Anda di halaman 1dari 7

Dosen Pengampu :Bejo Waluyo, SKM

LAPORAN PRAKTIKUM HEMATOLOGI

DISUSUN OLEH :

MIHRA WARDANI SULAIMAN

(G1C219194)

PROGRAM STUDI DIV ANALIS KESEHATAN


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DANKESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2019
PRAKTIKUM I

A. Judul : Estimasi Jumlah Leukosit, Estimasi Jumlah Trombosit,


Morfologi Eritrosit
B. Hari/Tanggal :

C. Dasar Teori :
1. Definisi Darah
Darah merupakan suatu suspensi sel dan fragmen sitoplasma yang dapat
dianggap sebagai jaringan pengikat dalam arti luas, karena pada dasarnya
terdiri atas unsur-unsur sel dan substansi interseluler yang berbentuk plasma.
Fungsi utama dari darah adalah mengangkut oksigen yang diperlukan oleh
sel-sel diseluruh tubuh.Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan nutrisi,
mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan
penyusun sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai
penyakit.
Sel darah pada umumnya dikenal ada tiga tipe yaitu: eritrosit, lekosit
dan trombosit. Eritrosit manusia dalam keadaan normal berbentuk cakram
bulat bikonkaf dengan diameter 7,2 μm tanpa inti, lebih dari separuh
komposisi eritrosit terdiri dari air (60%) dan sisanya berbentuk substansi
koloidal padat. Sel ini bersifat elastis dan lunak. Lekosit (sel darah putih)
terdapat pada bagian pinggir sel darah, lekosit ini dibagi menjadi dua yaitu
granulosit dan agranulosit. Tipe ketiga yaitu Trombosit (disebut juga keping
darah), berbentuk sebagai keping-keping sitoplasma lengkap dengan
membran yang mengelilinginya.
Untuk melihat struktur sel-sel darah dengan mikroskop cahaya pada
umumnya dibuat sediaan apus darah. Sediaan apus darah ini tidak hanya
digunakan untuk mempelajari sel darah tapi juga digunakan untuk
menghitung perbandingan jumlah masing-masing sel darah. Pembuatan
preparat apus darah ini menggunakan suatu metode yang disebut metode oles
(metode smear) yang merupakan suatu sediaan dengan jalan mengoles atau
membuat selaput (film) dan substansi yang berupa cairan atau bukan cairan di
atas gelas benda yang bersih dan bebas lemak untuk kemudian difiksasi,
diwarnai dan ditutup dengan gelas penutup.

2. Jenis Sel - Sel Darah


a. Eritrosit
Eritrosit berasal dari hemositoblast, proses pembentukannya
dinamakan eritropoiesis dan diatur melalui mekanisme umpan balik yang
dipengaruhi jumlah oksigen dalam darah. Kecepatan eritropoiesis akan
meningkat dengan menurunnya jumlah eritrosit. Pada kondisi jumlah O 2
menurun, hati akan banyak melepas globulin dan ginjal akan memproduksi
lebih banyak faktor eritropoietik yang akan saling berinteraksi membentuk
eritropoietin. Eritropoietin yang terbentuk akan merangsang terjadinya
proses eritropoiesis sehingga jumlah eritrosit meningkat. Namun apabila
jumlah O2 meningkat maka produksi globulin dan faktor eritropoietik akan
menurun.
Penurunan jumlah eritrosit dapat terjadi apabila prekursor seperti zat
besi dan asam amino yang membantu dalam pembentukan eritrosit kurang.
Kurangnya prekursor tersebut dikarenakan adanya gangguan penyerapan
gizi yang berkurang sehingga dapat memengaruhi organ yang berperan
dalam produksi sel darah. Gagalnya pembentukan eritrosit akan
mengakibatkan bentuk eritrosit tidak teratur, memiliki membran sangat tipis,
besar, bentuknya oval yang berbeda dengan bentuk normal sehingga dapat
memengaruhi pengangkutan oksigen ke jaringan tubuh.
b. Leukosit
Leukosit merupakan sel darah yang memiliki inti. Leukosit memiliki
ukuran sel yang lebih besar, tetapi jumlah yang lebih sedikit dibandingkan
dengan eritrosit. Leukosit berfungsi sebagai sistem pertahanan tubuh
terhadap agen infeksi yang cepat dan kuat. Sistem pertahanan tersebut
dilakukan dengan cara menghancurkan antigen melalui fagositosis atau
pembentukan antibodi. Leukosit sebagian dibentuk di sumsum tulang dan
sebagian di organ limfoid seperti kelenjar limfe, timus, dan tonsil, kemudian
akan diangkut menuju bagian yang mengalami peradangan.
Leukosit dibagi menjadi dua kelompok yaitu granulosit yang terdiri
dari neutrofil, eosinofil, basofil dan kelompok agranulosit terdiri dari
monosit dan limfosit. Granulosit seperti monosit, eosinofil, dan basofil
jumlahnya sangat sedikit dalam kondisi normal, tetapi apabila terdapat
antigen maka jumlahnya akan meningkat.
c. Trombosit
Trombosit merupakan komponen sel darah yang tidak memiliki
nukleus. Trombosit dihasilkan oleh megakariosit dalam sumsum tulang,
memiliki bentuk cakram bikonveks apabila dalam keadaan tidak aktif.
Trombosit pada manusia berdiameter 2-4 μm dan memiliki volume 7-8 fL.
Trombosit memiliki selubung eksternal yang banyak mengandung
glikoprotein yang berfungsi sebagai reseptor. Ketika trombosit berada dalam
keadaan tidak aktif maka tidak teragregasi. Hal ini dikarenakan glikoprotein
pada selubung eksternal trombosit mengandung molekul sialic acid sehingga
selubung eksternal tersebut memiliki muatan negatif yang menyebabkan
adanya reaksi tolak-menolak. Trombosit berfungsi dalam hemostasis yang
berhubungan dengan koagulasi darah sebagai fungsi utama trombosit. Fungsi
koagulasi tersebut bermula dari melekatnya trombosit ke kolagen yang
terpapar dalam dinding pembuluh darah yang rusak. Trombosit selanjutnya
melepas ADP (Adenosin Dipospat) sehingga sejumlah besar trombosit
bersatu, kemudian melepaskan lipida yang diperlukan untuk pembentukan
bekuan.

3. Evaluasi Sediaaan Darah Tepi


a. Evaluasi Eritrosit
Eritrosit adalah sel darah merah yang paling banyak terdapat dalam
darah manusia sehingga berwarna merah. Sel ini berfungsi sebagai alat
transportasi oksigen dan nutrisi keseluruh tubuh. Komponen utama sel
darah merah adalah Hemoglobin yang terbentuk dari unsur besi dan
mampu mengikat oksigen. Hemoglobin inilah yang menyebabkan eritrosit
berwarna merah.
Pembentukan eritrosit berlangsung di dalam sum-sum tulang,
terutama sum-sum tulang belakang. Sel pembentuk eritrosit adalah
hemositoblas yaitu sel batang myeloid. Setiap harinya ada sekitar 200.000
sel darah merah yang di bentuk dan di rombak. Proses pembentukan
eritrosit disebut eritropoiesis. Pembentukan eritrosit distimulasi oleh
hormon eritropoietin (EPO) yang diproduksi oleh ginjal.
1. Morfologi Sel Eritrosit
Morfologi sel terdiri dari bentuk, warna, ukuran dapat diamati pada
sediaan apus dengan pewarnaan Giemsa/Wright/lainnya. Bentuk
normal bikonkav dengan diameter 6–8 µm warna kemerah-merahan.
Eritrosit normal berukuran sama dengan inti limfosit kecil pada
sediaan apus.
2. Kelainan MorfologiEritrosit
Kelainan morfologi eritrosit berupa kelainan ukuran (size), kelainan
bentuk (shape), kelainan warna (staining characteristics), dan benda-
benda inklusi. Berikut macam-macamkelainannya :
a. Kelainan ukuran :
1. Mikrosit : eritrosit lebih kecil daripada eritrosit normal, dengan
ukuran<6µm.
2. Makrosit : eritrosit lebih besar daripada eritrosit normal,
denganukuran>8µm.
3. Sferosit : eritrosit lebih kecil, lebih bulat, dan lebih padat warnanya
daripada eritrosit normal. Tidak didapat bagian yang pucat
ditengahsel.
4. Anisositosis : banyak diantara sel eritrosit lebih banyak bervariasi
dalam ukurannya daripada keadaan normal. Sering didapat
padaanemiaberat.
b. Kelainan bentuk :
1. Acanthosytes : ditandai dengan adanya proyeksi halus
dipermukaan erotrosit, menyerupai duri (kata Yunani : acantha :
duri).Kelainan bawaan yang jarang : acanthtocytosis,bisa
mencapailebih dari50 %.
2. Burr cell : menunjukkan proyeksi-proyeksi atau tonjolan-tonjolan
pendek misalnya pada uremia dan carsinomatosis. Bedakan dengan
acanthosit dan sel “crenated” (artefak).
3. “Crenated” : merupakan kelainan bentuk dari eritrosit
(poikilositosis) yang berbentuk seperti artefak. Krenasi berawal
dari sel eritrosit yang mengalami pengerutan akibat cairan yang
berada di dalam sel keluar melalui membran. (Mehta, Atul dan
Victor Hoffbrand. 2005). Morfologi krenasi dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor, misalnya terjadinya kesalahan pada prosedur
pemeriksaanpra-analitik
4. Eliptosit : bentuk seperti elip atau oval. Juga disebut ovalosit. Bila
ada dalam jumlah yang besar mungkin disebabkankarenaanomali
bawaan, ovalositosis.
5. Stomatosit : bentuk seperti topi Meksiko. Pusatnya tidak
hipokromtetapi berwarnamerah.
6. Leptosit : disebut juga sel target karena dibagian tengah eritrosit
yang pucat terdapat lingkaran berwarna merah dipusateritrosit.
7. Poikilositosis : bentuk tidak rata. Tergolong disini : sel burr,sel
buahjambu, dansebagainya.
8. Sabit / sickle : bentuk sabit. Berwarna lebih padat dari pada
eritrosit biasa. Didapat pada anemia hemolitik sel sabit.
9. Schistosit : hasil fragmentasi eritrosit, bisa berbentuk segitiga, elips
dengan indentasi atau sebagai sel dengan permukaan tidak rata.
c. Kelainan warna :
1. Hipokrom : warna pucat pada bagian tengah, erotrosit lebih besar
daribiasanya.
2. Polikromasia : mengikat zat warna asam sehingga disamping
warna merah ada kebiru-biruan. Pematangan sitoplasma lebih
lambat dibandingkan pematanganinti.
3. Anulosit : diameter cekungan ditengah eritrosit yang berwarna
lebih pucat dari darah tepi, berukuran besar (selhipokromekstrem).
4. Benda Heinz : berasal dari polimerisasi dan presipitasi molekul
(banyak) hemoglobin yang telah mengalami denaturasi. Benda
Heinz bisa multiple dan biasanya terletak di tepi.
d. Benda-benda inklusi:
1. BendaHowell-Jolly : inklusiberwarnabiru, tunggal atau berganda,
biasanya berada ditepi sel dan dapat berukuransampai1µm
diameter.
2. Cincin Cabot : cincin lembayung pada pusat eritrosit atauditepi.
3. Siderosit : ada granula besi yang tersebar tak merata. Memberikan
reaksi positif dengan pewarnaan Prussian Blue (birukehijauan).
4. Titik Basofil : eritrosit berisi granula biru kecil. Granula bisa
bersifat kasar. Sel itu sebenarnya retikulosit, didapat padaanemia
berat.
5. Eriteosit berinti : eritrosit yang mengalami maturasi normal.