Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan manusia adalah sebuah proses pembangunan yang bertujuan

agar manusia mempunyai kemampuan di berbagai bidang, khususnya dalam

bidang pendapatan, kesehatan, dan pendidikan. Pembangunan manusia sebagai

ukuran kinerja pembangunan secara keseluruhan dibentuk melalui pendekatan tiga

dimensi dasar, yaitu umur panjang dan sehat, berpengetahuan, dan memiliki

kehidupan yang layak. Masing-masing dimensi direpresentasikan oleh indikator.

Umur panjang dan sehat direpresentasikan oleh indikator angka harapan hidup;

pengetahuan direpresentasikan oleh indikator angka melek huruf dan rata-rata

lama sekolah; serta kehidupan yang layak direpresentasikan oleh indikator

kemampuan daya beli. Semua indikator yang merepresentasikan ketiga dimensi

pembangunan manusia ini terangkum dalam suatu nilai tunggal, yaitu Indeks

Pembangunan Manusia (human development index). Pembangunan kesehatan

adanya upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan

untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap

orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal sesuai dengan

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Pasal 3 Tahun 1992 tentang

Kesehatan.

Derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari berbagai indikator, yang


meliputi indikator angka harapan hidup, angka kematian, angka kesakitan, dan

status gizi masyarakat. Melalui pembangunan kesehatan diharapkan akan

mempunyai sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas merupakan cita-cita

semua bangsa. salah satu kualitas SDM adalah sehat jasmani dan rohani.

pemerintah, melalui program kesehatan mengharapkan agar seluruh penduduk

hudup sehat. Upaya tersebut harus didukung oleh ketersediaan sarana dan

prasarana yang memadai, biaya kesehatan yang murah dan dapat dijangkau

seluruh lapisan masyarakat terutama lapisan yang tidak mampu, sehingga

masyarakat mendapatkan manfaatnya secara merata dan tepat sasaran (Profil

Kesehatan Indonesia, 2012).

Di Jawa Tengah sendiri, salah satu tujuan pembangunan adalah terciptanya

peningkatan kualitas hidup masyarakat secara adil dan merata. Indikator

keberhasilan peningkatan kualitas hidup adalah tercapainya derajat kesehatan

masyarakat yang memadai. Untuk mencapai derajat kesehatan yang baik tersebut

tidaklah mudah, mengingat belum meratanya tingkat pendidikan dan kemampuan

ekonomi masyarakat di Jawa Tengah. Namun demikian, upaya peningkatan

derajat kesehatan masyarakat terus diupayakan sehingga dapat menyentuh sasaran

secara adil. Untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,Dinas Kesehatan

Jawa Tengah memprioritaskan masalah kesehatan pada pelayanan kesehatan ibu

dan anak, pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin, pendayagunaan tenaga

kesehatan, penanggulangan penyakit menular, penanggulangan gizi buruk, dan

penanganan krisis kesehatan akibat bencana. Beberapa cara yang dilakukan antara
lain dengan menyediakan pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau, dengan

biaya yang relatif murah dan adil bagi setiap lapisan masyarakat. Upaya yang

telah dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah adalah melalui peningkatan dan

penyempurnaan sarana dan prasarana kesehatan, dengan mendekatkan akses

pelayanan kesehatan yang bermutu, mudah dan terjangkau bagi seluruh golongan

masyarakat, antara lain melalui Puskesmas keliling, penugasan dokter/bidan di

seluruh desa/kelurahan, perbaikan gizi keluarga, peningkatan kesehatan gizi ibu

dan anak, imunisasi maupun penyediaan fasilitas air bersih (Profil Kesehatan

Jawa Tengah, 2012).

Kabupaten Kendal memiliki Indeks Pembangunan Manusia sebesar 70,41

% sehingga masuk kriteria sedang. Usaha Kabupaten Kendal untuk memenuhi

kebutuhan masyarakat dibidang kesehatan diatur dalam Sistem Kesehatan daerah

Kabupaten Kendal. Tujuan dilaksanakan Sistem Kesehatan Daerah adalah untuk

mewujudkan terselenggaranya pembangunan kesehatan oleh semua potensi yang

ada di daerah, baik masyarakat, swasta maupun pemerintah secara sinergis,

berhasil guna dan berdaya guna sehingga tercapai derajat kesehatan masyarakat

yang setinggi-tingginya.(Peraturan Daerah Kabupaten Kendal Nomor 23 Tahun

2011) Hal tersebut diupayakan pemerintah Kabupaten Kendal dengan

menyediakan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai. Fasilitas kesehatan

yang ada di di Kabupaten Kendal yaitu satu unit Rumah Sakit Umum Daerah

bertipe B, satu unit Rumah Sakit Umum Swasta bertipe C dan satu unit rumah

sakit khusus. Sementara puskesmas ada sebanyak 112 unit yang terdiri dari
puskesmas induk 30 unit yang masing-masing dilengkapi dengan 30 unit mobil

puskesmas keliling serta 52 puskemas pembantu. Sedangkan dari sisi tenaga

medis yang tersedia Tahun 2012 meningkat dibandingkan Tahun 2011 yakni 1.537

tenaga medis.(BPS Kabupaten Kendal, 2013)

Upaya percepatan pencapaian target MDGs menjadi prioritas

pembangunan nasional, yang memerlukan sinergis kebijakan perencanaan di

tingkat nasional dan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Salah satu target

mencapaian MDGs yaitu pengendalian penyakit menular misalnya demam

berdarah. Demam berdarah merupakan salah satu penyakit menular berbahaya

yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. Penyakit ini sangat berbahaya karena

memiliki gejala yang umum seperti demam tinggi dan sakit kepala. Hal inilah

yang kurang disadari korban sehingga menyebabkan kematian jika terlambat

mendapat pertolongan. Pada Tahun 2010, Case Fatality rate demam berdarah di

Indonesia sebesar 0,91 %, dengan Insidence Rate 27,56 per 100.000

penduduk.(Profil Kesehatan Indonesia, 2011)

Penyakit DBD masih merupakan permasalahan serius di Provinsi Jawa

Tengah, terbukti 35 kabupaten/kota sudah pernah terjangkit penyakit DBD. Angka

kesakitan/Incidence Rate (IR) DBD di Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2012

sebesar 19,29/100.000 penduduk, meningkat bila dibandingkan tahun 2011

(15,27/100.000 penduduk) dan masih dalam target nasional yaitu <20/100.000

penduduk.(Profil Kesehatan Jawa Tengah, 2012). Selama Tahun 2012, tercatat

jumlah penduduk yang positif terkena demam berdarah di Kabupaten Kendal


meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada Tahun 2011 jumlah penderita

yang positif terkena demam berdarah berjumlah 84 pasien, sedangkan Tahun 2012

naik menjadi 190 pasien. Sejalan dengan hal tersebut, tingkat kematian akibat

demam berdarah mengalami peningkatan dari tidak ada kematian pada tahun 2011

menjadi 2 orang pada Tahun 2012.(Statistik Daerah Kabupaten Kendal, 2013)

Menurut data Puskesmas Singorojo 1, Desa Kedungsari merupakan desa

dengan angka kasus Demam Berdarah tertinggi. Dari jumlah 52 kasus demam

berdarah Tahun 2012 di Puskesmas Singorojo 1, 16 kasus terjadi di Desa

Kedungsari. Angka kasus demam berdarah di Desa Kedungsari sampai Bulan

November Tahun 2013 berjumlah 7 kasus. Meskipun angka kasus tahun ini

menurun dibandingkan tahun sebelumnya, tapi demam berdarah masih harus

diwaspadai. Oleh karena itu, kami mengambil Desa Kedungsari, Kecamatan

Singorojo, Kabupaten Kendal sebagai tempat Praktik Kerja Lapangan(PKL).

1.2 Rumusan Masalah

1.2.1 Rumusan Masalah Umun

Bagaimana menemukan dan melaksanakan upaya pemecahan masalah

kesehatan masyarakat di Desa Kedungsari, Kecamatan Singorojo, Kabupaten

Kendal?

1.2.2 Rumusan Masalah Khusus

1. Bagaimana Analisis situasi kesehatan masyarakat di Desa

Kedungsari, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal ?


2. Bagaimana identifikasi masalah kesehatan dan penyusunan prioritas

masalah kesehatan masyarakat di Desa Kedungsari, Kecamatan

Singorojo, Kabupaten Kendal?

3. Bagaimana identifikasi penyebab dan penyusunan prioritas penyebab

masalah kesehatan masyarakat di Desa Kedungsari, Kecamatan

Singorojo, Kabupaten Kendal?

4. Bagaimana identifikasi alternatif pemecahan masalah kesehatan di

Desa Kedungsari, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal?

5. Bagaimanakah penyusunan prioritas pemecahan masalah kesehatan

masyarakat di Desa Kedungsari, Kecamatan Singorojo, Kabupaten

Kendal?

6. Bagaimanakah perencanaan dan pelaksanaan kegiatan sebagai

pemecahan masalah kesehatan masyarakat di Desa Kedungsari,

Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal?

7. Bagaimana evaluasi kegiatan sebagai pemecahan masalah kesehatan

masyarakat di Desa Kedungsari, Kecamatan Singorojo, Kabupaten

Kendal?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Mampu menemukan dan melaksanakan upaya pemecahan masalah

kesehatan masyarakat di Desa Kedungsari, Kecamatan Singorojo, Kabupaten


Kendal.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Mampu Analisis situasi kesehatan masyarakat di Desa Kedungsari,

Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal.

2. Mampu melakukan identifikasi masalah kesehatan dan penyusunan

prioritas masalah kesehatan masyarakat di Desa Kedungsari,

Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal.

3. Mampu identifikasi penyebab dan penyusunan prioritas penyebab

masalah kesehatan masyarakat di Desa Kedungsari, Kecamatan

Singorojo, Kabupaten Kendal.

4. Mampu identifikasi alternatif pemecahan masalah kesehatan di

Desa Kedungsari, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal.

5. Mampu menyusunan prioritas pemecahan masalah kesehatan

masyarakat di Desa Kedungsari, Kecamatan Singorojo, Kabupaten

Kendal.

6. Mampu merencanaan dan melaksanaan kegiatan sebagai

pemecahan masalah kesehatan masyarakat di Desa Kedungsari,

Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal.

7. Mampu melakukan evaluasi kegiatan sebagai pemecahan masalah

kesehatan masyarakat di Desa Kedungsari, Kecamatan Singorojo,

Kabupaten Kendal.
1.4 Manfaat

1.4.1 Manfaat bagi Mahasiswa Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat

Universitas Negeri Semarang

Kegiatan Praktek Kerja Lapangan ( PKL) dapat menambah

pengalaman dan ketrampilan mahasiswa dalam mengaplikasikan ilmu

kesehatan masayarakat untuk menentukan dan melaksanakan kegiatan dalam

upaya pemecahan masalah kesehtan di masyarakat.

1.4.2 Manfaat Bagi Bidan Desa Kedungsari, Kecamatan Singorojo, Kabupaten

Kendal.

Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) dapat menambah informasi

analisis situasi, masalah kesehatan, penyebab masalah kesehatan, dan upaya

pemecahan masalah kesehatan di wilayah Kecamatan Singorojo Khususnya

Desa Kedungsari untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan kajian

dalam rangka menentukan kebijakan dan langkah-langkah dalam upaya

pemecahan masalah kesehatan di Desa Kedungsari.

1.4.3 Manfaat bagi Kepala Puskesmas Singorojo I di Kecamatan Singorojo,

Kabupaten Kendal

Kegiatan Prakter Kerja lapangan (PKL) dapat menambah informasi

analisi situasi, masalah kesehatan di wilayah Kecamatan Singorojo,

Khususnya Desa Kedungsari untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai

bahan kajian dalam menentukan kebijakan dan langkah-langkah yang

berkaitan dengan upaya penanggulangan masalah kesehatan di Desa


kedungsari.

1.5 Ruang Lingkup

1.5.1 Ruang Lingkup Tempat

Kegiatan PKL Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat UNNES tahun

2013 dilakukan di Desa Kedungsari, Kecamatan Singorojo, Kabupaten

Kendal.

1.5.2 Ruang Lingkup Waktu

Kegiatan PKL Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat UNNES tahun

2013 dilakukan mulai tanggal 4 – 18 Desember 2013.

Tabel 1.1 Time Schedule

Kegiatan Waktu

Analisis Situasi 4 – 5 Desember 2013

Identifikasi dan penyusunan priorotas masalah 6 Desember 2013

Identifikasi dan penyusunan prioritas 7 Desember 2013


penyebab masalah

Identifikasi dan Penyusunan prioritas 8 Desember 2013


pemecahan masalah

Perencanaan kegiatan pemecahan masalah 9-10 Desember 2013

Pelaksanaan kegiatan pemecahan masalah, 11-13 Desember 2013


evaluasi.
Penyusunan Laporan 8 – 14 Desember 2013

Pemaparan dan ujian 14 – 17 Desember 2013

Penarikan 18 Desember 2013

Revisi laporan dan lampiran dengan 19 – 29 Desember 2013


pengesahan

BAB II

METODE

2.1 Analisis Situasi

Analisis situasi yang dilakukan yaitu menggunakan metode dokumentasi

sebagai pengumpulan data sekunder. Data sekunder tersebut berupa profil Desa

Kedungsari tahun 2012, data potensi Desa Kedungsari tahun 2012, dan daftar

isian tingkat perkembangan Desa Kedungsari tahun 2012. Selain itu, juga berupa

data surveilans demam berdarah dengue dari Puskesmas Singorojo 01.

2.2 Identifikasi Masalah

Metode yang digunakan dalam identifikasi masalah adalah metode studi

literature yaitu dengan membandingkan antara tataran ideal dari indikator DBD

dengan fakta yang ada di lapangan yang didapatkan dari analisis situasi.

2.3 Prioritas Masalah

Dalam prioritas masalah penulis menggunakan metode Hanlon Kuantitatif.


Metode ini merupakan Metode ini adalah salah satu metode penentuan prioritas

masalah yang dilakukan dengan cara memberikan bobot (yang merupakan nilai

maksimum dari tiap kriteria penilaian dengan kisaran 1 sampai 5). Adapun

penjelasan tentang masing-masing kriteria adalah sebagai berikut :

2.3.1 Kriteria A (Besar Masalah)

Merupakan jumlah atau persentase (%) jumlah atau kelompok

penduduk yang terkena masalah, serta dapat juga berupa tingkat keterlibatan

dan peran serta masyarakat dan atau instansi terkait. Skala 1-5, dengan

keterangan:

5 = sangat kuat

4 = kuat

3 = cukup kuat

2 = kurang kuat

1 = sangat kurang kuat

2.3.2 Kriteria B (Kegawatan Masalah)

Merupakan tingginya angka morbiditas dan mortalitas serta

kecenderungannya (Trend) dari waktu ke waktu, jadi perubahan data dari

waktu ke waktu akan membentuk pola tertentu yang dinamakan trend.

Pemberian skor diberikan antara 1 sampai dengan 5 dari yang terkecil sampai

yang terbesar. Keterangan skor yang diberikan adalah sebagai berikut :

5 = sangat gawat

4 = gawat
3 = cukup gawat

2 = kurang gawat

1 = sangat kurang gawat

2.3.3 Kriteria C (Efektivitas/kemudahan)

Dilihat dari perbandingan anatar perkiraan hasil/ manfaat

penyelesaian masalah yang akan diperoleh dengan sumber daya yang ada(

tenaga, sarana/prasarana, dan metode) untuk menyelesaikan masalah.

Pemberian skor diberikan antara 1 sampai dengan 5 dari yang terkecil sampai

yang terbesar. Keterangan skor yang diberikan adalah sebagai berikut :

5 = sangat mudah

4 = mudah

3 = cukup sulit

2 = sulit

1 = sangat sulit

2.3.4 Kriteria D (PEARL faktor)

Merupakan bernagai pertimbangan yang harus dipikirkan dalam

kemungkinan pelaksanaannya. Skor 0=tidak dan 1=ya

P = Appropriateness, merupakan kesesuaian masalah atau alternatif

dengan prioritas kebijakan program pemerintah atau kegiatan instansi

terkait.

E = Ekonomic Feasibility, merupakan kelayakan dari segi pembiayaan

yaitu ada atau tidaknya biaya yang tersedia.


A = Acceptability, merupakan situasi penerimaan masyarakat dan

instansi terkait atau instansi diatasnya serta kesesuaian dengan tata nilai

yang ada dilingkungan.

R = Resourcess Availability, meruapakn ketersediaan sumber daya

untuk memecahkan masalah( tenaga, sarana/prasana, peralatan dan

waktu)

L = Legality, merupakan dukungan aspek-aspek hukum dan

perundangan yang berlaku dan terkait, kesesuaian dengan berbagai

peraturan dan kebijaksanaan yang telah ditetapkan.

Setelah berbagai kritetia tersebut diisi dan diberikan skoring maka

langkah berikutnya adalah menghitung nilai NPD dan NPTnya dengan

rumus sebagai berikut:

NPD (Nilai Prioritas Dasar) = (A+B) x C

NPT (Nilai Prioritas Total) = (A+B) x C x D

Prioritas pertama adalah alternalif yang memiliki nilai NPT

tertinggi.

Tabel 2.1 Contoh Matriks Prioritas masalah dengan metode Hanlon

Kuantitatif

No Inventaris masalah A B C NPD D N

T
Masalah Terkait DB di P E A R L

Desa Kedungsari

2.4 Identifikasi Penyebab Masalah

Metode yang digunakan dalam identifikasi penyebab masalah yaitu studi

literature dengan membandingkan antara tataran ideal indikator pelaksanaan PJB

dengan fakta yang ada di lapangan.

2.5 Prioritas Penyebab Masalah

Dalam menentukan prioritas masalah, penulis menggunakan metode Hanlon

Kualitatif. Penentuan prioritas pemecahan masalah menggunakan Metode Hanlon

Kualitatif. Prinsip utama dalam metode ini adalah membandingkan pentingnya

masalah yang satu dengan yang lainnya dengan cara “matching”.

Langkah-langkah metode ini adalah sebagai berikut :

1. Membuat matriks masalah.

2. Menuliskan semua alternatif pemecahan masalah pada sumbu vertikal dan

horisontal.

3. Membandingkan (matching) antara pemecahan masalah yang satu dengan

yang lainnya pada sisi kanan diagonal dengan memberi tanda (+) bila

pemecahan masalah lebih penting dan memberi tanda (-) bila pemecahan
masalah kurang penting.

4. Menjumlahkan tanda (+) secara horisontal dan memasukkan pada kotak

total (+) horisontal.

5. Menjumlahkan tanda (-) secara vertikal dan memasukan pada kotak total

(-) vertikal.

6. Memindahkan hasil penjumlahan pada total (+) horisontal di bawah kotak

(-) vertikal.

7. Menjumlah hasil vertikal dan horisontal dan memasukkan pada kotak

total.

8. Hasil penjumlahan pada kotak total yang mempunyai nilai tertinggi adalah

urutan prioritas masalah.

Tabel 2.2 Contoh Penentuan Prioritas Penyebab Masalah dengan Metode

Hanlon Kualitatif

Penyebab Masalah A B C D E F Total (+) Horizontal

E
F

Total (-) vertical

Total (+) horizontal

Total

Prioritas penyebab

masalah

2.6 Alternatif Pemecahan Masalah

2.7 Prioritas Analisis Pemecahan Masalah

Penentuan prioritas pemecahan masalah menggunakan Metode Hanlon

Kualitatif. Prinsip utama dalam metode ini adalah membandingkan pentingnya

masalah yang satu dengan yang lainnya dengan cara “matching”.

Langkah-langkah metode ini adalah sebagai berikut :

1. Membuat matriks masalah.

2. Menuliskan semua alternatif pemecahan masalah pada sumbu vertikal dan

horisontal.

3. Membandingkan (matching) antara pemecahan masalah yang satu dengan

yang lainnya pada sisi kanan diagonal dengan memberi tanda (+) bila

pemecahan masalah lebih penting dan memberi tanda (-) bila pemecahan
masalah kurang penting.

4. Menjumlahkan tanda (+) secara horisontal dan memasukkan pada kotak

total (+) horisontal.

5. Menjumlahkan tanda (-) secara vertikal dan memasukan pada kotak total

(-) vertikal.

6. Memindahkan hasil penjumlahan pada total (+) horisontal di bawah kotak

(-) vertikal.

7. Menjumlah hasil vertikal dan horisontal dan memasukkan pada kotak

total.

8. Hasil penjumlahan pada kotak total yang mempunyai nilai tertinggi adalah

urutan prioritas masalah.

Tabel 2.3 Contoh Penentuan Prioritas Alternatif Pemecahan Masalah

Dengan Metode Hanlon Kualitatif

Alternatif Pemecahan A B C Total (+) Horizontal

Masalah

Total (-) vertical

Total (+) Horizontal


Total

Prioritas

2.8 Rencana Program Kerja

Tabel 2.4 Perencanaan Kegiatan Program Kerja

Nama Waktu Tempat Sasaran Pelaksana Keterangan

kegiatan

Pelatihan Kamis, 12 Rumah Jumantik Mahasiswa Menggunakan

Jumantik Desember Kadus dusun Jetak PKL UNNES media modul

2013 Jetak dan

perwakilan

jumantik tiap

dusun

Pelatihan Minggu, Rumah Jumantik dari Mahasiswa Menggunakan

Jumantik 15 Ibu tiap dusun PKL UNNES media modul

Desember Badriyah desa

2013 (Dusun kedungsari

Krajan)

2.9 Pelaksanaan Program Kerja


Berdasarkan metode hanlon kualitatif yang telah dilakukan diatas kegiatan

pemecahan masalah yang diprioritaskan adalah Pelatihan Jumantik

Tempat Waktu Peserta

Dusun Jetak Kamis, 12 Desember 2013 5

Pukul 15.30 s/d. Selesai

Dusun Krajan Minggu, 15 Desember 2013

(Pertemuan rutin Pukul 15.00 s/d. selesai 21

kader PKK)

2.10 Evaluasi Program Kerja


Evaluasi program kerja meliputi kegiatan, tujuan, sasaran dan indicator
keberhasilan. Indikator keberhasilan meliputi:
● Kehadiran : 60%
Instrumen : daftar hadir
● Ketertarikan : Minimal ada 3 pertanyaan dari peserta
BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Analisis SItuasi

Desa Kedungsari merupakan 1 diantara 13 desa yang terdapat di

Kecamatan Singorojo. Desa Kedungsari berjarak 2 km dari ibukota Kecamatan

Singorojo dan 29 km dari Ibukota Kabupaten Kendal. Menurut Profil Desa

Kedungsari tahun 2012, batas wilayah Desa Kedungsari meliputi :

Sebelah utara : Desa Merbuh Kecamatan Singorojo

Sebelah selatan : Desa Getas Kecamatan Singorojo

Sebelah timur : Desa Bebengan Kecamatan Boja

Sebelah barat : Desa Ngareanak Kecamatan Singorojo

Luas wilayah Desa Kedungsari yaitu 635.450 ha/ m2. Desa Kedungsari

terdiri dari lima dusun, 6 buah Rukun Warga (RW) dan 23 buah Rukun Tetangga

(RT) sebagai berikut:

1. Dusun Krajan : 2 RW dan 6 RT (memiliki jumlah penduduk terbanyak).

2. Dusun Baon : 1 RW dan 8 RT.


3. Dusun Sorog : 1 RW dan 2 RT.

4. Dusun Jetak : 1 RW dan 5 RT.

5. Dusun Tosari : 1 RW dan 2 RT.

Berdasarkan data dari Profil Desa Kedungsari , jumlah penduduk Desa

Kedungsari sebanyak 2.925 penduduk dengan jumlah penduduk laki-laki

sebanyak 1.476 orang dan perempuan sebanyak 1.449 orang (Profil Desa

Kedungsari: 2012).

Grafik 3.1 Distribusi Penduduk menurut usia dan jenis kelamin

(Sumber : Profil Desa Kedungsari, Tahun 2012)

Berdasarkan grafik 3.1 diatas Jumlah penduduk menurut usia

terbanyak pada kelompok usia 11-15 tahun dengan jumlah laki-laki 113 orang

dan jumlah perempuan 106 orang. Sedangkan jumlah penduduk menurut jenis
kelamin terbanyak pada jenis kelamin perempuan yaitu 1449 orang sedangkan

laki-laki sebanyak 1445 orang.

Distribusi penduduk desa Kedungsari berdasarkan jenis pekerjaan

dapat dilihat pada grafik dibawah ini:

Grafik 3.2. Distribusi Penduduk Desa Kedungsari menurut jenis pekerjaan

Sumber: Daftar Isian Tingkat Perkembangan Desa Kedungsari Tahun 2012

Berdasarkan data pada grafik 3.2, diketahui jenis pekerjaan penduduk

Desa Kedungsari terbanyak yaitu sebagai petani sebanyak 528 orang(53,39%).


Grafik 3.3 Distribusi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Sumber: Daftar Isian Tingkat Perkembangan Desa Kedungsari Tahun 2012

Berdasarkan grafik 3.3 diatas, diketahui bahwa distribusi penduduk

menurut tingkat pendidikan terbanyak adalah belum tamat SD sebanyak 628

orang (29,25%).

Sedangkan jika dilihat dari segi kesehatan, pada bulan Januari 2012

s.d.bulan November 2013 di Desa Kedungsari ditemukan penyakit Demam

Berdarah (DB) sebanyak 23 kasus, yaitu 16 kasus pada tahun 2012 dan 7 kasus

pada tahun 2013. (Data Surveilans DB Puskesmas Singorojo 01 : 2012-2013). Hal

ini dapat dilihat dengan rincian sebagai berikut :

Grafik 3.4 Data Kasus DB Desa Kedungsari Bulan Januari 2012 s.d.

November 2013
Berdasarkan grafik 3.4, jumlah kasus terbanyak terjadi pada bulan Agustus

2012 yaitu sebanyak 7 kasus.

Incidence Rate (IR DB) tahun 2012 yaitu 0,547%, sedangkan IR DB

sampai bulan November 2013 yaitu 0,0024%.Sedangkan CFR DB tahun 2012

yaitu 0%, dan CFR DB tahun 2013 sampai bulan November 2013 yaitu 0%.

Untuk Angka Bebas Jentik (ABJ) tidak ditemukan data karena tidak dilakukan

pemeriksaan jentik. (Data Surveilans DB Puskesmas Singorojo 01, 2012-2013)

3.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan hasil analisis situasi didapatkan identifikasi masalah seperti

tercantum pada Tabel 3.1

Tabel 3.1 Identifikasi Masalah menurut indikator DB, Target, Fakta, dan

Kesenjangan
Indikator DB Target/Tataran ideal Fakta/Data yang Gap/kesenja

ada ngan

Angka Bebas 95% (target Indonesia) tidak ada data, 95%-0%

Jentik di Desa 95% (Depkes RI, 2008) karena jumantik (karena

Kedungsari tidak berjalan. tidak ada

data)

IR DB di Desa <150 per 100.000 0,0024 per tidak ada

Kedung sari penduduk (Depkes RI 100.000 gap karena

2008) penduduk fakta <150

(Puskesmas per 100.000

Singorojo I, 2013) penduduk

CFR DB di Desa < 1,0 (Depkes RI,2008) 0 (Puskesmas tidak ada

Kedungsari Singorojo I, 2013) gap karena

CFR 0

Pemberantasan Memberantas jentik di PJB Belum Belum ada

sarang nyamuk rumah sekali seminggu, berjalan data tentang

(PSN) PJB dilakukan sekali PJB

dalam seminggu

Berdasarkan table 3.1 terdapat 2 masalah terkait kejadian DB di Desa Kedungsari,


yaitu:

1. Angka Bebas Jentik di Desa Kedungsari

Data mengenai ABJ di Desa Kedungsari tidak ada. Dikarenakan Jumantik

tidak berjalan. sehingga tidak ada catatan mengenai ABJ.

2. Pemberantasan Jentik Berkala (PJB) di Desa Kedungsari

Data mengenai pelaksanaan PJB di Desa Kedungsari tidak ada. Karena

kegiatan PJB di Desa Kedungsari belum berjalan.

3.3 Prioritas Masalah

Tabel 3.2 Matriks Prioritas masalah dengan metode Hanlon Kuantitatif

No Inventaris masalah A B C NPD D P

Masalah Terkait DB di
P E A R L
Desa Kedungsari
1 Tidak terdapat Angka 3 3 3 18 1 1 1 1 1 90

Bebas Jentik

2 Tidak ada Pemberantasan 4 4 4 32 1 1 1 1 1 160

Jentik Berkala

Keterangan:

1. Tidak terdapat Angka Bebas Jentik

Besarnya masalah diberi skor 3 karena cukup kuat besar masalahnya,

karena Angka Bebas Jentik (ABJ) merupakan salah satu indikator untuk menilai

keberhasilan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di suatu wilayah. Di

desa Kedungsari sendiri belum terdapat data mengenai Angka Bebas Jentik. Jadi

bisa dikatakan program Pemberantasan Sarang Nyamuk di Desa Kedungsari

belum berhasil. Tetapi untuk mendapatkan ABJ tiap bulan harus ada Pemeriksaan

Jentik Berkala (PJB) dahulu sehingga ABJ diberi skor 3. Untuk Kriteria

kegawatan masalah diberi skor 3 karena masalah ini cukup gawat. Karena

pemeriksaan jentik berkala berguna sebagai monitor jalannya Pemberantasan

Sarang Nyamuk.

2. Tidak terdapat Pemberantasan Jentik Berkala

Besarnya masalah diberi skor 4 karena kuat keterlibatannya dengan peran

serta masyarakat. Kegawatan masalah diberi skor 4 karena gawat. Pemberantasan

Jentik nyamuk merupakan salah satu bagian dari Perilaku Hidup Bersih dan sehat

yang bertujuan untuk mencegah kasus demam berdarah dan penularannya.


Kemudahan mendapat skor 4 karena mudah dalam hal tenaga, sarana dan

prasarana.

Menurut tabel 3.2 matrik prioritas masalah diatas diketahui bahwa

permasalahan-permasalahan yang diperoleh berdasarkan hasil identifikasi

permasalahan di Desa Kedungsari Kecamatan Singorojo Kabupaten Kendal

dengan metode Hanlon Kuantitatif diperoleh bahwa Pemberantasan Jentik Berkala

merupakan prioritas utama. Besarnya masalah diberi skor 4 karena kelompok

penduduk yang terkena masalah, keterlibatan dan peran serta masyarakat besar.

Kegawatan masalah diberi skor 4 karena merupakan indikator demam berdarah

yang harus diselesaikan secepatnya. Kemudahan diberi skor 4 karena mudah

dalam tenaga, sarana dan prasana. Pemberantasan jentik nyamuk merupakn

prioritas utama dengan skor tertinggi yakni 32. Jadi tidak adanya pemberantasan

jentik rutin merupakan prioritas permasalahan yang harus ditemukan penyebab

masalahnya.

3.4 IDENTIFIKASI PENYEBAB MASALAH

Berdasarkan hasil prioritas masalah didapatkan identifikasi penyebab

masalah seperti tercantum pada table 3.3:

Tabel 3.3 Identifikasi Penyebab Masalah

Pelaksanaan PJB Target/tataran ideal Fakta/data yang

ada
Insentif Jumantik Ada (Depkes RI, 2006) Tidak ada insentif

Form PJB Ada (Depkes RI, 2006) Tidak Ada

Evaluasi terhadap minimal tiap 3 bulan (Dinkes Tidak ada

pelaksanaan PJB Jateng, 1992)

Rasio jumantik tiap 1 RT min 1 Jumantik Baru 2 dusun yang

dengan rumah yang (Depkes RI, 2004) menerapkan 1 RT 1

diperiksa Jumantik

Dilakukan oleh kader Mengikuti pelatihan jumantik Tidak pernah

terlatih (Dinkes Jateng, 1992) mengikuti pelatihan

jumantik

jadwal/rencana Ada (Dinkes Jateng, 1992) Tidak ada

kunjungan rumah

oleh jumantik

3.5 PRIORITAS PENYEBAB MASALAH

Tabel 3.4 Penentuan Prioritas Penyebab Masalah dengan Metode Hanlon

Kualitatif
Penyebab Masalah A B C D E F Total (+) Horizontal

A - - - + + 2

B + + + + 4

C - + + 2

D + + 2

E + 1

F 0

Total (-) vertical 0 1 1 2 0 0

Total (+) horizontal 2 4 2 2 1 0

Total 2 5 3 4 1 0

Prioritas penyebab I I II II V V

masalah V I I

Keterangan:

A= Rasio jumantik dengan jumlah rumah yang diperiksa belum terpenuhi

B= Jumantik belum pernah mengikuti pelatihan jumantik

C= Tidak adanya form PJB

D= Tidak adanya evaluasi terhadap pelaksanaan PJB

E= Tidak adanya insentif untuk jumantik


F= tidak ada jadwal/rencana kunjungan rumah oleh jumantik

Jumantik yang belum pernah mengikuti pelatihan jumantik memiliki

prioritas yang lebih penting untuk ditangani dibandingkan dengan penyebab

masalah lainnya. Karena dengan memutus rantai penyebab ini memiliki efek yang

lebih besar dalam penurunan angka kejadian demam berdarah dengue di Desa

Kedungsari dibandingkan memutus mata rantai penyebab demam berdarah

dengue yang lainnya. Menurut tabel 2.6 prioritas penyebab masalah diatas maka

penyebab masalah yang menjadi prioritas yakni jumantik yang belum pernah

mengikuti pelatihan jumantik dengan total nilai 5.

3.6 Identifikasi Alternatif Pemecahan Masalah

Prioritas masalah terkait demam berdarah di Desa Kedungsari yakni tidak

adanya Pemeriksaan Jentik Berkala dengan penyebab utama jumantik yang belum

pernah mengikuti pelatihan jumantik didapatkan beberapa alternatif pemecahan

masalah sebagai berikut :

1. Mengadakan pelatihan jumantik dan pemberian sertifikat bukti mengikuti

pelatihan, pembuatan modul terkait jumantik, serta membuatkan SK bagi

jumantik yang belum mendapatkan SK

2. Melakukan penyuluhan pentingnya pemberantasan sarang nyamuk kepada

jumantik

3. Pembentukan jumantik baru sesuai dengan kriteria jumantik

3.7 Prioritas Alternatif Pemecahan Masalah

Dari hasil identifikasi alternatif pemecahan masalah di atas, maka prioritas


alternatifnya dapat dilihat pada tabel 3.5 dibawah ini;

Tabel 3.5 Penentuan Prioritas Alternatif Pemecahan Masalah Dengan

Metode Hanlon Kualitatif

Alternatif Pemecahan A B C Total (+) Horizontal

Masalah

A - - 0

B + 1

C 0

Total (-) vertical 0 1 1

Total (+) Horizontal 0 1 0

Total 0 2 1

Prioritas III I II

Keterangan :

A= Penyuluhan pentingnya PSN kepada jumantik

B= Mengadakan pelatihan jumantik dengan modul

C= Pembentukan jumantik baru sesuai kriteria jumantik

Alternatif pemecahan masalah dengan pelatihan jumantik menggunakan

modul lebih efisien daripada melakukan penyuluhan terhadap jumantik ataupun

pembentukan jumantik baru baik dari segi waktu maupun segi keefektifannya.
Berdasarkan hasil perhitungan di atas diperoleh bahwa prioritas pemecahan

masalah utama adalah pelatihan jumantik menggunakan media modul. Hal ini

terlihat dari hasil perhitungan skor total pemecahan masalah adalah 3.

BAB IV

SIMPULAN DAN SARAN

4.1 Simpulan

4.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA

Badan Pusat Statistik Kabupaten Kendal, 2013, Statistik Daerah Kabupaten

Kendal, Kendal: BPS Kabupaten Kendal

Depkes RI, 2008, Pedoman Sureilance DB, Jakarta: Depkes RI

Depkes RI, 2013, Pembangunan Kesehatan Indonesia, Jakarta: Depkes RI

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2010, Pedoman Penyusunan

Rencana Aksi Percepatan Tujuan MDGs di Daerah (RAD MDGs), Jakarta:

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional

Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2012,

http://www.promkes.depkes.go.id/index.php/topik-kesehatan/106-terapkan-10-ind

ikator-phbs-dalam-lingkungan-keluarga
Anonim. 2012. Daftar Isian Tingkat Perkembangan Desa dan Kelurahan.

Semarang: Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Jawa Tengah

Anonim. 2012. Daftar Isian Potensi Desa dan Kelurahan. Semarang: Badan

Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Jawa Tengah