Anda di halaman 1dari 6

Tanggal : 28 juli 2021 di Puskesmas Rawat Inap Pendopo

Judul : GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG


VAKSINASI COVID-19 DI WILAYAH KERJA UPTD PUSKESMAS RAWAT INAP
PENDOPO

Latar belakang :

Tatalaksana virus COVID-19 mendapatkan rekomendasi dari WHO untuk tindakan


pencegahan penyebaran COVID-19 antara lain adalah melakukan hand hygiene, social
distancing, memakai masker, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Banyak hal yang dapat
dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh, salah satunya yaitu mengkonsumsi
makanan yang bergizi, olah raga, menghindari stress, dan mengkonsumsi suplemen
kesehatan.4

Vaksin adalah salah satu cara yang paling efektif dan ekonomis untuk mencegah
penyakit menular seperti COVID-19. Sehingga diperlukan untuk membuat pengembangan
vaksin agar lebih efektif dan lebih aman. Sejauh ini lebih dari 40 perusahaan farmasi dan
lembaga akademis di seluruh dunia telah meluncurkan program pengembangan vaksin
mereka untuk melawan virus COVID-19.5 Meskipun demikian tidak semua pihak menerima
vaksin COVID-19 ini dengan alasan keamanan dan efikasi dari vaksin itu sendiri. Kesediaan
seseorang untuk menerima vaksin dipengaruhi beberapa faktor seperti pengetahuan dan
persepsi yang beranggapan bahwa vaksin yang diberikan malah menyebabkan infeksi virus
COVID-19, persepsi mengenai keamanan vaksin, persepsi kemanjuran vaksin dan risiko yang
ditimbulkan setelah dilakukan vaksinasi.6

Data nasional cakupan vaksin COVID-19 pertanggal 4 juli 2021 sebanyak 32.063.745
( 79,47% dari sasaran vaksin 1) dan sebanyak 13.979.564 (34,65% dari sasaran vaksin 2).
Angka capaian vaksin di Sumatera Selatan sebanyak 708.107 (58,59% dari target provinsi) .
Angka capaian vaksinasi COVID-19 kabupaten Empat Lawang hingga tanggal 4 Juli 2021
jumlah penduduk yang divaksin adalah sebanyak 12.680 penduduk (1,05% dari target
provinsi).7

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gamabaran tingkat pengetahuan,


masyarakat terhadap vaksin COVID-19 dengan menggunakan data yang bersumber dari
kuisioner. Pada penelitian ini pengetahuan masyarakat terhadap vaksinasi COVID-19 dengan
menggunakan metode menyebarkan kuisioner survey di wilayah kerja UPTD Puskesmas
Rawat Inap Pendopo.

Permasalahan :

Vaksin adalah salah satu cara yang paling efektif dan ekonomis untuk mencegah penyakit
menular seperti COVID-19. Sehingga diperlukan untuk membuat pengembangan vaksin agar
lebih efektif dan lebih aman. Sejauh ini lebih dari 40 perusahaan farmasi dan lembaga
akademis di seluruh dunia telah meluncurkan program pengembangan vaksin mereka untuk
melawan virus COVID-19.5 Meskipun demikian tidak semua pihak menerima vaksin
COVID-19 ini dengan alasan keamanan dan efikasi dari vaksin itu sendiri. Kesediaan
seseorang untuk menerima vaksin dipengaruhi beberapa faktor seperti pengetahuan dan
persepsi yang beranggapan bahwa vaksin yang diberikan malah menyebabkan infeksi virus
COVID-19, persepsi mengenai keamanan vaksin, persepsi kemanjuran vaksin dan risiko yang
ditimbulkan setelah dilakukan vaksinasi.

Perencanaan dan Intervensi :

Penelitian dilakukan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Pendopo sesuai dengan cakupan
sebaran kuesioner. Dilaksanakan dalam rentang waktu 1 minggu (10 Juli 2021 – 17 Juli
2021).
Jenis penelitian yang akan digunakan adalah penelitian observasional deskriptif dengan
desain penelitian potong lintang (cross sectional).
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah dengan teknik consecutive sampling
dengan mengambil sampel dari populasi yang memenuhi kriteria inklusi penelitian hingga
tercapai jumlah sampel minimal. Pengambilan sampel akan dilakukan di luar waktu vaksinasi
COVID-19 dan dilaksanakan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Pendopo.
Pelaksanaan :

Kegiatan diikuti oleh pembimbing internsip yang juga selaku kepala puskesmas, para staf
puskesmas serta semua dokter internsip Puskesmas Pendopo. Penelitian ini menggunakan
data primer yang diperoleh melalui kuesioner. Pengisian kuesioner disebar langsung ke
masyarakat setelah pelaksanaan kegiatan vaksinasi COVID-19. Data dikumpulkan oleh
peneliti dari setiap responden yang mengisi kuesioner yang disebar secara langsung.
Kuesioner berisi pertanyaan mengenai data sosiodemografis responden, pernyataan informed
consent untuk mengikuti penelitian, dan pertanyaan tentang vaksinasi COVID-19.
Seluruh data yang diperoleh akan disajikan dalam bentuk tabulasi yang diukur menggunakan
skala likert. Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang
atau sekelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian ini skala likert digunakan
untuk mengukur tingkat pengetahuan masyarakat.
Monitoring dan Evaluasi:

Dari penelitian ini diperoleh hasil tingkat pengetahuan masyarakat mengenai vaksinasi
COVID-19 masih kurang. Banyak faktor yang mempengaruhi kurangnya pengetahuan
tersebut seperti keadaan demografi, tingkat Pendidikan, kurangnya akses untuk memperoleh
informasi mengenai vaksinasi covid-19 itu sendiri. Untuk mengatasi masalah ini perlu
dilakukan KIE pada masyarakat seperti melakukan penyuluhan mengenai vaksinasi
CCOVID-19. Sehingga diharapkan dapat memberi pengetahuan dan pemahaman bagi
masyarakat mengenai vaksinasi covid-19.
Tanggal 26 Juli 2021

Judul : Manifestasi ISPA

Latar Belakang :

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) masih menjadi


masalah kesehatan utama di Indonesia. Prevalensi ISPA di Indonesia
pada tahun 2013 sebesar 25,0%, tidak jauh berbeda dengan prevalensi
pada tahun 2007 sebesar 25,5%. Prevalensi ISPA tertinggi terjadi
pada kelompok umur 1-4 tahun sebesar 25,8%, diikuti kelompok
umur kurang dari 1 tahun sebesar 22,0%. ISPA mengakibatkan
sekitar 20-30% kematian pada balita.1,3
Manifestasi klinis ISPA sangat bervariasi mulai dari gejala
ringan seperti batuk, pilek, demam hingga gejala yang berat seperti
penurunan kesadaran, retraksi dinding dada dan nafas cuping hidung.
Berat ringannya gejala yang muncul dipengaruhi oleh beberapa hal
seperti imunitas pasien, virulensi dari agen penyebab, dan intervensi
yang dilakukan untuk mengatasi gejala-gejala tersebut.
ISPA merupakan salah satu penyebab utama kunjungan
pasien ke sarana kesehatan. Sebanyak 40-60% kunjungan pasien
untuk berobat ke Puskesmas dan 15-30% kunjungan pasien berobat
di bagian rawat jalan dan rawat inap di rumah sakit karena menderita
ISPA.4 Dengan mengetahui manifestasi klinis dari ISPA, diharapkan
dapat memberi pemahaman bagi masyarakat, sehingga bisa
melakukan deteksi dini dan mendapat penanganan yang cepat dan
tepat.

Permasalahan :

ISPA merupakan salah satu penyebab utama kunjungan


pasien ke sarana kesehatan. Sebanyak 40-60% kunjungan pasien
untuk berobat ke Puskesmas dan 15-30% kunjungan pasien berobat
di bagian rawat jalan dan rawat inap di rumah sakit karena menderita
ISPA.4 Dengan mengetahui manifestasi klinis dari ISPA, diharapkan
dapat memberi pemahaman bagi masyarakat, sehingga bisa
melakukan deteksi dini dan mendapat penanganan yang cepat dan
tepat.
Perencanaan dan Pemilihan intervensi:

1. Proporsi penderita penyakit ISPA di wilayah kerja


Puskesmas Tebing Tinggi Januari-April 2021 yang paling
tinggi adalah 108 pasien.
2. Proporsi penderita penyakit ISPA di wilayah kerja
Puskesmas Tebing Tinggi Januari-April 2021 yang paling
tinggi terdapat pada kelompok umur diatas 5 tahun (82,4%).
3. Proporsi penderita penyakit ISPA di wilayah kerja
Puskesmas Tebing Tinggi Januari-April 2021 yang paling
banyak adalah laki-laki yaitu 55 balita (51%).
4. Proporsi balita penderita penyakit ISPA di wilayah kerja
Puskesmas Tebing Tinggi Januari-April 2021 yang paling
tinggi terjadi pada bulan Maret 2021 yaitu sebanyak 44
pasien (40%).
5. Manifestasi klinis pasien ISPA di wilayah kerja Puskesmas
Tebing Tinggi Januari-April 2021 paling banyak adalah
demam 75 kasus (35%) dan batuk 68 kasus (32%).
6. Gejala pasien yang didiagnosis ISPA diwilayah kerja
Puskesmas Tebing Tinggi Januari-April 2021 paling banyak
adalah gejala Ringan 87 kasus (81%).

Pelaksanaan

Kegiatan diikuti oleh pembimbing internsip dan pendamping internsip. Kegiatan diawali
dengan presentasi mengenai materi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dari audiens yang
hadir. Peserta cukup antusias selama pelaksanaan kegiatan
Monitoring dan Evaluasi

Masyarakat diharapkan bisa mengetahui tanda dan gejala ISPA sehingga bisa
memberikan pertolongan lebih dini dan dapat menurunkan angka morbiditas
dan mortalitas.