Anda di halaman 1dari 15

Makalah

‘’PENDEKATAN DAN TEKNIK PEMBELAJARAN”


(Dibuat untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Strategi Pembelajaran yang diampu oleh
Ilyas Husain S.Pd, M.Pd)

Oleh
Kelompok 1 :
1. Saifullah Mamonto
2. Rendi Payuhi
3. Rahwilin Van Gobel
4. Rinna Amelia Polihito
5. Nur Aznia
6. Iin Nurmaningsih Taliki
7. Risnawati A. Mansur
8. Nuraiyin Anies

Kelas A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan yang Maha Esa, karena ia senantiasa


memberikan nikmatnya sehingga penyusunan makalah yang berjudul “Pendekatan
dan teknik pembelajaran’’ dapat diselesaikan dengan baik. Walaupun mungkin
dalam penulisan masih ada kesalahan dan kekeliruan namun penulis yakin bahwa
manusia itu tidak ada yang sempurna, mudah-mudahan melalui kelemahan itulah
yang akan membawa kesadaran kita akan kebesaran tuhan yang maha esa. Pada
kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih atas bantuan dan usaha yang
telah membantu saya dalam membuat makalah ini niscaya tanpa adanya bantuan
dari berbagai pihak penyusunan makalah ini tidak akan terwujud.
Penyelesaian makalah ini hanya dapat terlaksana karena bantuan pikiran,
tenaga dan moril dari berbagai pihak. Oleh karena itu saya menyampaikan terima
kasih. Akhir kata, penulis menyadari bahwa karya makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Sehingga segala kritik dan saran yang bersifat membangun
diharapkan  demi penyempurnaan makalah ini.

Gorontalo, April 2020

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................1
1.1 Latar Belakang.......................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................1
1.3 Tujuan Penulisan....................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN.....................................................................................3
2.1.................................................................................................................3
2.2.................................................................................................................4
2.3.................................................................................................................6
BAB III PENUTUP.............................................................................................16
3.1 Kesimpulan............................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam mencapai tujuan pembelajaran sanagt diperlukan kemampuan


guru untuk menciptakan situasi belajar sehingga siswa dapat berinteraksi
dengan guru secara intensif yang telah diprogramkan oleh guru. Situasi
pembelajaran yang memungkinkan terjadinya kegiatan belajar mengajar yang
optimal dipengaruhi oleh pendekatan dan teknik pembelajaran yang
digunakan.
Pendekatan pembelajaran adalah konsep dasar yang mewadahi,
menginspirasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan
cakupan teoritis tertentu. Teknik pembelajaran dapat diartikan sebagai cara
yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara
spesifik.
Berangkat dari metode, sebuah teknik pembelajaran, dapat diturunkan
secara aplikatif, nyata, dan praktis di kelas saat pembelajaran berlangsung.
Teknik adalah cara konkret yang dipakai saat proses pembelajaran
berlangsung. Guru dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor
metode yang sama.

Menurut klasifikasi superka, terdapat lima pendekatan pendidikan nilai


yang dalam konteks ini juga dapat dipertimbangkan dalam melaksanakan
pendidikan karakter yaitu pendekatan penanaman nilai, pendekatan
perkembangan moral kognitif, pendekatan analisis nilai, pendekatan
pembelajaran berbuat, dan pendekatan klarifikasi nilai (Zubaedi, 2011)

1.2 Rumusan masalah


1. Bagiamana pendekatan saintifik dalam pembelajaran ?
2. Bagaimana pendekatan sains, teknologi, dan masyarakat dalam
pembelajaran?
3. Bagiamana pendekatan dan teknik lainnya dalam pembelajaran ?
1.3 Tujuan
1. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui pendekatan saintifik dalam
pembelajaran
2. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui pendekatan sain, teknologi,
dan masyarakat dalam pembelajaran.
3. Mahasiswa diharapkan mampu mengetahui pendekatan dan teknik lainnya
dalam pembelajarn.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pendekatan Saintifik


Pembelajaran ilmiah Aqib (2006) mengungkapkan bahwa penerapan
pendekatan saintifik bertujuan untuk pemahaman kepada peserta didik dalam
mengenal, memahami berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah,
bahwa informasi bisa berasal dari mana saja, kapan saja, tidak bergantung
pada informasi searah dari guru.
Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran
yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif
mengkonstruksi konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan
mengamati, merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis,
mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik
kesimpulan dan mengkomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang
ditemukan (Setiana.2018).
Pendekatan saintifik dimaksudkan untuk memberikan pemahaman
kepada peserta didik dalam mengenal, memahami berbagai materi
menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi bisa berasal dari mana
saja, kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah dari guru. Oleh
karena itu kondisi pembelajaran yang diharapkan tercipta diarahkan untuk
mendorong peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber melalui
observasi dan bukan hanya diberi tahu (Kemendikbud, 2013).
Penerapan pendekatan saintifik dalam pembelajaran melibatkan
keterampilan proses seperti mengamati, mengklasifikasi, mengukur,
meramalkan, menjelaskan, dan menyimpulkan. Dalam melaksanakan proses
proses tersebut, bantuan guru diperlukan. Akan tetapi bantuan guru tersebut
harus semakin berkurang dengan semakin bertambah dewasanya peserta didik
atau semakin tingginya kelas peserta didik (Setiana.2018).
Proses pembelajaran dengan pendekatan saintifik terdiri dari lima
langkah pembelajaran, yaitu: mengamati (observing), menanya (questioning),
mengumpulkan informasi (experimenting), menalar/mengasosiasi
(associating), dan mengomunikasikan (communicating).
1. Mengamati (Observing)
Kegiatan pembelajaran pada tahap ini adalah mengamati dengan indra.
Menurut Mak, et al (2009), mengamati tidak hanya dilakukan melalui
melihat saja, tetapi bisa dilakukan melalui semua panca indera seperti
mendengar, mencium, merasa, dan meraba. Dalam kegiatan mengamati,
guru membuka secara luas dan bervariasi kesempatan peserta didik untuk
melakukan pengamatan melalui kegiatan: melihat, menyimak, mendengar,
dan membaca. Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan
pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat, membaca,
mendengar) hal yang penting dari suatu benda atau objek.
Kompetensi yang dikembangkan pada tahap ini adalah melatih
kesungguhan, ketelitian, dan mencari informasi. Bentuk hasil belajar dari
kegiatan mengamati ini dapat berupa perhatian pada waktu mengamati suatu
objek/membaca suatu tulisan/mendengar suatu penjelasan, catatan yang
dibuat tentang yang diamati, kesabaran, waktu (on task)yang digunakan
untuk mengamati.Hasil mengamati berupa informasi dari panca indera
diperlukan untuk menemukan solusi dari permasalahan. Selain itu informasi
dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti buku, pengalaman, orang lain,
internet dan sebagainya (Mak, et al, 2009).
2. Menanya (Questioning)
Kegiatan pembelajaran pada tahap ini adalah membuat dan mengajukan
pertanyaan, tanya jawab, berdiskusi tentang informasi yang belum
dipahami, informasi tambahan yang ingin diketahui, atau sebagai klarifikasi.
Dalam kegiatan menanya, guru membuka kesempatan secara luas kepada
peserta didik untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak,
dibaca atau dilihat. Guru perlu membimbing peserta didik untuk dapat
mengajukan pertanyaan: pertanyaan tentang yang hasil pengamatan objek
yang konkrit sampai kepada yang abstra berkenaan dengan fakta, konsep,
prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak. Pertanyaan yang bersifat
faktual sampai kepada pertanyaan yang bersifat hipotetik (Setiana.2018).
Dari situasi di mana peserta didik dilatih menggunakan pertanyaan
dari guru, masih memerlukan bantuan guru untuk mengajukan pertanyaan
sampai ke tingkat dmana peserta didik mampu mengajukan pertanyaan
secara mandiri. Melalui kegiatan bertanya dikembangkan rasa ingin tahu
peserta didik. Semakin terlatih dalam bertanya maka rasa ingin tahu
semakin dapat dikembangkan. Pertanyaan tersebut menjadi dasar untuk
mencari informasi yang lebih lanjut dan beragam dari sumber yang
ditentukan guru sampai yang ditentukan peserta didik, dari sumber yang
tunggal sampai sumber yang beragam.
Bentuk hasil belajar dari kegiatan menanya dapat berupa jenis,
kualitas, dan jumlah pertanyaan yang diajukan peserta didik (pertanyaan
faktual, konseptual, prosedural, dan hipotetik).

3. Mengumpulkan Informasi (Experimenting)


Kegiatan pembelajaran pada tahap ini adalah mengeksplorasi, mencoba,
berdiskusi, mendemonstrasikan, meniru bentuk/gerak, melakukan
eksperimen, membaca sumber lain selain buku teks, mengumpulkan data
dari nara sumber melalui angket, wawancara, dan memodifikasi/
menambahi/ mengembangkan.
Tindak lanjut dari bertanya adalah menggali dan mengumpulkan
informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara. Untuk itu peserta
didik dapat membaca buku yang lebih banyak,memperhatikan fenomena
atau objek yang lebih teliti, atau bahkan melakukan eksperimen. Dari
kegiatan tersebut terkumpul sejumlah informasi
Menurut Setiana (2018), dalam konteks saintifik, percobaan
merupakan uji di bawah kondisi kontrol untuk menyelidiki validitas
hipotesis. Dalam bahasa sehari-hari, eksperimen dapat diartikan sebagai
pengujian ide. Dalam konteks definisi pertama, mengkonfirmasi apakah
penjelasan dari observasi benar. Dalam konteks definisi kedua, memeriksa
apakah ide yang diusulkan untuk solusi adalah valid.
Bentuk hasil belajar dari kegiatan mengumpulkan informasi dapat
berupa jumlah dan kualitas sumber yang dikaji/digunakan, kelengkapan
informasi, validitas informasi yang dikumpulkan, dan instrumen/alat yang
digunakan untuk mengumpulkan data (Setiana.2018).
4. Menalar/Mengasosiasi (Associating)
Kegiatan pembelajaran pada tahap ini adalah mengolah informasi yang
sudah dikumpulkan, menganalisis data dalam bentuk membuat kategori,
mengasosiasi atau menghubungkan fenomena/informasi yang terkait dalam
rangka menemukan suatu pola, dan menyimpulkan.Informasi yang telah
diperoleh diolah untuk menemukan keterkaitan satu informasi dengan
informasi lainnya, menemukan pola dari keterkaitan informasi dan bahkan
mengambil berbagai kesimpulan dari pola yang ditemukan (Setiana.2018).
Bentuk hasil belajar pada kegiatan mengasosiasi dapat berupa
mengembangkan interpretasi, argumentasi dan kesimpulan mengenai
keterkaitan informasi dari dua fakta/konsep, interpretasi argumentasi dan
kesimpulan mengenai keterkaitan lebih dari dua fakta /konsep /teori,
mensintesis dan argumentasi serta kesimpulan keterkaitan antar berbagai
jenis fakta-fakta /konsep/ teori/ pendapat; mengembangkan interpretasi,
struktur baru,argumentasi, dan kesimpulan yang menunjukkan hubungan
fakta /konsep/ teori dari dua sumber atau lebih yang tidak bertentangan;
mengembangkan interpretasi, struktur baru, argumentasi dan kesimpulan
dari konsep/teori/pendapat yang berbeda dari berbagai jenis sumber
(Setiana.2018).

5. Mengomunikasikan
Kegiatan pembelajaran pada tahap ini adalah menyajikan laporan dalam
bentuk bagan, diagram, atau grafik; menyusun laporan tertulis; dan
menyajikan laporan meliputi proses, hasil, dan kesimpulan secara lisan.
Metode saintifik terdiri atas tiga langkah atau proses yang sering dilakukan
oleh para ilmuwan untuk menyelidiki sifat-sifat alam.Ketiga langkah atau
proses tersebut adalah sebagai berikut:
a. Mengamati (observing), memperhatikan beberapa sifat alam. Salah
satunyadikenali sebagai masalah yang membutuhkan perhatian.
b. Menjelaskan (explaining), mendefinisikan atau memodelkan. Deskripsi
tentatif atau hipotesis dirumuskan untuk menjelaskan suatu fenomena
dan memprediksi keberadaan fenomena lainnya.
c. Menguji (testing), prediksi tersebut kemudian diuji melalui eksperimen
(Setiana.2018).

2.2 Pendekatan Sain, Teknologi, dan Masnyarakat

2.2.1 Pengertian STM


Sains Teknologi Masyarakat (STM) merupakan terjemahan dari bahasa
Inggris “science technology society (STS)”, yaitu, suatu usaha untuk menyajikan
IPA dengan mempergunakan masalah-masalah dari dunia nyata. STM dalah
suatu pendekatan yang mencakup seluruh aspek pendidikan, yaitu tujuan,
topik/masalah yang akan dieksplorasi, strategi pembelajaran, evaluasi dan
persiapan/kinerja guru (Iskandar, 1996).
STM merupakan “an interdisciplinary approach which reflects the
widespread realization that in order to meet the increasing demands of a technical
society, education must integrate across disciplines” dengan demikian,
pembelajaran dengan pendekatan STM haruslah diselenggarakan dengan cara
mengintegrasikan berbagai disiplin (ilmu) dalam rangka memahami berbagai
hubungan yang terjadi di antara sains, teknologi dan masyarakat. Hal ini berarti
bahwa pemahaman kita terhadap hubungan antara sistem politik, tradisi
masyarakat dan bagaimana pengaruh sains dan teknologi terhadap hubungan-
hubungan tersebut menjadi bagian yang penting dalam pengembangan
pembelajaran di era sekarang ini (Nurohman, 2012).
Tiga landasan penting dari pendekatan STM, yaitu adanya keterkaitan
yang erat antara sains, teknologi, dan masyarakat, proses belajar mengajar,
pandangan konstruktivisme, yang pada pokoknya menggambarkan bahwa pelajar
membentuk atau membangun pengetahuannya melalui interaksi dengan
lingkungan, yang terdiri atas ranah pengetahuan, ranah sikap, ranah proses sains,
ranah aktivitas, dan ranah hubungan dan aplikasi (Rusmansyah, 2001).

2.2.2 Karakteristik STM

Joseph Piel dalam Mariana dan Praginda, (2009:33) membagi karakteristik


pendekatan STM menjadi empat antara lain :

1) Menggunakan sains untuk memperbaiki kehidupan dirinya dan untuk


menghadapi perkembangan teknologi.
2) Agar dapat menghadapi isu-isu teknologi dalam masyarakat dengan penuh
tanggung jawab.
3) Agar memahami pengetahuan dasar untuk dapat menangani isu-isu sains
teknologi masyarakat.
4) Mengetahui gambaran yang akurat tentang syarat-syarat atau kesempatan
kerja di dalam lapangan.

2.2.3 Landasan Pendekatan STM


Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) dilandasi oleh tiga hal penting
yaitu:
1) Adanya keterkaitan antara sains, teknologi, dan masyarakat
2) Proses pembelajaran menganut pandangan konstruktivisme, yang
menggambarkan bahwa siswa membentuk atau membangun
pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungan.
3) Pengajaranya terkandung lima ranah, yang terdiri atas ranah pengetahuan,
ranah sikap, ranah proses, ranah kreativitas, dan ranah hubungan dan
aplikasi.
2.2.4 Tujuan Pendekatan STM
Menurut Rusymansyah (2001), tujuan pendekatan STM secara umum antara lain
adalah :
1) Peserta didik mampu menghubungkan realitas sosial dengan topic
pembelajaran di dalam kelas
2) Peserta didik mampu menggunakan berbagai jalan/ perspektif untuk
mensikapi berbagai isu/ situasi yang berkembang di masyarakat
berdasarkan pandangan ilmiah
3) Peserta didik mampu menjadikan dirinya sebagai warga masyarakat yang
memiliki tanggung jawab sosial.

2.2.5 Ciri-ciri STM


Menurut Fajar, 2004. Program STM pada umumnya memiliki karakteristik/ciri-
ciri sebagai berikut :
1) Identifikasi masalah-masalah setempat yang memiliki kepentingan dan
dampak.
2) Penggunaan sumber daya setempat (manusia, benda, lingkungan) untuk
mencari informasi yang dapat digunakan dalam memecahkan masalah.
3) Keikutsertaan yang aktif dari siswa dalam mencari informasi yang dapat
diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-
hari.
4) Perpanjangan belajar di luar sekolah dan sekolah
5) Fokus kepada dampak sains dan teknologi terhadap siswa
6) Suatu pandangan bahwa isi dari pada sains bukan hanya konsepkonsep
saja yang harus dikuasai siswa dalam tes
7) Penekanan pada keterampilan proses dimana siswa dapat menggunakan
dalam memecahkan masalah
8) Penekanan pada kesadaran karir yang berkaitan dengan sains dan
teknologi
9) Kesempatan bagi siswa untuk berperan sebagai warga negara dimana ia
mencoba untuk memecahkan isu-isu yang telah diidentifikasi
10) Identifikasi bagaimana sains dan teknologi berdampak di masa depan.
11) Kebebasan atau otonomi dalam proses belajar.

2.2.6 Tahapan Pendekatan STM


Sedangkan tahapan dalam pendekatan STM menurut Asyari (2006) yaitu :
1) Tahap invitasi:
Pada tahap ini guru merangsang peserta didik mengingat atau
menampilkan kejadian-kejadian yang ditemui di masyarakat baik melalui
media cetak maupun media elektronik yang dapat merangsang siswa untuk
bisa ikut mengatasinya.
2) Tahap eksplorasi:
Pada tahap ini siswa melalui aksi dan reaksinya sendiri berusaha untuk
mencari jawaban sementara yang telah dibuat dengan mencari data dari
berbagai sumber informasi (buku, koran, majalah, lingkungan, nara
sumber, instansi terkait, atau melakukan percobaan) hasil yang diperoleh
peserta didik hendaknya berupa hasil analisis dari data yang diperoleh.
3) Tahap penjelasan dan solusi:
Pada tahap ini peserta didik diajak untuk mengkomunikasikan gagasan
yang diperoleh dari analisis informasi yang didapat, menyusun suatu
konsep baru, meninjau dan mendiskusikan solusi yang diperoleh. Sehingga
untuk memantapkan konsep yang diperoleh siswa tersebut guru perlu
memberikan umpan balik/peneguhan.
4) Tahap penentuan tindakan:
Pada tahap ini siswa diajak untuk membuat suatu keputusan dengan
mempertimbangkan penguasaan konsep sains dan keterampilan yang
dimiliki untuk berbagai gagasan dengan lingkungan, atau dalam
kedudukan peserta didik sebagai pribadi atau sebagai masyarakat.
Pengambilan tindakan ini diantaranya dapat berupa kegiatan pengambilan
keputusan, penerapan pengetahuan, membagi informasi, dan gagasan.
2.2.7 Sasaran Utama STM
Menurut Hamid (2008), nilai positif yang merupakan sasaran utama pendekatan
STM antara lain adalah :
1) Melalui pendekatan STM membuat pengajaran sains lebih bermakna
karena langsung berkaitan dengan permasalahan yang muncul dalam
kehidupan sehari-hari dan membuka wawasan siswa tentang peranan sains
dalam kehidupan nyata.
2) STM dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk mengaplikasikan
konsep, keterampilan proses, kreativitas dan sikap menghargai produk
teknologi serta tanggung jawab atas masalah yang timbul di lingkungan.
3) Pendekatan STM yang berorientasi pada “hand on activities” membuat
siswa dapat menikmati kegiatan-kegiatan sains dengan perolehan
pengetahuan yang tidak mudah terlupakan dengan demikian dapat juga
digunakan untuk menarik minat siswa dalam pembelajaran sains.
4) STM dapat memperluas wawasan siswa tentang keterkaitan sains dengan
bidang studi lain. Hal ini dapat terwujud karena dalam memecahkan
permasalahan alam di lingkungan, siswa tidak hanya mempelajari bidang
sains saja melainkan perlu berbagai bidang studi yang lain misalnya IPS,
matematika dan lain lain. Dengan demikian mereka akan menyadari
perlunya pemahaman ilmu secara holistik/menyeluruh sehingga terhindar
dari sikap skeptis atau pandangan yang sempit.
5) Lewat pendekatan STM dapat pula dikembangkan pembelajaran terpadu
atau”integrated learning, across curiculum” atau lintas bidang studi.
Daftar Pustaka

Asyari, Muslichah. 2006. Penerapan Sains Teknologi Masyarakat Dalam


Pembelajaran Sains Di SD. Depdiknas Dirjen Dikti Direktorat
Ketenangan.
Fajar, Arnie. 2004. Portofolio dalam Pembelajaran IPS. Rosda Karya. Bandung:
Penerbit Rosda Karya.
Hamid, S. 2008. Sains Teknologi Masyarakat. Makalah Pada Seminar Literasi
Sains Dan Teknologi. Balidbang Depdikbud. Jakarta. .
Mariana, A.M., dan Pragida W. 2009. Hakikat IPA dan Pendidikan IPA.
Bandung: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidikan dan
Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA).
Nurohaman, S. 2012. Penerapan Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat Dalam
Pembelajaran IPA Sebagai Upaya Peningkatan Life Skill Peserta Didik.
Skripsi Jurnal Pendidikan Fisika UNY. Yogyakarta.
Rusmansyah, Irhasyuarna, Y. 2001. Implementasi Pendekatan Sains Teknologi
Masyarakat (STM) dalam Pembelajaran Kimia di SMU N Banjarmasin.
Jurnal. http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/40/editorial40.htm - 34k -
Aqib,Z.2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : Rama Widya
Setiana, Dafid Slamet.2018. Meningkatkan Kemampuan Menyusun RPP Dengan
Pendekatan Saintifik Mahasiswa Pendidikan Matematika Uniersitas
Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta.Prosiding Seminar Nasional
MIPA.Magelang
Kemendikbud.2013.Pendekatan dan Strategi Pembelajaran. Jakarta

Zubaedi,2011. Desain pendidikan karakter konsepsi dan aplikasinya dalam


lemabaga pendidikan edisi pertama. Jakarta : Penerbit kencana