Anda di halaman 1dari 5

Transfer Embrio merupakan suatu teknik yang dikenal juga dengan genetik

manipulation. Transfer embrio adalah suatu teknik dimana embrio (fertilized ova)
dikoleksi dari alat kelamin ternak betina menjelang nidasi dan ditransplantasikan ke
dalam saluran reproduksi betina lain untuk melanjutkan kebuntingan hingga
sempurnah, seperti konsepsi, implantasi/nidasi dan kelahiran. Keuntungan praktis dari
transfer embrio adalah untuk meningkatkan kapasitas reproduksi ternak yang
berharga. Untuk beberapa tahun peningkatan  mutu genetic ternak sapi telah
dilakukan dengan metode inseminasi buatan dengan memanfaatkan sisi pejantan.
Teknologi TE (transfer embrio) pada sapi merupakan generasi kedua bioteknologi
reproduksi setelah inseminasi buatan (IB). Pada prinsipnya teknik TE adalah rekayasa
fungsi alat reproduksi sapi betina unggul dengan hormon superovulasi sehingga
diperoleh ovulasi sel telur dalam jumlah besar. Sel telur hasil superovulasi ini akan
dibuahi oleh spermatozoa unggul melalui teknik IB sehingga terbentuk embrio yang
unggul. Embrio yang diperoleh dari donordikoleksi dan dievaluasi, kemudian
ditransfer ke induk resipien sampai terjadi kelahiran. TE memungkinkan induk
betina unggul memproduksi anak dalam jumlah banyak tanpa harus bunting dan
melahirkan. TE dapat mengoptimalkan bukan hanya potensi dari jantan saja tetapi
potensi betina berkualitas unggul juga dapat dimanfaatkan secara optimal.
Keberhasilan teknologi TE dengan menggunakan embrio baik secara in vivo maupun
in vitro ditunjukkan dengan keberhasilan menghasilkan anak yang dilahirkan dengan
kualitas yang di inginkan. Kesiapan ternak resipien sangat memegang peranan
penting. Koleksi dan TE saat ini sudah dapat dilakukan dengan cara non-operasi,
sehingga akan memudahkan pelaksanaannya disamping biayanya relatif lebih
ekonomis.

 Tahap Transfer Embrio


1. Seleksi
a. Pemilihan induk betina donor
 Induk donor harus memiliki karakter genetic superior antara lain:
-Kemampuan menghasilkan susu yang tinggi
-Tingkat pertumbuhan tinggi
-Kapasitas reproduksi yang baik 
 b.Pemillihan pejantan
Pejantan harus memiliki karakter genetic superior antara lain:
-Pejantan merupaka hasil seleksi genetic terbaik
 -Pejantan boleh berasal dari hasil kawin alam maupun IB
c.Pemilihan betina recipient
-Betina recipient harus memiliki organ reproduksi (uterus) baik 
-Betina recipient berfungsi sebagai induk pengganti/pembantu, tidak  perlu memiliki
syarat genetic tertentu. Dalam hal ini informasigenetik betina recipient tidak
sepenting informasi genetik induk  betina donor dalam hal seleksi.
-Betina recipient harus memiliki kemampuan memelihara/menjagakebuntingannya
serta kemampuan menghasilkan susu yang memadaiuntuk anaknya kelak.
2. Superovulasi
Perlakuan superovulasi bertujuan menginduksi banyak folikel berovulasi untuk
menghasilkan banyak oosit sehingga setelah difertilisasi akan dihasilkan banyak
embrio layak transfer dan memberikan tingkat kebuntingan yang diharapkan.
Pelaksanaan superovulasi secara tradisional dilakukan dengan penyuntikan hormon
Follicle Stimulating Hormone (FSH) pada pagi dan sore selama 3–4 hari dengan
dosis menurun untuk menstimulasi perkembangan folikel. Hormon FSH memiliki
waktu paruh biopotensi yang pendek sehingga umumnya perlakuan penyutikan FSH
secara intramuskuler dilakukan secara berulang untuk menimbulkan efek
superstimulasi pertumbuhan folikel pada sapi. Proses tersebut memerlukan alokasi
waktu yang lama (time consuming) dan diperlukan tenaga khusus dalam teknis
pelaksanaannya. Hormon PMSG (pregnant mare serum gonadotropin) juga digunakan dalam
super ovulasi. Penggunaannya tidak diijinkan secara komersial di AmerikaSerikat.
Biasanya digunakan dalam riset-riset di Eropa.
Penyerentakan Berahi
  3. 

Penyerentakan berahi atau sinkronisasi estrus adalah usaha yang bertujuan untuk
mensinkronkan kondisi reproduksi ternak sapi donor dan resipien. Sinkronisasi estrus
umumnya menggunakan hormon prostaglandin F2a (PGF2a ) atau kombinasi hormon
progesteron dengan PGF2a . Prosedur yang digunakan adalah:
a.    Ternak yang diketahui mempunyai corpus luteum (CL), dilakukan penyuntikan
PGF2a satu kali. Berahi biasanya timbul 48 sampai 96 jam setelah penyuntikan.
b.    Apabila tanpa memperhatikan ada tidaknya CL, penyuntikan PGF2a dilakukan dua
kali selang waktu 11-12 hari.
Penyuntikan PGF2a pada ternak resipien harus dilakukan satu hari lebih awal
daripada donor. Keadaan ini disebabkan karena pada ternak donor yang telah diberi
hormon gonadotropin, berahi biasanya lebih cepat yaitu 36 - 60 jam setelah
penyuntikan PGF2a, sedangkan pada resipien berahi biasanya timbul 48 - 96 jam
setelah penyuntikan PGF2a
4.Inseminasi Buatan
IB yang baik dilaksanakan 6 sampai 24 jam setelah timbulnya berahi. Berahi pada
sapi ditandai oleh alat kelamin luar (vagina) berwarna merah, bengkak dan keluarnya
lendir jernih serta tingkah laku sapi yang menaiki sapi lain atau diam apabila dinaiki
sapi lain. Pada program TE, IB dilakukan dengan dosis ganda dimana satu straw
semen beku biasanya mengandung 30 juta spermatozoa unggul.
5.Koleksi Embrio
Koleksi embrio pada sapi donor dilakukan pada hari ke 7 sampai 8 setelah berahi.
Sebelum dilakukan panen embrio, bagian vulva dan vagina dibersihkan dan
disterilkan dengan menggunakan kapas yang mengandung alkohol 70%. Koleksi
embrio dilakukan dengan menggunakan foley kateter dua jalur 16-20G steril
(tergantung ukuran serviks). Pembilasan dilakukan dengan memasukkan medium
flushing Modified Dulbecco Phosphate Buffered Saline (M-PBS) yang telah
dihangatkan di dalam waterbath 37°C.Embrio yang didapat dari pembilasan bisa
langsung di transfer ke dalam sapi resipien atau dibekukan untuk disimpan dan di
transfer pada waktu lain.
 6. Transfer Embrio
Terdapat dua metode TE yang digunakan yaitu metode pembedahan dan metode
tanpa pembedahan. Metode pembedahan dilakukan dengan jalan membuatan sayatan
di daerah perut (laparotomi) baik sayatan sisi (flank incici) atau sayatan pada garis
tengah perut (midle incici). Metode tanpa pembedahan dilakukan dengan
memasukkan embrio kedalam straw kemudian ditransfer kedalam uterus resipien
dengan menggunakan cassoue gun insemination.

Tiga (3) Faktor penting yang harus diperhatikan guna keberhasilan pelaksanaan
transfer embrio adalah :
1.    Kualitas embrio yang akan di transfer; umur,kualitas, jenis embrio (bela/segar)
metode pembekuan adanyakontaminasi atau infeksi pada embrio.
2.    Tingkat keterampilan petugas dalam mentranfer antara lain kemampuan
mendeposisikan embrio secara tepat (sepertiga apexcornua uteri) dan cepat, tidak
terjadi luka pada uterus, dan sapi tenang/tidak stres.
3.    Respon sapi resipien terhadap sinkronisasi, kondisi pakan yang digunakan,kondisi
tubuh dengan BCS (Body Condition Skor) sedang (2,8-3,5) tidak ditemukan
peradangan, kondisi ovarium dan CL normal dan penjagaan sapi jangan sampai stres.

MANFAAT DAN KEUNGGULAN TRANSFER EMBRIO


Adapun manfaat teknologi transfer embrio adalah:
1.    Meningkatkan mutu genetik ternak.
2.    Mempercepat peningkatan populasi ternak.
3.    Berpotensi mencegah berjangkitnya penyakit hewan menular yang ditularkan lewat
saluran kelamin.
4.    Mempercepat pengenalan material genetik baru lewat ekspor embrio beku.
5.    Meningkatkan penyediaan sumber bibit unggul.
6.    Memanfaatkan sapi lokal yang kurang unggul untuk menghasilkan keturunan yang
unggul.
7.    Meningkatkan pendapatan masyarakat
Keunggulan teknologi transfer embrio dibandingkan inseminasi buatan adalah:
1.    Perbaikan mutu genetik pada IB hanya berasal dari pejantan unggul sedangkan
dengan teknologi TE, sifat unggul dapat berasal dari pejantan dan induk yang unggul
2.    Waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh derajat kemurnian genetik yang tinggi
(purebred) dengan TE jauh lebih cepat dibandingkan IB dan kawin alam.
3.    Dengan teknik TE, seekor betina unggul mampu menghasilkan lebih dari 20 - 30
ekor pedet unggul per tahun, sedangkan dengan IB, hanya dapat menghasilkan satu
pedet per tahun.
4.    Melalui teknik TE dimungkinkan terjadinya kebuntingan kembar, dengan jalan
mentransfer setiap tanduk uterus (cornua uteri) dengan satu embrio.