Anda di halaman 1dari 3

1.

1 LATAR BELAKANG
Karies gigi atau yang biasa dikenal dengan istilah gigi berlubang merupakan suatu
penyakit jaringan keras gigi yaitu email, dentin, dan sementum yang disebabkan oleh aktivitas
jasad renik dalam suatu karbohidrat yang dapat diragikan. Tandanya adalah demineralisasi
jaringan keras gigi yang kemudian diikuti oleh kerusakan bahan organiknya. Karies merupakan
masalah kesehatan yang terjadi secara umum dan memiliki prevalensi kejadian yang tinggi
(Agung, 2019).
Global Burden of Disease Study di tahun 2015 melaporkan bahwa karies gigi menempati
peringkat pertama untuk karies pada gigi permanen (2,3 miliar orang) dan peringkat ke-12 untuk
karies pada gigi sulung (560 juta anak) (WHO, 2017). Menurut data Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) di Indonesia tahun 2018, dilaporkan prevalensi karies pada usia anak 3-4 tahun
sebesar 81,1% dan pada usia 5-9 tahun sebesar 92,6%. Hal ini menunjukkan bahwa karies gigi
pada anak merupakan masalah yang harus ditangani secara khusus karena dalam prosesnya dapat
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Karies gigi membuat anak mengalami
kehilangan daya kunyah dan terganggu pencernaan dan mengakibatkan pertumbuhan kurang
maksimal (Asriawal, 2020).
Banyak faktor yang dapat menimbulkan karies gigi pada anak, di antaranya adalah faktor
lokal yang berhubungan langsung dengan proses terjadinya karies gigi antara lain: struktur gigi,
morfologi gigi, susunan gigi-geligi dalam rahang, derajat keasaman saliva, kebersihan mulut
yang berhubungan dengan frekuensi dan kebiasaan menggosok gigi, jumlah, dan frekuensi
makan makanan yang menyebabkan karies (Lintang, dkk., 2015). Selain itu, terdapat faktor luar
sebagai faktor predisposisi dan penghambat yang berhubungan tidak langsung dengan terjadinya
karies gigi antara lain usia, jenis kelamin, letak geografis, tingkat ekonomi, serta pengetahuan,
sikap, dan perilaku terhadap pemeliharaan kesehatan gigi (Lintang, dkk., 2015).
Karies pada anak banyak dan sering terjadi namun kurang mendapat perhatian dari orang
tua dengan anggapan bahwa gigi anak akan digantikan gigi tetap (Rompis, 2016). Akibat dari
karies gigi tentunya menyebabkan rasa sakit, pada akhirnya akan mengganggu fungsi
pengunyahan. Terganggunya fungsi pengunyahan akan berpengaruh terhadap asupan gizi
individu dan status gizinya. Jika status gizi terganggu maka beresiko terjadinya stunting (Abdat,
2019).
Stunting didefinisikan sebagai kondisi anak yang memiliki panjang atau tinggi badan yang
kurang jika dibandingkan dengan umur (Pusdatin, 2018). Tinggi badan anak stunting berada
pada ≤2 SD dari deviasi median standar yang ditetapkan oleh World Health Organization
(WHO) (Pusdatin, 2018). Kondisi ini dapat dihasilkan dari hubungan kompleks antara kondisi
rumah tangga, lingkungan sekitar, sosial ekonomi, dan pengaruh budaya yang berlaku (Onis dan
Branca, 2016).
Berdasakan Pusat Data dan Informasi, Kementrian Kesehatan RI tahun 2018 kejadian
balita stunting merupakan salah satu masalah gizi yang dialami oleh balita di dunia saat ini. Pada
tahun 2017 22,2% atau sekitar 150,8 juta balita di dunia mengalami stunting. Pada tahun 2017,
lebih dari setengah balita stunting di dunia berasal dari Asia (55%) sedangkan lebih dari
sepertiganya (39%) tinggal di Afrika. Data prevalensi balita stunting yang dikumpulkan World
Health Organization (WHO), Indonesia termasuk ke dalam negara ketiga dengan prevalensi
tertinggi di regional Asia Tenggara/South-East Asia Regional (SEAR). Rata-rata prevalensi
balita stunting di Indonesia tahun 2005-2017 adalah 36,4%. Hasil Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan prevalensi balita pendek di Indonesia sebesar 37,2%.
Berdasarkan data Pengembangan Peta Status Gizi Balita di Indonesia tahun 2019, sebanyak
46,28% balita di kabupaten Jember mengalami kondisi stunting. Terdapat 444 balita di desa
Gambiran dengan prevalensi kejadian stunting 54,2% serta 287 balita di desa Sumberkalong
dengan prevalensi kejadian stunting 53,7% (TNP2K, 2019)
Anak dengan kondisi stunting dapat mengalami berbagai masalah dalam masa
pertumbuhan dan perkembangannya. Adapun resiko yang didapatkan anak dengan kondisi
stunting antara lain tingginya angka kematian terhadap penyakit infeksi, terserang penyakit
kronis, tidak mendapatkan tinggi yang maksimal saat masa dewasa, dan adanya gangguan
kehamilan dan proses kelahiran pada wanita (Onis dan Branca, 2016).
Faktor yang berkontribusi terhadap terhambatnya pertumbuhan pada anak stunting meliputi
kesehatan dan nutrisi ibu yang buruk, makanan anak yang tidak memadai dan terjadinya penyakit
infeksi pada anak (Pusdatin, 2018). Secara khusus kondisi stunting pada anak di Indonesia
berkaitan dengan berbagai faktor antara lain, jenis kelamin (laki-laki), kelahiran prematur,
panjang lahir kurang dari normal, pemberian ASI non eksklusif (selama 6 bulan pertama), tinggi
badan ibu pendek, pendidikan ibu rendah, status sosial ekonomi rendah, tinggal di rumah tangga
dengan jamban dan air minum yang tidak bagus dan tidak terawat, akses yang buruk ke
perawatan kesehatan, dan tinggal di daerah pedesaan (Beal, dkk., 2018).
Balita stunting termasuk masalah gizi kronik yang jumlahnya kian meningkat selama 3
tahun terakhir (Pusdatin, 2018). Balita stunting di masa yang akan datang akan mengalami
kesulitan dalam mencapai perkembangan fisik dan kognitif yang optimal, termasuk pula
pertumbuhan dan perkembangan pada gigi geligi dan rongga mulut. Menurut penelitian Aviva,
dkk (2020), terdapat hubungan yang saling mempengaruhi antara kondisi stunting dengan
kejadian karies pada anak. Adanya pengaruh intake gizi yang buruk pada anak stunting maka
dapat menyebabkan struktur gigi penderita secara fisiologis akan lebih rentan mengalami karies
(Abadi dan Abral, 2020). Kondisi kekurangan gizi kronis juga dapat menyebabkan terjadinya
atrofi kelenjar saliva yang berpengaruh pada jumlah sekresi saliva, dimana sekresi saliva yang
sedikit dalam rongga mulut akan meningkatkan resiko terjadinya karies (Rahman, dkk., 2016).