Anda di halaman 1dari 3

PERENCANAAN TEKNIS JEMBATAN RUAS YETTI-

MAMBERAMMO
PROVINSI PAPUA

(a)
(b)

Gambar 1.1 Soil Classification Chart Used For Interpreting Begemann Con Data

Sebagai persentase berat butir yang lebih kecil dari 16v (lihat gambar
1.1.a). untuk mudahnya gambar ini kemudian dipetakan

Gambar 1.2 The Schmertmann Profiling Chart

LAPORAN MEKANIKA TANAH Hal 1 - 4


PERENCANAAN TEKNIS JEMBATAN RUAS YETTI-
MAMBERAMMO
PROVINSI PAPUA

Berdasarkan qc dan FR, seperti terlihat pada gambar 3.1.b. pada perkembangan
berikutnya SChmertmann (1969) membuat pula sebuah peta untuk klasifikasi
tanah seperti terlihat pada gambar 3.2.
Pada hakekatnya, penetrasi konus menimbulkan keruntuhan daya dukung dalam
tanah, dengan qc sebagai daya dukungnya. Atas dasar ini sebenarnya Ø dapat
dihitung dengan persamaan daya dukung.

1.3.4 Kelemahan sondir


Mekanisme sondir dapat dikatakan statis, dan karenanya amat berbeda dengan
mekanisme pemancangan (dinamik). Ada jenis tanah tertentu yang memberikan
tahanan penetrasi yang besar selama penyondiran, namun tahan ini akan
rusak/hilang pada proses pemancangan. Tanah jenis ini umumnya termasuk lanau
atau pasir halus dengan sementasi lemah. Proses pemancangan akan merusak
ikatan sementasi ini, sedangkan penetrasi sondir secara statis tak dapat
menembusnya atau memberikan nilai qc yang sangat tinggi.
Skala ujung sondir terhadap tinag pondasi rencana cukup besar. Dalam penenuan
daya dukung tiang hal ini dipertimbangkan, namun yang harus diperhatikan ialah
bila penetrasi sondir terhenti oleh suatu stratum yang keras (qc > 250 kg/cm 2). Dari
sondir saja tidak dapt diketahui tebalnya lapisan keras ini. Pemakaian qc secara
langsung dari hasil sondir ini akan berakibat fatal bila ternyata lapisan ini hanyalah
lapisan yang sangat tipis atau sondir membentur batu yang agak keras sehingga
sering terjadi kesalah pahaman dalam menginterpretasikan lapisan tanah keras.
Pemakian sondir pada daerah ynag belum dikenal karakteristik tanah dasarnya,
sebaiknya disertai dengan pengeboran untuk mendaptkan contoh tanahnya.
Hasil sondir tidak realistis mengingat batang yang sangat langsing (d ≈ 3,0
cm) disbanding dengan panjangnya (sampai 35,0 m) sehingga kekakuan batang
kecil sekali yang mengakibatkan defleksi besar hampir selalu terjadi. Pembacaan
tidak selalu menunjukan kondisi lapisan tanah arah vertikal yang sebenarnya,
tetapi lapisan arah ke samping. Adanya defleksi ke samping menimbulkan
hambatan dari bergeraknya pipa tekan di sebelah dalam pipa sondir, akibatnya
pembacaan manometer = pembacaan bikonus + hambatan sepanjang pipa.

LAPORAN MEKANIKA TANAH Hal 1 - 5


PERENCANAAN TEKNIS JEMBATAN RUAS YETTI-
MAMBERAMMO
PROVINSI PAPUA

1.3.5 Prosedur Sondir


Prosedur Sondir mengacu kepada SNI 2827 : 2008 “Cara Uji Penetrasi
Lapangan dengan Alat Sondir”

Gambar 1.3 Rangkaian Alat Penetrasi Konus (Sondir Belanda)

LAPORAN MEKANIKA TANAH Hal 1 - 6