0 penilaian0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara) 5K tayangan637 halamanInnocent Devil by Moonkong
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda,
ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF atau baca online di Scribd
PROLOG
NOVEMBER, 2014.
"We're so young but we're on the road
to ruin,
We play dumb but we know exactly
what we're doing,
We cry tears of mascara in the
bathroom,
Honey, life is just a classroom."
"Dek!" Kakakku menepuk pahaku
yang hari ini dibalut dengan celana
pensil warna biru tua, tapi aku masih
tidak perduli. Masih ikut menyanyimengikuti New romantic-nya Taylor
Swift.
"Cause, baby, I could build a castle,
Out of all the bricks they threw at me,
And every day is like a battle,
But every night with us is like a
dream."
Nyanyianku makin bersemangat. Aku
tidak tahu kapan mulai suka dengan
semua lagu Taylor Swift, tapi, aku
memang jatuh cinta dengan semua
lagunya. Tidak perduli pada kenyataan
bahwa dia sering gonta-ganti pacar,
tidak juga perduli pada banyaknya
musuh yang telah dia buat, aku akantetap cinta Taylor Swift karena
karyanya.
"Reyna Putri Baskoro." Kakakku
memanggil nama _ lengkapku. Itu
maksudnya, cuma satu. Dia sedang
serius. Dan aku segera mematikan music
yang aku nyalakan di player mobil kak
Ranum.
"Lo itu serius ya?"
"Serius yang bagian mana ya kak?"
"Serius lo mau nikah?"
"Tyalah."
"Cuman gara-gara tiket konser Taylor
Swift?"
"Kok cuman? Ini world tour loh kak.
Semua tiket konsernya. Dan nggakcuman tiket kok gue dapatnya, biaya
akomodasi, makan sama hotel juga
dapet."
"Dek, nikah itu artinya lo habisin sisa
hidup lo sama dia. Kalo lo hidup sampe
80 tahun, 60 tahun hidup lo sama-sama
dia terus."
"Nggak apa-apa. Yang penting sampe
umur gue 80 tahun Taylor Swift masih
tetep berkarya, gue nggak masalah."
Kakakku menghembuskan nafas. Dia
seperti sedang berfikir, banyak yang
pengen dia omongin tapi nggak tau
harus mulai darimana."Lo mau makan apa?" Tanya kakakku
setelah kami masuk ke restoran dan
memegang buku menu.
"Samain kayak pesenan lo deh."
Kataku, menutup buku menu _lalu
kembali fokus dengan ponsel sementara
Kak Ranum memesan makan siang. Kak
Ranum memandangiku menyelidik
setelah selesai memesan makanan.
"Toh, yang sebenernya nikah itu kan
elo, bukannya gue. Itu cuman akal-
akalannya si papa aja, biar lo nggak
melarikan diri. Kalaupun ntar lo kawin
lari sama cowok lain, paling nggak lo
bakal ngerasa bersalah seumur hidup
karena rela ngorbanin adiknya buatkebahagiaan sendiri." Jelasku panjang
lebar tanpa ditanya dulu, serba salah
kalau kakakku sudah pake acara
pandang-pandangan intens.
Masih bingung?
Jadi gini, sebulan lalu tuh, nggak ada
hujan nggak ada angin, mendadak pas
acara makan malam, Pak Adhi Baskoro
a.ka bapakku buat pengumuman kalau
Kak Ranum bakal dijodohin sama
anaknya teman bisnisnya bokap.
Alasannya sih sepele, tanah yang
berhektar-hektar milik mereka yang mau
di beli perusahaan bokap nggak bakal
bisa bebas gitu aja kecuali salah satu
anak perempuan bokap mau nikah samaanak tertua mereka yang umurnya udah
kepala tiga.
Masalahnya, anak bokap yang paling
nggak berguna (aku maksudnya) nggak
bisa dikorbankan karena umurnya masih
belum cukup menurut hukum Indonesia.
Dan masalahnya lagi, berhubung aku
punya kakak yang usianya cukup buat
nikah dan menurut adat istiadat kalau
ngelangkahin kakak nikah itu pamali,
jadi mau tidak mau, kakakku lah yang
akhirnya disodorkan.
Dan untuk berjaga-jaga supaya
kakakku nggak melarikan diri, aku, yang
bakal jadi jaminannya. Jadi, kalau kakak
mendadak ngilang atau kabur, aku yangbakal maju jadi calon istri. Bahkan,
bokap nyuruh aku tanda tangan surat-
surat buat syarat nikah, kalau-kalau aku
nanti juga kabur. Rugi Bandar katanya,
jadi kalau pada akhirnya kakakku nanti
yang akhirnya nikah, surat-surat itu
nggak akan berlaku.
Dan aku mau? Yaiyalah aku mau!!
Tiket world tour 1989 Taylor Swift plus
biaya akomodasi, penginapan, makan
dan visa setahun melanglang buana ke
empat benua gitu loh. Terus, belum tentu
juga aku yang bakal nikah. Apa nggak
jackpot tuh namanya.
"Emang lo nggak ada niat buat nikahin
itu om-om?""Lo udah liat belum tampangnya?
Arogan gitu, bukan tipe kakak banget."
"Kak, makanya jangan banyakin baca
novel. Nggak bakal ada tuh yang
namanya CEO muda, ganteng, bodi
bagus, perut ala roti sobek, baik, yang
cuman bisa lihat satu cewek yang
tampangnya standar dan bodinya biasa.
Kalo ada, itu namanya ngimpi!" Kataku,
nyinyir membuat wajah kakakku yang
sedari tadi serius ganti lebih rileks. "Gitu
dong, senyum."
"Kenapa sih bokap lo itu kejam banget
sama gue?"
"Idih, bokap lo kali. Bukannya elo
yang kesayangannya Pakdhe AdhiBaskoro ya? Gue kan bukan anaknya,
cuman keponakan!" Kataku béte, karena
selalu iri sama Kak Ranum yang
diperlakukan istimewa sedangkan aku
biasa saja, malah kadang-kadang aku
mikirnya aku ini bukan anaknya tapi
keponakannya.
Kak Ranum berdecak, ia melipat
tangannya di dada saat pesanan makan
siang kami datang. "Emang, kakak
punya calon lain sebenernya?" Tanyaku
sambil menikmati memasukkan daging
ke dalam panci shabu-shabu yang
dipesannya tadi.
Dia menggeleng. "Nggak ada sih dek.
Gimana gue bisa pacaran sementarasetelah gue lulus_ kuliah langsung
bantuin bokap di perusahaan, pulang
lembur tiap malam selama tiga tahun
belakangan ini."
"Emang di kantor nggak ada yang
bening-bening gitu?"
"Ya pasti adalah. Tapi ya gitu, 50
persennya udah nikah, 50 persennya lagi
hobi bikin sakit hati. Gue sih nggak
nyari yang bening, butuhnya yang baik."
"Asisten manejer lo tuh, siapa
namanya?"
"Kenapa sama Gio?"
"Dia kan baik. Disuruh-suruh sama lo
kemana-mana kan selalu mau. Dengan
kenyataan dia jauh lebih tua dari lo."Aku sudah mulai memasukkan daging
ke dalam mulutku. "Udah sama dia aja
lo."
Kakakku tersenyum mencurigakan,
"Lo nyadar nggak, kalau gue sama Gio
jadian, menurut lo siapa yang bakal
nikah sama itu om-om?"
Mataku melotot diiringi kunyahan
yang mendadak jadi pelan. Spontan
bikin kakakku ngakak. "Nggak apa-apa
kan Lagian aku juga nggak bakal
ngerasa bersalah. Kamu udah dapet tiket
World tour Taylor Swift plus-plus. Lo
bahagia, gue juga bahagia. Makanya,
jangan terlalu ngidolain Taylor Swift,
dia mau nolongin elo lari dari acaranikahan? Itu) namanya ngimpi!!!"
Katanya membalikkan ceramahku tadi.
Telak.
2KSATU
DESEMBER, 2015
Sumpah, ini adalah tahun terbaik yang
penah terjadi di dalam hidupku. Nonton
world konser-nya Taylor Swift dengan
bonus bisa ke benua Amerika, Eropa dan
Australia. Main ke Jepang bahkan
additional dates yang diumumin di bulan
Juni kemarin buat di Shanghai dan
Singapura, dikasih tuh tiketnya sama
bokap. Apa nggak surga itu namanya?
Sementara, kakakku yang nikah bulan
Juni juga membebaskanku jadi jaminanpengganti calon mempelai wanita. Siapa
yang ngomong kalau sedih sama hepi itu
datangnya selalu satu paket? Buktinya,
aku, heeeepppiiil...
Ketemu temen-temen SMA yang
sebagian kuliah di luar negeri, ketemu
bude Rahma yang menetap di Kanada
dan ketemu Taylor Swift yang jelas.
Terus nih, nggak tahu kenapa, bokap
jadi perhatian sekarang. Pokoknya yang
dulu biasanya tiap kali bokap panggil
aku "Reyna." dan selalu kujawab dengan
sopan, "ya pakdhe!" sekarang berubah.
Iri sama kak Ranum? Itu mah, Reyna
umur 20 tahun, Reyna yang baru sih,Reyna yang baik hati, pengertian dan
nggak cemburuan.
Sarah Aurelia : Rey, lo jadi balik
tanggal 18?
Reyna P Baskoro : lya. Nggak
mungkin balik tanggal 20 lebih. Natal.
Pasti rame.
Andhita Ramlan Y : Lo nggak lupa
oleh-oleh buat kita kan? 000
Reyna P Baskoro : All set. Tenang
aja. Gue bukan sahabat yang kejam.
Gimana info tentang kakak gue?
Sarah Aurelia : Emang sesuai kok
sama info elo. Jangan mikir aneh-aneh.
Andhita Ramlan Y : Babang gue juga
bilang kalau acara nikahannyadimeriahin habis tahun baru. Nungguin
elo.
Reyna P Baskoro : Emang gue nggak
boleh curiga. Dia susah dihubungin
enam bulan terakhir ini.
Andhita Ramlan Y : Tenang. Aman.
RK
Sombong, mendahului takdir,
informan kelas teri. Hanya kata-kata itu
yang bisa berputar di kepalaku sekarang.
Tidak ada hal yang mencurigakan,
bahkan setelah seluruh dunia ikut
merayakan Ultahku. Bukan maksud
congkak, tapi aku memang lahir di bulan
Januari lima belas menit setelah jam
00.00 tanggal satu. Jadi pas nyokapngeden ngeluarin kepalaku, semua orang
sibuk lihat kembang api.
Pakdhe Adhi Baskoro (balik lagi
manggil Pakdhe soalnya lagi dalam
mode marah on) dan istrinya, bikin
surprise party dirumah. Bahkan sampe
ngundang — sahabat-sahabatku. Tema
ultahpun sesuai dengan _ seleraku.
Semuanya serba Taylor Swift. Kadonya
mau tahu? Mobil keluaran eropa yang
harganya bisa bikin mata _ melotot
meskipun aku tahu, bukan masalah besar
mengeluarkan uang dengan jumlah
segitu. Membiarkan aku ngobrol bareng
temanku sampai pagi, dan 'tewas' di
kamar sampai sore.Malamnya, tanpa banyak bicara bokap
masuk kamar membawa sekotak besar
kado warna krem dengan pita putih.
"Masih ada lagi pa kadonya?" Tanyaku
pada bokap yang cuman mengangguk.
"Kado utama. Dari papa, mama sama
kak Ranum." Masih niat mau buka kado
yang sekarang di letakkan di sampingku,
di tepi ranjang, Pakdhe Adhi Baskoro
buru-buru pamitan. Perasaanku tidak
enak. Dan rasanya KLIK! Puzzle-
puzzlenya berada di tempat yang tepat.
Kenapa kakakku nikah bulan Juni
tanpa menungguku pulang, bokap yang
bilang kalau pesta resepsinya bakalan di
gelar awal tahun, Kak Ranum yangnggak bisa dihubungin selama enam
bulan terakhir (yang alasannya si Adhi
Baskoro katanya lagi bulan madu, kalau
enggak lagi perjalanan kerja ke luar
negeri, kalau enggak gitu, sibuk
ngurusin pindahan rumah baru dan yang
terakhir, katanya sekarang ini mereka
lagi liburan ke Dubai sama suami buat
nikmatin malam tahun baru dan
planning momongan), bokap yang
mendadak jadi baik dan _perhatian.
Ngasih tiket tambahan konser Taylor
Swift yang di Shanghai sama Singapura
secara cuma-cuma.
Sementara informan kelas teri yang
kumintai tolong, yang cuman bisa nanyake babangnya atau ke tetangga
sebelahnya yang memang kerja di
perusahaan bokap, cuman bisa benerin
semua yang mereka tanyakan. Bahwa
kak Ranum nikah, bahwa semuanya
aman dan baik-baik saja.
Nyesel sudah sombong duluan, mikir
bahwa rencana lancar dan bilang kalau
paket hepi itu nggak selamanya sama
sedih. HAH! Paketku sih bukan hepi
sama sedih. Yang ada, hepi sama
serangan jantung.
Aku melirik kearah kotak yang
sekarang sudah terbuka tutup atasnya,
Dress lengan panjang berwarna putih,
berbahan tulle dan lace yang cantik. DuhGusti... Kayaknya, jaminan masih
berlaku.
Ada kartu disana. Dengan _hati-hati
aku membuka kartu sambil
mempersiapkan diri dengan skenario
terburuk. Tulisan tangan nyokap!
Sayang, besok ke penghulu. —mama—
Kiamat sudah. Hidup gue...
SRR KKDUA
Tiap kali menatap cermin, hatiku
mencelos. Ingat bagaimana kakakku
berkhianat. Penjelasan panjang lebar
dari nyokap tidak masuk ke dalam
telingaku. Kata-katanya muter-muter di
luar kepalaku dan kemudian bablas
begitu saja tanpa ada keinginan masuk
ke otak.
"Kawin lari sama Asistennya. Mama
juga nggak di pamitin. Itu— bocah,
durhaka deh. Bukan karena nggak mau
nurutin papa kamu di jodohin, tapi main
kawin aja. Mama _ papanya_ nggak
diundang, gimana tuh? Dan selama ini,kakak kamu tuh nggak ada gelagatnya
kalau punya pacar atau apa. Kan bisa
ngomong baik-baik gitu. Walaupun
mungkin papa kamu nolak, paling nggak
mama tuh pasti dukung dia. Lha ini,
mendadak ngilang nggak jelas, tau-tau
denger kabar dia kawin sama
asistennya."
"Dia juga kok nggak mikir gitu, kalau
sampai dia kayak gitu adiknya yang
tanggung jawab. Yah, walaupun
sebenernya kamu sendiri yang mau jadi
jaminan." Dan yang kuingat jelas,
nyokap menekan kata 'mau' lebih dalam.
Nyesek nggak sih. Si Ranum manggil
dia aja om-om, terus apa kabar saya,yang jarak usianya lima tahun lebih
muda dari Ranum, mesti manggil dia
apa? Pakdhe? Panggilan yang biasanya
aku sandangkan tiap kali ngamuk sama
bokap? Hadeh.
Skenario terburuknya, kaluarga calon
suamiku tuh, kayaknya dari keturunan
ulama-ulama = gitu. «9s deh. ~=— Merrtua
perempuan yang pagi tadi aku temui,
berhijab cantik model ala-ala Syar'i.
Walaupun pas ketemu nyokap tetep
heboh model emak-emak yang lain, tapi
tetep kan. Aku, yang masuknya
golongan, islam KTPnya doang, masa
mesti sandiwara rajin ibadah. Ini
hubungannya sama Tuhan loh, masamau rajin ibadah cuman_ gara-gara
kepepet?
Bayanganku di cermin benar-benar
bikin aku freak out. Baju nikahku putih
kinclong(ngalahin jemuran sprei di iklan
diterjen di tv) dari atas kebawah.
UNtung kepalaku tertutup kerudung
yang nggak tahu apa sebutannya dari
kalangan hijaber(kerudungnya _lilit-lilit
di kepala terus masih di pakein lagi
kerudung panjang putih model brokat),
kalo nggak pake kerudung, terus rambut
panjang sepunggungku dibiarkan
tergerai, apa nggak kunti itu namanya.
SRR AK RKPestanya meriah, tamu-tamunya yang
datang, semuanya luar _biasa(niruin
gayanya Ariel Noah) hanya saja rasanya,
aku kesepian. Nggak ada temen yang
dateng, nggak ada Ranum, yang
walaupun kemarin aku membencinya
setengah mati tapi sekarang aku
berharap kalau dia ada disini. Bahkan
duo sahabatku dari SMP pun nggak ada
yang muncul.
Aku duduk di tepi ranjang hotel sejam
kemudian, setelah acara resepsi selesai.
Kakiku nyut-nyutan. Berdiri hampir
lima jam tanpa ada tanda-tanda bisa
duduk(bahkan makan) membuat otakku
kosong.Tidak membayangkan apa yang akan
terjadi selanjutnya saat suami masuk
kamar, tidak berniat untuk mengganti
pakaian nikahku. Mataku _berkeliling
melihat kamar suite yang aku tempati.
Dihiasi bunga-bunga segar dan di tengah
ranjang yang sedang kududuki sekarang
ada taburan bunga mawar merah
membentuk hati (tapi entah kenapa
rasanya bukan jadi romantis tapi kok
kayak di kuburan) lalu koperku yang
besar diujung ruangan.
Oh, koper!
Karena proses yang terjadi begitu
cepat, kurang dari dua puluh empat jam
bahwa berita aku menikah menggantikankakakku, aku yang tidak mengerti apa-
apa jadi semua _ persiapan sudah
dilakukan ibuku.
Mengangkat dress pengantinku keatas,
aku berjalan etlanjang kaki menuju ke
pojok kamar, membongkar isi koperku.
Setumpuk baju yang masih baru,
dengan berbagai warna berbeda tapi
model yang sama (semuanya model
gamis, lengan panjang, dari bahu lurus
terus kayak jalan tol sampai ke pangkal
kaki), kerudung langsungan dengan
beberapa warna, beberapa pasang
underwear yang juga baru. Yah, paling
tidak, baju ini serba tertutup. Bisamembuatku, paling tidak, beradaptasi
dengan lingkungan baru para ulama.
Saat suamiku masuk, dia diam di
depan pintu, memandangiku yang
sedang berjongkok dan menoleh sambil
melihatnya balik. Gimana = aku
manggilnya dia? Mas? Om? Kakak
(iyuh, kok geli banget dengernya)?
Pakdhe? Jangan pakdhe ah, ntar dia sakit
hati.
Aku _ bangkit,berjalan _ kearahnya.
Tanpa disuruh, seperti insting dan seolah
tahu apa yang akan terjadi selanjutnya,
aku membuka resleting gaunku yang
megah."Kamu mau apa?" Tanyanya, suaranya
terdengar sadis.
"A.. Sa— Maksudnya aku mau, inikan
kita—" Belum selesai aku bicara, dia
menatapku sinis. Sumpah ya, kalau dia
nggak pake kacamata setebal kaca nako
sekarang ini, sudah kucolok matanya.
"Kamu nggak tahu ya kalau nggak
boleh lepas baju di depan suami kamu?"
"Kenapa?" Tanyaku bingung.
Tampangku pasti udah kayak orang
tolol.
"Dosa."
"Kok dosa. Bukannya udah muhrim?"
"Kenapa orang wudhu itu, kalau
muhrim-nya nggak batalin wudhu?Sementara suami istri kalau sudah
wudhu, terus sentuhan bisa batalin
wudhu?"
Hah? Kenapa coba? Ini dia ceritanya
mau ngetes agama islamku sampe sejauh
mana gitu. terus aku jawabnya apa?
Nggak mungkin kan googling dulu.
"Dasar islam KTP." Kata-katanya
menohok. Duh Gusti, kalau tadi nikahan
rasanya nyesek, sekarang rasanya tuh
gontok campur malu luar biasa.
FRR RRTIGA
JANUARI, 2016
Semenjak di komenin islam KTP,
sekalipun aku nggak pernah pamer aurat
di depan si Daffa. Jadi nih, dia itu
sekalipun belum pernah lihat wujud
asliku yang tanpa kerudung dan tanpa
baju kedodoran. Padahal pengen banget
pamer kalau aku ini jauuuuhhh lebih oke
dari dia. Dasar, geek sombong.
Tiga hari di hotel, dan tidur di tempat
terpisah tanpa ada keinginan dari bapak
Daffa yang terhormat buat say hai atau
bahkan masuk ke area kamar tidurtempat aku berada, membuatku merasa
kotor tau nggak sih!
Cih, kayak aku ini cewek agresif yang
hobi ngejar laki dengan buka resleting
baju. Kalau ingat kejadian tiga hari lalu,
sumpah ya, tiap ketemu dia pengen deh
nonjok atau nyulik dia terus dipukuli di
tempat.
Kesannya tuh kayak aku ini ngejar-
ngejar dia gitu. Halo? Siapa dia coba?
CEO ganteng kaya raya baik hati yang
cuman lihat cewek biasa dan bodi rata.
Cih, najis banget. Tampangnya nerd
(rambut madul-madul, kacamata kuda,
sama jenggotnya kayak Osama) cuman
menang di bodi doang. Nggak sebandingbanget sama aku. Bukannya sombong
nih, cowok yang paling ganteng di SMA
dulu (Namanya Alvian Anggara
Nugroho-kalau mau tahu) ngejar aku aja
nggak aku lirik, nah ini. Pengen banget
nginjek tuh muka.
Apalagi bentuk badanku yang kata
teman-teman kakakku, bikin ngiri.
Untung nih aku pake kaftan (setelah
googling model bajuku yang di koper),
kalau enggak, udah mupeng dia.
Daripada sakit hati, rasanya tuh lebih ke
emosi. Tapi, jangan-jangan dia itu—
Ya ampuuun... Kok aku _ nggak
kepikiran sampe sekarang sih? Si Daffa
ini, jangan-jangan sebenarnya suka samaKak Ranum. Terus emosi gara-gara
kakakku kawin lari sama cowok lain.
"Kenapa belum packing?" Tanya
Daffa yang mendadak muncul kayak jin,
tanpa suara. Matanya masih fokus ke
ponsel. Packing? Maksudnya apa lagi
ini?
"Kenapa packing?"
"Sepuluh menit lagi kita check out."
"Kamu nggak ngasih tahu aku."
Untuk pertama kalinya dia
mengangkat wajah, melihatku. "Ini udah
dikasih tahu. Cepetan. Kalau sampe
sepuluh menit belum beres, kamu aku
tinggal." dia balik badan dan kembali
sibuk dengan ponselnya.DUAR!!
Jangan kaget, itu suara kepalaku yang
meledak akibat emosi yang kelamaan
ditahan. "KENAPA NGGAK BILANG
DARI KEMARIN? APA DIMULUT
LO ITU ADA BERLIANNYA SAMPE
NGOMONG AJA NGGAK MAU!"
Teriakku emosi.
"Tinggal delapan menit." Katanya
dengan kepala saja yang nongol ke
ruang tidur. Kalau mutilasi itu nggak
dosa dan nggak dipenjara, udah dari
kemarin ini manusia satu aku sate.
oR RK
"Aku pikir nih mbak, mas Daffa nggak
bakal jadi kawin. Eh, ternyata tetep.Walaupun pengantinnya beda. Namanya
juga dijodohin, mau gimana lagi. Tapi
aku denger, Mbak Rey ini, tahun
kemarin lihat konsernya Taylor Swift
ya? Enak banget gitu, setahun cuman
melancong tanpa di protes orang tua,
lihat idola manggung dari satu Negara
ke Negara lain. Pasti seru banget kan.
Aku sih juga tahu Taylor Swift dan suka
beberapa lagunya, tapi kalau boleh jujur
sih, aku lebih suka yang asia gitu. Unyu-
unyu." Panjang... banget ngomongnya.
Dia itu sama kayak salah satu sahabatku,
si Andhita.
Berhubung sahabatannya sama _ si
Andhita sejak SMP, pas 'ditemplokin'adik si Daffa yang emang ceriwisnya
minta ampun, jadinya kebal. Beda usia
Gladys(nama_ = adiknya_—s si_— Daa ffa)
denganku hanya dua tahun. Dia lebih
muda. Dan bagusnya, ukuran badannya
sama-sama mini kayak aku.
"Kamu suka k-pop?"
"Yoi. Ih, keren nih. Mbak Rey tahu k-
pop. Aku pikir cuman suka barat aja."
Dia nyengir. Semenjak check in dari
hotel dan nyampe dirumah ini(kayaknya
ini rumah punya keluarganya si Daffa,
soalnya rumahnya tiga kali lipat lebih
besar dari rumah si Adhi Baskoro),
keluarga Daffa menyambutku antusias.Kalau Gladys begini saja udah heboh,
nah, emaknya si Daffa jauuuuhbhbh...
lebih heboh lagi. Dari semua
omongannya yang kesana-kemari aku
bisa) memproses dengan cepat
bagaimana keluarga ini.
Nyokap Daffa itu ternyata anak
tunggal, sementara bokap Daffa itu
cuman dua bersaudara. Sama kayak
Daffa dan Gladys.
"Mau bilang apa dia sekarang sama si
Daffa kalau sekarang Daffa udah nikah.
Enak aja ngatain Daffa bujang lapuk.
Daffa nikahnya aja belum kepala 3,
sementara itu. anaknya tante Ratri
nikahnya udah umur 34. Ngimpi diasekarang, mau nyaingin Daffa. Ya nggak
Dys?"
Info baru lagi. Kupikir, usia Daffa
emang 30 something, soalnya tiap
denger Kak Ranum manggil dia Om-om,
aku mikirnya dia memang kepala 3.
Beneran ini, ternyata aku nggak tahu
apapun tentang Daffa. Halah, nggak
usah ngerasa bersalah juga, itu sodara
yang terhormat belum tentu mikirin aku
balik.
"Ratri siapa sih Dys?" Tanyaku sejam
kemudian setelah ngobrol panjang lebar
dengan orang tua Daffa dan patung
pancoran yang mendadak pindah duduk
di dekatku(saking Daffa-nya nggakbanyak gerak dan ngomong, cuman
hemm-hemm doang) sambil sibuk
melototin ponsel di tangannya.
"Adik bokap. Ntar deh kalo ada acara
keluarga, mbak Rey bakal tahu siapa dia.
Nyinyirnya minta ampun. Orang tuh
kalau kumpul sama orang lain kan
bicaranya baik-baik, kalau tante ratri itu,
suka bikin emosi. Beneran."
"Mbak yang sabar ya sama mas Daffa.
Dia itu, agak-agak nggak tertarik gitu
sama yang namanya komitmen."
"Maksudnya, dia suka main cewek
gitu?" Tanyaku was-was.Gladys ngakak. "Nggak. Bukan yang
begitu. Dia mah jarang kelihatan bareng
cewek."
"Belok gitu maksud lo?" Tanyaku lagi
sambil memakai tanda kutip dengan
jariku.
"Enggaklah. Nggak suka _bareng
cowok berdua-duaan kok."
"Yah, elo kan nggak tahu." Kami diam
sejenak saat Daffa lewat di depan kami
menuju dapur. Dan matanya masih
melototin ponsel. Semoga ke jedot pintu
tuh kepala, jalan bukannya lihat depan
malah liatin ponsel. Nerd belagu. Oh
iya, mana mungkin dia gay, nggak bakal
laku."Th, kok malah ketawa sih mbak?
Kesambet?"
"Kesambet jin penunggunya abang
lo." Kataku di sela-sela tawaku. "Gue
salah kalau bilang babang lo belok. Nerd
kayak gitu, mana mau para gay."
"Th... Jangan ngatain mas Daffa nerd
ya. Dia itu jauh lebih laki dari Gong Yo
oppa."
"Bwahahaha..."
"Rey, balik sekarang." Katanya dingin
dari balik punggungku. Spontan,
membuat tawaku berhenti.
oR KREMPAT
"Pilih kamar yang kamu suka."
Katanya begitu pintu rumah dibuka. Dia
masuk sambil menarik kopernya tanpa
menunjukkan dimana kamarnya. Rumah
ini memang nggak sebesar rumah yang
tadi (dan bener dugaanku kalau ternyata
tadi rumah keluarga Daffa) tapi dengan
bangunan dua lantai dan lumayan luas
aku suruh muter-muter dulu maksudnya
biar dapet kamar.
Daffa memandangi dengan ekspresi
penuh tanya saat aku — sudah
disampingnya."Apa?" Aku langsung tanya, sedetik
setelah manik mata kami bertemu.
Mimik mukaku nantang.
"Cari kamar lain." Jawabannya
singkat, sesingkat dia lihat tampang
murkaku dan lebih milih sibuk dengan
ponselnya.
"Kamu lagi main game C-O-C ya?"
Keluar sudah pertanyaan yang selama
tiga hari ini nangkring di ujung lidahku.
Gara-gara saking sibuknya dia melototin
ponsel tiap kali kami sama-sama, salah
ding, tiap kami disatu area yang sama.
"C-O-C2?" Sumpah, mukanya pas
nanya barusan, nggak cukup kalo di
bilang nyebelin, antara menghina samangeremehin. Tonjok-nggak-tonjok-
nggak? Sabar Rey, sabar. Orang sabar
pantatnya lebar!!
Dan bukannya berusaha menunggu
jawabanku atau berusaha menjawabku,
dia langsung masuk ke kamarnya.
Menutup pintu kemudian, Ceklik-ceklik.
Pintu kamar di kunci.
Cih, najis banget. Takut diapa-apain
sama aku maksudnya, sampe kamar aja
di kunci? "KELUAR LO. BERANTEM
YUK!! TADI AKU LIHAT ADA
LAPANGAN TUH DEKET RUMAH
KAMU!" Dampratku dongkol. Tapi
tidak seperti tadi pagi yang masih mau
nongolin kepala, ini, nggak ada reaksisama sekali. Sabar Rey, sabar. Orang
sabar pantatnya— Seminggu lagi aku
sama dia dan masih sabar, pantatku pasti
nggak cuman lebar, tapi luber!!
RRR
Aku memutuskan mengambil kamar
yang ada di lantai dua. Selain
ruangannya yang rasanya pas dengan
auraku (kayak ahli fengshui aja. Hadeh)
alasan lainnya, biar aku nggak lihat
muka suami geek nyebelin sombong
hobi bikin tensi darah naik (dan bisa
dipastiin lebih manjur dari sate
kambing) berjenggot kayak Osama.
Di lantai dua, memang beda sama
lantai satu, hanya ada dua ruangan. Satukamar plus ruang mandi dalam, balkon
dan satu ruangan kosong yang belum
diisi apapun. Kalau sampai si iblis
dibawah memperbolehkan aku
menguasai lantai dua, rencana sudah
tertata rapi di kepala.
Yang jelas, ruangan kosong ini bakal
aku jadiin tempat leyeh-leyeh favoritku
dan mengisi semua sudutnya dengan
semua hal yang ada hubungannya sama
Taylor Swift. Jadi, semua koleksiku,
bisa aku pindahkan kesini.
Sementara hobi koleksiku yang lain
(dan nggak ada sangkut pautnya juga
aama Taylor Swift), bisa aku simpan di
dalam kamar. Satu lemari besar mungkincukup untuk koleksiku. Urusan ranjang,
(ganti, nggak enak dengernya) urusan
kasur, yang aku duduki sekarang sudah
cukup. Aku ini tiap cium bantal bisa
langsung tidur. jadi, mau tidur di
tendapun, langsung bisa ngorok. Apalagi
springbed mahal kayak begini.
Sarah Aurelia : Rey, lo masih hidup
kan? kabarin kalau lo ada waktu.0
Anandhita Ramlan Y :Iya nih, dari
tiga hari lalu nggak bisa dihubungin. Lo
jangan-jangan nyusulin kak Ranum ke
Dubai ya?
Sarah Aurelia : Kalau ke Dubai, nitip
oleh-oleh yang dari ATM emas dong
Rey.Anandhita Ramlan Y :Gue juga mau
kalo itu. Dari kemarin oleh-oleh dari dia
cuman kaos. Ada gitu ceritanya, bawain
oleh-oleh dari luar negeri dan datang ke
empat benua cuman kaos. Disini kaos
mah banyak Rey.
Sarah Aurelia : berdo'a saja dia jawab
kita Ta.0
Anandhita Ramlan Y : Moga nggak
ada berita aneh-aneh besok. Kayak ada
mayat ditemukan di pinggir selokan
dengan beberapa bagian tubuhnya
menghilang.
Reyna P Baskoro : Bangke lu pade!
Sarah Aurelia : Lo hidup Rey?Anandhita Ramlan Y : Lo diculik?
Alien ya? Mau dong kalo yang nyulik
bangsanya Do Min joon.
Reyna P Baskoro : Belum bisa move
on lo? Udah 2016 keles.
Sarah Aurelia : Darimana aja sih lo.
Reyna P Baskoro : Kawin. Eh salah,
nikah ding.
Anandhita Ramlan Y : Mbaknya ini,
kalo becanda suka ngenes deh. Kawin
sama siapa situ? Pasangan aja belum
ada. Jangan-jangan lo ketemu fanboy
Taylor Swift ya?
Reyna P Baskoro : Fanboy? Iyuhh..
Amit-amit deh.Aku memang suka Taylor Swift tapi
nggak bakal jatuh cinta sama fanboy
Taylor Swift. Nggak asik kan, kalo tiket
konser tinggal satu terus kita rebutan.
Sarah Aurelia : Serius deh, lo kemana
aja.
Reyna P Baskoro :Busyet deh. Kan
udah gue kasih tau tadi.
Anandhita Ramlan Y : Nikah?0 0?
Sarah Aurelia : Beneran?
Reyna P Baskoro : Beneran. Samber
gledhek deh kalo bohong. Gue bahkan
sekarang punya rumah dua _lantai.
Rumah baru yang sepertinya baru selesai
di bangun beberapa bulan yang lalu.Anandhita Ramlan Y : Apa?
Seriusan?? Kita tunggu ceritanya deh.
2 RKLIMA
Setelah kejadian ngajakin berantem
sepuluh hari yang lalu dan muter-muter
nyari kamar yang cocok dirumah Daffa,
dia akhirnya menunjukkan taringnya.
Apakah kalian berharap, dia bakal
ngomong banyak nerangin ini itu? Atau
mikir kalau dia bakal cerewet bilang
tentang batasan? Tidak sama _sekali
saudara-saudaraku tercinta. Usahanya
untuk diam membisu, tapi keinginannya
buat bikin aku darah tinggi, sungguh
dikerahkan!!Contoh nih. Dia nggak bilang kalau
aku nggak boleh masuk kamarnya, tiba-
tiba aja besoknya ada 'papan iklan'
warna kuning, tulisannya "DILARANG
MASUK KECUALI ANJING." Idih,
niat banget gitu? Ngapain juga aku
masuk ke kamarnya. Emang dia pikir
aku ini ABG yang gampang penasaran.
Terus, apa dia juga nggak nyadar, kalau
dia sedang ngatain dirinya sendiri
bangsanya Chihuahua? Kan dia yang
masuk ke kamar itu tiap hari.
Contoh lain. Karena nyadar nggak
pengen jadi benalu (dia ngasih aku kartu
debit buat kebutuhanku, dan bakal diisi
dengan nominal yang sama tiap bulan),aku bangun jam empat pagi. Beres-
beres, masak buat sarapan, nyuci baju,
pokoknya nyiapin semuanya. Dia keluar
dari kamarnya sambil lihat jam dinding
di ruang keluarga. "Kamu nggak tau ya
kalo adzan subuh masih sejam lagi?
Berisik banget jam segini? Oh iya, aku
lupa, kamu kan islam KTP." kemudian
masuk kamarnya lagi.
Contoh yang lain lagi, "Kamu nggak
sarapan?" Tanyaku saat dia buru-buru
jalan setelah keluar dari 'sarang'nya. Dia
balik badan, menghadapku yang sudah
duduk di meja makan lalu berjalan
mendekat. Dan wajahnya
menggambarkan ekspresi, ehm, bukanjJijik, kayak, yakin kamu nyuruh aku
makan ini!, setelah melihat masakanku.
Padahal, aku sudah nyiapin semuanya.
Ada roti, nasi goreng, smoothie bahkan
aku bikin salad. Aku!! Yang benci sayur,
bikin salad.
Aku bertahan hanya dua minggu. Dua
minggu tanpa ngadu ke Dhita dan Sarah.
Cukup. Ini sudah cukup. Aku perlu dua
sahabatku, kalau sampe nggak ketemu
juga hari ini nggak bisa jamin nyawa
iblis satu itu, akan selamat nanti malam.
ORR KR
Sarah dan Dhita saling pandang
setelah mendengar cerita panjang dariku.
Ini sudah dua kali mereka salingpandang setelah sebelumnya lihat aku
muncul pake hijab. Muka mereka
bengong kayaknya paham ceritaku tapi
bingung mau bereaksi gimana.
"Jadi elo gimana?" Tanya Sarah
kemudian.
Aku menatap Sarah, "Ya _ kawin,
maksud gue nikah. Menurut lo? Kabur
gitu?"
"Jadi tampang laki lo gimana?
Ganteng? Kayak di cerita-cerita wattpad
gitu nggak. CEO muda, ganteng, yang
cuman ngelihat-"
"Lo lanjutin ngomong, gue tombak
nih." Sahutku sambil bergidik gelimembayangkan punya pasangan impian
yang disebutkan Dhita barusan.
Bukan apa-apa ya, masalahnya tiap
inget sama yang tajir dan ganteng, aku
selalu keinget sama Alvian.
Si Alvian boleh punya itu semua, tapi
selalu bisa bikin geli tiap dia ngegombal.
Sumpah, ilfeel. Contoh nih, Rey, lagi
pengen teh nih. Dan tanpa menunggu
reaksiku dia langsung ngomong, fteh-
rima kamu jadi pacarku..
"Beneran tampangnya kayak yang
diomongin si Dhita?". Tanya Sarah
setelah menyeruput lemon tea-nya.
"Kalo bener, lo cepet cerai deh. Gue
mau kok ngegantiin posisi elo." KataDhita. "Eh, tapi kalau dia sekeren kayak
di cerita wattpad, lo bakal susah jatuh
cinta dong sama suami lo?"
"Karena ngingetin sama Alvian?"
Tanya Sarah.
"Bukan, lo inget nggak, sebelum Rey
suka Taylor Swift? Dia kan naksir sama
Noval. Noval yang terkenal geek dan
nerd itu! Malah kita sempet maksa dia
ke optic buat periksa mata. Lo inget
nggak?"
Dan keduanya ketawa, mengingat
kejadian beberapa tahun lalu saat kami
masih pake putih biru. Aku berdecak.
Sebenarnya alasan utamanya bukan
karena model Noval yang kutubuku.Tapi selain dia kelihatan anak baik-baik
yang nggak suka bikin orang lain sakit
hati, dia juga perhatian dan kayaknya
menghargai cewek. Tipekal gentleman.
"Suami gue geek kelas kakap malah.
Lo tau nggak, kacamatanya tuh setebal
kaca nako plus jenggotnya kayak Osama
Bin Laden. Main hape mulu kerjaannya.
Kalah deh ABG labil yang lagi jatuh
cinta."
Dan tawa mereka kembali
membahana. "Ati-ati. Cinta itu tumbuh
karena kebiasaan. Apalagi, dia nerd."
"Ya lihat dulu kebiasaannya. Laki gue
sih, hobinya bikin © sakit hati.
Ngomongnya irit, kayak kalau diangomong itu, berlian rontok dari dalam
mulutnya."
"Terus hari-hari lo gimana sekarang?
Udah dua minggu jadi istri orang."
Tanya Sarah.
"Biasa aja, gue bangun pagi, bikin
sarapan, nyuci, bersihin rumah. Tugas
babu gitu."
"Ampun suami lo. Bukannya dia anak
orang kaya ya? Emang nggak bisa, nyari
PRT gitu. Kesian banget nih kesayangan
kita Sar. Cup-cup.. Sini anak mami."
"Gue yang mau. Gara-gara udah
kebiasaan. Gue juga nggak kuliah kan
setelah lulus SMA, cuman ambilbeberapa les. Terus mandeg gara-gara
kemarin ngintilin Taylor Swift."
Untuk ketiga kalinya, keduanya
berpandangan. "Ya ampun, elo emang
bini baik deh Rey."
"Kapan nih kita dikenalin sama laki
lo."
"Jiah, najis banget mau ngenalin dia ke
kalian. Kayak dia penting aja. Bisa besar
kepala entar." Sahutku, sewot. Ingat
betapa menyebalkannya Saudara
Terhormat Eldaffa Pramudya Wirawan.
"Kerja dimana sih sebenernya dia?"
"Tau. Gue juga belum nanya-nanya ke
Gladys. Males banget." Aku melihat
pergelangan tanganku. Jam satu siang."Sholat dhuhur dulu yuk. Udah jam satu
lebih nih." Well, ini sebenarnya bukan
karena sakit hati dikatain si Daffa kalau
aku islam KTP, Tapi karena malu.
Setelah kejadian di hotel hari itu, aku
juga banyak googling dan beli beberapa
buku tentang keislaman.
Dan juga baru tahu, kalau buka baju di
depan suami sah itu nggak dosa.
Jangankan buka baju, naked aja banyak
pahala depan suami sendiri, apalagi
cuman buka baju!
Nah, kalau urusan wudhu itu karena
kalau antara’ss suami_—_sistri__—itu
menimbulkan, ehm, birahi, jadi bisa
membatalkan wudhu-nya. Karena sholatadalah tiang agama, makanya aku mulai
darisana dulu. Dan sekarang jadi
kebiasaan. Kalau ketinggalan, rasanya
ada yang kurang.
Kedua sahabatku, entah untuk yang
kebarapa_ kalinya, saling pandang.
"APAAN SIH?" Tanyaku gahar.
Dua-duanya bangkit —bersamaan.
"Well, gue sama Sarah ngerasa elo
banyak berubah,"
"Tapi, tenang aja. Berubahnya jadi
berubah lebih baik kok." Kedua
sahabatku merangkulku menuju kearah
masjid kampus. Iya, hari ini aku
mengunjungi mereka di kampus. "Tau
gini, dari dulu aja lo kawin.""Enak aja!"
2h oe 2k okENAM
Gladys menyambutku antusias saat
aku dan Daffa masuk ke dalam rumah
beraksitektur bangunan Belanda lama,
acara makan malam keluarga besar
Daffa yang memang selalu
mengadakannya_ setidaknya, sebulan
sekali. Kata Gladys sih, buat
mempererat silaturahmi.
"Nah, ini dia newlywednya sudah
datang." Sambut oma-nya si Daffa
(secara dia yang paling tua disini) saat
kami menghampirinya di kursi roda.
"Aih, cantiknya.. Ini yang namanyaReyna kan?" Katanya lagi setelah acara
cium tangan lalu cipika-cipiki.
Sebenarnya nih, kalau dibandingkan
dengan keluargaku, keluarga si Daffa ini
bukan termasuk keluarga besar. Kalau di
keluarga Daffa hanya ada satu pasangan
om dan tante, kalau di keluarga besarku,
ada dua pasang om dan tante dari
nyokap, tiga pasang lagi dari bokap.
Belum termasuk Pakdhe dan Budhe tuh.
Pokoknya, kalau semua dikumpulin jadi
satu,ramenya, wuih, bikin mumet.
Di meja makan, mertua laki-laki sibuk
ngomongin bisnis dengan adik iparnya
dan keponakannya, anak pertama tante
Ratri. Dan tak ketinggalan pula, si Daffayang malam ini lepas kacamata (luar
biasanya nggak ada ponsel ditangannya
karena aku pikir, itu ponsel sudah jadi
salah satu anggota tubuhnya). Dia duduk
disebelahku. Kami berhadap-hadapan
dengan anak pertama dan
mantunya(yang cantik dan 'megah’) tante
Ratri. Gladys yang duduk di sebelah
kiriku menghadap kembar perempuan
yang sepertinya seumuran dengan Kak
Ranum.
Sebentar deh, baru ngeh.
Tante Ratri dan mantu perempuannya
dan dua anak perempuannya nggak
berhijab loh. Apa yang sodara-sodaranya
ulama waktu dinikahan itu, dari mertuaperempuan ya? Eh enggak, mertua
perempuan kan anak tunggal. Lha terus?
Reyna : Dys, om ulama-ulama yang
hadir di nikahanku kok nggak ada
sih? |
Gladys : Siapa? Yang mana?
Reyna : Ya yang pakaiannya kayak
ulama semua, yang di panggil sama
mama 'om'. Yang datengnya rame-rame?
Gladys :Oh, yang itu? Para pengurus
pondok pesantren di Bandung, udah
kayak keluarga sendiri. Soalnya mama
biasa bantu-bantu disana.
Dan disini yang namanya bantu-bantu
bukan cuman bantuin ala kadarnya,
bantuan dalam arti luas.Reyna : Emang mas kamu dulunya
anak pesantren.
Gladys : Mas Daffa? Enggak. Kenapa
emang? Jangan-jangan gara-gara jenggot
lebatnya itu ya? |
Reyna : Apa nih maksudnya?
Gladys, yang duduk disebelah kiriku,
menahan senyumnya tanpa menoleh
kearahku, matanya bergantian menatap
ponsel dan makanan di depannya. Tidak
ingin menimbulkan kecurigaan.
Gladys : Kalo mas Daffa ilang
jenggotnya dan rambutnya rapi, kayak
oppa-oppa korea. Ulama-nya ngilang.Reyna : Nggak mungkin juga.
Matanya nggak sipit. Belok kayak ras
kaukasoid gitu.
Gladys : Cieee.. yang udah perhatiin
matanya. Padahal semenjak nikah
babangnya pake kacamata terus. Eh,
lupa, kalo bobo kan kacamata di lepas.
Hari ini juga kacamata dilepas. Cie..
cie..O[
Boleh nggak sih, nonjok Gladys yang
udah gerak-gerakin bahunya nahan
ketawa?
Gladys : Tenang aja mbak, jadi istri
mas Daffa tuh bakal indah kayak di
novel. Badboy tuh dia.Reyna : Badboy dari hongkong! Tiap
deket aja yang diomongin dosa, gimana
bisa badboy. Lagian, udah cukup dia
kayak gini aja, nggak usah bawa-bawa
badboy. Ngeri tau nggak.
Gladys : Dia itu kan termasuk ke
golongan yang Menjalankan semua
perintahNya dan menjalankan juga
laranganNya. (Setengah malaikat,
setengah iblis. Temen-temenku aja
semua klepek-klepek kalo sama dia.
Reyna : Terserah lo deh. Gue
maklum. Namanya juga sodara. 0
ok KK
"Persiapan, tante Ratri beraksi." Bisik
Gladys yang siap ngilang = darisampingku. Acar makan sudah selesai
dari tadi. Setelah semua piring diberesin
sama pelayan dan ngga k ada yang
memperbolehkan aku bantu-bantu, kami
menyebar diruang keluarga.
Para laki-laki, sibuk di ruang keluarga.
Tante Ratri dan mantu megahnya,
mertua perempuan dan oma Daffa masih
tinggal di meja makan. Sementara aku,
gladys dan si kembar duduk di sofa
depan tv.
"Mau kemana kalian?" Tanyaku saat
ketiganya bangkit dengan waktu
bersamaan."Kabur. Ntar pasti nanya-nanya
masalah kuliah. Banding-bandingin IPK
aku sama si kembar. Ogah banget deh."
"Kita mlipir pergi, malu kalo si mami
udah nyinyir. Kayak anaknya aja yang
paling pinter sedunia."
"Reyna kan? Belum sempat ngobrol
setelah nikahan ya. Welcome to
Wirawan's." Dia membuka _ lebar
tangannya, siap memelukku. Duh, salah
deh kayaknya Gladys sama mertua
perempuanku. Ini tante baik, banget
baik.
Saat aku melirik ke samping,
ketiganya sudah ngilang. Keturunan jin
semua kali ya, ngilangnya cepet banget!"Gimana sama Daffa? Bosen nggak?
Anaknya emang gitu, suka pilih-pilih.
Maunya ngobrol panjang lebar cuman
sama yang cantik-cantik.". Oke, aku
salah. Strike pertama. Kayaknya bakalan
ada yang selanjutnya.
"Belum kok tan, ntar kalo udah
keterlaluan, tinggal nombak doang.
Kemarin udah bikin bambu runcing."
Jawabku disela-sela senyumku.
"Th, lucu deh kamu." Katanya setelah
berhenti tertawa. "Gimana kabar kakak
kamu? Masih belum ngabarin apa-apa?
Kok bisa ya, kawin lari sama orang yang
baru dikenal beberapa bulan." Strike
kedua."Ya bisalah Tan. Saya aja yang baru
pulang melancong belum ada dua
minggu, mendadak kawin sama orang
yang belum pernah saya kenal aja bisa,
apalagi yang ketemu ditempat kerja tiap
hari selama enam bulan." Bukan Reyna
kalau nggak bisa jawab.
Tante Ratri menatapku. Tanpa tawa.
"Kenapa tan?" Tanyaku, masang wajah
polos.
"Iya juga sih. Tapi tante dengar, kamu
kemarin ikutan tour gitu ya."
Dasar emak-emak. Aku lihat konser.
Bukan ikut tour. "Lihat konser idola
saya Tan. Mumpung masih muda.""Tapi tante denger, itu kayak bayaran
kamu supaya mau gantiin kakak kamu
kalau mendadak dia ngilang ya?" Strike
ketiga. Kok aku jadi panas yang dikatain
nikahnya gara-gara bayaran, walaupun
kenyataannya memang begitu.
"Ya gitu deh tan. Kalo saya mah—"
Untuk pertama kalinya dalam sejarah
sodara-sodara, si kutu kupret ini manggil
namaku. "Rey, kenapa?" Tanyanya dari
balik badanku memotong
pembicaraanku. Daffa berjalan padaku,
lalu mengambil posisi di kananku.
"Eh, Daffa. Kerjaan gimana? Ajak si
Andreas dong ke perusahaan kamu. Biar
nggak terus-terusan cuman jadi asistenmenejer.". Dan sekarang Tante Ratri
ganti posisi. Sepertinya siap
menghunuskan kalimat mematikannya
ke orang lain. Dan orang lain itu, Daffa.
Mana ngaruh si Daffa, dia kan makhluk
terlempeng di dunia.
"Yah, tan, Itu kan bukan
perusahaannya Daffa. Entar diprotes
sama pegawai_ lainnya gara-gara
nepotisme. Lagian, Andreas kan udah
lama kerja sama papa, bentar lagi pasti
bisa naik jabatan kok Tan. Tenang aja."
Th, ajaib. Si Daffa bisa ngomong banyak.
"Nggak tau nih, papa kamu pilih kasih.
Keponakan sendiri di cuekin. Malah
yang sering naik jabatan tuh anak baru.""Ya kalau Andreas kerjaannya oke,
kan naik jabatannya juga cepet tan."
Telak.
"Yuk Rey, ditungguin oma."
Tangannya masuk ke sela-sela jariku,
bersiap mengajakku pergi. Daffa
mengerutkan keningnya saat aku dalam
mode bengong( pandangan kosong
mulut melongo), menatapnya tanpa
berkedip.
"Permisi ya tante, ke oma dulu."
Kataku, pamitan baik-baik setelah
mendapat ekspresi 'tutup mulut kamu
dan sadar!!' dari Daffa.
"Oh iya Daff, gimana kabarnya mama
kamu? tente denger udah cerai lagi.Yang keberapa? Ini keempat kalinya
ya?" Tatapan wajah tante Ratri berubah.
Sementara aku gagal paham. Ini
maksudnya apa ya. Sementara tanganku
merasakan jemari Daffa mendadak kaku.
Aku menatapnya, sekilas, hanya
sekilas saja, ada semburat sedih disana.
Yang kemudian berganti dalam waktu
kurang dari sedetik. Sebuah senyuman.
"Tante nih bisa aja bercandanya.
Mama masih disini, masih istri papa kok
tan. Gimana ceritanya cerai empat kali."
Dan Daffa menarik tanganku, kali ini
benar-benar menjauhi tante Ratri.
ORR RKTUJUH
"APA?" Bentakku saat dia mendadak
balik badan dan menghadap padaku
yang memang sedang berjalan mengekor
dibelakangnya. Jarak kami kurang dari
satu. meter, wajahnya serius. Dia
menunduk (jangan salah paham, bukan
menunduk mau 'ngapa-ngapain' tapi
emang pada dasarnya dia tinggi) lurus
menatap ke mataku, membuat aku makin
melotot padanya. Mau main kuat-kuatan
melotot. Jelas aku yang menang.
Kami baru saja pulang dari rumah oma
Daffa. Setelah turun dari mobil,bukannya langsung masuk, ini malah
ngajakin berantem di luar. Apa dia
nggak sadar, kalau aku sudah emosi
suka teriak lantang. Bahkan kejadian
yang kemarin belum genap sebulan.
"Kamu—" Nada suaranya sudah naik,
nafasnya ditarik panjang, kayaknya siap
ngomel nih. Tanpa henti tanpa jeda. "—
Masuk deh." Lanjutnya kemudian.
diiringi hembusan nafas frustasi.
Wah, kok aku jadi kepikiran tante
Ratri ya, "Gimana sama Daffa? Bosen
nggak? Anaknya emang gitu, suka pilih-
pilih. Maunya ngobrol panjang lebar
cuman sama yang cantik-cantik."” Apa
aku nggak segitu cantiknya."Mas Daffa." Panggilku sebelum dia
balik badan, maju beberapa senti,
menghilangkan jarak diantara kami.
Baru saja_ kuputuskan, aku akan
memanggilnya "Mas! untuk ke depannya.
Ngikutin si Gladys.
Satu tanganku yang bebas dari
handbag, menyentuh lengannya.
Mengusapnya naik turun. "Aku ini
nyinyir loh. Kalo ada yang gangguin
mas Daffa, bilang aja, entar pasti aku
labrak. Oke." Daffa menatapku, alisnya
naik.
"Nggak salah tuh? Bukannya tadi yang
nolongin kamu bebas dari tante Ratri itu
aku ya." Hei! Ternyata dia bisa lohngomong kalem. Nggak menohok.
"Besok-besok, jangan deket-deket ke
tante Ratri kalo bisa. Emang Gladys
nggak ngasih tahu kamu kalo harusnya
kamu ngehindarin tante Ratri?" Ih, dia
ngomong panjang... Aku terpesona deh.
Mendadak berubah. Apa jangan-jangan
kesambet dia?
Bengong, membuat tanganku tidak
bergerak di lengannya. Dan sekali lagi,
dia menaikkan kedua alisnya. "Kenapa
bengong?"
"Boleh peluk nggak sih?" Tanyaku.
Gemes banget lihat si Daffa begini.
Super cute.Daffa berdecak, balik badan dan
langsung kembali ke ponselnya yang
ternyata eh ternyata, ada disaku celana.
RRR
Jangan berharap terlalu tinggi kalau
hubunganku dengan Daffa membaik
gara-gara_ peristiwa makan malam
bersama keluarganya beberapa minggu
lalu. Dia tetap Daffa yng sama. Tuan
sombong terhormat yang selalu bisa
bikin aku darah tinggi.
Untungnya, dia nggak banyak komen
saat aku menginvasi lantai dua.
Semuanya isi barangku. Aku turun
kebawah hanya dalam rangka bersih-
bersih, masak dan nonton tv.Sementara Daffa, yang beberapa hari
lalu akhirnya, mau makan masakanku,
nggak tahu kesambet dedemit darimana,
dia akhirnya tiap pagi selalu sarapan.
Ya, makan masakan buatanku yang
dulunya selalu dilihat dengan tatapan ‘ini
yakin bisa dimakan."
Kacamatanya sekarang lepas dari
hidung, ponselnya lepas dari tangan, dia
hanya sesekali melotot ke ponselnya,
gantinya, dia kesana kemari membawa
file laporan.
"Mas, hari rabu depan aku ada acara
reuni. Aku mau ketemu anak-anak.
Boleh nggak?"Dia mengangkat wajahnya dari file
laporan-nya. "Kenapa tanya aku?"
Tuh, tinggal jawab boleh atau enggak,
malah balik nanya dengan kalimat yang
bisa bikin kuping panas. "Terus, aku
tanyanya sama siapa? Kan cuman
berdua disini. Yang ketiga setan.
Berhubung aku nggak bisa lihat setan
dan nggak juga punya cita-cita buat bisa
lihat mereka, aku terpaksa tanya ke mas
Daffa."
"Itu privasi kamu, hidup kamu. Atur
sendiri. Nggak perlu ijin aku atau
gimana. Aku juga nggak minat ikut
campur hidup kamu." Menohok. Untung
kemarin pas pindahan semuabarangku(semua koleksi taylor Swift-ku
dan dua koper koleksiku 'yang lain’) dari
rumah orangtua, goloknya ketinggalan.
Kalo sampe kebawa pasti udah aku
babat dia.
Aku menatapnya. Kedua tanganku
menopang dagu, "Kan namanya istri
kalau keluar rumah harus ijin suami.
Dosa kalau nggak ijin. Emang mas
Daffa tuh islam KTP ya? Gitu aja nggak
tahu?"
"Kalo nggak aku ijinin? Kamu bakal
nggak berangkat?"
"Cari cara sampai mas Daffa ngijinin."
Kataku sambil nyengir. Mendadak,ponsel yang sedari tadi aku taruh di meja
sebelahku, bergetar.
Sarah Aurelia : Diijinin gak sama
laki lo Rey?
Anandhita Ramlan Y : Kalo nggak
boleh, lo bawa aja dia sekalian. Biar kita
juga tahu gimana tampangnya. Osama-
nya elo. Rey, lo mesti check pinterest
tentang beard deh. 0
Anandhita Ramlan Y : Pas kemarin
lo bilang kalo laki lo punya jenggot,
terus gue check pinterest, kok gue yang
deg-degan ya Rey.00
Sarah Aurelia : Deg-degan napa lo?
Anandhita Ramlan Y : send pictureAnandhita Ramlan Y : send picture
Sarah Aurelia : Busyet. Lo juga Rey?
Reyna P Baskoro : send picture
Reyna P Baskoro : Gue lebih suka
itu. Gemes.
Sarah Aurelia : (0 Yang nikah Rey,
yang mesum si Dhita. Rey, kenalin dia
sama siapa gitu, biar gak mupeng.
Reyna P Baskoro : Nggak ada
kenalan yang berjenggot. U1
Anandhita Ramlan Y : Yah, kan gue-
nya sekarang pengen yang berjenggot.
Meme-nya, laki banget.Sarah Aurelia’ : Cuman meme
doang.
Anandhita Ramlan Y : Tapi udah
kadung terpesona sama yang berjenggot.
Reyna P Baskoro : Nggak usah sama
yang berjenggot. Ntar sakit hati kayak
gue hidup lo Ta.
Sarah Aurelia : Elo doang kali yang
menderita. Laki lo sih bukan karena
jenggotnya yang bikin elo sengsara.
Emang bawaan dari orok kalau dia sadis.
Anandhita Ramlan Y : Lo mesti
dateng. Ada mantan gebetan lo. Si
Noval.Belum sempat aku membalas, satu
pesan masuk. Dari nomor yang tidak aku
simpan di ponsel.
Arranum Eka Baskoro : Dek, gue
minta maaf ya. Sumpah, pas kemarin
dikabarin dijodohin sama Daffa, gak ada
niat buat kawin lari. Apalagi lakinya
Gio. Gara-gara elo sih nyaranin si Gio,
gue kan jadi kepikiran. Kita bisa ketemu
nggak? Aku bawain Taylor Swift stuff
yang elo nggak punya. Mau ya, pliss??
Ini Kak Ranum.
Arranum Eka Baskoro : Ini nomor
baru gue. Simpen.
Reyna P Baskoro : (|
Arranum Eka Baskoro : )[)2h KKDELAPAN
Aku tidak bisa bereaksi sama sekali
saat sudah duduk di depan Ranum di
restoran favoritnya sepanjang masa.
Restoran Jepang. Padahal, saat di jalan
tadi, aku sudah menghafal beberapa kata
untuk mengutuk (karena aku bukan tipe
perempuan yang suka bilang F stuff dan
teman-temannya yang artinya tidak jauh
beda), beberapa hal yang
memungkinkan untukku menyiksanya.
Ada beberapa rencana kejam yang sudah
aku gambar di otak. Mungkin aku bisa
cekik langsung tanpa banyak cincong,menggantung dan menyeretnya di depan
semua orang, kegiatan psiko lain yang
lebih kejam yang akan membuatnya
menangis karena sudah membuatku
menderita.
Tapi sekarang tidak bisa kulakukan.
Bukan karena ada Gio disampingnya,
juga bukan karena penampilannya yang
tidak terlihat glamor seperti dulu, tapi
perut kembung diatas normal yang
membuatku melupakan semua cacian
dan luka fisik yang akan kuberikan
padanya.
"Lo makan kayak babi Kak." Kataku
setengah jam kemudian saat Kak Ranum
memesan ramen, setelah menghabiskansepiring omurice. Gio sudah pergi
setelah selesai berbasa-basi denganku
dan diyakinkan Kak Ranum dia akan
oke bersamaku.
"Maunya bayi."
"Lo dulu 'tekdung' dulu ya sebelum
nikah? Perut lo udah segedhe perempuan
hamil 9 bulan. Bukannya elo kawinnya
baru bulan juni kan? Baru 8 bulan."
"Enak aja! Anak gue kembar kali."
Terangnya lalu kembali melihat buku
menu yang tidak dikembalikan pada
pelayan. Sengaja ditahan kak Ranum.
Aku berdecak, "Lo mau makan lagi?"
"Cuman lihat menu. Jadi gimana Rey
rasanya kawin sama kulkas?" Tanyanyatanpa mengalihkan matanya dari buku
menu.
"Enak sama kulkas, adem. Daffa itu
bukan kulkas, dia itu api unggun di
tengah gurun Sahara pas siang bolong."
Ranum ngakak, bukannya_berbela
sungkawa pada adiknya, dia malah
ngetawain deritaku. "Bukannya
seharusnya elo ngerasa bersalah ya sama
gue? Gara-gara elo kabur sama assmeri*
lo, gue yang menderita. Apa sih yang lo
lihat dari Gio? Bukannya lo sukanya
CEO muda, kaya raya, ganteng tak
terkira, angkuh luar biasa." Kataku,
masih ingat bagaimana Kakakku begitumencintai novel yang hero-nya cowok
seperti yang kusebutkan barusan.
Kalau aku lebih suka menyanyi,
menari, bersorak dan mengoleksi semua
karya Taylor Swift, kakakku lebih suka
baca. Buku, wattpad. Yang jelas cerita
fiksi yang bikin baper. Kalau ceritanya
sad ending, dia bakal bad mood selama
berhari-hari, sementara kalau ceritanya
happy ending, dia bakal terobsesi sama
tokoh cowoknya. Nggak selalu hero-nya,
bahkan kadang kala second lead hero-
nya.
"He's just so sweet." Katanya
mendadak menerawang, kemudian
tersenyum. "Sumpah dek, gue nggakpernah lihat dia sekalipun. Nggak pernah
sekalipun. Gue tahu kesannya sekarang
ini gue lagi bikin alasan, tapi sumpah,
habis denger elo ngomongin tentang
Gio, gue jadi lebih suka merhatiin dia."
Wajahnya tertopang di dagu, sementara
matanya seolah sedang meluncur masuk
ke dalam memorinya sendiri. But I know
now, She's happy. At least, walaupun
aku dalam keadaan seperti ini, dia
bahagia. Its worthed.
"Gue baru sadar, tiap kali kita jalan
berdua, maksud gue pas kita ngurusin
kerjaan kantor bareng, dia selalu, you
know, merhatiin gue. Jam makan gue,
bagaimana dia selalu membuka pintumobil dan menutup kap atas sama
tangannya saat gue masuk mobil. Jaga-
jaga jangan sampe kepala gue kepentok.
"Tiap gue jalan dan kadang sibuk baca
sama apapun yang ada di tangan gue,
kadang file laporan, kadang telepon
kadang kalo nggak sibuk wattpad, dia
selalu jagain jalanku biar gue nggak
kepentok. My heart beats so much, tiap
gue inget momen ini. Tiap kali hujan,
dia selalu rela salah satu pundaknya
basah. Sementara, dia meluk gue hati-
hati biar gue nggak kebasahan."
"Lo drama korea!!"
Kakakku —cekikikan mendengarku
meletup, yang memang anti sama hal-halyang cheesy. Kami berhenti sebentar
saat pesanan Kak Ranum datang, aku
yang sudah menghabiskan steak wagyu
sudah tidak berniat makan.
"Lo pake hijab semenjak nikah sama
Daffa ya?" Tanya Kak Ranum setelah
menyeruput ramennya. Aku
mengangguk dan tanpa ditanya lebih
lanjut aku sudah cerita panjang
bagaimana Daffa bikin aku emosi, nggak
ketinggalan juga bawa-bawa gelar islam
KTP yang langsung kusandang di hari
pertama aku jadi Nyonya Eldaffa
Pramudya Wirawan. Iyuh ngeri. Ganti.
Aku jadi seorang istri."Berdasarkan tipe kita sebenarnya,
seharusnya aku tuh yang sama Kak Gio,
sementara elo sama si Daffa. Pas gitu,
sesuai selera."
Kakakku sudah menghabiskan
setengah mangkuk ramennya. "Pria
dingin, badboy apapun itu sebutannya,
cuman cocok hidup di dunia mimpi.
Mereka cukup jadi fantasi, sementara
pria baik disamping lo harus lo iket
kuat."
Aku merangkum wajahku dengan
kedua tanganku, memandangi kakakku
yang tengah menikmati makan siangnya.
"Kayaknya kakak tahu banyak deh
tentang Daffa. Kok sampai tahu dia
Anda mungkin juga menyukai