Anda di halaman 1dari 4

Nama : Muh bayu Adi Saputra

NPM : F20140362

Soal dan jawaban mata kuliah “KEBERATAN DAN BANDING”

Soal :

1, Apakah yang dimaksut dengan pengungkapan ketidak benaran ? Jelaskan !

2, Apakah yang menjadi dasar WP melakukan pengajuan keberatan ?

3, Mengapa keberatan diajukan oleh WP ? Jelaskan secara rinci !

4, Keberatan akan diterima 100 % Apabila pemeriksa melanggar ketentuan, Sebutkan


ketentuannya ?

5, Buatlah bagan alur pengajuan keberatan sampai dengan keputusan dimana setiap tahap
diberikan penjelasan ?

Jawab :

1, Pengungkapan ketidak benaran adalah pemeriksaan bukti permulaan terhadap Wajib Pajak
untuk menemukan bukti permulaan adanya tindakan pidana yang dilakukan baik yang alpa
atau sengaja. Proses berikutnya adalah dilakukannya tindakan penyidikan sebelum perbuatan
tersebut dibuktikan di Pengadilan.

Nah, pada saat proses pemeriksaan bukti permulaan inilah Wajib Pajak diberi
kesempatan untuk mengungkapkan ketidakbenaran perbuatan pidananya.

Beradasarkan Pasal 8 ayat (3) Undang-undang KUP, walaupun telah dilakukan


tindakan pemeriksaan, tetapi belum dilakukan tindakan penyidikan mengenai adanya
ketidakbenaran yang dilakukan Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38, terhadap
ketidakbenaran perbuatan Wajib Pajak tersebut tidak akan dilakukan penyidikan, apabila
Wajib Pajak dengan kemauan sendiri mengungkapkan ketidakbenaran perbuatannya tersebut
dengan disertai pelunasan kekurangan pembayaran jumlah pajak yang sebenarnya terutang
beserta sanksi administrasi berupa denda sebesar 150% dari jumlah pajak yang kurang
dibayar.

Dengan demikian, pengungkapan ketidakbenaran perbuatan ini dilakukan pada


dasarnya setelah dilakukan pemeriksaan tetapi belum dilkaukan tindakan penyidikan atas
ketidakbenaran perbuatan yang dilakukan Wajib Pajak. Artinya, pengungkapan
ketidakbenaran ini dilakukan pada dasarnya pada proses pemeriksaan bukti permulaan.
Hal ini dinyatakan dalam penjelasan Pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun
2011, yaitu bahwa meskipun Wajib Pajak telah melakukan perbuatan ketidakbenaran dan
terhadap Wajib Pajak sedang dilakukan Pemeriksaan Bukti Permulaan, Wajib Pajak tetap
memiliki kesempatan untuk mengungkapkan sendiri kesalahannya dan terhadap Wajib Pajak
tidak akan dilakukan Penyidikan.

2, Yang menjadi dasar WP melakukan pengajuan keberatan adalah WP merasa kurang atau
tidak puas atas ketetapan pajak yang dikenakan kepadanya atau atas pemotongan pemungutan
oleh pihak ke tiga, sehingga WP merasa dirugikan atas pemungutan pajak nya.

3, Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan atas:

Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB);

Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT);

Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB);

Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN);

Pemotongan atau Pemungutan oleh pihak ketiga

Ketentuan Pengajuan Keberatan :

Keberatan diajukan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) di tempat WP terdaftar,
dengan syarat:

 Diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia.


 Wajib menyebutkan jumlah pajak yang terutang atau jumlah pajak yang dipotong atau
dipungut atau jumlah rugi menurut penghitungan WP dan disertai alasan-alasan yang
jelas. Satu keberatan harus diajukan untuk satu jenis pajak dan satu tahun/ masa pajak.
 Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar pajak dan pelaksanaan
penagihan pajak dan keberatan yang tidak memenuhi syarat, dianggap bukan Surat
Keberatan, sehingga tidak diproses.
 Mulai 1 Januari 2008 dalam hal Wajib Pajak mengajukan keberatan atas surat
ketetapan pajak, Wajib Pajak wajib melunasi pajak yang harus dibayar paling sedikit
sejumlah yang disetujui
 Wajib Pajak dalam pembahasan akhir hasil pemeriksaan, sebelum surat keberatan
disampaikan.
4. Keberatan akan diterima 100 % Apabila pemeriksa melanggar ketentuan :

 Apanbila SPT / SKP yang diperiksa tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
 Tidak diterbitkan Surat Penyampaian Hasil Pemeriksaan (SPHP).
 Tidak diterbitkan Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan (PAHP) dengan WP.
 Jika tidak diterbitkan SPHP dan PAHP atau salah satunya, maka keberatan bisa
disetujui atau diterima.

5. Hal-hal yang Dapat Diajukan Keberatan :

Wajib Pajak dapat mengajukan keberatan atas:

a. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB);

b. Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT);

c. Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB);

d. Surat Ketetapan Pajak Nihil (SKPN);

e. Pemotongan atau Pemungutan oleh pihak ketiga.

Ketentuan Pengajuan Keberatan :

Keberatan diajukan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak (KPP) di tempat WP terdaftar,
dengan syarat:

a. Diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia.

b. Wajib menyebutkan jumlah pajak yang terutang atau jumlah pajak yang dipotong atau
dipungut atau jumlah rugi menurut penghitungan WP dan disertai alasan-alasan yang jelas.

c. Satu keberatan harus diajukan untuk satu jenis dan satu tahun/masa pajak.

Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar pajak dan pelaksanaan penagihan
pajak dan keberatan yang tidak memenuhi syarat, dianggap bukan Surat Keberatan, sehingga
tidak diproses.

Jangka Waktu Pengajuan Keberatan :

Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan sejak tanggal SKPKB,
SKPKBT, SKPLB, SKPN atau sejak tanggal dilakukan pemotongan/ pemungutan oleh pihak
ketiga.

a. Untuk surat keberatan yang disampaikan langsung ke KPP, maka jangka waktu 3 (tiga)
bulan dihitung sejak tanggal SKPKB, SKPKBT, SKPLB, SKPN atau sejak dilakukan
pemotongan/pemungutan oleh pihak ketiga sampai saat keberatan diterima oleh Kantor
Pelayanan Pajak.

b. Untuk surat keberatan yang disampaikan melalui pos ( harus dengan pos tercatat ),
jangka waktu 3 bulan dihitung sejak tanggal SKPKB, SKPKBT, SKPLB, SKPN atau sejak
dilakukan pemotongan/ pemungutan oleh pihak ketiga sampai dengan tanggal tanda bukti
pengiriman melalui Kantor Pos dan Giro.

Permintaan Penjelasan/Pemberian Keterangan Tambahan

a. Untuk keperluan pengajuan keberatan WP dapat meminta penjelasan/ keterangan


tambahan dan Kepala KPP wajib memberikan penjelasan secara tertulis hal-hal yang
menjadi dasar pengenaan, pemotongan, atau pemungutan.

b. WP dapat menyampaikan alasan tambahan atau penjelasan tertulis sebelum surat


keputusan keberatannya diterbitkan.