Anda di halaman 1dari 5

Nama : Salma Safitri

Nim : 170204072

Kelas : PSIK D3.1

SOP IRIGASI MATA

Definisi Irigasi mata merupakan suatu tindakan pencucian kantung konjungtiva


mata. Irigasi biasanya menggunakan akuades, saline, atau cairan antiseptik.
Teknik steril digunakan karena tindakan ini berhubungan dengan mukosa
mata.
Tujuan Membersihkan
Menghantarkan obat

Indikasi Cedera dekontaminasi kimiawi


Pembersihan debris (mis. debu) dari mata.

Kontrak Indikasi Bola mata terluka atau tertusuk

Penatalaksanaan Peralatan

 Tabung steril untuk tempat cairan


 Cairan irigasi dengan suhu 37° C
 Lakmus (penguji pH bila terpajan asam/basa)
 Irigator (contoh: selang infuse) atau spuit steril
 Bola kapas steril
 Bengkok steril
 Perlak
 Handuk
 Sarung tangan steril

Tindakan Terapeutik

 Mengucapkan salam terapeutik


 Melakukan validasi/ evaluasi
 Melakukan kontrak waktu
 Jelaskan prosedur kepada klien
 Mempersiapkan alat
 Mencuci tangan
 Bantu klien mengatur posisi duduk atau berbaring, miring kepala ke
arah mata yang sakit
 Tutup pakaian klien dengan handuk. Pasang perlak di bawah kepala
pasien
 Pasang bengkok di bawah mata yang sakit
 Pakai sarung tangan steril
 Bersihkan kelopak mata dan bulu mata dengan kapas yang telah
dibasahi cairan irigan, dengan arah dari kanus dalam ke kanus luar
 Dengan perlahan, retraksi kelopak mata dengan telunjuk dan ibu
jari tangan non dominan (umumnya kiri).
 Mulai alirkan irigan melalui irigator, pengang bagian distal irrigator
dengan tangan dominan (umumnya kanan) 2,5 cm diatas mata.
Aliran cairan harus mengalir dengan kecepatan sesuai kenyamanan
klien.
 Arahkan cairan irigan ke semua arah pada bila mata anterior, dari
kanus dalam ke kanus luar. Lanjutkan tindakan sampai air yang
keluar dari mata tampak bersih.
 Bila sudah selesai, bersihkan sekitar mata dengan cara mengusap
dari arah dalam ke luar
 Tutup mata bila diperlukan dan kaji respon
 Bereskan alat yang digunakan dan dokumentasikan

DAFTAR PUSTAKA
1. Kidd, Pamela, S. Sturt, Ann, S. Fultz, Julia. 2010. Pedoman Keperawatan Emergensi.
Jakarta: EGC
2. Potter, P.A, Perry, A. G (2005) Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses,
dan Praktik. Edisi 4.Volume 2.Alih Bahasa : Renata Komalasari, dkk. Jakarta: Salemba
Medika
3. Prigarjo, Robert. 2013. Teknik Dasar Pemberian Obat bagi Perawat. Jakarta: EGC
Oleh: Barlian, 2016
SOP IRIGASI TELINGA

Definisi Irigasi telinga adalah suatu tindakan medis yang bertujuan


untukmembersihkan liang telinga luar dari nanah, serumen, dan benda –
benda asing. Irigasi telinga adalah suatu usaha untuk memasukkan cairan
(air hangat kuku) ke dalam telinga. Tujuan: Untuk membersihkan atau
mengeluarkan benda asing dari dalam telinga.
Prinsip Kerja Irigasi telinga dapat dilakukan dengan menggunakan jarum suntik 50-60-cc
(suntik 20-30-cc untuk anak-anak). Beberapa perawat memilih untuk
melampirkan lubang yang besar IV (intravena) kateter (dengan jarum
dihapus) untuk jarum suntik untuk arah lebih mudah fluida. Dengan
menggunakan metode ini, cairan yang disedot ke dalam jarum suntik dan
disemprotkan ke dalam liang telinga. Metode lain menggunakan larutan IV
dan tubing, dengan konektor irigasi telinga pakai yang pas dan ke atas
telinga luar. Bila menggunakan metode ini, IV diaktifkan dan arus fluida
oleh gravitasi ke telinga untuk menciptakan irigasi. Bila menggunakan
metode IV, tas harus sekitar 6 inci (15 cm) atau kurang di atas kepala
pasien untuk menciptakan tekanan fluida yang tepat.

Setelah posisi pasien, daun telinga dari telinga yang terkena dampak harus
diadakan kembali, dan sampai (belakang dan ke bawah untuk bayi). Ujung
jarum suntik atau kateter irigasi harus ditempatkan di pintu masuk ke
telinga Jaringan telinga tidak boleh disentuh. Saluran telinga tidak boleh
tersumbat, atau solusi tidak akan dapat berlari kembali keluar dari telinga
Dengan lembut mengarahkan aliran larutan irigasi terhadap aspek atas dari
saluran telinga eksternal, perawat harus jarum suntik atau menjalankan
dalam cairan IV pada tingkat lambat, stabil, yang memungkinkan cairan
untuk melarikan diri keluar dari saluran telinga dan ke baskom. Jika
menggunakan alat PIK gigi, pengaturan terendah harus digunakan..
Mengerahkan terlalu banyak tekanan dapat memaksa benda asing atau
oklusi lilin lebih ke dalam liang telinga. Cairan kembali kemudian harus
diperiksa sebelum jarum suntik diisi ulang-atau setelah 100cc cairan untuk
dewasa, dan 30cc cairan bagi seorang anak. Perawat harus menyelidiki
apakah objek lilin atau asing telah mengguyur dari telinga. Bila oklusi telah
dihapus, 500cc cairan irigasi harus digunakan untuk-dewasa 100cc untuk
anak, atau seperti yang diperintahkan oleh dokter. Prosedur ini harus
terputus jika pasien mengeluh sakit atau pusing.
Indikasi a. Untuk mengeluarkan cairan, serumen, bahan-bahan asing dari kanal
audiotory eksternal.
b. Untuk mengirigasi kanal audiotory eksternal dengan lartutan
antiseptic.
c. Untuk menghangatkan atau mendinginkan kanal audiotory
eksternal

Kontrak Indikasi a. Perforasi membran timpani atau resiko tidak utuh (injurie sekunder,
pembedahan, miringitomi).
b. Terjadi komplikasi sebelum irigasi.
c. Temperatur yg ekstrim panas dapat menyebabkan pusing, mual dan
muntah.
d. Bila ada benda penghisap air dalam telinga, seperti bahan sayuran
(kacang), jangan diirigasi karena bahan2 tsb mengmbang dan sulit
dikeluarkan

Kemungkinan a. Ruptur (pecah) pada membran tympani.Kehilangan pendengaran.


Komplikasi b. Trauma/injury kanal teling dalam.
c. Vertigo, mual, nyeri selama dan setelah prosedur, stop segera bila
terjadi, kemudian ulangi lagi dan pastikan tekanan dan temperatur
yang cocok untuk mencegah berulangnya gejala.

Bahaya 1. Infeksi Pecahnya gendang telinga.


2. Ruptur membran timpani.
3. Kehilangan pendengaran.
4. Trauma/injury kanal telinga dalam.

Obat Irigasi 1. Diuretic


Telinga 2. Obat kemoterapi
3. Antimalaria
4. Obat anti – imflamasi
5. Bahan kimia
6. Antibiotika Aminoglikosida
7. Antibiotika lain

Alat dan Bahan Baki berisi alat – alat yang steril 

1. Mangkok kecil berisi cairan dengan suhu 37o c.


2. Semprot telinga.
3. Pinset telinga.
4. Corong telinga.
5. Pemilin telinga.
6. Pengail telinga.

Baki berisi alat – alat yang tidak steril :

1. Bengkok 1 buah.
2. Perlak dan alasnya.
3. Lampu spiritus.
4. Lampu kepala.
5. Kapas dalam tempatnya.
6. Ember kotoran

Prosedur Kerja 1) Beritahu tindakan apa yang akan dilakukan kepada klien.
2) Klien diberitahu dalam posisi duduk. Bila klien adalah anak kecil,
harus di pangku sambil dipegang kepalanya.
3) Perlak dan alasnya dipasang pada bahu dibawah telinga yang akan
dibersihkan
4) Pasang lampu kepala.
5) Perawat cuci tangan.
6) Bersihkan kotoran telinga dengan kapas, memakai pemilin kapas
yang telah di flamber terlebih dahulu.
7) Berikan bengkok pada pasien dan minta kerjasama pasien untuk
memegang bengkok dengan posisi di bawah telinga.
8) Hisaplah cairan dengan menggunakan semprit dan keluarkan udara
dari semprit.
9) Tariklah daun telinga klien ke atas kemudian ke belakang dan
dengan tangan yang lain perawat memancarkan cairan ke dinding
atas dari liang telinga. (Penyemprotan cairan harus perlahan – lahan
dan tepat ditujukan ke dinding atas liang telinga.)
10) Jika sudah bersih, keringkan daun telinga dengan kapas yang telah
dipilin dan di flamber.
11) Lihat atau periksa kembali liang telinga klien apakah sudah bersih
atau belum dengan menggunakan corong telinga
12) Perawat cuci tangan.
13) Bersihkan alat – alat.
14) Tulis hasil dalam catatan keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Gale, Danielle.RN,MS.,& Jane Charette, RN., 1996, Rencana Asuhan


Keperawatan Onkologi, EGC, Jakarta.
2. Price, Sylvia.A.,& Lorraine M.Wilson., 1995, Patofisiologi edisi 4 buku 2, EGC,
Jakarta.
3. Robbins & Kumar, 1995, Buku Ajar Patologi II edisi 4, EGC, Jakarta.