Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIKUM KMB

“SUCTION”

Dosen Pembimbing:
Esi Afriyanti, S.Kp, M.Kes

Oleh:
Maghvirah
2011316021

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
TAHUN 2021
SUCTIONING
A. Definisi
Penghisapan lender (suction) merupakan suatu tindakan keperawatan yangdilakukan
pada klien yang tidak mampu untuk mengeluarkan secret secara mandiridengan
menggunakan bantuan alat penghisap. Penghisapan ini biasanya melalui mulut,
nasofaring, atau trakea. Prinsip tindakan suction yaitu tekhnik steril, agar
mikroorganisme tidak mudah masuk ke faring, trakeal dan bronki. Prinsip : Tekhnik
steril, agar mikroorganisme tidak mudah masuk ke faring, trakeal dan bronki.

Suctioning dibedakan menjadi :


1. Tipe Oropharingeal ( Non IntubatedPatient )
- Menggunakan tehnik bersih.
- Menggunakan kateter suction lembut.
2. Tipe Nasotracheal
- Hanya dilakukan apabila dibutuhkan.
- Menggunakan tehnik aseptik.
- Hyperoksigenisasi.
- Menggunakan kateter suction lembut.
- Menggunakan NPA ( Nasopharingeal Airway).
3. Tipe Endotracheal ( melalui ETT/ Tracheostomi )
- Menggunakan tehnik aseptik.
- Hyperoksigenisasi.
- Menggunakan tekanan negatif.
- Menggunakan peralatan steril.

B. Tujuan
1. Menjaga jalan napas tetap bersih (airway maintenance).
2. Membersihkan jalan napas (bronchial toilet).
3. Untuk mengeluarkan secret pada pasien yang tidak mampu mengeluarkansecret
sendiri.
4. Merangsang reflek batuk pada pasien yang disedasi atau gangguan neorologis.
5. Diharapkan suplay oksigen terpenuhi dengan jalan nafas yang adekuat.
6. Mencegah infeksi paru dan atelektasis (infeksi sekunder).
7. Pengambilan specimen untuk pemeriksaan laboratorium.
8. Sebelum dilakukan radiologis ulang untuk evaluasi.
9. Untuk mengetahui kepatenan dari pipa endotrakeal.

C. Indikasi
1. Hasil auskultasi: ditemukan suara crackels atau ronkhi (suara napas
kasar/tambahan).
2. Nadi dan laju pernafasan meningkat.
3. Ditemukan adanya mucus pada saluran nafas.
4. Pasien yang koma.
5. Pasien yang tidak bisa batuk karena efektif kelumpuhan dari otot pernafasan.
6. Diduga aspirasi.
7. Bayi atau anak dibawah umur 2 tahun.

D. Kontra Indikasi
1. Kliendengan peningkatan tekanan intrakranial karena akan mempengaruhi/
meningkatkan tekanan intrakranial, tekanan darah, dan denyut jantung secara
signifikan.
2. Pasien dengan stridor.
3. Pasien dengan kekurangan cairan cerebro spinal.
4. Pasien dengan fraktur basis cranii.
5. Pulmonary oedem.
6. Post pneumonectomy, ophagotomy yang baru

E. Persiapan
1. Lingkungan
a. Penjelasan pada keluarga.
b. Pasang skerem/ tabir.
c. Pencahayaan yang baik.
2. Klien
a. Penjelasan terhadap tindakan yang akan dilakukan
b. Atur posisi klien :
- Klien sadar : posisi semi fowler kepala miring ke satu sisi (oral suction) dan
posisi fowler dengan leher ekstensi (nasal suction)
- Klien tidak sadar : baringkan klien dengan posisi lateral menghadap
pelaksana tindakan (oral/nasal suction)
c. Alat-alat
- Regulator vakum set.
- Kateter penghiap steril sesuai ukuran.
- Air steril/ normal salin.
- Hanscoon steril.
- Pelumas larut dalam air.
- Selimut/ handuk.
- Masker wajah.
- Tong spatel k/p

F. Pelaksanaan (SOP)
1. Fase orientasi
a. Salam terapeutik.
b. Evaluasi/ validasi.
c. Kontrak

2. Fase kerja
Suction Orofaringeal
Digunakan saat klien mampu batuk efektif tetapi tidak mampu mengeluarkan sekresi
dengan mencairkan sputum atau menelannya. Prosedur digunakan setelah klien
batuk.
a. Siapkan peralatan disamping tempat tidur klien.
b. Cuci tangan dan memakai sarung tangan.
c. Mengatur posisi klien (perhatikan keadaan umum klien).
d. Pasang handuk pada bantal atau di bawah dagu klien.
e. Pilih tekanan dan tipe unit vakum yang tepat.
f. Tuangkan air steril/ normal salin dalam wadah steril.
g. Ambungkan kateter penghisap steril ke regulator vakum.
h. Ukur jarak antara daun telinga dan ujung hidung klien.
i. Basahi ujung kateter dengan larutan steril.
j. Penghisapan, masukkan ke satu sisi mulut klien dan arahkan ke orofaring
dengan perlahan.
k. Sumbat “port” penghisap dengan ibu jari. Dengan perlahan rotasi kateter saat
menariknya, tidak boleh lebih dari 15 detik.
l. Bilas kateter dengan larutan steril. Bila klien tidak mengalami disteress
pernafasan, istirahat 20-30 detik, sebelum memasukkan ulang kateter.
m. Bila diperlukan penghisapan ulang, ulang langkah 9 -11.
n. Bila klien mampu minta untuk nafas dalam dan batuk efektif diantara
penghisapan.
o. Hisap secret pada mulut atau bawah lidah setelah penghisapan orofaringeal.
p. Buang kateter penghisap bersamaan dengn pelepasan hanscoon.
q. Cuci tangan

Suction ETT
a. Kaji adanya tanda dan gejala yang mengindikasikan gejala adanya sekresi jalan
nafas bagian atas.
b. Jelaskan pada klien prosedur yang akan dilakukan.
c. Persiapkan alat dan bahan.
d. Tutup pintu atau tarik gorden.
e. Berikan pasien posisi yang benar.
f. Tempatkan handuk di atas bantal atau di bawah dagu klien.
g. Pilih tipe tekanan pengisap yang tepat untuk klien. Misalnya tekanan 110-150
mmHg untuk dewasa, 95-110 mmHg untuk anak-anak, dan 50-95 untuk bayi.
h. Cuci tangan

Untuk pengisapan dengan kateter yankauer


a. Kenakan sarung tangan bersih.
b. Hubungkan satu ujung selang penghubung dengan mesin pengisap dan ujung
lain dengan kateter pengisap yankauer. Isi mangkuk dengna air.
c. Periksa apakah peralatan berfungsi dengan baik dengan mengisap sejumlah air
dari mangkuk.
d. Pindahkan masker oksigen jika terpasang.
e. Masukkan kateter ke dalam mulut sepanjang garis gusi ke faring. Gerakkan
kateter mengelilingi lubang mulut sampai sekresi terangkat.
f. Dorong klien untuk batuk. Angkat masker oksigen.
g. Bersihkan kateter dengan air di dalam mangkuk atau Waskom sampai selang
penghubung bersih dari sekresi. Matikan pengisap.
h. Kaji kembali status pernafasan klien.
i. Angkat handuk, letakkan di kantong kotor untuk dicuci. Lepaskan sarung tangan
dan buang di wadah.
j. Reposisikan klien, posisi sims mendorong drainase dan harus digunakan jika
klien mengalami penurunan tingkat kesadaran.
k. Buang air yang tersisa ke dalam wadah yang tersedia.
l. Tempatkan selang penghubung di daerah kering dan bersih.
m. Cuci tangan

Suction tracheostomy
a. Nyalakan peralatan pengisap dan atur regulator vakum pada tekanan negative
yang sesuai.
b. Jika diindikasikan tingkatkan oksigen tambahan sampai 100% atau sesuai
program dokter.
c. Gunakan peralatan pengisap dengan membuka bungkusan dengan tetap menjaga
kesterilan pengisap tersebut.
d. Buka pelumas. Tekan dalam bungkusan kateter steril yang terbuka tersebut
tanpa menyentuh bungkusannya.
e. Kenakan masker dan pelindung mata.
f. Kenakan sarung tangan steril pada kedua tangan atau kenakan sarung tangan
bersih pada tangan tidak dominan dan sarung tangan steril pada tangan dominan.
g. Angkat kateter pengisap dengan tangan dominan tanpa menyentuh permukaaan
yang tidak steril. Angkat selangpenghubung dengan tangan tidak dominan.
Masukkan kateter ke dalam selang.
h. Periksa apakah peralatan berfungi dengan baik dengan mengisap sejumlah
normal saline dari Waskom.
i. Lumasi 6-8 cm kateter distal dengna pelumas larut air.
j. Angkat peralatan pemberian oksigen, jika terpasang dengan tangan tidak
dominan. Tanpa melakukan pengisapan, dengan perlahan tetapi cepat,
insersikan kateter dengan ibu jari dan jari telunjuk dominan ke dalam hidung
dengan gerakan sedikit mirimg ke arah bawah atau melalui mulutsaat klien
menghirup nafas.
k. Lakukan pengisapan secara intermitten sampai selam 10 detik dengan
meletakkan dan mengangkat ibu jari tidak dominan dari lubang ventilasi kateter
sambil memutarnya ke dalam dan keluar di antara ibu jari dan jari telunjuk
dominan.
l. Bilas kateter dengan selang penghubung dengan normal saline sampai bersih.

3. Fase Terminasi
a. Evaluasi terhadap tindakan yanmg telah dilakukan.
b. Rencana tindak lanjut.
c. Kontrak yang akan dating.
d. Pendokumentasien
- Mencatat tanggal dan waktu pelaksanaan tindakan.
- Mencatat hasil pengkajian sebelum, selama dan setelah tindakan prosedur.
- Mencatat hasil observasi klien selama dan setelah tindakan.
- Mencatat sputum / sekret dan karakteristiknya (jumlah, konsistensi, dan
warnanya).

G. Sikap
1. Sistematis.
2. Hati-hati.
3. Berkomunikasi.
4. Mandiri.
5. Teliti.
6. Tanggap terhadap respon klien.
7. Rapih.
8. Menjaga privacy.
DAFTAR PUSTAKA

Bararah, T dan Jauhar, M. (2013). Asuhan Keperawatan Panduan Lengkap Menjadi Perawat
Profesional. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher
Christenseen, P & Kenney, J. (2009). Proses Keperawatan: AplikasiModel Konseptual. Edisi
4. Jakarta:EGC
Potter & Perry.2005.Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses dan Praktek.Edisi
ke-4. Jakarta: EGC