Anda di halaman 1dari 12

UNIVERSITAS INDONESIA

LINGKUNGAN DAN KESEHATAN GLOBAL

Analisis Dan Komunikasi Risiko Kesehatan

“Risk Assesment in Nutrition”

Asnani (1706093504)

Rain Dollar Sitinjak (1706094431)

Rizqie Putri Novembriani (1706004783)

Silva Dwi (1706094545)

Sherli (1706004852)

Stella Maris Bakara (1706094620)

Yulia (1706094816)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS INDONESIA

2017

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Hazard (bahaya)


Hazard atau bahaya merupakan sumber potensi kerusakan atau situasi yang
berpotensi untuk menimbulkan kerugian. Sesuatu disebut sebagai sumber bahaya
hanya jika memiliki risiko menimbulkan hasil yang negative (Cross, 1998).

Menurut Kolluru 1996, hazard adalah sesuatu yang berpotensi menyebabkan cedera.

Menurut Tranter 1999 bahaya diartikan sebagai potensi dari rangkaian sebuah
kejadian untuk muncul dan menimbulkan kerusakan atau kerugian. Jika salah satu
bagian dari rantai kejadian hilang, maka suatu kejadian tidak akan terjadi. Bahaya
terdapat dimana-mana baik di tempat kerja atau di lingkungan, namun bahaya hanya
akan menimbulkan efek jika terjadi sebuah kontak atau eksposur.

2.2 Definisi Risiko

Risiko menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah akibat yang kurang
menyenangkan (merugikan,membahayakan) dari suatu perbuatan dan tindakan.

Menurut Arthur J. Keown (2000), resiko adalah prospek suatu hasil yang tidak disukai
(operasional sebagai deviasi standar).

Risiko adalah sebagai peluang munculnya suatu kejadian yang dapat menimbulkan
efek terhadap suatu objek. Risiko diukur berdasarkan nilai likelihood (kemungkinan
munculnya sebuah peristiwa) dan Consequence (dampak yang ditimbulkan oleh
peristiwa tersebut).

Dalam buku Risk Assement and Management Handbook:For Enviromental, Health,


and Safety Profesional, risiko dibagi menjadi 5 (lima) macam, antara lain :

1. Risiko Keselamatan (Safety Risk)


Risiko ini secara umum memiliki ciri – ciri antara lain probabilitas rendah (low
probability), tingkat pemaran yang tinggi (high level exposure), tingkat
konsekuensi kecelakaan yang tinggi (high consequence accident), bersifat akut,
dan menimbulkan efek secara langsung. Tindakan pengendalian yang harus
dilakukan dalam respon tanggap darurat adalah dengan mengetahui penyebabnya
secara jelas dan lebih fokus pada keselamatan manusia dan pencegahan timbulnya
kerugian terutama pada area tempat kerja.
2. Risiko Kesehatan (Health Risk)
Risiko ini secara umum memiliki ciri – ciri antara lain probabilitas tinggi (high
probability), tingkat pemaran yang rendah (low level exposure), tingkat
konsekuensi yang rendah (low consequence), memiliki masa laten yang panjang
(long latency), delayed effect (efek tidak langsung terlihat), dan bersifat kronis.
Hubungan sebab akibatnya tidak mudah ditentukan. Risiko ini fokus kepada
kesehatan manusia terutama yang berada diluar tempat kerja atau fasilitas.
3. Risiko Lingkungan dan Ekologi (Enviromental and Ecological Risk)
Risiko ini memiliki ciri – ciri antara lain melibatkan interaksi yang beragam
antara populasi dan komunitas ekosistem pada tingkat mikro maupun makro, ada
ketidakpastian yang tinggi antara sebab dan akibat, risiko ini focus terhadap
habitat dan dampak ekosistem yang mungkin bisa bermanifestasi jauh dari
sumber risiko.
4. Risiko Kesejahteraan Masyarakat (Public Welfare/Goodwill Risk)
Ciri dari risiko lebih berkaitan dengan persepsi kelompok atau umum tentang
performance sebuah organisasi atau produk, nilai property, estetika, dan
penggunaan sumber daya yang terbatas. Fokusnya pada nilai – nilai yang terdapat
dalam masyarakat dan persepsinya.
5. Risiko Keuangan (Financial Risk)
Ciri – ciri dari risiko ini antara lain memiliki resiko jangka panjang dan jangka
pendek dari kerugian property, yang terkait dengan perhitungan asuransi, dan
pengembalian investasi. Fokusnya diarahkan pada kemudahan pengoperasian dan
aspek finansial. Risiko ini pada umumnya menjadi pertimbangan utama,
khususnya bagi stakeholder seperti para pemilik perusahaan/pemegang saham
dalam setiap pengambilan keputusan dan kebijakan organisasi, dimana setiap
pertimbangan akan selalu berkaitan dengan finansial dan mengacu pada tingkat
efektifitas dan efesiensi.
2.3 Bahaya Lingkungan

Segala zat, organisme atau energi yang mempunyai kapasitas atau potensi
menimbulkan cidera, sakit atau mati. Macam – macam bahaya lingkungan yaitu zat kimia
toksik, energi radiasi dan gelombang elektromagnetik, organisme pathogen, perilaku hidup
tidak sehat dan tidak bersih, dan factor – factor non fisik lingkungan (sosial).

2.4 Identifikasi Risiko

Tujuan dari dilakukannya identifikasi risiko adalah untuk mengembangkan daftar


komprehensif tentang sumber risiko dan kejadian yang mengikutinya yang dapat
menghambat pencapaian tujuan. Identifikasi risiko dapat dilakukan dengan cara audit,
complain, klaim, insiden, dan brainstorming.

2.5 Rumusan Masalah

Proses menentukan prioritas sebuah masalah.Pemangku kepentingan memiliki peran


penting dalam merumuskan masalah. Peran mereka akan cenderung membuat keputusan
manajemen risiko menjadi lebih efektif.

2.6 Analisis Risiko

Analisis risiko adalah sistematika penggunaan dari informasi yang tersedia untuk
mengidentifikasi hazard dan untuk memperkirakan suatu risiko terhadap individu, populasi,
bangunan atau lingkungan (Kolluru,1996).

Inti dari analisis risiko adalah mengenai pengembangan pemahaman tentang risiko. Dalam
analisis risiko terdapat data pendukung yang digunakan sebagai pertimbangan pengambilan
keputusan tentang cara pengendalian yang paling tepat dan paling cost-effective (AS/NZS
4360:2004)

Metode analisis yang digunakan bias bersifat kualitatif, semi-kuantitatif, atau kuantitatif
bahkan kombinasi dari ketiganya tergantung dari situasi dan kondisi.

2.6.1 Identifikasi Bahaya

Mengidentifikasi jenis/hakekat/efek – efek yang merugikan kesehatan.


Contoh material, alat, dan prosedur.

2.6.2 Analisis pemajanan dan analisis dosis respon


Analisis pemajanan adalah evaluasi konsentrasi/jumlah agent tertentu yang
sampai pada sasaran.Dalam analisis pemajanan yang perlu diperhatikan adalah
siapa yang terpajan, waktu pajanan, durasi pajanan dan intake.

Analisis dosis respon adalah risk agen dinyatakan sebagai asupan atau intake
yang di komsumsi per orang perhari sebagai konsentrasi rujukan. Angka
Kecukupan Gizi menjadi standar dosis referensi. Apabila melebihi standar tersebut
yang akan menimbulkan efek merugikan kesehatan.

2.7 Manajemen Risiko

Manajemen risiko adalah metode yang tersusun secara logis dan sistematis dari suatu
rangkaian kegiatan: penetapan konteks, identifikasi, analisa, evaluasi, pengendalian serta
komunikasi risiko.

Proses ini dapat diterapkan di semua tingkatan kegiatan, jabatan, proyek, produk
ataupun asset. Manajemen risiko dapat memberikan manfaat optimal jika diterapkan sejak
awal kegiatan.

Berdasarkan AS/NZS 4360:2004 terdapat beberapa keuntungan yang akan diperoleh


oleh perusahaan jika menerapkan manajemen risiko, antara lain :

1. Fewer Surprise
Pengendalian kejadian yang tidak diinginkan adalah dengan cara identifikasi dan
melakukan usaha untuk menurunkan probabilitas dan mengurangi efek buruk. Meskipun
kejadian yang tidak dapat dihindari, namun perusahaan telah mampu menghadapi dengan
perencanaan dan persiapan.
2. Exploitation of opportunity
Sikap pencarian kemungkinan akan meningkat jika seseorang memiliki kepercayaan diri
akan pengetahuan mereka tentang risiko dan memiliki kemampuan untuk
mengendalikannya.
3. Improved planning, performance and effectiveness
4. Economy and efficiency
5. Improved stakeholder realationship
6. Improved imformation for decision making
7. Enhaced reputation
8. Director protection
9. Accountability, assurance and governance
10. Personal wellbeing

Komponen utama yang terdapat dalam manajemen risiko yang dikeluarkan oleh AS/NZS
4360:2004 antara lain:

1. Komunikasi dan konsultasi


Melakukan komunikasi dan konsultasi dengan pengambilan keputusan internal maupun
eksternal terkait dengan proses manajemen risiko secara keseluruhan. Selain itu
komunikasi dan konsultasi juga dilakukan dengan tindakan lanjut dari hasil manajemen
risiko yang telah dilakukan untuk langkah pengembangan.
2. Penetapan Tujuan
Merupakan langkah awal dari aktvitas manajemen risiko, tujuannya untuk menentukan
parameter proses temasuk kriteria risiko yang akan dilakukan penilaian. Hal – hal yang
dilakukan meliputi menetapkan strategi, kebijakan organisasi dan ruang lingkup
manajemen risiko yang akan dilaksanakan.
3. Identifikasi Risiko
Mengidentifikasi dimana, kapan, mengapa, dan bagaimana factor – factor yang
mempengaruhi terjadinya risiko untuk Analisa lebih lanjut.
4. Analisis Risiko
Mengidentifikasi dan mengevaluasi pengendalian yang sudah ada. Menentukan tingkatan
probabilitas dan konsekuensi yang akan terjadi, kemudian menentukan tingkatan risiko
yang ada.
5. Evaluasi Risiko
Membandingkan tingkat risiko yang ada dengan kriteria standar. Hal ini memungkinkan
untuk melakukan penentuan prioritas dalam pengambilan keputusan pengendalian.
6. Pengendalian Risiko
Melakukan penurunan derajat probabilitas dan konsekuensi yang ada dengan berbagai
alternative metode pengendalian.
7. Monitor and Review
Monitar dan review terhadap hasil system manajemen risiko yang dilakukan serta
mengidentifikasi perubahan yang perlu dilakukan.

2.7.1 Tujuan Manajemen Resiko


Tujuan dari bagian ini adalah untuk menggambarkan proses formal (harus dilakukan)
untuk menjalankan sebuah program manajemen risiko yang sistematik.

Perkembangan dari kebijakan manajemen risiko sebuah organisasi dan mekanisme


pendukungnya diperlukan untuk memberikan pola kerja dalam menjalankan program
manajemen risiko yang rinci dalam sebuah proyek atau tingkat sub-organisasi.

Elemen utama dari proses manajemen risiko, meliputi:

Hazard Identification
Risk analysis
Risk Estimation
Risk
assessment
Development of Option
Option Evaluation
Option Analisys

Decision

Implementation
Risk Management
Monitoring and evaluating

Review

Sumber : Generalized risk assessment and management models : Canadian model (health and
welfare Canada “Health Risk Determination” 1989).

a. Penetapan tujuan
Menetapkan strategi, kebijakan organisasi dan ruang lingkup manajemen risiko yang
akan dilakukan.

b. Identifkasi risiko
Mengidentifikasi apa, mengapa dan bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya risiko untuk analisis lebih lanjut.
c. Analisis risiko
Dilakukan dengan menentukan tingkatan probabilitas dan konsekuensi yang akan terjadi.
Kemudian ditentukan tingkatan risiko yang ada dengan mengalikan kedua variabel
tersebut (probabilitas X konsekuensi).

d. Evaluasi risiko
Membandingkan tingkat risiko yang ada dengan kriteria standar. Setelah itu tingkatan
risiko yang ada untuk beberapa hazards dibuat tingkatan prioritas manajemennya. Jika
tingkat risiko ditetapkan rendah, maka risiko tersebut masuk ke dalam kategori yang
dapat diterima dan mungkin hanya memerlukan pemantauan saja tanpa harus melakukan
pengendalian.

e. Pengendalian risiko
Melakukan penurunan derajat probabilitas dan konsekuensi yang ada dengan
menggunakan berbagai alternatif metode, bisa dengan transfer risiko, dan lain-lain.

f. Monitor dan Review


Monitor dan review terhadap hasil sistem manajemen risiko yang dilakukan serta
mengidentifikasi perubahan-perubahan yang perlu dilakukan.

g. Komunikasi dan konsultasi


Komunikasi dan konsultasi dengan pengambil keputusan internal dan eksternal untuk
tindak lanjut dari hasil manajemen risiko yang dilakukan.

2.8 Komunikasi Risiko

Komunikasi risiko merupakan pertukaran informasi dan pandangan mengenai risiko


serta factor – factor yang berkaitan dengan risiko di antara para pengkaji risiko, manajer
risiko, konsumen dan berbagai pihak lain yang berkepentingan. Tujuan dari komunikasi
risiko adalah memberikan informasi yang bermakna, relevan dan akurat dalam istilah yang
jelas dan mudah dipahami kepada audiens tertentu.

Tujuan komunikasi risiko adalah :

 Meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang berbagai persoalan spesifikasi yang


harus dipertimbangkan oleh semua peserta selama proses analisis risiko.
 Meningkatkan konsistensi dan keterbukaan dalam pengambilan keputusan manajemen
risiko – risiko dan implementasinya.
 Memberikan landasan yang aman untuk memahami keputusan manajemen risiko yang
diusulkan atau diimplementasikan.
 Turut memberikan kontribusi pada pengembangan dan penyampaian program informasi
dan Pendidikan yang efektif jika kedua hal tersebut terpilih sebagai pilihan manajemen
risiko.
 Menjaga kepercayaan dan keyakinan masyarakat dalam hal keamanan pasokan makanan
 Menguatkan hubungan kerja dan saling menghargai di antara semua partisipan
 Meningkatkan keterlibatan semua pihak yang berkepentingan secara tepat dalam proses
komunikasi risiko
 Saling bertukar informasi tentang pengetahuan, sikap,nilai – nilai, praktik dan persepsi
berbagai pihak yang berkepentingan dalam hal risiko yang berkaitan dengan topik
makanan dan topik terkait.

Prinsip – prinsip komunikasi risiko, yaitu :

 Mengenali Audiens
Dalam merumuskan pesan komunikasi risiko, audiens harus dianalisis untuk
mengetahui motivasi dan pandangan mereka. Dan memahami kekhawatiran serta
perasaan mereka dan untuk mempertahankan komunikasi dengan mereka.
 Melibatkan pakar ilmiah
Pakar ilmiah dalam kapasistasnya sebagai pengkaji risiko harus mampu menjelaskan
konsep, proses pengkajian risiko, menerangkan hasil – hasil pengkajian serta data –
sata ilmiahnya, asumsi dan pertimbangan objektif yang menjadi dasar penjelasan itu
sehingga manajer risiko.
 Menciptakan keahlian dalam berkomunikasi
 Menjadi informasi yang dapat dipercaya
BAB III

PEMBAHASAN