Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dewasa ini, penggunaan teknologi dalam mendeteksi serta menunjang

diagnosis berbagai penyakit termasuk dalam bidang oftalmologi telah banyak

digunakan baik yang bersifat invasif maupun non invasif. Teknik seperti CT Scan

dan MRI telah diterapkan untuk pencitraan diagnostik dalam oftalmologi. Namun,

pendekatan ini belum banyak digunakan dalam aplikasi diagnostik rutin dalam

oftalmologi karena resolusi terbatas dan biaya dan kompleksitasnya. Salah satu

yang bisa digunakan karena bersifat non invasif dan lebih efektif adalah Optical

Coherence Tomography (OCT) yang merupakan teknologi pencitraan diagnostik

medis baru yang dapat melakukan resolusi mikron atau pencitraan tomografi

potong lintang dalam jaringan biologis. Berbeda dengan ultrasonografi, OCT

merupakan teknik pencitraan non-kontak serta memerlukan pasien dalam keadaan

kooperatif.1-3

Teknologi OCT dikembangkan di Departemen Teknik Listrik dan Ilmu

Komputer di Massachusetts Institute of Technology, Amerika Serikat. Di

laboratorium James G. Fujimoto, PhD, pencitraan retina pertama dilakukan pada

tahun 1989 oleh David Huang, MD, PhD, dan Joel S. Schuman, MD dan data

dilaporkan pada tahun 1991. Eric Swanson, pada tahun 1993, mendesain prototipe

klinis pertama OCT mata yang dibangun di laboratorium teknik dan dipasang di

New England Eye Center, Tufts - New England Medical Center, Fakultas

1
2

Kedokteran Universitas Tufts di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat.

Pencitraan okuler subyek manusia in vivo dimulai pada tahun 1994. Teknologi ini

akhirnya dijual pada tahun 1993 ke Humphrey Instruments, sebuah divisi Carl Zeiss

America ™, yang kemudian diakuisisi oleh Zeiss.4

OCT telah digunakan paling banyak untuk diagnosis penyakit dan gangguan

yang mempengaruhi retina. OCT juga telah berhasil digunakan dalam studi segmen

anterior mata karena fitur-fiturnya pada resolusi tinggi, non-kontak, dan interpretasi

anatomi yang mudah. OCT merupakan alat yang penting untuk analisis jaringan in

vivo non invasif untuk diagnosis dan pengelolaan penyakit glaukoma.Teknik ini

didasarkan pada tingkat penyerapan atau dispersi cahaya melintasi jaringan.

Cahaya, yang dibagi menjadi lengan deteksi dan lengan referensi, dipancarkan oleh

dioda superluminescent di panjang gelombang sekitar 840 nm.4-5

OCT memberikan hasil pencitraan yang sangat baik terutama untuk mendeteksi

gangguan yang terjadi di bagian retina dan glaukoma. Oleh karena itu, OCT sangat

membantu klinisi untuk mendeteksi dini, menegakkan diagnosis, mengikuti perjalanan

penyakit, dan memberikan penatalaksanaan yang tepat.4-5

1.2 Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui perkembangan

teknologi, prinsip kerja dan kegunaan OCT dalam aplikasi klinis khususnya pada

glaukoma.