Anda di halaman 1dari 14

MEDIA EKONOMI DAN MANAJEMEN

Vol. 30 No. 1 Januari 2015

DAMPAK IMPLEMENTASI DESENTRALISASI FISKAL TERHADAP


PERTUMBUHAN EKONOMI DAN STABILITAS HARGA
DI PROVINSI DI INDONESIA

Hadi Sasana
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro Semarang
Email : hadisasanasmg@yahoo.com

Abstrak
Desentralisasi fiskal dan pelaksanaan otonomi daerah meningkatkan kewenangan
pemerintah daerah untuk meningkatkan pendapatan mereka dan melakukan fungsi alokatif
dalam menetapkan prioritas pembangunan daerah. Desentralisasi fiskal dan pelaksanaan
otonomi daerah diharapkan untuk meningkatkan kesetaraan perkembangan lokal, sesuai
dengan motivasi pemerintah daerah untuk mengembangkan daerah mereka berdasarkan
potensi khusus mereka.
Penelitian ini dimaksudkan untuk menguji pengaruh desentralisasi fiskal terhadap
pertumbuhan ekonomi, dan inflasi di provinsi-provinsi di Indonesia. Analisis data dilakukan
dengan menggunakan regresi berganda.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, desentralisasi fiskal memiliki hubungan yang
positif tetapi secara statistik tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan
inflasi. Kedua, kerja berpengaruh positif signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Kata kunci: Desentralisasi fiskal, pertumbuhan ekonomi, inflasi, lapangan kerja.

Abstract
Fiscal decentralization and implementation of local autonomy enhance authority of
local governments to increase their income and to conduct allocative function in setting
priority of local development. Fiscal decentralization and implementation of local autonomy
are expected to improve equality of local developments, in accordance with the motivation of
local governments to develop their region based on their specific potentiality.
This study is intended to examine the influence of fiscal decentralization on economic
growth, and inflation in the provinces in Indonesia. Data analysis is conducted using
multiple regression.
The results of this study indicate that, fiscal decentralization has a positive relationship
but statistically were not significant effect on economic growth and inflation. Second,
employment significant positive effect on economic growth.

Keywords: Fiscal decentralization, economic growth, inflation, employment.

ISSN : 0854-1442 1
MEDIA EKONOMI DAN MANAJEMEN
Vol. 30 No. 1 Januari 2015

PENDAHULUAN secara signifikan. Sementara itu penelitian


Sasana (2005) menunjukkan bahwa
Latar Belakang
desentralisasi fiskal mampu mendorong
Kebijakan fiskal sebagai instrumen
pertumbuhan ekonomi lokal, tetapi
pemerintah berperan penting dalam
menciptakan kesenjangan ekonomi
mempengaruhi perekonomian. Instrumen
regional antar daerah. Penelitian Waluyo
fiskal tersebut berguna untuk mendorong
(2007) memperkuat temuan sebelumnya,
pertumbuhan ekonomi, menjaga stabilitas
bahwa desentralisasi fiskal berdampak
harga atau mengendalikan inflasi,
positif terhadap pertumbuhan ekonomi dan
memperluas basis kegiatan ekonomi
ketimpangan pendapatan antar daerah di
berbagai sektor, dan secara khusus
Indonesia.
memperluas lapangan usaha untuk
Desentralisasi fiskal berpotensi
menurunkan tingkat pengangguran
mengakibatkan instabilitas makro
(Mankew, 2003). Pelaksanaan
ekonomi. Studi empiris di Amerika Latin
desentralisasi fiskal yang diterapkan
oleh Vazquez dan McNab (2006)
Indonesia merupakan tantangan baru
membuktikan bahwa desentralisasi akan
dalam manajemen ekonomi makro
menimbulkan ketidakstabilan makro
Indonesia. Beberapa negara, seperti India,
ekonomi yang kemudian akan berakibat
Brasil, Rusia, dan Cina, pernah
menurunkan pertumbuhan ekonomi lokal.
menghadapi masalah stabilitas ekonomi
Studi Malik (2006) di Pakistan
makro yang pelik dan berkepanjangan
menemukan hasil yang positif antara
akibat kurang tepat dalam mengelola
desentralisasi fiskal terhdap stabilitas
pelaksanaan desentralisasi fiskal. Salah
makro ekonomi.
satu akar permasalahan ini adalah
Berdasarkan fakta empiris selama
perbedaan orientasi kebijakan ekonomi
tahun 2008-20012 menunjukkan bahwa
antara pemerintah pusat dan pemerintah
desentralisasi fiskal berpengaruh terhadap
daerah (Strauss et al, 2002).
kondisi sosial dan ekonomi makrodi
Kajian implementasi desentralisasi
Indonesia. Dampak implementasi
fiskal oleh Mahi (2001), Brodjonegoro
desentralisasi fiskal terhadap kondisi sosial
(2002), Pujiati (2007) menemukan bahwa
ekonomi selama beberapa tahun terakhir
desentralisasi fiskal di Indonesia telah
dapat dilihat pada tabel 1 sebagai berikut :
menyebabkan pertumbuhan ekonomi

Tabel 1. Realisasi Pengeluaran Daerah, Pertumbuhan Ekonomi, Penduduk Miskin,


Pengangguran, Inflasi, Tahun 2008-2012

Realisasi Transfer ke Daerah Pertb. Ekonomi Penganggur Inflasi


Tahun
(trilyun Rp) (%) (%) (%)
2008 292,63 6,0 ,39 11,10
2009 296,85 4,6 8,96 2,80
2010 316,71 6,2 8,12 6,96
2011 347,25 6,5 7,70 3,79
2012 399,97 6,2 7,24 4,30
Sumber : BPS, Depkeu, dan Tranparency International, beberapa tahun.

2 ISSN : 085-1442
MEDIA EKONOMI DAN MANAJEMEN
Vol. 30 No. 1 Januari 2015

Tabel 1 menunjukkan bahwa yang semakin cerdas (knowledge based


implementasi desentralisasi fiskal society) dan masyarakat yang semakin
berpengaruh positif terhadap pertumbuhan banyak tuntutannya (demanding
ekonomi, tetapi berkorelasi erat dengan community) (Mardiasmo, 2004).
instabilitas makro ekonomi (inflasi), dan Desentralisasi merupakan peralihan
pengangguran di Indonesia. Berdasarkan kewenangan dari lingkungan pusat
latar belakang dan data empiris terkait, (central government) ke lingkungan
paling tidak ada dua hal penting yang pemerintah daerah (local government),
melatarbelakangi penelitian ini. Pertama, untuk mengatur dan mengurusi daerahnya
desentralisasi fiskal yang ditengarai dapat berdasarkan kondisi riil yang
meningkatkan pertumbuhan ekonomi mengitarinya (Kaloh, 2002). Dalam
daerah dan kesejahteraan ternyata melaksanakan desentralisasi fiskal,
berdampak pada stabilitas makro ekonomi prinsip (rules) money should follow
(inflasi) Kedua, adanya research gap yang function merupakan salah satu prinsip
terjadi pada berbagai studi terdahulu yang harus diperhatikan dan
tentang pengaruh desentralisasi fiskal dilaksanakan (Bahl,2000). Artinya,
terhadap kinerja makro ekonomi dan setiap penyerahan atau pelimpahan
sosial. wewenang pemerintahan membawa
Tujuan Penelitian konsekuensi pada anggaran yang
Tujuan dari studi ini adalah : diperlukan untuk melaksanakan
1. Menganalisis pengaruh dampak kewenangan tersebut. Desentralisasi
pelaksanaan desentralisasi fiskal adalah penyerahan wewenang
terhadap pertumbuhan ekonomi. pemerintahan oleh pemerintah pusat
2. Menganalisis pengaruh tenaga kerja kepada daerah otonom untuk mengatur
terhadap pertumbuhan ekonomi dan mengurus urusan pemerintahan dalam
3. Untuk menganalisis pengaruh kerangka Negara Kesatuan Republik
pelaksanaan desentralisasi fiskal Indonesia (NKRI) (Kumorotomo,2008).
terhadap inflasi Berdasarkan uraian di atas urgensi
dari otonomi daerah dan desentralisasi
TELAAH PUSTAKA fiskal dapat dijelaskan dengan beberapa
Otonomi Daerah dan Desentralisasi alasan sebagai berikut (Bird and
Fiskal Vaillancourt, 2000):
Pengembangan otonomi pada daerah 1. Sebagai perwujudan fungsi dan peran
kabupaten dan kota diselenggarakan negara modern, yang lebih
dengan memperhatikan prinsip prinsip menekankan upaya memajukan
demokrasi, peran serta masyarakat, kesejahteraan umum (welfare state).
pemerataan dan keadilan, serta 2. Hadirnya otonomi daerah dapat pula
memperhatikan potensi dan didekati dari perspektif politik. Negara
keanekaragaman daerah. Selain birokrasi sebagai organisasi, kekuasaan yang
harus partisipatif, juga harus mampu didalamnya terdapat lingkungan
mendorong terciptanya good governance. kekuasaan baik pada tingkat
Perbaikan pelayanan publik oleh suprastruktur maupun infrastruktur,
pemerintah daerah di era desentralisasi cenderung menyalahgunakan
merupakan hal yang tidak dapat ditunda kekuasaan. Untuk menghindari hal itu,
lagi karena merupakan salah satu indikator perlu pemencaran kekuasaan
kesiapan daerah dalam menghadapi (dispersed of power).
globalissi yang sarat dengan persaingan
dan liberalisme, arus impor, investasi,
tenaga kerja, dan budaya, selain itu dari
sisi internal perbaikan pelayanan publik

ISSN : 0854-1442 3
MEDIA EKONOMI DAN MANAJEMEN
Vol. 30 No. 1 Januari 2015

3. Dari perspektif manajemen yang tinggi, karena administrasi


pemerintahan negara modern, adanya pemerintahan dan perizinan akan
kewenangan yang diberikan kepada mempengaruhi tingkat daya saing daerah
daerah, yaitu berupa keleluasaan dan dan juga produk-produk daerah, yang pada
kemandirian untuk mengatur dan gilirannya adalah sangat menentukan
mengurus urusan pemerintahannya, kinerja keuangan daerah atau negara.
merupakan perwujudan dari adanya
tuntutan efisiensi dan efektivitas Desentralisasi Fiskal dan Pertumbuhan
pelayanan kepada masyarakat demi Ekonomi
mewujudkan kesejahteraan umum. Menurut Abimanyu dan Megantara
Bahl (2000) mengemukakan dalam (2009) desentralisasi fiskal akan mampu
aturan yang keduabelas, bahwa meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan
desentralisasi harus memacu adanya kesejahteraan masyarakat, karena
persaingan di antara berbagai pemerintah sub nasional/pemerintah daerah
pemerintah lokal untuk menjadi akan lebih efisien dalam produksi dan
pemenang (there must be a champion for penyediaan barang-barang publik.
fiscal decentralization). Hal ini dapat Pengambilan keputusan pada level
dilihat dari semakin baiknya pelayanan pemerintah lokal akan lebih didengarkan
publik. Pemerintah lokal berlomba- untuk menganekaragamkan pilihan lokal
lomba untuk memahami benar dan dan lebih berguna bagi efisensi alokasi.
memberikan apa yang terbaik yang Bahl (2000) mengemukakan dalam
dibutuhkan oleh masyarakatnya, aturan yang keduabelas, bahwa
perubahan struktur ekonomi masyarakat desentralisasi harus memacu adanya
dengan peran masyarakat yang semakin persaingan di antara berbagai
besar meningkatkan kesejahteraan pemerintah lokal untuk menjadi
rakyat, partisipasi rakyat setempat dalam pemenang (there must be a champion for
pemerintahan dan lain-lain. fiscal decentralization). Hal ini dapat
Desentralisasi fiskal memang tidak dilihat dari semakin baiknya pelayanan
secara jelas dinyatakan dalam UU publik. Pemerintah lokal berlomba-
Nomor 33 Tahun 2004. Namun, lomba untuk memahami benar dan
komponen dana perimbangan merupa- memberikan apa yang terbaik yang
kan sumber penerimaan daerah yang dibutuhkan oleh masyarakatnya,
sangat penting dalam pelaksanaan perubahan struktur ekonomi masyarakat
desentralisasi. Dalam kebijakan fiskal, dengan peran masyarakat yang semakin
dana perimbangan merupakan inti dari besar meningkatkan kesejahteraan
desentralisasi fiskal. rakyat, partisipasi rakyat setempat dalam
Ratminto (2003) menyatakan, seiring pemerintahan dan lain-lain. Desentra-
dengan diberlakukanya otonomi daerah lisasi fiskal memang tidak secara jelas
dan perdagangan bebas peranan dinyatakan dalam UU Nomor 33 Tahun
administrasi pemerintahan dan perizinan 2004. Namun, komponen dana
menjadi sangat penting. Keberhasilan perimbangan merupakan sumber
pelaksanaan otonomi daerah sangat penerimaan daerah yang sangat penting
ditentukan oleh kinerja admnistrasi dalam pelaksanaan desentralisasi. Dalam
pemerintahan dan perizinan, karena kebijakan fiskal, dana perimbangan
masyarakat akan menilai baik buruknya merupakan inti dari desentralisasi fiskal.
otonomi daerah berdasarkan baik buruknya
administrasi pemerintahan dan perizinan. Pertumbuhan Ekonomi, Kemiskinan,
Sementara itu era perdagangan bebas dan dan Kesejahteraan
globalisasi juga menuntut tingkat kinerja Todaro (2003) menyampaikan tiga
administrasi pemerintahan dan perizinan faktor atau komponen utama dalam

4 ISSN : 085-1442
MEDIA EKONOMI DAN MANAJEMEN
Vol. 30 No. 1 Januari 2015

pertumbuhan ekonomi dari setiap negara. melebihi pertumbuhan konvensional.


Ketiga faktor tersebut adalah : akumulasi Pertumbuhan ekonomi penting untuk
modal, pertumbuhan penduduk, dan mempertahankan kesejahteraan rakyatnya,
kemajuan teknologi. namun pertumbuhan bukan akhir dari
Distribusi pendapatan yang baik pembangunan manusia. Pertumbuhan
adalah yang makin merata, tetapi tanpa hanyalah salah satu alat, yang lebih penting
adanya pertumbuhan ekonomi, yang terjadi adalah bagaimana pertumbuhan ekonomi
adalah pemerataan kemiskinan. digunakan untuk memperbaiki kapabilitas
Pertumbuhan ekonomi hanya akan manusianya dan bagaimana rakyat
menghasilkan perbaikan distribusi menggunakan kapabilitasnya tersebut.
pendapatan bila memenuhi setidak-
tidaknya dua syarat, yaitu memperluas METODE PENELITIAN
kesempatan kerja dan meningkatkan Penelitian ini dilakukan untuk
produktivitas. Dengan meluasnya menjawab pertanyaan mendasar, yaitu
kesempatan kerja, akses rakyat untuk apakah pelaksanaan otonomi dan
memperoleh penghasilan makin besar. desentralisasi fiskal berdampak positif
Menurut Todaro (2003) terdapat terhadap kinerja ekonomi, dan stabilitas
adanya hubungan yang negatif antara harga di daerah. Lokasi/daerah penelitian
kemiskinan dan kesejahteraan, karena meliputi semua daerah provinsi di
kemiskinan mempuyai aspek yaitu miskin Indonesia (33 provinsi) selama kurun
akan aset, organisasi sosial poitik, waktu tahun 2008 – 2012.
pengetahuan dan ketrampilan, miskin akan Untuk menjawab tujuan penelitian,
jaringan sosial, sumber-sumber keuangan yaitu dampak desentralisasi terhadap
dan informasi yang termanifestasikan kinerja ekonomi dan stabilitas harga
dalam bentuk kekurangan gizi, air, digunakan analisis multiple regression
perawatan kesehatan yang kurang baik, yang dikembangkan sebagai model untuk
dan tingkat pendidikan yang rendah, maka mempelajari pengaruh secara langsung dari
akan berpengaruh terhadap penurunan variabel independen terhadap variabel
kesejahteraan. dependen. Adapun model estimasi yang
United Nations Development dibangun adalah sebagai berikut:
Programe (UNDP) mulai tahun 1990 telah
menyusun suatu indikator kesejahteraan Y1 = β0 + βTPD + βTK + μ1
manusia yang dapat menunjukkan Y2 = δ0 + δ1TPD + μ2
kemajuan manusia berdasarkan faktor- Di mana :
faktor, seperti rata-rata usia harapan hidup, Y1 adalah pertumbuhan ekonomi
rata-rata lama sekolah, angka melek huruf, Y2 adalah inflasi
dan kesejahteraan secara keseluruhan. TPD adalah desentralisasi fiskal
Laporan ini menganggap bahwa TK adalah tenaga kerja
pembangunan manusia pada hakekatnya μ adalah disturbance term
adalah suatu proses memperbesar pilihan- Definisi operasional dari variabel-
pilihan manusia. Indikator kesejahteraan variabel penelitian ini adalah sebagai
masyarakat yang disusun oleh UNDP berikut :
dikenal dengan Human Development Index a. Desentralisasi Fiskal
(HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia Dalam penelitian ini, desentralisasi
(IPM)(UNDP,1994). fiskal diproksi dengan rasio realisasi
Human Development Index (HDI) total pengeluaran pemerintah daerah
merupakan perangkat yang sangat provinsi terhadap realisasi total
bermanfaat untuk mengukur tingkat pengeluaran pemerintah pusat.
kesejahteraan antar negara maupun antar b. Pertumbuhan Ekonomi
daerah (Todaro,2003). Indikator HDI jauh

ISSN : 0854-1442 5
MEDIA EKONOMI DAN MANAJEMEN
Vol. 30 No. 1 Januari 2015

Pertumbuhan ekonomi adalah Inflasi adalah proses kenaikan harga-


perubahan Produk Domestik Regional harga secara umum yang di proksi
Bruto (PDRB) per tahun menurut harga dengan indeks harga konsumen dengan
konstan tahun 2000, yang dinyatakan satuan persen
dalam satuan persen.
c. Tenaga Kerja Terserap HASIL DAN PEMBAHASAN
Tenaga kerja terserap adalah jumlah Pertumbuhan Ekonomi
penduduk berumur 15 tahun ke atas Indikator ekonomi makro yang bisa
yang melakukan pekerjaan dengan menggambarkan keadaan perekonomian
maksud memperoleh upah atau penduduk di suatu wilayah/daerah antara
membantu memperoleh pendapatan lain Produk domestik regional bruto
atau keuntungan, dengan lama bekerja (PDRB). Ukuran yang dapat dihasilkan
paling sedikit satu jam secara kontinyu dari penghitungan PDRB antara lain adalah
dalam seminggu yang lalu saat struktur ekonomi dan pertumbuhan
pendataan dilakukan, dalam satuan ekonomi suatu daerah. Gambaran
orang. pertumbuhan ekonomi daerah provinsi di
d. Inflasi Indonesia lima tahun terakhir dapat dilihat
pada gambar 1 :

Gambar 1. Pertumbuhan Ekonomi

Selama lima tahun terakhir kondisi belanja untuk tiap fungsi dan jenis belanja.
perekonomian makro di Indonesia Belanja ialah semua pengeluaran
mengalami fluktuasi. Secara umum, laju pemerintah daerah pada suatu periode
pertumbuhan ekonomi di daerah selalu anggaran. Dalam lima tahun terakhir
mengalami pertumbuhan positif tetapi kondisi fiskal Indonesia meningkat cukup
masih sangat variatif dan cenderung besar, hal ini akan memperkuat pendanaan
berfluktuasi. Hal ini terlihat dimana hanya pembangunan untuk penyediaan
daerah provinsi tertentu saja yang memiliki infrastruktur dan layanan publik. Gam-
PDRB tinggi. baran rasio realisasi antara total
Realisasi Pengeluaran Daerah pengeluaran daerah provinsi dengan
Terhadap Pusat pemerintah pusat dapat dilihat pada
Kebijakan fiskal pemerintah gambar 2 :
daerah dapat tercermin dari besaran alokasi

6 ISSN : 085-1442
MEDIA EKONOMI DAN MANAJEMEN
Vol. 30 No. 1 Januari 2015

Gambar 2. Rasio Realisasi Pengeluaran Daerah Terhadap Pusat

Seiring dengan meningkatnya baik di bidang ekonomi, sosial, maupun


kapasitas fiskal pemerintah alokasi dana politik. Stabilitas di bidang ekonomi makro
tranfer dari pemerintah pusat ke daerah sangat dipengaruhi oleh gejolak harga
juga meningkat tajam. Kondisi ini secara umum. Kondisi harga-harga yang
meningkatkan kemampuan fiskal daerah rendah dan terkendali menjadi ukuran
dalam mencapai tujuan pembangunan baik kinerja makro ekonomi yang baik dan
di bidang ekonomi maupun sosial. sangat diperlukan dalam upaya mencapai
sasaran-sasaran makro ekonomi.
Kondisi Inflasi Gambaran stabilitas harga selama lima
Dalam mencapai tujuan pem- tahun terakhir di daerah provinsi di
bangunan nasional diperlukan stabilitas Indonesia dapat dilihat pada gambar 3 :

Gambar 3. Inflasi

ISSN : 0854-1442 7
MEDIA EKONOMI DAN MANAJEMEN
Vol. 30 No. 1 Januari 2015

Secara umum perkembangan inflasi Ketenagakerjaaan


berfluktuasi, puncak pada era desentralisasi Jumlah tenaga kerja yang terserap di
terjadi pada tahun 2008, beberapa daerah berbagai sektor/lapangan usaha setiap
di Indonesia mengalami inflasi mencapai tahunnya selalu mengalami peningkatan,
angka dua digit. hal ini mengindikasikan bahwa angkatan
kerja yang memasuki dunia kerja selalu
meningkat. Kondisi angkatan kerja di
daerah selama lima tahun terakhir dapat
dilihat pada gambar 4 :

Gambar 4. Angkatan Kerja

Pembahasan supaya mampu menjadi daya ungkit


Setelah dilakukan deteksi asumsi pertumbuhan ekonomi yang relatif besar di
klasik, maka ringkasan hasil estimasi daerah di Indonesia.
pengaruh variabel independen terhadap Berdasarkan data PDRB daerah-
variabel dependen ditunjukkan pada Tabel daerah paling besar didominasi oleh sektor
2. industri pengolahan, dimana sebagian
Berdasarkan hasil estimasi antara industri tersebut adalah industri menengah
tenaga kerja terhadap pertumbuhan eko- dan besar yang padat modal, sehingga
nomi mempunyai pengaruh positif dan meskipun share terhadap ekonomi besar
secara statistik signifikan. Dengan tetapi penyerapan tenaga kerjanya relatif
demikian tenaga kerja mempunyai terbatas. Berdasarkan data tenaga kerja
pengaruh yang sangat penting dalam terserap di berbagai daerah, sektor
mendorong pertumbuhan ekonomi daerah penyerap tenaga kerja masih di dominasi
di Indonesia. Temuan empiris ini oleh sektor pertanian dan usaha kecil serta
menunjukkan bahwa tenaga kerja yang sektor informal.
sebagian besar berpendidikan rendah di
daerah harus ditingkatkan kualitasnya

8 ISSN : 085-1442
MEDIA EKONOMI DAN MANAJEMEN
Vol. 30 No. 1 Januari 2015

Tabel 2. Hasil Estimasi Variabel Independen Terhadap Variabel Dependen

1. Variabel dependen Pertumbuhan Ekonomi


Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

LNTK 1.046360 0.370006 2.827953 0.0053


LNTPD 0.227880 0.434692 0.524234 0.6008
C 22.35138 6.573022 3.400472 0.0008

R-squared 0.061832 Mean dependent var 6.329318


Adjusted R-squared 0.050250 S.D. dependent var 3.866058
S.E. of regression 3.767672 Akaike info criterion 5.508806
Sum squared resid 2299.647 Schwarz criterion 5.565278
Log likelihood -451.4765 Hannan-Quinn criter. 5.531730
F-statistic 5.338488 Durbin-Watson stat 1.124289
Prob(F-statistic) 0.005685

2. Variabel dependen : Inflasi


Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

LNTPD 0.042892 0.286238 0.149846 0.8811


C 3.720083 1.153478 3.225102 0.0015

R-squared 0.000138 Mean dependent var 3.551333


Adjusted R-squared -0.005996 S.D. dependent var 3.196308
S.E. of regression 3.205877 Akaike info criterion 5.179896
Sum squared resid 1675.257 Schwarz criterion 5.217544
Log likelihood -425.3414 Hannan-Quinn criter. 5.195178
F-statistic 0.022454 Durbin-Watson stat 1.419854
Prob(F-statistic) 0.881071

Pengaruh Desentralisasi Fiskal menyimpulkan ada perbedaan antara


Terhadap Inflasi. negara maju dengan negara berkembang,
Berdasarkan hasil estimasi antara dimana desentralisasi fiskal berkorelasi
desentralisasi fiskal terhadap inflasi di dengan rendahnya inflasi untuk negara
daerah provinsi di Indonesia, menunjukkan maju.
bahwa variabel desentralisasi fiskal Hasil penelitian ini juga
mempunyai arah positif tetapi secara mendukung hasil penelitian Aji, Toni dkk
statistik tidak signifikan terhadap stabilitas (2009) yang menyimpulkan bahwa dengan
ekonomi (inflasi). Hal ini mengandung semakin tinggi derajat desentralisasi fiskal
pengertian bahwa derajat desentralisasi maka akan semakin bersifat inflatoir.
fiskal bukan faktor utama penyebab Desentralisasi fiskal yang diproksi dengan
potensi terjadinya inflasi di daerah. rasio pengeluaran pemerintah daerah
Temuan dalam penelitian ini tidak terhadap pusat berdampak pada kenaikan
sejalan dengan penelitian-penelitian aggregate demand, tetapi alokasi penge-
sebelumnya, Feltenstein et all (2005) luaran tersebut tidak langsung untuk
menyimpulkan bahwa pergeseran aktifitas belanja barang dan jasa, namun sebagian
fiskal dari pemerintah pusat ke pemerintah besar untuk belanja pegawai yang secara
daerah di China berdampak terhadap langsung berpengaruh pada inflasi
inflasi. Hasil penelitian Treisman (2000) (instabilitas ekonomi makro).

ISSN : 0854-1442 9
MEDIA EKONOMI DAN MANAJEMEN
Vol. 30 No. 1 Januari 2015

Dalam penelitian ini, variabel berpengaruh positif terhadap pertumbuhan


desentralisasi fiskal menggunakan ekonomi tetapi secara statistik tidak
indikator pengeluaran. Hal ini dikarenakan signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa,
sisi pengeluaran yaitu belanja riil yang dengan desentralisasi fiskal (yang
telah dilakukan oleh pemerintah diyakini ditunjukkan oleh semakin besarnya rasio
akan mampu menjelaskan pengaruhnya realisasi pengeluaran total daerah terhadap
secara lebih baik dibanding sisi total pengeluaran pemerintah pusat) maka
penerimaan. Selain itu, Malik (2007) akan semakin meningkatkan pertumbuhan
berpendapat bahwa dalam sistem ekonomi daerah.
pemerintahan di mana pemerintah pusat
memiliki kewenangan dalam memungut Pengaruh Tenaga Kerja Terhadap
pajak-pajak strategis dan kemudian Pertumbuhan Ekonomi
mendisitribusikannya kepada pemerintah Masalah ketenagakerjaan
daerah sementara tanggung jawab merupakan masalah penting dalam makro
pengeluaran diberikan kepada pemerintah ekonomi, karena dari sisi penawaran
daerah, maka sisi pengeluaran merupakan (supply side) tenaga kerja merupakan salah
indikator derajat desentralisasi fiskal yang satu faktor produksi selain modal, dan
lebih baik dibandingkan dengan sisi teknologi. Tenaga kerja merupakan salah
pendapatan. satu faktor yang potensial untuk
Dalam konteks desentralisasi fiskal pembangunan ekonomi secara keseluruh-
di Indonesia, sebagian besar kewenangan an, dalam menentukan percepatan laju
untuk memungut pajak dan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi. Kesempatan kerja
penerimaan lainnya memang dimiliki oleh berubah dari waktu ke waktu, namun
pemerintah pusat, sementara daerah hanya sebenarnya penyebab perubahan
akan mendapatkan penerimaannya melalui kesempatan kerja tersebut bukan karena
transfer dana perimbangan yang terdiri dari waktu saja, tetapi bisa karena perubahan
dana bagi hasil, dana alokasi umum dan bidang ekonomi. Perubahan yang terjadi
dana alokasi khusus. Dengan demikian, pada situasi ekonomi membawa dampak
fokus derajat desentralisasi fiskal terhadap pada kesempatan kerja. Apabila
realisasi total pengeluaran akan menjadi perekonomian berkembang maka
lebih baik. penyerapan tenaga kerja akan bertambah,
sedangkan apabila perekonomian
Pengaruh Desentralisasi Fiskal menyusut atau lesu maka kesempatan kerja
Terhadap Pertumbuhan Ekonomi akan berkurang dan sebagai akibatnya
Melalui otonomi daerah dan tentu saja pengangguran akan bertambah.
desentralisasi fiskal, pemerintah daerah
memiliki wewenang untuk menggali PENUTUP
pendapatan dan melakukan peran alokasi Kesimpulan
secara mandiri dalam menetapkan prioritas Berdasarkan analisis hasil penelitian
pembangunan. Diharapkan dengan adanya dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan
otonomi dan desentralisasi fiskal dapat sebagai berikut :
lebih memeratakan pembangunan sesuai 1. Desentralisasi fiskal mempunyai arah
dengan keinginan daerah untuk positif terhadap laju pertumbuhan
mengembangkan wilayah menurut potensi ekonomi di daerah provinsi di
masing-masing sehingga mampu Indonesia tetapi secara statistik tidak
meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan. signifikan.
Berdasarkan hasil estimasi antara 2. Tenaga kerja berpengaruh positif dan
desentralisasi fiskal terhadap pertumbuhan secara statistik signifikan terhadap
ekonomi di Provinsi di Indonesia (Tabel pertumbuhan ekonomi di daerah .
4), menunjukkan bahwa desentralisasi Hasil ini sesuai hipotesis dua yang

10 ISSN : 085-1442
MEDIA EKONOMI DAN MANAJEMEN
Vol. 30 No. 1 Januari 2015

menyatakan bahwa tenaga kerja mengganggu kinerja ekonomi makro


berpengaruh signifikan terhadap daerah melalui penyediaan barang dan
pertumbuhan ekonomi di daerah jasa yang cukup serta meningkatkan
Provinsi di Indonesia. tabungan masyarakat.
3. Desentralisasi fiskal mempunyai arah
positif tetapi secara statistik tidak
signifikan terhadap inflasi di daerah DAFTAR PUSTAKA
Provinsi di Indonesia.
Abimanyu, A. dan Megantara, A. 2009.
Saran Era Baru Kebijakan Fiskal;
Berdasarkan kesimpulan yang Pemikiran, Konsep dan
dihasilkan dalam studi ini, maka Implementasi, Penerbit Kompas,
disampaikan beberapa saran yang Jakarta: Penerbit Kompas.
diharapkan berguna untuk kepentingan
praktis dan penelitiaan selanjutnya, yaitu : Bahl, R. W.,2000. China : Evaluating the
1. Dalam era desentralisasi fiskal di mana impact of Intergovemmental
daerah dituntut untuk bisa melakukan Fiscal reform dalam Fiscal
fungsinya secara efektif dan efisien, Decentralization in Developing
maka harus didukung dengan sumber- Countries. Edited by Richard M.
sumber keuangan yang memadai. Oleh Bird and Francois Vaillancourt,
karena itu pemerintah daerah United Kingdom : Cambridge
diharapkan mampu meningkatkan Univercity Press.
kapasitas fiskalnya, melalui: Biro Pusat Statistik, 2010. Pendapatan
pengembangan aktivitas ekonomi Regional Jawa Tengah.
berbasis komoditi unggulan daerah, Semarang : BPS dan BAPPEDA
dan melakukan intensifikasi dan Indonesia
ekstensifikasi pendapatan asli daerah.
2. Pemerintah daerah tidak hanya ,2010. Jawa Tengah
mengejar laju pertumbuhan ekonomi Dalam Angka. Semarang : BPS
yang tinggi, tetapi diharapkan lebih dan BAPPEDA Indonesia.
intensif melakukan pembangunan Bird, R. M., and Vaillancourt,F. 2000.
dengan berbasis manusia (human Fiscal Decentralization in
development) untuk meningkatkan Developing Countries, United
kesejahteraan masyarakat, melalui : Kingdom : Cambridge University
a. Peningkatan kualitas pendidikan, Press.
khususnya pendidikan dasar dan
Brodjonegoro, B.P.S. 2002. ”The impact of
menengah, sesuai dengan standar
decentralization processto the
pelayanan minimum yang ada
Indonesia regional economies : a
dengan menambah alokasi anggaran
simultaneous economic approach.
(20% dari APBD).
”. Indonesian Joumal of
b. Peningkatan pemenuhan kebutuhan
Economics and Development.
primer, pemerintah kabupaten/kota
Vol.3 No.2 Hal. 25-41. Januari
untuk meningkatkan kesejahteraan
2003. Jakarta: FE UI.
masyarakatnya diharapkan dapat
memenuhi kebutuhan dasar Cooper, D.R., and Emory, C.W. 2000.
warganya. Seperti jalan, irigasi, Business Research Methods, 5th
listrik, telekomunikasi, BBM, dan Richard D. Irwin Inc.
sebagainya. Demartoto, A. 2007. “Perilaku Korupsi di
3. Laju inflasi harus selalu diupayakan Era Otonomi daerah. Spirit
rendah terkendali supaya tidak Publik,Vol 3 No.2, pp. 89-102

ISSN : 0854-1442 11
MEDIA EKONOMI DAN MANAJEMEN
Vol. 30 No. 1 Januari 2015

Desta, Y. 2006. “Designing Anti- Kaloh, J, 2002. Mencari bentuk Otonomi


Corruption Strategies for Daerah, Jakarta : PT Rineka Cipta
Developing Countries:A Country Kartono, K. 2005. Patologi Sosial Jilid I,
Study of Eritrea”, Journal of Jakarta: PT.Raja Grafindo
Developing Persada
Deputi Bidang Politik, Pertahanan Dan Klitgaard. 2002. Penuntun Pemberantasan
Keamanan. Direktorat Aparatur Korupsi dalam Pemerintahan
Negara.2004. Pelayanan Publik Daerah, , Jakarta : Yayasan Obor
Di Era Desentralisasai Dalam Indonesia & Patnership for
Pelayanan Publik Jakarta: Info Governance in Indonesia.
Kajian Bapenas
Kumorotomo, W., 2008. Desentralisasi
Hastuti, E.S dan Haryanto, J. T. 2007. Fiskal : Politik dan Perubahan
“Studi Analisis Dampak Kebijakan 1994-2004. Jakarta:
Desentralisasi Fiskal Terhadap Kencana Prenada Media Group.
Pelayanan Sektor Publik. Jurnal
Ekonomi Indonesia. No.1 Juni ________2009. ”Indonesia Bebas Korupsi
2007. Bukan Utopi”. Simposium
Nasional 2009.Yogyakarta,28
Farah Dewi, S. N., “Analisis Pengaruh Februari 2009.
Korupsi terhadap Pertumbuhan,
Investasi Domestilçdan FDI”, Tesis, Mahi, R., 2001. Prospek Desentralisasi di
Program Pasca Saijana UI, Depok Indonesia Ditinjau dari Segi
2002. Pemerataan Antar daerah dan
Peningkatan Efisiensi. Analisa
Ferdinand, A. 2005. Structural Equqtion CSIS XXIX, Hal. 54-66, Jakarta :
Modeling Dalam Penelitian Indonesia Project, Jakarta.
Manajemen. edisi 3. Semarang :
BP UNDIP. Malik, S., Hasan,M., Husein, S. 2006.
Fiscal Decentralisation and
Goolsarran, Swatantra Anand, 2006. Economic Growth in Pakistan,
“Corruption:Its Nature, Causes, The Pakistan Development
and Effects Suggestion on the Review, 45(4), pp. 845-854
Way Forward”, The Journal of
Government Finacial Mankiw, N. G., 2003. Teori Makro
Management, Vol.55 (1),pp.60- Ekonomi. Jakarta: Erlangga.
64 Mardiasmo. 2004. Otonomi Dan
Hair, J, F., Anderson, R. E., Tatham R. L., Manajemen Keuangan Derah.
Black, W.C. 1995. Multivariate Yogyakarta : BPFE UGM
Data Analysis With Reading, Nugroho, R., 2003. Kebijakan Publik
New Jersey : Preactice Hal Formulasi Implementasi dan
International Evaluasi . Jakarata: PT Elex
Handayanto, J. 2003. Membagi Kinerja Media Komputindo:
Birokrasi Dalam Era Pigou, A.C M.A., 1960. The Economic of
Desentralisasai. Surabaya: FE Welfare. Fourth Edition,. London;
UNESSA Mac Millan & CO LTD.
Kalla, J. 2003. “Langkah Nyata Pujiati, A. 2007. “Pengaruh Dana Alokasi
Memperbaiki Mutu Pelayanan Umum (DAU) dan Pendapatan
Publik”. Jurnal Forum Inovasi, Asli Daerah (PAD) Terhadap
PPS-PSIA Fisip UI, Vol 8, Pertumbuhan Ekonomi: Studi
September 2003.

12 ISSN : 085-1442
MEDIA EKONOMI DAN MANAJEMEN
Vol. 30 No. 1 Januari 2015

Kasus Kabupaten/Kota di Jawa Ekonomi. Semarang: FE UNTAG


Tengah. Jumal Bisnis dan 2009. “Analisis Dampak
Ekonomi Vol.12 No. 2 Hal. 134- desentralisasi Fiskal Thd.
293, Semarang.: STIE Pertumbuhan Ekonomi dan
Stikubank. Tenaga Kerja di Kab./Kota di
Purwandi. 2000. Tingkat Kepuasan Jawa Tengah,” Jurnal Dinamika
Masyarakat di Kabupaten Sleman Ekonomi Pembangunan.
Terhadap Kinerja Aparatur Semarang: FE UNDIP
Pemerintah, Yogyakarta: Andi. 2009. Pengaruh Layanan
Ratminto. 2003. Kinerja Administrasi Umum Pada Sektor Publik
Pemerintah Di Bidang Perizinan. Terhadap Kepuasan Masyarakat
Semarang : FISIP UNDIP Dalam Era Otonomi Daerah di
Kota Semarang
Rachbini, D. J., 2010. Kolusi Pengusaha-
Penguasa, Kompas, selasa 16 2009. “Peran Desentralisasi
Januari 2010. Fiskal terhadap Kinerja Ekonomi
di Daerah provinsi Indonesia”
Salvator,B. and Strobl,E. 2006. “The
Jurnal Ekonomi Pembangunan,
Effect on Income Distribution
Volume 10 (1), pp. 103-124.
of Development, the Growth
Surakarta: FE UMS.
Rate and Economic Strategy”.
Joumal of Development 2010. “Pengaruh Layanan
Economic Vol.XX, Page.55-65. Umum Pada Sektor Publik
Terhadap Kepuasan Masyarakat
Sasana, H. 2003. Pengaruh Hubungan
Dalam Era Otonomi Daerah di
Fiskal Pemerintah Pusat-Daerah
Kota Semarang”, Jurnal Bisnis
Terhadap Pertumbuhan Ekonomi,
dan Ekonomi. Semarang : STIE
Jurnal Media Ekonomi dan
Stikubank
Bisnis, Semarang: FE UNDIP
2011. “Analisis determinan
2005.“Analisis Dampak
belanja daerah di daerah provinsi
Pelaksanaan Desentralisasi Fiskal
Daerah provinsi Daerah Istimewa
Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Yogyakarta dalam Era Otonomi
dan Kesenjangan di DIY”, Jumal
dan Desentralisasi Fiskal.” Jurnal
Bisnis dan Ekonomi Vol.12 No. 2
EKSIS. Jambi: FE UNBARI.
Hal. 134-293, Semarang.: STIE
Stikubank. Strauss, J., Beegle,K., Dwianto,A.,
Herawati,Y., Pattinasarany, D.,
2008. pengaruh penyediaan
Setiawan,E., Sikoki,B. Sukamdi,
pelayanan publik terhadap
dan Witular,F. 2002. Indonesian
kepuasan masyarakat di
Living Standards Three Years
Kabupaten Sragen Indonesia
After The Crisis : Evidence From
dalam era otonomi daerah”
The Indonesia Family Life Survey,
Jurnal Ekonomi dan
Laporan penelitian yang dibiayai
Bisnis.Semarang: STIE
oleh Partnership on Economic
Stikubank.
growth (PEG)-Usaid dan World
2009. “Analisis Dampak Bank, Yogyakarta.
Pertumbuhan Ekonomi,
Supriadi, A. Reformasi Birokrasi Dan
Kesenjangan Antar Daerah dan
Perbaikan Pelayanan Publik
Tenaga Kerja Terserap Terhadap
Dalam Paradigma Administrasi
kesejahteraan di Kab./Kota di
Negara Dan Peningkatan
Jawa Tengah” Jurnal Bisnis dan

ISSN : 0854-1442 13
MEDIA EKONOMI DAN MANAJEMEN
Vol. 30 No. 1 Januari 2015

Pofesionalisme Aparatur. Zuhro, R. S. 2011. ”Quo Vadis” Otonomi


Semarang : Dialogue. JIKAP Daerah? Harian Kompas, Selasa
26 April 2011
Tjiptono, F. 1997. Startegi Pemasaran.,
Penetuan Audit: Yogjakarta.
Todaro, Michael P. and Smith Stephen C.,
2003, Economic Development,
Eighth Edition, United Kingdom :
Pearson Education Limited.
Undang-Undang No. 32 Tahun 2004
Tentang Pemerintahan Daerah
Undang-Undang No. 33 Tahun 2004
Tentang Perimbanagan
Keuangan Antara Pusat dan
Pemerintah Daerah
UNDP,1994. Human Development Report.
New York : Oxford University
Press
Vazquez, M Jorge dan McNab M Robert,
2006. Fiscal Desentralization &
Economic Growth, Working
Paper, Andrew Young School of
Policy Studies, Georgia State
University.
Waluyo, J., (2007). Dampak Desentralisasi
Fiskal Terhadap Pertumbuhan
Ekonomi Dan Ketimpangan
Pendapatan Antardaerah Di
Indonesia, Parallel Session IA:
Fiscal Decentralization 12
Desember 2007, Wisma Makara,
Kampus UI – Depok.
Whithaker, William H. and Ronald
C.Federico, 1997. Social welfare
in Today’s World, Second
Edition. New York : The
McGraw-Hill Companies.
Widjaja Brata, Safaat and Nicholas M
Zacchea, 2004,”International
Corruption: The Republic of
Indonesia is Strengthening the
Ability of Its Auditors to Battle
Corruption”, The Joournal of
Government Finacial
Management, Vol.53 No.3

14 ISSN : 085-1442