Anda di halaman 1dari 6

Lampiran Surat No.

090/PBMR-VIII/2019, tanggal 7 Agustus 2019

TOP RISK SUMMARY KORPORAT PERIODE JULI 2019

Penjelasan:
Top Risk Summary (TRS) ini disusun sebagai hasil evaluasi dari Peta Risiko semua
Departemen baik yang Operasional maupun Departemen pendukung (Kantor pusat) serta
Anak Perusahaan. Dalam Dashboard Top Risk Summary ini Manajemen dapat melihat
Identifikasi Risiko kunci dari semua unit kerja yang berpotensi menggagalkan capaian
sasaran kinerja Korporasi periode tahun 2019, sehingga diharapkan risiko-risiko kunci
tersebut akan terpantau dan terkendali dengan baik melalui perencanaan penanganan
mitigasi secara komprehensif.
Hasil penetapan risiko kunci ini sangat bergantung kepada tingkat maturitas masing masing
risk owner, Hal ini dapat diyakini secara bertahap tingkat maturitas tersebut akan semakin
meningkat seiring dengan kesungguhan semua unit kerja dalam mengimplementasikan Risk
Management System.
Identifikasi risiko dalam TRS diambil dari Peta Risiko yang masuk dalam kategori Tinggi
dan Tinggi Sekali (sesuai Risk Appetite ADHI 2019). Kemudian dilakukan analisa terkait
dengan Velocity (seberapa cepat dampak risiko tersebut diprediksi akan muncul) serta
Unreadiness (tingkat ketidaksiapan risk owner dalam menangani risiko teridentifikasi).
Dalam Dashboard tersebut juga ditunjukkan estimasi sampai seberapa besar (magnitude)
dampak risiko apabila risiko tersebut benar benar terjadi, yang dilambangkan dari besarnya
ukuran lingkaran / bubble size. Sehingga, dari ketiga variabel tersebut dapat dengan mudah
kita tetapkan prioritasnya, dimulai dari Identifikasi risiko dengan level velocity terbesar,
kemudian Risiko yang memiliki tingkat Unreadiness tertinggi, terakhir baru magnitude
(estimasi besaran dampak risiko) yang akan terjadi.

1
Lampiran Surat No. 090/PBMR-VIII/2019, tanggal 7 Agustus 2019

Level velocity dibagi menjadi 5 tingkatan sebagai berikut :

Jangka Waktu > 12 bln 9 < x ≤ 12 bln 6 < x ≤ 9 bln 3 < X ≤ 6 bln ≤ 3 bln
Level Velocity 1 2 3 4 5

Level unreadiness terbagi menjadi 4 tingkatan sebagai berikut:

Level Unreadiness 1 2 3 4
Metode ˅ ˅ ˅ - ˅ - - -
Resources ˅ ˅ - ˅ - v - -
Budget ˅ - ˅ ˅ - - v -

Keterangan:
˅ = Ada
- = Tidak ada
- Metode
Ketersediaan tindakan responsif dan/atau antisipatif untuk mengurangi/menghilangkan
dampak risiko.
- Resources
Ketersediaan sumber daya manusia yang akan melaksanakan tindakan responsif
dan/atau antisipatif.
- Budget
Ketersediaan biaya untuk melaksanakan tindakan responsif dan/atau antisipatif.

TOP RISK SUMMARY ADHI


Periode bulan Juli 2019

1) & 2) Dept PBMR - Biro MR:

Peristiwa risiko ini adalah mengenai kemampuan Risk Officer untuk berkomunikasi dengan
risk owner dalam menghasilkan Risk register yang berkualitas. Platform Pemahaman
mengenai risiko Risk Owner, Risk Officer dan Risk Treatment Owner yang masih belum
merata (kapabilitas). Manual MR yang didesain konsultan masih sangat mentah dan harus
dilakukan penyesuaian dengan user serta jenis bisnisnya (tailor made). Selain itu, Biro MR
juga belum mendapatkan feedback yang memadai dari KPMR yang expert mengenai
penerapan Manajemen Risiko apakah sudah on the track sesuai ISO 31000:2018 atau
belum.

Belum banyak perusahaan sejenis (Konstruksi, Properti) yang menerapkan infrastruktur


manajemen risiko berbasis ISO 31000 2018 secara menyeluruh. Hal ini berpotensi adanya
effektifitas Manajemen Risiko masih rendah, sehingga Target peningkatan skor maturitas
tidak akan tercapai. Effektifitas penerapan Manajemen Risiko yang rendah secara tidak
langsung akan berdampak pada penurunan sasaran laba perusahaan sebesar Rp. 128,

2
Lampiran Surat No. 090/PBMR-VIII/2019, tanggal 7 Agustus 2019

811 M (21% (trend 5 tahun terakhir deviasi pencapaian laba bersih) tehadap sasaran tahun
2019).

Action plan yang dilakukan oleh Risk Owner dalam rangka memperkecil atau
menghilangkan dampak risiko tersebut adalah dengan:
• Melakukan kegiatan asesmen dan audit manajemen risiko ke seluruh unit kerja
(Departemen, Divisi, Proyek) diutamakan unit kerja yang mempunyai penyimpangan
pencapaian Rencana kerja yang besar
• Melakukan pilot project penerapan manajemen risiko di proyek-proyek dan
departemen operasional
• Menambah batch pembekalan dan sertifikasi risk officer khususnya para PEM
Proyek untuk meningkatkan kapabilitas para RO maupun PEM dalam membantu
Risk Owner untuk mengelola Risiko
• Mendesain KPI dan grading untuk para RO serta mengusulkan untuk diterbitkan SK
Direksi untuk pengangkatan para RO Departemen dan Divisi Operasi.
• Melakukan studi banding penerapan risk management ke Perusahaan non jasa
konstruksi yaitu ke PT. PGN dan PT. Petrokimia

Rekomendasi dari Biro MR adalah sebagai berikut:


• Mengusulkan Komisaris dan Direksi untuk melakukan studi banding penerapan
Manajemen Risiko pada perusahaan-perusahaan besar yang diselenggarakan oleh
CRMS.

3) INFRA 1: Tender Proyek Toll Trans Sumatera

Peristiwa risiko ini adalah mengenai tidak adanya informasi yang cukup tentang rencana
tender Proyek Tol Trans Sumatera. Hal ini berpotensi pada informasi pengadaan proyek
yang masih belum jelas, Hal ini akan berdampak kegagalan Departemen Infra 1 dalam
memperoleh Kontrak Proyek Toll Trans Sumatera yang nilainya berkisar Rp. 8 Triliun.

Action plan yang dilakukan oleh Risk Owner dalam rangka memperkecil atau
menghilangkan dampak risiko tersebut adalah dengan mencari informasi lebih detail lagi.

Rekomendasi dari Biro MR adalah sebagai berikut:


• Perlu dilakukan peninjauan kembali terkait proses bisnis Jasa Konstruksi terkait
tahapan Proses Bisnis Pemasaran scope nya digabung menjadi satu dari hulu
sampai ke hilir, agar Risk Owner mempunyai akuntabilitas terhadap seluruh tahapan
proses bisnis pemasaran.

4) INFRA 1: Toll Aceh-Sigli: Keterlambatan Penyusunan Desain Konsultan Perencana

Peristiwa risiko ini adalah mengenai keterlambatan Konsultan perencana dalam


menyelesaikan gambar basic design. Hal ini berpotensi pada mundurnya waktu
pelaksanaan penyelesaian design & mundurnya distribusi gambar Shop Drawing,
mundurnya waktu pelaksanaan pekerjaan fisik, denda akibat terlambatnya waktu
penyelesaian pekerjaan, adanya potensi Rework serta kegiatan Produksi di lapangan akan

3
Lampiran Surat No. 090/PBMR-VIII/2019, tanggal 7 Agustus 2019

terganggu, sehingga berpotensi mengalami keterlambatan, dan menurunnya Sales maupun


laba. Nilai dampak risiko yang diakibatkan adalah berkisar Rp. 229.181 (dalam juta)
terhadap laba.

Action plan yang dilakukan oleh Risk Owner dalam rangka memperkecil atau
menghilangkan dampak risiko tersebut adalah dengan Pembuatan target Schedule
penyelesaian & monitoring pembahasan design.

5) INFRA 1: Toll Aceh-Sigli: Terlambatnya Pengakuan Progress

Peristiwa risiko ini adalah mengenai proses Pengakuan Kontrak, Addendum, Tagihan,
Approval material serta Laporan Bulanan lama. Hal ini berpotensi pada keterlambatan
pengakuan bobot progres. Nilai dampak risiko yang diakibatkan adalah berkisar Rp. 106.951
(dalam juta) terhadap laba.

Action plan yang dilakukan oleh Risk Owner dalam rangka memperkecil atau
menghilangkan dampak risiko tersebut adalah dengan memahami kontrak yang dibuat,
melakukan analisa terhadap item-item yang berpotensi menimbulkan kerugian proyek,
mempercepat proses tagihan dengan kesiapan backup tagihan.

Rekomendasi dari Biro MR adalah sebagai berikut:


• Melakukan Implementasi Manajemen Risiko secara komprehensif dari semua level
organisasi Proyek.

6) INFRA 1: Toll Aceh-Sigli: Pekerjaan tidak sesuai spesifikasi

Peristiwa risiko ini adalah mengenai hasil kerataan permukaan dari penghamparan alat,
tidak masuk dalam Spesifikasi / tidak masuk tes IRI (Dalam Spesifikasi diwajibkan nilai
kertaan IRI maksimal 2), hasil Finishing dan perawatan tidak sesuai spesifikasi, kualitas
Peralatan Penghamparan Rigid Pavement tidak baik, serta metode Finishing dan perawatan
Rigid Pavement. Hal ini berpotensi pada tidak diakuinya progress pekerjaan, serta potensi
repair pekerjaan. Nilai dampak risiko yang diakibatkan adalah berkisar Rp. 229.181 (dalam
juta) terhadap kontrak.

Action plan yang dilakukan oleh Risk Owner dalam rangka memperkecil atau
menghilangkan dampak risiko tersebut adalah dengan penggunaan Peralatan yang mampu
mengakomodir pengujian tes kerataan (IRI maksimal 2), melakukan pemotongan beton
segera serta memperhatikan kedalaman pemotongan beton, pemakaian Bahan Sealent
Joint sesuai Spesifikasi teknis, dan melakukan evaluasi metode kerja, dan monitoring
pelaksanaan perawatan.

7) INFRA 1: Toll Aceh-Sigli: Lamanya pengakuan kontrak

Peristiwa risiko ini adalah mengenai proses Pengakuan Kontrak, Addendum, Tagihan,
Approval material serta Laporan Bulanan lama. Hal ini berpotensi pada turunnya sales dan

4
Lampiran Surat No. 090/PBMR-VIII/2019, tanggal 7 Agustus 2019

laba proyek, dengan nilai dampak risiko yang diakibatkan adalah berkisar Rp. 106.951
(dalam juta) terhadap laba.

Action plan yang dilakukan oleh Risk Owner dalam rangka memperkecil atau
menghilangkan dampak risiko tersebut adalah dengan memahami kontrak yang dibuat,
melakukan analisa terhadap item-item yang berpotensi menimbulkan kerugian proyek,
mempercepat proses tagihan dengan ,kesiapan backup tagihan

Rekomendasi dari Biro MR adalah sebagai berikut:


• Melakukan Implementasi Manajemen Risiko secara komprehensif dari semua level
organisasi Proyek.

8) INFRA 1: Toll Aceh-Sigli: Terlambatnya produksi terkait APB

Peristiwa risiko ini adalah mengenai ijin operasional BP, SC & Pembangunan Kantor beserta
keet APB mengalami keterlambatan. Hal ini berpotensi pada terlambatnya produksi
pekerjaan yang berkaitan dengan APB. Nilai dampak risiko yang diakibatkan adalah berkisar
Rp. 90.000 (dalam juta) terhadap laba.

Action plan yang dilakukan oleh Risk Owner dalam rangka memperkecil atau
menghilangkan dampak risiko tersebut adalah dengan melakukan pembelian beton dari
pihak luar, dan percepatan Produksi Balok girder.

9) INFRA 1: Biro Keuangan

Peristiwa risiko ini adalah mengenai permasalahan Aktiva Lain (BDD, Pajak, dll) yang
bermasalah, jangka waktunya sudah cukup lama. Hal ini berpotensi terjadinya koreksi pada
tahun buku 2019, dengan potensi dampak risiko adalah penurunan sasaran laba berkisar
Rp. 135 Milyar.

Action plan yang dilakukan oleh Risk Owner dalam rangka memperkecil atau
menghilangkan dampak risiko tersebut adalah dengan menyusun program penyelesaian
pembebanan biaya aktiva lain.

Rekomendasi dari Biro MR adalah sebagai berikut:


• Risk Owner melakukan evaluasi dan kajian terkait permasalahan-permasalahan
yang telah terjadi sehingga berpotensi dampak risiko munculnya BDD, losses Pajak
dll, dari hasil evaluasi tersebut dapat diambil pelajaran untuk perbaikan terhadap
SOP agar permasalahan tersebut tidak muncul lagi dikemudian hari.
• Mengusulkan kepada manajemen untuk menerapkan sistem Reward & Punish terkait
pelaku yang berkontribusi sehingga muncul permasalahan tersebut

5
Lampiran Surat No. 090/PBMR-VIII/2019, tanggal 7 Agustus 2019

10) Dept. PBMR – Biro PB: Piutang Bermasalah

Peristiwa risiko ini adalah mengenai adanya piutang macet sebesar Rp 3.161 miliar dengan
Rp 387 miliar adalah piutang biaya sehingga muncul potensi impairement atau penurunan
nilai sebesar Rp 430 miliar berdasarkan asumsi perhitungan discounted cash flow dengan
rate 10% dan piutang dapat dikonversi menjadi cash di tahun ke-2.

Action plan yang dilakukan oleh Risk Owner dalam rangka memperkecil atau
menghilangkan dampak risiko tersebut adalah mempercepat upaya penagihan dengan
bekerjasama dengan Kejagung dan Kejati serta corporate lawyer.

11) PT. ACP: The Premiere MTH

Peristiwa risiko ini adalah mengenai perubahan desain 3 lantai office menjadi hotel. Hal ini
berpotensi terjadinya penurunan laba kawasan yang dapat berimbas pada penurunan laba
perusahaan sebesar Rp. 165.229 (dalam juta).

Action plan yang dilakukan oleh Risk Owner dalam rangka memperkecil atau
menghilangkan dampak risiko tersebut adalah melakukan finalisasi desain, target
pencapaian marketing yang tertuang dalam finalisasi financial plan.

12) PT. ACP: Bogor Raya

Peristiwa risiko ini adalah mengenai adanya kajian ulang terhadap skema kerjasama yang
akan diajukan, karena skema kerjasama tersebut tidak disetujui. Skema kerjasama operasi
(KSO) dalam PKS yang sudah ditandatangani, tidak sesuai dengan PSAK 66 berdasarkan
kajian KAP (financial advisor) Hertanto, Grace dan Karunawan sehingga harus dievaluasi
kembali. Hal ini berpotensi pelaksanaan proyek harus tertunda. Nilai dampak risiko yang
diakibatkan adalah berkisar Rp. 1.652.938 (dalam juta) terhadap sales.

Action plan yang dilakukan oleh Risk Owner dalam rangka memperkecil atau
menghilangkan dampak risiko tersebut adalah melakukan kajian ulang dengan konsultan
Financial Advisory dan melakukan audiensi penyampaian hasil kajian konsultan mengenai
skema kerjasama pada Kementrian Keuangan.

Rekomendasi dari Biro MR adalah sebagai berikut:


1. Risk Officer terus memantau dan mengevaluasi sampai sejauh mana effektifitas
Action plan tersebut
2. Secara periodik (mingguan) melaporkan kepada Risk Owner, apabila hasil evaluasi
kurang effektif maka segera dibuat perencanaan Action Plan yang baru
3. Mulai mempersiapkan Proyek cadangan untuk pengganti Proyek Bogor Raya (bila
ternyata memang Proyek gagal)