Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Praktikum Fisiologi Tumbuhan

Oleh
NATALINA
J1C108027

Asisten
ADITYAWARMAN

PROGRAM STUDI S-1 BIOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
MEI, 2010
PENGARUH ZAT PENGATUR TUMBUH (ZPT) TERHADAP
PEMBENTUKAN AKAR DAN TUNAS DAUN PADA SETEK

Natalina
PS Biologi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat
Jl. A. Yani Km 35,8 Banjarbaru
E-mail: alin.natalina@gmail.com (085654059128)

ABSTRAK
Tujuan dari praktikum ini yaitu untuk mengetahui pengaruh ZPT terhadap
pembentukan akar dan tunas daun pada setek. Fungsi beberapa hormon tertentu
tumbuhan (hormon endogen, dihasilkan sendiri oleh individu yang bersangkutan)
dapat diganti dengan pemberian zat pengatur tumbuh atau ZPT. ZPT IAA dan
IBA digunakan pada berbagai konsentrasi dengan volume masing-masing 100 ml.
Setek batang Rosa sp. dengan tiap batang ditinggal daun dan direndam ke dalam
larutan ZPT. Cup bekas air mineral dilubangi 3 buah bagian bawahnya dan diisi
penuh dengan top soil. Untuk merendam setek batang dengan ZPT digunakan
wadah gelas beaker ukuran 200 mL, air untuk menyiram, diukur perubahan yang
terjadi setiap pengamatn selama 4 minggu. Pada hari terakhir volume akar
diukur. IAA mempengaruhi pembentukan tunas daun dan IBA mempengaruhi
pembentukan akar pada setek Rosa sp. Dari hasil yang telah diperoleh dapat
diketahui bahwa pada perlakuan dengan menggunkan zat pengatur tumbuh IAA
dengan konsentrasi 200 ppm dan IBA dengan konsentrasi 100 ppm menujukkan
pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan zat pengatur tumbuh IAA
dengan konsentrasi 100 ppm dan IBA dengan konsentrasi 200 ppm.

Kata kunci : IAA, IBA, Rosa sp, ZPT.

PENDAHULUAN
Pertumbuhan, perkembangan, dan pergerakan tumbuhan dikendalikan oleh
beberapa golongan zat yang secara umum dikenal sebagai hormon tumbuhan atau
fitohormon. Istilah "hormon" menggunakan analogi fungsi hormon pada hewan.
Hormon dihasilkan dalam jumlah yang sangat sedikit di dalam sel. Namun,
beberapa ahli berkeberatan dengan istilah ini karena fungsi beberapa hormon
tertentu tumbuhan (hormon endogen, dihasilkan sendiri oleh individu yang
bersangkutan) dapat diganti dengan pemberian zat-zat tertentu dari luar, misalnya
dengan penyemprotan (hormon eksogen, diberikan dari luar sistem individu). Para
ahli lebih suka menggunakan istilah zat pengatur tumbuh atau ZPT (Heddy,
1996).
Bagian dari proses regulasi genetik dan berfungsi sebagai prekursor disebut
dengan hormon tumbuhan. Rangsangan lingkungan memicu terbentuknya hormon
tumbuhan, jika konsentrasi hormon telah mencapai tingkat tertentu, sejumlah gen
yang semula tidak aktif akan mulai ekspresi. Dari sudut pandang evolusi, hormon
tumbuhan merupakan bagian dari proses adaptasi dan pertahanan diri tumbuh-
tumbuhan untuk mempertahankan kelangsungan hidup jenisnya (Anonim1).
Pemahaman terhadap fitohormon pada masa kini telah membantu
peningkatan hasil pertanian dengan ditemukannya berbagai macam zat sintetis
yang memiliki pengaruh yang sama dengan fitohormon alami. Aplikasi zat
pengatur tumbuh dalam pertanian modern mencakup pengamanan hasil
(Anonim2), seperti:
a. penggunaan cycocel untuk meningkatkan ketahanan tanaman
terhadap lingkungan yang kurang mendukung,
b. teknologi semangka tanpa biji untuk memperbesar ukuran dan
meningkatkan kualitas produk, atau
c. misalnya dalam aplikasi etilena untuk penyeragaman pembungaan
tanaman buah musiman menyeragamkan waktu berbunga.
Sejauh ini dikenal golongan zat yang dianggap sebagai fitohormon yaitu
Auksin , Sitokinin , Giberelin atau asam giberelat (GA) , Etilena , Asam absisat
(ABA), Asam jasmonat , Steroid (brasinosteroid), dan Salisilat. Ahli biologi
tumbuhan telah mengidentifikasi 5 tipe utama ZPT yaitu auksin, sitokinin,
giberelin, asam absisat dan etilen. Tiap kelompok ZPT dapat mempengaruhi
pertumbuhan, namun hanya 4 dari 5 kelompok ZPT tersebut yang mempengaruhi
perkembangan tumbuhan yaitu dalam hal diferensiasi sel (Ijo, 2006).
Seperti halnya hewan, tumbuhan memproduksi ZPT dalam jumlah yang
sangat sedikit, akan tetapi jumlah yang sedikit ini mampu mempengaruhi sel
target. ZPT menstimulasi pertumbuhan dengan memberi isyarat kepada sel target
untuk membelah atau memanjang, beberapa ZPT menghambat pertumbuhan
dengan cara menghambat pembelahan atau pemanjangan sel. Sebagian besar
molekul ZPT dapat mempengaruhi metabolisme dan perkembangan sel-sel
tumbuhan. ZPT melakukan ini dengan cara mempengaruhi lintasan sinyal
tranduksi pada sel target. Pada tumbuhan seperti halnya pada hewan, lintasan ini
menyebabkan respon selular seperti mengekspresikan suatu gen, menghambat
atau mengaktivasi enzim, atau mengubah membran (Anonim2).
Pengaruh dari suatu ZPT bergantung pada spesies tumbuhan, situs aksi ZPT
pada tumbuhan, tahap perkembangan tumbuhan dan konsentrasi ZPT. Satu ZPT
tidak bekerja sendiri dalam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
tumbuhan, pada umumnya keseimbangan konsentrasi dari beberapa ZPT-lah yang
akan mengontrol pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan (Ijo, 2006).
Auksin : Mempengaruhi pertambahan panjang batang, pertumbuhan,
diferensiasi dan percabangan akar; perkembangan buah;
dominansi apikal; fototropisme dan geotropisme.
Sitokinin : Mempengaruhi pertumbuhan dan diferensiasi akar; mendorong
pembelahan sel dan pertumbuhan secara umum, mendorong
perkecambahan; dan menunda penuaan.
Giberelin : Mendorong perkembangan biji, perkembangan kuncup,
pemanjangan batang dan pertumbuhan daun; mendorong
pembungaan dan perkembangan buah; mempengaruhi
pertumbuhan dan diferensiasi akar.
Asam absisat (ABA) : Menghambat pertumbuhan, merangsang
penutupan stomata pada waktu kekurangan air, memper-
tahankan dormansi.
Etilen : Mendorong pematangan; memberikan pengaruh yang
berlawanan dengan beberapa pengaruh auksin; mendorong atau
menghambat pertumbuhan dan perkembangan akar, daun,
batang dan bunga. Meristem apikal tunas ujung, daun muda,
embrio dalam biji.
Auxin adalah salah satu hormon tumbuh yang tidak terlepas dari proses
pertumbuhan dan perkembangan (growth and development) suatu tanaman. Hasil
penemuan Kogl dan Konstermans (1934) dan Thymann (1935) mengemukakan
bahwa Indole Acetic Acid (IAA) adalah suatu auxin (Anonim1).
Ada hubungan yang berbanding terbalik antara aktivitas oksidasi IAA
dengan kandungan IAA dalam tanaman. Dalam hal ini apabila kandungan IAA
tinggi, maka aktivitas IAA oksidasi menjadi rendah, begitu pula sebaliknya. Di
dalam daerah meristematic yang kadar auxinnya tinggi, ternyata aktivitas IAA
oksidasinya rendah. Sedangkan di daerah perakaran yang kandungan auxinnya
rendah, ternyata aktivitas IAA oksidasinya tinggi. Proses lain yang menyebabkan
inaktifnya IAA ialah karena adanya degradasi oleh photo oksidasi atau aktivitas
suatu enzym. IAA adalah endogeneous auxin yang terbentuk dari Trypthopan
yang merupakan suatu senyawa dengan inti Indole dan selalu terdapat dalam
jaringan tanaman di dalam proses biosintesis. Trypthopan berubah menjadi IAA
dengan membentuk Indole pyruvic acid dan Indole-3-acetaldehyde. Tetapi IAA
ini dapat pula terbentuk dari Tryptamine yang selanjutnya menjadi Indole-3-
acetaldehyde, selanjutnya menjadi Indole-3-acetid acid (IAA). Sedangkan
mengenai perubahan Indole-3-acetonitrile menjadi IAA dengan bantuan enzym
nitrilase prosesnya masih belum diketahui. Pemecahan IAA dapat pula terjadi di
dalam alam. Hal ini sebagai akibat adanya photo oksidasi dan enzim. Dalam
peristiwa photo oksidasi ini, pigmen pada tanaman akan menyerap cahaya
kemudian energi ini dapat mengoksidasi IAA. Adapun pigmen yang berperan
dalam photo oksidasi ialah Ribovlavin dan B-Carotene (Anonim1).
Gibberellin adalah jenis hormon tumbuh yang mula-mula diketemukan di
Jepang oleh Kurosawa pada tahun 1926. Penelitian lanjutan dilakukan oleh
Yabuta dan Hayashi (1939). Ia dapat mengisolasi crystalline material yang dapat
menstimulasi pertumbuhan pada akar kecambah. Dalam tahun 1951, Stodola dkk
melakukan penelitian terhadap substansi ini dan menghasilkan "Gibberelline A"
dan "Gibberelline X". adapun hasil penelitian lanjutannya menghasilkan GA1,
GA2, dan GA3. Pada saat yang sama dilakukan pula penelitian di Laboratory of
the Imperial Chemical Industries di Inggris sehingga menghasilkan GA3 (Cross,
1954 dalam Weaver 1972). Nama Gibberellin acid untuk zat tersebut telah
disepakati oleh kelompok peneliti itu sehingga populer sampai sekarang
(Anonim2).
Sitokinin adalah salah satu zat pengatur tumbuh yang ditemukan pada
tanaman. Zat pengatur tumbuh ini mempunyai peranan dalam proses pembelahan
sel (cell division). Sitokinin pertama kali ditemukan dalam kultur jaringan di
Laboratories of Skoog and Strong University of Wisconsin. Material yang
dipergunakan dalam penelitian ini adalah batang tembakau yang ditumbuhkan
pada medium sintesis. Menurut Miller et al (1955, 1956), senyawa yang aktif
adalah kinetin (6-furfuryl amino purine). Hasil penelitian menunjukan bahwa
purine adenin sangat efektif (Salisbury & Ross, 1995).
Perbandingan sitokinin lebih besar dari auxin, maka hal ini akan
memperlihatkan stimulasi pertumbuhan tunas dan daun. Sebaliknya apabila
sitokinin lebih rendah dari auxin, maka ini akan mengakibatkan stimulasi pada
pertumbuhan akar. Sedangkan apabila perbandingan sitokinin dan auxin
berimbang, maka pertumbuhan tunas, daun dan akar akan berimbang pula. Tetapi
apabila konsentrasi sitokinin itu sedang dan konsentrasi auxin rendah, maka
keadaan pertumbuhan tobacco pith culture tersebut akan berbentuk callus.
Ethylene adalah hormon tumbuh yang secara umum berlainan dengan
Auxin, Gibberellin, dan Sitokinin. Dalam keadaan normal ethylene akan berbentuk
gas dan struktur kimianya sangat sederhana sekali. Di alam ethilen akan berperan
apabila terjadi perubahan secara fisiologis pada suatu tanaman. hormon ini akan
berperan pada proses pematangan buah dalam fase climacteric.
Penelitian terhadap ethylene, pertama kali dilakukan oleh Neljubow (1901)
dan Kriedermann (1975), hasilnya menunjukan gas ethylene dapat membuat
perubahan pada akar tanaman. Hasil penelitian Zimmerman et al (1931)
menunjukan bahwa ethylene dapat mendukung terjadinya abscission pada daun,
namun menurut Rodriquez (1932), zat tersebut dapat mendukung proses
pembungaan pada tanaman nanas (Anonim2).
Inhibitor adalah zat yang menghambat pertumbuhan pada tanaman, sering
didapat pada proses perkecambahan, pertumbuhan pucuk atau dalam dormansi. Di
dalam tanaman, inhibitor menyebar disetiap organ tubuh tanaman tergantung dari
jenis inhibitor itu sendiri. Menurut weaver (1972), beberapa jenis inhibitor adalah
merupakan bentuk phenyl compound termasuk phenol, benzoic acid, cinamic acid
dan coffeic acid. Gallic acid dan shikimic acid merupakan turunan dari benzoic
acid. Selanjutnya ia mengemukakan pula bahwa gallic acid dapat diketemukan
pada buah yang matang, sedangkan ferulic acid dan p-coumaric acid merupakan
ko faktor untuk IAA oksida (Salisbury & Ross, 1995).

BAHAN DAN METODE


Waktu dan Tempat Praktikum. Praktikum dilaksanakan pada tanggal 7
April 2010, bertempat di Laboratorium Dasar Ruang Biologi 1, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lambung Mangkurat
Banjarbaru.
Alat dan Bahan. Peralatan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah
gelas beaker dan penutupnya, cup bekas air mineral (pot) sebanyak 30 buah,
lubangi bagian bawahnya sebanyak 3 buah dan yang di isi dengan top soil,
penggaris, gelas beaker, amplop, dan gelas ukur. Bahan yang digunakan pada
praktikum ini adalah Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) : IAA dan IBA konsentrasi
100 ppm ,200 ppm, dengan volume masing-masing 100 mL. Setek batang
tanaman bunga Rosa sp 30 batang, dengan panjang batang + 20 cm dengan jumlah
daun tiap batang + 3, air untuk menyiram, top soil (media).
Prosedur Kerja. IAA dan IBA dengan konsentrasi tiap-tiap ZPT adalah
100 ppm, 200 ppm, dan air murni sebagai kontrol dengan volume masing-masing
sebanyak 100 ml disiapkan dan dimasukkan ke dalam gelas beaker yang telah
disiapkan. 5 batang stek mawar (Rosa sp) direndam untuk tiap dalam tiap-tiap
gelas beaker yang berisi ZPT dan 10 batang setek dalam air sebagai kontrol
selama + 1 jam dan tiriskan. Top soil disiapkan dalam pot dan disiram sedikit
demi sedikit sampai basah merata sampai air tidak menetes dari lubang pada
bagian bawah pot. Batang tanaman ditanam pada media, masing-masing 1 batang
tiap pot. Pertumbuhan diamati setiap hari selama 4 minggu, jika media tampak
kering siram dengan air sedikit demi sedikit. Jumlah akar dihitung dan diukur
volumenya dan dihitung rata-ratanya tiap perlakuan. jumlah tunas dihitung pula
dan dihitung pula rata-ratanya tiap perlakuan. Data ditabulasikan dalam tabel.

HASIL
Tabel 1. Hasil pengamatan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) pada Rosa sp.
Parameter
Perlakuan Ulangan Keterangan
Jumlah Akar Jumlah Tunas
1 - 1 Mati
Kontrol 2 - - Mati
3 8 - Hidup
4 6 3 Hidup
1 - 1 Mati
IAA 100 2 - - Mati
3 - - Mati
4 - 2 Mati
1 - - Mati
IAA 200 2 - - Mati
3 3 1 Hidup
4 - 1 Mati
1 - 3 Mati
IBA 100 2 9 1 Hidup
3 - - Mati
4 4 1 Hidup
1 - 1 Mati
IBA 200 2 - - Mati
3 - 1 Mati
4 - - Mati

Tabel 2. Nilai rata-rata pengamatan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT)


Parameter Kontrol IAA 100 IAA 200 IBA 100 IBA 200
Jumlah Akar 3,5 - 0,75 3,25 -

Jumlah Tunas 1 0,75 0,50 1,25 0,50


PEMBAHASAN
Pertumbuhan dan perkembangan tanaman dikendalikan oleh substansi
kimia yang konsentrasinya sangat rendah, yang disebut fitohormon atau hormon
pertumbuhan. Auksin merupakan salah satu hormon yang merupakan zat pengatur
tumbuhan, pengaruh fisiologi auksin adalah pemanjangan sel, tunas ketiak, absisi
daun, aktivitas kambium, tumbuh akar pada diferensiasi sel. Auksin berperan
dalam pembentukan akar pada stek dan potongan jaringan, pembentukan tunas
pada beberapa jaringan dan diferensiasi kambium. Fungsi beberapa hormon
tertentu tumbuhan (hormon endogen, dihasilkan sendiri oleh individu yang
bersangkutan) dapat diganti dengan pemberian zat pengatur tumbuh atau ZPT.
ZPT IAA dan IBA digunakan pada berbagai konsentrasi yaitu 100 dan 200
ppm. Setek batang Rosa sp. dengan tiap batang ditinggal daun kemudian
direndam ke dalam larutan IAA maupun IBA sebanyak 100 ml. Untuk merendam
setek batang dengan ZPT digunakan wadah gelas beaker ukuran 200 ml. Cup
bekas air mineral dilubangi 3 buah bagian bawahnya dan diisi penuh dengan top
soil. Pembentukan tunas dihitung setiap hari selama 4 minggu. Pada hari terakhir
volume akar diukur.
Berdasarkan tabel, diketahui bahwa pembentukan tunas tidak sepenuhnya
berhasil. Sebagian tunas tidak tumbuh menjadi batang baru melainkan mati
hingga keseluruhan batang. Konsentrasi ZPT yang diberikan haruslah tepat karena
jika kekurangan atau kelebihan auksin akan menghambat pertumbuhan.
Konsentrasi IAA yang tepat untuk pertumbuhan stek mawar tersebut adalah 100
dan 200 ppm. Sedangkan untuk IBA adalah 100 dan 200 ppm. ZPT yang berperan
dalam pembentukan akar adventif adalah IBA. Sedangkan ZPT yang berperan
dalam pembentukan tunas adalah IAA. Konsep zat tumbuh timbul dari hasil
observasi bahwa tumbuhan berkembang secar teratur, dan bahwa tumbuh
berbagai jaringan dan organ dipengaruhi bagian tumbuhan yang lain. Ujung
batang berpengaruh pada perkembangan tunas lateral, daun tua berpengaruh pada
tumbuh daun muda, dan zat tumbuh tampaknya ditranslokasikan menurut arah
tertentu, dan sebagainya.
Didapat hasil setelah penanaman selama 1 bulan pada stek batang yang
direndam dalam air murni (kontrol) tanaman mati pada ulangan pertama dan
kedua, tetapi tanaman hidup pada ulangan ketiga dan keempat dengan jumlah akar
8 pada ulangan ketiga, dan jumlah akar 6, tunas 3 pada ulangan keempat. Pada
stek batang yang direndam dalam IAA 100 ppm semua tanaman berada dalam
kondisi mati, terdapat 1 tunas pada ulangan pertama, dan 2 tunas pada ulangan
keempat. Untuk stek batang yang direndam dalam IAA konsentrasi 200 ppm,
tanaman pada ulangan pertama, kedua dan keempat mati dengan jumlah 1 tunas
pada ulangan keempat, sedangkan tanaman hidup pada ulangan ketiga dengan
jumlah 3 akar dan 1 tunas. Pada tanaman yang direndam dalam IBA konsentrasi
100 ppm, tanaman mati pada ulangan pertama dan ketiga dengan jumlah 3 tunas
pada ulangan pertama, sedang pada ulangan kedua dan keempat tanaman hidup
dengan jumlah akar 9 dan 1 tunas pada ulangan kedua, serta 4 akar dan 1 tunas
pada ulangan keempat. Sedangkan pada perlakuan terakhir yaitu perendaman
dengan IBA konsentrasi 200 ppm didapat hasil bahwa semua tanaman mati pada
semua pengulangan dengan jumlah tunas 1 pada pengulangan pertama dan ketiga.
Nilai rata-rata dari jumlah akar pada kontrol, IAA 200 ppm, IBA 100 ppm secara
berturut turut adalah 3,5; 0,75; dan 3,25. Nilai rata-rata dari jumlah tunas yang
tumbuh pada kontrol, IAA 100 ppm, IAA 200 ppm, IBA 100 ppm, dan IBA 200
ppm adalah 1; 0,75; 0,50; 1,25; dan 0,50.
Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa stek batang mawar dapat tumbuh
dengan cukup baik pada perlakuan dengan perendaman pada larutan ZPT IAA
konsentrasi 200 ppm dan IBA konsentrasi 100 ppm. Hal ini berarti bahwa
konsentrasi penambahan zat pengatur tumbuh jenis IAA yang cocok adalah pada
konsentrasi 200 ppm, sedangkan pada jenis IBA adalah pada konsentrasi 100
ppm, karena pada konsentrasi tersebut ditemukan tanaman yang masih hidup. Hal
tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi yang terlalu rendah maupun terlalu
tinggi justru akan menghambat pertumbuhan suatu tanaman. Banyaknya tanaman
yang mati juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain, berupa kekurangan air untuk
proses pertumbuhannya, karena pada kasus ini praktikan jarang memperhatikan
kebutuhan air dari tanaman, hingga tanaman menjadi layu dan mati akibat
kekeringan.

KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil adalah IAA mempengaruhi pembentukan
tunas daun dan IBA mempengaruhi pembentukan akar pada setek Rosa sp. Tetapi
semakin tinggi konsentrasi dari zat penatur tumbuh (ZPT) maka akan semakin
menghambat pertumbuhan dari tanaman tersebut. IBA lebih cepat dalam
merangsang pertumbuhan akar dan tunas pada tanaman dibandingkan dengan
IAA.

DAFTAR PUSTAKA
1
Anonim . 2008. Hormon tumbuhan.
http://id.wikipedia.org/wiki/Hormon_tumbuhan
Diakses pada 2 Mei 2010
Anonim2. 2008. Zat Pengatur Tumbuh.
http://sugihsantosa.atspace.com/artikel/zpt.html?#auxin
Diakses pada 2 Mei 2010
Heddy, Suwasono. 1996. Hormon Tumbuhan. PT Raja Grafindo Persada.
Jakarta.
Ijo, O. 2006. Peranan Zat Pengatur Tumbuh (Zpt) Dalam Pertumbuhan Dan
perkembangan Tumbuhan.
http://blog.360.yahoo.com/blog-qzbRxjswfKpd2.DNgq5ywU4h?p=32
Diakses pada 2 Mei 2010
Salisbury, Frank B dan Ross, Cleon W. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid 2.
Penerbit ITB. Bandung.