Anda di halaman 1dari 65

Puslitbang Jalan dan Jembatan

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Perencanaan
TIMBUNAN RINGAN
Daftar Isi

Material ringan mortar-busa

Perancangan campuran

Perencanaan konstruksi
PERMASALAHAN PADA TANAH LUNAK :
• Instabilitas konstruksi timbunan dan penurunan >>
daya dukung rendah; kompresibilitas tinggi
• Masa konstruksi lama >> biaya konstruksi dan
pemeliharaan yang mahal
Spesifikasi
Pedoman
Apa material ringan
mortar-busa ?
Material Ringan Mortar-Busa
"foamed embankment mortar" atau 'high
grade soil' dengan keunggulan dan
AIR kegunaan :
• Beratnya ringan dan kekuatan cukup tinggi
AGREGAT (PASIR) untuk subgrade dan fondasi perkerasan jalan
• Berat isi dan kuat tekan tanah campuran dapat
direncanakan sesuai keinginan sehingga dapat
BUSA (FOAM AGENT) mengurangi tekanan lateral tanah pada suatu
struktur bangunan abutment fondasi jembatan
SEMEN atau mengurangi berat timbunan.
• Tahan terhadap perubahan karakteristik
propertis akibat proses kimiawi maupun fisik
dan memiliki daya dukung kekuatan selama
masa konstruksi pelaksanaannya serta memiliki
daya dukung kekuatan yang cukup memadai
sebagai pondasi perkerasan jalan.
PENYELIDIKAN TANAH DAN
MATERIAL
Pengumpulan Data dan Survei Pendahuluan

• Pengumpulan data
– Studi meja
– Rekonesan
• Pengumpulan peta geologi (1:100.000)
• Pengumpulan peta topografi (1:50.000)
• Penampang pemboran
• Laporan penyelidikan tanah
• Riwayat penggunaan lahan, peta tata guna lahan
(1:250.000)
• Foto udara dan foto satelit (1:50.000)
Penyelidikan Lapangan
Jenis contoh yang
Jenis penyelidikan Kelebihan Kekurangan Standar acuan
diambil
Pemboran mesin Contoh tanah Paling sederhana dan Tidak dapat SNI 2436:2008
dengan alat bor putar terganggu dan tak ekonomis untuk tanah digunakan untuk
(rotary borings) terganggu lunak pada kedalaman tanah lunak pada
yang dangkal kedalaman yang
dalam
Pemboran mesin Contoh tanah Paling Pada saat mencabut SNI 2436:2008
dengan alat bor auger terganggu dan tak direkomendasikan kembali auger dari
(auger borings) terganggu untuk tanah lunak dasar tanah dapat
karena pemboran menimbulkan isapan
bersih dan seragam pada lubang bor,
sehingga sehingga dapat
meminimalisir mengganggu lapisan
gangguan terhadap tanah yang akan
contoh tanah diambil contohnya.
Pengambilan contoh Contoh tanah tak Tanah yang telah Gesekan dengan SNI 03-4148-
tanah dengan tabung terganggu terganggu tidak dapat dinding dalam tabung 1.2000 (PD T 28-
masuk ke dalam contoh merupakan 2000)
piston baik setelah salah satu penyebab
maupun selama utama gangguan pada
proses pengambilan tanah lunak.
contoh tanah

Penyelidikan Lapangan untuk Tanah Dasar Lempung Lunak


(Pt-T-09-2002-B)
Penyelidikan Lapangan
Informasi dan parameter perencanaan yang Jenis tanah yang paling
Jenis pengujian Standar acuan
dihasilkan sesuai
Seismic dan Nilai resistiviti dan kedalaman tanah keras SNI 2528:2012 Tidak disebutkan
Resistivity dengan
alat geolistrik
Sondir atau Penetrasi Evaluasi stratigrafi bawah permukaan menerus SNI 2827:2008 Pasir, lanau, lempung
Konus (CPT) Korelasi untuk menentukan kepadatan lapangan,
sudut geser dalam pasir, kuat geser tak terdrainase
lempung, kerentanan terhadap likuifaksi
Penetrasi Standar Nilai N-SPT SNI 4153 : 2008
(SPT) Korelasi untuk menentukan konsistensi tanah
kohesif
Penetrasi Konus Evaluasi stratigrafi bawah permukaan menerus yang SNI 2827 : 2008 Pasir, lanau, lempung
dengan pengukuran lebih baik daripada CPT
tekanan pori (CPTu) Korelasi untuk menentukan kepadatan lapangan,
sudut geser dalam pasir, kuat geser tak terdrainase
lempung, kerentanan terhadap likuifaksi
Geser Baling Metode ini dibuat untuk memperoleh parameter SNI 03-2487-1991 Lempung, lanau (pasir dan
Lapangan kekuatan geser tanah lunak batuan tidak termasuk)
berkohesi yang jenuh air pada kondisi tanpa
drainase
Permeabilitas Nilai kelulusan air pada setiap SNI 2411:2008 Pasir, lanau, lempung
Lapangan perlapisan tanah atau batuan dan nilai Lugeon (Lu),
jenis aliran ke dalam
pori lapisan tanah atau batuan

Pengujian Lapangan untuk Tanah Dasar Lempung Lunak (Pt-T-09-2002-B)


Pengujian Laboratorium
Jenis tanah dan jenis pengujian Standar acuan
Tujuan Lempung
Parameter geoteknik Lempung
memperoleh terkonsolidasi normal
terkonsolidasi
berlebih
sifat fisik dan Klasifikasi tanah Uji batas-batas Uji batas-batas SNI 1966:2008
Atterberg Atterberg SNI 1967:2008
teknis material Analisis ukuran butir Analisis ukuran butir SNI 3423:2008
tanah dasar dengan hidrometer
Modulus oedometer Uji konsolidasi
dengan hidrometer
Uji konsolidasi SNI 2812:2011
-
(Eoed- ); indeks
kompresi (Cc)
Modulus Young (E) Uji triaksial CU, CD Uji triaksial CU, CD SNI 03-2455-
1991 Rev 2004
Kuat geser efektif Uji triaksial CD Uji triaksial CD SNI 03-2455-
(drained) (c’), ( ’) 1991 Rev 2004
Kuat geser Uji triaksial CU Uji triaksial CU SNI 03-2455-
undrained (cu) 1991 Rev 2004
Berat isi Uji indeks Uji indeks -
Koefisien konsolidasi Uji konsolidasi Uji konsolidasi SNI 2812:2011
(cv)
Permeabilitas (k) Uji konsolidasi Uji konsolidasi SNI 2812:2011

Pengujian di Laboratorium untuk Pekerjaan Timbunan di Atas Tanah Lunak


(Pt-T-09-2002-B)
Pengujian Material (1)
Parameter yang
Kategori pengujian Jenis pengujian Aplikasi Standar acuan
dihasilkan
Bahan pencampur
Pasir Kadar air Kadar air agregat Pengendalian SNI 1971:2011
Gradasi Gradasi agregat mutu pasir SNI 3423:2008
Kandungan dalam Kandungan dalam ASTM C 142
agregat agregat
Berat jenis dan Berat jenis SNI 1970:2008
penyerapan agregat halus
Agregat halus atau pasir Kandungan bahan SNI 03-4428-1997
yang mengandung bahan plastis dalam
plastis dengan cara setara agregat
pasir
Kotoran organik dalam Kadar kotoran SNI 03-2816-1992
pasir organik
Air Seluruh pengujian air Pengendalian SNI 7974 : 2013
Kandungan klorida mutu air
Kandungan sulfat Kadar klorida
Pengolahan khusus untuk Kadar sulfat
air Mutu air
Mutu air untuk adukan pH air
beton
Kadar keasaman dalam
air
Pengujian Material (2)

Parameter
Kategori Standar
Jenis pengujian yang Aplikasi
pengujian acuan
dihasilkan
Semen Portland Semen Portland - Pengendalian SNI 15-2049-
mutu semen 2004
Semen Portland - SNI 15-7064-
komposit 2004
Semen Portland - SNI 15-0302-
pozolan 2004
Busa Densitas busa Densitas () Pengendalian SNI 1973:2008
mutu busa
Campuran material Densitas basah Densitas () Pemeriksaaa SNI 1973:2008
ringan mortar-busa campuran n target dan
Flow Nilai flow kriteria ASTM C1611
campuran
Benda uji material Densitas kering Densitas () Pengendalian SNI 3402:2008
ringan mortar-busa mutu
PERANCANGAN
CAMPURAN
KRITERIA MATERIAL RINGAN MORTAR-BUSA

• Mempunyai berat yang ringan sehingga nilai densitas (density) dari material campuran atau
mortar tersebut mempunyai berat isi 5-12 kN/m³.
• Mempunyai nilai flow (flowability), yang diindikasikan untuk memudahkan pelaksanaan
dilapangan, nilai flow berkisar 180±20 mm.
•Mempunyai kemudahan pelaksanaan, dapat memadat sendiri karena berperilaku seperti
mortar beton dimana material campuran tersebut mengeras sesuai dengan waktu pemeraman
(curring) yang ditetapkan.
•Mempunyai kuat tekan yang cukup tinggi sesuai untuk jenis konstruksi penggunaannya,
misalnya kuat tekannya dalam umur 14 hari mencapai 1000 kN.
KRITERIA BAHAN

Semen Portland, semen komposit, atau semen


pozzolan (SNI 15-2049-2004, SNI 15-7064-2004, SNI 15-
0302-2004)
PASIR
• butiran-butiran yang keras dan awet (durable).
• bebas dari kotoran organik (SNI-2816-1992)

Ukuran
% Berat Lolos
Saringan
No. Saringan
(ASTM)
Inc / No mm Min Maks
4 No. 4 4,76 95 100
5 No. 8 2,36 80 100
6 No. 16 1,19 50 85
7 No. 30 0,595 25 60
8 No. 50 0,297 11 33
9 No. 100 0,149 4 15
10 No. 200 0,075 0 3
BUSA (FOAM AGENT)

Busa yang digunakan


mengandung protein
nabati atau sejenisnya yang
dapat menghasilkan
gelembung terpisah yang
stabil sehingga dapat
menghasilkan campuran
material ringan yang
memenuhi spesifikasi
teknis (Kemen. PU, 2014)
AIR

• Air untuk mencampur adonan material


ringan mortar-busa sesuai spesifikasi SNI
7974:2013
KRITERIA PERALATAN
Penakaran

a) Timbangan dengan kapasitas (20 – 50) kg


b) Alat penakar
c) Tangki air
Pencampuran dan pengecoran

1. Alat pembangkit busa (foam generator)


2. Tangki tekan udara (air compressor) dengan kapasitas tekanan (0,6 – 1) Mpa
3. Alat pengaduk (laboratory mixer) dengan kecepatan (30 – 60) rpm (mixer) dengan
blade yang berputar
4. Pompa mortar ringan (mortar pump)
5. Stopwatch
Pencampuran dan pengecoran

Pengujian densitas basah


a) Sendok mortar
b) Cawan/ember kapasitas (1,2 – 10)
liter
c) Pisau

Pengujian daya alir (flowbility)


a) Ring flow (diameter 80 mm, tinggi 80
mm)
b) Papan plastik/kaca (400x400) mm
c) Penggaris perata
Pengujian uji tekan bebas (UCS)
• Cetakan silinder dengan diameter 100 mm dan tinggi 200 mm

• Alat uji tekan bebas (UCS) harus sesuai SNI 3638 : 2012
PROSEDUR PENCAMPURAN MULAI

Penentuan Target Material ringan dengan mortar-busa


yang ditentukan (densitas & kekuatan/strength)

PERSIAPAN BAHAN
(foam agent/cairan busa,air,pasir,semen)

Foam agent
Air Pasir Air semen
(cairan busa)

YA
Tidak

Check gradasi &


kadar air)

YA
Campuran pembuat busa:
foam agent/cairan busa + air
dengan menggunakan foam generator dan compressor
Campuran air,pasir,semen (material):
Penentuan komposisi awal faktor air semen & komposisi
persentasi agregat (pasir) terhadap busa (foam)
Atur Tekanan air & udara

Tidak

Check target foam (busa)


(0.055-0.085 t/m3)

Ya

Foam (busa) Campuran material

Pencampuran
Busa (cairan busa+air) dengan material (air+semen+pasir)

Tidak
Cek flow
(180±20mm) dan
densitas basah

Tidak
Ya

Material ringan mortar busa & (hingga umur curing 14


hari) dibungkus dengan plastik

Check kekuatan
dan densitas kering

Ya

SELESAI
PERANCANGAN CAMPURAN
MATERIAL RINGAN MORTAR BUSA
Pencampuran Busa (Foam Agent) dan Air
3. Campurkan foam dan air di dalam
1. Takar busa (foam)
ember, lalu masukkan ke foam generator
dan air dengan
perbandingan
volume 1:25,
pengukuran
dilakukan dengan
menggunakan gelas
ukur
2. Hubungkan compressor dengan
foam generator 4. Pastikan campuran foam dan air sudah
tercampur

5. Timbang hasil campuran berupa busa dengan dimasukkan ke dalam bejana,dengan nilai
target standar (0,055 – 0,085) t/m3.
Bila busa tidak sesuai yang ditargetkan,periksa tekanan air dan udara pada unit foam
generator.
Pencampuran Material (Semen, Pasir, dan Air)

Campuran material terdiri dari semen, pasir dan


air.Semua material dicampur menggunakan
laboratory mixer, dengan variasi komposisi
material sesuai dengan rencana campuran. Hal ini
dimaksudkan agar bisa diperoleh spesifikasi
material ringan yang dikehendaki. Campuran
tersebut harus diperiksa terhadap gumpalan yang
terjadi

• Tentukan komposisi awal yang ditargetkan untuk material campuran agregat (pasir), air dan
semen. Perancangan awal campuran sebagai berikut :
• Untuk lapis base, rasio campuran agregat pasir dan semen sebesar 1:1, timbang agregat
(pasir), semen dan air. Air sebanyak 0,5 dari berat semen.
Untuk lapis subase, rasio campuran agregat pasir dan semen sebesar 1:1,2, timbang agregat
(pasir), semen dan air. Air sebanyak 0,5 dari berat semen.

Masukkan agregat dan semen ke dalam bejana mixer, lalu diaduk dengan mixer
Pencampuran Busa (Foam Agent dan Air) dan Material (Semen, Pasir, Air)

Masukan busa (foam) dan campuran mortar (pasir,air dan semen) kedalam bejana,
kemudian diaduk menggunakan laboratory mixer. Campuran tersebut harus
diperiksa terhadap gumpalan yang terjadi, aduk selama ± 2 menit, dan pastikan
campuran mortar-busa telah homogen
Pengujian
Pengujian Flow
Pengujian nilai flow material mortar-busa dilakukan dalam kondisi segar
1. Tuangkan hasil campuran yang telah terbentuk menjadi mortar-busa di atas
bidang yang rata ke dalam ringflow hingga batas atas

2. Angkat ringflow perlahan hingga mortar-busa mengalir dan menyebar untuk


mengetahui nilai flow (nilai flow harus 180±20 mm
3. Apabila nilai flow tidak memenuhi spesifikasi, dapat dikurangi atau
menambah jumlah busa (foam) atau mengurangi agregat yang digunakan
4. Pengujian densitas basah, dilakukan setelah pengujian flow dilakukan.
Pengujian densitas basah dilakukan dengan cara menimbang benda uji hasil
pengujian flow dan mengurangi nilai yang dihasilkan terhadap berat dari ring
flow.
Pengujian uji kuat tekan bebas (UCS)

1.Persiapkan terlebih dahulu cetakan (diameter 100 mm x tinggi 200 mm).


2. Masukkan campuran mortar-busa ke dalam cetakan silinder sesuai dengan
kebutuhan (dengan minimal benda uji 3 buah untuk setiap pengujian uji tekan
bebas
3. Beri label pada setiap cetakan silinder dan setiap pengujian.
4. Buka benda uji di dalam cetakan silinder setelah 1 hari, dan dilakukan proses
perawatan (curing). Pada proses perawatan benda uji dibungkus dengan
menggunakan plastik, hal ini dimaksudkan agar benda uji dapat terhindar dari
kontaminasi udara bebas sehingga proses hidrasi dapat berlangsung.
5. Oven benda uji selama ± 24 jam.
6. Timbang benda uji dan hitung densitas kering.
7. Lakukan pengujian tekan bebas pada waktu yang telah ditentukan, yaitu pada masa
14 hari
8. Apabila hasil uji tekan bebas pada masa curing tersebut telah memenuhi syarat,
maka campuran tersebut dapat dijadikan sebagai acuan.
9. Apabila kuat tekannya lebih rendah, dapat diatasi dengan menambah jumlah
semen.
Jika percobaan tidak memenuhi spesifikasi pada salah satu persyaratan maka
dilakukan penyesuaian dan percobaan kembali hingga memenuhi
spesifikasi.Campuran yang sesuai spesifikasi dijadikan acuan untuk pelaksanaan
pekerjaan konstruksi jalan dengan mortar- busa di lapangan.
Perhitungan Perancangan Campuran
Perhitungan perancangan komposisi campuran mortar busa pada skala laboratorium untuk
mencapai target kekuatan dan target densitas yang telah ditentukan. Hasil perhitungan
tersebut menghasilkan komposisi jumlah masing-masing bahan dan material untuk
dilakukan pembuatan benda uji silinder dengan ukurannya yang telah ditentukan
Tahapan pencampuran mortar busa per meter kubik perancangan skala laboratorium yang diperlukan yaitu :
1. Tentukan nilai berat jenis semen dari hasil pengujian laboratorium.
2. Tentukan nilai berat isi pasir kondisi SSD dari hasil pengujian laboratorium.
3. Tentukan nilai berat jenis air.
4. Tentukan nilai berat jenis foam diperoleh dari persyaratan pabrik pembuat foam agent.
5. Penentuan jumlah semen dengan cara coba-coba pada variasi antara 250 sampai dengan 300 kg.
a) Untuk kebutuhan semen per meter kubik adalah berat semen yang diperlukan dibagi berat jenis semen.
b) Untuk kebutuhan air per meter kubik adalah berat air yang diperlukan dibagi berat jenis air.
6. Penentuan jumlah air sebesar 50% dari jumlah semen.
a) Volume campuran (semen+air) adalah jumlah dari kebutuhan semen dan air dalam meter kubik.
b) Volume agregat+foam (busa) diperoleh dari satu meter kubik dikurangi volume campuran.
7. Penentuan jumlah pasir yang dibutuhkan sebesar persentasi agregat dikali volume agregat+foam dikali nilai
kondisi berat isi pasir (SSD) dikali 1000 untuk kebutuhan per meter kubik,
8. Penentuan jumlah foam yang dibutuhkan sebesar persentasi foam dikali volume agregat+foam dikali 1000 untuk
kebutuhan per meter kubik.
9. Penentuan nilai densitas basah rencana diperoleh dari jumlah total campuran yang terdiri dari semen, pasir,
persentase agregat pasir dan persentase foam.
10. Penentuan uji flow dengan batasan 180±20 mm
11. Penentuan densitas basah hasil pengujian campuran mortar busa sesuai dengan target yang ditentukan
12. Penentuan densitas kering diperoleh dari hasil pengujian campuran mortar busa yang berbentuk silinder dengan
ukuran yang telah ditentukan diuji tekan sehingga diperoleh nilai target kekuatannya.
PERENCANAAN KONSTRUKSI
Kriteria Perencanaan

• Material ringan mortar-busa


Kuat Tekan Minimum (Umur 14 Hari ) Material Ringan Lapis Fondasi atau Base (Kemen.
PU, 2011)
Densitas kering maksimum Kuat tekan minimum
(gr/cm3) kPa kg/cm2
0,8 2000 20

Kuat Tekan Minimum (Umur 14 Hari) Material Ringan Lapis Fondasi-Bawah atau Subbase
(Kemen. PU, 2011)

Densitas kering maksimum Kuat tekan minimum


(gr/cm3) kPa kg/cm2
0,6 800 8
Kriteria Penggunaan material ringan mortar-busa, merujuk
pada kriteria sebagai berikut:

1. Memiliki densitas kering material campuran, maksimum 0,8 gr/cm3, sesuai


dengan Spesifikasi Material Ringan dengan Mortar Busa untuk Konstruksi Jalan
(Kemen. PU, 2011).
2. Memiliki kuat tekan minimum 600 kPa (6 kg/cm2), sesuai dengan Spesifikasi
Material Ringan dengan Mortar Busa untuk Konstruksi Jalan (Kemen. PU, 2011).
3. Memiliki flow atau daya alir (flowability) sebesar 180 mm+ 20mm.
4. Material campuran mengeras sendiri karena berperilaku seperti mortar beton,
dimana material campuran tersebut dapat mengeras sesuai dengan waktu
pemeraman yang ditetapkan.
5. Menggunakan lapis pencegah retak refleksidi atas timbunan mortar-busa, agar
retakan yang terjadi di timbunan tidak akan merefleksi ke permukaan
perkerasan. Jika tidak digunakan lapisan tersebut, perlu diperhatikan resiko
timbulnya retak refleksi. CROW (2013) merekomendasikan perencanaan lapis
pencegah retak refleksi untuk timbunan dengan material ringan mortar-busa
setebal 300 mm dan berat isi materialnya, , sebesar 19  0,3 t/m3.
Material lapis pencegah retak refleksi yang
direkomendasikan

1. Stress Absorbed Membrane


Interlayer (SAMI),
penggunaannya dapat merujuk
pada Aschuri & Yamin (2011).
2. Lapisan pasir dengan berat isi
19  0,3 t/m3, direncanakan di
antara lapis penutup
permukaan (pekerasan aspal
atau beton) dan mortar-busa
(CROW, 2013).
Beban Lalu Lintas
Beban Lalu Lintas untuk Analisis Stabilitas (Pt-T-10-2002-B)
Kelas Jalan Beban Lalu Lintas (kPa)
I 15
II 12
III 12
IV 12 (direncanakan sama
dengan jalan kelas III

Sistem Klasifikasi Jalan di Indonesia (Pt-T-09-2002-B)

Klasifikasi berdasarkan fungsi jalan LHR Kelas


Primer Arteri Seluruh lalu lintas I
Kolektor  10.000 I
 10.000 II
Sekunder Arteri  20.000 I
 20.000 II
Kolektor  6.000 II
 6.000 III
Lokal  500 III
 500 IV
Stabilitas & Penurunan
Stabilitas, selama masa pelaksanaan

Kelas Jalan Faktor Keamanan


I 1,4
II 1,4
III 1,3
IV 1,3

Penurunan

Penurunan yang Kecepatan Penurunan


Kelas Jalan Disyaratkan selama Masa setelah Konstruksi
Konstruksi, s/stot (mm/tahun)
I > 90% < 20
II > 85% < 25
III > 80% < 30
IV > 75% < 30
Gaya Angkat Hidrostatik
(hydrostatic uplift)

• Opsi
– menambah berat timbunan;
– mengurangi tekanan air di bawah timbunan
dengan drainase;
– melakukan pengangkuran pada lapisan bawah
timbunan
Mulai

Rujuk perencanaan
jalan baru
Tidak
Jalan lama ?
Bagan Alir
Perencanaan
Ya

Penurunan jalan lama Ya


memenuhi kriteria ?

Tidak

Gali timbunan lama Konstruksi


Tidak
Penyelidikan tanah dan
material ringan mortar-busa

Perencanaan dimensi
Timbunan
Jalan Lama
timbunan material ringan
mortar-busa

Tinggi kritis
timbunan Tidak
< tinggi
rencana ?

Ya

Penentuan parameter
perencanaan

Perhitungan daya dukung


tanah dasar

Perhitungan stabilitas
timbunan

Tidak
Memenuhi kriteria?

Ya

Perhitungan penurunan
timbunan

Tidak
Memenuhi kriteria?

Ya

Perhitungan gaya angkat


hidrostatik

Ya

Tidak
Memenuhi kriteria?

Ya

Selesai
Mulai

Rujuk
perencanaan jalan
lama
Tidak
Jalan baru?
Bagan Alir
Ya

Penyelidikan tanah dan


material ringan mortar-busa
Perencanaan
Perencanaan dimensi
timbunan material ringan
mortar-busa
Konstruksi
Tinggi
kritis timbunan
< tinggi
Tidak

Timbunan
rencana ?
Ya

Penentuan parameter
perencanaan
Jalan Baru
Perhitungan daya dukung
tanah dasar

Perhitungan stabilitas
timbunan

Tidak
Memenuhi kriteria?

Ya

Perhitungan penurunan
timbunan

Tidak
Memenuhi kriteria?

Ya

Perhitungan gaya angkat


hidrostatik

Tidak
Memenuhi kriteria?

Ya

Selesai
Perencanaan Dimensi Timbunan
• Hitung kuat geser tak terdrainase (cu) rata-rata sampai
kedalaman lima meter atau setebal lapisan lempung lunak
bila kurang dari lima meter;
• Ambil berat isi () tertinggi material timbunan;
• Tinggi timbunan maksimum yang aman tanpa perbaikan
tanah dapat ditentukan dengan persamaan:
Hc adalah tinggi kritis timbunan (m);
cu adalah kuat geser tak terdrainase (kN/m2);
 adalah berat isi timbunan (kN/m3).

Apabila tinggi timbunan melampaui tinggi kritisnya?


Sebagian dari timbunan tersebut harus dibongkar.
Penentuan Parameter Perencanaan
Perencanaan Keterangan
Daya
Parameter Satuan Stabilitas Penurunan
dukung
timbunan timbunan
tanah dasar
Berat isi total (b) kN/m3   
Kuat geser tak terdrainase kN/m2  
(cu)
Kuat geser efektif (c’) 
Sudut geser efektif ( ) derajat  
Indeks kompresi primer -  
(Cc)
Indeks pengembangan (Cs) 
– untuk unloading
Indeks rekompresi (Cr) – - 
untuk reloading
Angka pori, e 
Untuk analisis
Koefisien permeabilitas (k) m/hari 
dengan metode
Modulus Young (E) kN/m2 
elemen hingga
Poisson’s ratio ( ) 
Modified swelling 
index()*
Modified compression 
index()*
Penentuan Daya Dukung (1)

• PRINSIP
– Mengetahui kemampuan tanah dasar di bawah timbunan
bermaterial ringan dalam menerima beban yang bekerja
– Apabila terjadi keruntuhan daya dukung, maka timbunan dapat
mengatasi penurunan vertikal yang dapat mempengaruhi struktur

qult = cNc + DfNq + 0,5BwN Q-izin = qult/FK

qult adalah daya dukung (kPa) Qizin adalah daya


c adalah kohesi (kPa)
N-c, N, Nq dukung izin
adalah faktor daya dukung qult dalah daya
Terzaghi dukung ultimit
3)
adalah berat isi tanah (kN/m
Bw adalah lebar dasar timbunan (m)
Dr adalah kedalaman tanah yang ditinjau (m)
Penentuan Daya Dukung (2)

Faktor Daya Dukung Terzaghi (Das, 1990)


Perhitungan Stabilitas

• Prinsip
– Menghitung besar faktor keamanan, FK minimum yang
didefinisikan sebagai perbandingan antara kuat geser yang
bekerja (s) dengan tegangan geser yang dibutuhkan untuk
menjaga kesetimbangan (t)

– Menggunakan parameter tegangan total, dengan analisis tegangan


total (total stress analysis) untuk menghitung FK jangka pendek
(selama masa konstruksi)
– Menggunakan parameter tegangan efektif, dengan analisis
tegangan efektif (effective stress analysis) untuk menghitung FK
jangka panjang (setelah masa konstruksi)
OPSI Perhitungan Stabilitas

1. Program komputer
– Kondisi geometri timbunan kompleks
– Kondisi pembebanan bervariasi
– Ketersediaan data memadai
2. Grafik kestabilan lereng timbunan (US Army, 2003 >> Taylor
Slope Stability Chart)
– Sederhana
– Kurang sesuai untuk geometri yang kompleks
– Relatif cepat
3. Perhitungan manual dengan spreadsheet
– Kurang sesuai untuk geometri timbunan yang kompleks
– Perhitungan lama
– Membutuhkan ketelitian tinggi
4. Perhitungan dengan grafik  diverifikasi dengan komputer
Taylor Slope Stability Chart
Pemodelan Stabilitas dengan
Metode Elemen Hingga
Perhitungan Penurunan

• Stot = Si + Sp + S-s
(a)

Stot adalah penurunan total;


Si- adalah penurunan
seketika atau elastik tanah
dasar;
Sp adalah penurunan akibat
konsolidasi primer (akhir
dari penurunan pimer (b)
tanah dasar);
Ss adalah penurunan akibat
konsolidasi sekunder
(konsolidasi
sekunder tanah dasar).
Gaya Angkat Hidrostatik
(hydrostatic uplift)
• PRINSIP gaya yang membuat tidak stabil dan gaya
vertikal yang bekerja adalah kurang dari atau sama
dengan gaya yang menstabilkan atau tahanan yang
bekerja.
• Gaya vertikal = berat struktur atau berat timbunan,
• Tahanan yang berkerja = gaya-gaya gesek dan/atau gaya
angkur
Gaya Angkat Hidrostatik
(hydrostatic uplift)
TW
WW W material ringan mortar-busa

h
 

stotal p
BW
u

vd Material ringan


MAT mortar-busa

Permukaan air

Udst;d
Gaya Angkat Hidrostatik (hydrostatic
uplift)

• Faktor keamanan
N adalah jumlah gaya normal = Wmortar-busa +
Ww ;
U adalah jumlah gaya angkat, U, pada dasar
timbunan;
Wmortar-busa adalah berat timbunan mortar-busa;
Ww adalah berat air yang menjadi komponen
vertikal di atas timbun

Penurunan jangka panjang memberikan pengaruh besar terhadap faktor


keamanan terhadap gaya angkat hidrostatik, karena itu perlu dimasukkan
ke dalam perhitungan gaya angkat, U.
Tekanan air P, diperoleh dari akumulasi tinggi vertikal air pada akhir
konstruksi ditambah besar penurunan total yang diperkirakan, h+Stot
serta hasil dari distribusi tekanan di sisi timbunan, dengan besaran
Gaya Angkat Hidrostatik (hydrostatic
uplift)

• Faktor keamanan
OREQ adalah gaya overburden
tambahan yang dibutuhkan di atas
timbunan mortar-busa untuk
mencapai target faktor keamanan
terhadap gaya angkat hidrostatik
seluruh timbunan;
W adalah berat isi air;
Stot adalah perkiraaan penurunan
total;
Jika FK tidak memenuhi, BW adalah lebar dasar timbunan.
opsinya:
• mengubah dimensi timbunan atau
• melakukan perencanaan
kebutuhan perkuatan tambahan
untuk timbunan
Terima kasih
http://pusjatan.pu.go.id
Contoh Perhitungan
q

0,3 m 2000 kPa; 0,8 gr/cm3

0,2 m 1,1 m
800 kPa; 0,6 gr/cm3

0,3 m 800 kPa; 0,6 gr/cm3

0,3 m 800 kPa; 0,6 gr/cm3

2m Lempung lunak

7m
Lempung lanau pasiran sangat lunak

5m
Lempung lanau pasiran teguh

3m Lempung pasiran

7m
Data Hasil Pengujian
Jenis

(m /tahun)
Ketebalan

(kN/m )
tanah

3
cu c 

(m)


Cv
dasar di Cc Cs eo
(kPa) (kPa) ()
bawah

2
timbunan
Lempung 2 0,16 0,06 0,7 13,91 19 10 12 17,5
lunak
Lempung 7 1,02 0,014 2,49 13,12 14,3 12 5 16,74
lanau
pasiran
sangat
lunak
Lempung 5 0,2 0,02 0,87 8,43 18,5 30 16 17,4
lanau
pasiran
teguh
Lempung 3 0,16 0,02 0,8 11,71 19 45 3 15,81
pasiran
Perhitungan Tinggi Kritis
Perhitung daya dukung tanah
dasar
• Parameter c, , dan  diperoleh dari hasil interpolasi pada
lapisan tanah yang ditinjau. Dari hasil interpolasi, diperoleh:
• c = 11,55 kPa;  = 16,91  17; dan  = 25,34 kN/m3 (sudah
mempertimbangkan kondisi muka air tanah)
• dengan menggunakan Gambar 21, diperoleh Nc = 12, 34 ; Nq =
4,77 ; N = 3,53
• sehingga:
• qult = cNc + DfNq + 0,5BwN (2)
• qult = 11,55 x 12,34 + (15,34-9,81) x 9 x 4,77 + 0,5 x 7 x 3,53
• qult = 813, 43 kPa
Perhitungn Stabilitas
Timbunan
• Tanah dasar berlapis
– MEH
• Beban lalu lintas untuk jalan kelas
I sebesar 15 kPa, ditambah berat
timbunan (yang dikonversikan
menjadi beban merata).
g_unsa

lambd

kappa
g_sat

c_ref
k_y
k_x

phi
a*

*
t

Jenis
material
Tipe

No.
tanah
[m/day]

[m/day]
[kN/m^

[kN/m^

[kN/m^

[°]
[-]

[-]
dasar
3]

3]

2]
timbunan
Dra
ine
Un

1 lama 18 19 6,56E-05 6,56E-05 0,046377 0,034783 12 17,5


lempung
lanau
UnDrained

pasiran
sangat
3 lunak 13,3 14,3 0,00061 0,00061 0,295652 0,008116 5 16,74
lempung
UnDraine

lanau
pasiran
d

2 teguh 17,5 18,5 3,93E-05 3,93E-05 0,057971 0,011594 16 17,4


lempung
Dra
ine
Un

4 pasiran 18 19 8,42E-07 8,42E-07 0,046377 0,011594 3 15,81


Hasil perhitungan

Dari hasil perhitungan stabilitas


timbunan dengan metode elemen
hingga, diperoleh faktor keamanan
jangka pendek (perhitungan
tegangan total) sebesar 2,88
sehingga memenuhi kriteria faktor
keamanan minimum yang
disyaratkan, yaitu 1,30 untuk jalan
kelas I (Pt-T-10-2002-B).
Perhitungan stabilitas terhadap
gaya angkat hidrostatis