Anda di halaman 1dari 2

SUKU ANAK DALAM

Suku Anak Dalam tidak memiliki kepercayaan seperti agama yang umumnya di anut di
Indonesia. Mereka hanya percaya pada sesuatu yang mereka anggap hebat dan berkuasa. Selain
itu, layaknya seorang Avatar, mereka mempercayai empat elemen seperti air,tanah, api dan angin
yang mereka anggap berkuasa.
Suku ini juga percaya jika roh orang yang telah meninggal akan langsung kembali ke surga.
Kembali ke tempat dimana mereka berasal dan diterima raja Nyawa. Itu sebabnya mereka
melakukan upacara penghormatan kepada orang yang meninggal dunia. Dengan begitu mereka
percaya roh tersebut tidak akan mengganggu mereka yang masih hidup dan segera ke surga.
Sosial Budaya Suku Anak Dalam
Suku Anak Dalam atau mereka menyebut diri  “Orang Rimba” yang berarti  orang yang tinggal
di dalam hutan merupakan suku yang terbelakang di Jambi. Sebagian besar dari mereka tinggal
di kawasan taman 12 dan taman nasional Bukit 30 di Kabupaten Bungo,Tebo, Sorolangun dan
Batanghari.
Suku ini hidup secara sederhana dengan hidup sederhana dan menghidupi diri dengan apa yang
tersedia di hutan. Berburu dan mencari buah-buahan atau tumbuh-tumbuhan adalah cara mereka
memenuhi kebutuhan hidup.
Di dalam hutan, mereka terbagi dalam beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok tersebut
memiliki pemimipin kelompok dan wilayah buruan masing-masing. Pemimpin kelompok mereka
sebut Tumenggung.
Pakaian sehari-hari suku ini adalah cawat bagi kaum laki-laki dan bawahan bagi  kaum
perempuan. Kain penutup dada kaum perempuan hanya mereka kenakan saat berinteraksi dengan
masyarakat luar.
Konon, Suku ini memiliki kekuatan supranatural yang tinggi. Sebuah mitos yang beredar
mengatakan, jika kita meludah didepan mereka dan ludah tersebut dilihatnya maka kita akan gila
dan bisa masuk ke komunitas mereka.
Aturan Hidup Suku Anak Dalam
Dalam menjalani kehidupannya sehari-hari, Suku Anak Dalam memiliki aturan-aturan adat yang
mesti diketahui dan ditaati oleh masyarakat setempat. Berikut 4 aturan hidup Suku Anak Dalam
yang perlu kita ketahui:
1. Pantang Dunia Terang
Masyarakat Suku Anak Dalam menyebut kehidupan di luar hutan rimba sebagai ‘dunia terang’.
Begitu pun dengan orang-orang yang tinggal di luas Suku Anak Dalam yang mereka sebut
sebagai masyarakat terang. Bagi mereka, berinteraksi dengan ‘dunia terang’ secara sistematis
dibatasi dan diatur tatanan adat.
Ada pula yang mengatakan, mereka percaya bahwa orang-orang ‘dunia terang’ merupakan
pemakan manusia. Itulah sebabnya Suku ini sangat berhati-hati jika berinteraksi dengan
masyarakat luar.
2. Melangun
Salah satu kebiasaan Suku Anak Dalam adalah hidup nomaden atau berpindah-pindah. Jika salah
satu anggota keluarga mereka ada yang meninggal, mereka akan meninggalkan tempat tinggal
mereka dan mencari tempat tinggal yang baru. Hal tersebut bertujuan untuk menghilangkan
kesedihan mereka. Kegiatan semacam ini mereka sebut Melangun. Mereka akan tetap Melangun,
hingga kesedihan akibat ditinggal orang yang dicintai hilang.
3. Larangan Berduaan
Dalam komunitas Suku Anak Dalam memiliki aturan keras mengenai laki-laki dan perempuan.
Mereka melarang keras laki-laki dan perempuan berduaan. Bagi yang ketahuan akan dikenakan
hukuman kawin paksa. Namun sebelum dikawinkan, mereka terlebih dahulu akan dihukum
cambuk rotan karena dianggap memalukan orang tua.
Selain itu, terdapat aturan lain. Bagi pria asing yang masuk hutan harus ditemani pria dari Suku
Anak Dalam. Setelah masuk pun, mereka harus meneriakkan “Ado jentan kiuna? (ada laki-laki
disana?)”  untuk memastikan apakah ada pria lain disana. Jika sudah mendapat jawaban, mereka
baru diperbolehkan masuk kedalam hutan.
4. Mandi
Suku Anak Dalam hidup bersahaja dengan alam.Mereka  hidup secara sederhana di dalam hutan.
Mereka terbiasa tidur dengan merebahkan diri di tanah. Namun ada beberapa kelompok yang
membangun tenda di dalam hutan. Untuk urusan mandi, mereka memanfaatkan sungai yang ada
di hutan.
Tidak perlu menggunakan sabun atau peralatan mandi lainnya, mereka cukup menyeburkan diri
ke sungai hingga mereka anggap bersih. Suku Anak dalam memiliki cara sendiri untuk bertahan
hidup. Bagaimanapun kehidupan dan kebudayaan mereka, mereka adalah bagian dari Indonesia.
Kebudayaan mereka adalah bagian dari Kebhinekaan Indonesia. Suku dan Kebudayaan kita
boleh berbeda, tetapi kita adalah Indonesia dan yang tidak kalah penting adalah Suku Anak
Dalam berhak mendapat perlakuan yang sama dari pemerintah.