Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

Bencana adalah suatu gengguan serius terhadap masyarakat yang menimbulkan kerugian
secara meluas dan dirasakan baik oleh masyarakat, berbagai material, dan lingkungan (alam)
dimana dampak yang ditimbulkan melebihi kemampuan manusia guna mengatasinya dengan
sumber daya yang ada. Menurut Parker (1992) bencana ialah sebuah kejadian yang tidak biasa
terjadi disebabkan oleh alam maupun ulah manusia, termasuk pula di dalamnya merupakan imbas
dari kesalahan teknologin memicu respons dari masyarakat, komunitas, imdividu, maupun
lingkungan untuk memberikan antusiasme yang bersifat luas.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bencana mempunyai arti sesuatu yang
menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian atau penderitaan. Sedangkan
bencana alam artinya adalah bencana yang disebabkan oleh alam (Purwadarminta,
2006)
Menurut Undang-Undang No.24 Tahun 2007, bencana adalah peristiwa atau
rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan
masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan atau faktor non alam maupun
faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan
lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana merupakan
pertemuan dari tiga unsur, yaitu ancaman bencana, kerentanan, dan kemampuan yang
dipicu oleh suatu kejadian.
Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian
peristiwa yang disebabkan oleh gejala-gejala alam yang dapat mengakibatkan kerusakan
lingkungan, kerugian materi, maupun korban manusia (Kamadhis UGM, 2007).

Jenis-jenis bencana menurut Undang-Undang No.24 Tahun 2007, antara lain:

1. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau


serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi,
tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
2. Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
rangkaian peristiwa non alam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal
modernisasi, epidemi dan wabah penyakit.

3. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau


serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik
sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror (UU RI,
2007).

Bencana alam dibagi menjadi tiga jenis berdasarkan penyebabnya yaitu bencana
geologis, klimatologis dan ekstra-terestrial seperti terlihat pada Tabel

Tabel Jenis Bencana Alam Berdasarkan Penyebabnya

Jenis Penyebab Bencana Alam Beberapa Contoh Kejadiannya


Bencana alam geologis Gempa bumi, tsunami, letusan

gunung berapi, longsor/gerakan


Bencana alam klimatologis Banjir, banjir bandang, angin putting

Bencana alam ekstra-terestrial Impact atau hantaman benda dari luar

Sumber : Kamadhis UGM, 2007


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. BANJIR
Banjir perkotaan merupakan bencana yang sering terjadi di Indonesia termasuk
Kota Kendari. Dampak dari peristiwa banjir tersebut dapat menyebabkan kerugian
ekonomi maupun nilai sosial pada suatu wilayah. Kousky dan Walls (2014) menyatakan
bahwa peristiwa banjir adalah yang paling bertanggung jawab terhadap kerugian ekonomi
dan masalah sosial seperti korban jiwa dan berbagai kerusakan properti. Sesuai hasil
penelitian Kousky dan Walls (2014) bahwa biaya ekonomi dari banjir telah meningkat
selama beberapa dekade terakhir, sebagian besar karena lebih banyak orang dan lokasi
properti di daerah berbahaya.
Banyak pemicu terjadinya banjir perkotaan yang dapat diidentifikasi
diantaranya adalah intensitas curah hujan yang tinggi, perubahan penggunaan lahan yang
tidak terkendali akibat urbanisasi yang sangat cepat, sehingga memberikan tekanan pada
kemampuan daya dukung lingkungan perkotaan khususnya kota-kota di Indonesia.
Didukung oleh karakter perkotaan Indonesia yang umumnya terletak di daerah rendah
terutama pada wilayah dataran banjir, baik di pinggir sungai maupun ditepi pantai maka
akan semakin rawan terhadap banjir. Pembangunan pemukiman pada wilayah-wilayah
dataran banjir ini, secara ekonomis cukup memberikan rangsangan keminatan bagi
penghuninya. Disisi lain, lokasi pemukiman yang cukup strategis serta secara ekonomis
memiliki resiko besar terhadap potensi terjadinya banjir. Kondisi ini disebabkan adanya
kantong-kantong air, atau lahan basah yang dialih fungsikan menjadi komplek-komplek
pemukiman (Adi, 2013).
Konversi lahan wilayah perkotaan terjadi secara masif menjadi kawasan terbangun.
Surya et al. (2014) menyatakan bahwa perubahan penggunaan lahan yang paling besar
pengaruhnya adalah perubahan dari hutan menjadi permukiman dan industri. Hal ini
diperkuat oleh Zain et al. (2006); Suwedi et al. (2006) dan Syarief et al. (2010) bahwa
wilayah tropika basah seperti Indonesia, sesuai model MAFF-Japan, bahwa penggunaan
lahan sesuai dengan kemampuan alamianya seperti hutan dan pertanian memberikan
kontribusi paling tinggi dalam pencegahan banjir di kawasan perkotaan.
Secara umum penyebab utama banjir adalah perubahan dan eskalasi perilaku
manusia dalam mengubah fungsi lingkungan. Di kawasan budidaya telah terjadi
perubahan tata ruang secara massive, sehingga daya dukung lingkungan menurun drastis.
Pesatnya pertumbuhan permukiman dan industri telah mengubah keseimbangan fungsi
lingkungan, bahkan kawasan retensi banjir (retarding basin) yang disediakan alam berupa
situ-situ telah juga dihabiskan (Anonimous, tt). Apabila diklasifikasikan oleh tindakan
manusia dan yang disebabkan oleh alam maka penyebab banjir dapat disusun sebagai
berikut (Kodoatie dan Sjarief, 2010);
1. Yang termasuk sebab-sebab banjir karena tindakan manusia adalah
a. Perubahan tataguna lahan (land-use) di daerah aliran sungai (DAS)
b. Pembuangan sampah
c. Erosi dan sedimentasi
d. Kawasan kumuh di sepanjang sungai/drainase
e. Perencanaan sistem pengendali banjir tidak tepat
f. Pengaruh fisiografi/geofisik sungai
g. Kapasitas sungai dan drainase yang tidak memadai
h. Penurunan tanah dan rob ( genangan akibat pasang air laut)
i. Drainase lahan
j. Bendungan dan bangunan air
k. Kerusakan bangunan pengendali banjir

2. Yang termasuk sebab-sebab alamiah dianataranya adalah


a. Curah hujan
b. Pengaruh fisiografi/geofisik sungai
c. Kapasitas sungai
d. Pengaruh air pasang
e. Penurunan tanah dan rob
f. Kerusakan bangunan pengendali banjir (oleh bencana alam)

Perubahan tataguna lahan merupakan penyebab utama banjir dibandingkan dengan yang
lainnya. Sebagai contoh, apabila suatu hutan yang berada dalam suatu daerah aliran
sungai diubah menjadi pemukiman, maka debit puncak sungai akan meningkat antara 6
sampai 20 kali. Angka 6 dan 20 ini tergantung dari jenis hutan dan jenis pemukiman
(Kodotie dan Sjarief, 2008). Dalam penelitian Satriawan (2010), penutupan lahan
menentukan laju infiltrasi air hujan yang secara langsung berpengaruh terhadap aliran
permukaan (run-off). Semakin besar aliran permukaan artinya infiltrasi rendah, akibatnya
potensi banjir semakin besar. Jenis-jenis penutupan lahan yang mempunyai pengaruh
besar terhadap banjir adalah pemukiman, sawah ataupun tambak.
B. DAMPAK BANJIR
1. Primer
Kerusakan fisik - Mampu merusak berbagai jenis struktur, termasuk
jembatan, mobil, bangunan, sistem selokan bawah tanah, jalan raya,
dankanal.
2. Sekunder
Persediaan air – Kontaminasi air. Air minum bersih mulai langka. Penyakit -
Kondisi tidak higienis. Penyebaran penyakit bawaan air. Pertanian dan

persediaan makanan - Kelangkaan hasil tani disebabkan oleh kegagalan panen.


Namun, dataran rendah dekat sungai bergantung kepada endapan sungai akibat
banjir demi menambah mineral tanah setempat.

Pepohonan - Spesies yang tidak sanggup akan mati karena tidak bisa
bernapas.

Transportasi - Jalur transportasi rusak, sulit mengirimkan bantuan darurat


kepada orang-orang yang membutuhkan.

3. Dampak tersier/jangka panjang


Ekonomi - Kesulitan ekonomi karena kerusakan pemukiman yang terjadi akibat
banjir; dalam sector pariwisata, menurunnya minat wiasatawan

C. Penanggulangan Banjir
Mencegah dan menanggulangi banjir tak dapat dilakukan oleh pemerintah saja atau
orang perorang saja. Dibutuhkan komitmen dan kerjasama berbagai pihak untuk
menghindarkan Jakarta dan kota lain di Indonesia dari banjir besar. Tindakan-tindakan
yang dapat dilakukan itu antara lain:

1. Membuang lubang-lubang serapan air

2. Memperbanyak ruang terbuka hijau

3. Mengubah perilaku masyarakat agar tidak lagi menjadikan sungai sebagai


tempat sampah raksasa
Meninggikan bangunan rumah memang dapat menyelamatkan harta benda kita
ketika banjir terjadi, namun kita tidak mencegah terjadinya banjir lagi. Manusia
yang mengakibatkan banjir, manusia pula yang harus bersama-sama menyelamatkan
kota. Menyelamatkan Jakarta dari banjir besar bukan hanya karena berarti
menyelamatkan harta benda pribadi, namun juga menyelamatkan wajah bangsa ini di
mata dunia.

Partisipasi seluruh elemen masyarakat harus dilakukan secara terorganisasi dan


terkoordinasi agar dapat terlaksana secara efektif. Sebuah organisasi
masyarakat sebaiknya dibentuk untuk mengambil tindakan-tindakan awal dan
mengatur peran serta masyarakat dalam penanggulangan banjir. Penanggulangan banjir
dilakukan secara bertahap, dari pencegahan sebelum banjir penanganan saat banjir , dan
pemulihan setelah banjir. Tahapan tersebut berada dalam suatu siklus kegiatan
penanggulangan banjir yang berkesinambungan, Kegiatan penanggulangan banjir
mengikuti suatu siklus (life cycle), yang dimulai dari banjir, kemudian
mengkajinya sebagai masukan untuk pencegahan sebelum bencana banjir terjadi
kembali. Pencegahan dilakukan secara menyeluruh, berupa kegiatan fisik seperti
pembangunan pengendali banjir di wilayah sungai sampai wilayah dataran banjir dan
kegiatan non-fisik seperti pengelolaan tata guna lahan sampai sistem peringatan dini
bencana banjir.

D. PERAN PERAWAT DALAM PENANGGULANGAN BENCANA


Pelayanan keperawatan tidak hanya terbatas diberikan pada instansi pelayanan
kesehatan seperti rumah sakit saja. Tetapi, pelayanan keperawatan tersebut juga sangat
dibutuhkan dalam situasi tanggap bencana.
Perawat tidak hanya dituntut memiliki pengetahuan dan kemampuan dasar
praktek keperawatan saja,  Lebih dari itu, kemampuan tanggap bencana juga sangat di
butuhkan saaat keadaan darurat. Hal ini diharapkan menjadi bekal bagi perawat untuk
bisa terjun memberikan pertolongan dalam situasi bencana.
Namun, kenyataan yang terjadi di lapangan sangat berbeda, kita lebih banyak
melihat tenaga relawan dan LSM lain yang memberikan pertolongan lebih dahulu
dibandingkan dengan perawat, walaupun ada itu sudah terkesan lambat.
Berikut beberapa tnidakan yang bisa dilakukan oleh perawat dalam situasi tanggap
bencana:

1.        Pengobatan dan pemulihan kesehatan fisik


Bencana alam yang menimpa suatu daerah, selalu akan memakan korban dan
kerusakan, baik itu korban meninggal, korban luka luka, kerusakan fasilitas pribadi dan
umum,  yang mungkin akan menyebabkan isolasi tempat, sehingga sulit dijangkau oleh para
relawan. Hal yang paling urgen dibutuhkan oleh korban saat itu  adalah pengobatan dari
tenaga kesehatan. Perawat bisa turut andil dalam aksi ini, baik berkolaborasi dengan tenaga
perawat atau pun tenaga kesehatan profesional, ataupun juga melakukan pengobatan bersama
perawat lainnya secara cepat, menyeluruh dan merata di tempat bencana. Pengobatan yang
dilakukan pun bisa beragam, mulai dari pemeriksaan fisik, pengobatan luka, dan lainnya
sesuai dengan profesi keperawatan.

2.      Pemberian bantuan


Perawatan dapat melakukan aksi galang dana bagi korban bencana, dengan
menghimpun dana dari berbagai kalangan dalam berbagai bentuk, seperti makanan, obat
obatan, keperluan sandang dan lain sebagainya. Pemberian bantuan tersebut bisa dilakukan
langsung oleh perawat secara langsung di lokasi bencana dengan memdirikan posko bantuan.
Selain itu,  Hal yang harus difokuskan dalam kegiatan ini adalah pemerataan bantuan di
tempat bencana sesuai kebutuhan yang di butuhkan oleh para korban saat itu, sehinnga tidak
akan ada lagi para korban yang tidak mendapatkan bantuan tersebut dikarenakan bantuan
yang menumpuk ataupun tidak tepat sasaran.

3.    Pemulihan kesehatan mental


Para korban suatu bencana biasanya akan mengalami trauma psikologis akibat kejadian
yang menimpanya. Trauma tersebut bisa berupa kesedihan yang mendalam, ketakutan dan
kehilangan berat. Tidak sedikit trauma ini menimpa wanita, ibu ibu, dan anak anak yang
sedang dalam massa pertumbuhan. Sehingga apabila hal ini terus berkelanjutan maka akan
mengakibatkan stress berat dan gangguan mental bagi para korban bencana. Hal yang
dibutukan dalam penanganan situasi seperti ini adalah pemulihan kesehatan mental yang
dapat dilakukan oleh perawat. Pada orang dewasa, pemulihannya bisa dilakukan dengan
sharing dan mendengarkan segala keluhan keluhan yang dihadapinya, selanjutnya diberikan
sebuah solusi dan diberi penyemangat untuk tetap bangkit. Sedangkan pada anak anak, cara
yang efektif adalah dengan mengembalikan keceriaan mereka kembali, hal ini mengingat
sifat lahiriah anak anak yang berada pada masa bermain. Perawat dapat mendirikan sebuah
taman bermain, dimana anak anak tersebut akan mendapatkan permainan, cerita lucu, dan
lain sebagainnya. Sehinnga kepercayaan diri mereka akan kembali seperti sedia kala.

4.    Pemberdayaan masyarakat


Kondisi masyarakat di sekitar daerah yang terkena musibah pasca bencana biasanya akan
menjadi terkatung katung tidak jelas akibat memburuknya keaadaan pasca bencana., akibat
kehilangan harta benda yang mereka miliki. sehinnga banyak diantara mereka  yang patah
arah dalam menentukan hidup selanjutnya. Hal yang bisa menolong membangkitkan keadaan
tersebut adalah melakukan pemberdayaan masyarakat. Masyarakat perlu mendapatkan
fasilitas dan skill yang dapat menjadi bekal bagi mereka kelak. Perawat dapat melakukan
pelatihan pelatihan keterampilan yang difasilitasi dan berkolaborasi dengan instansi ataupun
LSM yang bergerak dalam bidang itu. Sehinnga diharapkan masyarakat di sekitar daerah
bencana akan mampu membangun kehidupannya kedepan lewat kemampuan yang ia miliki.

Untuk mewujudkan tindakan di atas perlu adanya beberapa hal yang harus dimiliki
oleh seorang perawat, diantaranya:
1.      Perawatan harus memilki skill keperawatan yang baik.
Sebagai perawat yang akan memberikan pertolongan dalam penanaganan bencana,
haruslah mumpunyai skill keperawatan, dengan bekal tersebut perawat akan mampu
memberikan pertolongan medis yang baik dan maksimal.

2.      Perawat harus memiliki jiwa dan sikap kepedulian.


Pemulihan daerah bencana membutuhkan kepedulian dari setiap elemen masyarakat
termasuk perawat, kepedulian tersebut tercemin dari rasa empati dan mau berkontribusi
secara maksimal dalam segala situasi bencana. Sehingga dengan jiwa dan semangat
kepedulian tersebut akan mampu meringankan beban penderitaan korban bencana.
3.      Perawatan harus memahami managemen siaga bencana
Kondisi siaga bencana membutuhkan penanganan yang berbeda, segal hal yang
terkait harus didasarkan pada managemen yang baik, mengingat bencana datang secara tak
terduga banyak hal yang harus dipersiapkan dengan matang, jangan sampai tindakan yang
dilakukan salah dan sia sia. Dalam melakukan tindakan di daerah bencana, perawat dituntut
untuk mampu memilki kesiapan dalam situasi apapun jika terjadi bencana alam. Segala hal
yang berhubungan dengan peralatan bantuan dan pertolongan medis harus bisa dikoordinir
dengan baik dalam waktu yang mendesak. Oleh karena itu, perawat harus mengerti konsep
siaga bencana.

BAB III
DISASTER PLAN &
ANALISA KASUS PENANGANAN BANJIR DI KOTA KENDARI

A. ANALISIS TINGKAT KERAWANAN BANJIR


1. Daerah bencana

Kota Kendari memiliki luas ± 295,89 km² atau 0,70 persen dari luas daratan Provinsi
Sulawesi Tenggara, merupakan dataran yang berbukit dan dilewati oleh sungai-sungai yang
bermuara ke Teluk Kendari sehingga teluk ini kaya akan hasil lautnya.

Kota Kendari terletak di jazirah Tenggara Pulau Sulawesi. Wilayah daratannya sebagian
besar terdapat di daratan, mengelilingi Teluk Kendari dan terdapat satu pulau, yaitu Pulau
Bungkutoko, secara geografis terletak di bagian selatan garis khatulistiwa, berada di antara
3º54’30” - 4º3’11” Lintang Selatan dan 122º23’ - 122º39’ Bujur Timur.

Wilayah Kota Kendari berbatasan dengan:

 Sebelah Utara: Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe


 Sebelah Timur: Laut Banda
 Sebelah Selatan: Kecamatan Moramo dan Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe
Selatan
 Sebelah Barat: Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan dan Kecamatan
Sampara, Kabupaten Konawe

Sekitar bulan April, arus angin selalu tidak menentu dengan curah hujan yang tidak merata.
Musim ini dikenal sebagai musim pancaroba atau peralihan antara musim hujan dan musim
kemarau. Pada bulan Mei sampai dengan bulan Agustus, angin bertiup dari arah timur berasal
dari benua Australia yang kurang mengandung uap air. Hal ini mengakibatkan kurangnya
curah hujan di daerah ini, sehingga terjadi musim kemarau.

Pada bulan November sampai dengan bulan Maret, angin bertiup banyak mengandung uap air
yang berasal dari benua Asia dan Samudera Pasifik, setelah melewati beberapa lautan. Pada
bulan-bulan tersebut di wilayah Kota Kendari dan sekitarnya biasanya terjadi musim hujan.
Menurut data yang ada memberikan indikasi bahwa di Kota Kendari tahun 2005 terjadi 205
hari hujan dengan curah hujan 2.850 mm.

Menurut data yang diperoleh dari Pangkalan Udara Wolter Monginsidi Kendari, selama tahun
2005 suhu udara maksimum 32,83 °C dan minimum 19,58 °C atau dengan rata-rata 26,20 °C.
Tekanan Udara rata-rata 1.010,5 millibar dengan kelembaban udara rata-rata 87,67 persen.
Kecepatan angin di Kota Kendari selama tahun 2005 pada umumnya berjalan normal,
mencapai 12,75 m/detik.

Topografi wilayah Kota Kendari pada dasarnya berfariasi antara datar dan berbukit. Daerah
datar terdapat di bagian Barat dan Selatan Teluk Kendari. Kecamatan Kendari yang terletak
di sebelah Utara teluk sebagian besar terdiri dari perbukitan (Pegunungan Nipa-Nipa)dengan
ketinggian ± 459 M dari permukaan laut, sedangkan kearah Selatan tingkat kemiringan antara
4% - 30%, bagian Barat Kecamatan Mandonga) dan Selatan (Kecamatan Poasia) terdiri dari
daerah perbukitan bergelombang rendah dengan kemiringan ke arah Teluk Kendari. Dilihat
berdasarkan ketinggian wilayah Kota Kendari di atas permukaan laut, kecamatan Mandonga
merupakan Wilayah tertinggi berada pada ketinggian 30 meter di atas permukaan laut.
Selanjutnya wilayah kecamatan Abeli dan Kendari Barat berada pada ketinggian 3 meter
diatas permukaan laut.

Sebagai akibat dari tindakan tersebut, Kota Kendari menjadi wailayah yang rentan terhadap
banjir. Berdasarkan data historis kejadian banjir Kota Kendari, pada tahun 2007 terjadi dua
kali kejadian, tahun 2008 terjadi dua kali keadian, tahun 2009 terjadi dua kali kejadian, tahun
2010 terjadi lima kali, tahun 2011 terjadi dua kali, tahun 2012, terjadi dua kali, tahun 2013,
terjadi satu kali (BPS Kota Kendari, 2014). Sedangkan kejadian banjir dengan kerugian
terbesar terjadi pada tahun 2013 dimana banjir menyebabkan sebesar 70% dari luas wilayah
terendam air (Basarnas Daerah, 2013). Selain itu, data kerugian akibat banjir tersebut
mencapai angka miliaran rupiah (BNPB daerah, 2013).
Wilayah rawan banjir yang ada di Kota Kendari, merupakan kawasan yang berada pada
kondisi kerendahan (bantaran kali) dengan akumulasi muara pengaliran air dari kawasan
punggungan yang lebih tinggi. Untuk daerah yang berpotensi rawan banjir terdiri dari 9
Kecamatan dan tersebar pada 33 kelurahan di Kota Kendari (Anonymous, 2012)

2. Penyebab terjadinya bencana


Kota Kendari terletak pada wilayah dataran banjir, baik di pinggir sungai maupun ditepi
pantai yang rawan terhadap terjadinya banjir. Sebagai kota berkembang, konversi lahan
menjadi lahan terbangun terjadi secara masif untuk pembangunan infrastuktur seperti
pembangunan jalan, pertamina, rumah sakit, perumahan, perhotelan dan ruko. Penimbunan
daerah rawa sehingga terjadi pengurangan kawasan retensi yang sangat penting dalam proses
hidrologi dan tatanan ekosistem. Kondisi-kondisi seperti ini menjadi faktor yang
menyebabkan banjir. Selain itu faktor-faktor yang menyebabkan banjir di wilayah kota
Kendari adalah :
a. Curah hujan
Peta curah hujan tahun 2013 memperlihatkan bahwa secara keseluruhan wilayah Kota
Kendari memiliki curah hujan > 2.500 mm/tahun. Data sebaran curah hujan diperoleh
dengan menginterpolasi data 6 (enam) stasiun curah hujan yang ada di Kota Kendari dan
sekitarnya. Sebaran curah hujan yang diperoleh sejalan dengan dengan penelitian yang
dilakukan oleh Jaya (2015) yang menyimpulkan bahwa curah hujan yang terjadi di Kota
Kendari relatif seragam.
b. Kurangnya penyerapan
Kota Kendari dimana ruang-ruang terbukanya tidak berfungsi sebagai sarana peresapan
air serta pada saluran-saluran drainasenya digunakan sebagai tempat pembuangan air
hujan dari lahan-lahan terbangun sehingga dalam keadaan hujan lebat menjadikan
kawasan ini relatif mudah tergenang.
c. Penebangan hutan dan penambangan Pasir
Penebangan hutan yang terus-menerus dilakukan untuk membangun infrakstruktur
menyumbang besar terhadap kejadian benjir di Kota Kendari, selain itu penambangan
pasir yang dilakukan oleh warga sekitar bantaran kali dan sungan yang menyebabkan
semakin dangkalnya perairan sungai hingga menyebabkan banjir bahkan dengan
intensitas hujan yang cukup rendah.
3. Masalah yang muncul akibat bencana banjir
Dampak yang diakibatkan oleh bencana banjir ini adalah
a. Kesulitan air bersih
Keterbatasan air bersih pasti ditemukan dalam kondisi banjir begini, baik untuk minum atau
untuk kebutuhan sehari-hari lainnya. Air isi ulang sangat dibutuhkan untuk air minum dan
mandi.
b. Menimbulkan kerugian ekonomi
Banjir mengakibatkan kerusakan rumah dan isi barang dalam rumah, bahkan kehilangan
barang-barang berharga lainnya. Selain itu, para korban juga akan sulit untuk bekerja selama
banjir terjadi. Musibah ini menimbulkan kerugian kepada masyarakat korban dari sisi
ekonomi. Untuk beberapa daerah yang terdampak besar terhadap banjir ini akan berdampak
juga kepada penghambatan laju perputaran roda ekonomi suatu daerah karena masyarakat
setempat sangat bergantung dengan hasil alam di daerah tersebut.
c. Menimbulkan masalah kesehatan
Air kotor, kekurangan air bersih, dan banyaknya genangan air sudah dipastikan menimbulkan
masalah kesehatan. Dan berikutnya akan menimbulkan penyebaran wabah penyakit. Penyakit
yang timbul pada kawasan yang terkena banjir ini rentan menyerang anak-anak dan kaum
lanjut usia. Hal ini terjadi karena Perilaku Hidup Sehat dan Bersih (PHBS) tidak dilaksanakan
dengan baik dan benar seperti melakukan cuci tangan setelah kontak dengan air banjir
(khususnya sebelum makan), tidak membiarkan anak-anak bermain dengan air banjir dan
mainan yang sudah terkontaminasi air banjir. Di Indonesia, penyakit demam berdarah adalah
penyakit yang paling diwaspadai ketika musim hujan tiba atau pasca banjir. Sementara untuk
penyakit yang disebabkan oleh binatang pengerat, leptospirosis merupakan penyakit yang
paling banyak ditemui. Bakteri leptospira banyak ditemukan pada tikus. Penyebaran pada
manusia terjadi bila urine tikus yang mengandung leptospira mengkontaminasi air dan
makanan serta mengenai kulit manusia.
d. Melumpuhkan aktifitas masyarakat
Banjir yang cukup besar dapat menenggelamkan rumah penduduk dan mengharuskan
masyarakat korban untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Pakaian seadanya dan tidak
adanya tempat tinggal membuat masyarakat menjadi sulit untuk melakukan aktifitas seperti
biasa. Bencana banjir juga membuat kesulitan dalam akses dan transportasi. Selain itu dapat
merusak fasilitas sosial dan fasilitas umum yang dapat membantu kegiatan pemenuhan
kebutuhan masyarakat sehari-hari.
e. Menimbulkan korban jiwa
f. Korban jiwa juga dapat ditemukan dalam kondisi bencana banjir. Baik karena terseret arus
banjir atau karena luapan air yang tidak dapat diprediksi. Sangat memungkinkan hal itu
terjadi jika banjir yang terjadi menimbulkan kerusakan permukiman masyarakat dan
lingkungannya. Selain itu, korban jiwa juga berasal dari korban banjir yang terkena penyakit
seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Namun, tidak sedikit juga korban jiwa ini terjadi
karena penggunaan listrik atau peralatan elektronik di rumah yang sedang kebanjiran atau
terkena sengatan listrik yang berasal dari tiang listrik yang tidak dipadamkan sebelumnya
oleh PLN.
B. ANALISIS TINGKAT KERENTANAN
1. Berdasarkan data BNPB sebanyak 88 KK (200 Jiwa)
2. Jumlah Korban
 Meninggal : 1
 Hilang :0
 Luka Berat : 0
 Pengungsi : 200 jiwa
 Jumlah Korban yang dirujuk ke Puskesmas/Rumah Sakit : 1
3. Jumlah Kelompok rentan dalam pengungsi
Ibu Hamil : 16 jiwa
Ibu menyusui : 93 Jiwa
Balita : 93 Jiwa
Lansia : 119 Jiwa
( Data Daerah Sampara Sulawesi Tenggara)
4. Sarana Kesehatan yang rusak
Puskesmas terendam : 4
Puskesmas Pembantu : 4
Gudang Farmasi :1
5. Fasilitas umum
 Jembatan putus : 3
 Jalan trans Sulawesi Tenggara-Sulawesi Tengah putus

C. Analisis Tingkat Bahaya Banjir Kota Kendari


Metode analisis bahaya banjir yang dilakukan yaitu dilakukan melalui proses overlay
tertahap peta dasar dengan parameter yang telah diberi skor. Berdasarkan hasil analisis skor
tingkat bahaya banjir maka diperoleh jumlah skor tertinggi adalah 48, sedangkan jumlah skor
terendah adalah 18. Jumlah skor tersebut menjadi dasar dalam menentukan kelas interval
tingkat bahaya banjir.
Analisis tingkat bahaya banjir memerlukan peta curah hujan, peta penggunaan lahan,
peta tanah, peta geologi dan peta bentuk lahan. Zonasi tingkat bahaya banjir dilakukan
dengan simulasi Model Ministry of Agriculture Forestry and Fishery (MAFF)-Japan dengan
persamaan sebagai berikut:
TBB= CH+3(PL)+2 (L)+2 (JT)+G+BL (Zain et al., 2006) ..... (1)

keterangan:
TBB : Tingkat bahaya banjir
CH : Curah hujan (mm)
PL : Penggunaan lahan
L : Lereng
JT : Jenis tanah
BL : Bentuk Lahan
G : Tipe Geologi
Analisis data akan dilakukan menggunakan GIS yang terdiri dari 4 tahap
yaitu:
1. tahap overlay data spasial,
2. tahap editing data atribut,
3. tahap analisis tabuler, dan
4. presentase grafis hasil analisis

Penentuan tingkat rawan banjir dilakukan dengan membagi sama


banyaknya nilai-nilai kerawanan dengan jumlah kelas interval yang sama.
Analisis untuk menentukan tingkat bahaya banjir digunakan formula yang
dikemukakan oleh Dibyosaputro yang dikutip oleh Hermon et al. (2009) yaitu :

(c−b)
i
n
Dimana :
i = lebar interval
c = jumlah skor tertinggi b = jumlah skor terendah

n = jumlah kelas yang diinginkan

Dari persamaan tersebut diatas, maka hasil perhitungan interval di konvers menjadi tingkat
kerawanan banjir
Perhitungan interval masing-masing kelas tingkat bahaya banjir disajikan pada Tabel serta
panjang interval berdasarkan rumus (2) diperoleh sebagai berikut:
Dimana;
jumlah skor tertinggi (c) adalah 48, dan
jumlah skor terendah (b) adalah 18.

Tabel Hasil Perhitungan Kelas Interval daerah bahaya banjir


Tingkat Kerawanan
Zona Kelas Interval
Banjir

I 18 - 27,67 Aman

II 27,67 – 37,34 Potensi Banjir

III 37,34 - 47 Rawan Banjir

Hasil analisis terhadap tingkat bahaya banjir MAFF-Japan dengan


menggunakan skor awal pada setiap kriteria pembentuk banjir dengan panjang
kelas tingkat bahaya banjir (Tabel) menunjukkan bahwa Kota Kendari
didominasi oleh wilayah berpotensi banjir sebesar 52,43%, luas wilayah zona
aman 33,95 %, dan wilayah dalam zona rawan banjir sebesar 13,62%. Kecamatan
Kendari Barat menjadi wilayah terluas yang aman dari bahaya banjir yakni
80,03% dari luas kecamatan meskipun masih memiliki wilayah yang rawan banjir
sebesar 7,49% dari luas kecamatan. Sedangkan Kecamatan Kadia dan Kecamatan
Wua-Wua hampir tidak memiliki wilayah yang aman dari bahaya banjir.
Kecamatan Kadia menjadi kecamatan yang memiliki wilayah rawan banjir terluas
diantara kecamatan lainnya yakni 40,65% dari luas kecamatan. Sedangkan
Kecamatan Kendari memiliki wilayah rawan banjir yang relatif lebih kecil
dibandingkan dengan kecamatan lainnya, yakni hanya seluas 1,44% dari luas
kecamatan
. Sebaran tingkat bahaya banjir perkecamatan di Kota kendari dapat dilihat pada
Tabel 12 dan peta sebaran tingkat bahaya banjir di Kota Kendari dapat dilihat
pada Gambar 10

Berdasarkan analisis model MAFF-Japan, daerah rawan banjir Kota


Kendari tersebar di wilayah tepi Sungai Wanggu seperti Kecamatan Kadia,
Kecamatan Kambu, Kecamatan Wua-Wua dan Kecamatan Baruga. Penggunaan
lahan tambak, permukiman serta kelerengan antara 0-2% dan 2-15% menjadikan
kawasan-kawasan tersebut memiliki kelas rawan banjir yang cukup luas. Hasil
analisis menunjukan bahwa sekitar 42% banjir di Kota Kendari terjadi di kawasan
permukiman. Jaya (2015) menerangkan bahwa wilayah dengan tutupan lahan
permukiman dan tambak masyarakat di sekitar tepi Sungai mengakibatkan
wilayah ini sangat mudah terkena banjir.

Tabel 12 Sebaran Tingkat Bahaya Banjir Kota Kendari

Kelas Rawan

Rawan Luas
Kecamatan Aman Potensi Banjir Banjir ha

ha % ha % ha %

Kec. Abeli 2.175 55,33 1.647 41,9 109 2,77 3.931

Kec. Baruga 388 8,01 3.382 69,82 1.074 22,17 4.844

Kec. Kadia 0 0 381 59,35 261 40,65 642

Kec. Kambu 387 17,28 1.151 51,38 702 31,34 2.240

Kec. Kendari 1.090 74,81 346 23,75 21 1,44 1.457

Kec. Kendari Barat 1.623 80,03 253 12,48 152 7,49 2.028

Kec. Mandonga 713 33,07 1.217 56,45 226 10,48 2.156

Kec. Poasia 2.292 53,83 1.326 31,14 640 15,03 4.258

Kec. Puuwatu 459 10,74 3.610 84,44 206 4,82 4.275

Kec. Wua-Wua 0 0 786 74,29 272 25,71 1.058

Total Kelas 9.127 14.099 3.663


Rawan (ha)
26.889
Total Kelas
33,95 52,43 13,62
Rawan (%)
A. Penanganan Bencana
a. Pra Bencana
Pencegahan lebih difokuskan, kesiapsiagaan level medium
1. Pencegahan (Prevention)
Pencegahan merupakan upaya yang dilakukn untuk mencegah terjadinya
bencana (jika mungkin dengan meniadakan bahaya). Yang dilakukan pada
mekanisme pra banjir yakni :
 Melakukan reboisasi terhadap hutan disekitar daerah yang terkena
dampak banjir.
 Melakukan kajian ulang terhadap daerah-daerah yang akan dilakukan
pembangunan infrastruktur
2. Mitigasi Bencana (Mitigation)
Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana,
baik melalui pembangunan fisik maupun peningkatan kemampuan
menghadapi ancaman bencana (UU24/2007) atau upaya yang dilakukan untuk
meminimalkan dampak yang ditimbulkan bencana. Hal dilakukan adalah :
 Melakukan penutupan tambang-tambang yang berpotensi
menimbulkan banjir
 Melakukan edukasi terhadap masyarakat (dilakukannya Sekolah
tanggap bencana di bawah kementerian sosial Kendari dan difasilitasi
oleh TAGANA)
 Membuat bendungan di daerah-daerah kali dan sungan yang
mengalami dampak banjir
3. Kesiapsiagaan (Preparedness)
Kesiapsiagaan merupakan serangkaian kegiatan yang dilakaukan untuk
mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang
tepat guna dan berdaya guna (UU 24/2007). Yang dengan melakukan :
 Menyiapkan sarana komunikasi
 Membangun pos komando
 Penyiapan lokasi evakuasi
 Membuat rencana kontinjensi
 Mengadakan sosialisasi peraturan/pedoman penanggulangan bencana
 Melakukan pesangan rambu-rambu evakuasi
4. Peringatan dini (Early Warning)
Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera
mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada
suatu tempat oleh lembaga berwenang (UU 24/2007), atau upaya yang
memberikan tanda peringan bahwa bencana kemungkinan akan segera terjadi.
Pemberian peringatan dini harus :
 Menjangkau masyarakat
 Segera
 Tegas tidak membingungkan
 Bersifat resmi

Hal ini biasa dilakukan oleh orang yang memiliki jabatan sepert RT/RW untuk
menyampaikan peringatan dini melalui pengeras suara

b. Bencana
Bencana adalah periode penanggulangan bencana saat kejadian/krisis, tanggap
darurat menjadi kegiatan paling penting.
Yang harus dilakukan saat kejadian bencana banjir terjadi adalah :
1. Tanggap darurat (Response)
Tanggap darurat adalah upaya yang dilakukan segera pada saat kejadian
bencana untuk menanggulangi dampak yang ditimbilkan. Yang dilakukan
adalah :
 Melakukan evakusasi terhadap masyarakat
 Penyelamatab berupa korban dan harta benda
 Membangun tenda pengungsian/Shelter
 Membangun dapur darurat

2. Bentuan darurat (relief)


Bentuan darurat merupakan upaya untuk memberikan bantuan berkaitan
dengan pemenuhan kebutuhan dasar berupa pangan, sandang, tempat tinggal
sementara, kesehatan, sanitasi dan air bersih. Yang dilakukan yakni :
 Dibangunnya tenda berskla besar/pleton untuk para pengungsi
 Fasilitas kesehtan terdekat memfasilitasi pengungsi yang mengalami
dampak
 Pendisitribusian air bersih dan pangan di fasilitasi oleh permerinta
(Dibawah Dinas Sosial)

c. Pascabencana
Pascabencana adalah pemulihan dan rekonstruksi yang menjadi proses terpenting
setelah bencana. Dengan kegiatan manajemennya :
1. Pemulihan (recovery)
 Proses pemulihan darurat kondisi masyarakat yang terkenan bencana
dengan memfungsikan kembali prasarana dan sarana pada keadaan
semula
 Upaya yang dilkukan adalah memperbaiki prasarana dan pelayanan
dasar (jalan, listrik, air bersih, pasar, puskesmas, dan lain-lain
2. Rehabilitasi (Rehabilitation)
Rehabilitasi adalah langkah upaya yang diambil setelah kejadian bencana
untuk membantu masyarakat memperbaiki rumhanya, fasilitas umum dan
faslitas sosial penting, dan menghidupkan kembali roda perekonomian
3. Rekonstruksi (Reconstruction)
Rekonstruksi merupakan program jangka menengah dan jangka panjang guna
perbaikan fisik, sosial, dan ekonomi untuk mengembalikan kehidupan
masyarakat pada kondisi yang sama atau lebih baik lagi dari sebelumnya
B. PERMASALAHAN DALAM PENANGGULANGAN BENCANA
1. Kurangnya koordinasi antara pihak-pihak yang turut andil dalam bencana
2. Kurangnya SDM yang memiliki keahlian dalam bidang bencana dan kesehatan
3. Pendistribusian yang kurang dari segi kauntitas.
4. Kurangnya dana untuk melakukan sosialiasi kepada masyarakat terhadap bahaya
bencana
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan
Banjir perkotaan merupakan bencana yang sering terjadi di Indonesia termasuk Kota
Kendari. Dampak dari peristiwa banjir tersebut dapat menyebabkan kerugian ekonomi
maupun nilai sosial pada suatu wilayah.
Dengan melihat manajemen bencana sebagai sebuah kepentingan masyarakat, kita
berharap berkurangnya korban jiwa dan kerugian harta benda. Hal ini terpenting dari
managemen bencana ini adalah adanya suatu langkah konkret dalam mengendalikan
bencana sehingga korban yang tidak kita harapkan dapat terselamatkan dengan cepat
dan tepat dan upaya untuk peulihan pascabencana dapat dilakukan secepatnya
Hal dapat dilakukan perawat adalah melakukan pemulihan secara fisik dan juga
mental kepada masyarakat yang terdampak bencana, melakukan planning terhadap
sistem tanggap bencana dimasyarakat, melakukan kesiapsiagaan jika terjadi KLB,
serta melakukan salah satu tujuan perguruan tinggi yaitu pengabdian masyarakat.

B. Saran
Tanggap darurat sampai saat ini memang penting dilakukan dan memang dibutuhkan
oleh masyarakat terdampak bencana. Namun tidak cukup hanya berhenti disini
semata. Ada bencana, ada proses pertolongan, kemudian selesai.
Namun, yang lebih penting adalah bagaimana menyiapkan masyarakat untuk lebih
cerdas dalam menghadapi bencana, mengurangi dampak resiko yang akan
dihadapinya, serta mengelola pengetahuan menjadi kesadaran kolektif di dalam
masyarakat sehingga tahan/tangguh dalam menghadapi bencana yang menimpa
DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. (tt). Kebijakan Penanggulangan Banjir di Indonsesia. Jakarta :


Deputi Bidang Sarana dan Prasarana, Direktorat Pengairan dan Irigasi

[BAPPEDA] Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Kendari. 2010.


Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Kendari 2010-2030, Provinsi Sulawesi
Tenggara. Kendari: BAPPEDA Kota Kendari
_____. 2014. Perencanaan Umum Drainase Kota Kendari Tahun 2014. Kendari:
BAPPEDA Kota Kendari
[BASARNAS] Badan SAR Nasional Kota Kendari. 2013.
www.kendari.basarnas.go.id
[BNPB] Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah Kota Kendari. 2013.
http://www.bnpb.go.id

[BPS] Badan Pusat Statistik Kota Kendari. 2014. Kota Kendari Dalam Angka
2014. Badan Pusat Statistik Kota Kendari: Kendari
Hamdani, A., M.Y.J. Purwanto, B. Kartiwa. 2013. Analisis Wilayah Rawan Banjir
dan Genangan DAS Citarum Hulu Berdasarkan Aplikasi Model
Hidrodinamik dan Sistem Informasi Geografis (Tesis). Bogor: Institut
Pertanian Bogor
Khambali. 2017. Manajemen Penanggulangan Bencna.Penerbit
ANDI.Yogyakarta
Jaya, FS. 2015. Analisis Perubahan Tutupan Lahan terhadap Kerawanan Banjir
di Daerah Aliran Sungai (DAS) Wanggu Hilir Kota Kendari (Tesis).
Kendari: UHO
Kustamar. 2013. Strategi Pengendalian Banjir Berbasis Konservasi Sumber Daya
Air di Das Sungai Nangka, Lombok Timur (227A). Konferensi Nasional
Teknik Sipil 7 (KoNTekS 7) Universitas Sebelas Maret (UNS) - Surakarta,
24-26 Oktober 2013
Sadtim. 2011. Pemanfaatan Lahan dan Potensi Banjir Perkotaan. Poli Rekayasa,
volume 7( 1): 39-45

https://pemkomedan.go.id/artikel-18051-beberapa-dampak-banjir-bagi-masyarakat.html