Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRATIKUM

TEKNOLOGI PENETASAN DAN PEMULIAAN TERNAK UNGGAS

“Penetasan Telur Itik”

Oleh :

M.Armi Gazalli

1710611058

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS ANDALAS

PADANG

2019
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Industri perunggasan di Indonesia berkembang sesuai dengan kemajuan


perunggasan global yang mengarah kepada sasaran mencapai tingkat efisiensi
usaha yang optimal, sehingga mampu bersaing dengan produk dari produk-
produk unggas luar negeri. Produk unggas, yakni daging ayam dan telur, dapat
menjadi lebih murah sehingga dapat menjangkau lebih luas masyarakat di
Indonesia. Pembangunan industri perunggasan menghadapi tantangan yang
cukup berat baik secara global maupun lokal karena dinamika lingkungan
strategis di dalam negeri. Tantangan global ini mencakup kesiapan daya saing
produk perunggasan, utamanya bila dikaitkan dengan lemahnya kinerja
penyediaan bahan baku pakan, yang merupakan 60-70 % dari biaya produksi
karena sebagian besar masih sangat tergantung dari impor.
Telur merupakan makanan yang disediakan unggas untuk pertumbuhan
embrionya, dari embrio awal ssampai terbentuk anak ayam yang siap menetas.
Pada perkembangan akhir isi telur akan semakin habis, yang tersisa hanya
sedikit kuning telur yang akan dimanfaatkan oleh anak ayam selama sekitar 2
hari. Itulah sebabnya telur pada mamalia berbeda dengan telur pada unggas.
Menetaskan telur itik berarti mengeramkan telur agar menetas dengan
tanda kerabang telur terbuka atau pecah sehingga anak itik dapat keluar dan
dapat hidup. Penetasan telur dapat dilakukan dengan dua cara yaitu penetasan
telur pada induk dan mempergunakan mesin penetas atau incubator. Oleh
karena itu, penetasan telur bertujuan untuk mendorong industri perunggasan
dalan penyediaan bibit unggul dalam jumlah besar.

B. Tujuan Praktikum

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses


penetasan penetasan itu terjadi.
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penetasan Telur Unggas

Penetasan telur dapat dilakukan secara alamiah yaitu dengan dierami oleh
induknya dan dapat pula dilakukan dengan inkubator. Jika penetasan telur
dilakukan pada induknya, jumlah telur yang dapat ditetaskan terbatas, yaitu
paling banyak 15 – 7 butir. Tetapi, penetasan telur dengan inkubator dapat
mencapai ratusan bahkan hingga ribuan butir telur dalam sekali penetasan.
(Sudrajat, 2003)
Telur-telur yang dihasilkan oleh induk Unggas tidak seluruhnya berkualitas
baik. Untuk itu ada beberapa kriteria sehingga dikatakan telur itu baik untuk
ditetaskan diantaranya
a. Bentuk Telur
Bentuk telur yang baik berbentuk normal yaitu telur yang berbentuk
sedikit agak lonjong. Bagian atas agak besar dan bawahnya lebih kecil
dan tumpul.
b. Keadaan Kulit Telur
Kulit yang permukannya halus dan merata.
c. Umur Telur
Umur telur yang ditetaskan sebaiknya telur yang umurnya dibawah
dari 7 hari.

2.2 Itik Mojosari


Itik Mojosari merupakan salah satu jenis itik lokal yang cukup
populer di Indonesia berasal dari Kecamatan Mojosari Kabupaten
Mojokerto Propinsi Jawa Timur (Suharno dan Amri, 2003). Itik mojosari
memiliki karakteristik yaitu memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dari
itik Tegal, bentuk tubuhnya tinggi dan langsing menyerupai bentuk botol,
serta dapat berdiri tegak. Itik jantan dan betina memiliki warna bulu yang
hampir sama yaitu berwarna kemerahan dengan variasi warna cokelat,
hitam, dan putih dengan paruh dan kaki berwarna hitam, walaupun
mempunyai warna bulu yang sama, tetapi antara itik jantan dan itik betina
dapat dibedakan dengan mudah yaitu dengan melihat bulu ekornya. Itik
Mojosari dewasa biasanya memiliki bobot badan rata-rata yaitu 1,7 kg dan
konsumsi ransum rata-rata berkisar 130-170 g per hari (Whendrato dan
Madya, 1998).
Menurut Wahyuni (1989), saat memasuki masa produksi rata-rata
umur itik mojosari adalah 156,17 ± 4,19-161,42 ± 0,03 hari. Jumlah itik
yang dipelihara sekitar 80% akan berproduksi, apabila diberi perawatan
yang baik dan pemberian pakan yang cukup. Keunggulan itik Mojosari
dibandingkan dengan itik lokal yang lain yaitu memiliki masa produksi
yang lebih lama, jika dibandingkan dengan itik lokal yang lain (Suharno
dan Amri, 2003).

2.3 Mesin Tetas


Penetasan telur ada dua cara, yaitu melalui penetasan alami (induk
ayam) dan melaui penetasan buatan (mesin tetas) (Paimin, 2000). Penetasan
buatan dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut mesin tetas atau
inkubator. Pada prinsipnya penetasan buatan sama dengan penetasan alami,
yaitu menyediakan kondisi lingkungan (temperatur, kelembaban dan
sirkulasi udara) yang sesuai agar embrio dalam telur berkembang dengan
optimal, sehingga telur dapat menetas (Sukardi, 1999). Cara kerja mesin
tetas pada prinsipnya yaitu menciptakan kondisi seperti pada penetasan
alami yaitu meniru induk unggas pada waktu mengerami telurnya
(Suprijatna et al., (2005).

2.4 Candling
Candling adalah proses peneropongan telur menggunakan cahaya
untuk melihat perkembangan embrio dalam telur. Telur infertilakan tampak
terang saat candling. Telur yang nampak terang saat proses candling
sebenarnya tidak hanya telur infertil saja tetapi juga telur yang embrionya
mengalami mati dini, akan tetapi pada proses candling semua telur tampak
terang disebut sebagai telur infertil karena penampakannya sama (Nuryati,
2002).
Candling dilakukan setelah telur melewati masa kritis pertama.
Masa kritis merupakan waktu yang sangat penting dalam proses
pembentukan dan perkembangan embrio selama telur ditetaskan. Masa
kritis pertama yang terjadi pada hari ke 1 hingga ke 3 setelah telur
dimasukkan ke dalam mesin tetas (Sudjarwo, 2012).

2.5 Fertilitas
Fertilitas atau yang sering dikenal dengan kelahiran dapat diartikan
sebagai hasil reproduksi yang nyata dari penduduk (actual reproduction
performance) atau jumlah anak hidup yang dilahirkan oleh seorang atau
sekelompok perempuan. Kelahiran yang dimaksud hanya mencakup
kelahiran hidup, yaitu bayi yang dilahirkan menunjukkan tanda-tanda
hidup meskipun hanya sebentar dan terlepas dari lamanya bayi itu
dikandung. Natalitas mempunyai arti sama dengan fertilitas, hanya
berbeda ruang lingkupnya, dimana fertilitas mencakup peranan kelahiran
pada perubahan penduduk, sedangkan natalitas mencakup peranan
kelahiran pada perubahan penduduk dan reproduksi manusia (Rusli,
1985).

Menurut Hatmaji (1981), terdapat konsep-konsep lain yang terkait


dengan pengertian fertilitas dan penting untuk diketahui, yaitu:

a. Lahir hidup (live birth), adalah kelahiran bayi tanpa memperhitungkan


lamanya di dalam kandungan, dimana si bayi menunjukkan tanda-
tanda kehidupan, seperti bernafas, ada denyut jantung, dan gerakan-
gerakan otot;

b. Fecunditas, adalah kemampuan secara potensial seorang wanita untuk


melahirkan anak
c. Steril, adalah ketidakmampuan seorang pria atau wanita dalam
menghasilkan suatu kelahiran;
d. Natalitas, adalah kelahiran yang merupakan komponen dari perubahan
penduduk;
e. Abortus, adalah kematian bayi dalam kandungan dengan umur
kehamilan kurang dari 28 minggu. Ada dua macam abortus: (1)
disengaja (induced), dan (2) tidak disengaja (spontaneus). Abortus
yang disengaja lebih sering dikenal dengan istilah aborsi, sedangkan
yang tidak disengaja lebih sering dikenal dengan istilah keguguran;
f. Lahir mati (stiil birth), adalah kelahiran seorang bayi dari kandungan
yang kehamilannya berumur paling sedikit 28 minggu tanpa
menunjukkan tanda– tanda kehidupan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang dimaksud dengan


fertilitas adalah kemampuan untuk menghasilkan keturunan, sedangkan
menurut Sembiring (dalam Hendry, 2009) fertilitas adalah taraf kelahiran
yang sesungguhnya berdasarkan jumlah kelahiran yang telah terjadi
(lahir hidup).

Menurut Leibenstein (dalam Sri Harjati Hatmadji, 1981), anak dapat


dilihat dari dua aspek, yaitu aspek kegunaannya (utility), dan aspek biaya
(cost). Kegunaannya adalah memberikan kepuasaan, dapat memberikan
balas jasa ekonomi atau sebagai sumber yang dapat menghidupi orangtua
di masa depan, sedangkan aspek biaya adalah pengeluaran untuk
membesarkan anak tersebut. Biaya tambahan memiliki anak dapat
dibedakan atas biaya langsung dan biaya tidak langsung. Yang dimaksud
biaya langsung adalah biaya yang dikeluarkan dalam memelihara anak,
seperti memenuhi kebutuhan sandang dan pangan
anak sampai ia dapat berdiri sendiri. Adapun yang dimaksud dengan biaya
tidak langsung adalah kesempatan yang hilang karena adanya tambahan
seorang anak, misalnya, seoarang ibu tidak dapat bekerja lagi karena harus
merawat anak, kehilangan penghasilan selama masa hamil, atau
berkurangnya mobilitas orangtua yang mempunyai tanggungan keluarga
besar.

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa fertilitas adalah suatu


ukuran dari hasil reproduksi wanita yang dinyatakan dengan jumlah bayi
lahir hidup. Semakin tinggi tingkat pertumbuhan kelahiran, maka akan
semakin tinggi jumlah penduduk. Tingginya tingkat fertilitas akan
membawa dampak kepada kehidupan sosial ekonomi penduduk.

2.6 Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam penetasan

1. Sumber Telur Tetas

Untuk mendapatkan telur tetas yang memiliki daya tetas tinggi, pastikan bahwa
perbandingan jumlah itik jantan dan itik betina memenuhi syarat. Adapun
perbandingan itik jantan dan betina minimal 1 : 8.

2. Kebersihan Kerabang

Kebersihan kerabang sangat berpengaruh dalam proses penetasan di mana


kerabang telur yang mengandung kotoran terutama fases itik merupakan sumber
bakteri dan jamur yang dapat masuk ke dalam telur yang akan menyerang embrio yang
sedang berkembang atau membuat telur menjadi busuk. Untuk mengantisipasi hal
tersebut maka sarang atau tempat itik betelur harus dijaga kebersihannya terutama litter
kandang. Telur yang banyak kotorannya sebaiknya tidak ditetaskan tapi bila terpaksa
lakukan pembersihan menggunakan kain yang dibasahi air hangat dan dicampur
dengan deterjen telur atau pemutih pakaian cuci dengan dosis satu sendok makan untuk
satu liter air.

3. Bobot dan Bentuk Telur

Kerabang telur harus dalam keadaan utuh, licin dan berbentuk oval atau bulat
telur. Bobot telur tetas yang normal antara 60g – 65g.

Setelah selesai melakukan seleksi, telur tetas siap untuk ditetaskan. Untuk telur
tetas yang memerlukan penyimpanan beberapa hari, ruang pendingin/tempat
penyimpanan harus bersuhu tidak lebih dari 18°C. Hal dimaksudkan agar embrio di
dalam telur tidak berkembang. Telur tetas sebaiknya tidak disimpan lebih dari 7 hari
(dihitung dari mulai ditelurkan) sebab penyimpanan yang terlalu lama akan
menyebabkan bertambahnya waktu menetas.

4. Proses Penetasan dalam mesin tetas

Sebelum telur tetas di masukan ke dalam mesin tetas, pastikan bahwa keadaan
mesin tetas, peralatan penetasan dan kelengkapan mesin tetas sudah tersedia. Untuk
memperoleh hasil yang lebih baik, lakukan fumigasi/pengasapan baik untuk mesin
tetas maupun untuk telur yang akan ditetaskan.

Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam proses penetasan antara lain
suhu, kelembapan, serta waktu penetasan. Suhu yang ideal untuk penetasan telur itik
adalah 38°C dengan kelembapan 65% – 70%. Adapun lamanya proses penetasan yang
normal adalah 28 hari.

Selain hal-hal tersebut di atas, tehnik atau cara menempatkan telur di rak mesin
tetas, peneropongan telur serta pemutaran/pembalikan telur juga merupakan bagian
dari keberhasilan penetasan.

a. Penempatan Telur
Penempatan telur pada rak mesin tetas tergantung dari jenis mesin tetas, posisi
telur yang ideal adalah meletakan telur dengan kemiringan 40°. Hal ini akan
memudahkan dalam pemutaran telur. Bagian telur yang tumpul harus terletak di atas,
karena dalam perkembangannya kepala embrio akan mengarah ke atas di mana terletak
kantung udara.

b. Peneropongan

Peneropongan dilakukan dengan tujuan untuk membedakan mana telur yang


fertil dan steril (infertil). Telur yang fertil hidup akan terlihat seperti pembuluh darah
yang menyebar seperti jala sedangkan telur yang steril akan terlihat kosong atau tampa
pembuluh dara seperti jala. Peneropongan dapat dilakukan pada hari ke-7, hari ke-15
dan pada hari ke-27. Telur yang steril langsung dikeluarkan dari mesin penetasan.

c. Pemutaran Telur

Pemeturan telur dilakukan agar embrio tidak menempel ke salah satu sisi
kerabang telur serta telur tetas dapat memperoleh panas yang seimbang. Pemutaran
telur di mulai pada hari ke-3 sampai hari ke-25. Pemutaran telur sebaiknya dilakukan
3 kali dalam sehari.

d. Ventilasi

Dalam proses penetasan embrio membutuhkan oksigen yang cukup untuk itu
ventilasi berfungsi sebagai pertukaran antara CO2 dan O2.
IV. PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Dalam manajemen Usaha Penetasan telur itik pemilihan telur sangat


menentukan daya tetas telur itik Telur itik dipilih dari indukan yang tidak terkalu
muda dan tidak terlalu tua, dengan rasio Jantan:Betina 1:5 sampai dengan 1:10.
Cangkang telur dipilih yang tidak terlalu tebal karena akan sulit untuk pecah saat
akan menetas. Cangkang yang terlalu tipis juga tidak layak untuk dipilih. Pilih telur
yang oval tetapi jangan terlalu lonjong atau bulat.
LAMPIRAN GAMBAR
DAFTAR PUSTAKA

Jayasamudera, Dede Juanda dan Cahyono Bambang. 2005. Pembibitan Itik. Penebar Swadaya.
Jakarta.

Nesheim, M. C., R. E. Austic dan L. E. Card. 1979. Poultry Production. Lea and Febiger,
Philadelphia.

Nuryati, T. N., Sutarto, M. Khamin dan P. S. Hardjosworo. 1998. Sukses Menetaskan Telur.
Penebar Swadaya. Jakarta.

Setiawan, Iwan. 2010. Tipe DOD (Day Old Duck).


http://centralunggas.blogspot.com/2010/01/tipe-doc-day-old-chick.html. Di download
pada tanggal 11 Desember 2016.

Shanawany. 1994. Quail Production Systems. FAO of The United Nations. Rome.

Soedjarwo, E. 1999. Membuat Mesin Tetas Sederhana. Penebar Swadaya. Jakarta.

Suprijatna, E., Umiyati, a., dan Ruhyat, K., 2005. Ilmu Dasar Ternak Unggas. Penebar
Swadaya. Jakarta.

Tri-Yuwanta. 1983. Beberapa Metode Praktis Penetasan Telur. Fakultas Peternakan UGM.
Yogyakarta.