Anda di halaman 1dari 3

M.

Farras Febrian
30401900381
8 April 2020
UTS Pendidikan Agama Islam 3

1. Jika tidak ada sumber hukum yang mengatur mengenai masalah peraturan perburuhan di
alqur’an, hadits dan qiyas oleh karena itu oleh para ulama menjawab dengan melakukan
ijtihad istislahi, yang berdasarkan konsep kemaslahatan. Ditimbang-timbang mana yang
lebih besar maslahat atau mudaratnya. Prinsip kemaslahatan ini bertumpu pada maqasid
al-syari'ah dengan memperhatikan aspek dharuriyat, hajjiyat dan tahsiniyat. Dalam titik
ini, para ulama tetap berusaha merujuk ke nash Al-Qur'an dan Hadits, bukan dari aspek
kebahasaan atau hukum asal, tapi tujuan hukum Islam itu sendiri. Selain itu ada juga
mengatur masalah peraturan perburuhan dengan menggunakan aturan / hukum yang di
buat oleh Negara dan Internasional mengenai masalah peraturan perburuhan yang ada
saat ini.
2. Ketika jual beli yang tidak mengikuti persyaratan dalam islam maka transaksi jual beli itu
akan menjadi haram seperti :
1) Jual beli 'Inah : Ba'i 'inah yaitu: membeli barang dengan cara kredit kemudian
barang tersebut dijual kembali kepada penjual tadi secara tunai dengan harga
dibawah harga jual beli pertama. A datang ke sebuah showroom B dan membeli
motor seharga 13 juta rupiah dengan angsuran 1 juta per bulan. Setelah A
menerima motor, motor dijual kembali kepada showroom B seharga 10 juta
rupiah tunai.
Pada hakikatnya A menerima uang 10 juta rupiah tunai yang nanti dibayarnya 13
juta rupiah dalam jangka waktu 13 bulan dengan cicilan 1 juta per bulan. Ini sama
dengan A pinjam uang 10 juta rupiah dan dibayar 13 juta rupiah. Sedangkan
perpindahan barang hanya sekedar kedok untuk pelegalan riba.
2) Kafalah bil Ujrah : Pada dasarnya akad kafalah adalah transaksi yang dibolehkan.
Akan tetapi bilamana kafalah disertakan dengan ujrah (fee) maka akad ini
berubah menjadi akad yang tidak dibolehkan. Kafalah adalah: akad penjaminan
yang diberikan oleh penanggung (kafil) kepada pihak ketiga untuk memenuhi
kewajiban pihak kedua atau yang ditanggung (makfuul ‘anhu).
3. Tadlis adalah salah satu bentuk penipuan dalam berdagang, merupakan bentuk
ketidakjujuran seorang pedagang dalam menjalankan usahanya. Tadlis ini bisa terjadi
dalam empat hal, yaitu :
1) Tadlis dalam kuantitas adalah seperti pedagang yang mengurangi takaran
(timbangan) barang yang dijualnya.  Beras yang ditimbang mestinya 1 kg ternyata
tidak sampai 1 kg.
2) Tadlis dalam kualitas adalah seperti penjual yang menyembunyikan cacat barang
yang ditawarkannya. Misalnya pedagang buah yang menyembunyikan sebagian
buahnya yang kurang bagus dan dicampur dengan yang bagus supaya cepat
terjual. Penjual buku yang cacat tapi dibilang bagus, dan lain-lain.
3) Tadlis dalam harga contohnya adalah memanfaatkan ketidaktahuan pembeli akan
harga pasar dengan menaikkan harga produk di atas harga pasar. Misalnya taksi
yang menawarkan jasanya kepada turis asing dengan menaikkan harga di atas
harga normal.
4) Tadlis yang terakhir ialah tadlis waktu penyerahan, misalnya seorang pemimpin
proyek yang berjanji akan menyelesaikan dan menyerahkan proyeknya setelah 6
bulan mengerjakannya. Padahal dia mengetahui bahwa proyek ini tidak akan
selesai selama 6 bulan dan tidak akan bias diserahkan kepada pemiliknya.
Garar (Taqhrir) artinya keraguan, atau tindakan yang bertujuan untuk merugikan pihak
lain. Suatu akad mengandung unsur Garar, karena tidak ada kepastian, baik mengenai ada
atau tidak ada objek akad, besar kecilnya jumlah maupun menyerahkan akad tersebut.
Garar disebut juga tagrir adalah situasi di mana terjadi incomplete information karena
adanya ketidakpastian dari kedua belah pihak yang bertransaksi. Dalam tadlis yang
terjadi adalah pihak yang satu tidak mengetahui apa yang diketahui pihak yang lain.
Sedang dalam gharar atau tagrir, baik pihak yang satu dengan yang lainnya sama-sama
tidak mengetahui sesuatu yang ditransaksikan. Dalam situasi ketdakpastian ada lebih dari
satu hasil atau kejadian yang akanmuncul dengan probabilitas yang berbeda-beda.
Macam-macam Taghrir :
1) Taghrir dalam kuantitas Contoh taghrir dalam kuantitas adalah system ijon,
misalnya petani sepakat menjual hasl panenenya (beras dengan kualitas A) kepada
tengkulak dengan harga Rp. 750.000,- padahal pada saat kesepakatan dilakukan
sawah petani belum dapat di panen. Dengan demikian , kesepakatan jual beli
dilakukan tanpa menyebutkan spesipikasi mengenai berapa kuantitas yang di jual
(berapa ton, berapa kuintal misalnya) padahal harga sudah ditetapkan. Dengan
demikian terjadi ketidakpastian menyangkut kuantitas barang yang
ditransaksikan.
2) Taghrir dalam Kualitas Contoh taghrir dalam kualitas adalah menjual anak sapi
yang masih di dalam kandungan induknya.
3) Taghrir dalam Harga Taghrir dalam harga terjadi ketika, misalnya seorang penjual
menyatakan bahwa ia akan menjual satu unit panic merk ABC seharga Rp.
10.000,- bila dibayar tunai, atau Rp. 50.000,- bila dibayar kredit selama lima
bulan, kemudian si pembeli menjawab setuju. Ketidakpastian muncul karena
adanya dua harga dalam satu akad. Tidak jelas harga mana yang berlaku, yang
Rp.10.000,- atau yang Rp.50.000,-. Dalam kasus ini, walaupun kualitas dan
kuantitas barang sudah ditentukan, tapi terjadi ketidakpastian dalam harga barang
karena si penjual dan sipembeli tidak mensepakati satu harga dalam satu akad.
4. Ikhtikar (penimbunan) adalah membeli sesuatu yang dibutuhkan masyarakat, kemudian
menyimpannya, sehingga barang tersebut berkurang dipasaran dan mengakibatkan
peningkatan harga. Penimbunan seperti ini dilarang karena dapat merugikan orang lain
dengan kelangkaannya/sulit didapat dan harganya yang tinggi. Dengan kata lain
penimbunan mendapatkan keuntungan yang besar di bawah penderitaan orang lain.
Berdasarkan pengertian tersebut maka kegiatan menimbun dalam bulog tidak termasuk
dalam ikhtikar. Karena Bulog menimbun barang yang telah dibeli pada saat harga
bergejolak tinggi tidak untuk dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi dari harga
pasar.
5. Ta’alluq adalah ketergantungan akad dengan akad lainnya. Kesahihan suatu akad tidak
boleh ada ketergantungan dengan akad yang lain. Ta’alluq terjadi bila kita dihadapkan
pada dua akad yang saling dikaitkan, di mana berlakunya akad 1 tergantung pada akad 2.
Contoh: misalkan A menjual barang X seharga Rp120 juta secara cicilan kepada B,
dengan syarat bahwa B harus kembali menjual barang X tersebut kepada A secara tunai
seharga Rp100 juta. Transaksi tersebut haram, karena ada persyaratan bahwa A bersedia
menjual barang X ke B asalkan B kembali menjual barang tersebut kepada A. Dalam
kasus ini, disyaratkan bahwa akad 1 berlaku efektif bila akad 2 dilakukan. Penerapan
syarat ini mencegah terpenuhinya rukun. Dalam terminologi fikih, kasus di atas disebut
bai’ al-‘Inah.