Anda di halaman 1dari 14

BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA REFERAT

FAKULTAS KEDOKTERAN JANUARI 2021

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

ULKUS KORNEA

Oleh:
MariyaniRumalolas, S.Ked
105505401519

Supervisor Pembimbing:
dr. Yusuf Bachmid, Sp.M

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
MAKASSAR
2021

1
LEMBAR PENGESAHAN

Dengan ini, saya yang bertandatanganan di

bawah ini menyatakan bahwa:

Nama : MariyaniRumalolas, S.Ked

Stambuk : 105505401519

Judul : Ulkuskornea

Telah menyelesaikan dan memprentasikan tugas Referat dalam rangka tugas


kepaniteraan klinik pada Bagian IlmuPenyakit Mata Fakultas Kedokteran,
Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar, Januari 2021

Pembimbing,

dr. Yusuf Bachdim, Sp.M

2
BAB I
PENDAHULUAN

Kornea merupakan jaringan transparan, yang memiliki ukuran tebal rata-rata


550 mikrometer di pusatnya pada orang dewasa, dengan diameter horizontal
sekitar 11,75 mm dan vertikal 10,6 mm. Jika terdapat infiltrat supuratif disertai
defek, diskontinuitas jaringan pada kornea dari epitel hingga stroma dapat
dikatakan sebagai ulkus kornea. Ulkus Kornea dapat disebabkan karena berbagai
hal, seperti trauma, infeksi, penyakit autoimun, dan hilangnya persarafan kornea.1
Ulkus yang disebabkan oleh trauma dapat menyebabkan kesulitan
penglihatan hingga morbiditas okuler yang signifikan. Defek yang terjadi pada
kornea yang disebebkan oleh trauma menyebabkan hampir semua organisme
dapat menyerang stroma kornea. Hal ini diperparah dengan mekanisme
pertahanan kornea yang normal serperti kelopak mata, lapisan air mata, dan epitel
kornea terganggu. Beberapa organisme dapat menembus epitel utuh
diantaranyaNeisseriagonorrhoeae,
Corynebacteriiumdiphteriae,Pseudomonasaeruginosa, dan Haemophilus
influenza.1

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Ulkus kornea adalah keadaan patologik kornea yang ditandai oleh
adanya infiltratsupuratif disertai defek kornea bergaung, diskontinuitas
jaringan kornea dapat terjadi dari epitel sampai stroma. Ulkus kornea yang
luas memerlukan penanganan yang tepat dan cepat untuk mencegah
perluasan ulkus dan timbulnya komplikasi berupa descematokel, perforasi,
endoftalmitis, bahkan kebutaan. Ulkus kornea yang sembuh akan
menimbulkan kekeruhan kornea dan merupakanpenyebab kebutaan nomor
dua di Indonesia.2

2.2 Epidemiologi
Pola epidemiologis, etiologi, dan faktorPredisposisibervariasi di
berbagaibelahan dunia dan bahkandarisatu wilayah ke wilayah lain di
negara yang sama. Studitelahmelaporkankejadian keratitis mikrobayaitu
11/100.000 orang/tahun di Amerika Serikathingga 799/100.000 orang/tahun
di beberapa negara berkembang. Sekitar 26,7%
kasusopasitaskorneadisebabkan oleh keratitis mikroba di Ibadan, Nigeria.
Selainitu, meskipuncedera bola matajarangterjadi, 6,8% hingga 14,7% dari
orang yang mengalamicederatraumatisokularmengalamilaserasi dan
perforasikornea.
Laserasikorneadapatmengenaiseluruhketebalankorneaatauhanyasebagian.
Sebagian besarpasien yang mengalamiulkuskorneakarena trauma
adalahpekerjapertanian dan pekerjafisik. Sebagian
besarpenelitiankegawatdaruratanokulermelaporkanlebihdominan pada pria,
denganusiapuncakantara 15 dan 30 tahun.1
Beberapapenelitiantelahmelaporkanbahwacederamataakibatpekerja
anbertanggungjawabatassetidaknyaseperempatdarisemuacederamata,
sedangkanpenelitian lain telahmenunjukkanjumlah yang lebihbesar.

4
Tigamanifestasiutamadaricederamatadari yang
terbesardiantaranyabendaasing (34,2%), abrasi / goresan (14,9%), dan
lukabakarkimia (10,4%). Terjadinyacederamata pada pekerjaanindustribesar
paling seringterjadi pada pekerjaankonstruksi dan manufaktur, yang
bertanggungjawabatas 45% darisemuacederamataterkait pekerjaan.1

2.3 Etiologi
Ulkuskorneadapatdisebabkan oleh berbagaiageninfeksi, salah
satunyaadalahbakteri.
Pemakaianlensakontakmerupakanpenyebabutamaulkuskorneadinegaramajus
ementara trauma merupakanpenyebabutamaulkuskorneadinegara
berkembang.3
Ulkuskorneamerupakansuatukondisipatologis yang berkembang pada
kornea, yang ditandaidenganinfiltratsupuratif dan
terputusnyajaringankorneamulaidariepitelhingga stroma,5 salah
satupenyebabutamagangguanpenglihatan dan kebutaan di seluruh dunia.6

2.4 Patogenesis
Ulkusterjadiakibatorganisme yang memproduksitoksin yang
menyebabkannekrosis dan pembentukan pus di jaringankornea.
Ulkuskorneabiasanyaterbentukakibatinfeksi oleh bakteri
(misalnyaStafilokokus, Pseudomonas atauPneumokokus), jamur, virus
(misalnyaHerpes) atauProtozoa akantamuba. Penggunalensakontak,
terutamanyamereka yang memakainyawaktutidur,
bisamenyebabkanulkuskornea. Keratitis herpes simpleksmerupakaninfeksi
viral yang serius. Iabisamenyebabkanseranganberulang yang dipicu oleh
stress, paparankepadasinarmatahari, ataukeadaan yang
menurunkansistemimun.Faktorresikoterjadinyaulkuskorneaadalahmatakerin
g, alergiberat, riwayatkelainaninflamasi, penggunaanlensakontak,
immunosuppresi, trauma dan infeksi umum.9

5
2.5 Klasifikasi
2.5.1 Ulkus kornea akibat jamur
Banyak dijumpai pada para pekerja petanian, kini makin banyak
dijumpai di antara penduduk perkotaan, dengan dipakainya obat
kortikosteroid dalam pengobatan mata. Kebanyakan ulkus jamur disebabkan
organisme oportunis seperti Candida, Fusarium, Aspergillus, Penicillium,
Cephalosporium dan lain-lain. Tidak ada ciri khas yang membedakan
macam-macam ulkus jamur ini. Ulkus fungi ini indolen, dengan infiltrate
kelabu, sering dengan hipopion, peradangan nyata pada bola mata,
ulserasisuperficial dan lesi-lesi satelit (umumnya infiltrate di tempat-tempat
yang lebih jauh dari daerah utama ulserasi). Lesi utama, dan sering juga lesi
satelit, merupakan plak endotel dengan tepian tidak teratur di bawah lesi
komea utama, disertai reaksi kamera anterior yang hebat dan abses kornea.
Terdapat juga kongesti siliaris dan konjungtiva yang nyata, tetapi gejala
nyeri, mata berair dan fotofobia biasanya lebih ringan dibandingkan dengan
ulkus kornea akibat bakteri. Kerokan dari ulkus kornea jamur, kecuali yang
disebabkan Candida, mengandung unsur- unsur hifa; kerokan dari ulkus
Candida umumnya mengandung pseudohifa atau bentuk ragi, yang
menampakkan kuncup-kuncup khas.9,10

Gambar. Ulkuskorneaakibatjamur

6
2.5.2 Ulkuskorneaakibatbakteri
Bakterimerupakanpenyebab paling banyakulkuskornea. Organisme
yang biasanyaterlibatyaituPseudomonas aeroginosa, staphylococcus
aureus, S. epidermidis. Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenza
dan Moraxella catarrhalis. Neiseriaspecies, Corynebacterium dhiptheriae,
K. aegyptusdan Listeria merupakanagenberbahaya oleh
karenadapatberpenetrasikedalamepitelkornea yang intak.
Karakteritikklinikulkuskornea oleh
karenabakterisulituntukmenentukanjenisbakterisebagaipenyebabnya,
walaupundemikiansekret yang berwarnakehijauan dan
bersifatmukopurulenkhasuntukinfeksi oleh karenaP aerogenosa.
Kebanyakanulkuskorneaterletak di sentral, namunbeberapaterjadi di perifer.
Meskipunawalmnya superficial,
ulkusinidapatmengenaiseluruhkorneaterutamajenisPseudomonas
aeroginosa. Batas yang majumenampakkanulserasiaktif dan infiltrasi,
sementarabatas yang ditinggalkanmulaisembuh. Biasanya kokus gram
positif, Staphylococcus aureus, S. epidermidis. Streptococcus pneumonia
akanmemberikangambarantukak yang terbatas, berbentukbulatataulonjong,
berwarnaputihabu-abu pada anaktukak yang supuratif, daerahkornea yang
terkena yang tidakterkenaakantetapberwarnajernih dan
tidakterlihatinfiltrasiselradang. Bilatukakdisebabkan oleh Pseudomonas
aeroginosamakatukakakanterlihatmelebarsecaracepat,
bahanpurulenberwarnakuninghijauterlihatmelekat pada permukaantukak.9

7
Gambar 5. Ulkuskorneabakteri: (a) ulkus oval pada
infeksistafilokokus; (b) ulkusberbentukcincin pada infeksibakteri gram
negatif.
2.5.3 Ulkuskorneaakibat virus
Ulkuskornealebihseringdisebabkan oleh virus Herpes simpleks,
Herpes Zoster, Adenovirus. Virus Herpes menyebabkanulkusdendritik, yang
bersifatrekuren pada tiapindividu, akibatreaktivasi virus laten di ganglion
Gasserian, serta unilateral. Pada virus Hepessimpleks,
biasanyagejaladinidimulaidenganinjeksisiliar yang
kuatdisertaiterdapatnyasuatudataransel di permukaanepitelkornea,
kemudiankeadaaninidisusuldenganbentukdendritiksertaterjadipenurunansen
sitivitasdarikornea. Biasanya juga
disertaidenganpembesarankelenjarpreaurikuler.9

2.6 Manifestasi Klinis


Gejalaklinis pada pasiendenganulkuskorneasangatbervariasi,
tergantungdaripenyebabdariulkusitusendiri.
Gejaladariulkuskorneayaitunyeri yang ekstrim oleh karenapaparanterhadap
nervus, oleh karenakorneamemilikibanyakserabutnyeri,
kebanyakanlesikorneamenimbulkan rasa sakit dan fotopobia. Rasa sakit mi
diperhebat oleh gesekan palpebra (terutama palpebra superior) pada kornea
dan menetapsampaisembuh. Karena korneaberfungsisebagaijendelabagimata
dan membiaskanberkascahaya,
lesikorneaumumnyaagakmengaburkanpenglihatanterutamajikaletaknya di
pusat. Fotopobia pada penyakitkorneaadalahakibatkontraksi iris beradang
yang sakit. Fotofobia yang berat pada kebanyakanpenyakitkornea, minimal
pada keratitis herpes karenahipestesiterjadi pada penyakitini, yang juga
merupakantandadiagnostikberharga. Meskipunberairmata dan
fotopobiaumumnyamenyertaipenyakitkornea,
umumnyatidakadatahimatakecuali pada ulkusbakteri purulent.9
Tanda pentingulkuskorneayaitupenipisankorneadengandefek pada
epitel yang nampak pada pewarnaanfluoresein. Biasanya juga terdapattanda-

8
tanda uveitis anterior seperti miosis, aqueous flare (protein pada
humoraqueus) dan kemerahan pada mata. Refleks axon
berperanterhadappembentukan uveitis, stimulasireseptornyeri pada
korneamenyebabkanpelepasan mediator inflamasiseperti prostaglandin,
histamine dan asetilkolin. Pemeriksaanterhadap bola matabiasanyaeritema,
dan tanda-tandainflamasi pada kelopakmata dan konjungtiva,
injeksisiliarisbiasanya juga ada. Eksudatpurulendapatterlihat pada
sakuskonjungtiva dan pada permukaanulkus, dan infiltrasi stroma
dapatmenunjukkanopasitaskorneaberwarnakrem.
Ulkusbiasanyaberbentukbulatatau oval, denganbatas yang tegas.
Pemeriksaandengan slit lamp dapatditemukantanda-tanda iritis dan
hipopion.9

2.7 Diagnosis
Kecurigaan akan adanya keratitis dan ulkus kornea pada pasien dapat
timbul pada pasien yang dating dengan trias keluhan keratitis yaitu gejala
matamerah, rasa silau (fotofobia) dan merasa kelilipan (blefarospasme).
Adapun radang kornea ini biasanya diklasifikasikan dalam lapisan kornea
yang terkena, seperti keratitis superfisial dan interstisial atau profunda.
Keratitis superficial termasuk lesi inflamasi dari epitel kornea dan membran
bowman superfisial terkait.9
2.7.1 Anamnesis
Dari riwayat anamnesis, didapatkan adanya gejala subjektif yang
dikeluhkan oleh pasien, dapat berupa mata nyeri, kemerahan, penglihatan
kabur, silau jika melihat cahaya, kelopak terasa berat atau merasa
mengganjal, bintik puith pada kornea , mata berair dan bisa juga ada kotoran
mata berlebih, yang juga harus digali ialah adanya riwayat trauma,
kemasukan benda asing, pemakaian lensa kontak, adanya penyakit
vaskulitis atau autoimun, dan penggunaan kortikosteroid jangka panjang.9
2.7.2 PemeriksaanFisik

9
Pemeriksaan fisis didapatkan gejala objektif berupa adanya injeksi
siliar, kornea edema, hilangnya jaringan kornea dan pada kasus berat dapat
terjadi irtitis disertai dengan hipopion. Pemeriksaan visus didapatkan adanya
penurunan visus pada mata yang mengalami infeksi oleh karena adanya
defek pada kornea sehingga menghalangi refleksi cahaya yang masuk
kedalam media refrakta.9
Slit lamp seringkali iris, pupil, dan lensa sulit dinilai oleh karena
adanya kekeruhan pada kornea. Selain itu, didapatkan hiperemis didapatkan
oleh karena adanya injeksi konjungtiva ataupun perikornea.9
Tes sensitivitas kornea untuk menilai fungsi nervus trigeminal pada
kornea. Dilakukan dengan cara menyapukan sehelai kapas secara mendadak
dan cepat pada permukaan kornea dan menanyakan pada pasien apakah
terasa atau tidak.9
2.7.1 PemeriksaanPenunjang
Cara melakukan tes fluroscein adalah pertama kertas fluoresein yang
dibasahi terlebih dahulu dengan garam fisiologik diletakkan pada sakus
konjungtiva inferior.
Kemudian, penderita diminta untuk menutup matanya selama 20
detik, beberapa saat kemudian kertas diangkat. Ketiga, dilakukan irigasi
konjugtiva dengan garam fisiologik. Keempat, dilihat permukaan kornea
bila terlihat hijau dengan sinar biru berarti ada kerusakan epitel kornea
misalnya terdapat pada keratitis superfisial epithelial, ulkuskornea dan erosi
kornea. Defek kornea akan terlihat berwarna hijau, akibat pada setiap
kornea, maka bagian tersebut akan bersifat basa dan memberikan warna
hijau pada kornea. Pada keadaan ini disebut uji fluoresensi positif. Pada
ulkus kornea, didapatkan hilangnya sebagian permukaan kornea. Untuk
melihat adanya daerah yang defek pada kornea. (warna hijau menunjukkan
daerah yang defek pada kornea, sedangkan warna biru menunjukkan daerah
yang intak).9

10
Gambar 6. (1) Tetes fluoroseintopikal; (2)
Fluoroseinmewarnaikornea - gambaranulkusdendritik; (3)
Menggunakanfluoretuntukmengaplikasikanflurosein. Denganmenarik
palpebra inferior
kebawahkemudianmemintapasienmelihatkeatasmenjauhifluoret, strip
fluoroseinkemudiandiletakkankedalamsakuskonjungtivasehinggafluoro
seindilepaskan; (4) Aberasikornea inferior terwarnaidenganfluorosein.
9

Pada ulkuskorneadapatdilakukan kerokan (=scrapping)


kemudiansediaandifiksasi, dicatdengan Gram dan Giemsa
sehinggadapatmulaidilakukanterapipendahuluan yang lebih terarah.8
Kemudiandilakukan kultur dan
tessensitifitasantimikrobasehinggadapatdilakukanterapi definitif.8

2.8 Tatalaksana
Pengobatan umumnya untuk ulkus kornea adalah dengan sikloplegik,
antibiotika yang sesuai topikal dan subkonjungtiva, dan pasien dirawat bila
mengancam perforasi, pasien tidak dapat memberi obat sendiri, tidak
terdapat reaksi obat, dan perlunya obat sistemik.7
Pengobatan pada ulkus kornea bertujuan menghalangi hidupnya
bakteri dengan antibiotika, dan mengurangi reaksi radang dengan steroid.
Secara umum ulkus diobati sebagai berikut :7

11
- Tidak boleh dibebat, karena akan menaikkan suhu sehingga akan
berfungsi sebagai inkubator
- Sekret yang terbentuk dibersihkan 4 kali satu hari
- Kemungkinan terjadinya glaukoma sekunder
- Debridement sangat membantu penyembuhan
- Antibiotika yang sesuai dengan kausa. Biasanya dibed lokal kecuali
keadaan berat.7
Pengobatandihentikanbilasudahterjadiepitelisasi dan
mataterlihattenang,kecualibilapenyebabnya pseudomonas yang
memerlukanpengobatanditambah 1-2 minggu.7
Dilakukanpembedahanataukeratoplastiapabila :
- Pengobatantidaksembuh
- Terjadinyajaringanparut yang mengganggu penglihatan.7

2.9 Diagnosa Banding


Diagnosis banding ulkus kornea adalah keratomalasia dan infiltratsisa
karat benda asing.7

2.10 Komplikasi
Mengetahui penyebab ulkus kornea menunjang keputusan medis yang
tepat sehingga tidak terjadi komplikasi seperti endoftalmitis, katarak,
glaukomasekunder, dan perforasi kornea.1

BAB III

12
KESIMPULAN

Ulkuskorneaadalahkeadaanpatologikkornea yang ditandai oleh


adanyainfiltratsupuratifdisertaidefekkorneabergaung,
diskontinuitasjaringankorneadapatterjadidariepitelsampai stroma.
Ulkuskorneadapatdisebabkan oleh berbagaiageninfeksi, salah
satunyaadalahbakteri.
Pemakaianlensakontakmerupakanpenyebabutamaulkuskorneadinegaramajusement
ara trauma merupakanpenyebabutamaulkuskorneadinegaraberkembang.
Pengobatanumumnyauntukulkuskorneaadalahdengansikloplegik,
antibiotika yang sesuaitopikal dan subkonjungtiva, dan
pasiendirawatbilamengancamperforasi, pasientidakdapatmemberiobatsendiri,
tidakterdapatreaksiobat, dan perlunyaobatsistemik

13
DAFTAR PUSTAKA

1. Sumbayak D, Himayani R. Yusran M.UlkusKornea Impending Perforasi.


Majority. 2019
2. Pramono HS. Ulcus Cornea Marginal Oculi Dextra. FakultasKedokteran
Universitas Lampung. 2013.
3. Novita D. PengobatanRasional pada UlkusKorneaBakteri. Medica
Hospitalia. 2015
4. Surjani L. Keratitis Mikrobial pada PenggunaLensaKontak.
MajalahIlmiahMethoda. Vol. 6 No.2. 2016
5. Putri AM, Heryanti S, Nasution N. Characteristics and Predisposing
Factors of Bacterial Corneal Ulcer in the National Eye Center, Cicendo
Eye Hospital, Bandung from January to December 2011 . Althea Medical
Journal. 2015
6. Asroruddin M, Nora R, Edwar L et al. Various factors affecting the
bacterial corneal ulcer healing: a 4-years study in referral tertiary eye
hospital in Indonesia. Medical Journal of Indonesia. 2015.
7. Ilyas S, Yulianti SR, IlmuPenyakit Mata. FakultasKedokteranUnoversitas
Indonesia. 2018.
8. Budiono S. Saleh T, Moestidjab, Eddyanto. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Mata. AirlanggaUnoversity Press. 2013.
9. Syawal R, Amir S, Akib M et al. Buku Ajar Bagian Kesehatan Mata.
FakultasKedokteran UMI. 2018
10. Vera, Vitresia H, Sukmawati G.InjeksiIntrakamera Fluconazole pada
UlkusKorneaJamur. Jurnal Kesehatan Andalas. 2019

14