Anda di halaman 1dari 16

Dampak Polusi Udara Dalam Ruang

Pada Kesehatan
2013-05-10 21:55:21
Share36

Pesan-Pesan Utama

1. Sekitar 40% rumah tangga di Indonesia masih akan terus menggunakan bahan
bakar biomassa tradisional (terutama kayu bakar ) untuk memasak. Hampir
semua rumah tangga ini ada di daerah pedesaan dan cenderung untuk terus
menggunakan bahan bakar biomass tradisional di masa mendatang.
2. Pembakaran bahan bakar biomass tradisional merupakan faktor resiko utama
pada kesehatan di Indonesia..Polusi udara dalam ruang yang diakibatkan oleh
penggunaan bahan bakar biomass tradisional merupakan penyebab kematian
dini yang diperkirakan sebesar 45,000 setiap tahunnya, dan yang paling
terkena akibatnya adalah wanita dan anak-anak.
3. Untuk mengurangi polusi udara dalam ruang, Indonesia perlu untuk
membangun pengalaman-pengalaman yang dimilikinya dan memberbesar
serta memperluas akses masyarakat pada cara memasak yang lebih
modernlebih bersih dan sehat. World Bank meluncurkan Initiatif TSHE
Indonesia untuk membantu meningkatkan akses pada TSHE yang efisien
melalui pembangunan kapasitas, pengembangan kebijakan, dan mendukung
rencana kerja pemerintah.

Mengapa polusi dalam ruang terkait dengan isu kesehatan?


 
Polusi udara dalam ruang yang diakibatkan karena pembakaran bahan bakar
biomassa padat dengan menggunakan tungku tradisional merupakan salah satu
faktor utama penyebab mortalitas dan penyebab berbagai penyakit.  Lebih dari
setengah penduduk dunia, masih menggunakan bahan bakar padat , seperti  kayu
bakar, sisa pertanian, kotoran sapi atau kerbau, dan juga batu bara sebagai sumber
bahan bakar utama untuk memasak di rumah tangga dan untuk menghangatkan
ruangan. Pembakaran bahan bakar padat dalam ruang dengan menggunakan tungku
tradisional menghasilkan partikel halus (PM) dalam jumlah besar dan juga polusi
polusi gas, yang dapat menyebabkan masalah kesehatan yang cukup serius pada
penduduk yang terpapar polusi. Tingkat emisi polusi udara dalam ruang yang
diakibatkan  penggunaan bahan bakar padat bisa mencapai  20 – 100 kali lebih
tinggi dibandingkan dengan bahan bakar yang bersih seperti LPG, dan seringkali 20
kali lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat polusi maksimum yang diperbolehkan
sesuai dengan aturan atau petunjuk  yang dikeluarkan oleh WHO dan standard
nasional seperti dapat dilihat pada tabel 1.

Asap dari bahan bakar memasak diperkirakan menyebabkan kematian dini sebesar
sekitar 2 juta orang di dunia per tahunnya – bahkan lebih besar dari pada kematian
yang disebabkan oleh gabungan dari malaria dan TBC.2Asap dari bahan bakar padat
merupakan faktor resiko ke sembilan sebagai penyebab penyakit dan sebagai
penyebab ke sepuluh pada tingkat mortalitas di dunia.
Wanita dan anak anak terutama di negara berkembang adalah kelompok yang paling
terkena dampak negative pada kesehatan  yang disebabkan oleh polusi udara dalam
ruang karena asap dari bahan bakar padat. Wanita dan anak-anak perempuan yang
lebih terkena dampak karena banyaknya waktu yang dihabiskan untuk memasak di
dapur. Terutama Anak-anak kecil  juga mudah terkena dampak nya karena mereka
banyak tinggal di dalam rumah dan hampir selalu di dekat ibunya, termasuk pada
waktu Ibunya sedang memasak.
 
Suatu meta-analisis dari studi-studi global tentang resiko pneumonia pada anak-anak
balita menunjukkan bahwa anak anak yang terpapar asap dari bahan bakar padat
beresiko 1.8 kali lebih besar untuk terkena pneumonia dari pada anak-anak yang
tidak terpapar (Smith et al. 2010). Analisis juga menunjukkan bahwa peningkatan
resiko untuk terkena penyakit-penyakit infeksi saluran pernapasan bawah (ALRI),
penyakit paru-paru obstruktif kronis (COPD), katarak, kanker paru-paru, dan penyakit
jantung cukup bervariasi – dari kurang dari 10 persen sampai bahkan 2 kali lebih
besar. Rerata, kemungkinan untuk terkena penyakit-penyakit yang disebutkan
terdahulu berkisar antara 78 persen untuk penyakit yang berhubungan dengan
pernapasan bagian bawah (ALRI) pada anak balita dan sampai 150 persen untuk
COPD pada wanita berumur di atas 15 tahun.3
 

 
 
Bagaimana Situasi Penggunaan Energi di Rumah Tangga di Indonesia?

Diperkirakan sekitar 40 persen rumah tangga di Indonesia masih menggunakan


bahan bakar biomassa tradisional sebagai bahan bakar untuk memasak. Walaupun
rumah tangga pengguna kayu bakar telah sedikit menurun akhir akhir ini – dari 49%
di tahun 2007 menjadi 40% pada tahun 2010 –pada tahun 2010, tetap masih ada
sekitar 24,5 juta rumah tangga yang masih menggunakan kayu bakar sebagai bahan
bakar utama memasak (gambar 1). Kayu bakar masih akan terus digunakan secara
dominan sebagai bahan bakar memasak di 18 dari 33 propinsi. Luasnya penggunaan
kayu bakar terutama disebabkan karena kurangnya akses masyarakat pada bahan
bakar maupun tungku yang yang lebih bersih, effisien  dan terjangkau harganya
(gambar 2).
Jumlah rumah tangga terbesar yang masih tergantung pada bahan bakar biomassa
untuk memasak ada di Propinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa barat. Pada
tahun 2007, di tiga propinsi ini bila digabungkan ada lebih dari 14 juta rumah tangga
pengguna kayu bakar untuk memasak, yaitu sekitar 53% dari total pengguna
nasional. Pada tahun 2010 jumlah ini berkurang sampai menjadi 11,7 juta, akan
tetapi ketiga propinsi ini tetap menunjukkan hampir setengah dari keseluruhan
jumlah pengguna kayu bakar di Indonesia (table 2).
 
Jumlah pengguna LPG meningkat lima kali lebih besar sebagai hasil dari program
konversi minyak tanah ke LPG yang dimulai tahun 2007. LPG menggantikan sebagian
besar pasar minyak tanah, yang membuat peningkatkan pengguna LPG dari 5,6 juta
di tahun 2007 menjadi 27,6 juta di tahun 2010. Oleh karenanya LPG menjadi bahan
bakar memasak yang dominan di 10 propinsi di Indonesia, dan pengguna minyak
tanah menurun menjadi hanya 7 juta pada tingkat nasional. Akan tetapi rumah
tangga pengguna LPG masih terkonsentrasi di pulau Jawa (Gambar 3).
Dampak pada Kesehatan Apa Saja yang disebabkan oleh Polusi Udara Dalam Ruang
di Indonesia ?

Indonesia menempati  posisi ke dua di Asia Timur dan Pasifik untuk tingkat 
mortalitas yang terkait dengan polusi udara dalam ruang yang diakibatkan oleh
pembakaran bahan bakar padat. Polusi  udara dalam ruang yang disebabkan oleh
penggunaan bahan bakar padat menjadi penyebab kematian dini lebih dari 45.000
orang di Indonesia setiap tahunnya. Khususnya penyakit paru-paru obstruktif kronis
(COPD) sebagai penyebab kematian terbesar dari total angka kematian
tersebut(Tabel.3).

Penggunaan kayu bakar sebagai bahan bakar memasak juga terkait dengan
meningkatnya resiko pada penderita asma, TBC paru, dan infeksi saluran pernafasan
pada anak-anak balita di Indonesia. Beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan
bahan bakar padat di Indonesia, terutama oleh masyarakat di daerah pedesaan,
sangat erat kaitannya dengan tingginya tingkat penyakit pernafasan (respiratori).
Misalnya, pengguna kayu bila dibandingkan dengan pengguna  LPG atau minyak
tanah untuk memasak memperlihatkan adanya peningkatan resiko terkena asma
sebesar 5,8 kali dan resiko terkena TBC 6 kali lebih besar (Aron 2004). Beberapa
studi lain menunjukkan bahwa para ibu-ibu yang biasa membawa anaknya di dapur
pada waktu mereka memasak juga meningkatkan resiko pada anak sebesar 2 – 6 kali
untuk terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan pneumonia. Kurangnya
ventilasi di dapur juga turut menambah semakin tingginya kejadian penyakit asma
sampai 6 kali lebih besar dan juga masalah ISPA yang lebih tinggi.
 
Apa yang dapat dilakukan untuk Mengurangi Polusi Udara Dalam Ruang dan
meningkatkan kualitas udara dalam ruang ?

Paparan polusi udara dalam ruang dapat dikurangi dengan menggunakan berbagai
pilihan teknologi, kondisi rumah, dan intervensi-intervensi terkait perilaku.
Konsentrasi polutan dalam ruang tergantung pada perpaduan dari bahan bakar dan
tungku yang digunakan (misalnya, tungku TSHE yang canggih dapat mengurangi
tingkat polusi udara dalam ruang sampai lebih dari 50%), desain rumah (misalnya,
ukuran luas rumah dan bahan konstruksi, pengaturan ruangan, dan ventilasi), dan
perilaku penggunaan tungku (misalnya, apakah bahan bakar padat dikeringkan
terlebih dahulu sebelum digunakan/dibakar). Selain tingkat polusi itu, seberapa
banyak paparan tergantung juga pada lamanya waktu yang dihabiskan di dapur atau
dekat tungku, melakukan kegiatan memasak, dan berbagai kegiatan masak-
memasak lainnya.

Mengganti bahan bakar dengan bahan bakar yang bersih (seperti, listrik, gas, LPG
atau biogas) adalah cara yang paling efektif untuk mengurangi polusi udara dalam
ruang dan merupakan hal yang perlu di promosikan. Akan tetapi rumah tangga di
pedesaan sepertinya masih akan terus menggunakan bahan bakar padat di masa
mendatang. Bahan bakar modern yang lebih bersih (seperti, gas alam, LPG, dan
listrik) biasanya lebih mahal dari pada bahan bakar padat, juga harga tungku atau
kompornya lebih mahal dan juga infrastruktur pasokan belum terbangun sehingga
penduduk di daerah pedesaan sulit untuk mendapatkannya. Sebaliknya, berbagai
macam bahan bakar biomassa tersedia di pedesaan dan secara tradisional
masyarakat hanya mengumpulkan untuk digunakan, tidak untuk dijual. Oleh karena
itu pergantian bahan bakar untuk memasak di daerah pedesaan sepertinya tidak
akan terjadi dalam jumlah besar sampai suatu saat bila kondisi ekonomi masyarakat
pedesaan telah benar-benar maju.

Dimana penggunaan bahan bakar padat berlanjut, cara yang paling efektif adalah
dengan promosi TSHE termasuk TSHE yang cukup canggih yang menggunakan bahan
bakar padat akan tetapi tidak mengakibatkan polusi atau bersih dan lebih efisien–
dan juga diikuti dengan kampanye penyadaran . Suatu generasi baru TSHE  dan juga
yang lebih efisien sekarang tersedia secara komersial di seluruh dunia, tetapi
mereka belum diperkenalkan dalam jumlah besar di Indonesia. Ada kebutuhan
mendesak untuk mengembangkan, mempromosikan, dan menggunakan generasi
baru TSHE yangcanggih yang secara  signifikan dapat mengurangi penggunaan
bahan bakar dan emisi dan dengan demikian meningkatkan kesehatan. Bagian
penting dari promosi adalah kampanye untuk meningkatkan kesadaran tentang
pengaruh negatif pada kesehatan dan dampak pada lingkungan dari penggunaan
tungku tradisional, memberikan motivasi untuk perubahan perilaku yang diperlukan
pada masyarakat lokal dan supaya mereka mau mengadopsi produk baru (World
Bank 2011a).

Langkah-langkah ke depan

Indonesia perlu belajar dan mengembangkan pengalaman-pengalaman yang ada


dalam program pengembangan dan penyebaran TSHE dan melakukan intervensi
secara lebih efektif yang secara simultan akan mengintervensi bidang konservasi
energi, kesehatan, kemiskinan , dan hal-hal terkait lingkungan . Program
pengembangan dan penyebaran TSHE di Indonesia telah dilakukan oleh banyak LSM
sejak awal 1980 an. Walaupun telah ada hasil-hasil yang didapat, program-program
tersebut umumnya masih pada tingkat pilot program dan jumlah total TSHE yang
disebarkan masih terbatas dan sporadis.

Program konversi Minyak Tanah ke LPG yang dilaksanakan oleh Pemerintah


Indonesia (2007 -12) menunjukkan kemajuan yang nyata  dalam memberikan
insentif-insentif pada rumah tangga untuk berubah, dari menggunakan minyak tanah
ke LPG. Program ini telah membantu mengurangi budget pada biaya subsidi minyak
tanah. Akan tetapi target dari program ini terutama adalah rumah tangga pengguna
minyak tanah dan hanya sedikit target yang mengena pada  pengguna bahan bakar
biomassa.  Oleh karena itu diperkirakan pada dekade mendatang, penggunaan
bahan bakar biomassa untuk memasak masih akan berlanjut dan dalam jumlah yang
cukup besar – dan bahkan ada kemungkinan mengingkat di beberapa daerah bila
tidak ada intervensi kebijakan yang signifikan.

Selain adanya implikasi positif pada kesehatan, peningkatan dan perluasan akses
pada TSHE juga akan merupakan langkah maju kedepan yang penting dalam
mengurangi kemiskinan, meningkatkan persamaan gender, dan meningkatkan
lingkungan baik lokal maupun global. Oleh karena itu sudah saatnya bagi Indonesia
untuk membangun berdasarkan pengalaman-pengalaman yang ada dengan
mempercepat dan memperbesar skala program yang bertujuan untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat dengan mengatasi berbagai hal yang disebutkan di atas
secara terkoordinasi .Seiring dengan program-program yang mempromosikan bahan
bakar yang pembakarannya bersih (seperti LPG dan biogas), perlu untuk
mengeksplorasi pilihan-pilihan lain, termasuk pengembangan generasi baru tungku
biomassa dengan pembakaran yang bersih yang inovatif, pengembangan teknik
pemasaran yang lebih baik untuk mempromosikannya, dan dorongan pada upaya
sektor swasta untuk memasarkan dan menjual TSHE  biomassa generasi baru yang
lebih canggih.

Mencapai akses universal pada pelayanan energi modern pada tahun 2030 adalah
tujuan yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa, mendeklarasikan 2012
sebagai tahun Energi yang berkesinambungan untuk semua. Indonesia, dengan
jumlah penduduk yang masih cukup besar yang masih kurang akses pada pelayanan
energi modern akan memegang peranan penting dalam mencapai tujuan global
tersebut. Untuk itu, World Bank di Indonesia bekerja sama dengan Direktorat
Bioenergi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencanangkan Program
Initiative TSHE Indonesia, yang bertujuan untuk membantu memberbesar dan
memperluas akses pada cara memasak yang efisien dan tidak mengakibatkan polusi
udara melalui pembangunan kapasitas, pengembangan kebijakan, dan dukungan
pada rencana kerja beberapa pemerintahan 

Tulisan ini ditulis oleh Yabei, Zhang dan Yun Wu, dengan masukan dari Dejan Ostojic,
Eva Jarawan, dan Doug Barnes. Temuan temuan, interpretasi, dan kesimpulan-
kesimpulan tidak mencerminkan pandangan dari para direktur eksekutif dari World
Bank ataupun dati Australian Agency for International Development

SABTU, 01 DESEMBER 2012

Makalah Kimia : Bahaya Penggunaan Kayu Bakar

BAB I

PENDAHULUAN

1.        LATAR BELAKANG

Sampai, saat ini, kayu cukup populer dijadikan bahan bakar tungku pemanas di negara dengan
empat musim. Sementara di kawasan pedesaan kayu juga masih dipakai sebagai bahan bakar untuk
memasak.

Tapi mungkin tak banyak yang sadar asap yang dihasilkan dari pembakaran kayu itu ternyata
berbahaya bagi kesehatan seperti layaknya polutan dari pembakaran mineral dan mesin kendaraan
bermotor.

Hal itu terkuak dari hasil studi para ilmuwan Denmark yang dipublikasikan dalam jurnal
dari American Chemical Society, Chemical Research in Toxicology. Hasilnya, partikel tak terlihat yang
terhirup ke paru-paru dari asap kayu bakar menimbulkan beberapa dampak yang merugikan kesehatan.

Steffen Loft, Ph.D., dan koleganya mengutip bukti ilmiah dari sejumlah studi yang menyebutkan
bahwa menghirup partikel halus dari polusi udara yang berasal dari dari knalpot kendaraan bermotor,
pembangkit tenaga listrik berbahan bakar batubara, dan sumber-sumber tertentu lainnya, memiliki
kaitan dengan penyakit jantung, asma, bronkhitis dan masalah kesehatan lainnya.

Namun, informasi yang terkait dengan dampak menghirup asap kayu bakar masih relatif sedikit,
walaupun jutaan orang di seluruh dunia menggunakan kayu untuk penghangat dan memasak.
Untuk itu, para ilmuwan itu menganalisis dan membandingkan partikel di udara dari kawasan
pedesaan di Denmark yang sebagian besar warganya menggunakan kayu bakar untuk memasak dan
pemanas dengan daerah pedesaan tetangga yang tak banyak menggunakan kayu bakar sebagai
penghangat atau memasak, serta partikel yang murni dikumpulkan dari asap kayu bakar.

Partikel udara di desa dan asap kayu bakar murni cenderung menjadi yang paling berpotensi
bahaya - karena ukuran partikel ini cukup kecil sehingga terhirup hingga ke bagian terdalam dari paru-
paru. Selain itu, asap kayu bakar mengandung kadar hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH) yang lebih
tinggi. 

Ketika diuji pada kultur sel manusia, asap murni dari kayu bakar ini juga menyebabkan
kerusakan lebih pada materi genetik (DNA), lebih menyebabkan peradangan, dan mempunyai aktivitas
lebih besar dalam membangkitkan gen yang dikaitkan dengan penyakit. 

B. RUMUSAN MASALAH
1.    Pengertian kayu bakar dalam kehidupan.
2.    Manfaat kayu bakar dalam kehidupan.

3.    Bahaya kayu bakar dalam kehidupan.

C. TUJUAN
1.    Untuk mengetahui pengertian penggunaan kayu bakar dalam kehidupan.
2.    Untuk mengetahui manfaat penggunaan kayu bakar dalam kehidupan.

3.    Untuk mengetahui bahaya penggunaan kayu bakar dalam kehidupan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Kayu Bakar adalah energi padat atau jumlah seluruh kayu kasar yang digunakan untuk bahan
bakar.

Kayu bakar merupakan sumber energi penting untuk memasak baik untuk rumah tangga
maupun industri rumah tangga di wilayah pedesaan. Hasil studi RWEDP menunjukkan bahwa
pertumbuhan  ekonomi  di  kawasan  Asia Tenggara  tidak  menurunkan  konsumsi  kayu  bakar
penduduk bahkan cenderung meningkatkan. 

Meskipun kebijakan konversi gas telah menyentuh wilayah pedesaan namun kenyataan
menunjukkan penggunaan kayu bakar tetap tinggi. Kajian ini dimaksudkan untuk mengetahui
penggunaan kayu bakar dan bahan bakar alternatif serta sumber kayu bakar di wilayah pedesaan di tiga
kabupaten di P. Jawa serta kebijakan yang terkait dengan kayu bakar.

Hasil kajian menunjukkan bahwa pengguna kayu bakar di tingkat rumah tangga di desadesa
sampel  di Kabupaten Banjarnegara,  Sukabumi  dan Lebak masih  cukup tinggi. Di  ketiga kabupaten
tersebut, jumlah desa yang sebagian besar rumah tangganya menggunakan kayu bakar berturut-turut
90%, 70%, dan 50%.  

Meskipun sebagian rumah tangga telah menggunakan gas, namun pada saat yang bersamaan
kayu bakar tetap dipergunakan. Sumber kayu bakar penduduk adalah kebun sendiri, kawasan hutan,
perkebunan, dan limbah industri kayu yang tersebar di wilayah pedesaan. 

Di negara-negara berkembang dunia termasuk Indonesia, masih banyak masyarakat yang


memasak dengan kayu bakar di dalam rumahTanpadisadari asap dari pembakaran tersebut telah
menjadi bencana dan membunuh sekitar 2 juta orang per tahun.

Asap pembakaran dari memasak dengan kayu bakar tersebut telah membuat banyak anggota
keluarga terpaksa menghirup gas beracun karbondioksida.

Data Clinton Global Initiative mencatat, asap dari memasak dengan kayu bakar di dalam rumah
telah menyebabkan kematian pada 1,9 juta orang yang kebanyakan dialami perempuan dan anak-anak.
Orang-orang ini tewas karena setiap hari selama bertahun-tahun menghirup asap dari kompor kayu di
dalam rumah.

Asap dari hasil memasak dengan tungku kayu itu telah membuat gas beracun membumbung di
dalam rumah. Gas ini telah menyebabkan penyakit pneumonia pada anak-anak, kanker paru-paru,
bronkitis dan penyakit kardiovaskuler.

Sedangkan efek lain dari memasak dengan kayu bakar adalah ikut memberikan kontribusi
terhadap perubahan iklim melalui emisi karbon dioksida dan metana yang dikeluarkan. Kedua gas ini
merupakan faktor utama penyebab gas rumah kaca.

Untuk mencegah terjadinya bencana keracunan asap akibat memasak dengan kayu bakar, kini
sejumlah aliansi global untuk penggunaan kompor yang lebih bersih (Global Alliance for Clean
Cookstoves) berusaha menyediakan dana untuk pengadaan kompor bersih.

Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mengumumkan rencananya untuk melawan bencana
asap beracun dari memasak dengan kayu bakar yang diyakini telah membunuh dua juta orang tiap tahun
itu.
“Cara memasak yang terlihat sederhana itu secara perlahan telah membunuh jutaan orang dan
mencemari lingkungan,” kata Hillary dalam konferensi pers Clinton Global Initiative didirikan oleh
suaminya, mantan presiden AS Bill Clinton seperti dilansir Reuters, Rabu (22/9/2010).

“Dengan menyediakan kompor yang sehat jutaan nyawa bisa diselamatkan. Ini seperti
pertolongan kelambu atau vaksin untuk mencegah penyakit,” ujar Hillary.

Pemerintah AS dan aliansi global seperti United Nations Foundation, WHO, Morgan Stanley dan
Shell akan berupaya mengumpulkan dana US$ 250 juta dalam 10 tahun ke depan.

Diharapkan sekitar 500 juta rumah tangga di seluruh dunia bisa menggunakan kompor yang
lebih baik untuk memasak dan tidak berbahaya.Rumah tangga tersebut nantinya bisa memasak lebih
baik dengan teknologi sederhana dan harga terjangkau. Dengan kompor yang lebih efisien maka
pembakaran bisa lebih baik dan mengurangi produksi asap.

Dari bebagai macam bahaya memasak dengan kayu bakar tetapi ada juga manfaatnya pada
jaman modern yang tengah berkembang dan penggunaan bahan bakar gas sudah merayap, tak
menyurutkan semangat pengelola sebuah warung  contohnya di Bondowoso, Jawa Timur, untuk tetap
mengelola masakan dengan menggunakan kayu bakar. Hal itu dipertahankan karena olahan makanan
dengan kayu bakar dianggap jauh lebih lezat.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

1.       PENGERTIAN KAYU BAKAR


Kayu Bakar adalah energi padat atau jumlah seluruh kayu kasar yang digunakan untuk bahan
bakar.

Kayu bakar merupakan sumber energi penting untuk memasak baik untuk rumah tangga
maupun industri rumah tangga di wilayah pedesaan. Hasil studi RWEDP menunjukkan bahwa
pertumbuhan  ekonomi  di  kawasan  Asia  Tenggara  tidak  menurunkan  konsumsi  kayu  bakar
penduduk bahkan cenderung meningkatkan. 

Meskipun kebijakan konversi gas telah menyentuh wilayah pedesaan namun kenyataan
menunjukkan penggunaan kayu bakar tetap tinggi. Kajian ini dimaksudkan untuk mengetahui
penggunaan kayu bakar dan bahan bakar alternatif serta sumber kayu bakar di wilayah pedesaan di tiga
kabupaten di P. Jawa serta kebijakan yang terkait dengan kayu bakar.

Hasil kajian menunjukkan bahwa pengguna kayu bakar di tingkat rumah tangga di desadesa
sampel  di Kabupaten Banjarnegara,  Sukabumi  dan Lebak masih  cukup tinggi. Di  ketiga kabupaten
tersebut, jumlah desa yang sebagian besar rumah tangganya menggunakan kayu bakar berturut-turut
90%, 70%, dan 50%.

Sumber kayu bakar penduduk adalah kebun sendiri, kawasan hutan, perkebunan, dan limbah
industri kayu yang tersebar di wilayah pedesaan.  

Kebijakan  atau  program  pemerintah  pusat maupun  daerah  yang  terkait  kayu  bakar
cenderung  lemah  sedangkan  kebijakan  kayu  bakar  Perum  Perhutani  cenderung  tetap  seperti
tercermin pada rencana produksinya.

2.        MANFAAT KAYU BAKAR

Kayu bakar sangat bermanfaat sebagai penghangat ruangan, bila sedang terjadi cuaca dingin
dan bermanfaat untuk memasak makanan. 

Dari bebagai macam bahaya dari memasak dengan kayu bakar inilah salah satu manfaatnya,
pada jaman modern yang tengah berkembang dan penggunaan bahan bakar gas sudah merayap, tak
menyurutkan semangat pengelola sebuah warung  contohnya di Bondowoso, Jawa Timur, untuk tetap
mengelola masakan dengan menggunakan kayu bakar. Hal itu dipertahankan karena olahan makanan
dengan kayu bakar dianggap jauh lebih lezat.

3.        BAHAYA KAYU BAKAR BAGI KESEHATAN

Dipedesaan kita jamak menemui ibu-ibu yang masih memasak dengan menggunakan kayu
bakar. Asap dari pembakaran ini cukup banyak bahkan kadang sering membuat batuk-batuk dan mata
pedih. Ternyata asap pembakaran kayu mempunyai efek yang merugikan bagi kesehatan seperti kanker
paru-paru, asma, tuberkulosis, katarak, jantung, bayi lahir dengan berat badan rendah, kebutaan,
bahkan berpengaruh terhadap kemampuan otak anak.

Dikutip dari nationalgeographic, Direktur Kesehatan Global dan Program Lingkungan Kesehatan
Masyarakat, University of California, Berkeley, Amerika Serikat, Kirk R. Smith mengatakan “bukan kayu
sebagai penyebab utama masalah kesehatan ini. Melainkan pembakarannya yang tidak
sempurna.  “Memang kelihatannya masalah alami. Tapi banyak masalah disebabkan oleh hal alami.
Malaria, gempa, gunung api, semua masalah alami”.
Biasanya ibu juga mengajak anaknya kedapur, asap pembakaran tidak sempurna ini mempunyai
dampak yang sama seperti rokok bahkan lebih berbahaya lagi karena asap ini jumlahnya sangat banyak.
Senyawa yang dihasilkan dari kayu bakar ini sama seperti membakar seribu rokok setiap jamnya, kata
Smith.

Berdasarkan data yang didapat, Smith mengakatakan bahwa “asap rumah tangga membunuh
dua juta orang setiap tahunnya diseluruh dunia”. Kebanyakan dari mereka adalah wanita dan anak-anak,
belum lagi dampak dari penurunan kemampuan kognitif anak, ini tentunya hal yang sangat disayangkan.

Polusi karena asap kayu bakar di Indonesia hampir menyamai India dimana Indonesia 40% dari
total rumah tangga sedangkan India sudah mencapai 50%. Solusi untuk masalah ini di Indonesia masih
belum ada karena terkait masalah ekonomi. Kayu bakar merupakan bahan bakar yang paling murah dan
banyak tersedia di alam sedangkan bahan bakar minyak sudah tidak disubsidi lagi oleh pemerintah dan
gas elpiji distribusinya belum merata. Apalagi didaerah pedalaman terutama di sekitar hutan, kayu bakar
sangat melimpah.

Ini masalah yang banyak terjadi di negara berkembang tetapi tidak menutup kemungkinan di
negera atau kota-kota besar. Di kota besar polusi juga tidak kalah banyak.

Ketua Departemen Kesehatan Lingkungan FKM UI, Budi Haryanto mengatakan ”masyarakat di


pedalaman Tanah Air harus mengerti bahaya yang mengancam dari asap ini.  Asap, baik dari rumah
tangga mau pun dari kebakaran hutan, menjadi masalah lingkungan besar bagi Indonesia”

Ditengah-tengah berbagai keterbatasan — masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang


kreatif. Dengan diketahuinya bahaya asap rumah tangga ini diharapkan akan muncul ide-ide kreatif
untuk mengurangi dampak kesehatan yang merugikan.

Ada sebuah cara lama yang menarik dan efektif untuk menjaga rumah tetap hangat pada musim
dingin yaitu dengan membakar kayu pada tungku pembakaran. Namun tanpa kita sadari asap dari kayu
pembakaran itu dapat membahayakan kesehatan.

Profesor Loft mengatakan partikel dari asap kayu dapat menyebabkan serangan jantung atau
penyakit paru-paru. Partikel itu merusak DNA manusia. Efek itu sama dengan efek dari asap dari
kendaraan bermotor.

Menurut Loft, skala penuh risiko itu memang belum diketahui tetapi di negara-negara
berkembang masih terdapat penduduk yang menggunakan kayu bakar di dalam rumah untuk memasak
dan sebagai sumber panas lainnya.

"Asap adalah penyebab utama penyakit," katanya dikutip Daily Mail. Loft mengatakan secara
individu partikel itu sangat kecil untuk dilihat dengan mata telanjang, tetapi mereka telihat di udara
sebagai asap.

Tim peneliti Profesor Loft menganalisa dan membandingkan partikel udara di sebuah desa di
Denmark dimana mayoritas penduduknya menggunakan kompor kayu bakar dengan sebuah daerah
pedesaan yang sedikit menggunakan kompor kayu bakar dan juga membandingkan asap murni dari kayu
bakar (WSPM) dengan asap partikel itu sendiri.

Menurut hasil yang dipublikasikan jurnal Chemical Research Toksikologi, ketika WSPM diuji pada
sel manusia, partikel itu dapat menyebabkan kerusakan DNA dan peradangan tingkat tinggi dari
karsinogen penyebab kanker.

Profesor Loft juga menemukan partikel asap kayu bakar di daerah pedesaan dapat mencemari
tanaman di sekitarnya, jika tanaman tercemar itu sampai dimakan manusia maka akan menyebabkan
kerusakan DNA pada sel-sel hati.

Loft menceritakan orang-orang yang tinggal di sekitar tempat pembakaran kayu sudah terkena
dampak kesehatan secara tidak langsung. "Aku sudah mendengar banyak keluhan dari orang-orang
yang marah kepada tetangga mereka lantaran menggunakan tungkupembakaran kayu karena dapat
menyebabkan asma," tambahnya."Masih ada langkah perbaikan dengan memotong tingkat emisi pada
kompor kayu bakar, tetapi paling penting adalah bagaimana cara kita menggunakannya."

Dengan memotong kayu kering kecil-kecil dan memastikan sirkulasi udara yang baik untuk
pembakaran, emisi partikel berbahaya dapat dikurangi, katanya.

Memasak dengan menggunakan kayu bakar biasanya dikaitkan dengan gangguan pernapasan.
Kini 2 studi baru menemukan hubungan asap kayu bakar dengan pneumonia dan juga penurunan IQ.

Dua studi baru yang dilakukan oleh University of California, Berkeley menuturkan populasi
perempuan dan anak-anak yang berada dalam kemiskinan sangat rentan mengalami efek kesehatan dari
paparan asap kayu bakar dan tungku yang kotor.

Pada studi pertama peneliti menemukan adanya penurunan sepertiga kasus pneumonia berat
pada anak-anak jika rumah tersebut memiliki cerobong asap untuk mengurangi paparan asap dari kayu
bakar.

Sedangkan studi kedua menemukan hubungan yang mengejutkan antara paparan asap kayu
pada ibu yang mengandung dengan performa yang buruk akibat adanya penurunan nilai IQ pada anak
usia sekolah dasar.

“Studi ini sangat penting bahwa ada bukti yang kuat untuk mengurangi paparan asap kayu
dalam rumah tangga serta dibutuhkan intervensi yang kuat di masyarakat seperti dalam hal vaksinasi
dan suplemen gizi,” ujar Kirk Smith dari UC Berkeley’s School of Public Health, seperti dikutip dari
ScienceDaily, Rabu (16/11/2011).

Peneliti menemukan penggunaan cerobong asap untuk membantu mengeluarkan asap dari
rumah atau memasak di luar rumah bisa membantu mengurangi risiko kesehatan secara signifikan
terutama kasus pneumonia berat.
“Jumlah asap yang diterima bayi dari kayu bakar ini sebanding dengan orang yang merokok 3-5
batang setiap harinya, tapi dengan cerobong asap bisa mengurangi setengah paparan asap,” ujar Smith.

Sedangkan pada studi kedua merupakan pertama kalinya menemukan hubungan paparan asap
kayu dengan tingkat karbon monoksida yang diukur secara individual selama trimester ketiga dan
hasilnya menunjukkan tes perkembangan saraf yang lebih rendah ketika anak-anak berusia 6-7 tahun.

“Saya kaget karena asap kayu selalu dianggap sebagai risiko untuk kesehatan pernapasan, tapi
ternyata turut mempengaruhi IQ. Temuan ini sangat mengkhawatirkan karena dampak dari
perkembangan saraf bisa mempengaruhi masa depan dan tingkat pendidikan,” ujar ketua studi Linda
Dix Cooper.

Pembakaran kayu ini tidak hanya mempengaruhi kesehatan tapi juga memberikan kontribusi
terhadap perubahan iklim serta adanya peningkatan tekanan pada sumber daya alam.

BAB IV

                          KESIMPULAN DAN SARAN      

A.      KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas menyimpulkan bahwa tidak semua kayu bakar banyak manfaatnya dan
menguntungkan untuk kesehatan kita. Disamping itu ia berperan juga sebagai pembawa penyakit yang
sebenarnya kita tidak sangka. 

Pengasapan yang dihasilkan kayu bakar tersebut ialah salah satu penyebab terjadinya gejala
batuk, mata menjadi perih dan nafas pun menjadi sesak.

Memang diantara keuntungan kayu bakar seperti, menjadikan makanan menjadi lebih lezat
dibanding dengan memasak menggunakan elpiji tapi resiko yang akan ditimbulkan secara langsung
berinteraksi adalah sangat besar.

B.       SARAN

Berhati-hatilah menggunakan kayu bakar untuk memasak dan menghangatkan tubuh, karena
asapnya sangat berpengaruh besar bagi kesehatan pernafasan kita.
Namun, cara memasak seperti ini ternyata mengundang bahaya kesehatan serius bagi
pelakunya. Asap pembakaran yang tidak sempurna dari kayu bisa menyebabkan kanker paru-
paru, kebutaan, jantung, bahkan pengaruh kognitif pada anak.