Anda di halaman 1dari 28

TIDAK BISA BUANG AIR KECIL

Laki-laki, 65 tahun datang berobat ke Poliklinik Bedah dengan keluhan tidak bias kencing
sejak 1 hari yang lalu, meskipun merasa sangat ingin kencing. Sebelumnya riwayat LUTS
(Lower Urinary Tract Syndrome) seperti hesistensi, nokturia, urgensi, frekuensi, terminal
dribbling sering dirasakan sebelumnya. IPSS (International Prostate Symptom Score) >30
dan Skor kualitas hidup (QoL) >5. Pada pemeriksaan fisik didapatkan region supra pubik
bulging dan pada pemeriksaan colok dubur didapatkan prostate membesar. Oleh dokter yang
memeriksanya dianjurkan untuk dipasang kateter urin dan dilakukan pemeriksaan BNO-IVP.

KATA KATA SULIT


1. Nokturia: Berkemih lebih dari 1 kali pada malam hari diantara episode tidur.
2. Hesistensi: Memulai miksi yang lama dan seringkali disertai dengan mengedan yang
disebabkan oleh karena M. Detrusor, buli buli perlu beberapa waktu lama untuk
meningkatkan tekanan intravesikel guna mengatasi tekanan dalam urethra prostatica.
3. Urgensi:Perasaan ingin miksi berlebih yang tidak bisa ditahan.
4. Terminal dribbling: Meneteskan urin pada akhir miksi.
5. IPSS: Salah satu sistem skoring untuk menentukan derajat prostat.
6. QoL: Skor kualitas hidup untuk mengetahui seberapa terganggunya pasien terhadap penyakit.
7. Bulging: Pembengkakan yang terasa pada saat palpasi.
8. BNO IVP: Pemeriksaan radiologi pada saluran kemih dimulai dari ginjal, ureter, vesica
urinaria, dengan menggunakan bahan kontras yang dimasukan pada pembuluh darah vena.
9. LUTS: Kumpulan gejala saluran kemih bawah yang sering dialami laki-laki berusia tua yang
disebabkan oleh BPH dengan dua gejala utama, yaitu obstruksi dan iritasi.

PERTANYAAN

1. Mengapa pasien tidak bisa berkemih?


2. Apakah penyakit sekarang ada hubungannya dengan penyakit sebelumnya?
3. Mengapa bisa terjadi terminal dribbling?
4. Apa yang menyebabkan pembengkakan pada regio supra pubik?
5. Apakah ada hubungannya usia dengan tidak bisa buang air kecil?
6. Mengapa dokter menganjurkan pemasangan kateter dan pemeriksaan BNO-IVP?
7. Bagaimana terjadinya LUTS?
8. Mengapa prostat membesar?
9. Apa yang menyebabkan nokturia?
10. Apa diagnosisnya?
11. Apa komplikasi yang mungkin terjadi?
12. Apa penanganan yang harus dilakukan?

JAWABAN
1. Karna prostat yang membesar maka menekan urethra pars prostatica yang menyebabkan urin
tidak bisa keluar.
2. Ada karena BPH menyebabkan LUTS.
3. Proses pengosongan vesica urinaria yang tidak sempurna menyebabkan kontraksi otot pada
kondisi vesica urinaria yang belum penuh.
4. Pengosongan vesica urinaria yang tidak sempurna menyebabkan volume urin pada vesica
urinaria penuh. Letak vesica urinaria adalah di regio supra pubik.
5. Ada. Usia adalah salah satu etiologi BPH.
6. Pemasangan kateter ditujukan untuk mengeluarkan urin dari vesica urinaria. Sedangkan
pemeriksaan BNO-IVP untuk melihat ada atau tidaknya obstruksi di saluran kemih.
7. Proses pengosongan vesica urinaria yang tidak sempurna menyebabkan kontraksi otot pada
kondisi vesica urinaria yang belum penuh.
8. Semakin bertambahnya usia pengaturan hormon menjadi tidak stabil, salah satunya
testosteron. Karena hormone testosterone diubah menjadi dihidrotestosteron di sel prostat,
ketidak seimbangan hormon testosteron dengan esterogen menyebabkan hiperplasia prostat.
9. Proses pengosongan vesica urinaria yang tidak sempurna menyebabkan kontraksi otot pada
kondisi vesica urinaria yang belum penuh.
10. Diagnosisnya adalah BPH.
11. Obstruksi, hydronephrosis, gagal ginjal, hernia, serta hemoroid.
12. Pemasangan kateter, analgesik, serta adrenergik.

HIPOTESA
Seiring bertambahnya usia, kadar hormon testosteron berkurang dan kadar hormon
esterogen tetap didalam tubuh. Perubahan kadar hormon ini menyebabkan hiperplasisa
stroma yang apabila lebih lanjut dapat menjadi pembengkakan prostat. Gejala yang diderita
3

adalah LUTS (hesistensi, urgensi, nokturia, frekuensi, dan terminal dribbling) dan susah
buang air kecil. Pada anamnesis didapatkan IPSS >30 dan QoL >5. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan suprapubik bulging dan dari colok dubur didapatkan pembesaran prostat.
Pemeriksaan lain dapat dilakukan BNO-IVP, USG, PSA. Diagnosis yang ditegakkan adalah
pasien menderita BPH (Benign Prostatic Hyperplasia). Tatalaksana yang dilakukan adalah
pemasangan kateter untuk mengeluarkan urin dari vesica urinaria dan pembedahan terbuka
apabila pembesaran prostat sudah sangat parah. Pemeriksaan yang melihat aurat lawan jenis
ini ditinjau lebih lanjut menurut pandangan Islam.

SASARAN BELAJAR
LI.1 Memahami dan Menjelaskan Anatomi Kelenjar Prostat
LO1.1Memahami dan Menjelaskan Anatomi Makroskopis Kelenjar Prostat
4

LO1.2Memahami dan Menjelaskan Anatomi Mikroskopis Kelenjar Prostat


LI.2 Memahami dan Menjelaskan Fisiologi Prostat
LI.3 Memahami dan Menjelaskan BPH
LO3.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi BPH
LO 3.2 Memahami dan Menjelaskan Etiologi BPH
LO 3.3 Memahami dan Menjelaskan Epidemiologi BPH
LO 3.4 Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi BPH
LO 3.5 Memahami dan Menjelaskan Patofisiologi BPH
LO 3.6 Memahami dan Menjelaskan Manifestasi Klinis BPH
LO 3.7 Memahami dan Menjelaskan Pemeriksaan Fisik dan Penunjang BPH
LO 3.8 Memahami dan Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis banding BPH
LO 3.9 Memahami dan Menjelaskan Penatalaksanaan BPH
LO 3.10 Memahami dan Menjelaskan Komplikasi BPH
LO 3.11 Memahami dan Menjelaskan Prognosis BPH
LO 3.12 Memahami dan Menjelaskan Pencegahan BPH
LI 4 Memahami dan Menjelaskan Pandangan Islam Terhadap Pemeriksaan Lawan
Jenis

LI.1 Memahami dan Menjelaskan Anatomi Kelenjar Prostat


LO1.1Memahami dan Menjelaskan Anatomi Makroskopis Kelenjar Prostat

Definisi: bagian sistem reproduksi yang mengelilingi urethrae, kelenjar berbentuk konus
terbalik yang dilapisi oleh kapsul fibromuskuler, yang terletak di sebelah inferior vesika
5

o
o
o
o

urinaria, mengelilingi bagian proksimal uretra (uretra pars prostatika) dan berada
disebelah anterior rektum
Bentuk: ovoid, ujung caudal disebut: Apex prostata, bersandar pada serabut-serabut
media; M. levator ani dan M. levator prostata.
Ukuran: sebesar buah kenari dengan berat normal pada orang dewasa kurang lebih20
gram, dengan jarak basis ke apex kurang lebih 3 cm, lebar yang paling jauh 4 cm dengan
tebal 2,5 cm.
Mengeluarkan semen yang membawa sperma.
Terletak cranial dari trigonum urogenitale, antara vesica urinaria (caudal) dengan
diaphragma urogenitalis.
Sintopi:
Kanan dan kiri terdapat tepi bebas m. levator ani
Dorsal terdapat rectum (pars ampullaris) dan m. pubococcygeus
Ventral terdapat spatium prevesicale (cavum Reztii) yang memisahkannya dari symphysis
pubica.
Extraperitoneal (tidak dibungkus peritoneum)
Melingkari urethare pars prostatica.
Ada basis prostatae dan apex prostatae terletak di atas sphincter urethrae externa VU.
Facies anterior, posterior, dan facies inferolaterales.
Permukaan cranialnya disebut basis prostata, dinding prostatnya merupakan lanjutan dari
dinding Collum vesicae tanpa batas yang jelas.
Bagian ventral prostat, difiksasi oleh Ligamentum pubo prostatica mediale.
Permukaan dorsal disentuh oleh Vasa deferentia dan vesiculae seminalis dan terpisah dari
membrana prostaticoperitoneale (Denonvillier) dan fascia rectalis.
Pada prostat dewasa, masih dapat dibedakan lobus lateralis kanan dan kiri yang menonjol
yang saling dihubungkan oleh jaringan musculo fibrous disebut Isthmus.
Biasanya pada prostat, di daerah uvula pada bibir posterior collum vesicae terjadi
pembesaran prostat yang oleh para klinisi dianggap sebagai: Hipertrofi median lobe.
Menurut strukturnya dibagi:

Kelenjar 50%
Otot polos 25%
Jaringan ikat fibrotik 25%
Prostat terdiri dari lima lobus:

1.

2.

3.

Lobus anterior
Terletak di depan urethrae pars prostatica
Unsur kelenjar tidak berkembang
Embriologi: berasal dari dinding depan
Urethra pars prostatica
Lobus lateral dextra dan sinistra
Paling berkembang menjadi benign prostat hyperplasia
Terletak sebelah lateral dari urethrae pars prostatica
Lobus posterior
Berkembang dari dinding dorsal urethra

Lobus posterior ini yang teraba pada rectal toucher, bila membesar menjadi carsinoma
prostata
Bagian prostat yang berhadapan dengan rectum
Terletak di bawah muara ductus ejakulatorius
4. Lobus media
Sinonim: lobus medianus
Berkembang dari dinding posterior urethra pars prostatica
Terketak di atas ductus ejakulatorius
Sering menjadi BPH

Prostat dapat diraba secara rectal melalui anus dengan menekan dinding pars ampularis
recti ke ventral, bila terjadi carcinoma prostat, terjadi pembesaran prostat terutama pada lobus
posterior yang dapat teraba dengan recetal toucher.

http://training.seer.cancer.gov/images/prostate/prostate.jpg

http://rwjms.rutgers.edu/surgery/urology/media/images/3rd%20Year
%20Modules/Module1/Prostate_Frontal_Section.jpg
7

Hubungan :

Ke superior: basis prostatae berhubungan dengan collum vesicae. Otot polos prostataterus
melanjut tanpa terputus dengan otot polos collum vesicae. Urethra masuk padabagian
tengah basis prostatae
Ke inferior: apex prostatae terletak pada facies superior diaphragma urogenitale.Urethra
meninggalkan prostate tepat diatas apex pada facies anterior.
Ke anterior: facies anterior prostatae berbatasan dengan symphysis pubica, dipisahkan
oleh lemak ekstraperitoneal yang terdapat di dalam spatium retropubicum
(cavumRetzius). Selubung fibrosa prostata dihubungkan dengan aspek postrior os pubis
oleh ligamenta puboprostatica. Ligamenta ini terletak di samping kanan dan kiri linea
mediana dan merupakan penebalan fascia pelvis.
Ke posterior: facies posterior prostatae berhubungan erat dengan facies antrerior ampulla
recti dan dipisahkan dari rectum oleh septum rectovesicae (fascia Denonvillier). Septum
ini dibentuk pada masa janin oleh fusi dinding ujung bawah excavatio retrovesicalis
peritonealis, yang semula meluas ke bawah sampai ke corpus peritoneal.
Ke lateral: facies lateralis prostatae difiksasi oleh serabut anterior musculus levator ani
pada saat serabut ini berjalan ke posterior dari pubis.

Pendarahan prostat oleh cabang dari arteri vesikalis inferior, Arteri pudenda interna, dan
Arteri rectalis (hemoroidalis) media. Darah vena prostat dialirkan kedalam fleksus vena
periprostatika yang berhubungan dengan vena dorsalis penis, kemudian dialirkan ke vena
iliaka interna yang juga berhubungan dengan pleksus vena presakral. Oleh karena struktur
inilah sering dijumpai metastase karsinoma prostat secara hematogen ke tulang pelvis dan
vertebra lumbalis.
Persarafan kelenjar prostat sama dengan persarafan kandung kemih bagian inferior yaitu
fleksus saraf simpatis dan parasimpatis. Pleksus prostatikus menerima masukan serabut
parasimpatis dari korda spinalis S2-4 dan simpatik dari nervus hipogastrikus (T10-L2).
Stimulasi parasimpatik meningkatnkan sekresi kelenjar pada epitel prostat, sedangkan
rangsangan simpatik menyebabkan pengeluaran cairan prostat ke dalam uterta posterior,
seperti pada saat ejakulasi. Sistem simpatik memberikan inervasi pada otot polos pristat,
kapsula prostat, dan leher buli-buli. Di tempat tersebut banyak terdapat reseptor adrenergic.
Rangsangan simpatik menyebabkan dipertahankannya tonus otot polos tersebut.
Aliran limfe dari kelenjar prostat membentuk plexus di peri prostat yangkemudian bersatu
untuk membentuk beberapa pembuluh utama, yang menuju ke kelenjar limfe iliaca interna ,
iliaca eksterna, obturatoria dan sakral.
LO1.2Memahami dan Menjelaskan Anatomi Mikroskopis Kelenjar Prostat
Prostat merupakan kumpulan 30-50 kelenjar tubuloalveolar bercabang yang saluran
keluarnya bermuara ke dalam urethra pars prostatica. Prostat mengeluarkan cairan prostat dan
menyimpannya untuk dikeluarkan pada saat ejakulasi. Secara umumnya, kalenjar prostat
terbentuk dari glandular fibromaskuler dan juga stroma, di mana, prostat berbentuk piramida,
berada di dasar musculofascial pelvis dimana dan dikelilingi oleh selaput tipis dari jaringan
ikat.
Prostat dikelilingi oleh kapsula fibroelastis yang kaya akan otot polos. Kapsula ini
memancarkan septa yang menembus kelenjar. Stroma yang sangat kaya akan fibromuskuler
terbentuk mengelilingi kelenjar. Lamina basalis tidak nyata dan sel-sel epitel terletak pada
8

suatu lapisan jaringan penyambung yang banyak otot polos, jala-jala serabut elastin padat dan
kapiler-kapiler darah. Epitelnya mungkin kubis atau malahan berlapis tetapi pada sebagian
besar tempat adalah toraks, disertai sedikit sel-sel basal. Sel-selnya mensekresi protein. Selsel ini memiliki aktifitas fosfatase asam yang besar. Keistimewaan ini dipertahankan pada
karsinoma prostat yang ditandai oleh adanya enzim dalam konsentrasi tinggi dalam tumor dan
dalam darah. Fosfatase asam serum diukur tidak hanya pada diagnosis tetapi juga untuk
mengikuti penderita dengan tumor tersebut.
Bagian-bagian kelenjar terbenam di dalam stroma padat yang di bagian tepi berlanjut pada
simpai. Stromanya juga fibroelastik dan mengandung sejumlah berkas serat otot. Alveoli dan
tubuli kelenjar sangat tidak teratur dan sangat beragam bentuk dan ukurannya. Alveoli dan
tubuli bercabang berkali-kali, keduanya memiliki lumen yang lebar. Lamina basal kurang
jelas dan epitel sangat berlipat-lipat. Jenis epitelnya selapis atau bertingkat dan bervariasi dari
silindris sampai kubis rendah, tergantung pada status endokrin dan kegiatan kelenjar.
Sitoplasma banyak mengandung butir sekret dan butir lipid. Saluran keluar mempunyai lumen
yang tidak teratur dan mirip tubuli sekretoris yang kecil.
Sekret prostat merupakan cairan seperti susu, bersifat agak alkali, kaya dengan enzim
proteolitik, terutama fibrinolisin yang membantu pencairan semen. Sekret juga mengandung
sejumlah besar fosfatase asam. Pada sajian, sekret terlihat sebagaimassa granular yang
asidofilik. Seringkali mengandung badan-badan bulat atau bulat telur disebut konkremen
prostat (korpora amilasea) yang merupakan kondensasi sekret yang mungkin mengalami
perkapuran.

Telah ditemukan lima daerah/ zona tertentu yang berbeda secara histologi maupun biologi,
yaitu:
1. Zona Anterior atau Ventral: Sesuai dengan lobus anterior, tidak punya kelenjar, terdiri atas
stroma fibromuskular. Zona ini meliputi sepertiga kelenjar prostat.
2. Zona Perifer: Sesuai dengan lobus lateral dan posterior, meliputi 70% massa kelenjar
prostat. Zona ini rentan terhadap inflamasi dan merupakan tempat asal karsinoma
terbanyak.
3. Zona Sentralis: Lokasi terletak antara kedua duktus ejakulatorius, sesuai dengan lobus
tengah meliputi 25% massa glandular prostat. Zona ini resisten terhadap inflamasi
4. Zona Transisional: Zona ini bersama-sama dengan kelenjar periuretra disebut juga sebagai
kelenjar preprostatik. Merupakan bagian terkecil dari prostat, yaitu kurang lebih 5%
9

tetapi dapat melebar bersama jaringan stroma fibromuskular anterior menjadi benign
prostatic hyperpiasia (BPH)
5. Kelenjar-Kelenjar Periuretra: Bagian ini terdiri dan duktus-duktus kecil dan susunan selsel asinar abortif tersebar sepanjang segmen uretra proksimal.
LI.2 Memahami dan Menjelaskan Fisiologi Prostat
Kelenjar prostat menyekresi cairan encer, seperti susu, yang mengandung ion sitrat,
kalsium, dan ion fosfat, enzim pembeku, dan profibrinolisis. Selama pengisian, sampai
kelenjar prostat berkontraksi sejalan dengan kontraksi vas deferens sehingga cairan encer
seperti susu yang dikeluarkan oleh kelenjar prostat menambah lebih banyak lagi jumlah
semen. Sifat yang sedikit basa dari cairan prostat mungkin penting untuk suatu keberhasilan
fertilisasi ovum, karena cairan vas deferens relatif asam akibat adanya asam sitrat dan hasil
akhir metabolisme sperma, dan sebagai akibatnya, akan menghambar fertilisasi sperma.
Sekret vagina juga bersifat asam (ph 3.54). Sperma tidak dapat bergerak optumal sampai pH
sekitarnya meningkat kirakira 66.5 sehingga merupakan suatu kemungkinan bahwa cairan
prostat menetralkan sifat asam dari cairan lainnya setelah ejakulasi dan juga meningkatkan
moyilitas dan fertilisasi sperma.
Kelenjar prostat secara relatif tetap kecil sepanjang masa kanakkanak dan mulai tumbuh
pada masa pubertas di bawah rangsangan testosteron. Kelenjar ini mencapai ukuran hampir
tetap pada usia 20 tahun dan tetap dalam ukuran itu sampai pada usia kirakira 50 tahun.
Pada waktu tersebut, beberapa orang kelenjarnya mulai berinvolusi, bersamaan dengan
penurunan pembentukan testosteron oleh testis. Sekali kelenjar prostat terjadi, selsel
karsinogen biasanya dirangsang untuk tumbuh lebih cepat oleh testosteron, dan diambat
dengan pengangkatan testis, sehingga testosteron tidak dapat dibentuk lagi.
LI.3 Memahami dan Menjelaskan BPH
LO3.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi BPH
Hiperplasia prostat jinak / Benign Prostatic Hyperplasia (BPH), dahulu dikenal sebagai
hipertrofi prostat jinak, adalah pertumbuhan berlebihan sel-sel prostat yang tidak ganas. BPH
kadang tidak menimbulkan gejala, tetapi jika tumor ini terus berkembang, pada akhirnya akan
mendesak uretra yang mengakibatkan rasa tidak nyaman pada penderita.
LO 3.2 Memahami dan Menjelaskan Etiologi BPH
Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hiperplasia
prostat, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat kaitannya
dengan peningkatan kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses aging (menjadi tua).
Beberapa teori atau hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasia prostat
adalah:

Teori Hormonal
Selain androgen (testosteron/DHT), estrogen juga berperan untuk terjadinya BPH. Dengan
bertambahnya usia akan terjadi perubahan keseimbangan hormonal, yaitu antara hormon
10

testosteron dan hormon estrogen, karena produksi testosteron menurun dan terjadi konversi
testosteron menjadi estrogen pada jaringan adiposa di perifer dengan pertolongan enzim
aromatase, dimana sifat estrogen ini akan merangsang terjadinya hiperplasia pada stroma,
sehingga timbul dugaan bahwa testosteron diperlukan untuk inisiasi terjadinya proliferasi sel
tetapi kemudian estrogen lah yang berperan untuk perkembangan stroma. Kemungkinan lain
ialah perubahan konsentrasi relatif testosteron dan estrogen akan menyebabkan produksi dan
potensiasi faktor pertumbuhan lain yang dapat menyebabkan terjadinya pembesaran prostat.
Dari berbagai percobaan dan penemuan klinis dapat diperoleh kesimpulan, bahwa dalam
keadaan normal hormon gonadotropin hipofise akan menyebabkan produksi hormon androgen
testis yang akan mengontrol pertumbuhan prostat. Dengan makin bertambahnya usia, akan
terjadi penurunan dari fungsi testikuler (spermatogenesis) yang akan menyebabkan penurunan
yang progresif dari sekresi androgen. Hal ini mengakibatkan hormon gonadotropin akan
sangat merangsang produksi hormon estrogen oleh sel sertoli. Dilihat dari fungsional
histologis, prostat terdiri dari dua bagian yaitu sentral sekitar uretra yang bereaksi terhadap
estrogen dan bagian perifer yang tidak bereaksi terhadap estrogen.
Teori Growth Factor (Faktor Pertumbuhan)
Peranan dari growth factor ini sebagai pemacu pertumbuhan stroma kelenjar prostat.
Terdapat empat peptic growth factor yaitu: Basic Transforming Growth Factor, Transforming
Growth Factor B1, Transforming Growth Factor B2, dan Epidermal Growth Factor.
Teori Peningkatan Lama Hidup Sel-sel Prostat karena Berkurangnya Sel yang Mati.
Kematian sel prostat (apotosis) pada sel prostat adalah mekanisme fsiologik untuk
mempertahankan homeostasis kelenjar prostat. Pada apotosis terjadi kondensasi dan
fragmentasi sel yang selanjutnya sel sel yang mengalami apoptosis akan difagositosis oleh sel
sel disekitarnya kemudian didegradasi oleh enzim lisososom.
Berkurangnya jumlah sel-sel dalam prostat yang mengalami apoptosis menyebabkan
jumlah sel sel dalam prostat secara keseluruhan menjadi meningkat sehingga menyebabkan
petambahan massa prostat. Diduga hormon adrogen berperan dalam menghambat proses
kematian sel karena setelah dilakukan kastrasi, terjadi peningkatan aktivitas kematian sel
kelenjar prostat. Estrogen diduga mampu memperpanjang usia sel prostat. Sedangkan faktor
pertumbuhan TGB beta berperan dalam proses apotosis.
Teori Sel Stem (stem cell hypothesis)
Seperti pada organ lain, prostat dalam hal ini kelenjar periuretral pada seorang dewasa
berada dalam keadaan keseimbangan steady state, antara pertumbuhan sel dan sel yang mati,
keseimbangan ini disebabkan adanya kadar testosteron tertentu dalam jaringan prostat yang
dapat mempengaruhi sel stem sehingga dapat berproliferasi. Pada keadaan tertentu, jumlah sel
stem ini dapat bertambah sehingga terjadi proliferasi lebih cepat. Terjadinya proliferasi
abnormal sel stem sehingga menyebabkan produksi atau proliferasi sel stroma dan sel epitel
kelenjar periuretral prostat menjadi berlebihan.

Teori Dihydrotestosteron (DHT)


Testosteron yang dihasilkan oleh sel leydig pada testis (90%) dan sebagian dari kelenjar
adrenal (10%) masuk dalam peredaran darah dan 98% akan terikat oleh globulin menjadi Sex
11

Hormone Binding Globulin (SHBG). Sedangkan hanya 2% dalam keadaan testosteron bebas.
Testosteron bebas inilah yang bisa masuk ke dalam target cell, yaitu sel prostat melewati
membran sel langsung masuk kedalam sitoplasma. Di dalam sel, testosteron direduksi oleh
enzim 5 alpha reductase menjadi 5 dyhidro testosteron yang kemudian bertemu dengan
reseptor sitoplasma menjadi hormone receptor complex.
Kemudian hormone receptor complex ini mengalami transformasi reseptor, menjadi
nuclear receptor yang masuk kedalam inti yang kemudian melekat pada chromatin dan
menyebabkan transkripsi m-RNA. RNA ini akan menyebabkan sintese protein menyebabkan
terjadinya pertumbuhan kelenjar prostat.
Teori Reawakening
Mc Neal tahun 1978 menulis bahwa lesi pertama bukan pembesaran stroma pada kelenjar
periuretral (zone transisi) melainkan suatu mekanisme glandular budding kemudian
bercabang yang menyebabkan timbulnya alveoli pada zona preprostatik. Persamaan epiteleal
budding dan glandular morphogenesis yang terjadi pada embrio dengan perkembangan
prostat ini, menimbulkan perkiraan adanya reawakening yaitu jaringan kembali seperti
perkembangan pada masa tingkat embriologik, sehingga jaringan periuretral dapat tumbuh
lebih cepat dari jaringan sekitarnya, sehingga teori ini terkenal dengan nama teori
Reawakening of Embryonic Induction Potential of Prostatic Stroma During Adult Hood.
Selain teori-teori di atas masih banyak lagi teori yang menerangkan tentang penyebab
terjadinya BPH seperti, teori tumor jinak, teori rasial dan faktor sosial, teori infeksi dari zatzat yang belum diketahui, teori yang berhubungan dengan aktifitas hubungan seks, teori
peningkatan kolesterol, dan Zn yang kesemuanya tersebut masih belum jelas hubungan sebab
akibatnya.
LO 3.3 Memahami dan Menjelaskan Epidemiologi BPH
Pembesaran prostat dianggap sebagai bagian dari proses pertambahan usia, seperti halnya
rambut yang memutih. Oleh karena itulah dengan meningkatnya usia harapan hidup,
meningkat pula prevalensi BPH. Office of Health Economic Inggris telah mengeluarkan
proyeksi prevalensi BPH bergejala di Inggris dan Wales beberapa tahun ke depan. Pasien
BPH bergejala yang berjumlah sekitar 80.000 pada tahun 1991, diperkirakan akan meningkat
menjadi satu setengah kalinya pada tahun 2031.
Bukti histologis adanya benign prostatic hyperplasia(BPH) dapat diketemukan pada
sebagian besar pria, bila mereka dapat hidup cukup lama. Namun demikian, tidak semua
pasien BPH berkembang menjadi BPH yang bergejala (symptomatic BPH). Prevalensi BPH
yang bergejala pada pria berusia 40-49 tahun mencapai hampir 15%. Angka ini meningkat
dengan bertambahnya usia, sehingga pada usia 50-59 tahun prevalensinya mencapai hampir
25%, dan pada usia 60 yahun mencapai angka sekitar 43%. Angka kejadian BPH di Indonesia
yang pasti belum pernah diteliti, tetapi sebagai gambaran hospital prevalence di dua rumah
sakit besar di Jakarta yaitu RSCM dan Sumberwaras selama 3 tahun (1994-1997) terdapat
1040 kasus.

LO 3.4 Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi BPH

12

Menurut Rumahorbo (2000:71), terdapat empat derajat pembesaran kelenjar prostat yaitu
sebagai berikut:
A. Derajat Rektal
Derajat rektal dipergunakan sebagai ukuran dari pembesaran kelenjar prostat ke arah
rektum. Rectal toucher dikatakan normal jika batas atas teraba konsistensi elastis, dapat
digerakan, tidak ada nyeri bila ditekan dan permukaannya rata. Tetapi rectal toucher pada
hipertropi prostat di dapatkan batas atas teraba menonjol lebih dari 1 cm dan berat prostat
diatas 35 gram.Ukuran dari pembesaran kelenjar prostat dapat menentukan derajat rectal
yaitu sebagai berikut :

Derajat O : Ukuran pembesaran prostat 0-1 cm


Derajat I : Ukuran pembesaran prostat 1-2 cm
Derajat II : Ukuran pembesaran prostat 2-3 cm
Derajat III : Ukuran pembesaran prostat 3-4 cm
Derajat IV : Ukuran pembesaran prostat lebih dari 4 cm
Gejala BPH tidak selalu sesuai dengan derajat rectal, kadang-kadang dengan rectal toucher
tidak teraba menonjol tetapi telah ada gejala, hal ini dapat terjadi bila bagian yang membesar
adalah lobus medialis dan lobus lateralis. Pada derajat ini klien mengeluh jika BAK tidak
sampai tuntas dan puas, pancaran urine lemah, harus mengedan saat BAK, nocturia tetapi
belum ada sisa urine.

B. Derajat Klinik
Derajat klinik berdasarkan kepada residual urine yang terjadi. Klien disuruh BAK sampai
selesai dan puas, kemudian dilakukan katerisasi. Urine yang keluar dari kateter disebut sisa
urine atau residual urine. Residual urine dibagi beberapa derajat yaitu sebagai berikut:

Normal sisa urine adalah nol


Derajat I sisa urine 0-50 ml
Derajat II sisa urine 50-100 ml
Derajat III sisa urine 100-150 ml
Derajat IV telah terjadi retensi total atau klien tidak dapat BAK sama sekali.
Bila kandung kemih telah penuh dan klien merasa kesakitan, maka urine akan keluar
secara menetes dan periodik, hal ini disebut Over Flow Incontinencia. Pada derajat ini telah
terdapat sisa urine sehingga dapat terjadi infeksi atau cystitis, nocturia semakin bertambah
dan kadang-kadang terjadi hematuria.

C. Derajat Intra Vesikal


Derajat ini dapat ditentukan dengan mempergunakan foto rontgen atau cystogram,
panendoscopy. Bila lobus medialis melewati muara uretra, berarti telah sampai pada stadium
tida derajat intra vesikal. Gejala yang timbul pada stadium ini adalah sisa urine sudah
mencapai 50-150 ml, kemungkinan terjadi infeksi semakin hebat ditandai dengan
peningkatan suhu tubuh, menggigil dan nyeri di daerah pinggang serta kemungkinan telah
terjadi pyelitis dan trabekulasi bertambah.

13

D. Derajat Intra Uretral


Derajat ini dapat ditentukan dengan menggunakan panendoscopy untuk melihat sampai
seberapa jauh lobus lateralis menonjol keluar lumen uretra. Pada stadium ini telah terjadi
retensio urine total.
LO 3.5 Memahami dan Menjelaskan Patofisiologi BPH
Perubahan paling awal pada BPH adalah di kelenjar periuretra sekitarverumontanum.
Perubahan hiperplasia pada stroma berupa nodul fibromuskuler, nodulasinar atau nodul
campuran fibroadenomatosa. Hiperplasia glandular terjadi berupa nodulasinar atau campuran
dengan hiperplasia stroma. Kelenjar-kelenjar biasanya besar danterdiri atas tall columnar
cells. Inti sel-sel kelenjar tidak menunjukkan proses keganasan. Proses patologis lainnya
adalah penimbunan jaringan kolagen dan elastin di antara otot polos yang berakibat
melemahnya kontraksi otot. Hal ini mengakibatkan terjadinyahipersensitivitas pasca
fungsional, ketidakseimbangan neurotransmiter, dan penurunaninput sensorik, sehingga otot
detrusor tidak stabil.
Seperti yang didiskusikan sebelumnya, proses berkembangnya BPH terjadi di zona
transisional. BPH merupakan suatu proses hyperplasia yang diakibatkan oleh peningkatan
jumlah sel. Evaluasi mikroskopis mengungkapkan pola pertumbuhan nodular yang terdiri
dari berbagai jumlah stroma dan epitel. Stroma terdiri dari berbagai jumlah kolagen dan otot
polos. Gambaran yang berbeda dari komponen histologis BPH menjelaskan potensi respon
terhadap pengobatan medis. Jadi terapi alpha-blocker dapat memberikan respon baik pada
pasien dengan BPH yang memiliki komponen penting otot polos, sedangkan pasien BPH
yang dominan terdiri dari epitel akan menghasilkan respon lebih baik terhadap 5-alphareductase inhibitor. Pasien dengan komponen kolagen dalam stroma yang signifikan mungkin
tidak merespon salah satu bentuk terapi medis. Sayangnya, respon terhadap terapi tertentu
tidak dapat diprediksi sebelumnya. Semakin nodul BPH di zona transisional membesar,
mereka menekan zona luar prostat, menghasilkan pembentukan kapsul. Batas ini memisahkan
zona transisiinal dengan zona perifer dan berfungsi sebagai bidang pemisah untuk enuklleasi
terbuka prostat selama prostatectomi terbuka sederhana yang dilakukan pada BPH.
Patofisiologi
Pada BPH terdapat dua komponen yang berpengaruh untuk terjadinya gejala yaitu
komponen mekanik dan komponen dinamik. Komponen mekanik ini berhubungan dengan
adanya pembesaran kelenjar periuretra yang akan mendesak uretra pars prostatika sehingga
terjadi gangguan aliran urine (obstruksi infra vesikal) sedangkan komponen dinamik meliputi
tonus otot polos prostat dan kapsulnya, yang merupakan reseptor alpha adrenergik. Stimulasi
pada reseptor alpha adrenergik akan menghasilkan kontraksi otot polos prostat ataupun
kenaikan tonus. Komponen dinamik ini tergantung dari stimulasi saraf simpatis, yang juga
tergantung dari beratnya obstruksi oleh komponen mekanik.
Proses pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan sehingga perubahan pada saluran
kemih juga terjadi secara perlahan-lahan. Pada tahap awal, terjadi pembesaran prostat ,
peningkatan retistensi pada leher buli-buli dan daerah prostat. Selanjutnya hal ini akan
menyebabkan sumbatan aliran kemih. Untuk mengatasi resistensi uretra yang meningkat,
otot-otot detrusor akan berkontraksi untuk mengeluarkan urine. Kontraksi yang terusmenerus ini menyebabkan perubahan anatomik dari buli-buli berupa hipertrofi otot detrusor,
trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan divertikel buli-buli. Fase penebalan otot detrusor
ini disebut fase kompensasi. Perubahan struktur pada buli-buli dirasakan oleh pasien sebagai
14

keluhan pada saluran kemih sebelah bawah atau lower urinary tract symptom (LUTS) yang
dahulu dikenal dengan gejala-gejala prostatismus.
Dengan semakin meningkatnya resistensi uretra, otot detrusor masuk ke dalam fase
dekompensasi dan akhirnya tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensi
urin. Tekanan intravesikal yang semakin tinggi akan diteruskan ke seluruh bagian buli-buli
tidak terkecuali pada kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat
menimbulkan aliran balik urin dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks vesico-ureter.
Keadaan ini jika berlangsung terus akan mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis, bahkan
akhirnya dapat jatuh ke dalam gagal ginjal.
Adapun patofisiologi dari masing-masing gejala adalah:

Penurunan kekuatan dan kaliber aliran yang disebabkan resistensi uretra adalah gambaran
awal dan menetap dari BPH. - Hesitancy terjadi karena detrusor membutuhkan waktu yang
lama untuk dapat melawan resistensi uretra. - Intermittency terjadi detrusor tidak dapat
mengatasi resistensi uretra sampai akhir miksi. Terminal dribbling dan rasa puas sehabis
miksi akan terjadi karena jumlah residu urin yang banyak dalam buli-buli.
Nokturia dan frekuensi terjadi karena pengosongan tidak lengkap pada tiap miksi sehingga
interval miksi menjadi lebih pendek.
Frekuensi biasa terjadi pada malam hari (nokturia) karena hambatan normal dari korteks
berkurang dan tonus spingter dan uretra berkuang selama tidur.
Urgensi dan disuria jarang terjadi, dan jika ada disebabkan oleh ketidakstabilan detrusor
sehingga terjadi kontraksi involunter.
Inkontinensia bukan gejala khas, walaupun dengan berkembangnya penyakit urin keluar
sedikit-sedikit secara berkala karena setelah buli-buli mencapai compliance maksimum,
tekanan dalam buli-buli akan cepat naik melebihi tekanan spingter.
Biasanya ditemukan gejala dan tanda obstuksi dan iritasi. Gejala obstruksi disebabkan
oleh karena dektrusor gagal berkontaksi cukup lama sehingga kontraksi terputus-putus,
sedangkan gejala iritatif disebabkan oleh karena pengosongan yang tidak sempurna saat
miksi atau pembesaran prostat menyebabkan rangsangan pada vesika, sehingga vesika sering
berkontraksi meskipun belum penuh, keadaan ini membuat sistem skoring untuk menentukan
besarnya keluhan klinik. Gejala iritatif yang sering dijumpai ialah bertambahnya frekuensi
miksi yang biasanya lebih dirasakan pada malam hari. Sering miksi paada malam hari disebut
nokturia, hal ini disebabkan oleh menurunnya hambatan kotikal selama tidur dan juga
menurunkan tonus sfingter dan uretra. Simptom obstruksi biasanya disebabkan oleh karena
prostat volumenya terlalu besar. Apabila vesika menjadi dekompensasi, maka akan terjadi
retensi urin sehingga pada akhir miksi masih ditemukan sisa urin didalam vesika, hal ini
menyebabkan rasa tidak tuntas pada akhir miksi. Jika hal ini berlanjut setiap saat akan terjadi
kemacetan total, sehingga penderita tidak bisa miksi lagi. Oleh karena produksi urin akan
terus terjadi maka suatu saat vesika tidak mampu lagi menampung urine sehingga tekanan
intravesika akan naik terus dan jika tekanan intravesika ini akan naik terus maka dan apabila
tekanan vesika akan menjadi lebih tinggi dari tekanan spingter akan terjadi inkontensia
paradoks (overflow incontinence). Retensi kronik dapat menyebabkan terjadinya refluks
vesiko urethral dan menyebabkan dilatasi ureter dan sistem pelvio kalises ginjal akan rusak
dan adanya infeksi. Di samping kerusakan traktus urinarius bagian atas akibat obstuksi kronik
pendeita harus selalu mengedan pada waktu miksi. Tekanan intraabdomen dapat meningkat
dan lama-kelamaan akan menyebabkan terjadinya hernia, hemorroid,. Oleh karena selalu
terdapat sisa kencing didalam vesika maka akan terbentuk batu dalam vesika dan batu ini
dapat menambah keluhan iritasi dan menimbulkan iritasi dan menimbulkan hematuri.
15

Disamping pembentukan batu retensi kronik dapat menyebabkan terjadinya infeksi sehingga
terjadi sintitis dan apabila terjadi refluks dapat terjadi juga pyelonefitis.
LO 3.6 Memahami dan Menjelaskan Manifestasi Klinis BPH
Gejala hiperplasia prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih maupun
keluhan di luar saluran kemih.
1. Gejala pada saluran kemih:
Gejala pada saluran kemih bagian atas
Nyeri pinggang, demam (infeksi), hidronefrosis.

Gejala pada saluran kemih bagian bawah


Keluhan pada saluran kemih sebelah bawah ( LUTS ) terdiri atas gejala obstruktif dan
gejala iritatif. Gejalaobstruktif disebabkan oleh karena penyempitan Uretra pars prostatika
karena didesak oleh prostat yang membesar dan kegagalan otot detrusor untuk berkontraksi
cukup kuat dan atau cukup lama sehingga kontraksi terputus-putus.
Gejala obstruktif ialah :

o
o
o
o
o

Harus menunggu pada permulaan miksi (Hesistancy)


Pancaran miksi yang lemah (Weak stream)
Miksi terputus (Intermittency)
Menetes pada akhir miksi (Terminal dribbling)
Rasa belum puas sehabis miksi (Sensation of Incomplete Bladder Emptying )
Manifestasi klinis berupa obstruksi pada penderita hipeplasia prostat masih tergantung tiga
faktor, yaitu :

o Volume kelenjar periuretral


o Elastisitas leher vesika, otot polos prostat dan kapsul prostat
o Kekuatan kontraksi otot detrusor
Tidak semua prostat yang membesar akan menimbulkan gejala obstruksi, sehingga
meskipun volume kelenjar periurethral sudah membesar dan elastisitas leher vesika, otot
polos prostat dan kapsul prostat menurun, tetapi apabila masih dikompensasi dengan
kenaikan daya kontraksi otot detrusor maka gejala obstruksi belum dirasakan.
Gejala iritatif disebabkan oleh karena pengosongan vesica urinaria yang tidak sempurna
pada saat miksi atau disebabkan oleh hipersensitivitas otot detrusor karena pembesaran
prostat menyebabkan rangsangan pada vesica, sehingga vesica sering berkontraksi meskipun
belum penuh. Gejala iritatifialah :
o
o
o
o

Bertambahnya frekuensi miksi (Frequency)


Nokturia
Miksi sulit ditahan (Urgency)
Disuria (Nyeri pada waktu miksi)
Gejala-gejala tersebut di atas sering disebut sindroma prostatismus. Secara klinis derajat
berat gejala prostatismus itu dibagi menjadi :
16

o Grade I: Gejala prostatismus + sisa kencing <>


o Grade II: Gejala prostatismus + sisa kencing > 50 ml
o Grade III: Retensi urin dengan sudah ada gangguan saluran kemih bagian atas + sisa urin >
150 ml
Untuk menilai tingkat keparahan dari keluhan pada saluran kemih sebelah bawah, WHO
menganjurkan klasifikasi untuk menentukan berat gangguan miksi yang disebut Skor
Internasional Gejala Prostat atau IPSS (International Prostatic Symptom Score). Sistem
skoring IPSS terdiri atas tujuh pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan miksi (LUTS)
dan satu pertanyaan yang berhubungan dengan kualitas hidup pasien. Setiap pertanyaan yang
berhubungan dengan keluhan miksi diberi nilai 0 sampai dengan 5, sedangkan keluhan yang
menyangkut kualitas hidup pasien diberi nilai dari 1 hingga 7. Dari skor IPSS itu dapat
dikelompokkan gejala LUTS dalam 3 derajat, yaitu:
o Ringan: skor 0-7
o Sedang: skor 8-19
o Berat: skor 20-35
Timbulnya gejala LUTS merupakan menifestasi kompensasi otot vesica urinaria untuk
mengeluarkan urin. Pada suatu saat otot-otot vesica urinaria akan mengalami kepayahan
(fatique) sehingga jatuh ke dalam fase dekompensasi yang diwujudkan dalam bentuk retensi
urin akut.
Timbulnya dekompensasi vesica urinaria biasanya didahului oleh beberapa faktor
pencetus, antara lain:
o Volume vesica urinaria tiba-tiba terisi penuh yaitu pada cuaca dingin, menahan kencing
terlalu lama, mengkonsumsi obat-obatan atau minuman yang mengandung diuretikum
(alkohol, kopi) dan minum air dalam jumlah yang berlebihan.
o Massa prostat tiba-tiba membesar, yaitu setelah melakukan aktivitas seksual atau mengalami
infeksi prostat akut.
o Setelah mengkonsumsi obat-obatan yang dapat menurunkan kontraksi otot detrusor atau yang
dapat mempersempit leher vesica urinaria, antara lain: golongan antikolinergik atau alfa
adrenergik.
2. Gejala di luar saluran kemih :
Keluhan pada penyakit hernia/hemoroid sering mengikuti penyakit hipertropi prostat.
Timbulnya kedua penyakit ini karena sering mengejan pada saat miksi sehingga
mengakibatkan peningkatan tekanan intra abdominal. Benigna Prostat Hipertropi selalu
terjadi pada orang tua, tetapi tak selalu disertai gejala-gejala klinik, hal ini terjadi karena dua
hal yaitu:
o Penyempitan uretra yang menyebabkan kesulitan berkemih.
o Retensi urin dalam kandung kemih menyebabkan dilatasi kandung kemih, hipertrofi kandung
kemih dan cystitis (Hidayat, 2009).
Adapun gejala dan tanda yang tampak pada pasien dengan Benigna Prostat Hipertrofi:
o Retensi urin (urine tertahan di kandung kemih, sehingga urin tidak bisa keluar).
o Kurangnya atau lemahnya pancaran kencing.
o Miksi yang tidak puas.
17

o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o

Frekuensi kencing bertambah terutama malam hari (nocturia).


Pada malam hari miksi harus mengejan.
Terasa panas, nyeri atau sekitar waktu miksi (disuria).
Massa pada abdomen bagian bawah.
Hematuria (adanya darah dalam urin).
Urgency (dorongan yang mendesak dan mendadak untuk mengeluarkan urin).
Kesulitan mengawali dan mengakhiri miksi.
Kolik renal (kerusakan renal, sehingga renal tidak dapat berfungsi).
Berat badan turun.
Anemia, kadang-kadang tanpa sebab yang diketahui.
Pasien sama sekali tidak dapat berkemih sehingga harus dikeluarkan dengan kateter. Karena
urin selalu terisi dalam kandung kemih, maka mudah sekali terjadi cystitis dan selaputnya
merusak ginjal.
Gejala generalisata juga mungkin tampak, termasuk keletihan, anoreksia, mual dan
muntah, dan rasa tidak nyaman pada epigastrik.
Secara klinik derajat berat, dibagi menjadi 4 gradiasi, yaitu:

o Derajat 1: Apabila ditemukan keluhan prostatismus, pada DRE (colok dubur) ditemukan
penonjolan prostat dan sisa urine kurang dari 50 ml.
o Derajat 2: Ditemukan tanda dan gejala seperti pada derajat 1, prostat lebih menonjol, batas
atas masih teraba dan sisa urine lebih dari 50 ml tetapi kurang dari 100 ml.
o Derajat 3: Seperti derajat 2, hanya batas atas prostat tidak teraba lagi dan sisa urin lebih dari
100 ml.
o Derajat 4: Apabila sudah terjadi retensi total.
LO 3.7 Memahami dan Menjelaskan Pemeriksaan Fisik dan Penunjang BPH
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan colok dubur dapat memberikan gambaran tentang keadaan tonus spingter ani,
reflek bulbo cavernosus, mukosa rektum, adanya kelainan lain seperti benjolan di dalam
rektum dan tentu saja teraba prostat. Pada perabaan prostat harus diperhatikan :
1

Konsistensi prostat (pada hiperplasia prostat konsistensinya kenyal)

Adakah asimetris

Adakah nodul pada prostate

Apakah batas atas dapat diraba

Sulcus medianus prostate

Adakah krepitasi
Colok dubur pada hiperplasia prostat menunjukkan prostat teraba membesar, konsistensi
prostat kenyal seperti meraba ujung hidung, permukaan rata, lobus kanan dan kiri simetris,
tidak didapatkan nodul, dan menonjol ke dalam rektum. Semakin berat derajat hiperplasia
prostat, batas atas semakin sulit untuk diraba. Sedangkan pada carcinoma prostat, konsistensi
18

prostat keras dan atau teraba nodul dan diantara lobus prostat tidak simetris. Sedangkan pada
batu prostat akan teraba krepitasi.
Pemeriksaan fisik apabila sudah terjadi kelainan pada traktus urinaria bagian atas kadangkadang ginjal dapat teraba dan apabila sudah terjadi pielonefritis akan disertai sakit pinggang
dan nyeri ketok pada pinggang. Vesica urinaria dapat teraba apabila sudah terjadi retensi total,
daerah inguinal harus mulai diperhatikan untuk mengetahui adanya hernia. Genitalia eksterna
harus pula diperiksa untuk melihat adanya kemungkinan sebab yang lain yang dapat
menyebabkan gangguan miksi seperti batu di fossa navikularis atau uretra anterior, fibrosis
daerah uretra, fimosis, condiloma di daerah meatus.
Pada pemeriksaan abdomen ditemukan kandung kencing yang terisi penuh dan teraba
masa kistus di daerah supra simfisis akibat retensio urin dan kadang terdapat nyeri tekan
supra simfisis.
Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium berperan dalam menentukan ada tidaknya komplikasi.
1.

2.

Darah : - Ureum dan Kreatinin


Elektrolit
Blood urea nitrogen
Prostate Specific Antigen (PSA)
Gula darah
Urin : - Kultur urin + sensitifitas test
Urinalisis dan pemeriksaan mikroskopik
Sedimen
Sedimen urin diperiksa untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau inflamasi
pada saluran kemih. Pemeriksaan kultur urine berguna dalam mencari jenis kuman yang
menyebabkan infeksi dan sekaligus menentukan sensitifitas kuman terhadap beberapa
antimikroba yang diujikan.
Faal ginjal diperiksa untuk mengetahui kemungkinan adanya penyulit yang mengenai
saluran kemih bagian atas. Sedangkan gula darah dimaksudkan untuk mencari kemungkinan
adanya penyakit diabetes mellitus yang dapat menimbulkan kelainan persarafan pada vesica
urinaria.
Pemeriksaan pencitraan
1. Foto polos abdomen (BNO)
BNO berguna untuk mencari adanya batu opak di saluran kemih, adanya batu/kalkulosa
prostat dan kadangkala dapat menunjukkan bayangan vesica urinaria yang penuh terisi urin,
yang merupakan tanda dari suatu retensi urine. Selain itu juga bisa menunjukkan adanya
hidronefrosis, divertikel kandung kemih atau adanya metastasis ke tulang dari carsinoma
prostat.
2. Pielografi Intravena (IVP)
Pemeriksaan IVP dapat menerangkan kemungkinan adanya:

a. kelainan pada ginjal maupun ureter berupa hidroureter atau hidronefrosis


19

b. memperkirakan besarnya kelenjar prostat yang ditunjukkan oleh adanya indentasi prostat
(pendesakan vesica urinaria oleh kelenjar prostat) atau ureter di sebelah distal yang berbentuk
seperti mata kail atau hooked fish
c. penyulit yang terjadi pada vesica urinaria yaitu adanya trabekulasi, divertikel, atau sakulasi
vesica urinaria
d. Foto setelah miksi dapat dilihat adanya residu urin
3. Sistogram retrograd
Apabila penderita sudah dipasang kateter oleh karena retensi urin, maka sistogram
retrograd dapat pula memberi gambaran indentasi.
4. USG secara transrektal (Transrectal Ultrasonography = TURS)
Untuk mengetahui besar atau volume kelenjar prostat, adanya kemungkinan pembesaran
prostat maligna, sebagai petunjuk untuk melakukan biopsi aspirasi prostat, menentukan
volume vesica urinaria dan jumlah residual urine, serta mencari kelainan lain yang mungkin
ada di dalam vesica urinaria seperti batu, tumor, dan divertikel.
5. Pemeriksaan Sistografi
Dilakukan apabila pada anamnesis ditemukan hematuria atau pada pemeriksaan urine
ditemukan mikrohematuria. Sistografi dapat memberikan gambaran kemungkinan tumor di
dalam vesica urinaria atau sumber perdarahan dari atas bila darah datang dari muara ureter,
atau batu radiolusen di dalam vesica. Selain itu juga memberi keterangan mengenai basar
prostat dengan mengukur panjang uretra pars prostatika dan melihat penonjolan prostat ke
dalam uretra.
Pemeriksaan fisik dan penunjang telah dijelaskan pada point diatas, untuk penegakan
diagnosis. Berikut beberapa pemeriksaan penunjang lainnya :
Pemeriksaan penunjang lainnya
1

Uroflowmetri
Untuk mengukur laju pancaran urin miksi. Laju pancaran urin ditentukan oleh : - daya
kontraksi otot detrusor

Tekanan intravesica

Resistensi uretra

Angka normal laju pancaran urin ialah 10-12 ml/detik dengan puncak laju pancaran
mendekati 20 ml/detik. Pada obstruksi ringan, laju pancaran melemah menjadi 6 8 ml/detik
dengan puncaknya sekitar 11 15 ml/detik. Semakin berat derajat obstruksi semakin lemah
pancaran urin yang dihasilkan.
2

Pemeriksaan Tekanan Pancaran (Pressure Flow Studies)


20

Pancaran urin melemah yang diperoleh atas dasar pemeriksaan uroflowmetri tidak dapat
membedakan apakah penyebabnya adalah obstruksi atau daya kontraksi otot detrusor yang
melemah. Untuk membedakan kedua hal tersebut dilakukan pemeriksaan tekanan pancaran
dengan menggunakan Abrams-Griffiths Nomogram. Dengan cara ini maka sekaligus tekanan
intravesica dan laju pancaran urin dapat diukur.

Pemeriksaan Volume Residu Urin


Volume residu urin setelah miksi spontan dapat ditentukan dengan cara sangat sederhana
dengan memasang kateter uretra dan mengukur berapa volume urin yang masih tinggal atau
ditentukan dengan pemeriksaan ultrasonografi setelah miksi, dapat pula dilakukan dengan
membuat foto post voiding pada waktu membuat IVP. Pada orang normal sisa urin biasanya
kosong, sedang pada retensi urin total sisa urin dapat melebihi kapasitas normal vesika. Sisa
urin lebih dari 100 cc biasanya dianggap sebagai batas indikasi untuk melakukan intervensi
pada penderita prostat hipertrofi
LO 3.8 Memahami dan Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding BPH

1)

2)

3)

4)

Kriteria Pembesaran Prostat


Untuk menentukan kriteria prostat yang membesar dapat dilakukan dengan beberapa cara,
diantaranya adalah :
Rektal grading
Berdasarkan penonjolan p1rostat ke dalam rektum :
derajat 1 : penonjolan 0-1 cm ke dalam rektum
derajat 2 : penonjolan 1-2 cm ke dalam rektum
derajat 3 : penonjolan 2-3 cm ke dalam rektum
derajat 4 : penonjolan > 3 cm ke dalam rektum
Berdasarkan jumlah residual urine
derajat 1 : < 50 ml
derajat 2 : 50-100 ml
derajat 3 : >100 ml
derajat 4 : retensi urin total
Intra vesikal grading
derajat 1 : prostat menonjol pada bladder inlet
derajat 2 : prostat menonjol diantara bladder inlet dengan muara ureter
derajat 3 : prostat menonjol sampai muara ureter
derajat 4 : prostat menonjol melewati muara ureter
Berdasarkan pembesaran kedua lobus lateralis yang terlihat pada uretroskopi :
derajat 1 : kissing 1 cm
derajat 2 : kissing 2 cm
derajat 3 : kissing 3 cm
derajat 4 : kissing >3 cm8
Diagnosis banding
Kelemahan detrusor kandung kemih
21

Gangguan neurologik
a. kelainan medula spinalis
b. neuropatia diabetes mellitus
c. pasca bedah radikal di pelvis
d. farmakologik

Kandung kemih neuropati, disebabkan oleh :


a.
b.
c.
d.
e.

kelainan neurologik
neuropati perifer
diabetes mellitus
alkoholisme
farmakologik (obat penenang, penghambat alfa dan parasimpatolitik)
Obstruksi fungsional :

a. dis-sinergi detrusor-sfingter terganggunya koordinasi antara kontraksi detrusor dengan


relaksasi sfingter
b. ketidakstabilan detrusor
Kekakuan leher kandung kemih :fibrosis
Resistensi uretra yang meningkat disebabkan oleh :
a.
b.
c.
d.
e.

hiperplasia prostat jinak atau ganas


kelainan yang menyumbatkan uretra
uretralitiasis
uretritis akut atau kronik
striktur uretra
Prostatitis akut atau kronis
LO 3.9 Memahami dan Menjelaskan Penatalaksanaan BPH

Tujuan utama penatalaksanaan terhadap pasien BPH adalah perbaikan kualitas


hidup.Terapi paling akhir yang dilakukan adalah operasi. Indikasi absolut dilakukan operasi
adalah:
Retensi urin berulang (berat), yaitu retensi urin yang gagal dengan pemasangan kateter urin
sedikitnya satu kali.
Infeksi saluran kencing berulang.
Gross hematuria berulang.
Batu buli-buli.
Insufisiensi ginjal.
Divertikula buli-buli.
Tabel 1. Pilihan Tatalaksana BPH

22

1. Watchful waiting
Watchful waiting merupakan penatalaksanaan pilihan untuk pasien BPH dengan symptom
score ringan (0-7). Besarnya risiko BPH menjadi lebih berat dan munculnya komplikasi tidak
dapat ditentukan pada terapi ini, sehingga pasien dengan gejala BPH ringan menjadi lebih
berat tidak dapat dihindarkan, akan tetapi beberapa pasien ada yang mengalami perbaikan
gejala secara spontan.
2. Medikamentosa
o Penghambat alfa (alpha blocker )
Prostat dan dasar buli-buli manusia mengandung adrenoreseptor-1, dan prostat
memperlihatkan respon mengecil terhadap agonis.Komponen yang berperan dalam
mengecilnya prostat dan leher buli-buli secara primer diperantarai oleh reseptor
1a.Penghambatan terhadap alfa telah memperlihatkan hasil berupa perbaikan subjektif dan
objektif terhadap gejala dan tanda (sign and symptom) BPH pada beberapa pasien.
Penghambat alfa dapat diklasifikasikan berdasarkan selektifitas reseptor dan waktu paruhnya
o Penghambat 5-Reduktase (5-Reductase inhibitors)
Finasteride adalah penghambat 5-Reduktase yang menghambat perubahan testosteron
menjadi dihydratestosteron.Obat ini mempengaruhi komponen epitel prostat, yang
menghasilkan pengurangan ukuran kelenjar dan memperbaiki gejala.Dianjurkan pemberian
terapi ini selama 6 bulan, guna melihat efek maksimal terhadap ukuran prostat (reduksi 20%)
dan perbaikan gejala-gejala.
o Terapi Kombinasi
Terapi kombinasi antara penghambat alfa dan penghambat 5-Reduktase memperlihatkan
bahwa penurunan symptom score dan peningkatan aliran urin hanya ditemukan pada pasien
yang mendapatkan hanya Terazosin. Penelitian terapi kombinasi tambahan sedang
berlangsung.
o Fitoterapi
Fitoterapi adalah penggunaan tumbuh-tumbuhan dan ekstrak tumbuh-tumbuhan untuk
tujuan medis.Penggunaan fitoterapi pada BPH telah popular di Eropa selama beberapa
tahun.Mekanisme kerja fitoterapi tidak diketahui, efektifitas dan keamanan fitoterapi belum
banyak diuji.
3. Operasi konvensional
o Transurethral Resection of the Prostate (TURP)
Sembilan puluh lima persen simpel prostatektomi dapat dilakukan melalui endoskopi.
Umumnya dilakukan dengan anastesi spinal dan dirawat di rumah sakit selama 1-2 hari.
Perbaikan symptom score dan aliran urin dengan TURP lebih tinggi dan bersifat invasif
minimal. Risiko TURP adalah antara lain ejakulasi retrograde (75%), impoten (5-10%) dan
inkotinensia urin (<1%) > (2).
23

o Transurethral Incision of the Prostate


Pasien dengan gejala sedang dan berat, prostat yang kecil sering terjadi hiperplasia
komisura posterior (menaikan leher buli-buli).Pasien dengan keadaan ini lebih mendapat
keuntungan dengan insisi prostat.Prosedur ini lebih cepat dan kurang menyakitkan
dibandingkan TURP. Retrograde ejakulasi terjadi pada 25% pasien.
o Open Simple Prostatectomy
Jika prostat terlalu besar untuk dikeluarkan dengan endoskopi, maka enukleasi terbuka
diperlukan.Kelenjar lebih dari 100 gram biasanya dipertimbangkan untuk dilakukan
enukleasi.Open prostatectomy juga dilakukan pada BPH dengan divertikulum buli-buli, batu
buli-buli dan pada posisi litotomi tidak memungkinkan. Open prostatectomy dapat dilakukan
dengan pendekatan suprapubik ataupun retropubik.
4. Terapi minimal invasif
Laser
Dua sumber energi utama yang digunakan pada operasi dengan sinar laser adalah YAG
dan holomium: YAG. Keuntungan operasi dengan sinar laser adalah:
Kehilangan darah minimal.
Sindroma TUR jarang terjadi.
Dapat mengobati pasien yang sedang menggunakan antikoagulan.
Dapat dilakukan out patient procedure.
Kerugian operasi dengan laser
Sedikit jaringan untuk pemeriksaan patologi.
Pemasangan keteter postoperasi lebih lama.
Lebih iritatif.
Biaya besar
o Transurethral Electrovaporization of the Prostate
Transurethral Electrovaporization of the Prostate menggunakan resektoskop. Arus
tegangan tinggi menyebabkan penguapan jaringan karena panas, menghasilkan cekungan
pada uretra pars prostatika. Prosedurnya lebih lama dari TUR.
o Hyperthermia
Hipertermia dihantarkan melaluli kateter transuretra.Bagian alat lainnya mendinginkan
mukosa uretra.Namun jika suhu lebih rendah dari 45C, alat pendingin tidak diperlukan.
o Transurethal Needle Ablation of the Prostate
Transurethal Needle Ablation of the Prostate menggunakan kateter khusus yang akan
melalui uretra.
o High Intensity Focused Ultrasound
High Intensity Focused Ultrasound berarti melakukan ablasi jaringan dengan panas.
Untrasound probe ditempatkan pada rektum.
o Intraurethral Stents
Intraurethral stents adalah alat yang ditempatkan pada fossa prostatika dengan endoskopi
dan dirancang untuk mempertahankan uretra pars prostatika tetap paten.
o Transurethral Balloon Dilation of the Prostate
Balon dilator prostat ditempatkan dengan kateter khusus yang dapat melebarkan fossa
prostatika dan leher buli- buli.Lebih efektif pada prostat yang ukurannya kecil
(<40>3).Teknik ini jarang digunakan sekarang ini.
Para pria setelah perawatan bedah menunjukkan penurunan pada semua kelompok gejala
LUTS.Namun, di antara orang-orang dirawat dan diobati secara medikamentosa, semua
gejala memburuk selama tindak lanjut.Proporsi pria dengan gejala setelah operasi lebih
rendah dibandingkan pada pria ditangani secara medikamentosa.Pada pria dengan pengobatan
24

medikamentosa, prevalensi semua 12 LUT meningkat. Disuria dan postmicturition


dribbleadalah satu-satunya gejala yang memiliki hasil sedikit lebih baik dalam
medikamentosa dibandingkan dengan kelompok pengobatan bedah.
Dalam studi, pengobatan operasi tampaknya untuk meringankan LUTS, sedangkan
pengobatan medikamentosa hanya memperlambat perkembangan.Temuan ini menunjukkan
bahwa pria dengan pengobatan bedah mengalami hasil yang lebih menguntungkan pada
LUTS daripada mereka yang menerima perawatan medikamentosa.
LO 3.10 Memahami dan Menjelaskan Komplikasi BPH

Perdarahan
Pembentukan bekuan
Obstruksi kateter
Disfungsi seksual tergantung pembedahan
Stasis urin
ISK
Batu ginjal
Trabekulasi dinding kandung kemih
Hipertrofi m.detrusor
Kandung kemih divertikula dan saccules
Stenosis uretra
Hidronefrosis
Paradoks (overflow) inkontinensia
Gagal ginjal aku atau gagal ginjal kronis
Akut postobstructive diuresis

LO 3.11 Memahami dan Menjelaskan Prognosis BPH


Menurut Birowo dan Rahardjo prognosis BPH adalah:
1. Tergantung dari lokasi, lama dan kerapatan retensi.
2. Keparahan obstruksi yang lamanya 7 hari dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Jika
keparahan obstruksi diperiksa dalam dua minggu, maka akan diketahui sejauh mana
tingkat keparahannya. Jika obstruksi keparahannya lebih dari tiga minggu maka akan
lebih dari 50% fungsi ginjal hilang.
3. Prognosis yang lebih buruk ketika obstruksi komplikasi disertai dengan infeksi.
4. Umumnya prognosis lebih bagus dengan pengobatan untuk retensi urine.
LO 3.12 Memahami dan Menjelaskan Pencegahan BPH
Terjangkit sakit prostat menjadi salah satu momok yang berat bagi kaum pria, pasalnya
penyakit I ni selain dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan komplikasi yang berat.
25

Penyakit ini juga dapat menyebabkan kematian pada pria apabila asudah mencapai level
kanker. Namun tidak sama halnya dengan penyakit pembesaran Postat jinak ( BPH), meski
BPH ini hanya beresiko menimbulkan komplikasi terjadinya gangguan ginjal namun gejala
yang ditimbulkan tetap menyebabkan ketidaknyamanan pada penderitanya yang
berhubungan dengan system perkemihan. Maka dari itu menghidari terjadinya penyakit ini
sangat penting utuk dilakukan oleh kaum pria. Dan cara yang dapat dilakukan untuk
mencegah terjadinya penyakit ini pada kaum pria antara lain :
1. BPH dapat dicegah secara dini dengan obat-obatan anti pembentukan DHT
(Proscar dan Avodart).
2. Lakukan perubahan gaya hidup dengan cara mengurangi makanan yang kaya akan
lemak hewan, dan meningkatkan makanan yang kaya akan lycopene (dalam tomat),
selenium (dalam makanan laut), vitamin E, isoflavonoid (dalam produk kedelai)
3. Makan sedikitnya 5 porsi buah dan sayuran sehari
4. Pertahankan berat badan ideal
5. Hindari merokok
6. Jangan minum setelah jam tujuh malam
7. Upayakan agar kandung seni tidak penuh (kencing dalam posisi duduk lebih efektif
daripada berdiri)
8. Hindari penggunaan obat-obatan anti hidung buntu (akan mempersulit kencing)
9. Hindari kedinginan
10. Berolahraga secara teratur sesuai umur dan kondisi tubuh.
LI 4 Memahami dan Menjelaskan Pandangan Islam Terhadap Pemeriksaan Lawan
Jenis
Di antara keindahan syariat Islam, yaitu ditetapkannya larangan mengumbar aurat dan
perintah untuk menjaga pandangan mata kepada obyek yang tidak diperbolehkan, lantaran
perbuatan itu hanya akan mencelakakan diri dan agamanya.Larangan melihat aurat, tidak
hanya untuk yang berlawan jenis, akan tetapi Islam pun menetapkan larangan melihat aurat
sesama jenis, baik antara lelaki dengan lelaki lainnya, maupun antara sesama wanita.
Disebutkan dalam sebuah hadits:



Artinya: "Dari Abdir-Rahman bin Abi Sa`id al-Khudri, dari ayahnya, bahwasanya Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Janganlah seorang lelaki melihat kepada aurat lelaki
(yang lain), dan janganlah seorang wanita melihat kepada aurat wanita (yang lain)". [HR
Muslim]
Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, di antara kandungan hadits ini, yaitu
larangan bagi seorang lelaki melihat aurat lelaki (lainnya) dan wanita melihat aurat wanita
(lainnya).Di kalangan ulama, larangan ini tidak diperselisihkan.Sedangkan lelaki melihat
aurat wanita, atau sebaliknya wanita melihat aurat lelaki, maka berdasarkan Ijma', perbuatan
seperti ini merupakan perkara yang diharamkan.Rasulullah mengarahkan dengan penyebutan
larangan seorang lelaki melihat aurat lelaki lainnya, yang berarti lelaki yang melihat aurat
wanita maka lebih tidak dibolehkan.Demikian sekilas prinsip pergaulan dengan lawan jenis
yang telah ditetapkan Islam.Tujuannya, ialah demi kebaikan yang sebesar-besarnya.
26

Menurut Syekh Kamil, dokter pria boleh menangani pengobatan lawan jenis jika dalam
keadaan darurat dan tidak ada dokter wanita yang mampu mengobatinya. Demikian halnya
dengan hukum melihat aurat pasien lawan jenis, baik bagi dokter pria maupun wanita.Jika
dalam kondisi terpaksa, boleh dilakukan selama untuk kepentingan medis.Persoalan ini juga
telah dibahas dalam kajian hukum Islam klasik di kalangan ulama mazhab.Mereka sepakat
hukum pengobatan lawan jenis diperbolehkan, begitu pula hukum menyentuh salah satu
anggota tubuh, termasuk melihat atau memegang kemaluan pasien.
Menurut ulama Hanafi, melihat kemaluan pasien lawan jenis diperbolehkan dalam kondisi
darurat, seperti dikhawatirkan kondisi pasien memburuk atau munculnya penyakit yang di
luar prediksi. Pada saat yang sama, tidak terdapat dokter dari golongan yang sama, baik
perempuan maupun laki-laki.
Secara umum, para ulama memberlakukan beberapa syarat pengobatan oleh lawan jenis,
yaitu:
1. Syarat pertama ialah tidak didapati dokter dari golongan yang sama, baik pria maupun
wanita, atau memang ada dokter hanya saja tidak memiliki kompetensi menangani
penyakit tersebut.
2. Syarat kedua, dikhawatirkan penyakit akan lebih parah ataupun terjadi hal-hal yang
tidak diinginkan bila tidak segera ditangani sekalipun oleh lawan jenis, sebagaimana
syarat yang berlaku di mazhab Hanafi.
3. Syarat ketiga, hendaknya dokter yang bersangkutan seorang Muslim selama masih
terdapat dokter Muslim yang mumpuni. Menurut mazhab Syafii, bila keahlian dan
kemampuan dokter non-Muslim lebih baik dibandingkan dokter Muslim, boleh
hukumnya berobat ke dokter tersebut.
4. Syarat yang keempat ialah terbebas dari potensi munculnya fitnah. Syarat ini hanya
dikemukakan oleh sebagian ulama mazhab Syafii.Sedangkan, menurut mazhab lain,
Maliki misalnya, syarat tersebut tidak berlaku.Lantaran kondisi terpaksa, baik
terbebas dari fitnah maupun tidak, tetap diperbolehkan berobat pada lawan jenis.
5. Syarat yang kelima, saat pemeriksaan atau pengobatan, hendaknya pasien perempuan
ditemani oleh muhrimnya.

27

DAFTAR PUSTAKA
AUA practice guidelines committee. 2003. AUA guideline on management of benign
prostatic hyperplasia (2003). Chapter 1: diagnosis and treatment recommendations. J Urol
170: 530-547
Lepor H dan Lowe FC. 2002. Evaluation and non-surgical management of benign prostatic
hyperplasia. Dalam: Campbells urology, edisi ke 7. editor: Walsh PC, Retik AB, Vaughan
ED, dan Wein AJ. Philadelphia: WB Saunders Co., 1337-1378
Purnomo, Basuki B. . 2003. p. 69-85.Hiperplasia prostat dalam: Dasar-dasar urologi.,
Edisi ke 2. Jakarta: Sagung Seto.
Roehborn CG, McConnell JD. 2002. p. 1297-1330. Etiology, Pathophysiology, and
Natural History of Benign prostatic hyperplasia. In: Campbells Urology. 8th ed. W.B.
Saunders
Sjamsuhidayat. R dan Wim De Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah, Jakarta, EGC : 2004
Tanagho EA, McAninch JW. 2008, p 348. Benign Prostatic Hyperplasia. In: Smiths
General Urology. 17th ed. California: Mc Graw Hill : Lange.

28