Anda di halaman 1dari 31

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Karena atas segala rahmat dan berkat-Nya sehingga kami
dapat menyelesaikan tugas Makalah Akuntansi Sektor Publik dengan pokok bahasan tentang Regulasi
Keuangan Sektor Publik.

Harapan Kami semoga makalah ini dapat membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
para pembaca.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik bentuk penyusunan maupun
materinya. Kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan untuk menyempurnakan makalah ini
selanjutnya. Sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini agar kedepannya dapat
lebih baik.

Bitung, September 2018

Salam Penyusun

Kelompok 2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………… 1

DAFTAR ISI………………………………………………………………………….. 2

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH…………………………………………… 3

B. RUMUSAN MASALAH……………………………………………………… 4

C. TUJUAN PENULISAN………………………………………………………… 4

BAB II PEMBAHASAN

1. DEFINISI REGULASI PUBLIK…………………………………………….. 5

2. TEKNIK PENYUSUNAN REGULASI PUBLIK……………………………. 5

3. PENYUSUNAN REGULASI PUBLIK………………………………………. 6

4. DASAR HUKUM KEUANGAN SEKTOR PUBLIK………………………... 9

5. AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK MEMASUKI ERA DISENTRALISASI… 11

6. REGULASI YANG TERKAIT DENGAN SKUNTANSI SEKTOR PUBLIK. 12

7. REGULASI DALAM SIKLUS AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK………….. 18

8. REVIEW REGULASI AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK…………………… 20

9. BARANG DAN JASA PUBLIK………………………………………………. 21

10. ETIKA PENGELOLAAN KEUANGAN PUBLIK…………………………… 25

11. PERMASALAHAN REGULASI KEUANGAN SEKTOR PUBLIK DI

INDONESIA…………………………………………………………………… 26

12. KEDUDUKAN DAN PERAN PEMERINTAH DALAM MEMPERBAIKI

KUALITAS PELAYANAN PUBLIK…………………………………………. 27

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN………………………………………………………………… 28
B. SARAN………………………………………………………………………… 28

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………….. 29

BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Regulasi merupakan suatu cara yang digunakan untuk mengendalikan masyarakat dalam aturan
tertentu. Regulasi banyak digunakan untuk menggambarkan peraturan yang terjadi dalam kehidupan
masyarakat. Istilah regulasi memiliki artian yang cukup luas. Regulasi banyak diterapkan pada peraturan
hukum negara, perusahaan dan organisasi.

Terminologi keuangan publik yaitu dapat diartikan sebagai keuangan negara. Keuangan negara yang
artinya aktivitas finansial pemerintah. Keuangan negara menurut UU 17/2003 “semua hak dan
kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun
berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban
tersebut.

Ketika kita memahami apa maksud dari regulasi serta keuangan publik maka kita mungkin akan langsung
mengarahkan pandangan kita pada peraturan-peraturan yang mengatur regulasi tersebut. Namun,
untuk membuat peraturan tersebut harus ada dasar hukum, dan harus memahami lebih dalam
bagaimana cara penyusunannya, apa saja yang terkait, serta memahami etika pengelolaan keuangan
publik.

Selama ini kita melihat beberapa regulasi keuangan sector publik memiliki permasalahan contohnya
alokasi anggaran pelayanan publik, jumlah pencairan dana tidak sesuai dengan anggaran. Berdasarkan
contoh tersebut, maka diperlukan kedudukan dan peran oleh pihak pemerintah dalam memperbaiki
kualitas pelayanan publik. Jika peran tersebut berjalan dengan baik maka akan menghasilkan kualitas
publik yang baik terutama di Indonesia.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa Definisi Regulasi Publik?

2. Bagaimana Teknik Penyusunan Regulasi Publik?

3. Bagaimana Penyusunan Regulasi Publik?

4. Apa saja Dasar Hukum Keuangan Sektor Publik?

5. Bagaimana ASP Memasuki Era Desentralisasi?

6. Apa saja Regulasi yang terkait dengan ASP?

7. Bagaimana Regulasi dalam Siklus ASP?

8. Apa itu Review Regulasi ASP?

9. Apa itu Barang dan Jasa Publik?

10. Bagaimana Etika Pengelolaan Keuangan Publik?

11. Apa saja Permasalahan Regulasi Keuangan Sektor Publik di Indonesia?

12. Apa Kedudukan dan Peran Pemerintah dalam Memperbaiki Kualitas Pelayanan Publik?
C. TUJUAN PENULISAN

1. Mengetahui apa Definisi Regulasi Publik

2. Memahami bagaimana Teknik Penyusunan Regulasi Publik

3. Mengetahui bagaimana Penyusunan Regulasi Publik

4. Mengetahui apa saja Dasar Hukum Keuangan Sektor Publik

5. Mengetahui bagaimana ASP Memasuki Era Desentralisasi

6. Mengetahui apa saja Regulasi yang terkait dengan ASP

7. Mengetahui bagaimana Regulasi dalam Siklus ASP

8. Mengetahui apa itu Review Regulasi ASP

9. Mengetahui apa itu Barang dan Jasa Publik

10. Mengetahui bagaimana Etika Pengelolaan Keuangan Publik

11. Mengetahui apa saja Permasalahan Regulasi Keuangan Sektor Publik di Indonesia

12. Mengetahui Kedudukan dan Peran Pemerintah dalam Memperbaiki Kualitas Pelayanan Publik

BAB II

PEMBAHASAN

1. DEFINISI REGULASI PUBLIK

Regulasi berasal dari bahasa Inggis, yakni regulation atau peraturan. Dalam kamus bahasa Indonesia
(Reality publisher, 2008), kata “peraturan” mengandung arti kaidah yang dibuat untuk mengatur,
petunjuk yang dipakai untuk menata sesuatu dengan aturan, dan ketentuan yang harus dijalankan serta
dipatuhi. Jadi, regulasi publik adalah ketentuan yang harus dijalankan dan dipatuhi dalam proses
pengelolaan organisasi publik, baik pada organisasi pemerintahan pusat, pemerintahan daerah, partai
politik, yayasan, LSM, organisasi keagamaan/tempat peribadatan, maupun organisasi sosial masyarakat
lainnya.

2. TEKNIK PENYUSUNAN REGULASI PUBLIK

Teknik penyusunan regulasi publik berupa rangkaian alur tahapan, sehingga regulasi publik tersebut siap
disusun dan kemudian ditetapkan serta diterapkan.

Ø Pendahuluan

Perencanaan regulasi publik harus mampu mendeskribsikan latar belakang perlunya disusun regulasi
publik.

Ø Alasan penyusunan regulasi publik

Sebuah regulasi publik disusun karena adanya berbagai isu terkait, yang membutuhkan tindakan khusus
dari organisasi publik.

Ø Permasalahan dan misi

Sebuah regulasi publik disusun dan ditetapkan jika solusi alternatif atau suatu permasalahan telah dapat
dirumuskan. Selain itu, penyusunan dan penetapan regulasi publik juga dilakukan dengan misi tertentu
sebagai wujud komitmen serta langkah organisasi publik menghadapi rumusan solusi permasalahan
yang ada.

Ø Dengan apa diatur

Di setiap jenjang struktur pemerintahan dikenal regulasi tersendiri, seperti peraturan daerah atau
keputusan keputusan kepala daerah sebagai aturan di daerah, bentuk aturan lainnya adalah Undang-
Undang Dasar, Undang-Undang, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang, Peraturan
Pemerintah dan Peraturan Presiden.

Ø Bagaimana mengaturnya

Subtansi regulasi publik yang disusun harus bisa menjawab pertanyaan berbagai solusi atas
permasalahan yang ada.

Ø Diskusi/musyawarah

Materi regulasi publik harus disusun dan dibicarakan melalui mekanisme forum diskusi atau pertemuan
khusus publik yang membahas regulasi publik.

Ø Catatan

Catatan yang dimaksud adalah hasil dari proses diskusi yang dilakukan sebelumnya.
3. PENYUSUNAN REGULASI PUBLIK

Ø Perumusan Masalah

Penyusunan regulasi publik diawali dengan merumuskan masalah yang akan diatur. Perumusan masalah
publik meliputi hal-hal berikut:

a. Apa masalah publik yang ada?

b. Siapa masyarakat yang perilakunya bermasalah?

c. Siapa aparat pelaksana yang perilakunya bermasalah?

d. Analisis keuntungan dan kerugian atas penerapan regulasi publik?

e. Tindakan apa yang diperlukan untuk mengatasi masalah publik?

Contoh masalah publik tentang akuntansi sektor public

Tahapan Siklus ASP

Permaslahan

Pihak Terkait

Perencanaan Publik

Ketimpangan pelayanan publik (kesehatan,pendidikan)

Bagian perencanaan,bagian program, stakeholder

Penganggaran publik

Alokasi anggaran pelayanan publik minimal

Bagian anggaran, bagian keuangan

Realisasi anggaran publik

Jumlah pencairan dana tidak sesuai dengan anggaran

Bagian anggaran, bagian keuangan

Pengadaan barang dan jasa publik


Informasi tidak transparan

Bagian pengadaan, organisasipenyedia layanan barang dan jasa

Pelaporan keuangan sektor publik

Ketidaktepatan waktu pelaporan

Bagian keuangan

Audit sektor bank

Kurangnya bukti

Audit internal, audit eksternal

Pertanggungjawaban publik

Keterbatasan pendistribusian informasi

Kepala organisasi, legislatif

Contoh analisis permasalahan publik

Permasalahan

Kerugian

Solusi tindakan

Ketimpangan pelayanan publik(kesehatan, pendidikan)

Masyarakat tidak dapat dilayani kebutuhannya

Penyususnan daftar skala prioritas


Alokasi anggaran pelayanan publik minimal

Jumlah pencairan dana tidak sesuai dengan anggaran

Pencapaian target tidak maksimal

Program tidak berjalan secara baik

Penambahan alokasi bagi pelayanan publik

Pendisiplinan anggaran dan perbaikan sistem perealisasian anggaran

Informasi tidak transparan

Pilihan kriteria organisasi penyedia layanan barang dan jasa

Perluasan akses ke informasi yang terkait dengan mekanisme pengadaan baranag dan jasa

Ketidaktepatan waktu pelaporan

Mengacaukan jadwal kegiatan

Penertiban penyusunan laporan keuangan

Kurangnya bukti

Ketidakpercayaan publik

Perbaikan sistem akuntansi dan pengarsipan dokumen transaksi

Keterbatasan pendistribusian informasi

Respon masyarakat minim

Perluasan akses informasi


Ø Perumusan Draft Regulasi Publik

Draft regulasi publik pada dasarnya merupakan kerangka awal yang dipersiapkan untuk mengatasi
mengatasi masalah publik yang hendak diselesaikan. Terkait dengan jenis regulasi publik yang akan
dibentuk, rancangan regulasi publik tersebut harus secara jelas mendeskripsikan perataan wewenang
bagi lembaga pelaksana dan perilaku bagi organisasi publik atau masyarakat yang harus mematuhinya.

Ø Prosedur Pembahasan

Terdapat tiga tahap penting dalam pembahasan draft regulasi publik, yaitu dalam lingkup tim teknis
pelaksana organisasi publik (eksekutif), dengan lembaga legislatif (dewan penasihat, dewan penyantun
dan lain-lain), dan dengan masyarakat. Pembahasan pada lingkup tim teknis adalah yang lebih
merepresentasi kepentingan eksekutif(manajemen). Setelah itu, dilakukan publik hearing (pengumpulan
pendapat masyarakat). Pembahasan pada lingkup legislatif (DPR/D misalnya) dan masyarakat biasanya
sangat sarat dengan kepentingan politis.

Ø Pengesahan dan Pengundangan

Perjalanan terakhir dari draft regulasi publik adalah pengesahan yang dilakukan dalam bentuk
penandatanganan naskah oleh pihak organisasi publik (pimpinan organisasi). Dalam konsep hukum,
regulasi publik tersebut telah mempunyai kekuatan hukum materiil terhadap pihak yang menyetujuinya.
Sejak ditandatangani, rumusan hukum yang ada dalam regulasi publik sudah tidak dapat diganti secara
sepihak.
4. DASAR HUKUM KEUANGAN SEKTOR PUBLIK

4.1 Dasar Hukum Keuangan Negara

Wujud pelaksanaan keuangan negara tersebut dapat diidentifikasikan sebagai segala bentuk kekayaan,
hak, dan kewajiban negara yang tercantum dalam APBN dan laporan pelaksanaannya.

Hak-hak Negara yang dimaksud, mencakup antara lain :

Kewajiban negara adalah berupa pelaksanaan tugas-tugas pemerintah sesuai dengan pembukaan UUD
1945 yaitu :

1. Hak monopoli mencetak dan mengedarkan uang

2. Hak untuk memungut sumber-sumber keuangan, seperti pajak, bea dan cukai

3. Hak untuk memproduksi barang dan jasa yang dapat dinikmati oleh khalayak umum, yang dalam
hal ini pemerintah dapat memperoleh (kontra prestasi) sebagai sumber penerima negara

1. Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluuh tumpah darah Indonesia

2. Memajukan kesejahteraan umum

3. Mencerdaskan kehidupan bangsa

4. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan
keadilan sosial

Pelaksanaan kewajiban atau tugas-tugas pemerintah tersebut dapat berupa pengeluaran dan diakui
sebagai belanja negara. Dalam UUD 1945 Amandemen IV, secara khusus diatur mengenai Keuangan
Negara, yaitu pada BAB VIII pasal 23 yang berbunyi sebagai berikut :

1. Anggaran pendapatan dan belanja ditetapkan setiap tahun dengan Undang-Undang. Apabila
Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyetujui anggaran yang diusulkan Pemerintah, maka Pemerintah
menjalankan anggaran tahun lalu.

2. Segala pajak untuk keperluan negara berdasarkan Undang-Undang

3. Jenis dan harga mata uang ditetapkan dengan Undang-Undang

4. Hal keuangan negara selanjutnya diatur dengan Undang-undang


5. Untuk memeriksa tanggung jawab tentang keuangan negara diadakan suatu Badan Pemeriksa
Keuangan, yang peraturannya ditetapkan dengan Undang-Undang. Hasil pemeriksaan itu diberitahukan
kepada Dewan Perwakilan Rakyat.

Berdasarkan ketentuan tersebut, ditetapkan Undang-undang tentang APBN untuk tahun anggaran
bersangkutan. Penyusunan APBN bukan hanya untuk memenuhi ketentuan konstitusional yang
dimaksud pada pasal 23 ayat (1) UUD 1945, tetapi juga sebagai dasar rencana kerja yang dilaksanakan
oleh pemerintah dalam tahun anggaran yang bersangkutan. Oleh karena itu, penyusunannya didasarkan
atas Rencana Strategi dalam UU Propenas, dan pelaksanaannya dituangkan dalam UU yang harus
dijalankan oleh Presiden/Wakil Presiden dan Menteri-menteri serta pimpinan Lembaga Tinggi Negara
Lainnya.

4.2 Dasar Hukum Keuangan Daerah

Berdasarkan pasal 18 UUD 1945, tujuan pembentukan daerah otonom adalah meningkatkan daya guna
penyelenggaraan pemerintah untuk melayani masyarakat dan melaksanakan program pembangunan.
Dalam rangka penyelenggaraan daerah otonom, menurut penjelasan pasal 64 Undang-undang No. 5
tanhun 1974, fungsi penyusunan APBD adalah untuk:

1. Menentukan jumlah pajak yang dibebankan kepada Rakyat Daerah yang bersangkutan

2. Mewujudkan otonomi yang nyata dan bertanggung jawab

3. Memberi isi dan arti kepada tanggung jawab pemerintah daerah umumnya dan kepala daerah
khususnya, karena anggaran pendapatan dan belanja daerah itu menggambarkan seluruh kebijaksanaan
pemerintah daerah

4. Melaksanakan pengawasan terhadap pemerintahan daerah dengan cara yang lebih mudah dan
berhasil guna.

5. Merupakan suatu pemberian kuasa kepada kepala daerah untuk melaksanakan penyelenggaraan
Keuangan Daerah didalam batas-batas tertentu

4.3 Dasar Hukum Keuangan Organisasi Lainnya

Di Indonesia, beberapa upaya untuk membuat standar yang relevan dengan praktek-praktek akuntansi
di organisasi sektor publik telah dilakukan baik oleh Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) maupun oleh
pemerintah sendiri. Untuk organisasi nirlaba, IAI menerbitkan pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
Nomor 45 (PSAK No.45) tentang organisasi nirlaba. PSAK ini berisi akidah-akidah atau prinsip-prinsip
yang harus diikuti oleh organisasi nirlaba dalam membuat laporan keuangan. Selain itu, juga lahir
Undang-undang no.16 tahun 2001 tentang yayasan yang mengatur masalah organisasi publik yang
berbentuk yayasan. Juga ada regulasi publik terkait dengan partai politik seperti Undang-undang no.2
tahun 2008 tentang bantuan keuangan kepada partai politik.

5. AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK MEMASUKI ERA DESENTRALISASI

Kebijakan desentralisasi telah mengubah sifat hubungan antar pemerintah pusat dengan pemerintah
daerah, antara BUMN dengan Pemerintah Pusat; antar Pemerintah dengan masyarakat, dan berbagai
entitas lain dalam pemerintahan. Perananan laporan keuangan telah berubah dari posisi administrasi
semata menjadi posisi akuntabilitas di tahun 2000. Pergeseran peranan laporan keuangan ini telah
membuka peluang bagi posisi akuntansi sektor publik dalam manajemen pemerintahan dan organisasi
sektor publik lainnya. Jadi tujuan akuntansi sektor publik adalah untuk memastikan kualitas laporan
keuangan dalam pertanggungjawaban publik.

Sebagai perspektif baru, berbagai prasarana akuntansi sektor publik perlu dibangun, seperti:

a. Standar Akuntansi Sektor Publik untuk Pemerintahan Pusat, Pemerintahan Daerah, dan organisasi
sektor publik lainnya

b. Account Code untuk Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, maupun organisasi sektor publik
lainnya, dimana review terhadap transaksi yang berkaitan dapat dilakukan dalam rangka konsolidasi dan
audit

c. Jenis Buku Besar yang menjadi pusat pencatatan data primer atas semua transaksi keuangan
pemerintah

d. Manual sistem Akuntansi Pemerintahan dan Organisasi lainnya yang menjadi pedoman atas jenis-
jenis transaksi dan perlakuan akuntansinya

Dengan kelengkapan prasarana tersebut, para petugas dibidang akuntansi dapat melakukan pencatatan,
peringkasan, dan pelaporan keuangan, baik secara manual maupun komputasi. Akibat tidak tersedianya
prasaran diatas, muncul persepsi bahwa :

a. Akuntansi adalah sesuatu yang sulit

b. Akuntansi harus dikerjakan oleh SDM yang terdidik dalam jangka waktu panjang.
6. REGULASI YANG TERKAIT DENGAN AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

6.1 Regulasi Akuntansi Sektor Publik di Era Pra Reformasi

Perjalanan akuntansi sektor publik di era pra reformasi didasari pada UU Nomor 5 Tahun 1974 tentang
Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah. Pengertian daerah dalam era pra reformasi adalah daerah tingkat
I yang meliputi propinsi dan daerah tingkat II yang meliputi kotamadya atau kabupaten. Disamping
itu,ada beberapa peraturan pelaksanaan yang diturunkan dari perundang-undangan,antara lain:

1. Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 1975 tentang Pengurusan, Pertanggungjawaban, dan


Pengawasan Keuangan Daerah

2. Pemerintah Pemerintah Nomor 6 Tahun 1975 tentang Penyusunan APBD, Pelaksanaan Tata Usaha
Keuangan Daerah, dan Penyusunan Perhitungan APBD

3. Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 900-099 Tahun 1980 tentang Manual Administrasi Keuangan
Daerah

4. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 2 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan APBD

5. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang pajak Daerah dan Retribusi Daerah

6. Keputusan Mendagri Nomor 3 Tahun 1999 tentang Bentuk dan Susunan Perhitungan APBD

6.2 Regulasi Akuntansi Sektor Publik di Era Reformasi

Reformasi politik di Indonesia telah mengubah sistem kehidupan negara. Tuntutangood governance
diterjemahkan sebagai terbebas dari tindakan KKN. Pemisahan kekuasaan antareksekutif, yudikatif, dan
legislatif dilaksanakan. Selain itu, partisipasi masyarakat akan mendorong praktik demokrasi dalam
pelaksanaan akuntabilitas publik yang sesuai dengan jiwa otonomi daerah.

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25
tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah adalah dua undang-undang yang
berupaya mewujudkan etonomi daerah yang lebih luas. Sebagai penjabaran otonomi daerah tersebut di
bidang administrasi keuangan daerah,berbagai peraturan perundangan yang lebih operasional dalam
era reformasipun telah dikeluarkan. Beberapa regulasi yang relevan antara lain :
1. Undang-Undang Nomor 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bebas Dari Korupsi,
Kolusi, dan Nepotisme (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851)

2. Peraturan pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah Dan Kewenangan
Provinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952)

3. Peraturan Pemerintah Nomor 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan

4. Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban
Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 202, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4022)

5. Peraturan Pemerintah Nomor 107 Tahun 2000 tentang Pinjaman Daerah

6. Peraturan Pemerintah Nomor 108 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pertanggungjawaban Kepala
Daerah

6.3 Paradigma Baru Akuntansi Sektor Publik di Era Reformasi

Paradigma baru dalam “Reformasi Manajemen Sektor Publik” adalah penerapan akuntansi dalam
praktik pemerintah guna mewujudkan good governance. Landasan hukum pelaksanaan reformasi
tersebut telah disiapkan oleh Pemerintah dalam suatu Paket UU Bidang Keuangan Negara yang terdiri
dari UU Keuangan Negara, UU Perbendaharaan Negara, dan UU Pemeriksaan Tanggung Jawab Keuangan
Negara yang pada saat ini telah disahkan oleh DPR.

Terdapat empat prinsip dasar pengelolaan keuangan negara yang telah dirumuskan dalam 3 Paket UU
Bidang Keuangan Negara tersebut, yaitu :

1. Akuntabilitas berdasarkan hasil atau kinerja

2. Keterbukaan dalam setiap prinsip transaksi

3. Pemberdayaan manajer professional

4. Adanya lembaga pemeriksa internal yang kuat, profesional, dan mendiri serta dihindarinya
duplikasi dalam pelaksanaan pemerintahan.

Prinsip-prinsip tersebut sejalan dengan prinsip-prinsip desentralisasi dan otonomi daerah yang telah
ditetapkan dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-
Undang No. 25 Tahun Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Dengan demikian,
pelaksanaan tiga UU Bidang Keuangan Negara tersebut nantinya, selain menjadi acuan dalam
pelaksanaan reformasi manajemen pemerintah, diharapkan akan memperkokoh landasan pelaksanaan
desentralisasi dan otonomi daerah di NKRI.
Paradigma baru regulasi Akuntansi Sektor Publik

1. UU No. 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara

Mengatur mengenai semua hak dan kewajiban Negara mengenai keuangan dan pengelolaan kekayaan
Negara, juga mengatur penyusunan APBD dan penyusunan anggaran kementrian/lembaga Negara
(Andayani, 2007)

2. UU No. 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara

Mengatur pengguna anggaran atau pengguna barang, bahwa undang-undang ini mengatur tentang
pengelolaan keuangan Negara yang meliputi pengelolaan uang, utang, piutang, pengelolaan investasi
pemerintah dan pengelolaan keuangan badan layanan hukum. (Andayani, 2007)

3. UU No. 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan Keuangan Negara.

Mengatur tentang pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan Negara yang dilaksanakan
oleh BPK. BPK menyampaikan laporan hasil pemeriksaan atas laporan keuangan kepada DPR dan
DPD.Sedangkan laporan keuangan pemerintah daerah disampaikan kepada DPRD. (Andayani, 2007).

Empat Prinsip Pengelolaan Keuangan Negara yang didasarkan pada ketiga Undang-undang di atas,
yaitu :

1. Akuntabilitas berdasarkan hasil atau kineja.

2. Keterbukaan dalam setiap transaksi pemerintah.

3. Adanya pemeriksa eksternal yang kuat, profesional dan mandiri dalam pelaksanaan pemeriksaan.

4. Pemberdayaan manajer profesional.

Selain ketiga UU di atas, juga terdapat peraturan lain, yaitu :

1. UU No.25/2004 tentang Sistem Perencanaan dan Pembangunan Nasional.

2. UU No.32/2004 tentang Pemerintahan Daerah.

3. UU No.33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dengan Daerah.

4. UU No.24/2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.


6.4 Peraturan Pemerintah Nomor 71 Sebagai Regulasi Terkini di Indonesia

Dalam UU 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara pasal 1 angka 13, 14, 15, dan 16, dapat dilihat
bahwa definisi pendapatan dan belanja negara/daerah berbasis akrual karena disana disebutkan
bahwa : Pendapatan negara/daerah dalah hak pemerintah pusat/daerah yang diakui sebagai penambah
nilai kekayaan bersih dan Belanja negara/daerah adalah kewajiban pemerintah pusat/daerah yang
diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih. Namun kita diperkenankan untuk transisi karena saat itu
praktik yang ada adalah dengan menggunakan basis kas, dimana pendapatan dan belanja diakui saat
uang masuk/keluar ke/dari kas umum negara/daerah. Dispensasi ini tercantum dalam Pasal 36 ayat 1
UU 17 Tahun 2003 yang intinya ketentuan mengenai pengakuan dan pengukuran pendapatan dan
belanja berbasis akrual dilaksanakan selambat-lambatnya dalam 5 (lima) tahun, artinya sampai dengan
tahun 2008. Untuk masa transisi itulah PP 24 tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah terbit,
dimana kita memakai basis Kas Menuju Akrual (Laporan Realisasi Anggaran berdasarkan basis kas,
Neraca berdasarkan basis Akrual). Dalam pelaksanaan PP 24 Tahun 2005 tersebut hingga Laporan
Keuangan Pemerintah tahun 2008 selesai diaudit di tahun 2009, ternyata opini yang didapat pemerintah
saat itu masih menyedihkan. Untuk itulah, Pemerintah akhirnya berkonsultasi dengan Pimpinan DPR,
dan disepakati bahwa basis akrual akan dilaksanakan secara penuh mulai tahun 2014.

Pada tahun 2010 terbit PP 71 tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah sebagai pengganti PP
24 tahun 2005. Diharapkan setelah PP ini terbit maka akan diikuti dengan aturan-aturan pelaksanaannya
baik berupa Peraturan Menteri Keuangan untuk pemerintah pusat maupun Peraturan Menteri Dalam
Negeri untuk pemerintah daerah. Ada yang berbeda antara PP 71 tahun 2010 ini dengan PP-PP lain.
Dalam PP 71 tahun 2010 terdapat 2 buah lampiran. Lampiran I merupakan Standar Akuntansi
Pemerintah berbasis Akrual yang akan dilaksanakan selambat-lambatnya mulai tahun 2014, sedangkan
Lampiran II merupakan Standar Akuntansi Pemerintah berbasis Kas Menuju Akrual yang hanya berlaku
hingga tahun 2014. Lampiran I berlaku sejak tanggal ditetapkan dan dapat segera diterapkan oleh setiap
entitas (strategi pentahapan pemberlakuan akan ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri Keuangan dan
Menteri Dalam Negeri), sedangkan Lampiran II berlaku selama masa transisi bagi entitas yang belum
siap untuk menerapkan SAP Berbasis Akrual. Dengan kata lain, Lampiran II merupakan lampiran yang
memuat kembali seluruh aturan yang ada pada PP 24 tahun 2005 tanpa perubahan sedikit pun.

Perbedaan mendasar dari sisi jenis laporan keuangan antara Lampiran I dan Lampiran II adalah sebagai
berikut:

Lampiran I
Ø Laporan Anggaran (Budgetary Reports): Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Perubahan Saldo
Anggaran Lebih

Ø Laporan Keuangan (Financial Reports): Neraca, Laporan Operasional, Laporan Perubahan Ekuitas,
Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan

Lampiran II

Ø Laporan terdiri dari Neraca, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan
Keuangan

Dengan perbedaan jenis Laporan Keuangan yang akan dihasilkan, otomatis penjelasan pada setiap
Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP) yang terkait dengan masing-masing Laporan
Keuangan akan mengalami perubahan.

Perbedaan daftar isi pada Lampiran I dan Lampiran II adalah sebagai berikut:

Lampiran I

Ø Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan

Ø PSAP Nomor 01 tentang Penyajian Laporan Keuangan;

Ø PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran Berbasis Kas;

Ø PSAP Nomor 03 tentang Laporan Arus Kas;

Ø PSAP Nomor 04 tentang Catatan atas Laporan Keuangan;

Ø PSAP Nomor 05 tentang Akuntansi Persediaan;

Ø PSAP Nomor 06 tentang Akuntansi Investasi;

Ø PSAP Nomor 07 tentang Akuntansi Aset Tetap;

Ø PSAP Nomor 08 tentang Akuntansi Konstruksi Dalam Pengerjaan;

Ø PSAP Nomor 09 tentang Akuntansi Kewajiban;

Ø PSAP Nomor 10 tentang Koreksi Kesalahan, Perubahan Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi
Akuntansi, dan Operasi yang Tidak Dilanjutkan;

Ø PSAP Nomor 11 tentang Laporan Keuangan Konsolidasian.

Ø PSAP Nomor 12 tentang Laporan Operasional.

Lampiran II

Ø Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintahan


Ø PSAP Nomor 01 tentang Penyajian Laporan Keuangan;

Ø PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran;

Ø PSAP Nomor 03 tentang Laporan Arus Kas;

Ø PSAP Nomor 04 tentang Catatan atas Laporan Keuangan;

Ø PSAP Nomor 05 tentang Akuntansi Persediaan;

Ø PSAP Nomor 06 tentang Akuntansi Investasi;

Ø PSAP Nomor 07 tentang Akuntansi Aset Tetap;

Ø PSAP Nomor 08 tentang Akuntansi Konstruksi Dalam Pengerjaan;

Ø PSAP Nomor 09 tentang Akuntansi Kewajiban;

Ø PSAP Nomor 10 tentang Koreksi Kesalahan, Perubahan Kebijakan Akuntansi, dan Peristiwa Luar Biasa;

Ø PSAP Nomor 11 tentang Laporan Keuangan Konsolidasian;

Kedua daftar isi hampir serupa karena memang kebijakan yang diambil oleh Komite Standar Akuntansi
Pemerintah saat mengembangkan Standar Akuntansi Pemerintahan berbasis akrual ini adalah dengan
beranjak dari PP 24 tahun 2005 yang kemudian dilakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap PP 24
tahun 2005 itu sendiri. Dengan strategi ini diharapkan pembaca PP 71 tahun 2010 nantinya tidak
mengalami kebingungan atas perubahan-perubahan tersebut karena lebih mudah memahami
perubahannya dibandingkan jika langsung beranjak dari penyesuaian atas International Public Sector of
Accounting Standards (IPSAS) yang diacu oleh KSAP.
7. REGULASI DALAM SIKLUS AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

Hasil regulasi dari siklus Akuntansi sektor publik

Regulasi Tahapan Dalam Siklus Akuntansi Sektor Publik

Contoh Hasil Regulasi Publik

Regulasi Perencanaan Publik

Perturan Pemerintah No.7/2005 Mengenai Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM)

Regulasi Anggaran Publik

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2006 Tentang Anggaran Pendapatan Dan Belanja
Negara Tahun Anggaran 2007.

Regulasi Tentang Pelaksanaan Realisasi Anggaran Publik


- Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 93 Tahun 2006 Tentang Rincian Anggaran Belanja
Pemerintahan Pusat Tahun Anggaran 2007

- Otorisasi Kepala Daerah Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA)

Regulasi Pengadaan Barang Dan Jasa

SK Gubernur Tentang Pemenang Dalam Pengadaan Barang Dan Jasa.

Regulasi Laporan Pertanggugjawaban Publik

Peraturan Daerah Tentang Penerimaan Laporan Pertanggungjawaban Gubernur/Bupati/Walikota

Contoh Regulasi Publik yang Mengatur Akuntansi Sektor Publik

Tahapan dalam siklus akuntansi sektor publik

Contoh regulasi publik

Perencanaan publik
- UU No.25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaaan Pembangunan Nasional

- Surat Edaran Bersama No.0295/M.PPN/I/2005050/166/SJ Tentang Tata Cara Penyelenggaraan


Musyawarah Perencanaan Pembangunan tahun 2005

Penganggaran publik

- UU No.17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Daerah

- UU No.33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah

- Permandagri No.13 tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah

- Permandagri no.59 tahun 2007 tentang perubahan atas paraturan mentri dalam negeri nomor 13
tahun 2006 tentang pedoman pengelolaan keuangan daerah

Realisasi anggaran publik

UU No.1 tahun 2004 tentang perbendaharaan negara

Pengadaan barang dan jasa

Peraturan presiden no.32 tahun 2005 tentang perubahan kedua atas keputusan presiden nomor 80
tahun 2003 tentang pedoman pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah

Pelaporan keuangan sektor publik

PP no.8 Tahun 2006 tentang pelaporan keuangan dan kinerja instansi pemerintah

Audit sektor publik

- UU no.15 tahun 2004 tentang pemeriksaan pengelolaan dan tanggungjawab keuangan negara

- SK BPK No.1 tahun 2008 tentang standar pemeriksaan keuangan negara

Pertanggungjawaban publik

Peraturan pemerintah no.8 tahun 2006 tentang pelaporan keuangan dan kinerja instansi pemerintahan.

8. REVIEW REGULASI AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

“Judicial Review” (hak uji materiil) merupakan kewenangan lembaga peradilan untuk menguji kesahihan
dan daya jual produk-produk hukum yang dihasilkan oleh eksekutif, legislatif, serta yudikatif di hadapan
konstitusi yang berlaku. Pengujian oleh hakim terhadap produk cabang kekuasaan legislatif (legistaive
acts) dan cabang kekuasaan eksekutif (executive acts) adalah konsekuensi dari dianutnya prinsip ‘checks
and balancees’, berdasarkan doktrin pemisahan kekuasaan (separation of power).

Amandemen ketiga UUD 1945 telah menetapkan kewenangan untuk mereview undang-undang
yang terdapat di mahkama konstitusi (MK), sedangkan kewenangan mereview peraturan perundang-
undangan di bawah UU diserahkan ke MA. Hal ini berpotensi menimbulkan masalah, seperti
kemungkinan munculnya persengketaan antara pemerintahan pusat dan pemerintahan daerah, atau di
antara pemerintahan daerah karena adanya keputusan-keputusan yang bersifat mengatur (regeling)
ataupun keputusan-keputusan penetapan administratif (bechikking) yang dianggap merugikan salah
satu pihak.

Dalam melakukan proses judicial review, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama,
setelah mengidentifikasi permasalahan yang ada mengenai regulasi terkait, surat judicial review dapat
diajukan kepada Mahkamah Agung/ Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.

9. BARANG DAN JASA PUBLIK

9.1 Pengertian Barang dan Jasa Publik

Pelayanan Publik / Pelayanan umum sangat terkait dengan upaya penyediaan barang publik atau jasa
publik dapat dipahami dengan menggunakan taksonomi barang dan jasa yang dikemukakan Hawlett dan
Ramesh (1995 : 33-34), berdasarkan derajat eksklusifitasnya (apakah suatu barang / jasa hanya dapat
dinikmati secara eksklusif oleh satu orang saja) dan derajat keterhabisannya (apakah satuan barang atau
jasa habis terkonsumsi atau tidak setelah terjadinya transaksi ekonomi), Howlett dan Ramesh
membedakan adanya 4 macam barang / jasa, yaitu :

a. Barang / jasa privat

Yaitu barang / jasa yang derajat ekslusifitas dan derajat keterhabisannya sangat tinggi. Contoh : Pakaian
atau jasa tukang pijat yang dapat dibagi-bagi untuk beberapa pengguna, tetapi kemudian tidak tersedia
lagi untuk orang lain jika telah dibeli oleh beberapa pengguna.

b. Barang / jasa public

Yaitu barang / jasa yang derajat eksklusifitas dan derajat keterhabisannya sangat rendah. Contoh :
Penerangan jalan, keamanan atau kenyamanan lingkungan yang tidak dapat dibatasi penggunaannya
dan tidak habis meski telah dinikmati banyak pengguna.

c. Peralatan publik atau barang / jasa semi public

Yaitu barang / jasa yang derajat eksklusifitasnya tinggi, tetapi tingkat keterhabisannya rendah. Contoh :
jalan tol atau jembatan yang tetap masih dapat dipakai oleh pengguna lain setelah dipakai oleh seorang
pengguna, tetapi memungkinkan untuk dilakukan penariakan biaya kepada setiap pengguna.

d. Barang / jasa milik Bersama

Yaitu barang / jasa yang derajat eksklusifitasnya rendah, tetapi tingkat keterhabisannya tinggi. Contoh :
ikan, penyu, karang di laut yang kuantitasnya berkurang setelah terjadinya pemakaian, tetapi tak
dimungkinkan untuk dilakukan penarikan biaya secara langsung kepada orang yang menikmatinya.

Perbedaan antara empat jenis barang / jasa tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut :

Taksonomi Barang dan Jasa


Tingkat Keterhabisan

Tingkat Ekslusifitas

Rendah

Tinggi

Tinggi

Barang milik bersama

Barang/Jasa Privat

Rendah

Barang/Jasa Publik

Peralatan Publik atau Barang/Jasa Semi Publik

9.2 Barang dan Jasa Publik vs Barang dan Jasa Swasta

Barang publik adalah barang kolektif yang seharusnya dikuasai oleh Negara atau pemerintah. Sifatnya
tidak eksklusif dan diperuntukkan bagi kepentingan seluruh warga dalam skala yang luas, dan dapat
dinikmati warga secara gratis, misalnya udara bersih, air bersih, dan lingkungan yang aman. Sedangkan
barang swasta adalah barang spesifik yang dimiliki oleh pihak swasta. Sifatnya eksklusif dan hanya bias
dinikmati oleh mereka yang mampu membelinya, karena harganya disesuaikan dengan harga pasar
menurut penjual,yaitu harus untung sebesar-besarnya,misalnya perumahan mewah, villa, dan hotel.
Dan ada juga setengah kolektif yang dimiliki oleh swasta atau pemilik gabungan antara swasta dan
pemerintah. Seharusnya barang ini tidak boleh bersifat eksklusif, dan pemerintah harus ikut
menentukan harga penjualannya, yang biasanya tidak terjangkau oleh rakyat kecil, misalnya sekolah dan
rumah sakit.

9.3 Konsep-Konsep Pokok Barang dan Jasa Publik

Suatu barang dikategorikan sebagai barang ‘swasta’ atau ‘publik’ dalam kaitannya dengan tingkat
excludability dan persaingannya. Tingkat excludablity suatu barang ditentukan dengan kondisi dimana
konsumen dan produsen barang atau pelayanan bisa memastikan bahwa orang lain tidak memperoleh
manfaat dari barang/pelayanan tersebut. Jika suatu barang memiliki daya saing yang tinggi, barang
tersebut dipergunakan secara perorangan ; apabila daya saingnya rendah, barang tersebut dapat
dimanfaatkan secara bersama-sama. Contoh taman umum daya saingnya rendah, sedangkan ‘ipod’ daya
saingnya tinggi.

1. Secara umum, barang publik memiliki tingkat excludability dan daya saing yang rendah. Ini berarti
bahwa jika barang itu diproduksi, barang tersebut dapat dipergunakan oleh banyak orang. Barang publik
ini dimanfaatkan oleh banyak orang, sehingga umumnya dibiayai dari dana publik.

2. Barang swasta adalah barang yang punya excludability dan daya saing tinggi. Orang-orang yang
memanfaatkanya jelas, sehingga mudah dikenakan biaya.

3. Barang yang excludable, tetapi daya saingnya rendah disebut toll goods. Contohnya sperti jalan tol.

4. Barang yang berdaya saing tinggi, tetapi non-excludable, disebut common pool goods. Contohnya
adalah pengadaan air disebuah desa; meskipun termasuk barang yang non-excudable, namun
penggunaannya secara berlebihan akan mengurangi kesempatan bagi orang lain untuk
menggunakannya.

9.4 Penyedia Pelayanan

Barang atau pelayanan yang dibiayai secara publik dapat dikontrakkan kepada sektor swasta misalnya,
penggunaan kontraktor swasta dalam pembangunan lapangan terbang, atau sebaliknya misalnya
sekolah pemerintah menerima pembayaran dari orang tua murid dalam bentuk pemakai pelayanan.
Setor swasta mempunyai kecendrungan bekerja lebih efisien dan efektif karena :

1. Sektor swasta memiliki fleksibilitas dalam pengolahan sumber daya sehingga permintaan pasar
dapat ditanggapi.

2. Persaingan pelayanan mendorong lebih baiknya mutu pelayanan dengan harga yang lebih murah
bagi pelanggan.

9.5 Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Publik

Pusat Pengembangan Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Publik mempunyai tugas mengkaji,
menyiapkan perumusan kebijakan, perencanaan kebijakan pengadaan barang/jasa nasional, serta
melaksanakan sosialisasi, pemantauan dan penilaian atas pelaksanaannya. Dalam melaksanakan
tugasnya, Pusat Pengembangan Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Publik menyelenggarakan fungsi:

1. Penyiapan dan perumusan kebijakan dan sistem pengadaan nasional

2. Penyiapan dan perumusan kebijakan pengembangan dan pembinaan sumber daya manusia di
bidang pengadaan

3. Pelayanan bimbingan teknis, pemberian pendapat dan rekomendasi, serta koordinasi penyelesaian
masalah di bidang pengadaan

4. Pengembangan sistem informasi nasional di bidang pengadaan

5. Pengawasan pelaksanaan pelayanan pengadaan barang/jasa dengan teknologi informasi

6. Melaksanakan sosialisasi, pemantauan, dan penilaian pelaksanaan kebijakan dan sistem


pengadaan nasional

Beberapa inisiatif yang diambil pemerintah guna memperbaiki penyelenggaraan pemerintah:

a. Reformasi hokum dan yudikatif, termasuk pembentukan Komisi Ombudsman untuk menanggapi
masalah korupsi dan pembentukan komisi Reformasi Hukum.

b. Perumusan strategi reformasi pegawai negeri sipil.

c. Rancangan undang-undang untuk memantapkan manajemen keuangan pemerintah.

d. Pembentukan Komisi Anti Korupsi.

e. Pembentukan Kemitraan bagi pembaruan tata pemerintahan di Indonesia yang didukung oleh
UNDP, Bank Dunia, dan ADB.

Dalam bidang pengadaan barang dan jasa, pemerintah telah menerbitkan Keppres No 61 Tahun 2004
tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Instansi Pemerintah, sebagai
penyempurnaan dari aturan dan prosedur sebelumnya, yaitu Keppres 80 Tahun 2003. Peraturan-
peraturan tersebut merupakan implementasi dari UU No 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil, UU No 5
Tahun 2000 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha yang Tidak Sehat. UU No 28
Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan Bebas dari KKN; semuanya ditujukan
untuk mengatur pengguna barang/jasa dan penyedia barang/jasa sesuai tugas, fungsi, hak dan
kewajiban serta peranan masing-masing pihak dalam proses pengadaan barang/jasa yang dibutuhkan
Instansi Pemerintah.

Tujuan pengadaan barang adalah untuk memperoleh barang/jasa yang dibutuhkan Instansi Pemerintah
dalam jumlah yang cukup, dengan kualitas dan harga yang dapat dipertanggungjawabkan, serta dalam
waktu dan tempat tertentu secara efektif dan efisien menurut ketentuan dan tata cara yang berlaku.
10. ETIKA PENGELOLAAN KEUANGAN PUBLIK

Pihak member amanah (principal) percaya bahwa pihak pemegang amanah (agent) mempunyai
“kapasitas” yang menandai untuk menjalankan amanah yang didelegasikan. Makna kapasistas disini
hanya dilihat dari kompetensi pada bidang kerja, tetapi juga dilihat dari perilaku etis. Perilaku etis
nampaknya sangat menunjang kepercayaan para partner dan teman kerja.

Etika sering hanya dilihat dari segala sesuatu yang terwujud (tangible). Di tengah masyarakat yang masih
mempercayai symbol-simbol, tanda-tanda (signals), dan berbagai bentuk aksesoris fisik lain, satandar
etika amat diperlukan untuk menetukan perilaku etis.

Etika bisnis adalah bagaimana tindakan atau perbuatan yang dapat dikatagorikan sebagai etis atau tidak
etis. Dalam banyak pembahasan tentang teori etika, para ahli filosofi umumnya menitikberatkan pada
etika secara umum daripada etika dari suatu kelompok kecil, misalnya profesi dan bidang pekerjaan
tertentu. Berbagai tulisan yang dibuat oleh para ahli filsafat sering jadikan acuan atau pedoman untuk
memahami nilai rasionalisasi suatu sikap dan perbuatan yang disebut etis. Berikut ini adalah beberapa
pemikiran dari para filsafat mengenai etika :

1. Socrates

Beliau berpendapat bahwa semua pengetahuan (knowledge) dari seseorang itu sebetulnya bersifat baik
dan menjunjung nilai-nilai kebijakan. Tanpa didukung pengetahuan, seseorang tidak mungkin dapat
melakukan perbuatan-perbuatan yang berbudi luhur.

2. Hume

Beliau berpendapat bahwa perilaku seseorang (personal merit) yang beretika sebenarnya mempunyai
beberapa nilai kualitas karakter dan kepribadian yang bermanfaat dan diterima baik oleh orang lain
maupun dirinya sendiri.

3. John

Beliau berpendapat bahwa kebenaran, perilaku etis, dan prinsip moral seseorang sebenarnya tidak
dibawa sejak lahir. Berbagai pedoman etika bisa diperoleh melalui suatu persepsi dan konsepsi. Ia juga
mengemukakan bahwa hukum (law) merupakan sebuah kriteria untuk memutuskan apakah suatu
perbuatan itu baik atau buruk. Tiga tipe dari hukum ini yaitu : divine law (hukum yang berkaitan dengan
Ketuhanan), civil law (hukum yang berlaku di masyarakat), law of opinion and reputation (hukum yang
berhububgan dengan opini dan reputasi).

4. Kant

Beliau berpendapat bahwa pentingnya standar formal sebagai pedoman umum untuk menilai perilaku
seseorang. Tetapi ia tidak setuju dengan perilaku etis ini dibentuk dari suatu tekanan (hukum) yang
disertai hukuman tertentu.

Dalam menyikapi pro-kontra terhadap suatu perbuatan, pengkategorian perilaku etis sebaiknya
berpedoman pada etika umum, antara lain : pengetahuan (knowledge), kesadaran akan hidup
bermasyarakat, respek terhadap divine law (hukum yang berkaitan dengan Ketuhanan), memahami
bahwa suatu pekerjaan membutuhkan pertanggungjawaban, menyadari bahwa norma dari perilaku etis
yang diakui masyarakat berlaku untuk semua jenis pekerjaan apapun.

11. PERMASALAHAN REGULASI KEUANGAN SEKTOR PUBLIK DI INDONESIA

a. Regulasi yang Berfokus Pada Manajemen

Regulasi yang berfokus pada pengaturan wilayah manajemen organisasi publik sering kali mengaburkan
proses pencapaian kesejahteraan masyarakat. Jadi, regulasi publik harus fokus pada tujuan pencapaian
organisasi publik yaitu kesejahteraan publik. Dengan demikian, manajemen akan menata dirinya dalam
segala situasi dan kondisi mengikuti regulasi yang berfokus pada tujuan kesejahteraan publik tersebut.

b. Regulasi Belum Bersifat Teknik

Banyak regulasi publik di Indonesia yang tersusun dengan sangat baik untuk tujuan kesejahteraan
publik. Namun, banyak diantara tidak dapat diaplikasikan dalam masyarakat. Hal ini terjadi karena
regulasi tersebut tidak menjelaskan atau tidak disertai dengan regulasi lain yang membahas secara lebih
teknis bagaimana mengimplementasikan regulasi tersebut.

c. Perbedaan Interpretasi antara Undang-Undang dan Regulasi di Bawahnya

Dalam banyak kajian, beberapa ayat atau pasal dari undang-undang atau regulasi terkait sering
menimbulkan berbagai interpretasi yang berbeda dalam pelaksanaannya. Di tingkat daerah, substansi
dari isi undang-undang terkait tidak dapat diturunkan dalam peraturan daerah. Kondisi ini membuat
tujuan peraturan pemerintah tidak dapat tercapai sesuai konsep awalnya.
d. Pelaksanaan Regulasi Yang Bersifat Transisi Berdampak Pemborosan Anggaran

Saat ini, banyak regulasi yang bersifat transisi telah dilaksanakan secara bertahap dan membutuhkan
kapasitas tertentu untuk melaksanakannya. Hal ini akan mempengaruhi anggaran yang senantiasa
meningkat dan cenderung boros. Pemborosan anggaran akan menurunkan kapasitas organisasi dalam
menjalankan roda organisasi sehingga pencapaian tujuan organisasi semakin menurun.

e. Pelaksanaan Regulasi Tanpa Sanksi

Sanksi yang dimaksud adalah hukuman jika organisasi publik tidak melaksanakan regulasi tersebut.
Dengan tidak adanya sanksi, organisasi akan seenaknya melaksakan dan tidak melaksanakan regulasi
tersebut.

12. KEDUDUKAN DAN PERAN PEMERINTAH DALAM MEMPERBAIKI KUALITAS PELAYANAN PUBLIK

Semua masyarakat memiliki hak yang sama atas jaminan sosial dan ekonomi dari pemerintah sebagai
konsekuensi langsung atas pembayaran pajak yang telah dipenuhi. Kebijakan dan regulasi yang
ditetapkan pemerintah bisa berimbas pada bidang yang lain. Pemerintah mempunyai peran
menentukan kualitas tingkat kehidupan masyarakat secara individual.

Peningkatan kualitas pelayanan publik dapat diperbaiki melalui perbaikan manajemen kualitas jasa,
yakni upaya meminimasi kesenjangan antara tingkat layanan dengan harapan konsumen. Kinerja
organisasi layanan publik harus diukur dari outcome-nya, karena outcome merupakan variabel kinerja
yang mewakili misi organisasi dan aktivitas oprasional, baik aspek keuangan dan nonkeuangan. Dalam
penentuan outcome sangat perlu untuk mempertimbangkan dimensi kualitas (Mardiasmo 2007).
Selanjutnya, monitoring kinerja perlu dilakukan untuk mengevaluasi pelayanan publik dalam memenuhi
kebutuhan masyarakat.

Langkah-langkah penting dalam monitoring kinerja organisasi layanan publik antara lain:
mengembangkan indikator kinerja yang mengembangkan pencapaian tujuan organisasi, memaparkan
hasil pencapaian tujuan berdasarkan indikator kinerja diatas, mengidentifikasi apakah kegiatan
pelayanan sudah efektif dan efisien sebagai dasar pengusulan program perbaikan kualitas pelayanan
(Bastian, 2007).
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Regulasi keuangan sektor publik merupakan ketentuan yang harus di jalankan dan di patuhi dalam
proses pengelolaan organisasi publik baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, perusahaan serta
organisasi lainnya.

Proses penyelenggaraan pemerintahan ditujukan untuk mengkoordinasi pelaksanaan hak dan kewajiban
warga negara dalam suatu sistem pengelolaan keuangan negara. Pengelolaan keuangan negara maupun
keuangan daerah, sebagai mana yang dimaksud dalam Undang-Undang Dasar 1945 perlu dilaksanakan
secara profesional, terbuka dan bertanggungjawab untuk kemakmuran rakyat Indonesia.

Pusat Pengembangan Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Publik mempunyai tugas mengkaji,
menyiapkan perumusan kebijakan, perencanaan kebijakan pengadaan barang/jasa nasional, serta
melaksanakan sosialisasi, pemantauan dan penilaian atas pelaksanaannya.

Peningkatan kualitas pelayanan publik dapat diperbaiki melalui perbaikan manajemen kualitas jasa,
yakni upaya meminimasi kesenjangan antara tingkat layanan dengan harapan konsumen.

B. SARAN

Permasalahan terbesar dalam regulasi keuangan sector public di Indonesia adalah melanggar peraturan.
Beberapa pihak bahkan turut campur tangan, sehingga dapat mengakibatkan keadilan dalam bentuk
jaminan sosial serta keuangan yang tidak sesuai. Oleh karena itu, perlu adanya sanksi yang sesuai
dengan apa yang disebabkan agar regulasi public di Indonesia semakin membaik berdasarkan dengan
UU.