Anda di halaman 1dari 53

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam pembelajaran IPA siswa masih sering dianggap sebagai objek

pembelajaran. Hal inilah yang menyebabkan siswa menjadi statis, tidak mau

mencoba dan hanya mendapatkan konsep dan penjelasan guru. Padahal dalam

pembelajaran IPA, siswa seharusnya menemukan sendiri konsep-konsep

pembelajaran sehingga konsep-konsep tersebut tertanam kuat dalam pikiran siswa

dan bertahan lama ( BNSP, 2006).

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang

alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan

pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja

tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat

menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri Sendiri dan alam

sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam

kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian

pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan

memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri

dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh

pemahaman yang mendalam tentang alam sekitar. ( Permendikbud , 2014 : 434 )

Hasil tes pra penelitian untuk mengetahui kemampuan dasar siswa dalam

pelajaran IPA yang dilaksanakan pada 6 kelas VIII di SMP N 1 Pangkah

memperoleh hasil bahwa kelas yang memiliki kemampuan terendah adalah kelas

1
VIII A. Pada pelaksanaan tes pra penelitian di kelas VIII A, hasil yang diperoleh

adalah dari 34 siswa 20 anak mendapat nilai kurang dari 75 dan hanya 14 siswa

yang mendapatkan nilai lebih dari 75. Dengan demikian, berdasarkan nilai yang

diperoleh siswa, pembelajaran IPA dikatakan kurang berhasil karena hanya 44%

siswa yang tuntas. Dalam BNSP (2006) ketuntasan belajar ideal untuk setiap

indikator adalah 0 – 100% dengan batas kriteria ideal minimum 75%.

Dari kenyataan itu dapat diduga penyebab mengapa prestasi belajar siswa

rendah pada Setiap ulangan IPA , antara lain: Siswa kurang memahami konsep

pengajaran IPA. Berdasarkan observasi diketahui bahwa faktor penyebab

kurangnya kompetensi siswa dalam pembelajaran IPA adalah metode

pembelajaran yang dilaksanakan masih berpusat pada guru, siswa tidak diarahkan

untuk berfikir kreatif dan menguasai konsep berdasarkan penemuan-penemuan di

lapangan. Pada Tema Rangka, Otot dan Pesawat Sederhana, siswa kurang mampu

mendiskripsikan macam – macam tulang pembentuk rangka tubuh, siswa kurang

mampu mendiskripsikan macam – macam Pesawat Sederhana, kurang mampu

mengaitkan hubungan antara rangka, otot dan Pesawat dalam system gerak

manusia. Berdasarkan realita di atas, salah satu model pembelajaran IPA yang

dapat digunakan untuk meningkatkan kompetensi siswa adalah model

pembelajaran penemuan terbimbing ( Guide Discovery Learning) yang akan

membuat pembelajaran lebih bermakna karena akan mengubah kondisi belajar

yang pasif menjadi aktif dan kreatif serta mengubah pembelajaran yang semula

teacher oriented ke student oriented

2
1.2 Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Hasil belajar siswa masih rendah.

2. Siswa kurang aktif dalam pembelajaran sehingga pengalaman nyata yang

diberikan guru berkaitan dengan materi ajar masih kurang.

3. Penjelasan guru yang bersifat verbalisme melalui metode ceramah

menyebabkan abstraknya konsep.

1.3 Pembatasan Masalah

Berkenaan dengan masih luasnya penafsiran masalah dalam penelitian tindakan

kelas ini, maka perlu pembatasan masalah sebagai berikut :

1. Hasil belajar IPA padaSub Tema Rangka, Otot dan Pesawat Sederhana

2. Penerapan Model Guide Discovery Learning

3. Hasil belajar dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa kelas VIII A

semester 1 SMP Negeri 1 Pangkah tahun pelajaran 2014 / 2015 dalam

Tema Rangka, Otot dan Pesawat Sederhana.

1.4 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

1. Apakah dengan menerapkan Model Guide Discovery Learning dapat

meningkatkan hasil belajar IPA, pada Tema Rangka, Otot dan Pesawat

Sederhana bagi siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Pangkah?

2. Bagaimana proses pembelajaran Model Guide Discovery Learning

berlangsung dalam penelitian ?

3
1.5 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar IPA pada Tema

Rangka, Otot dan Pesawat Sederhana bagi siswa kelas VIII A SMP

Negeri 1 Pangkah?

1.6 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

a. Siswa

Untuk meningkatkan kompetensi belajar siswa khususnya mata pelajaran IPA.

b. Guru

Menambah pengetahuan kepada guru agar dapat memilih model yang tepat sesuai

dengan karakteristik materi pelajaran yang disampaikan.

c. Sekolah

Untuk meningkatkan kompetensi belajar siswa dan memperbanyak koleksi

pustaka khususnya yang berkaitan dengan variasi model pembelajaran.

4
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Pustaka

Suatu penelitian yang akan dibuat, perlu memperhatikan penelitian lain

yang digunakan sebagai bahan kajian yang relevan. Adapun penelitian –

penelitian yang berkaitan dengan variable penelitian yang dilakukan dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut :

Agus Supriyadi ( 2012 ) dalam penelitian yang berjudul “ Peningkatan

Hasil Belajar Metode Discovery Pembelajaran IPA Kelas IV SDN 03 Sungai

Ambawang Kubu Raya ” menyimpulkan bahwa Berdasarkan hasil obsevasi

diketahui bahwa pada siklus 1 sebagian besar kegiatan telah dilaksanakan oleh

guru dalam kegiatan-kegiatan pembelajarannya yaitu sebesar 65 % setelah siklus

II seluruh pelaksanaan kegiatan pembelajaran telah dapat dilaksanakan oleh guru

pada pembelajaran bentuk daun dan fungsinya dengan metode discovery learning

dapat meningkat menjadi 100 %.

berdasarkan data penelitian yang berasal dari hasil obsevasi diketahui

bahwa sebagian besar hasil belajar siswa dalam pembelajaran bentuk daun dan

5
fungsinya dengan metode discovery learning pada siswa kelas IV pada

siklus I hanya mampu mencapai 65,55% dari aktivitas positif dan terjadi

peningkatan setelah siklus II menjadi sebesar 75,55%. 3) penerapan metode

discovery learning pada pembelajaran bentuk daun dan fungsinya pada siswa

kelas IV di Sekolah Dasar Negeri 03 Sungai Ambawang diketahui sudah sangat

efektif dan tepat hal ini ditunjukan dari rata-rata nilai evaluasi belajar siswa pada

siklus I adalah sebesar 78,72 dan terjadi peningkatan setelah adanya perbaikan

pembelajaran pada siklus II menjadi 97,76.

Iin Kartika sari ( 2014 ) dalam skripsinya yang berjudul “Pengaruh Metode

Discovery Learning terhadap Motivasi dan Hasil Belajar Matematika Siswa Pada

Pokok Bahasan Kubus dan Balok (Studi Eksperimen di Kelas VIII MTs Kiarapayung

Kabupaten Ciamis)” Berdasarkan hasil penelitian, untuk kriteria penerimaan hipotesis

untuk taraf signifikan 5% terdapat pengaruh langsung penggunaan metode discovery

learning terhadap motivasi belajar sebesar 50,4%. Pengaruh langsung motivasi

belajar siswa terhadap hasil belajar sebesar 17,3%. Pengaruh langsung penggunaan

metode discovery learning terhadap hasil belajar siswa sebesar 27,6%. Dan pengaruh

tidak langsung penggunaan metode discovery learning terhadap hasil belajar siswa

sebesar 29,6%. Serta terdapat pengaruh di luar hasil belajar siswa dinyatakan oleh

variable residu ε sebesar 24,2%. Dengan analisis PCA, kelima komponen terbesar

dapat menjelaskan metode discovery learning sebesar 89,84%, kelima komponen

terbesar dapat menjelaskan motivasi sebelum belajar sebesar 76,902%, kelima

komponen terbesar dapat menjelaskan motivasi setelah belajar sebesar 76,702% dan

kelima komponen terbesar dapat menjelaskan hasil belajar siswa sebesar 91,821%.

6
Hasil penelitian yang dilakukan Asmadi. ( 2012 ). Yang berjudul

”Pengaruh Pembelajaran Matematika Dengan Menggunakan Pendekatan Inquiry

Discovery Learning Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas X SMK PGRI Pagaralam

Tahun Ajaran 2012-2013”. Disimpulkan bahwa Metode pendekatan inquiry

discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas X

SMK PGRI Pagaralam. Hasil belajar siswa kelas X.4 yang menggunakan metode

pendekatan inquiry discovery learning sebagai kelas eksperimen mempunyai nilai

rata-rata x1 60,56 dan simpangan baku kelas eksperimen 93,62 2 1 S .

Sedangkan hasil belajar siswa kelas X.2 yang tanpa menggunakan metode

pendekatan inquiry discovery learning sebagai kelas kontrol mempunyai nilai

rata-rata kontrol x 2 53,46 dan simpangan baku kelas kontrol 193,08

B. Kajian Teori

1. Rangka, Otot dan Pesawat Sederhana

1. Fungsi Sistem Rangka Bagi Tubuh Manusia

Ada empat fungsi utama sistem rangka bagi tubuh kita.

1. Memberikan bentuk dan mendukung tubuh kita

2. Melindungi organ dalam, sebagai contohnya tulang rusuk melindungi

jantung dan paru-paru, tulang tengkorak melindungi otak.

3. Tempat menempelnya otot yang merupakan alat gerak aktif yang dapat

menggerakkan tulang.

4. Tempat pembentukan sel darah. Sel darah dibentuk di bagian sumsum

tulang, yaitu jaringan lunak yang yang terdapat di bagian tengah

tulang.

7
2. Struktur Tulang Manusia

Tulang manusia tersusun atas periosteum, sumsum tulang, tulang kompak,

tulang spons serta pembuluh darah.

3. Jenis Tulang Berdasarkan Bentuk dan Ukurannya

Berdasarkan bentuk dan ukurannya, tulang pada sistem rangka manusia

dibedakan menjadi empat, yaitu tulang panjang, tulang pipih, tulang

pendek dan tulang tak beraturan.

4. Jenis Tulang Penyusun Sistem Rangka Manusia

Sistem rangka manusia tersusun atas ±206 tulang dengan ukuran dan

bentuk yang berbeda-beda.

5. Pengertian Sendi

Sendi adalah tempat bertemunya dua tulang atau lebih. Dengan adanya

Sendi , hubungan antara tulang-tulang tubuh dapat digerakkan.

Macam-macam Persendian Pada Sistem Gerak Manusia:

Terdapat enam macam sendi yang ada pada tubuh manusia. Keenam

persendian tersebut antara lain sendi lesung/peluru, sendi engsel, sendi

putar, sendi tak dapat digerakkan, sendi pelana serta sendi geser.

6. Fungsi Otot pada Manusia

Otot adalah penggerak bagian-bagian tubuh, sehingga otot disebut alat

gerak aktif. Jaringan ini dapat berkontraksi menjadi lebih pendek. Proses

kontraksi ini mengakibatkan bagian-bagian tubuh manusia bergerak.

Pada kontraksi ini diperlukan energi.

8
Perbedaan Kondisi Otot pada saat Kontraksi serta Relaksasi

Pada saat melakukan kontraksi otot akan memadat dan memendek,

sehingga pada saat diukur diameter otot akan membesar. Sebaliknya,

pada saat otot dalam keadaanrelaksasi,. otot akan memanjang, sehingga

pada saat diukur diameter otot akan mengecil.

Perbedaan antara Otot Jantung, Rangka dan Polos

• Otot Rangka adalah otot yang paling banyak di dalam tubuh. Jika

diamati di bawah mikroskop, sel-sel otot rangka terlihat bergaris-garis

melintang, sehingga otot ini juga disebut dengan otot lurik.Otot rangka

melekat pada tulang dengan perantaraan tendon. Tendon adalah pita

tebal, berserabut, dan liat yang melekatkan otot pada tulang. Otot

rangka tergolong otot sadar. Otot rangka cenderung cepat berkontraksi dan

cepat lelah.

Otot polos terdapat pada dinding lambung usus halus, rahim, kantung

empedu, dan pembuluh darah. Otot polos berkontraksi dan berelaksasi

dengan lambat. Otot ini berbentuk gelendong serta memiliki sebuah inti

pada tiap selnya.

Otot jantung hanya ditemukan di jantung. Otot jantung juga tergolong

otot tidak sadar. Otot jantung mempunyai garis-garis seperti otot rangka.

Sebaliknya, otot jantung mirip otot polos karena tergolong otot tidak sadar.

Otot jantung berkontraksi sekitar 70 kali per menit sepanjang hari selama

hidupmu. kamu mengetahui bahwa otot jantung berkontraksi pada saat

jantung berdenyut. Otot ini merupakan contoh otot tak sadar.

9
7. Kelainan pada Sistem Gerak Manusia

Macam-macam kelainan yang terjadi pada Sistem Gerak Manusia sebagai

berikut.

a. Riketsia

Riketsia terjadi karena kekurangan vitamin D yang membantu

penyerapan kalsium dan fosfor sehingga proses pengerasan tulang

terganggu.

b. Osteoporosis

Osteoporosis disebabkan karena kekurangan kalsium.

c. Fraktura (Patah Tulang)

Salah satu penyebab terjadinya patah tulang adalah karena tulang

mengalami benturan yang keras, misalnya pada saat kecelakaan

atau jatuh dari tempat yang tinggi. Ada dua jenis fraktura, yaitu

fraktura tertutup dan fraktura terbuka. Fraktura tertutup terjadi

jika tulang patah tetapi bagian ujung yang patah tidah menembus

kulit. Fraktura terbuka terjadi jika ujung tulang yang patah keluar

menembus kulit.

d. Artritis

Artritis adalah penyakit sendi. Penderita penyakit ini mempunyai

tulang rawan sendi yang rusak.

e. Lordosis, Kifosis dan Skoliosis

Lordosis merupakan kelainan dengan melengkungnya tulangn

belakang yang berlebihan ke arah depan di bagian pinggang.

10
Kifosis merupakan kelainan dengan melengkungnya tulang belakang

yang berlebihan di bagian dada ke arah belakang.

Skoliosis adalah melengkungnya tulang belakang ke arah samping.

8. Pesawat Sederhana bagi Kehidupan

Pesawat sederhana adalah alat yang dapat digunakan untuk mempermudah

pekerjaan manusia.

Macam-macam Pesawat Sederhana dan Keuntungan Mekaniknya

a. Katrol

Ada tiga jenis katrol yaitu, katrol tetap tunggal, katrol bebas tunggal,

dan katrol gabungan atau majemuk.

• Keuntungan mekanik katrol tetap sama dengan 1. Jadi, katrol

tetap tunggal tidak menggandakan gaya kuasa.

• Keuntungan mekanik dari katrol bebas lebih besar daripada

1. Pada kenyataannya keuntungan mekanik dari katrol bebas

tunggalsama dengan 2.

• Keuntungan mekanik dari katrol majemuk sama dengan jumlah

tali yang menyokong berat beban.

b. Roda berporos

Roda berporos memiliki fungsi untuk mempercepat gaya.

c. Bidang miring

Keuntungan mekanik bidang miring dapat dihitung dengan membagi

jarak kuasa dengan jarak beban.

KM = = =l/h

11
d. Pengungkit

Keuntungan mekanik pengungkit dapat dihitung dengan membagi

panjang lengan kuasa dengan panjang lengan beban.

KM = Fb / Fk = lk / lb

Keterangan:

KM : keuntungan mekanis

Fb : gaya beban

Fk : gaya kuasa

lk : lengan kuasa

lb : lengan beban

Contoh Pesawat Sederhana yang ada di sekitar Peserta Didik

Ada banyak sekali contoh pesawat sederhana yang ada di sekitar siswa.

a. Gunting, termasuk pengungkit jenis pertama.

b. Pisau, termasuk bidang miring.

c. Tangga, termasuk bidang miring.

d. Katrol tunggal yang terpasang pada sumur, termasuk katrol tunggal.

e. Sekrup, termasuk bidang miring.

f. Steples, termasuk pengungkit jenis ketiga.

g. Gear sepeda, termasuk roda berporos.

h. Dongkrak mobil, termasuk pengungkit jenis ketiga. Dst.

12
9. Prinsip Kerja Pesawat Sederhana pada Otot dan Rangka Manusia

Pada saat manusia melakukan suatu aktivitas, maka otot, tulang dan

Pesawat Sederhana akan bekerja bersama-sama. Prinsip kerja ketiganya

seperti sebuah pengungkit, dimana tulang sebagai lengan, Pesawat

Sederhana sebagai titik tumpu dan kontraksi dan relaksasi otot

memberikan gaya untuk menggerakkan bagian tubuh.

( Kemendikud, Buku Guru , 2014 : 162-164)

2. Pendekatan Scientific (Pendekatan Ilmiah)

Kurikulum 2013 menerapkan pendekatan saintifik dalam pembelajaran

dan penilaian otentik yang menggunakan prinsip penilaian bagian dari

pembelajaran. Untuk memperkuat pendekatan ilmiah (scientific), perlu diterapkan

pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/ inquiry learning).

Untuk mendorong kemampuan peserta didik agar menghasilkan karya

kontekstual, baik individual maupun kelompok maka sangat disarankan

menggunakan pendekatan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis

pemecahan masalah (problem based learning) dan pembelajaran berbasis projek

(project based learning). ( Permendikbud, 2014 )

Kurikulum 2013 dikembangkan dengan penyempurnaan pola pikir

berkaitan dengan pola pembelajaran, yaitu: (1) berpusat pada peserta didik; (2)

pembelajaran interaktif (interaktif guru-peserta didik-masyarakat-lingkungan

alam, sumber/media lainnya); (3) pembelajaran dirancang secara jejaring (peserta

didik dapat menimba ilmu dari siapa saja dan dari mana saja yang dapat dihubungi

13
serta diperoleh melalui internet); (4) pembelajaran bersifat aktif-mencari (peserta

didik aktif mencari semakin diperkuat dengan model pembelajaran pendekatan

sains); (5) belajar kelompok (berbasis tim); (6) pembelajaran berbasis multimedia;

(7) pembelajaran berbasis kebutuhan pelanggan (users) dengan memperkuat

pengembangan potensi khusus yang dimiliki setiap peserta didik; (8) pola

pembelajaran menjadi pembelajaran ilmu pengetahuan jamak (multidisciplines);

dan (9) pembelajaran kritis. ( Permendikbud, 2014 : 429 )

Proses pembelajaran pada kurikulum 2013 untuk semua jenjang

pendidikan dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan scientific Proses

pembelajaran harus menyentuh tiga ranah, yaitu sikap (attitude), keterampilan

(skill), dan pengetahuan (knowledge) Dalam proses pembelajaran berbasis

pendekatan ilmiah, ranah sikap menggamit transformasii substansi atau materi

ajar agar peserta didik tahu tentang ‘’mengapa’’. Ranah keterampilan menggamit

transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang

‘’bagaimana’’. Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi

ajar agar peserta didik tahu tentang ‘apa’. Hasil akhirnya adalah peningkatan dan

keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills)

dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak

(hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensii sikap

keterampilan dan pengetahuan (Kemdikbud, 2013)

Menurut Iskandar (2008: 16) pendekatan ilmiah (scientific) merupakan

suatu proses penyelidikan secara sistematik yang terdiri dari bagian-bagian yang

saling bergantung. Pendekatan scientific dalam pembelajaran sebagaimana

14
dimaksud meliputi mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan membentuk

jejaring untuk semua mata pelajaran. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi

tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan

secara prosedural. Pada kondisi seperti ini, tentu saja proses pembelajaran harus

tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai

atau sifat-sifat nonilmiah (Kemendikbud, 2013)

3. Model Discovery Learning

Menurut Ahmadi (2005:76) Discovery ditinjau dari arti katanya,

”discover” berarti menemukan dan ”discovery” adalah penemuan. Seorang siswa

dikatakan melakukan ”discovery” bila siswa tersebut terlihat menggunakan proses

mentalnya dalam usaha menemukan konsep-konsep atau prinsip-prinsip.

Menurut pendapat Sund, yang dikutip Roestiyah N.K (2008:20)

dinyatakan bahwa metode discovery adalah proses mental dimana siswa mampu

mengasimilasikan sesuatu konsep atau prinsip. Proses mental tersebut misalnya :

mengamati, mencerna, mengerti, menggolong-golongkan, membuat dugaan,

menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya. Yang dimaksud

konsep misalnya : segitiga, panas, demokrasi, dan sebagainya. Sedangkan prinsip

misalnya : logam apabila dipanaskan akan mengembang.

Suryosubroto (2009: 178) menyatakan bahwa metode discovery diartikan

sebagai suatu prosedur mengajar yang mementingkan pengajaran, perseorangan,

manipulasi objek dan lain-lain percobaan, sebelum sampai pada generalisasi.

Sebelum siswa sadar akan pengertian, guru tidak menjelaskan dengan kata-kata.

Penggunaan metode discovery dalam proses belajar mengajar, memperkenankan

15
siswa-siswanya menemukan sendiri informasi yang secara tradisional biasa

diberitahukan atau diceramahkan saja.

Metode Discovery menurut Rohani (2004:39) adalah metode yang

berangkat dari suatu pandangan bahwa peserta didik sebagai subyek di samping

sebagai obyek pembelajaran. Mereka memiliki kemampuan dasar untuk

berkembang secara optimal sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki.

Dengan menggunakan discovery learning ialah suatu cara mengajar yang

melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat, dengan

diskusi, seminar,membaca sendiri dan mencoba sendiri.

Adapun ciri utama belajar menemukan ada tiga yaitu ;

1. mengeksplorasi dan memecahkan masalah

2. untuk menciptakan,menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan.

3. berpusat pada siswa;.

kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah

ada.

Sedangkan menurut Biknell-Holmes dan Hoffman (8,2008) menjelaskan 3

sifat utama dari metode discovery, yaitu:

1. Mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk membuat,mengintegrasikan,

2. Menggeneralisasi pengetahuan.

3. Siswa dibimbing untuk melakukan aktivitas berdasarkan ketertarikannya,dan

menentukan tahapan dan frekuensi kerjanya sendiri

16
Beberapa kelebihan metode belajar discovery yaitu: (1) pengetahuan

bertahan lama dan mudah diingat; (2) hasil belajar discovery mempunyai efek

transfer yang lebih baik dari pada hasil lainnya; (3) secara menyeluruh belajar

discovery meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan untuk berpikir bebas.

Secara khusus belajar penemuan melatih keterampilan-keterampilan kognitif

siswa untuk menemukan dan memecahkan masalah tanpa pertolongan orang lain.

Beberapa kebaikan metode penemuan menurut Suryosubroto (1997:200) sebagai

berikut:

1. Dianggap membantu siswa mengembangkan atau memperbanyak persediaan

dan penguasaan keterampilan dan proses kognitif siswa, andaikata siswa itu

dilibatkan terus dalam penemuan terpimpin. Kekuatan diri dari proses penemuan

datang dari usaha untuk menemukan; jadi seseorang belajar bagaimana belajar itu.

2. Pengetahuan yang diperoleh dari strategi ini sangat pribadi sifatnya dan

mungkin merupakan suatu pengetahuan yang sangat kukuh; dalam arti

pendalaman dari pengertian, retensi dan transfer.

3. Strategi penemuan membangkitkan gairah pada siswa, misalnya siswa

merasakan jerih payah penyelidikannya, menemukan keberhasilan dan kadang-

kadang kegagalan.

4. Metode ini memberi kesempatan pada siswa untuk bergerak maju sesuai

dengan kemampuannya sendiri.

5. Metode ini menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara belajarnya, sehingga

ia lebih merasa terlibat dan bermotivasi sendiri untuk belajar, paling sedikit pada

suatu proyek penemuan khusus.

17
6. Metode ini dapat membantu memperkuat pribadi siswa dengan bertambahnya

kepercayaan pada diri sendiri melalui proses-proses penemuan. Dapat

memungkinkan siswa sanggup mengatasi kondisi yang mengecewakan.

7. Strategi ini berpusat pada anak, misalnya memberi kesempatan pada mereka

dan guru berpartisipasi sebagai sesama dalam mengecek ide. Guru menjadi teman

belajar, terutama dalam situasi penemuan yang jawabannya belum diketahui

sebelumnya.

8. Membantu perkembangan siswa menuju skeptisisme yang sehat untuk

menemukan kebenaran akhir dan multak.

Langkah-Langkah Pelaksanaan Model Pembelajaran Discovery Learning

1. Langkah Persiapan

Langkah persiapan model pembelajaran penemuan (discovery learning) adalah

sebagai berikut:

 Menentukan tujuan pembelajaran

 Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat, gaya

belajar, dan sebagainya)

 Memilih materi pelajaran.

 Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari

contoh-contoh generalisasi)

 Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh,

ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa

18
 Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari

yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke

simbolik

 Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa

2. Pelaksanaan

a. Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan)

Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan

kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar

timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Disamping itu guru dapat memulai

kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan

aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.

Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar

yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan.

b. Problem statement (pernyataan/identifikasi masalah)

Setelah dilakukan stimulasi langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan

kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah

yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan

dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah)

19
c. Data collection (Pengumpulan Data).

Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa

untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk

membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244). Pada tahap ini

berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya

hipotesis, dengan demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan

(collection) berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati

objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan

sebagainya.

d. Data Processing (Pengolahan Data)

Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data

dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi,

dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua informai hasil bacaan, wawancara,

observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi,

bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat

kepercayaan tertentu

e. Verification (Pembuktian)

Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan

benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif,

dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004:244). Verification menurut

Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika

20
guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep,

teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam

kehidupannya.

f. Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)

Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah

kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian

atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah,

2004:244). Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang

mendasari generalisasi ( Muhammad Faiq : 2014 )

4. Guide Discovery Learning ( Pembelajaran Penemuan Terbimbing )

Penemuan yang dimaksud disini bukan penemuan murni tetapi penemuan

terbimbing, yang salah satu ciri utamanya adalah guru dapat membimbing siswa

dimana dia perlu. Dalam metode ini siswa dihadapkan pada situasi dimana dia bebas

menyelidiki dan menarik kesimpulan, guru menganjurkan siswa membuat terkaan,

intuisi dan mencoba-coba. Guru bertindak sebagai penunjuk jalan untuk membantu

siswa menemukan ide, konsep dan ketrampilan yang sudah mereka pelajari

sebelumnya. Penggunaan pertanyaan yang tepat akan sangat membantu siswa. Model

penemuan yang dikembangkan dalam pembelajaran

matematika kaitannya dengan pembelajaran aktif akan lebih tepat kalau kita sebut

dengan Model Penemuan Terbimbing (Guide Discovery). Model penemuan yang

dipandu oleh guru ini pertama dikenalkan oleh Plato dalam dialog antara Socrates dan

seorang anak, maka sering juga disebut metode Socratic (cooney davis:1975,136).

21
Metode ini melibatkan suatu dialog/interaksi antara siswa dan guru dimana

siswa mencari kesimpulan yang diinginkan melalui suatu urutan pertanyaan yang

diatur oleh guru. Salah satu buku yang pertama menggunakan teknik penemuan

terbimbing adalah tentang aritmetika oleh Warren Colburn yang pelajaran

pertamanya berjudul: Intellectual Arithmetic Upon The Inductive Method Of

Instruction, diterbitkan pada tahun 1821, yang isinya menekankan penggunaan suatu

urutan pertanyaan dalam mengembangkan konsep dan prinsip matematika.

Ia menirukan metode Socratic dimana Socrates dengan pertolongan pertanyaan yang

ia tanyakan dimungkinkan siswa untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Menurut Ruseffendi (1988) metode penemuan adalah metode mengajar yang

mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang

sebelumnya belum diketahuinya itu tidak melalui pemberitahuan, sebagian atau

seluruhnya ditemukan Pesawat Sederhanari.

C. Kerangka Berpikir

Keberhasilan proses pembelajaran tentunya tidak lepas dari guru sebagai

salah satu sumber belajar . Peran guru sebagai sumber belajar sangat penting

dimana guru harus lebih mengusai materi pelajaran / bahan ajar . Tidak hanya itu

guru harus lebih banyak bahan referensi, hal ini untuk menjaga agar guru

memiliki pemahaman yang jauh lebih baik tentang materi yang akan diajarkan.

Salah satu Model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar pada mata

pelajaran IPA adalah melalui Model Guide Discovery Learning . Alasan dipilih

Model Guide Discovery Learning karena Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang

mewajibkan kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan scientific. Untuk

22
itu, banyak factor yang menentukan keberhasilan belajar siswa dalam kegiatan

pembelajaran.

Secara sederhana, kerangka pikir dalam penelitian tindakan kelas ini adalah:

Guru : Siswa :
KONDISI
AWAL Proses pembelajaran Hasil belajar rendah
belum menggunakan
model Guide
Discovery Learning

SIKLUS I

Penerapan model Penerapan model


Guide Discovery
TINDAKAN Guide Discovery Learning tiap kelompok
terdiri 4 siswa
Learning

SIKLUS II

Penerapan model
pembealajaran Guide
Discovery Learning,
tiap kelompok terdiri 3
siswa
Diduga melalui model
Guide Discovery
Learning dapat
meningkatkan hasil
KONDISI AKHIR belajar IPA untuk Tema
Rangka, Otot dan
AKHIR Pesawat Sederhana
pada siswa kelas VIIi A
SMP N 1 Pangkah, tahun
pelajaran 2014/2015
semester 1.

Gambar 1. Kerangka berfikir

23
Dari bagan tesebut di atas dapat dijelaskan bahwa kondisi awal siswa kelas VIII

A SMP N 1 Pangkah pada tes pra penelitian tema Rangka, Otot dan Pesawat

Sederhana sebelum penerapan model pembelajaran Guide Discovery Learning

hasil belajar rendah. Kemudian dilakukan tindakan dengan penerapan model

Guide Discovery Learning, pada siklus I sudah meningkat tetapi belum maksimal

sehingga dilakukan Siklus II dengan mengurangi jumlah anak tiap kelompok

menjadi 3 anak, sedangkan pada siklus 1 tiap kelompok terdiri dari 4 anak.

D. Hipotesis Tindakan

Diduga melalui model pembealajaran Guide Discovery Learning dapat

meningkatkan hasil belajar IPA untuk Sub Tema Rangka, Otot dan Pesawat

Sederhana pada siswa kelas VIII A SMP N 1 Pangkah, Tahun Pelajaran

2014/2015 Semester 1.

24
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di kelas VIII A SMP N 1 Pangkah, Kecamatan

Pangkah, Kabupaten Tegal. Karena peneliti bertugas sebagai pengajar di

sekolah tersebut.

2. Waktu Peneltian

Penelitian dilakukan pada semester I Tahun Pelajaran 2014 / 2015 . Penelitian

dari perencanaan sampai tahap akhir pembuatan laporan direncanakan selama

6 bulan. Dari bulan Juli sampai bulan Desember 2014

Tabel 3. 1 Tabel perincian waktu penelitian

Bulan
No Kegiatan
Juli Agustus September Oktober Nopember Desember
1 Perencanaan   
2 Pelaksanaan 
3 Analisis data 
Penyusunan
4 
laporan
5 Seminar 

B. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Pangkah,

kecamatan Pangkah , Kabupaten Tegal Tahun Pelajaran 2014 / 2015 . Jumlah

siswa 34 siswa yang terdiri dari 14 putra dan 20 putri . Kelas VIII A dipilih

25
sebagai subjek penelitian karena peneliti mengajar di kelas tersebut .

C. Objek Penelitian

Objek tindakan dalam penelitian ini adalah model Guide Discovery

Learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada Sub Tema Rangka, Otot

dan Pesawat Sederhana .

D. Sumber Data, Instrumen dan Teknik Pengumpulan Data

1. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari : (1) Data kuantitatif bentuknya

tes diperoleh melalui nilai ulangan siswa, (2) Data kualitatif bentuknya non test

yang diperoleh melalui pengamatan aktivitas siswa, hasil observasi dan tanggapan

dari kolaborator, kuisioner siswa dan wawancara siswa.

2. Instrumen Penelitian

Instrumen dalam penelitian ini meliputi: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

(RPP), laporan kegiatan siswa siklus I, laporan kegiatan siswa siklus I, lembar

pengamatan/ observasi pada saat praktikum, lembar pengamatan/ observasi pada

saat diskusi, lembar observasi kolaborator, soal ulangan harian.

3. Teknik Pengumpulan Data

a. Tes, dilakukan setelah tiap-tiapn siklus.

b. Non-Tes, diperoleh dari hasil observasi

c. Kamera sebagai dokumentasi

26
E. Validasi Data dan Analisis Data

1. Validasi Data

Validasi data diperoleh untuk memperoleh data hasil penelitian yang akurat.

Dalam penelitian ini menggunakan dua sumber data yaitu data kuantitatif

bentuknya tes ulangan sharian siswa dan data kualitatif bentuknya non tes yang

diperoleh dari pengamatan. Validasi butir soal ulangan harian dalam penelitian ini

berupa penyusunan kisi-kisi butir soal sebelum instrumen atau butir soal tes

tersebut disusun. Dengan butir soal yang disusun mengacu pada kisi-kisi butir soal

diharapkan akan menjadi instrument yang valid

2. Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data kuantitatif dan data

kualitatif. Analisis data kuantitatif dengan membandingkan ulangan tiap siklus .

Analisis data kualitatif dengan membandingkan aspek ketrampilan dan aspek

social siswa tiap siklus.

F. Indikator Kinerja

Indikator kinerja dalam penelitian ini diharapkan pada akhir siklus II terjadi

peningkatan yaitu:

1. Sekurang-kurangnya 85% siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Pangkah mendapat

nilai ulangan harian Sub Tema Rangka, Otot dan Pesawat Sederhana sama atau

lebih dari KKM yaitu 75.

2. Sekurang-kurangnya 85% siswa kelas VIII A SMP Negeri 1 Pangkah aktivitas

belajar baik.

27
G. Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan

Kelas yang terdiri dari 2 siklus. Siklus I

1. Perencanaan (Planning)

a. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

b. Menyiapkan lembar observasi

c. Membual LKS

d. Menyusun soal ulangan harian

2. Pelaksanaan (Acting)

a. Membuat kelompok belajar yang terdiri dari 4 siswa setiap kelompok.

b. Melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan model Guide Discovery Learning

3. Pengamatan (Observing)

Guru dan kolaborator melakukan observasi dan penilaian dalam pelaksanaan

eksperimen

4. Refleksi (Reflecting)

Menganalisis data kuantitatif dan kualitatif yang digunakan untuk menentukan

tindak lanjut siklus berikutnya. Langkah-langkah siklus II prinsipnya sama

dengan siklus I.

28
Langkah – langkah Siklus II

1. Perencanaan (Planning)

a. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

b. Menyiapkan lembar observasi

c. Membual LKS

d. Menyusun soal ulangan harian

2. Pelaksanaan (Acting)

a. Membuat kelompok belajar yang terdiri dari 3 siswa setiap kelompok.

b. Melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan model Guide Discovery Learning

3. Pengamatan (Observing)

Guru dan kolaborator melakukan observasi dan penilaian dalam pelaksanaan

eksperimen

4. Refleksi (Reflecting)

29
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Kondisi awal

Sebelum pelaksanaan penelitian dengan Model Guide Discovery

Learning (Penemuan Terbimbing ) diketahui ketuntasan hasil belajar IPA Tema

Rangka, Otot dan Pesawat Sederhana semester 1 kelas VIII A SMP N 1 Pangkah

Kabupaten Tegal sangat rendah. Adapun hasil belajar pada pengamatan awal

dapat dilihat pada table 1. berikut ini:

Tabel. 1. Hasil Evaluasi Kondisi Awal

Mata Pelajaran IPA Tema Rangka, Otot dan Pesawat Sederhana

No Indikator Hasil
1 Nilai Terendah 30
2 Nilai Tertinggi 83
3 Jumlah Nilai 2327
4 Nilai Rata - Rata 68.4
5 Banyaknya siswa dengan nilai > 75 14
6 Prosentase siswa dengan nilai > 75 44 %
7 Banyaknya siswa dengan nilai < 75 20
8 Prosentase siswa dengan nilai < 75 56 %

Pada tabel 1 menunjukkan ada 14 siswa yang mendapat nilai di atas 75, dan

ada 20 siswa yang mendapat nilai di bawah 75. Kondisi tersebut

menjadikan indikator pada penelitian ini bahwa kemampuan belajar

IPA Tema Rangka, Otot dan Pesawat Sederhana siswa kelas VIII A SMP N 1

Pangkah Kabupaten Tegal adalah rendah. Rendahnya kemampuan siswa

tersebut di atas disebabkan karena siswa mengalami kesulitan dalam

mempelajari IPA Tema Rangka, Otot dan Pesawat Sederhana. Berdasarkan hasil

30
observasi pada waktu guru mengajar, menunjukkan bahwa pembelajaran yang

terjadi cenderung bersifat monoton, kurang komunikatif, cenderung bersifat

ceramah, serta siswa kurang terlibat aktif.

Berdasarkan kajian awal tersebut, maka perlu suatu

pendekatan pembelajaran yang mampu meningkatkan kelancaran komunikasi

antara guru maupun siswa, situasi kelas yang kondusif, siswa terlibat aktif dalam

belajar, serta siswa meningkat motivasinya untuk belajar. Pembelajaran yang

dimaksud adalah pembelajaran dengan penggunaan model Guide Discovery

Learning ( Penemuan Terbimbing ) yang dilaksanakan dalam dua siklus

B. Deskripsi Siklus I

Dengan penggunaan Mode Guidel Discovery Learning terbukti

dapat meningkatkan keterampilan guru dalam mengajar, keaktifan siswa

dalam pembelajaran, sehingga hasil belajar IPA dapat di tingkatkan. Penelitian

dilakukan sebanyak dua siklus, karena pada siklus kedua data yang

diperoleh sudah memperoleh hasil belajar sesuai yang di inginkan.

Berikut ini adalah uraian pelaksanaan penelitian yang telah dilakukan.

1. Perencanaan Tindakan

Sebelum melaksanakan tindakan siklus I perlu adanya perencanaan

terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan supaya pelaksanaan dapat berjalan

dengan lancar sesuai dengan yang diharapkan. Perencanaan dalam tindakan

siklus I adalah sebagai berikut: 1) Identifikasi masalah dan penetapan

alternatif pemecahan masalah,2) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

(RPP) Tema Rangka, Otot dan Pesawat Sederhana, 3) Menyiapkan instrumen

31
penelitian untuk keterampilan guru dan aktivitas siswa, 4) Menyiapkan

format evaluasi pre tes dan post tes, 5) Mempersiapkan sumber belajar

yang dibutuhkan, 6) Mengembangkan skenario pembelajaran Model Guide

Discovery Learning, 7) Merancang dan menyiapkan lembar kerja siswa.

2. Pelaksanaan Tindakan

Siklus I dilaksanakan tiga kali pertemuan yaitu pada hari Senin tanggal

6 Oktober 2014 , Sabtu 11 Oktober 2014 dan Evaluasi tanggal 13 Oktober 2014

dengan alokasi waktu satu kali pertemuan 2 jam pelajaran ( 2 x 40 menit).

Pembelajaran IPA kelas VIII semester I Tema Rangka, Otot dan Pesawat

Sederhana sub tema Rangka . Adapun langkah-langkahnya adalah: 1) Guru

membagi siswa dalam beberapa kelompok, tiap kelompok terdiri dari 4 siswa, 2)

Guru menyajikan Tema Rangka, Otot dan Pesawat Sederhana sub tema Rangka

3) Guru memberi lembar kerja kelompok yang akan dipelajari siswa yaitu

mendiskripsi tulang – tulang yang menyusun rangka tubuh manusia, 4)

dipelajari siswa dalam kelompok-kelompok diskusi , 5) Guru memberikan

pertanyaan atau kuis dan siswa menjawab pertanyaan kuis dengan tidak

saling membantu, 6) Guru mengamati tiap-tiap kelompok yang bekerja, 7)

Siswa mengerjakan lembar kerja siswa secara kelompok., 8) Salah satu ssiwa

masing – masing kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompok . 9) Siswa

dan guru membahas hasil kerja kelompok.

32
3. Hasil Observasi

a. Keterampilan Guru

Data hasil observasi keterampilan guru digunakan untuk

mengetahui keterampilan guru selama proses belajar mengajar Data

yang diperoleh dari lembar observasi keterampilan guru. Berdasarkan hasil

observasi, dan dilakukan analisis siklus ke I diperoleh data seperti pada tabel 2.

dibawah ini :

Tabel. 2. Hasil Observasi Keterampilan Guru Pada Siklus I

Skor
No Indikator Pengamatan Kategori
Penilaian
1 Kegiatan Pra Pembelajaran:
Menginformasikan Tujuan Pembelajaran dengan 2 Cukup
menggunakan Mode Guidel Discovery Learning 2 cukup
Menjelaskan materi dan kerja kelompok yang akan
dilakukan

2 Kegiatan Awal
Pengorganisasian siswa dalam kelompok 3 Baik
Memberi bimbingan kelompok bekerja dan belajar 3 baik

3 Kegiatan Inti
Memberi rangsangan berfikir pada kelompok 2 cukup
Memberi motivasi pada kelompok yang berpendapat 3 baik
4 Kegiatan Penutup
Memberikan penilaian baik individu maupun 3 Baik
kelompok
Memberikan Penghargaan kelompok 2 cukup
Jumlah 20
Rata – Rata 2,5
Kategori Baik

Dalam Model Guide Discovery Learning ini, peneliti melakukannya

perbaikan, peneliti menggunakan langkah-langkah pembelajaran yang sesuai

dengan model pembelajaran yang di gunakan. Permasalahan yang

33
berupa LK untuk didiskusikan secara kelompok, memberikan kuis individual,

mencatat skor kemajuan siswa serta pemberian penghargaan kepada tim. Peneliti

membagi siswa dalam kelompok menjadi 4 siswa. Dalam kegiatan pengamatan

siswa cenderung ramai, karena jumlah anggota tiap kelompok yang banyak,

sedangkan dalam satu kelas hanya tersedia dua Model Rangka tubuh manusia .

Guru mengkondisikan siswa dan memberikan penguatan pada pembelajaran

berlangsung.

Dalam kegiatan akhir peneliti membimbing siswa untuk presentasi

hasil dan menyimpulkan menyimpulkan materi pembelajaran yang telah

diajarkan serta memberikan refleksi pembelajaran yang telah dilaksanakan

sesuai dengan metode pembelajaran. Dari 8 aspek keterampilan guru

diatas dapat dilihat bahwa dalam siklus ini, guru kolaborator mengamati

keterampilan guru dan memberikan nilai aktivitas guru dengan nilai 2,5 (Baik)

yang berarti aktivitas guru dalam pembelajaran IPA dengan Model

Guidel Discovery Learning pada siklus I ini berkategori Baik.

b. Observasi aktivitas siswa

Berdasarkan observasai pada siklus I, diperoleh gambaran tentang

aktivitas siswa dalam belajar menggunakan lembar obeservasi untuk aspek

ketrampilan dan aspek sikap. Pembelajaran akan dimulai, sebagian siswa

belum siap untuk mengikuti pelajaran. Mereka masih sibuk bergurau dengan

teman sekelompoknya. Guru mencoba untuk mengkondisikan siswa. Respon

siswa terhadap pembelajaran dan metode pembelajaran sudah cukup baik.

Walaupun ada kelompok yang kurang memperhatikan. Pada saat belajar tim,

34
situasi dan suasana kelas, siswa sangat bersemangat dalam menjalaninya

walaupun keadaan kelas ramai ketika di lakukan pembagian tim. Guru

mencoba untuk mengkondisikan dengan baik. Kerjasama antar anggota

kelompok dikategorikan baik., tetapi masih ada siswa yang hanya

mendengarkan teman satu timnya menjelaskan tanpa bisa menangkap apa

yang telah dijelaskan anggota timnya tadi, hal ini disebabkan karena

komunikasi yang kurang lancar antar anggota satu tim. Kerjasama siswa dalam

menyatukan pendapat masih kurang karena mereka belum dapat bekerjasama

antar anggota tim. Masih ada saja siswa yang bekerja secara individu dan

bersikap masa bodoh dengan teman satu timnya. Ada juga yang merasa malu

untuk bekerja tim dengan temannya. Peneliti mencoba untuk menegur siswa

tersebut agar mau bekerja tim dengan temannya.

Dari pembelajaran ini, motivasi siswa mulai muncul terlihat

dari keingintahuan dalam menguasai materi, kemauan untuk belajar, keaktifan

siswa dalam pembelajaran baik individu maupun dalam tim sudah aktif

walaupun ada beberapa siswa yang pasif dan malu. Kelancaran komunikasi

dengan guru maupun siswa sudah mulai nampak walaupun ada beberapa siswa

yang belum lancar untuk berkomunikasi dengan teman satu tim maupun dengan

guru.

c. Observasi Hasil Belajar Siswa

Dari pelaksanaan tindakan siklus I pada pembelajaran melalui

Model Guide Discovery Learning pada bagian akhir dalam siklus ini, siswa

diberikan tes formatif yang berupa soal-soal yang harus dijawab secara individu

35
dan hasilnya dikoreksi untuk mengetahui perubahan hasil belajar pada siswa

setelah diadakannya siklus I.

Berdasarkan rekapitulasi hasil penelitian siklus I di atas menunjukkan

bahwa setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan model

Guide Discovery Learning terdapat adanya peningkatan yaitu rata-rata kelas

sebesar 76,3 Kategori ( Baik ) dapat terlihat pada tabel 3 berikut :

Tabel 3 . Hasil Evaluasi Siklus I

No Indikator Hasil
1 Nilai Terendah 50
2 Nilai Tertinggi 90
3 Jumlah Nilai 2440
4 Nilai Rata - Rata 76,3
5 Banyaknya siswa dengan nilai > 75 26
6 Prosentase siswa dengan nilai > 75 76,4 %
7 Banyaknya siswa dengan nilai < 75 8
8 Prosentase siswa dengan nilai < 75 23,52%

Dari pelaksanaan siklus I menunjukkan bahwa adanya peningkatan

hasil belajar siswa di banding kegiatan awal, namun belum maksimal dikarenakan

masih adanya siswa yang belum tuntas sebanyak 9 siswa. Dari hasil

pembelajaran IPA melalui model Guide Discovery Learning dalam siklus I

ini belum mencapai yang diharapkan yaitu belum mencapai indikator

keberhasilan sehingga perlu dilaksanakannya siklus selanjutnya yaitu siklus II.

4. Refleksi

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa pembelajaran pada

siklus I dinilai belum berhasil. Jalannya pelaksanaan siklus I ini mulai dari

perencanaan sampai pemberian tindakan dan evaluasi akhir belum sempurna

tetapi lebih baik dari pembelajaran kondisi awal.

36
Keterampilan guru maupun aktivitas siswa sedikit demi sedikit

mengalami peningkatan. Hal ini terbukti dari hasil observasi terhadap kegiatan

siswa oleh guru dan kegiatan guru oleh observer yang menunjukkan

kecenderungan meningkat.

Keberanian siswa untuk bertanya dan mengungkapkan pendapat

ataupun mengungkapkan hasil kerja kelompok ada peningkatan. Hal ini

dapat dilihat dari siswa yang biasanya diam atau pasif, sekarang berani bertanya.

Semangat atau antusias, perhatian, dan partisipasi aktif siswa

dalam pembelajaran terlihat berpengaruh pada meningkatnya aktifitas dan

kreativitas siswa dalam pembelajaran siklus I walaupun belum sempurna.

Untuk itu peneliti melakukan perbaikan pada siklus berikutnya.

C . Deskripsi Hasil Siklus II

1. Perencanaan Tindakan

Tindakan II ini merupakan perbaikan dari tindakan I.

perbaikan ini didasarkan pada hasil analisis dan refleksi yang terjadi pada

tindakan sebelumnya dan bertujuan untuk menyempurnakan agar tujuan

pembelajaran yang dirumuskan dapat tercapai secara optimal. Perencanaan ini

dilaksanakan dengan melihat kembali persiapan mengajar, pembentukan

kelompok dalam pembelajaran dan merencanakan kegiatan pembelajaran

Pada siklus II ini guru (Peneliti) merencanakan kegiatan pembelajaran yang

akan dilaksanakan, dengan menyusun:

1 Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Tema Rangka, Otot

dan Pesawat Sederhana.

37
2 Menyiapkan media pembelajaran yang akan di gunakan dalam

proses pembelajaran yaitu Lembar Kegiatan Siswa.

3 Membuat dan menyiapkan lembar observasi siswa dan guru.

4 Menyiapkan soal evaluasi untuk mengetahui sejauh mana kemampuan

siswa dalam memahami materi.

5 Membuat daftar kelompok (tim) belajar dengan menggunakan peringkat

siswa, kelompok dibentuk secara heterogen.

6 Membuat lembar rangkuman tim dan lembar skor kemajuan individual siswa.

2. Pelaksanaan Tindakan

Kegiatan pelaksanaan siklus II dilaksanakan tiga kali pertemuan yaitu

pada hari Rabu tanggal 15 Oktober 2014, Sabtu tanggal 18 Oktober 2014 dan

Senin tanggal 20 Oktober 2014, dengan alokasi waktu 2 jam pelajaran (2 x 40

menit). Pembelajaran IPA Tema Rangka, Otot dan Pesawat Sederhana sub tema

Sendi, . Dalam tahap pelaksanaan penelitian siklus II, dilakukan kolaborasi

dengan observer untuk mengamati proses pembelajaran yang dilakukan

peneliti. Sehingga terlaksana langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut:

1 Guru membagi siswa dalam beberapa kelompok , tiap kelompok 3 siswa.

2 Guru menyajikan Sendi – sendi yang bekerja dalam aktivitas sehari - hari.

3 Guru memberi lembar kerja kelompok yang akan dipelajari siswa yang

akan dipelajari siswa dalam kelompok-kelompok Kooperatif.

4 Guru memberikan pertanyaan atau kuis dan siswa menjawab pertanyaan

kuis dengan tidak saling membantu.

5 Guru mengamati tiap-tiap kelompok yang bekerja.

38
6 Siswa mengerjakan lembar kerja siswa secara kelompok.

7. Salah satu perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi

7 Siswa dan guru membahas hasil kerja kelompok.

3. Hasil Observasi

a. Observasi keterampilan guru

Dalam siklus II dari observasi, didapatkan bahwa: kemampuan

peneliti dalam merencanakan dan menyajikan bahan materi pelajaran sudah

baik. Dalam kegiatan awal, peneliti berusaha untuk menarik perhatian siswa

dengan memberikan apersepsi yang berupa permasalahan pada materi

kepada siswa untuk mereka pecahkan bersama. Peneliti juga tidak lupa

untuk menginformasikan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran ini

sehingga siswa tidak akan kebingungan dengan apa yang akan mereka pelajari.

Peneliti memberikan masalah-masalah yang berkaitan dengan

materi pemeliharaan panca indra dengan menggunakan kalimat yang sederhana

dan mudah dimengerti oleh siswa.

Dalam menerapkan Model Guide Discovery Learning ini, peneliti

melakukannya dengan baik. Peneliti menggunakan langkah-langkah yang

sesuai dengan Model Guide Discovery Learning pada setiap pembelajaran yaitu

dari presentasi kelas, membagi siswa kedalam tim, memberikan permasalahan

yang berupa LK untuk didiskusikan secara tim, memberikan kuis individual,

mencatat skor kemajuan siswa dan pemberian penghargaan kepada tim.

Peneliti membagi siswa tiap kelompok 3 orang. Peneliti memberikan

penghargaan dan hadiah kepada tim yang telah berhasil. Penghargaan dan

39
hadiah ini sebagai motivasi pada siswa untuk selalu menjadi yang terbaik

dan akan mempertahankannya pada pembelajaran yang akan datang.

Dalam kegiatan akhir peneliti membimbing siswa untuk

menyimpulkan materi yang telah diajarkan, memberikan kesempatan bertanya

bagi siswa yang belum memahami materi serta memberikan refleksi terhadap

pembelajaran yang telah dilaksanakan dengan baik.

Dari hasil observasi keterampilan guru pada siklus II didapatkan

bahwa keterampilan guru dalam pembelajaran IPA dengan

menerapkan Mode Guidel Discovery Learning sangat baik. Pada siklus ini

(siklus 2) telah dinyatakan berhasil, sehingga pembelajaran Mode Guidel

Discovery Learning telah diakhiri. Hal ini dapat ditunjukkan dari tabel 4 berikut :

Tabel. 4. Hasil Observasi Keterampilan Guru Pada Siklus II

Skor
No Indikator Pengamatan Penilai Kategori
an
1 Kegiatan Pra Pembelajaran:
Menginformasikan Tujuan Pembelajaran dengan 4 Sangat baik
menggunakan Mode Guidel Discovery Learning 4 Sangat baik
Menjelaskan materi dan kerja kelompok yang akan
dilakukan

2 Kegiatan Awal
Pengorganisasian siswa dalam kelompok 3 Baik
Memberi bimbingan kelompok bekerja dan belajar 3 baik

3 Kegiatan Inti
Memberi rangsangan berfikir pada kelompok 4 Sangat baik
Memberi motivasi pada kelompok yang berpendapat 3 baik
4 Kegiatan Penutup
Memberikan penilaian baik individu maupun kelompok 3 Baik
Memberikan Penghargaan kelompok 4 Sangat baik

Jumlah 28
Rata – Rata 3,5
Kategori Sangat
Baik

40
b. Hasil observasi aktivitas siswa

Berdasarkankan observasi pada siklus II, diperoleh gambaran

tentang aktivitas siswa dalam belajar Pembelajaran akan dimulai, seluruh

siswa sudah siap untuk mengikuti pelajaran. Ketika peneliti menggunakan

metode pembelajaran, perhatian seluruh siswa terpusat pada peneliti.

Ketika peneliti menjelaskan tentang materi, siswa mendengarkan dan

memperhatikan penjelasan peneliti dengan sungguh-sungguh. Pada saat

peneliti memberikan beberapa pertanyaan, seluruh siswa sudah berani

menjawab dan jawaban dari siswa rata - rata sudah tepat.

Pada saat belajar tim, siswa sangat bersemangat dalam menjalaninya

belajar tim yang dilakukan oleh siswa dapat dikategorikan sangat baik, mereka

sudah dapat bekerjasama antar anggota tim. Sudah tidak ada siswa yang bekerja

secara individu dan bersikap masa bodoh dengan teman satu timnya. Mereka juga

sudah tidak malu untuk bekerja tim dengan temannya.

Dalam mengerjakan kuis individual, siswa bisa mengerjakan kuis

individual dengan tenang, tidak ada siswa yang bekerjasama ataupun bertukar

kertas jawaban. Rata-rata siswa mengerjakan kuis dan mengumpulkannya

tepat pada waktu yang telah ditentukan oleh peneliti.

Dalam siklus II, motivasi siswa lebih baik lagi. Mereka mempunyai

kemauan untuk belajar, adanya rasa keingintahuan untuk dapat menguasai

materi, keaktifan siswa meningkat serta komunikasi antar anggota satu tim pun

41
sudah lancar. Hasil kemampuan penguasaan materi pembelajaran pada

tindakan siklus II yang dilihat dari hasil tes ini terlihat adanya peningkatan dari

pada yang terlihat pada siklus I. Keberhasilan dicapai dengan adanya interaksi

yang baik antara guru, peneliti dan pengamat. Dari hasil tersebut dapat dilihat

pada table. 5 berikut ini:

Tabel 5. Hasil Evaluasi Mata Pelajaran IPA Siklus II

No Indikator Hasil
1 Nilai Terendah 60
2 Nilai Tertinggi 100
3 Jumlah Nilai 2760
4 Nilai Rata - Rata 81.2
5 Banyaknya siswa dengan nilai > 75 31
6 Prosentase siswa dengan nilai > 75 91,17%
7 Banyaknya siswa dengan nilai < 75 3
8 Prosentase siswa dengan nilai < 75 8.8 %

Tabel 6. Rangkuman Hasil Belajar Siswa pada siklus I dan Siklus II

No Indikator Hasil siklus I Hasil siklus II


1 Nilai Terendah 50 60
2 Nilai Tertinggi 90 100
3 Jumlah Nilai 2440 2760
4 Nilai Rata - Rata 76,3 81.2
5 Banyaknya siswa dengan nilai > 75 26 31
6 Prosentase siswa dengan nilai > 75 76,4 % 91,17%
7 Banyaknya siswa dengan nilai < 75 9 3
8 Prosentase siswa dengan nilai < 75 23,52 % 8,8 %

4. Refleksi

Berdaskan hasil penelitian, diketahui bahwa pembelajaran pada siklus

II dinilai sudah baik dan berhasil. Jalannya pelaksanaan siklus II ini mulai

dari perencanaan sampai pemberian tindakan dan evaluasi akhir telah lancar

dan lebih baik dari siklus I . Hal ini disebabkan karena adanya

42
perbaikan perbaikan berdasarkan kekurangan ataupun kelemahan pada siklus

sebelumnya. Keterampilan guru maupun aktivitas siswa sedikit demi sedikit

mengalami peningkatan. Hal ini terbukti dari hasil observasi terhadap kegiatan

siswa oleh guru dan kegiatan guru oleh observer yang menunjukkan

kecenderungan meningkat. Keberanian siswa untuk bertanya dan

mengungkapkan pendapat ataupun mengungkapkan hasil kerja kelompok

semakin baik pula. Hal ini dapat dilihat dari siswa yang biasanya diam atau pasif,

sekarang berani bertanya. Semangat atau antusias, perhatian, dan partisipasi

aktif siswa dalam pembelajaran terlihat jelas yang berpengaruh pada

meningkatnya aktifitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran.:

D. Pembahasan

1. Pembahasan Siklus I

a. Keterampilan Guru dalam Model Guide Discovey Learning Siklus I

1. Menginformasikan tujuan pembelajaran dengan menggunakan Model

Guide Discovery Learning. Pada siklus I guru dalam memulai dan

menginformasikan tujuan pembelajaran namun terlalu cepat, sehingga siswa

dalam mengikuti pelajaran belum paham dan kurang jelas mendengarkan

informasi yang berikan guru. Berdasarkan hal ini guru jangan terlalu cepat

dalam menyampaikan tujuan pembelajaran, guru sebaiknya dalam menjelaskan

tujuan pembelajaran di tulis di papan tulis supaya siswa lebih paham.

2. Menjelaskan materi dan membagi kelompok. pada saat guru

memberikan penjelasan siswa dan membagi kelompok, guru terlalu cepat dan

suaranya kurang keras. Sehingga siswa belum paham dalam mengikuti

43
pembelajaran yang akan disampaikan oleh guru, Sehingga siswa masih

kebingungan dalam mengikuti pelajaran yang menggunakan Model Guide

Discovery Learning, Menurut Asma Nur (2006:52) sebelum nyajikan materi

pelajaran, guru dapat memulai dengan menjelaskan tujuan pembelajaran,

langkah-langkah kerja kelompok, pemberian motivasi berkooperatif

menggali pengetahuan dan sebagainya. Berdasarkan hasil obsevasi siklus I ini

guru dalam memberikan penjelasan pada siswa harus terperinci.

3. Berkeliling memberikan bimbingan kelompok bekerja dan belajar. Guru

sudah berkeliling dan memberikan bimbingan pada siswa dan

mempresentasikan hasil diskusi sudah baik. Menurut Ibrahim (2000 : 11)

fase keempat dalam pembelajaran kooperatif adalah membimbing kelompok

bekerja dan belajar.

4. Memberi rangsangan berpikir pada kelompok dan memecahkan masalah

Berdasarkan tabel keterampilan guru dalam memberikan rangsangan berpikir

siswa dalam diskusi kelompok dan memecahkan. Guru dalam memberikan

rangsangan berpkir sudah menggunakan kata-kata yang menarik dan mudah

dimengerti siswa sehingga siswa dapat memecahkan masalah Pesawat

Sederhanari.

5. Memberi motivasi pada kelompok untuk mengeluarkan pendapat

Guru sudah memberikan motivasi agar siswa dapat menyampaikan

pendapatnya dan bertanya. Tetapi ada siswa yang masih takut

untuk mengeluarkan pendapatnaya dan malu bertanya.

6. Memberikan penilaian baik individu maupun kelompok

44
Guru sudah memberikan penilaian dengan baik baik penilaian aktivitas

siswa dalam kelompok maupun penilaian individu. Tahap keenam

dalam pembelajaran kooperatif yaitu pemeriksaan hasil tes yang dilakukan

oleh guru dengan membuat daftar skor. Peningkatan setiap individu yang

kemudian dimasukkan menjadi skor kelompok. (Asma Nur, 2006 : 53).

7. Memberikan penghargaan kelompok

Guru dalam membangkitkan motivasi siswa sudah baik.

b. Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran IPA

1. Mendengarkan atau memperhatikan pembelajaran guru

Pada aspek ini diperoleh hasil temuan bahwa sebagain siswa

kurang memperhatikan penjelasan guru atau teman. Hal ini disebabkan karena

penjelasan guru terlalu cepat akibatnya siswa belum memahami pembelajaran

yang akan dilakukan. Sehingga siswa sering bercerita dengan temannya

dan tidak memperhatikan penjelasan guru.

2. Membaca (LKS / Buku)

Pada aspek ini diperoleh hasil temuan bahwa bermain Pesawat

Sederhanari. Siswa belum terbiasa dengan pembelajaran Mode Guidel Discovery

Learning.

3. Bertanya

Siswa sudah ada yang berani bertanya pada guru dan siswa mau bertanya pada

anggota kelompoknya tentang hal-hal yang belum dimengerti

4. Mempresentasikan hasil kerja pembelajaran Siswa sudah dapat

mempresentasikan hasil kerja kelompok dengan baik. Meskipun ada siswa masih

45
belum berani untuk mempresentasikan hasil persentasinya.

5. Berpendapat

Sebagian besar siswa masih malu dan takut untuk menyampaikan

pendapatnya. Hal ini dikarenakan siswa belum dapat menggunakan bahasa yang

baik dan benar. Sehingga hasil siswa dalam menyampaikan pendapatnya

mendapatkan.

c. Hasil belajar siswa siklus I

Berdasarkan nilai hasil belajar siswa, diperoleh nilai rata-rata

mencapai 76,3 dan siswa yang mendapatkan ketuntasan belajar sebanyak 76,47 %

yang sudah termasuk dalam kategori baik ( B ) . nilai KKM IPA 3 ( 75).

Berdasarkan pertimbangan yang ditentukan ketuntasan hasil belajar siswa di

siklus I belum menunjukkan ketuntasan belajar siswa belum tercapai, maka

penelitian ini dilanjutkan pada siklus ke II.

2. Pembahasan Siklus II

a. Keterampilan Guru dalam Mengelola Pembelajaran IPA

1. Menginformasikan tujuan pembelajaran dengan menggunakan

Model Guide Discovery Learning. Guru dalam menginformasikan tujuan

pembelajaran sudah jelas dan tidak terlalu cepat. Sehingga siswa dapat

menangkap informasi tersebut dengan jelas dan dapat melaksanakan

pembelajaran dengan baik. Berdasarkan hasil pada siklus II guru telah

menginformasikan tujuan pembelajaran dengan kategori sangat baik.

2. Pengorganisasian siswa dalam kelompok

Dalam pembentukan kelompok, guru sudah melakukannya secara

46
heterogen berdasarkan prestasi akademik, agama, jenis kelamin. Siswa yang

ramai masih ada namun dalam jumlah sedikit. Guru sudah dapat mengelola kelas

dengan baik walaupun belum maksimal.Menurut Ibrahim (2000 : 10)

Fase ketiga dalam pembelajaran kooperatif adalah

mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar. Pembagian

kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang,

rendah. Bilamana mungkin anggota kelompok berasal dari ras, suku dan jenis

kelamin yan berbeda (Ibrahim, : 6-7).

Berdasarkan hasil observasi siklus II ini bimbingan guru kepada kelompok

sudah merata. Hal-hal yang menghambat belajar sudah dapat di atasi.

Secara keseluruhan bimbingan guru dalam kategori baik.

3. Memberi rangsangan berfikir .

Berdasarkan hasil siklus II ini guru dalam memberikan

rangsangan berfikir pada kelompok dalam memecahkan masalah sudah sangat

baik.

4. Memberikan penilaian baik individu maupun kelompok

Berdasarkan observasi siklus II guru dalam memberikan individu

atau kelompok dalam kategori baik . Penilaian yang diberikan sudah sesuai

dengan prinsip penilaian.

5. Memberikan penghargaan kelompok

Berdasarkan hasil observasi siklus II dalam memberikan

penghargaan kelompok dalam kategori sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari

kelompok antusias bertanya berkerjasama mengumpulkan poin untuk kemajuan

47
kelompok.

b. Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran

1. Mendengarkan memperhatikan penjelasan guru atau teman.

Dari hasil observasi saat guru menjelaskan materi, siswa

sudah aktif memberikan balikan dan aktifitas bermainpun sudah tidak dilakukan

karena siswa sudah terbiasa dengan pembelajaran dengan pembelajaran model

Guide Discovery Learning ini.

2. Membaca (LKS/ Buku)

Berdasarkan temuan siswa sudah aktif membaca dan terbiasa

dengan Model Guide Discovery Learning.

3. Bertanya

Pada siklus II ini aktivitas bertanya siswa cukup pesat kenaikannya.

Siswa yang awalnya malu-malu, pada siklus ini sebagaian besar siswa sudah

aktif bertanya, mereka bertanya karena merasa ingin tahu lebih jauh tentang

materi yang akan dipelajari dan ingin menambah pengetahuan. Hasil ini sesuai

dengan pendapat Nur Asma (2006:14) proses pembelajaran dengan menggunakan

model pembelajaran Guide Discovey Learning berpusat pada siswa,

Aktivitas belajar lebih dominan dilakukan siswa, aktivitas belajar

lebih dominantdilakukan siswa, pengetahuan yang dibangun dan ditemukan

adalah dengan belajar bersama-sama dengan anggota kelompoknya sampai

masing- masing siswa memahami materi pembelajaran.

48
4. Mempresentasikan Hasil Kerja Kelompok

Berdasarka hasil observasi pada siklus II ini, siswa sudah dapat

mempresentasikan hasil dari kelompoknya baik, tanpa rasa malu dan takut lagi.

5. Berpendapat

Pada siklus II ini siswa sudah aktif dalam menyampaikan pendapatnya,

pada diskusi kelompoknya, hal ini jauh lebih baik dari pada siklus sebelumnya.

c. Hasil belajar siswa siklus II

Berdasarkan nilai hasil belajar siswa, diperoleh nilai rata-rata

mencapai 81,2 dan siswa yang mendapatkan ketuntasan belajar sebanyak 91,17

% yang sudah termasuk dalam kategori baik sekali ( B+) . Setelah peneliti

melakukan perbaikan pembelajaran selama dua siklus, kegiatan

pembelajaran berhasil. Untuk mengetahui hasil belajar siswa dari siklus I dan II

dapat diketahui dengan gambaran pada tabel 7 dibawah ini.

Tabel 7 Rangkuman Hasil Belajar Siswa Pada Kondisi Awal ,Siklus I, Siklus II.

No Indikator Kondisi Hasil siklus Hasil siklus


awal I II
1 Nilai Terendah 30 50 60
2 Nilai Tertinggi 80 90 100
3 Jumlah Nilai 2327 2440 2760
4 Nilai Rata - Rata 68,4 76.3 81,2
5 Banyaknya siswa dengan nilai > 14 26 31
75
6 Prosentase siswa dengan nilai > 44 % 76,47% 91,17%
75
7 Banyaknya siswa dengan nilai < 20 8 3
75
8 Prosentase siswa dengan nilai < 56 % 23,52 % 8,8 %
75

49
Berdasarkan pertimbangan yang ditentukan ketuntasan belajar siswa di

siklus II sudah tercapai, maka kegiatan pembelajaran pada siklus II dirasa

cukup dan penelitian berhenti di siklus II.

Dalam proses pembelajaran IPA belajar hanya terjadi apabila siswa

aktif dalam pembelajaran, dalam model pembelajaran dengan menggunakan

model Guide discovery Learning , siswa dapat lebih aktif, kreatif dan inofatif

dalam proses pembelajaran. Maka pembelajaran lebih terarah sesuai dengan

perencanaan.

Peran seorang guru dalam implementasi Kurikulum 2013 yaitu

sebagai fasilitator, mediator dan evaluator, hal ini bukan guru berperan

aktif, tetapi siswa yang lebih berperan aktif dalam proses pembelajaran. Dari

hasil yang diperoleh tes yang telah dilaksanakan menunjukkan bahwa nilai

rata- rata siklus I 76,3 dengan ketuntasan belajar 76,4 % pada siklus II

memperoleh nilai rata-rata 81,2 dengan ketuntasan belajar 91,17 % hal ini

menunjukkan hasil belajar semakin meningkat.

Berdasarkan kesimpulan yang ada bahwa Kurikulum 2013 bila

digunakan dan dipahami, pembelajaran dengan menggunakan model

Guide Discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Dengan hal

ini siswa lebih terlibat langsung dalam pembelajaran sehingga hasil belajar

semakin meningkat.

50
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan:

1. Penelitian pembelajaran IPA tema Rangka, Otot dan Pesawat

Sederhana dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII A SMP

Negeri 1 Pangkah semester I tahun pelajaran 2014/2015. Sesuai analisis

data dapat diketahui adanya peningkatan nilai rata-rata kelas pada

siklus I rata-rata kelas memperoleh 76,3 kategori baik , namun baru 76,4%

siswa mendapatkan nilai 75. Hasil ini masih belum memenuhi indikator

keberhasilan dimana 85% siswa kelas VIII A SMP N 1 Pangkah

mendapatkan nilai 75. Namun pada siklus II nilai rata-rata kelas

mencapai 81,2 kategori baik ( B+), dengan 91,17 % siswa

mendapatkan nilai 75 sehingga hasil pada siklus II telah mencapai

indikator keberhasilan penelitian. Hal ini menunjukkan bahwa Model

Guide Discovery Learning dapat meningkatkan hasil belajar IPA pada

siswa kelas VIII A

51
B. Saran

Berdasarkan hasil penilitian, maka saran yang dapat disampaikan adalah:

1 Pendekatan pembelajaran model Guide Discovery Learning dapat

meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa sehingga pendekatan

tersebut bisa digunakan sebagai acuan pada setiap pembelajaran, khususnya

pada kelas VIII.

2 Pendekatan pembelajaran Model Guide Discovery Learning dapat

meningkatkan aktivitas guru sehingga pelaksanaan pembelajaran dengan

pendekatan tersebut bisa lebih maksimal. Guru segera merefleksi diri tentang

kelemahan dalam pembelajaran, guru bersama kolaborator agar tercapai tujuan

pembelajaran guru hendaknya harus lebih termotivasi dalam

menggunakan model pembelajaran baru dan bervariasi dalam

kegiatan pembelajaran.

3 Pendekatan pembelajaran model Guide Discovery Learning dapat

meningkatkan hasil belajar IPA, dengan menggunakan pendekatan tersebut dapat

pelajaran IPA saja, tetapi bisa digunakan pada mata pelajaran yang lain.

52
DAFTAR PUSTAKA

Agus Supriyadi ( 2012 ) Peningkatan Hasil Belajar Metode Discovery


Pembelajaran IPA Kelas IV SDN 03 Sungai Ambawang Kubu Raya –
Pontianak

Arikunto, Suharsimi. 2000. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.


Jakarta : Rineka Cipta.

Badan Standar Nasional Pendidikan ( BNSP ). 2006. Standar Isi dan Standar
Kompetensi Kelulusan Tingkat Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah
Tsanawiyah . Jakarta.

IIN KARTIKASARI. 2014. Pengaruh Metode Discovery Learning terhadap


Motivasi dan Hasil Belajar Matematika Siswa Pada Pokok Bahasan
Kubus dan Balok (Studi Eksperimen di Kelas VIII MTs Kiarapayung
Kabupaten Ciamis)” Skripsi. Ciamis
http:/web.iaincirebon.ac.id/ebook/repository/127350019_IIN%20KRTIKA
SARI_58451070_0…

Iskandar. 2008. Metodologi penelitian pendidikan dan Sosial. Jakarta: GP Press


Kemendikbud, 2013. Pengembangan Kurikulum 2013. Paparan
Mendikbud dalam Sosialisasi Kurikulum 2013. Jakarta: Kemdikbud.

Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan. 2013. Konsep Pendekatan Scientific.


Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Mohamad Faiq. 2014 . Model Pembelajaran Penemuan ( Discovery Learning )
Panduan PTK . ( Artikel )

http:/www.panduanptk.com/2014/06/model pembelajaran-penemuan-
discovery.html.

Permendikbud no 058 tahun 2014 Lampiran III

Rohani. 2004. Metode Discovery (artikel)


http;//www.google.com/search:metodeDiscovery

Suryosubroto. 1997. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta

Suyadi. 2012. Panduan Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: DIVA Press.


Kem

53