Anda di halaman 1dari 51

SKENARIO 1:

KEPUTIHAN

Pasien wanita, umur 26 tahun, Ibu rumah tangga, baru 2 bulan menikahdatang berobat
ke dokter dengan keluhan keputihan yang banyak, cair, berbau anyir yang kadang-kadang
disertai gatal sejak 3 minggu lalu. Penderita mempunyai siklus menstruasi yang normal dan
tidak menggunakan kontrasepsi. Suami penderita bekerja sebagai supir dan riwayat
melakukan hubungan seksual dengan wanita lain disangkal. Pada pemeriksaan genitalia
eksterna : labium mayus dan minus tampak eritema dan sedikit erosi. Pada pemeriksaan
inspekulo didapatkan: discharge vagina homogen, keabu-abuan dan tampak melekat pada
dinding vagina. Pasien disarankan melakukan Pemeriksaan PAP’smear.

1
Kata Sulit
1. Eritema : Kemerahan pada kulit akibat pelebaran pembuluh darah kapiler.
2. Discharge : Keluarnya cairan atau sekret dari organ yang berongga.
3. Erosi : Kerusakan kulit stratum spinosum
4. Pemeriksaan PAP’smear : Pemeriksaan sitologi dari serviks dan porsio untuk melihat
adanya perubahan atau keganasan.
5. Kontrasepsi : Alat atau obat atau tindakan yang bertujuan untuk mencegah
kehamilan.

2
Pertanyaan
1. Mengapa keputihannya banyak, cair, berbau anyir, gatal dan berwarna abu-abu ?
2. Apa hubungannya antara keputihan dan kontrasepsi ?
3. Mengapa terjadi eritema dan erosi ?
4. Apakah hubungan keputihan dengan hubungan seksual ?
5. Adakah hubungan pekerjaan suami dengan keputihan yang terjadi pada istrinya ?
6. Mengapa harus dilakukan tindakan PAP’smear ?

Jawaban
1. Karena adanya mikroorganisme penyebab yang berbeda-beda menghasilkan
manifestasi yang berbeda pula. Bau anyir disebabkan oleh bakteri gardnerella
vaginalis yang mengubah asam amino menjadi amin. Warna abu-abu merupakan ciri
khas manifestasi dari gardnerella vaginalis.
2. Ketidakseimbangan hormon estrogen menyebabkan pH tidak seimbang sehingga flora
normal terganggu dan kuman patogen meningkat.
3. Eritema akibat dari inflamasi. Sedangkan, erosi merupakam manifestasi sekunder
yang disebabkan timbulnya gatal.
4. Keputihan bisa disebabkan oleh penyakit menular seksual.
5. Suspek terjangkit penyakit menular seksual.
6. Untuk menegakkan diagnosis.

3
Hipotesis
Ibu Rumah Tangga Pekerjaan Suami Mediator Inflamasi Gardnerella Vaginalis

Keputihan yang banyak, cair, berbau anyir, gatal

Pemeriksaan Insepkulo

Labium mayus dan minus eritema dan erosi, discharge vagina homogen dan keabu-abuan

Indikasi pemeriksaan PAP’smear

4
SASARAN BELAJAR

L.I.1. Memahami dan Mempelajari Genitalia Externa dan Interna Wanita


L.O.1.1. Menjelaskan Makroskopis Genitalia Eksterna dan Interna Wanita
L.O.1.2. Menjelaskan Mikroskopis Genitalia Eksterna dan Interna Wanita
L.I.2. Memahami dan Mempelajari Leukorea
L.O. 2.1. Menjelaskan Definisi dan Epidemiologi Leukorea
L.O.2.2. Menjelaskan Etiologi Leukorea
L.O.2.3. Menjelaskan Patofisiologi Leukorea
L.O.2.4 Menjelaskan Manifestasi Klinis Leukorea
L.O.2.5. Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding Leukorea
L.O.2.6. Menjelaskan Tatalaksana Leukorea
L.O.2.7. Menjelaskan Komplikasi Leukorea
L.O.2.8. Menjelaskan Pencegahan Leukorea
L.O.2.9. Menjelaskan Prognosis Leukorea
L.I.3. Memahami dan mempelajari Pemeriksaan PAP’ Smear
L.I.4. Memahami dan mempelajari Pandangan Islam terhadap Keputihan (Leukorea).

5
L.I.1. Memahami dan Mempelajari Genitalia Externa dan Interna Wanita
L.O.1.1. Menjelaskan Makroskopis Genitalia Eksterna dan Interna Wanita

Sumber : http://uncennursing.blogspot.com/2011/06/sistem-reproduksi-
perkembangbiakan.html

6
Sumber : http://panduancaracepathamil.wordpress.com/category/organ-genitalia-interna-dan-
eksterna/

Sumber : http://kelas-bidan.blogspot.com/2011/04/anatomi-fisiologi-organ-reproduksi.html

7
Sumber : http://bedahunmuh.wordpress.com/category/atlas-bedah-pelvis-and-perineum/
Genitalia Eksterna :
a. Mons Pubis
 Daerah kulit yang menonjol di depan symphisis pubis
 Kulit berambut banyak jaringan lemak.
 Berisi jaringan lemak, jaringan ikat, pembuluh darah dan saraf-saraf
 Meluas ke bwah belakanaglabium mayora.
 Rambut kemaluan disebut pubes.
b. Labium Majus Pudendi

8
 Suatu lipatan kulit, ke dorsocaudal berhubungan satu dengan yang lain
membentuk comissura posterior labiorum majorum, sedang yang ke
ventrocrainal membentuk comissura anterior labiorum majora.
 Fascia lateralis memiliki rambut dan bnayka pigmen. Sedangkan, fascia
medialis mempunyai gld. Sebacea yang besar dan tidak mempunyai rambut.
 Terdapat jaringan pengikat, lemak dan jaringan menyerupai tunica dartos
scorti.
 Celah yang dibatasi oleh kedua labia majora disebut rima pudendi.
c. Labium Minus Pudendi
 Labium minora ke dorsocaudal berhubungan satu dengan yang lain
membentuk frenulum labiorum minorum.
 Ke ventrocrainal berhubunan satu dengan yang lain membentuk preputium
clitoridis.
 Dari labio minora berjalan suatu lipatan kulit ke ventral cranial melekat pada
dataran dorsocaudal glans clitoridis kanan kiri dari linea mediana disebut
frenulum clitoridis.
 Tidak ada foliculi rambut dan jaringan lemak.
 Banyak pembuluh darah.
d. Vestibulum Vaginae
 Daerah yang terletak diantara kedua bulbi vestibuli.
 Batas-batasnya yaitu kanan dan kiri oleh labia minora, ventrocranial oleh
frenulum clitoris, dan dorsocaudal oleh frenulum labiorum minorum
(frenulum labiorum pudendi)
 Kedalam veestibulum vaginae bermuara urethra, vagina, gld. Paraurethralis,
gld. Vestibularis minor dan gld. Vestibularis major.
e. Ostium Vaginae
 Muara vagina disebut juga introitus vaginae.
 Diantara introitus vaginae dan frenulum labiorum minorum terdapat fossa
navicularis (fossa vestibuli vaginae).
 Di sebelah kanan dan kiri pada fossa naviculare terdapat saluran kedua
glandula Bartholini bermuara.
f. Clitoris
 Terdiri dari ujun poksimal corpus cavernosum clitoridis melekat di dataran
medial ramus inferior osis pubis dengan dataran lateralnya.

9
 Ke ventral kedua crura clitoridis bersatu membentuk corpus clitoridis.
Terdapat corpus cavernosum yang membentuk glans clitoridis.
g. Urethra Feminina
 Berjalan dari leher kandung kemih menuju ostium urethrae eksternum yang
terletak diantara clitoris dengan vagina.
 Disebelah kanan dan kiri lubang kemih terdapat dua lubang kecil dari saluran
yang buntu ( ductus skene atau ductus parauretralis).
h. Perineum
 Merupakan area berbentuk belah ketupat
 Dibagi oleh ramus inferior ossis pubis dan ramus ossis ischii kanan dan kiri
dan kedua lig. Sacrotuberale.
 Terbagi menjadi regio urogenitalis di anterior (ventral) dan regio analis di
posterior (dorsal).

Genitalia Interna :
1. Ovarium
 Terletak di dalam pelvis dan jumlahnya sepasang
 Berbentuk bulat memanjang, agak pipih
 Terdiri dari coretx dan medulla (berisi pembuluh darah, limfe dan saraf)
 Dilekatkan oleh mesovarium pada ligamentum latum (berupa lipatan
peritoneum sebelah kiri dan kanan uterus. Meluas sampai dinding panggul dan
dasr panggul)
 Difiksasi oleh :
 Ligamentum suspensorium ovarii (Lig.infudibulopelvicum) :
Ligamentum ini menggantungkan uterus pada dinding panggul antara
sudut tuba
 Ligamentum ovarii propium : menfiksasi ovarium ke uterus.
 Ligamentum teres uteri (lig. Rotundum) : terdapat di bagian atas lateral
dari uterus, caudal dari tuba kedua ligamentum ini melalui canalis
inguinalis ke bagian cranial labium majus.
2. Tuba Uterina (salpinx)
 Jumlahnya sepasang kanan dan kiri dengan panjang 10 cm.

10
 Menjulur dari uterus kearah ovarium dengan ujung distal terbuka kedalam
rongga peritoneum disebut ostium abdominale.
 Terdiri dari :
 Infudibulum bangunan yang berbentuk seperti corong
 Ampula, bangunan yang membesar dan tempat terjadinya fertilisasi.
 Isthmus, bangunan ynag menyempit.
 Pars uterina tubae ialah bagian yang melalui dinding uterus.
 Ostium uterinum yaitu pintu muara tuba di dalam uterus.
3. Uterus
 Organ muscular, berbentuk peer, dibedakan menjadi :
 Fascia vesicalis, di dataran ventral menghadap ke vesica urinaria.
 Fascia intestinalis, di dataran dorsal menghadap ke usus.
 Margo lateralis kanan dan kiri.
 Uterus dapat dibagi dalam :
 Undus uteri , yang terletak pada bagian atas (proksimal ) osteum tuba
uterina.
 Corpus uteri , terletak pada bagian tengah uterus yang berbentuk bulat
melebar. Batas antara corpus uteri dan cervix uteri dibentuk oleh
isthmus. Sebelum memasuki cervix terdapat ostium uteri internum.
 Cervix uteri , bagian yang paling sempit dan menonjol kedalam rongga
vagina. Pada bagian ujung distal cervix terdapat banguna ynag
menyempit disebut ostium uteri externum. Rongga di dalam cervix
uteri disebut canalis cervix.
4. Vagina
 Berbentuk tabung muskular.
 Panjangnya antara 8-12 cm.
 Bagian distal cervix menonjol ke dalam rongga vagina, disebut portio
vaginalis cervicis uteri. Bagian cervix proksimalnya disebut portio
supravaginalis cervicis uteri.
 Rongga vagina yang mengelilingi portio vaginalis cervicis disebut fornix yang
terbagi menjadi :
 Fornix lateralis dextra dan sinistra
 Fornix anterior dan posterior

11
 Tunica mucosa membentuk rugae yang transversal pada dinding ventral dan
dorsal disebut columna rugarum.
 Pada virgo intacta introitus vaginae sebagian ditutupi oleh selaput disebut
hymen.
Bentuk hymen :
 Hymen anularis (cincin)
 Hymen seminularis (bulan sabit)
 Hymen cribriformis (berlubang-lubang seperti saringan)
 Hymen fimbriatus (dengan tepi seperti jari-jari)
 Hymen imperforatus (tidak berlubang)
5. Jaringan penunjang

 Ligamentum cardinale sinistra dan dekstra (Mackendrot)


 Ligamentum terpenting untuk menahan uterus agar tidak turun.
 Berjalan dari cerviks dan puncak vagina ke arah lateral dinding pelvis.
 Ligamentum sakrouterinum sinistra dan dextra
 Menahan uterus agar tidak banyak bergerak
 Berjalan melengkung dari dorsal cerviks melalui dinding rectum ke
arah os sakrum.

12
 Ligamentum rotundum sinistra dan dextra
 Menahan uterus dalam antefleksi
 Ligamentum pubivesikale sinistra dan dextra
 Berjalan dari os pubis melalui kandung kemih dan seterusnya sebagai
ligamentum vesikouterinum ke cerviks.
 Ligamentum latum sinistra dan dextra
 Berjalan dari uterus ke arah lateral dan tidak banyak mengandung
jaringan ikat.
 Merupakan bagian dari peritoneum viscerale yang meliputi uterus dan
kedua tuba dan berbentuk sebagai lipatan.
 Ligamentum infundibulopelvikum
 Menahan tuba falopi.
 Berjalan dari arah infundibulum ke dinding pelvis.
 Ligamentum ovarii proprium sinistra dan dextra
 Berjalan dari sudut kiri dan kanan fundus uteri ke ovarium.
DIAPHRAGMA PELVIS
1. Pelvis mayor : berisi saluran cerna, VU, ureter, sistem genitalis
2. Pelvis minor
- PAP (aditus pelvis)
Dibentuk oleh : promontorium, linea terminalis, ala osis sacralis, dan supra
pubis.
a. Conjugate vera : ukuran antero posterior
Jarak antara pinggir atas pubis sampai promontorium, penting untuk
menentukan dapat todaknya bayi melewati sehingga dapat menentukan
tindak lanjut persalinan pervaginam atau section secaria.
Dengan bantuan conjugate diagonalis (diukur dengan vaginal touché)
sampai promontorium. Conjugate diagonalis(12,5 cm) – 1,5 = 11-13cm
b. Conjugate transversa : diukur dari titik terjauh linea terminalis kiri dan
kanan tegak lurus dengan conjugate vera. 13-14,5 cm.
c. Conjugate obstetrica : jarak antara promontorium ke pinggir tengah
simpisis pubis. Bagian aditus pelvis yang paling sempit, 10,6 cm.

- Mid pelvis

13
Dibentuk oleh : apex arcus pubis, spina ischiadica, ujung os.sacrum.
Paling sempit, bentuk oval, sering terjadi kemacetan pada persalinan.
Ukuran yang penting :
a. Anteroposterior : tepi bawah simp.pubis sampai pertengahan os.sacrum 4.
11,5-12 cm.
b. Transversa : spina ischiadica kanan kiri. 10-10,5 cm
c. Sagittal : anteroposterior dengan potongan transversa

- PBP (exitus pelvis)


a. Anteroposterior : 9,5-11,5 cm
b. Transversa : tuber ischiadicum kanan kiri. 10,5-11 cm
c. Sagitalis posterior : ujung os sacrum dengan perpotongan antara
anteroposterior dengantransversa.10,5-11cm.

Bidang Hodge : untuk menentukan petunjuk turunnya bagian bawah fetus.


- Hodge I : bidang yang sama dengan PAP
- Hodge II : sejajar H I setinggi pinggir bawah sim.pubis
- Hodge III : sejajar H I melalui spina ischiadica
- Hodge IV : sejajar H I setinggi ujung os.sacrum

Perdarahan :
Arteri iliaca interna -> arteri uterina -> arteri
vaginalis. Arteri vaginalis ke arah fundus
kemudian bercabang menjadi :

14
 R.ovaricus melalui ligamentum ovarii proprium menuju ovarium
 A. Ligamenti teretis uteri, mengikuti lig. Teres uteri
 R. Tubarius mengikuti tuba uterina.
Persarafan :
N.pudendus untuk persarafan genitalia eksterna , n.pudendus masuk ke foramen ischiadicum
sebagai n. Clitoridis. Cabang yang lain: n.hemorrhoidalis inferior utnuk m.spinchter ani
externus dan ke kulit regio analis. N. Perianalis berkahir sebagai n.labialis untuk labium
majus. Plexus hypogastricus superior dan inferior untuk persarafan genitalia interna.
Pembuluh lympe:
 Bagaian proximal mengikuti kembali r.vaginalis a. Uternae ke lnn. Illiaci interni.
 Bagian medial mengikuti kembali r.Vaginali a.Vesicalis inferior ke Inn sepanjang
a.Vesicalis inferior ke Inn. Illiaca interni.
 Bagian dari vagina distal, dinding vestibulum vaginae, labia minora, labia major.

L.O.1.2. Menjelaskan Mikroskopis Genitalia Eksterna dan Interna Wanita


Ovarium :
 Epitel sel kuboid rendah atau gepeng yaitu epitel germinal
 Dibawah epitel germinal adalah jaringan ikat padat yang disebut tunika albuginea.
 Ovarium memiliki :
 Korteks di tepi : folikel-folikel, fibrosit dengan serat kolagen dan retikular.
 Medulla di tengah : pembuluh darah,saraf dan pembuluh limfe.
 Folikel primordial : folikel terdiri dari oosit primer yang diliputi sel folikel gepeng.
 Folikel primer : sel folikel mulai bentuk kuboid, tidak ada ruang berisi liqour foliculi
dan zona pelusida terbentuk pada akhir fase folikel primer
 Folikel sekunder : epitel berlapis kuboid, stroma membentuk teka folikel yaitu teka
interna dan teka eksterna, terbentuk zona pelusida
 Folikel tersier : ruang-ruang follicle bersatu membentuk antrum folliculi yang berisi
cairan, sel telur terdeak ke tepi terletak di atas gundukan sel follicular disebut cumulus
oophorus.
 Folikel yang mengalami atresia pada semua tahap perkembangan folikel menajdi
folikel atretik.
 Ovum : ovum dikelilingi sel granulosa yang membentuk bukit kecil yaitu kumulus
ooforus. Satu lapisan sel granulosa yang berdekatan dengan oosit primer membentuk

15
korona radiata. Di antara korona radiata dan sitoplasma oosit primer adalah
glikoprotein terpulas asidofilik disebut zona pellusida.
 Corpus luteum : sel granulosa hipertropi, bentuknya berubah menjadi pilyhedral, inti
membesar dengan sitoplasma dipenuhi oleh lipd. Terdapat sel lutein granulosa yang
berpigmen kuning dan sel lutein theca.
 Corpus albicans : corpus luteum yang berdegenerasi karena tidak terjadi kehamilan.
Corpus albicans bersifat aselular dan dipenuhi serat hialin.

Tuba Uterina :
 Epitel selapis silindris bersilia (epitheliocytus ciliatus) dan tidak bersilia (sel
sekretorik)

16
 Sel bersilia menciptakan arus ke arah uterus dan menjadi predominan dalam fase
proliperatif.
 Sel sekretorik menghasilkan nutrisi
 Mukosa terdiri dari banyak plica dan membentuk lumen yang tidak rata.

Uterus
 Dinding luar yaitu perimetrium, tengah
miometrium dan sebelah dalam endometrium.
 Endometrium dilapisi oleh epitel selapis
silindris.Dibagi dalam dua lapisan yaitu stratum basale dan stratum functionale
 Terdapat kelenjar uterus di lamina propia.
 Terdapat arteri spiralis di endometrium.
 Miometrium terdiri dari otot polos, dipisahkan oleh jaringan ikat interstisial dengan
banyak pembuluh darah .

17
Serviks, Kanalis dan Forniks Vagina
 Kanalis servikalis dilapisi oleh epitel kolumner tinggi penghasil mukus.
 Epitel serviks dilapisi oleh kelenjar serviks ke dalam lamina propia.
 Kelenajar serviks yang tersumbat dan berkembang
menjadi kista glandular.
 Jaringan ikat di lamina propria serviks lebih
fibrosa daripada di uterus.
 Porsio vagina dilapisi epitel berlapis gepeng tanpa
tanduk.

Vagina

18
 Dilapisi epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk.
 Lamina propria tidak memiliki kelenjar tetapi mengandung banyak pembuluh darah
dan lomfosit.

L.I.2. Memahami dan Mempelajari Leukorea


L.O. 2.1. Menjelaskan Definisi dan Epidemiologi Leukorea
Leukorea adalah sekret berwarna putih dan kental dari vagina dan rongga uterus (dorland,
2010). Vagina yang normal selalu berada dalam kondisi lembab dan permukaannya basah
oleh cairan/lendir. Sekret diproduksi oleh kelenjar pada leher rahim (serviks), dinding vagina
dan kelenjar bartholin dibibir kemaluan, menyatu dengan sel-sel dinding vagina yang lepas
serta bakteri normal didalam vagina, bersifat asam.
Proporsi perempuan yang mengalami flour albus bervariasi antara 1 -15% dan hampir
seluruhnya memiliki aktifitas seksual yang aktif, tetapi jika merupakan suatu gejala penyakit
dapat terjadi pada semua umur. Seringkali fluor albus merupakan indikasi suatu vaginitis dan
lebih jarang pada indikasi servisitis tetapi kadang kedua-duanya muncul bersamaan.
Leukorea penyebab terseringnya ialah 40-50% bakteri vaginosis. Penyebab lainnya
20-25% candidiasis yaitu 80-90% oleh candida albicans dan 15% oleh candida glabiata.
Trichomoniasis 5-20% dari kasus infeksi vagina.

L.O.2.2. Menjelaskan Etiologi Leukorea


Leukorea fisiologi umumnya terjadi pada :
 Bayi yang baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari, penyebabnya adalah pengaruh
estrogen dari plasenta terhadap uterus dan vagina janin.
 Waktu disekitar menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen.
 Wanita dewasa saat dirangsang sebelum dan pada waktu koitus, disebabkan
peningkatan transudasi dari dinding vagina
 Waktu disekitar ovulasi, dengan sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri menjadi
lebih encer.
 Pengeluaran sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri pada saat menopause.
Leukorea patologis :
Infeksi :
 Bakteri

19
 Gardnerella Vaginalis
Menyebabkan peradangan vagina yang tidak spesifik dan kadang dianggap sebagai
bahan dari mikroorganisme normal dalam vagina karena seringnya ditemukan. Bakteri batang
gram positif ini biasanya mengisi penuh sel epitel vagina dengan membentuk bentukan khas
dan disebut sebagai clue cell. Gardnerella vaginalis menghasilkan asam amino yang diubah
menjadi senyawa amin yang menimbulkan bau amis seperti ikan. Cairan vagina tampak
berwarna keabu-abuan pH.sekret vagina > 4,5 ( pH normal adalah < 4,5 ).
Secara klinik menurut Amsel (1983), untuk menegakkan diagnosis vaginosis bakterial
harus ada tiga dari empat kriteria sebagai berikut, yaitu:
1) Sekret vagina homogen, tipis, putih, melekat pada dinding vagina. Sekret vagina
bakterial vaginosis ini biasanya tipis, putih keabu-abuan, homogen, dan melekat pada dinding
vagina
2) pH vagina > 4,5. pH vagina mudah ditentukan dengan menggunakan kertas
lakmus ( interval 4,0 – 7,0 ). Biasanya pH vagina pada kasus bakterial vaginosis > 4,5
3) Bau amis dari vagina setelah penambahan KOH 10 %.
Whiff test dinyatakan positif: bila bau amis atau bau amin terdeteksi dengan penambahan
KOH 10 % pada sekret vagina. Bau disebabkan pelepasan amin terutama putresin dan
kadaverin dan asam organik hasil alkalisasi bakteri anaerob.
4) Adanya clue cell ( lebih dari 20 % )
Identifikasi clue cell pada preparat basah saline :
- clue cell yang merupakan epitel vagina yang terlepas dimana pada permukaan sel-sel ini
terdapat bintik-bintik keabuan, penuh dengan
Gardnerella vaginalis merupakan gejala
patognomonis dari vaginosis bakterial.
- Untuk diagnosis vaginosis bakterial berdasarkan
patokan jumlah clue cell ≥ 20% dari seluruh jumlah
sel epitel vagina per lapangan pandang. Jumlahnya
dihitung berdasarkan jumlah rata-rata dari 5 area
pada satu lapang pandang.
- clue cell memiliki tepi yang ireguler dan sitoplasmanya dipenuhi dengan bakteri,
memberikan gambaran granuler.

Sumber:http://thunderhouse4-yuri.blogspot.com/2010/11/bacterial-vaginosis.html

20
 Chlamydia trachomatis
Chlamydia merupakan bakteri kokus gram negatif. Chlamydia tidak mempunyai
mekanisme utnuk menghasilkan energi metabolik dan tidak dapat menyintesis ATP. C.
Trachomatis memiliki badan inklusi yang mengandung glikogen. Antigennya yaitu
lipopolisakarida yang stabil pada suhu panas. Chlamydia trachomatis merupakan sferoid
berukuran kecil, tidak aktif secara metabolis, dan mengandung DNA dan RNA serta di sebut
badan elementer.Sferoid-sferoid ini memperoleh akses ke sel penjamu melalui endositosis
dan setelah berada didalam berubah menjadi organisme yang secara metabolis aktif yang
bersaing dengan sel penjamu memperebutkan nutrien. Chlamydia trachomatis memiliki
afinitas terhadap epitel uretra, serviks, dan konjungtiva mata. Pada laki-laki
uretritis,epididimitis dan prostatitis adalah manifestasi infeksi tersering. Pada perempuan
yang tersering adalah servisitis, diikuti oleh uretritis, bartolinitis dan akhirnya penyakit
radang panggul.dapat juga menginfeksi faring dan rektum orang yang melakukan hubungan
seks oral atau anal reseptif. Bayi dapat terinfeksi sewaktu dilahirkan dan mengalami
konjungtivitis dan pneumonia.
 Mobilunkus
Genus ini terdiri dari bakteri motil, berbentuk lengkung, gram negatif batang anaerob.
 Neisseria gonorrhoeae
Gonokokus adalah bakteri yang umumnya menginfeksi karena kontak seksual.
Biasanya pada wanita mengenai membrane mukosa uretra dan endoserviks, selanjutnya
infeksi akan menyebar ke jaringan yang lainnya. Neisseria gonorrhoeae ini merupakan
bakteri gram negatif, diplokokkus, berdiameter 0,6 – 1,0 μm, koloni berbentuk cembung,
berkilau, sifat mukoid, transparan, tidak berpigmen. Bersifat fakultatif aerobik. Bakteri ini
dapat ditemukan ekstraseluler dan intraseluler dalam leukosit polimorfonuklear ( neutrofil ).
Gonokokus mempunyai koloni kecil yang khas mengandung bakteri yang berpili. Pili
merupakan struktur antigen yang berbentuk seperti rambut menjulur keluar dari permukaan
gonokokus. Struktur ini berfungsi untuk menempel pada sel pejamu dan resisten terhadap
fagositosis.

 Protozoa
 Trichomonas vaginalis

21
Trichomonas merupakan protozoa yang bergerak dengan flagel. Protozoa ini
berbentuk oval, panjang 4-32 mikrometer dan lebar 2,4-14,4 mikrometer, memiliki flagella
dan undulating membran yang panjangnya hanya setengah panjang tubuhnya. Intinya
berbentuk oval dan terletak di bagian atas tubuhnya, di belakang inti terdapat blepharoblast
sebagai tempat keluarnya 4 buah flagella. Flagella kelima melekat ke undulating membrane
dan menjuntai ke belakang sepanjang setengah panjang tubuh protozoa ini. Sitoplasma terdiri
dari suatu struktur yang berfungsi seperti tulang yang disebut axostyle. Trichomonas
vaginalis tidak memiliki bentuk kista. Perkembang biakannya dengan cara membelah diri.

 Jamur
 Candida albicans
Candida termasuk spora aseksual yaitu spora yang dibentuk dari hifa reproduktif,
termasuk blastospora. Candida albicans bersifat dismorfik yaitu memiliki bentuk kapang (sel-
sel yang memanjang dan bercabang) dan bentuk khamir (sel berbentuk bulat, lonjong atau
memanjang yang berkembang biak dengan membentuk tunas dan koloni yang basah atau
berlendir). Selain ragi dan pseudohifa, juga dapat menghasilkan hifa sejati. Pada medium
agar atau dalam 24 jam pada suhu 37 oC atau suhu ruangan, kandida menghasilkan koloni
lunak berwarna krem dengan bau seperti ragi. Kandidiasis kutan atau mukosa terjadi melalui
peningkatan jumlah kandida lokal dan adanya kerusakan pada kulit atau epitel yang
memungkinkan invasi lokal oleh ragi dan pseudohifa.

sumber : http://www.ppdictionary.com/mycology/albicans.htm

 Virus
 Virus herpes simpleks
Herpes simpleks genitalis dapat ditularkan melalui kontak seksual tetapi tidak dapat
ditularkan melalui udara atau melalui air, misalnya jika seseorang berenang di kolam renang.

22
Herpes simpleks disebabkan oleh Herpes Virus Hominis atau Herpes Simpleks virus
merupakan salah satu infeksi yang tersering pada manusia .Struktur virus terdiri atas genom
DNA untai ganda linier berbentuk toroid, kapsid, dan selubung. Herpes simpleks termasuk
alfaherpesvirus yaitu virus sitolitik yang tumbuh cepat, cenderung menyebabkan infeksi laten
di neuron. Siklus pertumbuhan HSV berlangsung cepat, selesai dalam waktu 8-16 jam.
Genom HSV besar dan dapat menyandikan 70 polipeptida.
Infeksi dapat berupa kelainan pada daerah orolabial serta daerah genital, dengan
gejala khas adanya vesikel berkelompok di atas dasar yang eritema .Ada 2 tipe mayor
antigenik dimana Herpes Simpleks virus tipe I berhubungan dengan infeksi pada wajah dan
Herpes Simpleks virus tipe II berhubungan dengan infeksi genital. Infeksi herpes genital
primer dapat berat yang berlangsung sekitar 3 minggu. Herpes genital ditandai dengan lesi
vesikuloulseratif pada penis atau serviks, vulva,vagina dan perineum pada perempuan. Lesi
sangat nyeri dan disertai demam, malaise, disuria dan limfadenopati inguinal.

sumber : http://www.oculist.net/downaton502/prof/ebook/duanes/pages/v4/v4c019.html
 Human papilloma virus
Human Papilloma Virus (HPV) merupakan virus DNA famili Papovaviridae.
Terdiri dari double strand DNA dan sirkular dengan 5-8 gen dan virus ini tidak
berselubung. Virus ini menginfeksi sel pipih epitelium dan menyebabakn kaedaan
hiperplasia epitel. . Yang paling sering di temukan HPV-16 atau HPV-18, walaupun
beberapa kanker mengandung DNA dari HPV tipe 31 atau tipe 45

23
 Molluscum contagiosum
Molluscum contagiosum adalah virus yang autoinokulasi (masuknya virus dari
tubuh pasien sendiri) dengan masa tunas 1-4 minggu. Umumnya timbul tumor kulit epitel
berwarna merah muda hingga abu-abu, tanpa gejal, menyebar, dan berukuran kurang dari 1
cm di vulva. Gambaran histologik menunjukan sejumlah badan inklusi dalam sitoplasma sel

Molluscum contagiosum

 Benda asing.
Adanya benda asing seperti tertinggalnya kondom atau benda tertentu yang dipakai
pada waktu senggama, adanya cincin pesarium yang digunakan wanita dengan prolapsus uteri
dapat merangsang pengeluaran cairan vagina yang berlebihan. Jika rangsangan ini
menimbulkan luka akan sangat mungkin terjadi infeksi penyerta dari flora normal yang
berada di dalam vagina sehingga timbul leukorea.
 Neoplasma/ keganasan.
Kanker akan menyebabkan leukorea patologis akibat gangguan pertumbuhan sel
normal yang berlebihan sehingga menyebabkan sel bertumbuh sangat cepat secara abnormal
dan mudah rusak, akibat terjadi pembusukan dan perdarahan akibat pecahnya pembuluh
darah yang bertambah untuk memberikan makanan dan oksigen pada sel kanker tersebut.
Pada keadaan ini akan terjadi pengeluaran cairan yang banyak disertai bau busuk akibat
terjadinya proses pembusukan dan disertai oleh adanya darah yang tidak segar.
 Keputihan akibat sering dibersihkan
Kebiasaan yang sebetulnya tidak sehat dalam memperlakukan vagina. Terlalu sering
membersihkan vagina dengan bahan dengan bahan antisepsis tidaklah menyehatkan. Kuman
– kuman yang bermukim disekitar saluran vagina ikut terbunuh oleh bahan antisepsis yang
sering digunakan (Handrawan, 2008).
 Penggunaan obat-obatan

24
Penggunaan obat-obat imunosupresan seperti kortikosteroid dan penggunaan
antiseptik genital secara berlebihan dapat menurunkan kemampuan imunitas organ genital
dan juga menyebabkan kematian flora normal organ genital. Hal ini menyebabkan mudahnya
terjadi infeksi daerah vagina yang dapat menimbulkan keputihan.

L.O.2.3. Menjelaskan Patogenesis Leukorea


Pada keadaan normal, cairan/sekret yang keluar dari vagina wanita
dewasa sebelum menopause terdiri dari sel epitel vagina (terutama yang paling
luar/superfisial yang terkelupas dan dilepaskan ke dalam rongga vagina),
beberapa sel darah putih (leukosit), cairan transudasi dari dinding vagina, sekresi
dari endoserviks berupa mukus, sekresi darri saluran yang lebih atas dalam jumlah
yang bervariasi serta mengandung berbagai organisme terutama Lactobasilus
Doderlein (batang gram positif, flora vagina terbanyak); beberapa jenis bakteri
lain kokus seperti Streptokokus dan Stapilokokus, dan Eschericia coli.
Peranan basil doderlein dianggap menekan pertumbuhan mikroorganisme
patologis karena basil Doderlein mempunyai kemampuan mengubah glikogen dari
epitel vagina yang terlepas menjadi asam laktat, sehingga vagina tetap dalam
keadaan asam dengan pH 3,0-4,5 pada wanita dalam masa reproduksi. Suasana
asam inilah yang mencegah tumbuhnya mirkoorganisme patologis.

Gambar Estrogen dan Biologi Vagina

25
Bila terjadi suatu ketidakseimbangan suasana flora vagina yang disebabkan
oleh beberapa faktor maka terjadi penurunan fungsi basil Doderlein dengan
berkurangnya jumlahglikogen karena fungsi proteksi basil Doderlein berkurang maka
terjadi aktivitas dari mikroorganisme patologis yang selama ini ditekan oleh flora
normal vagina. Progresifitas mikroorganisme patologis secara klinis akan
memberikan suatu reaksi inflamasi di daerah vagina. Sistem imun tubuh akan bekerja
membantu fungsi dari basil Doderlein sehingga terjadi pengeluaran lekosit PMN
maka terjadilah fluor albus.
 Infeksi bakteri
 Gonorea
Gonorea disebabkan oleh invasi di bakteri diplokokus gram-negative, Neisseria
gonorrhoeae. Cairan yang keluar dari vagina pada infeksi berwarna kekuningan yang
sebetulnya merupakan nanah yang terdiri dari sel darah putih yang mengandung
Neisseria gonorrhoeae berbentuk pasangan dua-dua pada sitoplasma sel. Bakteri ini
melekat dan menghancurkan membaran epitel yang melapisi selaput lendir, terutama
epitel yang melapisi kanalis endoserfiks dan uretra. Infeksi ekstragenetalial di faring,
anus, rectum, dapat di jumpai pada wanita dan pria.
Untuk dapat menular harus ada kontak langsung mukosa ke mukosa. Namun tidak
semua yang terpajan gonorea terjadi penyakit. Resiko penularan dari pria ke wanita
lebih tinggi kerena luasnya selaput lendir yang terpajan dan cairan eksudat yang
terdiam lama di vagina. Setelah terinokulasi, infeksi dapat tersebar ke prostat, vas
deferent, vesikula seminalis, epididymis dan testis pada laki-laki dan ke uretra,
kelenjar skene, kelenjar bartolin, endometrium, tuba fallopi, merupakan penyebab
penyakit radang panggul (PID) yang merupakan penyebab utama infertilitas pada
perempuan.
Infeksi gonokokus dapat menyebar melalui aliran darah dan menyebabkan
bakterimia gonokokus. Bakterimia lebih sering terjadi pada perempuan.Perempuan
juga beresiko tinggi mengalami penyebaran infeksi saat haid, penularan perinatal
kepada bayi saat lahir melalui os serviks yang terinfeksi, dapat mneyebabkan
konjungtifitis dan akhirnya dan kebutaan pada bayi apabila tidak di ketahui dan di
obati.

26
Setelah infeksi oleh Neisseria gonorrhoeae, tidak timbul imunitas alami, sehingga
infeksi dapat terjadi lebih dari satu kali. Angka infeksi tertinggi pada usia muda
dengan teringgi wanita umur 15-19 tahun dan laki-laki berusia 20-24 tahun dan pada
laki-laki yang berhubungan seks dengan sesama jenis.
 Sifilis
Adalah infeksi yang sangat menular yang di sebabkan oleh bakteri berbentuk
spiral, Treponema pallidum. Kecuali penularan neonates, sifilis hampir selalu di
tularkan melalui kontak seksual dengan pasangan yang terinfeksi. Namun, spiroketa
T.pallidum dapat menembus sawar plasenta dan menginfeksi neonates.
Spiroketa memperoleh akses melalui kontak langsung antara lesi basah terinfeksi
dengan setiap kerusakan, walaupun mikroskopik di kulit atau mukosa penjamu. Sifilis
dapat di sembuhkan pada tahap-tahap awal infeksi. Tetapi apabila di biarkan penyakit
ini dapat menjadi infeksi yang sistemik dan kronik. Infeksi penyakit sifillis dapat di
bagi menjadi , sifillis primer, sekunder (sifilis laten, dini dan lanjut) dan tersier. Pada
perkembangan penyakit dapat terlihat kutil-kutil kecil di vulva dan vagina yang
disebut kondiloma lata. Bakteri kadang dapat terlihat pada pemeriksaan pap smear,
tetapi biasanya bakteri ini diketahui pada pemeriksaan sediaan apus dengan
pewarnaan Gram.
 Clamidia trachomatis
Clamidia trachomatis adalah infeksi bakteri menular seksual yang paling banyak
di jumpai di amerika. Bakteri ini terdpat dalam 2 bentuk (dimorfik). Dalam bentuk
infeksiosa C. trachomatis merupakan sferoid berukuran kecil, tidak aktif secara
metabolis dan mengandung DNA dan RNA sehingga disebut badan elementer (EB).
Sferoid-sferoid ini memperoleh akses ke sel penjamu melalui endositosis dan setelah
berada di dalam berubah menjadi organisme yang secara metabolis aktif dan bersaing
dengan sel pejamu memperebutkan nutrient. Organisme ini memicu timbulnya siklus
replikasi dan setelah kembali memadat menjadi EB untuk menginfeksi sel-sel di
sekitarnya.
C.trachomatis memiliki afinitas terhadap epitel uretra, servix dan konjungtiva
mata. Pada laki-laki, urethritis, epididymis dan prostatitis adalah infeksi bakteri yang
tersering.Pada perempuan yang tersering adalah servisitis, diikuti oleh urethritis,
bartolinitis dan akhirnya penyakit radang panggul (PID).

27
C.trachomatisdapat menginfeksi faring, dan rectum orang yang melakukan
hubungan seksual oral atau anal-reseptif. Bayi dapat terinfeksi sewaktu dilahirkan dan
mengalami konjungtivitis dan pneumonia. Terinfeksi bakteri ini tidak menimbulkan
imunitas terhadap infeksi di kemudian hari.
Kaum muda yang berusia antara 15-19 tahun merupakan 40% kasus klamidia
yang di laporkan. Resiko tertinggi tertularnya bekteri ini adalah wanita karena
konsentrasi ejakulat yang terinfeksi tertahan di vagina sehingga pemajanan
memanjang.
Bakteri ini dapat ditemukan pada cairan vagina dan terlihat melalui mikroskop
setelah diwarnai pewarnaan Giemsa; sulit ditemukan pada pemeriksaan pap smear
akibat siklus hidupnya yang tak mudah dilacak.
 Gardnerella vaginalis
Menyebabkan peradangan vagina yang tidak spesifik dan kadang dianggap sebagai
bagian dari mikroorganisme normal dalam vagina karena sering ditemukan. Bakteri
ini biasanya mengisi penuh sel epitel vagina dengan membentuk bentukan khas dan
siebut dengan clue cell. Gardnerella menghasilkan asam amino yang diubah menjadi
senyawa amin yang menimbulkan bau amis seperti ikan. Cairan vagina tampak warna
keabu-abuan.

 Infeksi virus
 Virus Herpes Simpleks (HSV)
Adalah penyakit virus menular dengan afinitas pada kulit, selaput lendir dan
system syaraf.Macamnya ada HSV-1 dan HSV-2. HSV-1 menyerang daerah
orofaring, menyebabkan lesi di wajah, mulut dan bibir.Walaupun virus ini dapat juga
menyebabkan harpes genitalis primer. HSV-2 pterdapat di daerah genital. HSV tidak
dapat di sembuhkan.Pada orang yang imunokompeten.Infeksi biasanya ringan dan
swasirna.
HSV disebarkan melalui kontak langsung antara virus dengan mukosa atau setiap
kerusakan di kulit.Virus herpes tidak dapat hidup di luar lingkungan yang lembab.
HSV mempunyai kemampuan untuk menginvasi beragam sel melalui fusi langsung
dengan membrane sel. Untuk dpat masuk ke dalam sel, tidak memerlukan proses
endositosis.

28
HSV-1 dan HSV-2 menanyebabkan infeksi kronik yang di tandai dengan masa-
masa infeksi aktif dan latensi. Pada infeksi primer aktif, virus menginvasi sel penjamu
dan cepat berkembang biak menghancurkan sel penjamu dan melepaskan lebih
banyak virion untuk menginfeksi sel-sel di sekitarnya. Dan virus menyebar melalui
saluran limfe ke kelenjar limfe regional dan menyebabkan limfadenopati.Tubuh
melakukan imunitas seluler dan humoral yang menahan infeksi tetapi tidak dapat
mencegah kekambuhan infeksi aktif.
Setelah infeksi awal, timbul masa laten. Selama masa ini, virus masuk ke dalam
sel-sel sensorik yang mensyarafi daerah yang terinfeksi dan bermigrasi di sepanjang
akson untuk bersembunyi di dalam ganglion radiksdorsalis tempat virus berdiam
tanpa menimbulkan sitotosisitas atau gejala pada manusia pejamunya. Virion dapat
menular baik, dalam fase aktif maupun masa laten.
HSV lebih sering di jumpai pada wanita, mungkin karena luas permukaan mukosa
saluran genitalia perempuan yang lebih luas dan terjandinya kerusakan mikro di
mukosa selama hubungan kelamin.Dibandingkan dengan populasi umum, orang yang
terinfeksi HIV lebih rentan terhadap infeksi HSV dan menularkan penyakit ini.
Karena infeksi HSV tidak mengancam jiwa dan sering ringan atau asimtomatik,
sehingga banyak orang yang tidak menyadari akan besarnya penyakit ini.
Pada awal infeksi tampak kelainan kulit sepert melepuh terkena air panas yang
kemudian pecah dan menimbulkan luka seperti borok, dan pasien merasa sakit.

 Virus Papiloma Manusia (HPV)


Adalah suatu pathogen DNA yang menyebabkan timbulnya berbagai tumor jinak,
(kutil), dan beberapa lesi pramaligna dan maligna. Ditandai dengan kutil-kutil yang
kadang sangat banyak dan dapat bersatu membentuk jengger ayam yang berukuran
besar. Cairan di vagina sering berbau tanpa rasa gatal.
Virus ini mampu berikatan dengan beragam sel dan subtype-subtipe tertentu,
memperlihatkan preferensi untuk tempat-tempat anatomis tertentu. Infeksi HPV dapat
menyebabkan kanker serviks, penis dan anus. HPV tipe-6 dan 11 merupakan
penyebab utama kutil genital dan tidak berkaitan dengan keganasan.
HPV sangat menular yang sering terjadi di amerika. Penularan HPV genital hanya
semata-mata melalui hubungan kelamin, walaupun autoinokulasi dan penularan
melalui fomite juga dapat terjadi. Infeksi dapat di tularkan kepada neonates saat

29
persalinan. Factor resiko terbesar untuk timbulnya HPV adalah jumlah pasangan seks,
merokok, pemakaian kontrasepsi oral (KO) dan kehamilan dapat meningkatkan
kerentanan terhadap infeksi HPV. Sebagian besar infeksi HPV akan sembuh dan tidak
terdeteksi setelah 2 tahun. Imunitas yang terbentuk bersifat spesifik-tipe, sehingga
individu masih rentan terhadap infeksi oleh HPV tipe lain.

 Infeksi Jamur
 Candida albicans
C.albicans merupakan spesies penyebab infeksi candida pada genitalia lebih dari
80% yaitu vaginitis dan vulvovaginitis. Secara ketat, kandidiasis tidak dianggap di
tularkan secara seksual.
Infeksi simtomatik timbul apabila terjadi perubahan pada resistensi pejamu atau
flora bakteri local. Faktor predisposisi pada wanita adalah kehamilan, haid, diabetes
mellitus, pada pemakaian kontrasepsi dan terapi antibiotic. Baju dalan yang ketat,
konstriktif dan sintetik, sehingga menimbulkan lingkungan yang hangat dan lembab
untuk kolonisasi dapat menyebabkan infeksi rekurent.
Pada sebagian perempuan, reaksi hipersensitifitas terhadap produk-produk,
misalnya pencuci vagina, semprotan deodorant dan kertas toilet dapat berperan
menimbulkan kolonisasi. Perempuan umumnya mengalami infeksi akibat salah satu
factor diatas sedangkan pada laki-laki umunya terjangkit infeksi melalui kontak
seksual dengan perempuan yang mengidap kandidiasis vulvovagina. Keadaan yang
saling menularkan antara pasangan suami istri ini desebut femoma ping pong.

 Infeksi parasit
 Trikomoniasis Vaginalis
Adalah organisme oral berflagel.Trikomonad mengikat dan akhirnya mematikan sel-
sel pejamu, memicu respon imun humoral dan selular yang tidak bersifat protektif
terhadap infeksi berikutnya.Agar dapat bertahan hidup trikomonad harus berkontak
langsung dengan eritrosit, dan dalam hal ini dapat menjelaskan mengapa perempuan
lebih rentan terhadap infeksi dari pada laki-laki.
T.vaginalis paling subur pada pH antara 4,9-7,5. Keadaan yang meningkatkan pH
vagina, misalnya haid, kehamilan, pemakaina kontrasepsi oral, dan tindakan sering
mencuci vagina merupakan predisposisi timbulnya trikomoniasis.

30
Bayi perempuan yang lahir dari ibu yang terinfeksi dapat menularkan infeksinya.Bayi
perempuan rentan karena pengaruh hormone ibu pada epitel vagina bayi.
Infeksi T.vaginalis di tularkan hampir secara eksklusif melalui hubungan kelamin.
Walaupun trikomonad di ketahui dapat hidup sampai 45 menit pada fomite, namun
cara penularan melalui fomite ini sangat jarang terjadi.
Walaupun jarang dapat ditularkan melalui perlengkapan mandi seperti hsnduk dan
bibir kloset. Flour albus tidak selalu gatal, tetapi vagina tampak kemerahan dan nyeri
ditekan, dan perih berkemih. Cairan vagina biasanya banyak, berbuih, menyerupai air
sabun dan berbau.
 Benda asing
Menimbulkan rangsangan pengeluaran cairan vagina yang jika berlebihan menimbulkan
luka akan sangat mungkin terjadi infeksi penyerta dari flora normal dalam vagina.
 Neoplasia/Keganasan
Terjadi pengeluaran cairan yang banyak disertai bau busuk akibat pembusukansel
abnormal, seringkali disertai darah yang tidak segar.
 Menopause
Estrogen turun → vagina menjadi kering dan lapisan sel tipis, kadar glikogen berkurang,
dan basil doderlein berkurang → memudahkan infeksi karena lapisan sel epitel tipis,
mudah menimbulkan luka → flour albus
 Erosi
Daerah merah sekitar ostium uteri internum yakni epitel kolumner endoserviks
terkelupas, mudah terjadi infeksi penyerta dari flora normal di vagina sehingga timbul
fluor albus.
 Stress
Stressor dapat merangsang sekresi adenokorteks yang berakibat meningkatkan
glukokortikoid dan aktivitas saraf simpatis, diikuti pelepasan katekolamin.
Hipotalamus bereaksi mengontrol sekresi Adrenocorticopin (ACTH) yang berhubungan
dengan sekresi hormon peptida termasuk vasopresin, oksitosin, dan Corticotropin
Releasing Factor (CRF). Hormon peptida ini berperan mengatur fungsi imun. Dalam
keadaan stres, sekresi Growth Hormone (GH) juga meningkat, stress yang lama dapat
menekan fungsi gonad. Reseptor spesifik yang terdapat pada neuroendokrin dapat
mempengaruhi aktifitas sel. Sel makrofag yang telah aktif akan melepaskan suatu

31
mediator yaitu interleukin 1 (IL-1). Mediator ini sangat bermanfaat bagi limfosit lain
sehingga dapat membunuh sel-sel asing.

Hubungan stresor, sistem saraf, dan sistem imun

Penelitian dari Dasgupta (2003) melaporkan bahwa ada impuls langsung dari stressor
yang mengenai hipokampus yang diteruskan ke resptor estrogen di vagina melalu Nerve
Pathway khusus sehingga terjadi supresi estrogen yang berakibat pergeseran pH vagina.

L.O.2.4 Menjelaskan Manifestasi Klinis Leukorea


Penyebab Penemuan Klinis Pendekatan Diagnostik*
Anak-anak
Benda asing (biasanya Keluar cairan dari vagina, biasanya Evaluasi Klinis
kertas tissue) dengan bau busuk dan bercak vagina
Infeksi (misalnya, Pruritus, dan cairan vagina (keputihan) Pemeriksaan mikroskopik dari
Candida, cacing dengan eritema dan pembengkakan cairan vagina untuk ragi dan
kremi, streptokokus, vulva, seringkali dengan disuria hifa dan kultur untuk
stafilokokus) Memburuknya pruritus pada malam mengkonfirmasi
hari (menunjukkan infeksi cacing Pemeriksaan vulva dan anus
kremi) untuk cacing kremi.
Signifikan eritema dan edema vulva
dengan discharge (menunjukkan infeksi
streptokokus atau stafilokokus)
Pelecehan seksual Nyeri vulvovagina, vagina berdarah evaluasi klinis
atau cairan vagina berbau busuk Kultur seksual
Seringkali, keluhan medis samar-samar Langkah-langkah untuk
dan nonspesifik (misalnya, kelelahan, memastikan keselamatan anak

32
nyeri perut) atau perubahan perilaku dan laporan ke pihak yang
(misalnya, amarah) berwenang jika kekerasan
diduga
Wanita usia reproduktif
Vaginosis Bakterial Berbau busuk (amis), discharge vagina Kriteria untuk diagnosis (3
abu-abu tipis dengan pruritus dan iritasi dari 4):
Eritema dan edema tidak biasa  discharge vagina abu-abu
 pH sekresi vagina> 4,5
 Bau amis
 Clue cell terlihat selama
pemeriksaan mikroskopis
Infeksi Kandidiasis Infeksi candida vulva dan iritasi vagina, Evaluasi klinis ditambah
edema, pruritus  pH vagina <4,5
Discharge yang menyerupai keju  Ragi atau hifa
cottage dan melekat pada dinding diidentifikasi pada
vagina. preparat basah atau KOH
Kadang-kadang memburuknya gejala  kadang-kadang kultur
setelah hubungan seksual dan sebelum
mens
Infeksi Trikomonas Cairan kuning-hijau, vagina berbusa, Organisme motil, berbentuk
sering dengan nyeri, eritema, dan buah pir memiliki flagrel,
edema dari vulva dan vagina dilihat selama pemeriksaan
Kadang-kadang disuria dan dispareunia mikroskopis
Kadang-kadang belang-belang, bintik- Uji diagnostik cepat untuk
bintik merah "strawberry" di dinding Trichomonas, jika tersedia
vagina atau serviks
Benda asing Cairan sangat berbau busuk, dan sering Evaluasi klinis
berlimpah, eritema vagina, disuria, dan
kadang-kadang dispareunia
Obyek terlihat selama pemeriksaan
Semua umur
Reaksi Vulvovaginal eritema, edema, pruritus Evaluasi klinis dan hindari
hipersensitifitas (sering intens), keputihan penyebab
Riwayat penggunaan semprotan
kebersihan atau parfum, air mandi

33
aditif, pengobatan topikal untuk infeksi
kandida, pelembut kain, pemutih, atau
sabun cuci
Inflamasi (misalnya, Keputihan purulen, dispareunia, disuria, Diagnosis eksklusi
radiasi pelvis, iritasi berdasarkan faktor-faktor
ooforektomi, Kadang-kadang pruritus, eritema, nyeri riwayat dan risiko
kemoterapi) † terbakar, perdarahan ringan pH vagina> 6
Jaringan vagina tipis, kering Uji Whiff Negatif
Granulosit dan sel parabasal
dilihat selama pemeriksaan
mikroskopis

Fistula enterik Vagina cairan berbau busuk dengan Visualisasi langsung atau
(komplikasi berlalunya feses dari vagina palpasi fistula di bagian
persalinan, operasi bawah vagina
panggul, atau penyakit
inflamasi usus)
* Jika ada keputihan, pemeriksaan mikroskopis dari preparat basah garam dan preparat KOH
dan kultura bagi organisme menular seksual dilakukan (kecuali satu penyebab tidak menular
seperti alergi atau badan asing jelas)

† kondisi inflamasi seperti ini merupakan penyebab umum vaginitis.

KOH = K hidroksida

Gambaran Vaginosis bakterial Gambar candidiasis

34
Gambar candidiasis

Gambar manifestasi klinis akibat Human Papiloma Virus

L.O.2.5. Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding Leukorea


Diagnosis
1. Anamnesis
Usia, jumlah, masa inkubasi/lama terjadinya, paparan PHS, pemakaian antibiotic
(kortikostreroid), hubungan dengan menstruasi ovulasi dan kehamilan, antibiotic
vaginal touche, warna, iritatisi : infeksi, benda asing, neoplasma. Pruritus :
T.vaginalis/ C.albikans. penyakit sistemik, pil KB.
2. Pemeriksaan fisik :

35
Inspeksi kulit perut bawah terutama perineum dan anus, inspeksi rambut pubis,
inspeksi dan palpasi genitalia eksterna, pemeriksaan speculum untuk vagina dan
serviks, pemeriksaan bimanual pelvis, palpasi pembesaran KGB inguinal dan femoral.
3. Pemeriksaan penunjang
Nilai sekresi dinding vagina (warna, konsistensi, bau), kertas indicator PH (n=4-4,5),
swab untuk pemeriksaan dengan larutan garam fisiologis dan KOH 10%, kultur (pila
perlu), pewarnaan gram, serologi sifilis, tes PAP.

Diagnosis penyebab infeksi:


1. Trikomoniasis
- Anamnesis:
sering tidak menunjukkan keluhan , kalau ada biasanya berupa duh tubuh vagina
yang banyakmdan baerbau maupun dispareunia, perdarahan pasca coitus dan
perdarahan intermestrual. Jumlah lekore banyak, berbau, menimbulkan iritasi dan
gatal.Warna sekret putih, kuning atau purulen.Konsistensi homogen, basah, frothy
atau berbusa (foamy).Terdapat eritem dan edema pada vulva disertai dengan
ekskoriasi.Sekitar 2-5% tampak strawberry servix yang sangat khas pada
trichomonas.
- Laboratorium: pH>4,5 dan Sniff test (+)
- Mikroskopik: pemeriksaan sediaan basah dengan larutan garam fisiologis terlihat
pergerakan trichomonas berbentuk ovoid, ukuran lebih besar dari PMN dan
mempunyai flagel, leukosit (+) dan clue cell dapat (+)
2. Kandidosis vulvovaginal
- Anamnesis:
keluhan panas, atau iritasi pada vulva dan keputihan yang tidak berbau. Rasa
gatal/iritasi disertai keputihan tidak berbau atau berbau asam. Keputihan bisa
banyak, putih keju atau seperti kepala susu/krim, tetapi kebanyakan seperti susu
pecah. Pada dnding vagina biasanya dijumpai gumpalan keju (cottage cheeses). Pada
vulva/dan vagina terdapat tanda-tanda radang, disertai maserasi, psuedomembran,
fissura dan lesi satelit papulopustular
- Laboratorium: pH vagina <4,5 dan Whiff test (-)

36
- Mikroskopik: pemeriksaan sediaan basah dengan KOH 10% atau dengan pewarnaan
gram ditemukan blastopora bentuk lonjong, sel tunas, pseudohifa dan kadang kadang
hifa asli bersepta

3. Vaginosis bacterial
- Anamnesis:
Mempunyai bau vagina yang khas yaitu bau amis terutama waktu berhubungan
seksual, namun sebagian besar dapat asimtomatik. Keputihan dengan bau amis
seperti ikan. Sekret berlebihan, banyaknya sedang sampai banyak, homogen, warna
putih atau keabu-abuan, melekat pada dinding vagina.Tidak ada tanda-tanda
inflamasi.
- Laboratorium: pH >4,5 biasanya berkisar antara 5-5,5 dan Whiff test (+)
- Mikroskopik: clue cell (+) jarang terdapat leukosi

4. Servisitis Gonore
- Anamnesis:
Gejala subjektif jarang ditemukan .Pada umumnya wanita datang berobat kalau
sudah ada komplikasi.Sebagian besar penderita ditemukan pada pemeriksaan
antenatal atau pemeriksaan keluarga berencana.Duh tubuh serviks yang
mukopurulen.Serviks tampak eritem, edema, ektopi dan mudah berdarah pada saat
pengambilan bahan pemeriksaan.
- Laboratorium: kultur
- Mikroskopik: Pemeriksaan sedian langsung dengan pengecatan gram ditemukan
diplokokus gram negatif, intraseluler maupun ekatraseluler

5. Klamidiasis
- Anamnesis: gejala sering tidak khas, asimtomatik, atau sangat ringan. Eksudat
seviks mukopurulen, erosi seviks, atau folikel-folikel kecil (microfollicles)
- Laboratorium: pemeriksaan serologis untuk deteksi antigen melalui ELISA
- Mikroskopik: dengann pengecatan giemsa akan ditemukan badan elementer dan
badan retikulat

DD :Kanker serviks (keputihan warna putih purulent yang berbau dan tidak gatal)

37
Normal Vaginosis Vaginitis Vulvovaginitis
Bakteri Trichomonas Candida albicans
vaginalis
Gejala Tidak ada Sekret, bau Sekret, bau busuk, Sekret, gatal dan
primer busuk, mungkin mungkin gatal seperti terbakar
gatal pada kulit vulva
Sekret Sedikit, putih, Meningkat, Meningkat, kuning, Meningkat, putih,
vagina flokulan tipis, homogen, hijau, berbusa, keju lembut seperti
putih, abu-abu, adheren; petekia dadih
adheren servikal sering ada
pH < 4,5 > 4,5 > 4,5 ≤ 4,5
Bau Tidak ada Sering, seperti Dapat ada, seperti Tidak ada
bau ikan bau ikan
Mikroskopis Sel epitel dengan Clue cells Trikomonas motil; Preparat KOH
lactobacillus dengan basil banyak PMN memperlihatkan
adheren; tidak tangkai ragi dan
ada PMN pseudohifa
Pengobatan Tidak ada Metronidazole Metronidazole Antifungi azol
topikal

L.O.2.6. Menjelaskan Tatalaksana Leukorea


Apabila keputihan yang dialami adalah yang fisiologik tidak perlu pengobatan, cukup
hanya menjaga kebersihan pada bagian kemaluan.Apabila keputihan yang patologik,
sebaiknya segera memeriksakan kedokter, tujuannya menentukan letak bagian yang sakit dan
dari mana keputihan itu berasal. Melakukan pemeriksaan dengan menggunakan alat tertentu
akan lebih memperjelas. Kemudian merencanakan pengobatan setelah melihat kelainan yang
ditemukan.Keputihan yang patologik yang paling sering dijumpai yaitu keputihan yang
disebabkan Vaginitis, Candidiasis, dan Trichomoniasis.Penatalaksanaan yang adekuat dengan
menggabungkan terapi farmakologi dan terapi nonfarmakologi.
Tujuan pengobatan:
- Menghilangkan gejala
- Memberantas penyebabrnya
- Mencegah terjadinya infeksi ulang- Pasangan diikutkan dalam pengobatan
a. Terapi farmakologi
Antiseptik :

38
 Povidone Iodin
Sediaan ini berbentuk larutan 10% povidon iodin dan ada yang diperlengkapi dengan
alat douche-nya sebagai aplikator larutan ini. Selain sebagai antiinfeksi yang disebabkan
jamur Kandida, Trikomonas, bakteri atau infeksi campuran, juga sebagai pembersih.
Tidak boleh digunakan pada ibu hamil dan menyusui. Bila terjadi iritasi atau sensitif
pemakaian harus dihentikan.
Anti biotik
 Clotrimazole
Memiliki aktivitas antijamur dan antibakteri. Untuk infeksi kulit dan vulvovaginitis
yang disebabkan oleh Candida albicans.
Efek samping: pemakaian topikal dapat terjadi rasa terbakar,eritema, edema ,gatal dan
urtikaria
Sediaan dan posologi : Tersedia dalam bentuk krim dan larutan dengan kadar 1%
dioleskan 2 kali sehari . Krim vagina 1% untuk tablet vagina 100 mg digunakan sekali
sehari pada malam hari selama 7 hari atau tablet vagina; 500 mg, dosis tunggal.
 Tinidazole
Tinidazole adalah obat antiparasit yang digunakan untuk membrantas infeksi
Protozoa, Amuba.
Efek samping : obat ini sama seperti Metronidazole tetapi dengan kelebihan tidak perlu
minum dengan waktu yang panjang sehingga mengurangi efek sampingnya.
Tinidazole sebagai preparat vaginal digunakan untuk infeksi Trichomonas. Biasa
dikombinasi dengan Nystatin sebagai anti jamurnya. Bentuk sediaan yang ada adalah
vaginal tablet.

 Metronidazole
Diberikan peroral ( 2 gram sebagai dosis tunggal , 1gr setiap 12 jam x 2 atau 250 mg
3xsehari selama 5-7 hari) untuk infeksi Trichomonas vaginalis.
Diberikan 500 mg 2xsehari selama seminggu dan lebih baik secara mitraseksual. Untuk
infeksi Gardnerella vaginalis
Efek samping : mual kadang kadang muntah, rasa seperti logam dan intoleransi terhadap
alkohol.
Kontra indikasi : pada trimester pertama kehamilan.

39
 Nimorazole
Nimorazole merupakan antibiotika golongan Azol yang terbaru. Selain dalam
sediaan tunggal dalam bentuk tablet oral (diminum) juga ada kombinasinya
(Chloramphenicol dan Nystatin) dalam bentuk vaginal tablet.
 Penisilin
1. Ampisilin pada pemberian oral dipengaruhi besarnya dosis dan ada tidaknya makanan
dalam saluran cerna
2. Amoksisilin lebih baik diberikan oral ketimbang ampisilin karena tidak terhambat
makanan dalam absorbsinya.
Efek samping : Reaksi alergi , nefropati, syok anafilaksis, efek toksik penisilin terhadap
susunan saraf menimbulkan gejala epilepsi karena pemberian IV dosis besar
Sediaan dan posologi :
Ampisilin :
- Tersedia dalam bentuk tablet atau kapsul 125mg, 250mg, 500mg
- Dalam suntikan 0,1 ; 0,25 ; 0,5 dan 1 gram pervial
Amoksisilin :
Dalam bentuk kapsul atau tablet ukuran 125, 250, 500 gram dan sirup125mg/5mL dosis
diberikan 3 kali 250-500 mg sehari
Anti jamur :
 Nystatin
Nystatin adalah obat antijamur polien untuk jamur dan ragi yang sensitif terhadap
obat ini termasuk Candida sp. Di dalam darah sangat berbahaya bagi tubuh, tetapi dengan
sifatnya yang tidak bisa melewati membran kulit sangat baik untuk digunakan sebagai obat
pemakaian luar saja. Tetapi dalam penggunaannya harus hati-hati jangan digunakan pada
luka terbuka.
Anti Virus :
 Asiklovir
Bekerja menghambat enzim DNA polimerase virus. Sediaan dalam bentuk oral, injeksi dan
krim untuk mengobati herpes dilabia.
Efek samping :
Oral : pusing, mual, diare,sakit kepala
Topikal : Kulit kering dan rasa terbakar dikulit.
Kontraindikasi : tidak boleh digunakan pada ibu hamil.

40
Berikut ini adalah pengobatan dari penyebab paling sering :
1. Candida albicans
Topikal
Nistatin tablet vagina 2 x sehari selama 2 minggu
Klotrimazol 1% vaginal krim 1 x sehari selama 7 hari
Mikonazol nitrat 2% 1 x ssehari selama 7 – 14 hari
Sistemik
Nistatin tablet 4 x 1 tablet selama 14 hari
Ketokonazol oral 2 x 200 mg selama 7 hari
Nimorazol 2 gram dosis tunggal
Ornidazol 1,5 gram dosis tunggal
Pasangan seksual dibawa dalam pengobatan

2. Chlamidia trachomatis
Metronidazole 600 mg/hari 4-7 hari (Illustrated of textbook gynecology)
Tetrasiklin 4 x 500mg selama 10-14 hari oral
Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 10-14 hari bila
Minosiklin dosis 1200mg di lanjutkan 2 x 100 mg/hari selama 14hari
Doksisiklin 2 x 200 mg/hari selama 14 hari
Kotrimoksazole sama dengan dosis minosiklin 2 x 2 tablet/hari selama 10 hari

3. Gardnerella vaginalis
Metronidazole 2 x 500 mg
Metronidazole 2 gram dosis tunggal
Ampisillin 4 x 500 mg oral sehari selama 7 hari
Pasangan seksual diikutkan dalam pengobatan
4. Neisseria gonorhoeae
Penicillin prokain 4,8 juta unit im atau
Amoksisiklin 3 gr im
Ampisiillin 3,5 gram im atau
Ditambah :
Doksisiklin 2 x 100mg oral selama 7 hari atau
Tetrasiklin 4 x 500 mg oral selama 7 hari
Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 7 hari

41
Tiamfenikol 3,5 gram oral
Kanamisin 2 gram im
Ofloksasin 400 mg/oral

5. Neisseria gonorhoeae penghasil Penisilinase


Seftriaxon 250 mg im atau
Spektinomisin 2 mg im atau
Ciprofloksasin 500 mg oral
Ditambah
Doksisiklin 2 x 100 mg selama 7 hari atau
Tetrasiklin 4 x 500 mg oral selama 7 hari
Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 7 hari

6. Virus herpeks simpleks


Belum ada obat yang dapat memberikan kesembuhan secara tuntas
Asiklovir krim dioleskan 4 x sehari
Asiklovir 5 x 200 mg oral selama 5 hari
Povidone iododine bisa digunakan untuk mencegah timbulnya infeksi sekunder

b. Terapi Nonfarmakologi
1) Perubahan Tingkah Laku
Keputihan (Fluor albus) yang disebabkan oleh jamur lebih cepat berkembang di
lingkungan yang hangat dan basah maka untuk membantu penyembuhan menjaga
kebersihan alat kelamin dan sebaiknya menggunakan pakaian dalam yang terbuat dari
katun serta tidak menggunakan pakaian dalam yang ketat (Jones,2005). Keputihan bisa
ditularkan melalui hubungan seksual dari pasangan yang terinfeksi oleh karena itu
sebaiknya pasangan harus mendapat pengobatan juga.
2) Personal Hygiene
Memperhatikan personal hygiene terutama pada bagian alat kelamin sangat membantu
penyembuhan, dan menjaga tetap bersih dan kering, seperti penggunaan tisu basah atau
produk panty liner harus betul-betul steril.Bahkan, kemasannya pun harus diperhatikan.
Jangan sampai menyimpan sembarangan, misalnya tanpa kemasan ditaruh dalam tas
bercampur dengan barang lainnya. Karena bila dalam keadaan terbuka, bisa saja panty
liner atau tisu basah tersebut sudah terkontaminasi.Memperhatikan kebersihan setelah

42
buang air besar atau kecil.Setelah bersih, mengeringkan dengan tisu kering atau handuk
khusus.Alat kelamin jangan dibiarkan dalam keadaan lembab.
3) Pengobatan Psikologis
Pendekatan psikologik penting dalam pengobatan keputihan.Tidak jarang keputihan yang
mengganggu, pada wanita kadang kala pemeriksaan di laboratorium gagal menunjukkan
infeksi, semua pemgujian telah dilakukan tetapi hasilnya negatif namun masalah atau
keluhan tetap ada. Keputihan tersebut tidak disebabakan oleh infeksi melainkan karena
gangguan fsikologi seperti kecemasan, depresi, hubungan yangburuk, atau beberapa
masalah psikologi yang lain yang menyebabkan emosional. Pengobatan yang dilakukan
yaitu dengan konsultasi dengan ahli psikologi.Selain itu perlu dukungan keluarga agar
tidak terjadi depresi.

L.O.2.7. Menjelaskan Komplikasi Leukorea


Komplikasi yang sering adalah bila kuman telah menaiki panggul sehingga terjadi
penyakit yang dikenal dengan radang panggul. Komplikasi jangka panjang yang lenih
mengerikan, yaitu kemungkinan wanita tersebut akan mandul akibat rusak dan lengketnya
organ-organ dalam kemaluan terutama tuba falopi dan juga dapat menyebabkan
infertilitas.Komplikasi juga dapat terdapat pada pria yaitu komplikasi non spesifikndapat
menjalar ke prostat dan menimbulkan infeksi buah zakar dan saluran kemih
Terinfeksinya kelenjar yang ada di dalam bibir vagina. Bisul kelenjar tersebut harus
disedot keluar karena tidak dapat disembukan dengan obat. Komplikasi pada wanita sering
menimbulkan radang saluran telur. Infeksi nonspesifik pada wanita sering tanpa keluhan
maupun gejala.
Dampak akibat leukorea :
 Gangguan Psikologis
Respon psikologis seseorang terhadap keputihan akan menimbulkan kecemasan yang
berlebihan dan membuat seseorang merasa kotor serta tidak percaya diri dalam menjalankan
aktifitasnya sehari – hari (Manuaba, 1998)
 Vulvitis
Sebagaian besar dengan gejala keputihan dan tanda infeksi lokal, penyebab secara
umum jamur.Bentuk vulvitis adalah infeksi kulit berambut dan infeksi kelenjar
bartholini.Infeksi kulit berambut terjadi perubahan warna, membengkak, terasa nyeri, kadang
– kadang tampak bernanah dan menimbulkan kesukaran bergerak.Infeksi kelenjar bartholini

43
terletak di bagian bawah vulva, warna kulit berubah, membengkak, terjadi penimbunan nanah
di dalam kelenjar, penderita sukar untuk berjalan dan duduk karena sakit.
 Vaginitis
Vaginitis merupakan infeksi pada vagina yang disebabkan oleh berbagai parasit atau jamur.
Infeksi ini sebagian besar terjadi karena hubungan seksual.Tipe vaginitis yang sering
dijumpai adalah vaginitis candidiasis dan trikomonalis vaginalis. Vaginitis candidiasis
merupakan keputihan kental bergumpal, terasa sangat gatal dan mengganggu, pada dinding
vagina sering dijumpai membran putih yang bila dihapus dapat menimbulkan perdarahan,
sedangkan trikomonalis vaginalis merupakan keputihan yang encer sampai kental,
kekuningan, gatal dan terasa membakar serta berbau.
 Serviksitis
Serviksitis merupakan infeksi dari servik uteri.Infeksi serviks sering terjadi karena
luka kecil bekas persalinan yang tidak dirawat dan infeksi karena hubungan seksual.Keluhan
yang dirasakan terdapat keputihan, mungkin terjadi kontak bleeding saat berhubungan
seksual.
 Penyakit radang Panggul (Pelvic Inflammantory Disease)
Penyakit radang Panggul merupakan infeksi alat genetalia bagian atas wanita, terjadi
akibat hubungan seksual. Penyakit ini dapat bersifat akut atau menahun atau akhirnya akan
menimbulkan berbagai penyulit yang berakhir dengan terjadinya perlekatan sehingga dapat
menyebabkan kemandulan. Tanda-tandanya yaitu nyeri yang menusuk-nusuk di bagian
bawah perut, mengeluarkan keputihan dan bercampur darah, suhu tubuh meningkat dan
pernafasan bertambah serta tekanan darah dalam batas normal.
(Manuaba, 1998).

L.O.2.8. Menjelaskan Pencegahan Leukorea


Menjaga kesehatan reproduksi untuk pencegahan keputihan pada wanita diawali dengan
menjaga kebersihan organ kewanitaan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga
kebersihan organ kewanitaan, yaitu :
1. Membersihkan kotoran yang keluar dari alat kelamin dan anus dengan seksama.
Membersihkan dilakukan dari depan kebelakang (dari daerah kemaluan ke arah anus)
secara satu arah. Hal ini dilakukan untuk mencegah kotoran dari anus masuk kedalam
vagina.

44
2. Membasuh secara teratur bagian bibir vagina secara hati-hati menggunakan air bersih
dan sabun yang lembut setiap habis BAK , BAB, dan ketika mandi. Yang terpenting
adalah membersihkan bekas keringat dan bakteri yang ada disekitar bibir vagina.
3. Gunakan sabun lembut tanpa pewangi saat mandi untuk menjaga keasaman vagina.
Normalnya vagina berbau asam dan kecut dengan pH keasaman sekitar 4-4,5. Terlalu
sering membasuh vagina dengan cairan kimia dan menggunakan deodoran disekitar
vagina akan merusak keseimbangan organisme dan cairan vagina sehingga
memungkinkan terjadinya infeksi pada vagina (vaginitis).
4. Mengeringkan alat kelamin dengan tisu atau handuk agar tidak lembab setiap kali
setelah mandi atau buang air. Usahakan agar daerah kemaluan dan selangkangan
selalu kering, lebih lebih bila tergolong gemuk karena suasana lembab sangat disukai
oleh jamur. Selalu keringkan bagian vagina sebelum berpakaian.
5. Hindari pemakaian bedak pada organ kewanitaan dengan tujuan agar vagina kering
sepanjang hari. Bedak memiliki partikel partikel halus yang mudah terselip disana sini
yang akhirnya mengundang jamur dan bakteri bersarang.
6. Mengganti celana dalam minimal dua kali sehari setelah mandi, terutama bagi wanita
aktif dan mudah berkeringat. Gunakan celana dalam yang kering dan bila celana
dalam keadaan basah segera mengganti celana dalam yang bersih dan belum dipakai.
7. Tidak memakai celana dalam yang terlalu ketat , karena celana dalam yang terlalu
ketat menyebabkan permukaan vagina menjadi lebih mudah berkeringat. Gunakan
celana dalam yang bahannya menyerap keringat seperti katun. Celana dalam dari satin
atau bahan sintetik lain membuat suasana disekitar vagina panas dan lembab.
8. Pakaian luar juga harus diperhatikan. Celana jeans tidak dianjurkan karena pori
porinya sangat rapat, pilihlah seperti rok atau celana bahan non jeans agar sirkulasi
udara disekitar organ intim bergerak leluasa.
9. Ketika sedang haid dianjurkan sering mengganti pembalut terutama pada hari hari
pertama haid. Pembalut perlu diganti 4-5 kali dalam sehari untuk menghindari
pertumbuhan bakteri pada pembalut yang digunakan dan mencegah masuknya bakteri
kedalam vagina. Pembalut yang baik yaitu pembalut yang berdaya serap baik dan
tidak berparfum.
10. Gunakan panty liner disaat perlu dan jangan terlalu lama. Misalnya saat berpergian
keluar rumah dan lepaskan sekembalinya dirumah.
11. Dianjurkan untuk mencukur rambut kemaluan karena rambut kemaluan dapat
ditumbuhi sejenis jamur atau kutu.

45
12. Hindari pemakaian barang barang yang dapat memudahkan penularan seperti
meminjam perlengkapan mandi. Dianjurkan tidak duduk diatas kloset di wc umum
atau biasakan mengelap dudukan kloset sebelum menggunakannya.
13. Pola hidup sehat yaitu diet yang seimbang, olahraga rutin, istirahat yang cukup ,
hindari rokok, dan alkohol serta hindari stress yang berkepanjangan.

L.O.2.9. Menjelaskan Prognosis Leukorea


Biasanya kondisi-kondisi yang menyebabkan fluor albus memberikan respon
terhadap pengobatan dalam beberapa hari. Kadang-kadang infeksi akan berulang. Dengan
perawatan kesehatan akan menentukan pengobatan yang lebih efektif
• Vaginosis bakterial mengalami kesembuhan rata – rata 70 – 80% dengan regimen
pengobatan
• Kandidiasis mengalami kesembuhan rata rata 80 -95 %
• Trikomoniasis mengalami kesembuhan rata – rata 95 %

L.I.3. Memahami dan mempelajari Pemeriksaan PAP’ Smear


Tes Pap Smear adalah pemeriksaan sitologi dari serviks dan porsio untuk melihat
adanya perubahan atau keganasan pada epitel serviks atau porsio (displasia) sebagai tanda
awal keganasan serviks atau prakanker (Rasjidi, Irwanto, Sulistyanto, 2008).

Manfaat Pap Smear


Pemeriksaan Pap Smear berguna sebagai pemeriksaan penyaring (skrining) dan
pelacak adanya perubahan sel ke arah keganasan secara dini sehingga kelainan prakanker
dapat terdeteksi serta pengobatannya menjadi lebih murah dan mudah (Dalimartha, 2004).
Manfaat Pap Smear secara rinci
dapat dijabarkan sebagai berikut
(Manuaba, 2005):
a. Diagnosis dini keganasan

46
Pap Smear berguna dalam mendeteksi dini kanker serviks, kanker korpus endometrium,
keganasan tuba fallopi, dan mungkin keganasan ovarium.
b. Perawatan ikutan dari keganasan
Pap Smear berguna sebagai perawatan ikutan setelah operasi dan setelah mendapat
kemoterapi dan radiasai.
c. Interpretasi hormonal wanita
Pap Smear bertujuan untuk mengikuti siklus menstruasi dengan ovulasi atau tanpa ovulasi,
menentukan maturitas kehamilan, dan menentukan kemungkunan keguguran pada hamil
muda.
d. Menentukan proses peradangan
Pap Smear berguna untuk menentukan proses peradangan pada berbagai infeksi bakteri dan
jamur.

Petunjuk Pemeriksaan Pap Smear


American Cancer Society (2009) merekomendasikan semua wanita sebaiknya
memulai skrining 3 tahun setelah pertama kali aktif secara seksual. Pap Smear dilakukan
setiap tahun. Wanita yang berusia 30 tahun atau lebih dengan hasil tes Pap Smear normal
sebanyak tiga kali, melakukan tes kembali setiap 2-3 tahun, kecuali wanita dengan risiko
tinggi harus melakukan tes setiap tahun. Pap Smear tidak dilakukan pada saat menstruasi.
Waktu yang paling tepat melakukan Pap Smear adalah 10-20 hari setelah hari pertama haid
terakhir. Pada pasien yang menderita peradangan berat pemeriksaan ditunda sampai
pengobatan tuntas. Dua hari sebelum dilakukan tes, pasien dilarang mencuci atau
menggunakan pengobatan melalui vagina. Hal ini dikarenakan obat tersebut dapat
mempengaruhi hasil pemeriksaan. Wanita tersebut juga dilarang melakukan hubungan
seksual selama 1-2 hari sebelum pemeriksaan Pap Smear (Bhambhani, 1996).

Prosedur Pemeriksaan Pap Smear


Menurut Soepardiman (2002), Manuaba (2005), dan Rasjidi (2008), prosedur
pemeriksaan Pap Smear adalah:
1. Persiapan alat-alat yang akan digunakan, meliputi spekulum bivalve (cocor bebek), spatula
Ayre, kaca objek yang telah diberi label atau tanda, dan alkohol 95%.
2. Pasien berbaring dengan posisi litotomi.

47
3. Pasang spekulum sehingga tampak jelas vagina bagian atas, forniks posterior, serviks
uterus, dan kanalis servikalis.
4. Periksa serviks apakah normal atau tidak.
5. Spatula dengan ujung pendek dimasukkan ke dalam endoserviks, dimulai dari arah jam 12
dan diputar 360˚ searah jarum jam.
6. Sediaan yang telah didapat, dioleskan di atas kaca objek pada sisi yang telah diberi tanda
dengan membentuk sudut 45˚ satu kali usapan.
7. Celupkan kaca objek ke dalam larutan alkohol 95% selama 10 menit.
8. Kemudian sediaan dimasukkan ke dalam wadah transpor dan dikirim ke ahli patologi
anatomi.

Interpretasi Hasil Pap Smear


Terdapat banyak sistem dalam menginterpretasikan hasil pemeriksaan Pap Smear, sistem
Papanicolaou, sistem Cervical Intraepithelial Neoplasma (CIN), dan sistem Bethesda.
Klasifikasi Papanicolaou membagi hasil pemeriksaan menjadi 5 kelas (Saviano, 1993), yaitu:
a. Kelas I : tidak ada sel abnormal.
b. Kelas II : terdapat gambaran sitologi atipik, namun tidak ada indikasi adanya keganasan.
c. Kelas III : gambaran sitologi yang dicurigai keganasan, displasia ringan sampai sedang.
d. Kelas IV : gambaran sitologi dijumpai displasia berat.
e. Kelas V : keganasan.

Menurut sistem CIN pengelompokan hasil uji Pap Semar terdiri dari (Feig, 2001):
a. CIN I merupakan displasia ringan dimana ditemukan sel neoplasma pada kurang dari
sepertiga lapisan epitelium.
b. CIN II merupakan displasia sedang dimana melibatkan dua pertiga epitelium.
c. CIN III merupakan displasia berat atau karsinoma in situ yang dimana telah melibatkan
sampai ke basement membrane dari epitelium.

Klasifikasi Bethesda pertama kali diperkenalkan pada tahun


1988. Setelah melalui beberapa kali pembaharuan, maka saat ini
digunakan klasifikasi Bethesda 2001. Klasifikasi Bethesda 2001
adalah sebagai berikut (Marquardt, 2002):
1. Sel skuamosa

48
a. Atypical Squamous Cells Undetermined Significance (ASC-US)
b. Low Grade Squamous Intraepithelial Lesion (LSIL)
c. High Grade Squamous Intraepithelial Lesion (HSIL)
d. Squamous Cells Carcinoma

2. Sel glandular
a. Atypical Endocervical Cells
b. Atypical Endometrial Cells
c. Atypical Glandular Cells
d. Adenokarsinoma Endoservikal In situ
e. Adenokarsinoma Endoserviks
f. Adenokarsinoma Endometrium
g. Adenokarsinoma Ekstrauterin
h. Adenokarsinoma yang tidak dapat ditentukan asalnya (NOS)

L.I.4. Memahami dan mempelajari Pandangan Islam terhadap Keputihan (Leukorea).


Keputihan bisa terjadi dalam keadaan tidak normal, yang umumnya dipicu kuman
penyakit dan menyebabkan infeksi. Akibatnya, timbul gejala-gejala yang sangat
mengganggu, seperti berubahnya warna cairan menjadi kekuningan hingga kehijauan, jumlah
berlebih, kental, lengket, berbau tidak sedap, terasa sangat gatal atau panas. Dalam khazanah
Islam, keputihan jenis ini biasa disebut dengan cairan putih kekuningan (sufrah ‫ )صفرة‬atau
cairan putih kekeruhan (kudrah ‫)كدرة‬. Terkait dengan kedua hal ini, di kitab shahih Bukhari
disebutkan bahwa Sahabat bernama Ummu ‘Athiyyah radhiallahu ‘anha berkata:
‫ُكنَّا اَل نَ ُع ُّد ْال ُك ْد َرةَ َوالصُّ ْف َرةَ َش ْيئًا‬
“Kami tidak menganggap al-kudrah (cairan keruh) dan as-sufrah (cairan kekuningan) sama
dengan haidh”
Berdasarkan hadits tersebut dapat disimpulkan :
1. Hukum orang yang mengalami keputihan tidak sama dengan hukum orang yang
mengalami menstruasi. Orang yang sedang keputihan tetap mempunyai kewajiban
melaksanakan shalat dan puasa, serta tidak wajib mandi.
2. Cairan keputihan tersebut hukumnya najis, sama dengan hukumnya air kencing. Oleh
karenanya, apabila ingin melaksanakan shalat, sebelum mengambil wudhu, harus istinjak,
dan membersihkan badan atau pakaian yang terkena cairan keputihan terlebih dahulu.

49
Pendapat yang dikemukakan oleh Syaikh Mushthafa al-Adawy dalam Jami’ Ahkam
an-Nisa’ ( hlm. 67-68 ). Beliau berpendapat, cairan keputihan tersebut tidak termasuk najis.
Alasannya, pertama : tidak ditemukannya dalil yang menajiskan cairan tersebut. Kedua,
keterangan bahwa setiap yang keluar dari dua jalan ( dubur dan kelamin ) adalah najis
hanyalah kesimpulan para ulama. Tak ada keterangan dari al-Quran dan Sunnah yang tegas
menyebutkan bahwa setiap yang keluar dari dua jalan itu najis. Ketiga, cairan jenis tersebut
keluar dari saluran rahim dan bukan keluar dari saluran kencing yang sifatnya najis.
Keempat, menganalogikan keputihan dengan darah istihadhah. Darah istihadhah hukumnya
tidak membatalkan shalat. Wanita hanya diharuskan untuk berwudhu setiap kali hendak
shalat atau mandi dengan menjama’ shalatnya. Jika darah istihadhah saja yang juga
merupakan penyakit tidak membatalkan shalat, demikian pula halnya dengan darah
keputihan.

Daftar Pustaka
Amiruddin, D. 2003. Fluor Albus in Penyakit Menular Seksual .LKiS : Jogjakarta
Butel, J S., Brooks, G F., Morse S A. 2007. Mikrobiologi Kedokteran Jawetz, Melnick &
Adelberg. Jakarta : EGC.
Eroschenko V P. 2010. Atlas histologi diFiore: dengan korelasi fungsional. Jakarta : EGC.

50
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3501/1/06001195.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23320/4/Chapter%20II.pdf
Ismid I, Sjarifuddin P K, Sungkar S. 2008. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran Ed 4. Jakarta :
Balai Penerbit FKUI.
Sofwan, A. 2012. Sistem Reproduksi. Jakarta : Bagian Anatomi FKUY.
Wiknjosastro, H. 2008. Ilmu Kandungan Ed.2. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo
www.mui.or.id

51

Anda mungkin juga menyukai