Anda di halaman 1dari 4

NAMA : Imelda Putri Pangestu

PRODI : Akuntansi Syariah


NIM : 20170703042042
Makul : Auditing

1. WHAT = APA

Pemanipulasian laporan keuangan pada PT.Kimia Farma Tbk.

WHO = SIAPA

Hans Tuanakotta dan Mustofa (HTM)

WHEN = KAPAN

pada tanggal 31 Desember 2001, manajemen Kimia Farma melaporkan adanya laba
bersih sebesar Rp 132 milyar, Setelah dilakukan audit ulang, pada 3 Oktober 2002
laporan keuangan Kimia Farma 2001 disajikan kembali (restated), karena telah
ditemukan kesalahan yang cukup mendasar

WHERE = DIMANA

PT. Kimia Farma Tbk

WHY = MENGAPA

Kesalahan penyajian yang berkaitan dengan persediaan timbul karena nilai yang ada
dalam daftar harga persediaan digelembungkan. PT Kimia Farma, melalui direktur
produksinya, menerbitkan dua buah daftar harga persediaan (master prices) pada
tanggal 1 dan 3 Februari 2002.
Daftar harga per 3 Februari ini telah digelembungkan nilainya dan dijadikan dasar
penilaian persediaan pada unit distribusi Kimia Farma per 31 Desember 2001.
Sedangkan kesalahan penyajian berkaitan dengan penjualan adalah dengan
dilakukannya pencatatan ganda atas penjualan. Pencatatan ganda tersebut dilakukan
pada unit-unit yang tidak disampling oleh akuntan, sehingga tidak berhasil dideteksi.
Berdasarkan penyelidikan Bapepam, disebutkan bahwa KAP yang mengaudit laporan
keuangan PT Kimia Farma telah mengikuti standar audit yang berlaku, namun gagal
mendeteksi kecurangan tersebut.

HOW = BAGAIMANA

Awalnya audit pada tanggal 31 Desember 2001, manajemen Kimia Farma melaporkan
adanya laba bersih sebesar Rp 132 milyar, dan laporan tersebut di audit oleh Hans
Tuanakotta dan Mustofa (HTM). Akan tetapi, Kementerian BUMN dan Bapepam
menilai bahwa laba bersih tersebut terlalu besar dan mengandung unsur rekayasa.
Setelah dilakukan audit ulang, pada 3 Oktober 2002 laporan keuangan Kimia Farma
2001 disajikan kembali (restated), karena telah ditemukan kesalahan yang cukup
mendasar. Pada laporan keuangan yang baru, keuntungan yang disajikan hanya sebesar
Rp 99,56 miliar, atau lebih rendah sebesar Rp 32,6 milyar, atau 24,7% dari laba awal
yang dilaporkan. Kesalahan itu timbul pada unit Industri Bahan Baku yaitu kesalahan
berupa overstated penjualan sebesar Rp 2,7 miliar, pada unit Logistik Sentral berupa
overstated persediaan barang sebesar Rp 23,9 miliar, pada unit Pedagang Besar Farmasi
berupa overstated persediaan sebesar Rp 8,1 miliar dan overstated penjualan sebesar Rp
10,7 miliar.

Dengan adanya Kasus ini Termasuk dalam BAB ETIKA PROFESIONAL karena

berarti akuntan tersebut tidak diakui lagi keprofesionalitasnya karena sudah tidak

dipercaya lagi baik oleh organisasi perusahaan tersebut, perusahaan lain, pemerintah,

dan masyarakat.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada manipulasi laporan

keuangan adanya kecurangan yang dilakukan oleh akuntan. Akuntan tersebut sudah

melanggar etika profesi, karena yang harusnya bekerja secara profesional justru dia

bekerja untuk kepentingan pribadi maupun pengaruh dari pihak lain sehingga dia

bekerja secara tidak profesional.


2. Dalam kasus ini, adanya kesalahan penyajian tersebut dilakukan oleh direksi periode
1998-2002, berarti adanya kelalaian dalam pemeriksaan laporan keuangan tersebut.
Sebagai Auditor, solusi dan rekomendasi untuk menghadapi kasus ini yaitu

 sebaiknya proses laporan keuangan selalu di kontrol, dilakukan pemeriksaan,


dan evaluasi disetiap bulannya. Karena jika dilakukan pemeriksaan hanya
setiap periodenya atau pertahunnya menjadi tidak terkontrol, dan sulit untuk
mendeteksi kecurangan yang dilakukan.

 Tidak hanya proses laporan keuangannya saja, namun pihak-pihak yang


terlibatnya pun selalu dikontrol setiap proses laporan keuangan tersebut,
diperiksa kemanakah uang tersebut dialirkan baik uang yang keluar maupun
uang yang masuk diperiksa secara detail dan rinci agar tidak adanya celah
untuk melakukan kecurangan manipulasi dalam laporan keuangan tersebut.

 Dibuatnya struktur organisasi yang jelas, agar tugas-tugas yang dilakukan


setiap anggota organisasi lebih terarah dengan baik, sehingga tidak ada satu
sama lain yang mencampuri tugas pokok antar anggota, dengan demikian
tidak ada campur tangan pihak lain yang terlibat maupun mempengaruhi
sehingga proses dalam perusahaan dapat berjalan secara efektif dan efisien.

 Mengawasi setiap kinerja karyawan baik akuntan, auditor, dan organisasi


perusahaan lainnya. Dengan adanya sturktur organisasi yang jelas, tidak
berjalan dengan baik juga jika tidak dilakukannya pengawasan. Pengawasan
yang dilakukan agar setiap anggota organisasi perusahaan dapat melakukan
tugasnya secara baik, dan takut untuk melakukan kecurangan karena selalu
diawasi.

 Adanya hukuman dan sanksi yang tegas baik para organisasi perusahaan yang
melakukan pelanggaran, dan kecurangan yang merugikan berbagai pihak
diperusahaan.

 Pemerintah memperbaiki kinerja perusahaan, selalu melakukan


pengawasan/monitoring, pemeriksaan, dan evaluasi setiap anggota organisasi
perusahaan agar tidak ada celah untuk melakukan kecurangan lagi.
 Pemerintah membuat aturan yang mengatur profesi akuntan dengan maksud
mencegah adanya praktik yang akan melanggar etika profesi. Diharapkan
aturan tersebut juga dapat dijalankan secara tegas, dan pihak yang melanggar
etika dihukum dan diberi sanksi yang adil