, katekin,
rotenoid dan beberapa biflavonoid.
Penggolongan flavonoid berdasarkan pada subtituen cincin heterosiklik yang
mengandung oksigen dan perbedaan distribusi dari gugus hidroksil. Perbedaan
oksidasi di bagian atom C3 menentukan sifat, khasiat dan golongan atau tipe
flavonoid (Markham, 1988). Perbedaan pola subtitusi dan hidroksilasi pada
atom C3 juga menentukan klasifikasi dari senyawa flavonoid yaitu flavon,
flavanon, flavonol, flavononol, isoflavon, auron, chalkon. Bagian terbesar dari
golongan tersebut adalah flavon dan flavanol (Markham, 1988). Berdasarkan
bentuk dari kerangka rantai 3 atom karbonnya, senyawa flavonoid dapat
digolongkan menjadi:
1. Golongan Flavon (Fenil Benzo Piran)
Pada flavonoid golongan ini, rantai 3 atom karbonnya membentuk
kerangka senyawa piran dan senyawanya disebut flavonoid.
2. Golongan Flavon (Fenil Benzo--Piron)
Pada flavonoid golongan ini, rantai 3 atom karbonnya membentuk
kerangka piron dan senyawa disebut sebagai flavonoid.
3. Golongan Flavilium (Fenil Benzo Pirilium)
Kerangka senyawa pirilium dan senyawa disebut antosian. (Trease, 1978)
Dalam kombinasi senyawa flavonoid sering tersubstitusi oleh senyawa-
senyawa lain diantaranya gugus hidroksi (-OH ), metoksi (-OCH 3 ), metil
(CH3 ), gula dan prenil. Gugus-gugus substituen tersebut banyak
tersubstitusi, oleh karena itu flavonoid merupakan senyawa polar dan
dapat larut dalam etanol, air, metanol dan butanol ( Trease,and Evans,
1978).

Gambar 6. Struktur kimia tipe flavonoid


Bentuk umum dari flavonoid dalam tumbuhan sering dijumpai dalam bentuk
glikosida flavonoid, dalam senyawa tersebut flavonoid berikatan dengan gugus
glikon yang merupakan senyawa gula. Pada saat ini dikenal ada 8 macam glikosida
flavanol yaitu quercetin, spiracoside, rutin, isoquercetin, quercitrin, eriodictyol,
eriodictin, dan hesperidin. Aglikon flavonoid adalah polifenol, sehingga dapat larut
dalam basa tetapi banyak yang akan terurai karena adanya oksigen. Glikosida larut
dalam air dan alkohol tapi tidak larut dalam pelarut organik, sedangkan
aglikonnya tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik misalnya aseton,
eter, etil asetat dan lain-lain (Trease and Evans, 1978). Berdasarkan polaritasnya
maka flavonoid dapat diisolasi atau disari dengan air panas dan dikristalkan dengan
pendinginan untuk flavonoid yang berada dalam bentuk glikosida, maka untuk
memisahkan dari glikonnya dapat dilakukan dengan penambahan asam (Trease,
1978). Aglikon flavonoid adalah polifenol, karena itu mempunyai sifat kimia sebagai
senyawa fenol, yaitu bersifat agak asam, sehingga dapat larut dalam basa. Kelarutan
flavonoid dipengaruhi oleh golongan dan substituennya, sehingga untuk melakukan
ekstraksi digunakan pelarut yang mempunyai polaritas sesuai dengan flavonoidnya
(Markham, 1988). Pada umumnya flavonoid sedikit larut dalam pelarut polar
misalnya etanol, metanol, butanol, aseton dan sebagainya. Flavonoid juga mudah
larut dalam air, karena adanya gula yang terikat. sedangkan aglikon flavonoid yang
kurang polar misalnya isoflavon, flavanon dan flavon serta flavanol yang
termetoksilasi cenderung lebih mudah larut dalam eter dan kloroform (Markham,
1988). Sedangkan untuk flavonoid yang memiliki sifat kepolaran rendah yang biasa
ditemukan pada tumbuhan padang pasir dan paku, paling baik diisolasi dengan cara
merendam bahan tumbuhan yang masih segar ke dalam larutan heksana atau eter dan
dilakukan selama beberapa menit (Markham, 1988).
Tanaman dapat dimanfaatkan sebagai obat apabila tanaman tersebut mengandung
metabolit sekunder yang memiliki aktivitas farmakologi. Kandungan senyawa
metabolit sekunder dalam suatu tanaman dapat diketahui dengan suatu metode
skrining fitokimia dan uji Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Oleh karena itu, pada
penelitian ini dilakukan identifikasi komponen metabolit sekunder menggunakan
metode skrining fitokimia dan uji Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Kromatografi
lapis tipis adalah metode pemisahan campuran senyawa denga n menggunakan fase
diam dan fase gerak lewat alat lapis tipis. Lapisan yang memisahkan, yang terdiri
atas bahan berbutir-butir atau fase diam, ditempatkan pada penyangga berupa pelat
gelas, logam atau lapisan lain yang cocok. Campuran yang akan dipisahkan berupa
larutan, ditotolkan berupa bercak atau pita. Setelah pelat ditaruh dalam bejana
tertutup rapat berisi larutan pengembang yang cocok (fase gerak), pemisahan terjadi
selama perambatan kapiler. Selanjutnya, senyawa yang tidak berwarna harus
ditampakkan atau dideteksi (Stahl, 1985). Pada kromatografi, kondisi optimum untuk
suatu pemisahan merupakan hasil kecocokan antara fase diam dan fase gerak.
Kelebihan KLT dibandingkan kromatografi kertas adalah keserbagunaan, kecepatan
dan kepekaannya. Keserbagunaan KLT disebabkan karena kenyataan bahwa
disamping selulosa, sejumlah penyerap yang berbeda-beda dapat disaputkan pada
pelat kaca atau penyangga lain yang digunakan untuk kromatografi. Keuntungan
KLT yang lain adalah hanya diperlukan jumlah cuplikan yang sedikit kira-kira 0,1 g,
kebutuhan ruang minimal dan penanganannya sederhana (Stahl, 1985). Untuk
campuran yang tidak diketahui, lapisan pemisah dan sistem larutan pengembang
harus dipilih dengan tepat karena keduanya bekerja sama untuk mencapai pemisahan.
Selain itu hal yang penting juga adalah memilih kondisi optimum yang meliputi sifat
pengembangan dan atmosfer bejana. (Stahl, 1985). Campuran yang akan dipisahkan
berupa larutan, ditotolkan berupa bercak atau pita (awal). Setelah plat atau lapisan
ditaruh di dalam bejana tertutup rapat yang berisi larutan pengembang yang cocok
(fase gerak), pemisahan terjadi selama perambatan kapiler (pengembangan).
Selanjutnya senyawa yang tidak bewarna harus ditampakkan atau dideteksi, dan
bercak-bercak yang terjadi selanjutnya dilakukan uji warna (Stahl, 1985).

a. Fase Diam
Fase diam berupa lapis tipis yang terdiri atas bahan padat atau serbuk halus
yang dilapiskan pada permukaan yang biasanya terbuat dari kaca, tetapi dapat
pula terbuat dari pelat polimer atau logam. Lapisan melekat permukaan dengan
bantuan bahan pengikat. Biasanya kalsium sulfat atau amilum (pati). Pada
umumnya sebagai fase diam digunakan silica gel (Sudjadi, 1988).
b. Fase Gerak
Fase gerak merupakan medium angkut yang terdiri atas satu atau beberapa
pelarut. Pelarut tersebut bergerak di dalam fase diam, yang merupakan lapisan
berpori, karena ada gaya kapiler. Pelarut tersebut bergerak di dalam fase diam
yaitu suatu lapisan berpori, karena ada gaya kapiler. Pelarut yang digunakan
adalah pelarut yang bertingkat mutu analitik, jika menggunakan sistem pelarut
20 multi maksimum tiga komponen. Angka banding campuran dalam fase gerak
dinyatakan dalam bagian volume tertentu sehingga volume total adalah 100
(Stahl,1985).
Pada kromatografi adsorbsi, pelarut pengembang dapat dikelompokkan ke
dalam eluotropik berdasarkan efek elusinya. Efek elusi akan meningkat sesuai
kenaikan kepolaran pelarut. Sebagai contoh pelarut yang biasa digunakan pada
KLT adalah n-heksana, heptana, sikloheksana, karbontetraklorida, benzena,
kloroform, eter, etil asetat, piridin, aseton, etanol, metanol dan air (Stahl, 1985).
Pada kromatografi lapis tipis, lempeng dimasukkan ke dalam bejana untuk
proses pemisahan. Bejana harus tertutup rapat. Lalu dilakukan penjenuhan
bejana dengan memasukkan secarik kertas saring bersih pada dinding sebelah
dalam bejana (Stahl,1985), sehingga atmosfer didalam bejana jenuh dengan fase
pelarut setelah seluruh kertas terbasahi (Harborne,1987).
Tingkat kejenuhan bejana dengan uap pelarut pengembang mempunyai
pengaruh yang nyata pada pemisahan dan letak bercak yang terbentuk pada
bejana yang dijenuhkan sempurna dengan pengembang (Stahl,1985). Lalu
dilakukan penotolan. Peno tolan biasanya dilakukan dengan memakai kapiler
kaca atau pipa kapiler, tetapi dapat pula dilakukan dengan alat otomatis. Pelarut
dibiarkan menguap atau dihilangkan dengan aliran udara kering atau nitrogen
(Sastrohamidjojo,1991). Pengembangan adalah proses pemisahan campuran
cuplikan akibat pelarut pengembangan merambat naik dalam lapisan. Tingkat
kejenuhan bejana dengan 21 kapasitas pelarut pengembangan memiliki
pengaruh yang nyata pada pemisahan dan letak bercak pada kromatogram
(Stahl,1985).
c. Penotolan Sampel
Untuk memperoleh roprodusibilitas, volume sampel yang ditotolkan paling
sedikit 0,5 μl. Jika volume sampel yang ditotolkan lebih besar dari 2-10 μl, maka
penotolan harus dilakukan secara bertahap dengan dilakukan pengeringan antar
totolan (Gandjar & Rohman, 2007).
d. Pengembangan
Bila sampel telah ditotolkan maka tahap selanjutnya adalah mengembangkan
sampel dalam bejana kromatografi yang sebelumnya telah dijenuhi dengan uap
fase gerak. Tepi bagian bawah lempeng tipis yang telah ditotoli sampel
dicelupkan kedalam fase gerak kurang lebih 0,5-1 cm. Tinggi fase gerak dalam
bejana harus dibawah lempeng yang telah berisi totolan sa mpel.
Bejana kromatografi harus tertutup rapat dan sedapat mungkin volume fase
gerak sedikit mungkin, akan tetapi harus mampu mengelusi lempeng sampai
ketinggian lempeng yang telah ditentukan. Untuk melakukan penjenuhan fase
gerak, biasanya bejana dilapisi dengan kertas saring. Jika fase gerak telah
mencapai ujung dari kertas saring, maka dapat dikatakan bahwa fase gerak telah
jenuh (Gandjar & Rohman, 2007).
e. Deteksi Bercak
Deteksi bercak pada KLT dapat dilakukan secara kimia dan fisika. Cara kimia
yang biasa digunakan adalah dengan mereaksikan bercak dengan suatu pereaksi
melalui cara penyemprotan sehingga bercak menjadi jelas. Cara fisika yang
dapat digunakan untuk menampakkan bercak adalah dengan cara pencacahan
radioaktif dan fluorosensi sinar ultraviolet. Fluorosensi sinar ultraviolet terutama
untuk senyawa yang dapat berfluorosensi, membuat bercak akan terlihat jelas
(Gandjar & Rohman, 2007).

Keuntungan dari penggunaan metode kromatografi lapis tipis dalam analisis


obat adalah:
a. Peralatan ataupun bahan yang digunakan relatif lebih ekonomis.
b. Waktu yang diperlukan dalam pemisahan senyawa obat relatif lebih cepat
apabila dibandingkan dengan kromatografi kertas.
c. Jumlah cuplikan yang digunakan relatif sedikit (Sastrohamidjojo, 1985)

Menurut Sastrohamidjojo (1991) Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi gerakan


noda dalam kromatografi lapis tipis yang juga mempengaruhi harga Rf antara lain:
a. Struktur kimia dari senyawa yang sedang dipisahkan.
b. Sifat dari penyerap dan derajat aktivitasnya.
c. Tebal dan kerataan dari lapisan penyerap.
d. Pelarut (dan derajat kemurniannya) fase bergerak.
e. Derajat kejenuhan dari uap dalam bejana pengembangan yang digunakan.
f. Teknik percobaan.
g. Jumlah cuplikan yang digunakan.
Penetesan cuplikan didalam jumlah yang berlebihan memberikan tendensi
penyebaran noda-noda dengan kemungkinan terbentuknya ekor dan efek tak
keseimbangan lainnya hingga akan mengakibatkan kesalahan-kesalahan pada
penentuan harga Rf.
h. Suhu.
Proses pemisahan sebaiknya dilakukan pada suhu yang konstan untuk
mencegah terjadinya perubahan komposisi pelarut.
i. Kesetimbangan.

Keberhasilan dari pemisahan kromatografi tergantung juga pada proses


deteksi. Senyawa-senyawa yang berwarna tentu saja terlihat sebagai noda-noda
berwarna yang terpisah pada akhir pengembangan. Senyawa-senyawa yang tak
berwarna memerlukan deteksi secara kimia dan fisika. Cara yang digunakan
untuk mendeteksi noda yaitu dengan penyemprotan yang dilakukan perlahan-
lahan dari samping ke samping dan dari atas ke bawah. Pelarut yang digunakan
untuk penyemprotan harus tidak menguap. Dilain sisi, penguapan yang cepat
dari kertas diperlukan untuk mencegah difusi dari noda-noda yang terpisah.
Pelarut-pelarut yang digunakan adalah etanol, propanol, n-butanol, atau
kloroform. Campuran berair dapat digunakan, tetapi terlalu banyak air harus
dicegah, karena harus dilakukan dalam lemari asam dan selesai penyemprotan
alat harus dibersihkan untuk mencegah lubang penyemprotan menjadi buntu
(Sastrohamidjojo, 1991). Dalam mengidentifikasi bercak/noda dalam kertas
sangat lazim menggunakan harga Rf atau derajat retensi :

Rf = Jarak yang ditempuh senyawa terlarut

Jarak yang ditempuh pelarut


Angka Rf berjarak antara 0,00-1,00 dan hanya dapat ditentukan dua desimal.
Agar tidak harus bekerja dengan pecahan dipakai hRf, harga ini adalah Rf x 100.
Hanya merupakan bilangan utuh antara 1-99 (Stahl,1985).

III. Alat dan Bahan


a. Alat
1. Pipet
2. Tisu dan kain lap
3. Sudip
4. Label
5. Penjepit kayu
6. Alumunium foil
7. Pinset
8. Vial 10 ml
9. KLT
10. Plat Kaca
11. Tabung reaksi
12. Timbangan gram balance
13. Corong
14. Kapas

b. Bahan
1. Ekstrak Psidium guajava
2. Etanol
3. Aquadest
4. HCL pekat
5. Amonia
6. N-heksana
7. Kiesel gel GF 254
8. Aseton
9. Asam formiat
10. Pereaksi sitrat borat
11. Asam sulfat 10%

IV. Prosedur Kerja


a. Preparasi sampel

Sebanyak ekstrak 0,3 gram ditambah 3ml n-heksana kemudian dikocok


berkali-kali dalam tabung reaksi sampai tidak ada warna pada fase n-
heksana.

Hasil dari pencampuran diatas maka akan dihasilkan residu.

Hasil residu dilarutkan dalam 20 ml etanol dan dibagi menjadi 4 bagian

IIIA IIIB IIIC IIID

Sebagai Uji Uji Uji


blanko Warna Warna Warna

b. Reaksi Warna
1. Uji Bate-Smith dan Metcalf

Larutan B ditambah dengan larutan HCl pekat sebanyak 0,5 ml

Diamati perubahan warna yang terjadi

Setelah diamati perubahan warna dipanaskan di atas penangas air dan


kemudian diamati lagi perubahan warna yang terjadi.
Jika perlahan-lahan menunjukkan warna menjadi merah terang atau
ungu maka menunjukkan adanya senyawa leukoantosianin.

2. Uji Wilsater

Larutan IIIC ditambah dengan larutan HCl pekat sebanyak 0,5 ml dan
ditambahkan juga 4 potong magnesium.

Setalah dicampurkan maka diamati perubahan warna yang terjadi.

Setelah diamati perubahaan yang terjadi kemudian diencerkan dengan 2


ml air suling melewati dinding tabung reaksi, kemudian juga
ditambahkan larutan butanol 1 ml secara perlahan-lahanmelewati
dinding tabung reaksi secara perlahan.

Diamati lagi perubahan warna yang terjadi pada tabung reaksi di setiap
laporan. Perubahan warna menunjukkan adanya senyawa flavon, merah
pucat menunjukkan adanya senyawa flavonol, dan warna merah tua
menunjukkan adanya senyawa flavonon.

c. Kromatografi Lapis Tipis


Larutan IIID dan fase n-heksan ditotolkan pada fase diam

Pengujian kromatografi lapis tipis dengan menggunakan beberapa


komponen.

Fase Diam : Lapisan tipis selulosa (diganti Kiesel Gel 254)


Fase Gerak : Kloroform : aseton : asam formiat (6:6:1gtt)
Penampak noda : -Pereaksi sitrat borat/ uap amonia/ asam sulfat
10%
Jika adanya flavonoid maka ditunjukkan dengan munculnya noda
warna kuning intensif.

Noda kuning yang timbul dikarenakan oleh uap amonia yang hilang
secara perlahan ketika amonianya menguap dan meninggalkan noda
tersebut.
V. Skema Kerja
DAFTAR PUSTAKA
Plantmor.com
Parimin, 2005. Jambu Biji. Budi Daya dan Ragam Pemanfaatannya. Penebar Swadaya,
Jakarta.
Hapsoh, Hasanah, 2011. Budidaya tanaman obat dan rempah. Medan: USU Press.
BPOM, 2008, Informatorium Obat Nasional Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan
Republik Indonesia, Jakarta
Dalimartha, S. 2006. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Jilid 5. Pustaka Bunda. Jakarta. 160
hlm
Elimamet, A.M., Elmalik, K. H., dan Ali, F.S. 2009. Larvicidal, Adult Emergence Inhibition and
Oviposition Deterrent Effects of Foliage Extract from Ricinuscommunis L. against Anopheles
arabiensis and Culexquinquefasciatus in Sudan.Tropical Biomedicine. 26(2): 130–139.
Dinata, A. 2009.AtasiJentik DBD denganKulitJengkol. http://arda.studentsblog.undip.ac.id/.
Diaksestanggal10 September2013
Harborne, J. B., 1987, Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan,
Edisi kedua, Hal 5, 69-76, diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata dan Iwang Soedira, ITB
Press, Bandung.
Markham, K.R., 1988, Cara Mengidentifikasi Flavonoid, diterjemahkan oleh Kosasih
Padmawinata, 15, Penerbit ITB, Bandung.
Sastrohamidjojo, Hardjono, 2001, Spektroskopi, edisi II, Liberty Press, Yogyakarta
Stahl, E, 1985, Analisa Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi, Hal 3 dan 6, ITB Press,
Bandung. Trease,G.E and Evans, W.C, 1978, Fharmacognosy 19 th , Edition II, Baillera
Tindall, London
Sudjadi, 1988, Metode Pemisahan, Hal 167 – 174 dan 417 dan 418, Penerbit kanisius,
Fakultas Farmasi UGM, Yogyakarta.
Gandjar, I.G., dan Rohman, A. (2007). Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Hal. 419, 425.