0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5K tayangan637 halaman

Innocent Devil by Moonkong

Diunggah oleh

Fira Chn
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5K tayangan637 halaman

Innocent Devil by Moonkong

Diunggah oleh

Fira Chn
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF atau baca online di Scribd
PROLOG NOVEMBER, 2014. "We're so young but we're on the road to ruin, We play dumb but we know exactly what we're doing, We cry tears of mascara in the bathroom, Honey, life is just a classroom." "Dek!" Kakakku menepuk pahaku yang hari ini dibalut dengan celana pensil warna biru tua, tapi aku masih tidak perduli. Masih ikut menyanyi mengikuti New romantic-nya Taylor Swift. "Cause, baby, I could build a castle, Out of all the bricks they threw at me, And every day is like a battle, But every night with us is like a dream." Nyanyianku makin bersemangat. Aku tidak tahu kapan mulai suka dengan semua lagu Taylor Swift, tapi, aku memang jatuh cinta dengan semua lagunya. Tidak perduli pada kenyataan bahwa dia sering gonta-ganti pacar, tidak juga perduli pada banyaknya musuh yang telah dia buat, aku akan tetap cinta Taylor Swift karena karyanya. "Reyna Putri Baskoro." Kakakku memanggil nama _ lengkapku. Itu maksudnya, cuma satu. Dia sedang serius. Dan aku segera mematikan music yang aku nyalakan di player mobil kak Ranum. "Lo itu serius ya?" "Serius yang bagian mana ya kak?" "Serius lo mau nikah?" "Tyalah." "Cuman gara-gara tiket konser Taylor Swift?" "Kok cuman? Ini world tour loh kak. Semua tiket konsernya. Dan nggak cuman tiket kok gue dapatnya, biaya akomodasi, makan sama hotel juga dapet." "Dek, nikah itu artinya lo habisin sisa hidup lo sama dia. Kalo lo hidup sampe 80 tahun, 60 tahun hidup lo sama-sama dia terus." "Nggak apa-apa. Yang penting sampe umur gue 80 tahun Taylor Swift masih tetep berkarya, gue nggak masalah." Kakakku menghembuskan nafas. Dia seperti sedang berfikir, banyak yang pengen dia omongin tapi nggak tau harus mulai darimana. "Lo mau makan apa?" Tanya kakakku setelah kami masuk ke restoran dan memegang buku menu. "Samain kayak pesenan lo deh." Kataku, menutup buku menu _lalu kembali fokus dengan ponsel sementara Kak Ranum memesan makan siang. Kak Ranum memandangiku menyelidik setelah selesai memesan makanan. "Toh, yang sebenernya nikah itu kan elo, bukannya gue. Itu cuman akal- akalannya si papa aja, biar lo nggak melarikan diri. Kalaupun ntar lo kawin lari sama cowok lain, paling nggak lo bakal ngerasa bersalah seumur hidup karena rela ngorbanin adiknya buat kebahagiaan sendiri." Jelasku panjang lebar tanpa ditanya dulu, serba salah kalau kakakku sudah pake acara pandang-pandangan intens. Masih bingung? Jadi gini, sebulan lalu tuh, nggak ada hujan nggak ada angin, mendadak pas acara makan malam, Pak Adhi Baskoro a.ka bapakku buat pengumuman kalau Kak Ranum bakal dijodohin sama anaknya teman bisnisnya bokap. Alasannya sih sepele, tanah yang berhektar-hektar milik mereka yang mau di beli perusahaan bokap nggak bakal bisa bebas gitu aja kecuali salah satu anak perempuan bokap mau nikah sama anak tertua mereka yang umurnya udah kepala tiga. Masalahnya, anak bokap yang paling nggak berguna (aku maksudnya) nggak bisa dikorbankan karena umurnya masih belum cukup menurut hukum Indonesia. Dan masalahnya lagi, berhubung aku punya kakak yang usianya cukup buat nikah dan menurut adat istiadat kalau ngelangkahin kakak nikah itu pamali, jadi mau tidak mau, kakakku lah yang akhirnya disodorkan. Dan untuk berjaga-jaga supaya kakakku nggak melarikan diri, aku, yang bakal jadi jaminannya. Jadi, kalau kakak mendadak ngilang atau kabur, aku yang bakal maju jadi calon istri. Bahkan, bokap nyuruh aku tanda tangan surat- surat buat syarat nikah, kalau-kalau aku nanti juga kabur. Rugi Bandar katanya, jadi kalau pada akhirnya kakakku nanti yang akhirnya nikah, surat-surat itu nggak akan berlaku. Dan aku mau? Yaiyalah aku mau!! Tiket world tour 1989 Taylor Swift plus biaya akomodasi, penginapan, makan dan visa setahun melanglang buana ke empat benua gitu loh. Terus, belum tentu juga aku yang bakal nikah. Apa nggak jackpot tuh namanya. "Emang lo nggak ada niat buat nikahin itu om-om?" "Lo udah liat belum tampangnya? Arogan gitu, bukan tipe kakak banget." "Kak, makanya jangan banyakin baca novel. Nggak bakal ada tuh yang namanya CEO muda, ganteng, bodi bagus, perut ala roti sobek, baik, yang cuman bisa lihat satu cewek yang tampangnya standar dan bodinya biasa. Kalo ada, itu namanya ngimpi!" Kataku, nyinyir membuat wajah kakakku yang sedari tadi serius ganti lebih rileks. "Gitu dong, senyum." "Kenapa sih bokap lo itu kejam banget sama gue?" "Idih, bokap lo kali. Bukannya elo yang kesayangannya Pakdhe Adhi Baskoro ya? Gue kan bukan anaknya, cuman keponakan!" Kataku béte, karena selalu iri sama Kak Ranum yang diperlakukan istimewa sedangkan aku biasa saja, malah kadang-kadang aku mikirnya aku ini bukan anaknya tapi keponakannya. Kak Ranum berdecak, ia melipat tangannya di dada saat pesanan makan siang kami datang. "Emang, kakak punya calon lain sebenernya?" Tanyaku sambil menikmati memasukkan daging ke dalam panci shabu-shabu yang dipesannya tadi. Dia menggeleng. "Nggak ada sih dek. Gimana gue bisa pacaran sementara setelah gue lulus_ kuliah langsung bantuin bokap di perusahaan, pulang lembur tiap malam selama tiga tahun belakangan ini." "Emang di kantor nggak ada yang bening-bening gitu?" "Ya pasti adalah. Tapi ya gitu, 50 persennya udah nikah, 50 persennya lagi hobi bikin sakit hati. Gue sih nggak nyari yang bening, butuhnya yang baik." "Asisten manejer lo tuh, siapa namanya?" "Kenapa sama Gio?" "Dia kan baik. Disuruh-suruh sama lo kemana-mana kan selalu mau. Dengan kenyataan dia jauh lebih tua dari lo." Aku sudah mulai memasukkan daging ke dalam mulutku. "Udah sama dia aja lo." Kakakku tersenyum mencurigakan, "Lo nyadar nggak, kalau gue sama Gio jadian, menurut lo siapa yang bakal nikah sama itu om-om?" Mataku melotot diiringi kunyahan yang mendadak jadi pelan. Spontan bikin kakakku ngakak. "Nggak apa-apa kan Lagian aku juga nggak bakal ngerasa bersalah. Kamu udah dapet tiket World tour Taylor Swift plus-plus. Lo bahagia, gue juga bahagia. Makanya, jangan terlalu ngidolain Taylor Swift, dia mau nolongin elo lari dari acara nikahan? Itu) namanya ngimpi!!!" Katanya membalikkan ceramahku tadi. Telak. 2K SATU DESEMBER, 2015 Sumpah, ini adalah tahun terbaik yang penah terjadi di dalam hidupku. Nonton world konser-nya Taylor Swift dengan bonus bisa ke benua Amerika, Eropa dan Australia. Main ke Jepang bahkan additional dates yang diumumin di bulan Juni kemarin buat di Shanghai dan Singapura, dikasih tuh tiketnya sama bokap. Apa nggak surga itu namanya? Sementara, kakakku yang nikah bulan Juni juga membebaskanku jadi jaminan pengganti calon mempelai wanita. Siapa yang ngomong kalau sedih sama hepi itu datangnya selalu satu paket? Buktinya, aku, heeeepppiiil... Ketemu temen-temen SMA yang sebagian kuliah di luar negeri, ketemu bude Rahma yang menetap di Kanada dan ketemu Taylor Swift yang jelas. Terus nih, nggak tahu kenapa, bokap jadi perhatian sekarang. Pokoknya yang dulu biasanya tiap kali bokap panggil aku "Reyna." dan selalu kujawab dengan sopan, "ya pakdhe!" sekarang berubah. Iri sama kak Ranum? Itu mah, Reyna umur 20 tahun, Reyna yang baru sih, Reyna yang baik hati, pengertian dan nggak cemburuan. Sarah Aurelia : Rey, lo jadi balik tanggal 18? Reyna P Baskoro : lya. Nggak mungkin balik tanggal 20 lebih. Natal. Pasti rame. Andhita Ramlan Y : Lo nggak lupa oleh-oleh buat kita kan? 000 Reyna P Baskoro : All set. Tenang aja. Gue bukan sahabat yang kejam. Gimana info tentang kakak gue? Sarah Aurelia : Emang sesuai kok sama info elo. Jangan mikir aneh-aneh. Andhita Ramlan Y : Babang gue juga bilang kalau acara nikahannya dimeriahin habis tahun baru. Nungguin elo. Reyna P Baskoro : Emang gue nggak boleh curiga. Dia susah dihubungin enam bulan terakhir ini. Andhita Ramlan Y : Tenang. Aman. RK Sombong, mendahului takdir, informan kelas teri. Hanya kata-kata itu yang bisa berputar di kepalaku sekarang. Tidak ada hal yang mencurigakan, bahkan setelah seluruh dunia ikut merayakan Ultahku. Bukan maksud congkak, tapi aku memang lahir di bulan Januari lima belas menit setelah jam 00.00 tanggal satu. Jadi pas nyokap ngeden ngeluarin kepalaku, semua orang sibuk lihat kembang api. Pakdhe Adhi Baskoro (balik lagi manggil Pakdhe soalnya lagi dalam mode marah on) dan istrinya, bikin surprise party dirumah. Bahkan sampe ngundang — sahabat-sahabatku. Tema ultahpun sesuai dengan _ seleraku. Semuanya serba Taylor Swift. Kadonya mau tahu? Mobil keluaran eropa yang harganya bisa bikin mata _ melotot meskipun aku tahu, bukan masalah besar mengeluarkan uang dengan jumlah segitu. Membiarkan aku ngobrol bareng temanku sampai pagi, dan 'tewas' di kamar sampai sore. Malamnya, tanpa banyak bicara bokap masuk kamar membawa sekotak besar kado warna krem dengan pita putih. "Masih ada lagi pa kadonya?" Tanyaku pada bokap yang cuman mengangguk. "Kado utama. Dari papa, mama sama kak Ranum." Masih niat mau buka kado yang sekarang di letakkan di sampingku, di tepi ranjang, Pakdhe Adhi Baskoro buru-buru pamitan. Perasaanku tidak enak. Dan rasanya KLIK! Puzzle- puzzlenya berada di tempat yang tepat. Kenapa kakakku nikah bulan Juni tanpa menungguku pulang, bokap yang bilang kalau pesta resepsinya bakalan di gelar awal tahun, Kak Ranum yang nggak bisa dihubungin selama enam bulan terakhir (yang alasannya si Adhi Baskoro katanya lagi bulan madu, kalau enggak lagi perjalanan kerja ke luar negeri, kalau enggak gitu, sibuk ngurusin pindahan rumah baru dan yang terakhir, katanya sekarang ini mereka lagi liburan ke Dubai sama suami buat nikmatin malam tahun baru dan planning momongan), bokap yang mendadak jadi baik dan _perhatian. Ngasih tiket tambahan konser Taylor Swift yang di Shanghai sama Singapura secara cuma-cuma. Sementara informan kelas teri yang kumintai tolong, yang cuman bisa nanya ke babangnya atau ke tetangga sebelahnya yang memang kerja di perusahaan bokap, cuman bisa benerin semua yang mereka tanyakan. Bahwa kak Ranum nikah, bahwa semuanya aman dan baik-baik saja. Nyesel sudah sombong duluan, mikir bahwa rencana lancar dan bilang kalau paket hepi itu nggak selamanya sama sedih. HAH! Paketku sih bukan hepi sama sedih. Yang ada, hepi sama serangan jantung. Aku melirik kearah kotak yang sekarang sudah terbuka tutup atasnya, Dress lengan panjang berwarna putih, berbahan tulle dan lace yang cantik. Duh Gusti... Kayaknya, jaminan masih berlaku. Ada kartu disana. Dengan _hati-hati aku membuka kartu sambil mempersiapkan diri dengan skenario terburuk. Tulisan tangan nyokap! Sayang, besok ke penghulu. —mama— Kiamat sudah. Hidup gue... SRR KK DUA Tiap kali menatap cermin, hatiku mencelos. Ingat bagaimana kakakku berkhianat. Penjelasan panjang lebar dari nyokap tidak masuk ke dalam telingaku. Kata-katanya muter-muter di luar kepalaku dan kemudian bablas begitu saja tanpa ada keinginan masuk ke otak. "Kawin lari sama Asistennya. Mama juga nggak di pamitin. Itu— bocah, durhaka deh. Bukan karena nggak mau nurutin papa kamu di jodohin, tapi main kawin aja. Mama _ papanya_ nggak diundang, gimana tuh? Dan selama ini, kakak kamu tuh nggak ada gelagatnya kalau punya pacar atau apa. Kan bisa ngomong baik-baik gitu. Walaupun mungkin papa kamu nolak, paling nggak mama tuh pasti dukung dia. Lha ini, mendadak ngilang nggak jelas, tau-tau denger kabar dia kawin sama asistennya." "Dia juga kok nggak mikir gitu, kalau sampai dia kayak gitu adiknya yang tanggung jawab. Yah, walaupun sebenernya kamu sendiri yang mau jadi jaminan." Dan yang kuingat jelas, nyokap menekan kata 'mau' lebih dalam. Nyesek nggak sih. Si Ranum manggil dia aja om-om, terus apa kabar saya, yang jarak usianya lima tahun lebih muda dari Ranum, mesti manggil dia apa? Pakdhe? Panggilan yang biasanya aku sandangkan tiap kali ngamuk sama bokap? Hadeh. Skenario terburuknya, kaluarga calon suamiku tuh, kayaknya dari keturunan ulama-ulama = gitu. «9s deh. ~=— Merrtua perempuan yang pagi tadi aku temui, berhijab cantik model ala-ala Syar'i. Walaupun pas ketemu nyokap tetep heboh model emak-emak yang lain, tapi tetep kan. Aku, yang masuknya golongan, islam KTPnya doang, masa mesti sandiwara rajin ibadah. Ini hubungannya sama Tuhan loh, masa mau rajin ibadah cuman_ gara-gara kepepet? Bayanganku di cermin benar-benar bikin aku freak out. Baju nikahku putih kinclong(ngalahin jemuran sprei di iklan diterjen di tv) dari atas kebawah. UNtung kepalaku tertutup kerudung yang nggak tahu apa sebutannya dari kalangan hijaber(kerudungnya _lilit-lilit di kepala terus masih di pakein lagi kerudung panjang putih model brokat), kalo nggak pake kerudung, terus rambut panjang sepunggungku dibiarkan tergerai, apa nggak kunti itu namanya. SRR AK RK Pestanya meriah, tamu-tamunya yang datang, semuanya luar _biasa(niruin gayanya Ariel Noah) hanya saja rasanya, aku kesepian. Nggak ada temen yang dateng, nggak ada Ranum, yang walaupun kemarin aku membencinya setengah mati tapi sekarang aku berharap kalau dia ada disini. Bahkan duo sahabatku dari SMP pun nggak ada yang muncul. Aku duduk di tepi ranjang hotel sejam kemudian, setelah acara resepsi selesai. Kakiku nyut-nyutan. Berdiri hampir lima jam tanpa ada tanda-tanda bisa duduk(bahkan makan) membuat otakku kosong. Tidak membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya saat suami masuk kamar, tidak berniat untuk mengganti pakaian nikahku. Mataku _berkeliling melihat kamar suite yang aku tempati. Dihiasi bunga-bunga segar dan di tengah ranjang yang sedang kududuki sekarang ada taburan bunga mawar merah membentuk hati (tapi entah kenapa rasanya bukan jadi romantis tapi kok kayak di kuburan) lalu koperku yang besar diujung ruangan. Oh, koper! Karena proses yang terjadi begitu cepat, kurang dari dua puluh empat jam bahwa berita aku menikah menggantikan kakakku, aku yang tidak mengerti apa- apa jadi semua _ persiapan sudah dilakukan ibuku. Mengangkat dress pengantinku keatas, aku berjalan etlanjang kaki menuju ke pojok kamar, membongkar isi koperku. Setumpuk baju yang masih baru, dengan berbagai warna berbeda tapi model yang sama (semuanya model gamis, lengan panjang, dari bahu lurus terus kayak jalan tol sampai ke pangkal kaki), kerudung langsungan dengan beberapa warna, beberapa pasang underwear yang juga baru. Yah, paling tidak, baju ini serba tertutup. Bisa membuatku, paling tidak, beradaptasi dengan lingkungan baru para ulama. Saat suamiku masuk, dia diam di depan pintu, memandangiku yang sedang berjongkok dan menoleh sambil melihatnya balik. Gimana = aku manggilnya dia? Mas? Om? Kakak (iyuh, kok geli banget dengernya)? Pakdhe? Jangan pakdhe ah, ntar dia sakit hati. Aku _ bangkit,berjalan _ kearahnya. Tanpa disuruh, seperti insting dan seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, aku membuka resleting gaunku yang megah. "Kamu mau apa?" Tanyanya, suaranya terdengar sadis. "A.. Sa— Maksudnya aku mau, inikan kita—" Belum selesai aku bicara, dia menatapku sinis. Sumpah ya, kalau dia nggak pake kacamata setebal kaca nako sekarang ini, sudah kucolok matanya. "Kamu nggak tahu ya kalau nggak boleh lepas baju di depan suami kamu?" "Kenapa?" Tanyaku bingung. Tampangku pasti udah kayak orang tolol. "Dosa." "Kok dosa. Bukannya udah muhrim?" "Kenapa orang wudhu itu, kalau muhrim-nya nggak batalin wudhu? Sementara suami istri kalau sudah wudhu, terus sentuhan bisa batalin wudhu?" Hah? Kenapa coba? Ini dia ceritanya mau ngetes agama islamku sampe sejauh mana gitu. terus aku jawabnya apa? Nggak mungkin kan googling dulu. "Dasar islam KTP." Kata-katanya menohok. Duh Gusti, kalau tadi nikahan rasanya nyesek, sekarang rasanya tuh gontok campur malu luar biasa. FRR RR TIGA JANUARI, 2016 Semenjak di komenin islam KTP, sekalipun aku nggak pernah pamer aurat di depan si Daffa. Jadi nih, dia itu sekalipun belum pernah lihat wujud asliku yang tanpa kerudung dan tanpa baju kedodoran. Padahal pengen banget pamer kalau aku ini jauuuuhhh lebih oke dari dia. Dasar, geek sombong. Tiga hari di hotel, dan tidur di tempat terpisah tanpa ada keinginan dari bapak Daffa yang terhormat buat say hai atau bahkan masuk ke area kamar tidur tempat aku berada, membuatku merasa kotor tau nggak sih! Cih, kayak aku ini cewek agresif yang hobi ngejar laki dengan buka resleting baju. Kalau ingat kejadian tiga hari lalu, sumpah ya, tiap ketemu dia pengen deh nonjok atau nyulik dia terus dipukuli di tempat. Kesannya tuh kayak aku ini ngejar- ngejar dia gitu. Halo? Siapa dia coba? CEO ganteng kaya raya baik hati yang cuman lihat cewek biasa dan bodi rata. Cih, najis banget. Tampangnya nerd (rambut madul-madul, kacamata kuda, sama jenggotnya kayak Osama) cuman menang di bodi doang. Nggak sebanding banget sama aku. Bukannya sombong nih, cowok yang paling ganteng di SMA dulu (Namanya Alvian Anggara Nugroho-kalau mau tahu) ngejar aku aja nggak aku lirik, nah ini. Pengen banget nginjek tuh muka. Apalagi bentuk badanku yang kata teman-teman kakakku, bikin ngiri. Untung nih aku pake kaftan (setelah googling model bajuku yang di koper), kalau enggak, udah mupeng dia. Daripada sakit hati, rasanya tuh lebih ke emosi. Tapi, jangan-jangan dia itu— Ya ampuuun... Kok aku _ nggak kepikiran sampe sekarang sih? Si Daffa ini, jangan-jangan sebenarnya suka sama Kak Ranum. Terus emosi gara-gara kakakku kawin lari sama cowok lain. "Kenapa belum packing?" Tanya Daffa yang mendadak muncul kayak jin, tanpa suara. Matanya masih fokus ke ponsel. Packing? Maksudnya apa lagi ini? "Kenapa packing?" "Sepuluh menit lagi kita check out." "Kamu nggak ngasih tahu aku." Untuk pertama kalinya dia mengangkat wajah, melihatku. "Ini udah dikasih tahu. Cepetan. Kalau sampe sepuluh menit belum beres, kamu aku tinggal." dia balik badan dan kembali sibuk dengan ponselnya. DUAR!! Jangan kaget, itu suara kepalaku yang meledak akibat emosi yang kelamaan ditahan. "KENAPA NGGAK BILANG DARI KEMARIN? APA DIMULUT LO ITU ADA BERLIANNYA SAMPE NGOMONG AJA NGGAK MAU!" Teriakku emosi. "Tinggal delapan menit." Katanya dengan kepala saja yang nongol ke ruang tidur. Kalau mutilasi itu nggak dosa dan nggak dipenjara, udah dari kemarin ini manusia satu aku sate. oR RK "Aku pikir nih mbak, mas Daffa nggak bakal jadi kawin. Eh, ternyata tetep. Walaupun pengantinnya beda. Namanya juga dijodohin, mau gimana lagi. Tapi aku denger, Mbak Rey ini, tahun kemarin lihat konsernya Taylor Swift ya? Enak banget gitu, setahun cuman melancong tanpa di protes orang tua, lihat idola manggung dari satu Negara ke Negara lain. Pasti seru banget kan. Aku sih juga tahu Taylor Swift dan suka beberapa lagunya, tapi kalau boleh jujur sih, aku lebih suka yang asia gitu. Unyu- unyu." Panjang... banget ngomongnya. Dia itu sama kayak salah satu sahabatku, si Andhita. Berhubung sahabatannya sama _ si Andhita sejak SMP, pas 'ditemplokin' adik si Daffa yang emang ceriwisnya minta ampun, jadinya kebal. Beda usia Gladys(nama_ = adiknya_—s si_— Daa ffa) denganku hanya dua tahun. Dia lebih muda. Dan bagusnya, ukuran badannya sama-sama mini kayak aku. "Kamu suka k-pop?" "Yoi. Ih, keren nih. Mbak Rey tahu k- pop. Aku pikir cuman suka barat aja." Dia nyengir. Semenjak check in dari hotel dan nyampe dirumah ini(kayaknya ini rumah punya keluarganya si Daffa, soalnya rumahnya tiga kali lipat lebih besar dari rumah si Adhi Baskoro), keluarga Daffa menyambutku antusias. Kalau Gladys begini saja udah heboh, nah, emaknya si Daffa jauuuuhbhbh... lebih heboh lagi. Dari semua omongannya yang kesana-kemari aku bisa) memproses dengan cepat bagaimana keluarga ini. Nyokap Daffa itu ternyata anak tunggal, sementara bokap Daffa itu cuman dua bersaudara. Sama kayak Daffa dan Gladys. "Mau bilang apa dia sekarang sama si Daffa kalau sekarang Daffa udah nikah. Enak aja ngatain Daffa bujang lapuk. Daffa nikahnya aja belum kepala 3, sementara itu. anaknya tante Ratri nikahnya udah umur 34. Ngimpi dia sekarang, mau nyaingin Daffa. Ya nggak Dys?" Info baru lagi. Kupikir, usia Daffa emang 30 something, soalnya tiap denger Kak Ranum manggil dia Om-om, aku mikirnya dia memang kepala 3. Beneran ini, ternyata aku nggak tahu apapun tentang Daffa. Halah, nggak usah ngerasa bersalah juga, itu sodara yang terhormat belum tentu mikirin aku balik. "Ratri siapa sih Dys?" Tanyaku sejam kemudian setelah ngobrol panjang lebar dengan orang tua Daffa dan patung pancoran yang mendadak pindah duduk di dekatku(saking Daffa-nya nggak banyak gerak dan ngomong, cuman hemm-hemm doang) sambil sibuk melototin ponsel di tangannya. "Adik bokap. Ntar deh kalo ada acara keluarga, mbak Rey bakal tahu siapa dia. Nyinyirnya minta ampun. Orang tuh kalau kumpul sama orang lain kan bicaranya baik-baik, kalau tante ratri itu, suka bikin emosi. Beneran." "Mbak yang sabar ya sama mas Daffa. Dia itu, agak-agak nggak tertarik gitu sama yang namanya komitmen." "Maksudnya, dia suka main cewek gitu?" Tanyaku was-was. Gladys ngakak. "Nggak. Bukan yang begitu. Dia mah jarang kelihatan bareng cewek." "Belok gitu maksud lo?" Tanyaku lagi sambil memakai tanda kutip dengan jariku. "Enggaklah. Nggak suka _bareng cowok berdua-duaan kok." "Yah, elo kan nggak tahu." Kami diam sejenak saat Daffa lewat di depan kami menuju dapur. Dan matanya masih melototin ponsel. Semoga ke jedot pintu tuh kepala, jalan bukannya lihat depan malah liatin ponsel. Nerd belagu. Oh iya, mana mungkin dia gay, nggak bakal laku. "Th, kok malah ketawa sih mbak? Kesambet?" "Kesambet jin penunggunya abang lo." Kataku di sela-sela tawaku. "Gue salah kalau bilang babang lo belok. Nerd kayak gitu, mana mau para gay." "Th... Jangan ngatain mas Daffa nerd ya. Dia itu jauh lebih laki dari Gong Yo oppa." "Bwahahaha..." "Rey, balik sekarang." Katanya dingin dari balik punggungku. Spontan, membuat tawaku berhenti. oR KR EMPAT "Pilih kamar yang kamu suka." Katanya begitu pintu rumah dibuka. Dia masuk sambil menarik kopernya tanpa menunjukkan dimana kamarnya. Rumah ini memang nggak sebesar rumah yang tadi (dan bener dugaanku kalau ternyata tadi rumah keluarga Daffa) tapi dengan bangunan dua lantai dan lumayan luas aku suruh muter-muter dulu maksudnya biar dapet kamar. Daffa memandangi dengan ekspresi penuh tanya saat aku — sudah disampingnya. "Apa?" Aku langsung tanya, sedetik setelah manik mata kami bertemu. Mimik mukaku nantang. "Cari kamar lain." Jawabannya singkat, sesingkat dia lihat tampang murkaku dan lebih milih sibuk dengan ponselnya. "Kamu lagi main game C-O-C ya?" Keluar sudah pertanyaan yang selama tiga hari ini nangkring di ujung lidahku. Gara-gara saking sibuknya dia melototin ponsel tiap kali kami sama-sama, salah ding, tiap kami disatu area yang sama. "C-O-C2?" Sumpah, mukanya pas nanya barusan, nggak cukup kalo di bilang nyebelin, antara menghina sama ngeremehin. Tonjok-nggak-tonjok- nggak? Sabar Rey, sabar. Orang sabar pantatnya lebar!! Dan bukannya berusaha menunggu jawabanku atau berusaha menjawabku, dia langsung masuk ke kamarnya. Menutup pintu kemudian, Ceklik-ceklik. Pintu kamar di kunci. Cih, najis banget. Takut diapa-apain sama aku maksudnya, sampe kamar aja di kunci? "KELUAR LO. BERANTEM YUK!! TADI AKU LIHAT ADA LAPANGAN TUH DEKET RUMAH KAMU!" Dampratku dongkol. Tapi tidak seperti tadi pagi yang masih mau nongolin kepala, ini, nggak ada reaksi sama sekali. Sabar Rey, sabar. Orang sabar pantatnya— Seminggu lagi aku sama dia dan masih sabar, pantatku pasti nggak cuman lebar, tapi luber!! RRR Aku memutuskan mengambil kamar yang ada di lantai dua. Selain ruangannya yang rasanya pas dengan auraku (kayak ahli fengshui aja. Hadeh) alasan lainnya, biar aku nggak lihat muka suami geek nyebelin sombong hobi bikin tensi darah naik (dan bisa dipastiin lebih manjur dari sate kambing) berjenggot kayak Osama. Di lantai dua, memang beda sama lantai satu, hanya ada dua ruangan. Satu kamar plus ruang mandi dalam, balkon dan satu ruangan kosong yang belum diisi apapun. Kalau sampai si iblis dibawah memperbolehkan aku menguasai lantai dua, rencana sudah tertata rapi di kepala. Yang jelas, ruangan kosong ini bakal aku jadiin tempat leyeh-leyeh favoritku dan mengisi semua sudutnya dengan semua hal yang ada hubungannya sama Taylor Swift. Jadi, semua koleksiku, bisa aku pindahkan kesini. Sementara hobi koleksiku yang lain (dan nggak ada sangkut pautnya juga aama Taylor Swift), bisa aku simpan di dalam kamar. Satu lemari besar mungkin cukup untuk koleksiku. Urusan ranjang, (ganti, nggak enak dengernya) urusan kasur, yang aku duduki sekarang sudah cukup. Aku ini tiap cium bantal bisa langsung tidur. jadi, mau tidur di tendapun, langsung bisa ngorok. Apalagi springbed mahal kayak begini. Sarah Aurelia : Rey, lo masih hidup kan? kabarin kalau lo ada waktu.0 Anandhita Ramlan Y :Iya nih, dari tiga hari lalu nggak bisa dihubungin. Lo jangan-jangan nyusulin kak Ranum ke Dubai ya? Sarah Aurelia : Kalau ke Dubai, nitip oleh-oleh yang dari ATM emas dong Rey. Anandhita Ramlan Y :Gue juga mau kalo itu. Dari kemarin oleh-oleh dari dia cuman kaos. Ada gitu ceritanya, bawain oleh-oleh dari luar negeri dan datang ke empat benua cuman kaos. Disini kaos mah banyak Rey. Sarah Aurelia : berdo'a saja dia jawab kita Ta.0 Anandhita Ramlan Y : Moga nggak ada berita aneh-aneh besok. Kayak ada mayat ditemukan di pinggir selokan dengan beberapa bagian tubuhnya menghilang. Reyna P Baskoro : Bangke lu pade! Sarah Aurelia : Lo hidup Rey? Anandhita Ramlan Y : Lo diculik? Alien ya? Mau dong kalo yang nyulik bangsanya Do Min joon. Reyna P Baskoro : Belum bisa move on lo? Udah 2016 keles. Sarah Aurelia : Darimana aja sih lo. Reyna P Baskoro : Kawin. Eh salah, nikah ding. Anandhita Ramlan Y : Mbaknya ini, kalo becanda suka ngenes deh. Kawin sama siapa situ? Pasangan aja belum ada. Jangan-jangan lo ketemu fanboy Taylor Swift ya? Reyna P Baskoro : Fanboy? Iyuhh.. Amit-amit deh. Aku memang suka Taylor Swift tapi nggak bakal jatuh cinta sama fanboy Taylor Swift. Nggak asik kan, kalo tiket konser tinggal satu terus kita rebutan. Sarah Aurelia : Serius deh, lo kemana aja. Reyna P Baskoro :Busyet deh. Kan udah gue kasih tau tadi. Anandhita Ramlan Y : Nikah?0 0? Sarah Aurelia : Beneran? Reyna P Baskoro : Beneran. Samber gledhek deh kalo bohong. Gue bahkan sekarang punya rumah dua _lantai. Rumah baru yang sepertinya baru selesai di bangun beberapa bulan yang lalu. Anandhita Ramlan Y : Apa? Seriusan?? Kita tunggu ceritanya deh. 2 RK LIMA Setelah kejadian ngajakin berantem sepuluh hari yang lalu dan muter-muter nyari kamar yang cocok dirumah Daffa, dia akhirnya menunjukkan taringnya. Apakah kalian berharap, dia bakal ngomong banyak nerangin ini itu? Atau mikir kalau dia bakal cerewet bilang tentang batasan? Tidak sama _sekali saudara-saudaraku tercinta. Usahanya untuk diam membisu, tapi keinginannya buat bikin aku darah tinggi, sungguh dikerahkan!! Contoh nih. Dia nggak bilang kalau aku nggak boleh masuk kamarnya, tiba- tiba aja besoknya ada 'papan iklan' warna kuning, tulisannya "DILARANG MASUK KECUALI ANJING." Idih, niat banget gitu? Ngapain juga aku masuk ke kamarnya. Emang dia pikir aku ini ABG yang gampang penasaran. Terus, apa dia juga nggak nyadar, kalau dia sedang ngatain dirinya sendiri bangsanya Chihuahua? Kan dia yang masuk ke kamar itu tiap hari. Contoh lain. Karena nyadar nggak pengen jadi benalu (dia ngasih aku kartu debit buat kebutuhanku, dan bakal diisi dengan nominal yang sama tiap bulan), aku bangun jam empat pagi. Beres- beres, masak buat sarapan, nyuci baju, pokoknya nyiapin semuanya. Dia keluar dari kamarnya sambil lihat jam dinding di ruang keluarga. "Kamu nggak tau ya kalo adzan subuh masih sejam lagi? Berisik banget jam segini? Oh iya, aku lupa, kamu kan islam KTP." kemudian masuk kamarnya lagi. Contoh yang lain lagi, "Kamu nggak sarapan?" Tanyaku saat dia buru-buru jalan setelah keluar dari 'sarang'nya. Dia balik badan, menghadapku yang sudah duduk di meja makan lalu berjalan mendekat. Dan wajahnya menggambarkan ekspresi, ehm, bukan jJijik, kayak, yakin kamu nyuruh aku makan ini!, setelah melihat masakanku. Padahal, aku sudah nyiapin semuanya. Ada roti, nasi goreng, smoothie bahkan aku bikin salad. Aku!! Yang benci sayur, bikin salad. Aku bertahan hanya dua minggu. Dua minggu tanpa ngadu ke Dhita dan Sarah. Cukup. Ini sudah cukup. Aku perlu dua sahabatku, kalau sampe nggak ketemu juga hari ini nggak bisa jamin nyawa iblis satu itu, akan selamat nanti malam. ORR KR Sarah dan Dhita saling pandang setelah mendengar cerita panjang dariku. Ini sudah dua kali mereka saling pandang setelah sebelumnya lihat aku muncul pake hijab. Muka mereka bengong kayaknya paham ceritaku tapi bingung mau bereaksi gimana. "Jadi elo gimana?" Tanya Sarah kemudian. Aku menatap Sarah, "Ya _ kawin, maksud gue nikah. Menurut lo? Kabur gitu?" "Jadi tampang laki lo gimana? Ganteng? Kayak di cerita-cerita wattpad gitu nggak. CEO muda, ganteng, yang cuman ngelihat-" "Lo lanjutin ngomong, gue tombak nih." Sahutku sambil bergidik geli membayangkan punya pasangan impian yang disebutkan Dhita barusan. Bukan apa-apa ya, masalahnya tiap inget sama yang tajir dan ganteng, aku selalu keinget sama Alvian. Si Alvian boleh punya itu semua, tapi selalu bisa bikin geli tiap dia ngegombal. Sumpah, ilfeel. Contoh nih, Rey, lagi pengen teh nih. Dan tanpa menunggu reaksiku dia langsung ngomong, fteh- rima kamu jadi pacarku.. "Beneran tampangnya kayak yang diomongin si Dhita?". Tanya Sarah setelah menyeruput lemon tea-nya. "Kalo bener, lo cepet cerai deh. Gue mau kok ngegantiin posisi elo." Kata Dhita. "Eh, tapi kalau dia sekeren kayak di cerita wattpad, lo bakal susah jatuh cinta dong sama suami lo?" "Karena ngingetin sama Alvian?" Tanya Sarah. "Bukan, lo inget nggak, sebelum Rey suka Taylor Swift? Dia kan naksir sama Noval. Noval yang terkenal geek dan nerd itu! Malah kita sempet maksa dia ke optic buat periksa mata. Lo inget nggak?" Dan keduanya ketawa, mengingat kejadian beberapa tahun lalu saat kami masih pake putih biru. Aku berdecak. Sebenarnya alasan utamanya bukan karena model Noval yang kutubuku. Tapi selain dia kelihatan anak baik-baik yang nggak suka bikin orang lain sakit hati, dia juga perhatian dan kayaknya menghargai cewek. Tipekal gentleman. "Suami gue geek kelas kakap malah. Lo tau nggak, kacamatanya tuh setebal kaca nako plus jenggotnya kayak Osama Bin Laden. Main hape mulu kerjaannya. Kalah deh ABG labil yang lagi jatuh cinta." Dan tawa mereka kembali membahana. "Ati-ati. Cinta itu tumbuh karena kebiasaan. Apalagi, dia nerd." "Ya lihat dulu kebiasaannya. Laki gue sih, hobinya bikin © sakit hati. Ngomongnya irit, kayak kalau dia ngomong itu, berlian rontok dari dalam mulutnya." "Terus hari-hari lo gimana sekarang? Udah dua minggu jadi istri orang." Tanya Sarah. "Biasa aja, gue bangun pagi, bikin sarapan, nyuci, bersihin rumah. Tugas babu gitu." "Ampun suami lo. Bukannya dia anak orang kaya ya? Emang nggak bisa, nyari PRT gitu. Kesian banget nih kesayangan kita Sar. Cup-cup.. Sini anak mami." "Gue yang mau. Gara-gara udah kebiasaan. Gue juga nggak kuliah kan setelah lulus SMA, cuman ambil beberapa les. Terus mandeg gara-gara kemarin ngintilin Taylor Swift." Untuk ketiga kalinya, keduanya berpandangan. "Ya ampun, elo emang bini baik deh Rey." "Kapan nih kita dikenalin sama laki lo." "Jiah, najis banget mau ngenalin dia ke kalian. Kayak dia penting aja. Bisa besar kepala entar." Sahutku, sewot. Ingat betapa menyebalkannya Saudara Terhormat Eldaffa Pramudya Wirawan. "Kerja dimana sih sebenernya dia?" "Tau. Gue juga belum nanya-nanya ke Gladys. Males banget." Aku melihat pergelangan tanganku. Jam satu siang. "Sholat dhuhur dulu yuk. Udah jam satu lebih nih." Well, ini sebenarnya bukan karena sakit hati dikatain si Daffa kalau aku islam KTP, Tapi karena malu. Setelah kejadian di hotel hari itu, aku juga banyak googling dan beli beberapa buku tentang keislaman. Dan juga baru tahu, kalau buka baju di depan suami sah itu nggak dosa. Jangankan buka baju, naked aja banyak pahala depan suami sendiri, apalagi cuman buka baju! Nah, kalau urusan wudhu itu karena kalau antara’ss suami_—_sistri__—itu menimbulkan, ehm, birahi, jadi bisa membatalkan wudhu-nya. Karena sholat adalah tiang agama, makanya aku mulai darisana dulu. Dan sekarang jadi kebiasaan. Kalau ketinggalan, rasanya ada yang kurang. Kedua sahabatku, entah untuk yang kebarapa_ kalinya, saling pandang. "APAAN SIH?" Tanyaku gahar. Dua-duanya bangkit —bersamaan. "Well, gue sama Sarah ngerasa elo banyak berubah," "Tapi, tenang aja. Berubahnya jadi berubah lebih baik kok." Kedua sahabatku merangkulku menuju kearah masjid kampus. Iya, hari ini aku mengunjungi mereka di kampus. "Tau gini, dari dulu aja lo kawin." "Enak aja!" 2h oe 2k ok ENAM Gladys menyambutku antusias saat aku dan Daffa masuk ke dalam rumah beraksitektur bangunan Belanda lama, acara makan malam keluarga besar Daffa yang memang selalu mengadakannya_ setidaknya, sebulan sekali. Kata Gladys sih, buat mempererat silaturahmi. "Nah, ini dia newlywednya sudah datang." Sambut oma-nya si Daffa (secara dia yang paling tua disini) saat kami menghampirinya di kursi roda. "Aih, cantiknya.. Ini yang namanya Reyna kan?" Katanya lagi setelah acara cium tangan lalu cipika-cipiki. Sebenarnya nih, kalau dibandingkan dengan keluargaku, keluarga si Daffa ini bukan termasuk keluarga besar. Kalau di keluarga Daffa hanya ada satu pasangan om dan tante, kalau di keluarga besarku, ada dua pasang om dan tante dari nyokap, tiga pasang lagi dari bokap. Belum termasuk Pakdhe dan Budhe tuh. Pokoknya, kalau semua dikumpulin jadi satu,ramenya, wuih, bikin mumet. Di meja makan, mertua laki-laki sibuk ngomongin bisnis dengan adik iparnya dan keponakannya, anak pertama tante Ratri. Dan tak ketinggalan pula, si Daffa yang malam ini lepas kacamata (luar biasanya nggak ada ponsel ditangannya karena aku pikir, itu ponsel sudah jadi salah satu anggota tubuhnya). Dia duduk disebelahku. Kami berhadap-hadapan dengan anak pertama dan mantunya(yang cantik dan 'megah’) tante Ratri. Gladys yang duduk di sebelah kiriku menghadap kembar perempuan yang sepertinya seumuran dengan Kak Ranum. Sebentar deh, baru ngeh. Tante Ratri dan mantu perempuannya dan dua anak perempuannya nggak berhijab loh. Apa yang sodara-sodaranya ulama waktu dinikahan itu, dari mertua perempuan ya? Eh enggak, mertua perempuan kan anak tunggal. Lha terus? Reyna : Dys, om ulama-ulama yang hadir di nikahanku kok nggak ada sih? | Gladys : Siapa? Yang mana? Reyna : Ya yang pakaiannya kayak ulama semua, yang di panggil sama mama 'om'. Yang datengnya rame-rame? Gladys :Oh, yang itu? Para pengurus pondok pesantren di Bandung, udah kayak keluarga sendiri. Soalnya mama biasa bantu-bantu disana. Dan disini yang namanya bantu-bantu bukan cuman bantuin ala kadarnya, bantuan dalam arti luas. Reyna : Emang mas kamu dulunya anak pesantren. Gladys : Mas Daffa? Enggak. Kenapa emang? Jangan-jangan gara-gara jenggot lebatnya itu ya? | Reyna : Apa nih maksudnya? Gladys, yang duduk disebelah kiriku, menahan senyumnya tanpa menoleh kearahku, matanya bergantian menatap ponsel dan makanan di depannya. Tidak ingin menimbulkan kecurigaan. Gladys : Kalo mas Daffa ilang jenggotnya dan rambutnya rapi, kayak oppa-oppa korea. Ulama-nya ngilang. Reyna : Nggak mungkin juga. Matanya nggak sipit. Belok kayak ras kaukasoid gitu. Gladys : Cieee.. yang udah perhatiin matanya. Padahal semenjak nikah babangnya pake kacamata terus. Eh, lupa, kalo bobo kan kacamata di lepas. Hari ini juga kacamata dilepas. Cie.. cie..O[ Boleh nggak sih, nonjok Gladys yang udah gerak-gerakin bahunya nahan ketawa? Gladys : Tenang aja mbak, jadi istri mas Daffa tuh bakal indah kayak di novel. Badboy tuh dia. Reyna : Badboy dari hongkong! Tiap deket aja yang diomongin dosa, gimana bisa badboy. Lagian, udah cukup dia kayak gini aja, nggak usah bawa-bawa badboy. Ngeri tau nggak. Gladys : Dia itu kan termasuk ke golongan yang Menjalankan semua perintahNya dan menjalankan juga laranganNya. (Setengah malaikat, setengah iblis. Temen-temenku aja semua klepek-klepek kalo sama dia. Reyna : Terserah lo deh. Gue maklum. Namanya juga sodara. 0 ok KK "Persiapan, tante Ratri beraksi." Bisik Gladys yang siap ngilang = dari sampingku. Acar makan sudah selesai dari tadi. Setelah semua piring diberesin sama pelayan dan ngga k ada yang memperbolehkan aku bantu-bantu, kami menyebar diruang keluarga. Para laki-laki, sibuk di ruang keluarga. Tante Ratri dan mantu megahnya, mertua perempuan dan oma Daffa masih tinggal di meja makan. Sementara aku, gladys dan si kembar duduk di sofa depan tv. "Mau kemana kalian?" Tanyaku saat ketiganya bangkit dengan waktu bersamaan. "Kabur. Ntar pasti nanya-nanya masalah kuliah. Banding-bandingin IPK aku sama si kembar. Ogah banget deh." "Kita mlipir pergi, malu kalo si mami udah nyinyir. Kayak anaknya aja yang paling pinter sedunia." "Reyna kan? Belum sempat ngobrol setelah nikahan ya. Welcome to Wirawan's." Dia membuka _ lebar tangannya, siap memelukku. Duh, salah deh kayaknya Gladys sama mertua perempuanku. Ini tante baik, banget baik. Saat aku melirik ke samping, ketiganya sudah ngilang. Keturunan jin semua kali ya, ngilangnya cepet banget! "Gimana sama Daffa? Bosen nggak? Anaknya emang gitu, suka pilih-pilih. Maunya ngobrol panjang lebar cuman sama yang cantik-cantik.". Oke, aku salah. Strike pertama. Kayaknya bakalan ada yang selanjutnya. "Belum kok tan, ntar kalo udah keterlaluan, tinggal nombak doang. Kemarin udah bikin bambu runcing." Jawabku disela-sela senyumku. "Th, lucu deh kamu." Katanya setelah berhenti tertawa. "Gimana kabar kakak kamu? Masih belum ngabarin apa-apa? Kok bisa ya, kawin lari sama orang yang baru dikenal beberapa bulan." Strike kedua. "Ya bisalah Tan. Saya aja yang baru pulang melancong belum ada dua minggu, mendadak kawin sama orang yang belum pernah saya kenal aja bisa, apalagi yang ketemu ditempat kerja tiap hari selama enam bulan." Bukan Reyna kalau nggak bisa jawab. Tante Ratri menatapku. Tanpa tawa. "Kenapa tan?" Tanyaku, masang wajah polos. "Iya juga sih. Tapi tante dengar, kamu kemarin ikutan tour gitu ya." Dasar emak-emak. Aku lihat konser. Bukan ikut tour. "Lihat konser idola saya Tan. Mumpung masih muda." "Tapi tante denger, itu kayak bayaran kamu supaya mau gantiin kakak kamu kalau mendadak dia ngilang ya?" Strike ketiga. Kok aku jadi panas yang dikatain nikahnya gara-gara bayaran, walaupun kenyataannya memang begitu. "Ya gitu deh tan. Kalo saya mah—" Untuk pertama kalinya dalam sejarah sodara-sodara, si kutu kupret ini manggil namaku. "Rey, kenapa?" Tanyanya dari balik badanku memotong pembicaraanku. Daffa berjalan padaku, lalu mengambil posisi di kananku. "Eh, Daffa. Kerjaan gimana? Ajak si Andreas dong ke perusahaan kamu. Biar nggak terus-terusan cuman jadi asisten menejer.". Dan sekarang Tante Ratri ganti posisi. Sepertinya siap menghunuskan kalimat mematikannya ke orang lain. Dan orang lain itu, Daffa. Mana ngaruh si Daffa, dia kan makhluk terlempeng di dunia. "Yah, tan, Itu kan bukan perusahaannya Daffa. Entar diprotes sama pegawai_ lainnya gara-gara nepotisme. Lagian, Andreas kan udah lama kerja sama papa, bentar lagi pasti bisa naik jabatan kok Tan. Tenang aja." Th, ajaib. Si Daffa bisa ngomong banyak. "Nggak tau nih, papa kamu pilih kasih. Keponakan sendiri di cuekin. Malah yang sering naik jabatan tuh anak baru." "Ya kalau Andreas kerjaannya oke, kan naik jabatannya juga cepet tan." Telak. "Yuk Rey, ditungguin oma." Tangannya masuk ke sela-sela jariku, bersiap mengajakku pergi. Daffa mengerutkan keningnya saat aku dalam mode bengong( pandangan kosong mulut melongo), menatapnya tanpa berkedip. "Permisi ya tante, ke oma dulu." Kataku, pamitan baik-baik setelah mendapat ekspresi 'tutup mulut kamu dan sadar!!' dari Daffa. "Oh iya Daff, gimana kabarnya mama kamu? tente denger udah cerai lagi. Yang keberapa? Ini keempat kalinya ya?" Tatapan wajah tante Ratri berubah. Sementara aku gagal paham. Ini maksudnya apa ya. Sementara tanganku merasakan jemari Daffa mendadak kaku. Aku menatapnya, sekilas, hanya sekilas saja, ada semburat sedih disana. Yang kemudian berganti dalam waktu kurang dari sedetik. Sebuah senyuman. "Tante nih bisa aja bercandanya. Mama masih disini, masih istri papa kok tan. Gimana ceritanya cerai empat kali." Dan Daffa menarik tanganku, kali ini benar-benar menjauhi tante Ratri. ORR RK TUJUH "APA?" Bentakku saat dia mendadak balik badan dan menghadap padaku yang memang sedang berjalan mengekor dibelakangnya. Jarak kami kurang dari satu. meter, wajahnya serius. Dia menunduk (jangan salah paham, bukan menunduk mau 'ngapa-ngapain' tapi emang pada dasarnya dia tinggi) lurus menatap ke mataku, membuat aku makin melotot padanya. Mau main kuat-kuatan melotot. Jelas aku yang menang. Kami baru saja pulang dari rumah oma Daffa. Setelah turun dari mobil, bukannya langsung masuk, ini malah ngajakin berantem di luar. Apa dia nggak sadar, kalau aku sudah emosi suka teriak lantang. Bahkan kejadian yang kemarin belum genap sebulan. "Kamu—" Nada suaranya sudah naik, nafasnya ditarik panjang, kayaknya siap ngomel nih. Tanpa henti tanpa jeda. "— Masuk deh." Lanjutnya kemudian. diiringi hembusan nafas frustasi. Wah, kok aku jadi kepikiran tante Ratri ya, "Gimana sama Daffa? Bosen nggak? Anaknya emang gitu, suka pilih- pilih. Maunya ngobrol panjang lebar cuman sama yang cantik-cantik."” Apa aku nggak segitu cantiknya. "Mas Daffa." Panggilku sebelum dia balik badan, maju beberapa senti, menghilangkan jarak diantara kami. Baru saja_ kuputuskan, aku akan memanggilnya "Mas! untuk ke depannya. Ngikutin si Gladys. Satu tanganku yang bebas dari handbag, menyentuh lengannya. Mengusapnya naik turun. "Aku ini nyinyir loh. Kalo ada yang gangguin mas Daffa, bilang aja, entar pasti aku labrak. Oke." Daffa menatapku, alisnya naik. "Nggak salah tuh? Bukannya tadi yang nolongin kamu bebas dari tante Ratri itu aku ya." Hei! Ternyata dia bisa loh ngomong kalem. Nggak menohok. "Besok-besok, jangan deket-deket ke tante Ratri kalo bisa. Emang Gladys nggak ngasih tahu kamu kalo harusnya kamu ngehindarin tante Ratri?" Ih, dia ngomong panjang... Aku terpesona deh. Mendadak berubah. Apa jangan-jangan kesambet dia? Bengong, membuat tanganku tidak bergerak di lengannya. Dan sekali lagi, dia menaikkan kedua alisnya. "Kenapa bengong?" "Boleh peluk nggak sih?" Tanyaku. Gemes banget lihat si Daffa begini. Super cute. Daffa berdecak, balik badan dan langsung kembali ke ponselnya yang ternyata eh ternyata, ada disaku celana. RRR Jangan berharap terlalu tinggi kalau hubunganku dengan Daffa membaik gara-gara_ peristiwa makan malam bersama keluarganya beberapa minggu lalu. Dia tetap Daffa yng sama. Tuan sombong terhormat yang selalu bisa bikin aku darah tinggi. Untungnya, dia nggak banyak komen saat aku menginvasi lantai dua. Semuanya isi barangku. Aku turun kebawah hanya dalam rangka bersih- bersih, masak dan nonton tv. Sementara Daffa, yang beberapa hari lalu akhirnya, mau makan masakanku, nggak tahu kesambet dedemit darimana, dia akhirnya tiap pagi selalu sarapan. Ya, makan masakan buatanku yang dulunya selalu dilihat dengan tatapan ‘ini yakin bisa dimakan." Kacamatanya sekarang lepas dari hidung, ponselnya lepas dari tangan, dia hanya sesekali melotot ke ponselnya, gantinya, dia kesana kemari membawa file laporan. "Mas, hari rabu depan aku ada acara reuni. Aku mau ketemu anak-anak. Boleh nggak?" Dia mengangkat wajahnya dari file laporan-nya. "Kenapa tanya aku?" Tuh, tinggal jawab boleh atau enggak, malah balik nanya dengan kalimat yang bisa bikin kuping panas. "Terus, aku tanyanya sama siapa? Kan cuman berdua disini. Yang ketiga setan. Berhubung aku nggak bisa lihat setan dan nggak juga punya cita-cita buat bisa lihat mereka, aku terpaksa tanya ke mas Daffa." "Itu privasi kamu, hidup kamu. Atur sendiri. Nggak perlu ijin aku atau gimana. Aku juga nggak minat ikut campur hidup kamu." Menohok. Untung kemarin pas pindahan semua barangku(semua koleksi taylor Swift-ku dan dua koper koleksiku 'yang lain’) dari rumah orangtua, goloknya ketinggalan. Kalo sampe kebawa pasti udah aku babat dia. Aku menatapnya. Kedua tanganku menopang dagu, "Kan namanya istri kalau keluar rumah harus ijin suami. Dosa kalau nggak ijin. Emang mas Daffa tuh islam KTP ya? Gitu aja nggak tahu?" "Kalo nggak aku ijinin? Kamu bakal nggak berangkat?" "Cari cara sampai mas Daffa ngijinin." Kataku sambil nyengir. Mendadak, ponsel yang sedari tadi aku taruh di meja sebelahku, bergetar. Sarah Aurelia : Diijinin gak sama laki lo Rey? Anandhita Ramlan Y : Kalo nggak boleh, lo bawa aja dia sekalian. Biar kita juga tahu gimana tampangnya. Osama- nya elo. Rey, lo mesti check pinterest tentang beard deh. 0 Anandhita Ramlan Y : Pas kemarin lo bilang kalo laki lo punya jenggot, terus gue check pinterest, kok gue yang deg-degan ya Rey.00 Sarah Aurelia : Deg-degan napa lo? Anandhita Ramlan Y : send picture Anandhita Ramlan Y : send picture Sarah Aurelia : Busyet. Lo juga Rey? Reyna P Baskoro : send picture Reyna P Baskoro : Gue lebih suka itu. Gemes. Sarah Aurelia : (0 Yang nikah Rey, yang mesum si Dhita. Rey, kenalin dia sama siapa gitu, biar gak mupeng. Reyna P Baskoro : Nggak ada kenalan yang berjenggot. U1 Anandhita Ramlan Y : Yah, kan gue- nya sekarang pengen yang berjenggot. Meme-nya, laki banget. Sarah Aurelia’ : Cuman meme doang. Anandhita Ramlan Y : Tapi udah kadung terpesona sama yang berjenggot. Reyna P Baskoro : Nggak usah sama yang berjenggot. Ntar sakit hati kayak gue hidup lo Ta. Sarah Aurelia : Elo doang kali yang menderita. Laki lo sih bukan karena jenggotnya yang bikin elo sengsara. Emang bawaan dari orok kalau dia sadis. Anandhita Ramlan Y : Lo mesti dateng. Ada mantan gebetan lo. Si Noval. Belum sempat aku membalas, satu pesan masuk. Dari nomor yang tidak aku simpan di ponsel. Arranum Eka Baskoro : Dek, gue minta maaf ya. Sumpah, pas kemarin dikabarin dijodohin sama Daffa, gak ada niat buat kawin lari. Apalagi lakinya Gio. Gara-gara elo sih nyaranin si Gio, gue kan jadi kepikiran. Kita bisa ketemu nggak? Aku bawain Taylor Swift stuff yang elo nggak punya. Mau ya, pliss?? Ini Kak Ranum. Arranum Eka Baskoro : Ini nomor baru gue. Simpen. Reyna P Baskoro : (| Arranum Eka Baskoro : )[) 2h KK DELAPAN Aku tidak bisa bereaksi sama sekali saat sudah duduk di depan Ranum di restoran favoritnya sepanjang masa. Restoran Jepang. Padahal, saat di jalan tadi, aku sudah menghafal beberapa kata untuk mengutuk (karena aku bukan tipe perempuan yang suka bilang F stuff dan teman-temannya yang artinya tidak jauh beda), beberapa hal yang memungkinkan untukku menyiksanya. Ada beberapa rencana kejam yang sudah aku gambar di otak. Mungkin aku bisa cekik langsung tanpa banyak cincong, menggantung dan menyeretnya di depan semua orang, kegiatan psiko lain yang lebih kejam yang akan membuatnya menangis karena sudah membuatku menderita. Tapi sekarang tidak bisa kulakukan. Bukan karena ada Gio disampingnya, juga bukan karena penampilannya yang tidak terlihat glamor seperti dulu, tapi perut kembung diatas normal yang membuatku melupakan semua cacian dan luka fisik yang akan kuberikan padanya. "Lo makan kayak babi Kak." Kataku setengah jam kemudian saat Kak Ranum memesan ramen, setelah menghabiskan sepiring omurice. Gio sudah pergi setelah selesai berbasa-basi denganku dan diyakinkan Kak Ranum dia akan oke bersamaku. "Maunya bayi." "Lo dulu 'tekdung' dulu ya sebelum nikah? Perut lo udah segedhe perempuan hamil 9 bulan. Bukannya elo kawinnya baru bulan juni kan? Baru 8 bulan." "Enak aja! Anak gue kembar kali." Terangnya lalu kembali melihat buku menu yang tidak dikembalikan pada pelayan. Sengaja ditahan kak Ranum. Aku berdecak, "Lo mau makan lagi?" "Cuman lihat menu. Jadi gimana Rey rasanya kawin sama kulkas?" Tanyanya tanpa mengalihkan matanya dari buku menu. "Enak sama kulkas, adem. Daffa itu bukan kulkas, dia itu api unggun di tengah gurun Sahara pas siang bolong." Ranum ngakak, bukannya_berbela sungkawa pada adiknya, dia malah ngetawain deritaku. "Bukannya seharusnya elo ngerasa bersalah ya sama gue? Gara-gara elo kabur sama assmeri* lo, gue yang menderita. Apa sih yang lo lihat dari Gio? Bukannya lo sukanya CEO muda, kaya raya, ganteng tak terkira, angkuh luar biasa." Kataku, masih ingat bagaimana Kakakku begitu mencintai novel yang hero-nya cowok seperti yang kusebutkan barusan. Kalau aku lebih suka menyanyi, menari, bersorak dan mengoleksi semua karya Taylor Swift, kakakku lebih suka baca. Buku, wattpad. Yang jelas cerita fiksi yang bikin baper. Kalau ceritanya sad ending, dia bakal bad mood selama berhari-hari, sementara kalau ceritanya happy ending, dia bakal terobsesi sama tokoh cowoknya. Nggak selalu hero-nya, bahkan kadang kala second lead hero- nya. "He's just so sweet." Katanya mendadak menerawang, kemudian tersenyum. "Sumpah dek, gue nggak pernah lihat dia sekalipun. Nggak pernah sekalipun. Gue tahu kesannya sekarang ini gue lagi bikin alasan, tapi sumpah, habis denger elo ngomongin tentang Gio, gue jadi lebih suka merhatiin dia." Wajahnya tertopang di dagu, sementara matanya seolah sedang meluncur masuk ke dalam memorinya sendiri. But I know now, She's happy. At least, walaupun aku dalam keadaan seperti ini, dia bahagia. Its worthed. "Gue baru sadar, tiap kali kita jalan berdua, maksud gue pas kita ngurusin kerjaan kantor bareng, dia selalu, you know, merhatiin gue. Jam makan gue, bagaimana dia selalu membuka pintu mobil dan menutup kap atas sama tangannya saat gue masuk mobil. Jaga- jaga jangan sampe kepala gue kepentok. "Tiap gue jalan dan kadang sibuk baca sama apapun yang ada di tangan gue, kadang file laporan, kadang telepon kadang kalo nggak sibuk wattpad, dia selalu jagain jalanku biar gue nggak kepentok. My heart beats so much, tiap gue inget momen ini. Tiap kali hujan, dia selalu rela salah satu pundaknya basah. Sementara, dia meluk gue hati- hati biar gue nggak kebasahan." "Lo drama korea!!" Kakakku —cekikikan mendengarku meletup, yang memang anti sama hal-hal yang cheesy. Kami berhenti sebentar saat pesanan Kak Ranum datang, aku yang sudah menghabiskan steak wagyu sudah tidak berniat makan. "Lo pake hijab semenjak nikah sama Daffa ya?" Tanya Kak Ranum setelah menyeruput ramennya. Aku mengangguk dan tanpa ditanya lebih lanjut aku sudah cerita panjang bagaimana Daffa bikin aku emosi, nggak ketinggalan juga bawa-bawa gelar islam KTP yang langsung kusandang di hari pertama aku jadi Nyonya Eldaffa Pramudya Wirawan. Iyuh ngeri. Ganti. Aku jadi seorang istri. "Berdasarkan tipe kita sebenarnya, seharusnya aku tuh yang sama Kak Gio, sementara elo sama si Daffa. Pas gitu, sesuai selera." Kakakku sudah menghabiskan setengah mangkuk ramennya. "Pria dingin, badboy apapun itu sebutannya, cuman cocok hidup di dunia mimpi. Mereka cukup jadi fantasi, sementara pria baik disamping lo harus lo iket kuat." Aku merangkum wajahku dengan kedua tanganku, memandangi kakakku yang tengah menikmati makan siangnya. "Kayaknya kakak tahu banyak deh tentang Daffa. Kok sampai tahu dia

Anda mungkin juga menyukai