Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN MINI PROJECT

Manifestasi Klinis Infeksi Saluran Pernapasan Akut


(ISPA) di Puskesmas Tebing Tinggi

Disusun oleh:
dr. Muhammad Marzain
dr. Arif baharsyah Bangun
dr. Ghina Mardiah Afifah
dr. May Zelin Arpinda

Pendamping:
dr. Dessi Yusmiati

PROGRAM DOKTER INTERNSHIP INDONESIA


PUSKESMASTEBING TINGGI
KABUPATEN EMPAT LAWANG
2021

1
LEMBAR PENGESAHAN

Telah dipresentasikan serta disetujui laporan Mini Project dengan judul:

Manifestasi Klinis Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)


di Puskesmas Tebing Tinggi

Oleh:
dr. Muhammad Marzain
dr. Arif baharsyah Bangun
dr. Ghina Mardiah Afifah
dr. May Zelin Arpinda

Dokter Internsip Puskesmas Tebing Tinggi

Program Internsip Dokter Indonesia Puskesmas Tebing Tinggi


Kabupaten Empat Lawang
Sumatera Selatan

Tebing Tinggi, Mei 2021


Mengetahui,

Dokter Pendamping,

dr. Dessi Yusmiati

2
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur atas segala nikmat, karunia, dan rahmat yang
diberikan Tuhan Yang Maha Esa dalam menempuh Internship di
Puskesmas Tebing Tinggi. Atas ridho-Nya pula, akhirnya penulis dapat
menyelesaikan tugas penulisan Mini Project dengan judul “Manifestasi
Klinis Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Puskesmas Tebing
Tinggi” untuk memenuhi salah satu syarat program Internship di
Puskesmas Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan.
Terima kasih kami ucapkan kepada :
1. Rafiqoh Karama, S.Kep., Ners., M.Kes selaku Kepala
Puskesmas Tebing Tinggi.
2. dr. Dessi Yusmiati sebagai dokter pendamping Puskesmas
Tebing Tinggi.
3. Rekan-rekan paramedis yang telah membantu pengerjaan mini
project.

4. Rekan – rekan dokter Internship.


Demikian laporan ini kami susun dengan harapan agar Mini
Project ini dapat memberikan manfaat bagi yang membacanya.

Penulis

3
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. 1


LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................... 2
KATA PENGANTAR ............................................................................................ 3
DAFTAR ISI ...........................................................................................................4

I. PENDAHULUAN ............................................................................................. 6
A. Latar Belakang ........................................................................................... 6
B. Rumusan Masalah ...................................................................................... 8
C. Tujuan ........................................................................................................8
D. Manfaat ......................................................................................................8

II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................... 9


A. ISPA ............................................................................................................9
1. Definisi................................................................................................ 9
2. Epidemiologi ....................................................................................... 9
3. Etiologi.............................................................................................. 10
4. Klasifikasi ......................................................................................... 10
5. Faktor Risiko..................................................................................... 11
6. Patofisiologi ...................................................................................... 14
7. Manifestasi Klinis ............................................................................. 15
8. Diagnosis .......................................................................................... 16

III. HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................................17


A. Deskripsi Data .......................................................................................... 17
B. Pembahasan.............................................................................................. 17

4
IV. KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................................22
C. Kesimpulan .............................................................................................. 22
D. Saran ........................................................................................................22

5
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah infeksi saluran
pernapasan yang disebabkan oleh virus atau bakteri dan berlangsung selama 14
hari. ISPA merupakan penyakit infeksi akut yang menyerang saluran
pernapasan bagian atas dan bagian bawah. ISPA dapat menimbulkan gejala
ringan (batuk, pilek), gejala sedang (sesak, mengi) bahkan sampai gejala berat
(sianosis, pernapasan cuping hidung).1
Pada umumnya anak-anak lebih sering mengalami ISPA baik di negara
berkembang maupun di negara maju. Kejadian ISPA lebih sering terjadi di
negara yang sedang berkembang. Insidensi kejadian ISPA bila dikelompokkan
menurut kelompok umur balita diperkirakan sebesar 0,29 episode per
anak/tahun di negara berkembang dan 0,05 episode per anak/tahun di negara
maju. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat 156 juta episode baru di dunia per
tahun dimana 151 juta episode (96,7%) terjadi di negara berkembang. Kasus
terbanyak terjadi di India (43 juta), China (21 juta), dan Pakistan (10 juta). Di
Bangladesh, Indonesia dan Nigeria masing-masing sekitar 6 juta episode.1, 2
DAFTAR PUSTAKA Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)
masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia. Prevalensi ISPA di
Indonesia pada tahun 2013 sebesar 25,0%, tidak jauh berbeda dengan
prevalensi pada tahun 2007 sebesar 25,5%. Prevalensi ISPA tertinggi terjadi
pada kelompok umur 1-4 tahun sebesar 25,8%, diikuti kelompok umur kurang
dari 1 tahun sebesar 22,0%. ISPA mengakibatkan sekitar 20-30% kematian
pada balita.1,3
Manifestasi klinis ISPA sangat bervariasi mulai dari gejala ringan
seperti batuk, pilek, demam hingga gejala yang berat seperti penurunan
kesadaran, retraksi dinding dada dan nafas cuping hidung. Berat ringannya
gejala yang muncul dipengaruhi oleh beberapa hal seperti imunitas pasien,
virulensi dari agen penyebab, dan intervensi yang dilakukan untuk mengatasi
gejala-gejala tersebut.
ISPA merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien ke sarana

6
kesehatan. Sebanyak 40-60% kunjungan pasien untuk berobat ke Puskesmas
dan 15-30% kunjungan pasien berobat di bagian rawat jalan dan rawat inap di
rumah sakit karena menderita ISPA.4 Dengan mengetahui manifestasi klinis
dari ISPA, diharapkan dapat memberi pemahaman bagi masyarakat, sehingga
bisa melakukan deteksi dini dan mendapat penanganan yang cepat dan tepat.

7
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang tersebut, terdapat rumusan
masalah yaitu bagaimana manifestasi klinis ISPA?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui bagaimana manifestasi klinis ISPA.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui distribusi frekuensi ISPA di Puskesmas Tebing Tinggi
tahun 2020.
b. Mengetahui manifestasi klinis ISPA di wilayah kerja Puskesmas
Tebing Tinggi.

D. Manfaat
1. Manfaat bagi Penulis
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan penulis lebih
mendalam tentang manifestasi klinis ISPA
2. Manfaat bagi Puskesmas
Laporan ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan pertimbangan
bagi perumusan program kerja di Puskesmas Tebing Tinggi, sehingga
dapat menurunkan angka kejadian ISPA.
3. Manfaat bagi Masyarakat
Memberikan informasi kepada masyarakat tentang manifestasi klinis
ISPA, sehingga masyarakat bias mengenali ISPA lebih dini dan dapat
memberikan penanganan yang cepat dan tepat.

8
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)


1. Definisi
Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan suatu penyakit
infeksi akut yang menyerang salah satu bagian atau lebih dari saluran
napas mulai dari hidung sampai alveoli termasuk jaringan adneksanya
seperti sinus, rongga telinga tengah, dan pleura yang berlangsung selama
14 hari.5 Menurut WHO, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah
penyakit saluran pernapasan atas atau bawah, biasanya menular, yang
dapat menimbulkan berbagai spektrum penyakit mulai dari penyakit
tanpa gejala atau infeksi ringan sampai penyakit yang parah dan
mematikan, tergantung pada patogen penyebabnya, faktor lingkungan,
dan faktor pejamu.6

2. Epidemiologi
ISPA merupakan salah satu masalah kesehatan utama di dunia,
baik di negara maju maupun di negara berkembang. ISPA banyak terjadi
di negara berkembang dan sering menyerang anak-anak terutama bayi
dan balita.7 Di Bangladesh, ISPA merupakan penyakit infeksi yang
menyebabkan kematina sebesar dua per tiga dari total kematian anak
berusia di bawah satu tahun.8 Insidens kejadian ISPA menurut kelompok
umur balita diperkirakan 0,29 episode per anak/tahun di negara
berkembang dan 0,05 episode per anak/tahun di negara maju. Di
Indonesia, angka kejadian ISPA pada tahun 2013 sebesar 25,0%. Lima
provinsi dengan prevalensi ISPA tertinggi yaitu Nusa Tenggara Timur
(41,7%), Papua (31,1%), Aceh (30,0%), Nusa Tenggara Barat (28,3%)
dan Jawa Timur (28,3%). ISPA paling banyak diderita oleh kelompok
usia 1-4 tahun (25,8%). Tidak ada perbedaan angka kejadian ISPA pada
laki-laki maupun perempuan. Penyakit ini lebih banyak dialami pada
kelompok penduduk dengan ekonomi menengah kebawah.1

9
3. Etiologi
ISPA merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau
virus. Etiologi ISPA meliputi lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan
riketsia. Bakteri penyebab ISPA terbanyak dari genus Streptococcus,
Staphylococcus, Pneumococcus, Haemophylus, Bordetella, dan
Corinebacterium. Virus penyebab ISPA antara lain dari golongan
Myxovirus, Adenovirus, Coronavirus, Picornavirus, dan lain-lain.
Kebanyakan ISPA disebabkan oleh virus. 1,9

4. Klasifikasi
Berasarkan lokasi anatomi terkena infeksi, ISPA dibagi menjadi:
a. ISPA bagian atas
Yang termasuk ISPA bagian atas adalah nasofaringitis atau common
cold, faringitis akut, rhinitis akut, dan sinusitis akut.5
b. ISPA bagian bawah
Yang termasuk ISPA bagian bawah adalah bronkitis akut, bronkiolitis,
dan pneumonia.5
Menurut Kemenkes RI dalam Pedoman Pengendalian ISPA, ISPA
diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
a. ISPA Pneumonia, merupakan ISPA yang sampai mengenai jaringan
paru-paru (alveoli).4
b. ISPA bukan pneumonia, merupakan penyakit yang dikenal masyarakat
dengan istilah batuk dan pilek (common cold).4

Berdasarkan kelompok umur, ISPA diklasifikasikan lagi menjadi:


a. Kelompok umur 2 bulan – di bawah 5 tahun
- Pneumonia berat, apabila terdapat gejala batuk dan/atau sukar
bernapas disertai adanya tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam
(chest indrawing).
- Pneumonia, apabila terdapat gejala batuk dan/atau sukar bernapas
disertasi napas cepat sesuai golongan umur, yaitu bila umur 2 bulan
hingga <1 tahun sebanyak 50 kali atau lebih/menit; dan bila umur 1

10
hingga <5 tahun 40 kali atau lebih/menit.

- Bukan pneumonia, apabila hanya terdapat gejala batuk dan/atau sukar


bernapas.
b. Kelompok umur kurang dari 2 bulan
- Pneumonia berat, apabila terdapat gejala batuk dan/atau sukar
bernapas disertai napas cepat >60 kali per menit, atau adanya tarikan
dinding dada bagian bawah ke dalam (chest indrawing).
- Bukan pneumonia, apabila hanya teradpat gejala batuk dan/atau sukar
bernapas.

5. Faktor Risiko
a. Mikroorganisme penyebab
Penyebab tersering ISPA adalah virus, karena sifatnya yang mudah
menular sehingga angka kejadian ISPA di masyarakat menjadi tinggi.
Tetapi, ISPA yang disebabkan virus tidak memerlukan tatalaksana
khusus karena bersifat self-limiting.
b. Faktor host (pejamu)
1) Usia
ISPA lebih sering terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun. Anak
berusia kurang dari 2 tahun mempunyai risiko terkena ISPA lebih
besra daripada anak yang lebih tua karena pada usia kurang dari 2
tahun anak tersebut belum memiliki imunitas yang sempurna dan
lumen saluran napas yang relatif sempit.10
2) Jenis kelamin
Suatu studi menyebutkan laki-laki lebih banyak mengalami ISPA
daripada perempuan.11 Tetapi dalam Riskesdas disebutkan tidak
terdapat perbedaan angka kejadian ISPA pada laki-laki maupun
perempuan.1 Terdapat sedikit perbedaan anatomi saluran napas
antara anak laki-laki maupun perempuan, namun hal ini tidak
mempengaruhi kejadian ISPA.10
3) Berat lahir
ISPA cenderung terjadi pada balita dengan riwayat berat badan lahir
rendah (BBLR) dibandingkan dengan balita tanpa riwayat BBLR.12

11
Bayi BBLR memiliki sistem pertahanan tubuh yang belum
sempurna.

yang mengakibatkan bayi BBLR memiliki daya tahan tubuh yang


rendah. Selain itu, bayi BBLR juga memiliki pusat pengaturan
pernapasan yang belum sempurna, surfaktan paru yang masih
kurang jumlahnya, otot-otot pernapasan dan tulang iga yang masih
lemah. Bayi BBLR juga mudah mengalami infeksi paru dan gagal
napas.13
4) Status gizi
Status gizi menggambarkan baik atau buruknya konsumsi zat gizi
seseorang. Zat gizi diperlukan untuk pembentukan sistem kekebalan
tubuh seperti antibodi. Semakin baik status gizi seseorang, maka
semakin baik sistem kekebalan tubuhnya. Infeksi saluran pernapasan
akut yang disebabkan virus sangat dipengaruhi oleh sistem kekebalan
tubuh. Bila sistem kekebalan tubuh baik, maka seseorang akan kebal
terhadap serangan virus. Selain itu, kesembuhan dari penyakit akibat
serangan virus juga akan lebih cepat. Anak dengan malnutrisi juga
lebih sering mengalami ISPA dibandingkan dengan anak dengan gizi
yang baik.10
5) Status Imunisasi
Anak yang tidak mendapatkan imunisasi secara lengkap cenderung
lebih sering mengalami ISPA. Kebanyakan kasus ISPA pada anak
terjadi akibat komplikasi dari campak yang merupakan faktor risiko
yang dapat dicegah dengan imunisasi. Namun, kemampuan tubuh
untuk menangkal suatu penyit masih dipengaruhi oleh beberapa
faktor yang lain seperti faktor genetik dan kualitas vaksin.11
6) Pendidikan
Kurangnya pengetahuan di masyarakat akan gejala dan upaya
penanggulangan ISPA dan bagaimana pencegahan agar tidak mudah
terserang penyakit ISPA menyebabkan masih banyak kasus ISPA
yang dapat ke sarana pelayanan kesehatan sudah dalam keadaan
berat.14

12
7) Pemberian ASI eksklusif
Pemberian ASI secara eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan
merupakan langkah yang efektif dan efisien dalam memenuhi
kebutuhan gizi dan memberikan perlindungan bagi bayi dari serangan
infeksi khususnya ISPA. ASI mengandung banyak faktor kekebalan
dan bermanfaat terhadap pencegahan ISPA terutama sejak
pemberian ASI di awal kehidupan bayi hingga bayi berusia 6 bulan,
salah satunya adalah imunoglobulin. Imunoglobulin yang banyak
ditemukan pada saluran cerna dan saluran napas adalah
imunoglobulin A (IgA). Selama minggu pertama kehidupan (4-6
hari) payudara ibu akan menghasilkan kolostrum, yaitu ASI awal
yang banyak mengandung zat-zat kekebalan tubuh (imunoglobulin,
komplemen, lisozim, laktoferin, dan sel-sel leukosit) yang sangat
penting untuk melindungi bayi dari serangan infeksi.15
Bayi yang diberi ASI eksklusif cenderung tidak pernah mengalami
ISPA sedangkan bayi yang mendapatkan ASI non-eksklusif
cenderung lebih sering mengalami ISPA. Risiko anak yang diberi
ASI tidak secara eksklusif lebih besar dibandingkan dengan anak
yang diberi ASI secara eksklusif. Kematian akibat penyakit saluran
pernapasan 2-6 kali lebih banyak pada bayi yang diberi susu formula
dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI.15
c. Faktor lingkungan
Beberapa faktor dari lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan,
meliputi udara, kelembapan, air, dan pencemaran udara. ISPA termasuk
air-borne disease yang merupakan penyakit yang penularannya melalui
udara yang tercemar dan masuk ke dalam tubuh melalui saluran
pernapasan. Karena itu, secara epidemiologi, udara mempunyai
peranan yang besar pada transmisi penyakit infeksi saluran pernapasan.
Selain itu, faktor dari lingkungan yang meningkatkan risiko terjadinya
kejadian ISPA adalah asap yang dihasilkan pabrik, asap kendaraan
bermotor, asap dari perokok, asap dari bahan bakar yang digunakan
untuk memasak, kurangnya ventilasi di rumah, suhu ruangan rumah di
bawah 18°C atau di atas 30°C, kepadatan hunian rumah, penggunaan
antinyamuk, dan partikel debu.16

13
d. Faktor lingkungan
Beberapa faktor dari lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan,
meliputi udara, kelembapan, air, dan pencemaran udara. ISPA termasuk
air-borne disease yang merupakan penyakit yang penularannya melalui
udara yang tercemar dan masuk ke dalam tubuh melalui saluran
pernapasan. Karena itu, secara epidemiologi, udara mempunyai
peranan yang besar pada transmisi penyakit infeksi saluran pernapasan.
Selain itu, faktor dari lingkungan yang meningkatkan risiko terjadinya
kejadian ISPA adalah asap yang dihasilkan pabrik, asap kendaraan
bermotor, asap dari perokok, asap dari bahan bakar yang digunakan
untuk memasak, kurangnya ventilasi di rumah, suhu ruangan rumah di
bawah 18°C atau di atas 30°C, kepadatan hunian rumah, penggunaan
antinyamuk, dan partikel debu.16

6. Patofisiologi

Proses terjadinya ISPA diawali dengan masuknya bakteri yaitu


escheria coli, streptococcus pneumoniae, chlamidya trachomatis, clamidia
pneumonia, mycoplasma pneumoniae, dan beberapa bakteri lain dan virus
yaitu miksovirus, adenovirus, koronavirus, pikornavirus, virus influenza,
virus parainfluenza, rhinovirus, respiratory syncytial virus kedalam tubuh
manusia melalui partikel udara (droplet infection), kuman ini akan melekat
pada sel epitel hidung, dengan mengikuti proses pernapasan maka kuman
tersebut bisa masuk ke bronkus dan masuk ke saluran pernapasan, yang
mengakibatkan batuk, pilek, sakit kepala, demam dan sebagainya,
disamping itu terdapat juga cara penularan langsung yaitu melalui
percikan droplet yang dikeluarkan oleh penderita saat batuk, bersin dan
berbicara kepada orang di sekitar penderita, transmisi langsung dapat juga
melalui ciuman, memegang/menggunakan benda yang telah terkena
sekresi saluran pernapasan penderita.17

14
7. Manifestasi Klinis

Gejala ISPA dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:16


a. Gejala ISPA Ringan
Seorang bayi/balita dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan
satu atau lebih gejala-gejala berikut:
1. Batuk
2. Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara
seperti pada waktu berbicara atau menangis
3. Pilek, yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung
4. Demam, dengan suhu badan lebih dari 37°C.

b. Gejala ISPA Sedang


Seorang bayi/balita dinyatakan menderita ISPA sedang jika ditemukan
gejala ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala berikut:
1. Pernapasan cepat sesuai umur yaitu pada kelompok umur <2 bulan
dengan frekuensi napas 60 kali per menit atau lebih, pada kelompok
umur 2 - <12 bulan dengan frekuensi napas 50 kali per menit atau
lebih, dan pada kelompok umur 12 bulan - <5 tahun dengan
frekuensi napas 40 kali per menit atau lebih.
2. Suhu badan lebih dari 39°C
3. Tenggorokan berwarna merah
4. Telinga sakit atau mengeluarkan cairan dari lubang telinga
5. Pernapasan berbunyi seperti mengorok / mendengkur

c. Gejala ISPA Berat


Seorang bayi/balita dinyatakan menderita ISPA berat jika ditemukan
gejala ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala berikut:
1. Bibir atau kulit membiru
2. Kesadaran anak menurun
3. Pernapasan berbunyi seperti mengorok dan anak tampak gelisah
4. Sela iga tertarik ke dalam saat bernapas
5. Nadi lebih cepat dari 160 kali per menit atau tidak teraba
6. Pernapasan cuping hidung

15
8. Diagnosis

Diagnosis etiologi ISPA pada bayi/balita cukup sulit ditegakkan karena


pengambilan dahak sulit dilakukan. Prosedur pemeriksaan imunologi pun belum
bisa memberikan hasil yang memuaskan untuk menentukan penyebab ISPA.
Pemeriksaan darah dan pembiakan spesimen fungsi atau aspirasi paru bisa
dilakukan untuk diagnosis penyebab ISPA. Cara ini cukup efektif untuk
menentukan etiologi ISPA. Namun cara ini dianggap prosedur yang berbahaya
dan bertentangan dengan etika. Dengan pertimbangan ini, diagnosis etiologi
penyebab ISPA di Indonesia didasarkan pada hasil penelitian asing (melalui
publikasi WHO) bahwa Streptococcus pneumoniae dan Haemophylus influenza
merupakan bakteri yang selalu ditemukan pada penelitian etiologi di negara
berkembang, sedangkan di negar amaju seringkali disebabkan oleh virus.
Diagnosis ISPA ditegakkan berdasarkan gejala yang timbul pada bayi/balita
seperti yang telah dijelaskan pada uraian manifestasi klinis di atas.16

16
BAB III

PEMBAHASAN

Kasus ISPA di Puskesmas Tebing Tinggi Januari-April 2021

No. Bulan Jenis Kelamin Total


Laki-laki Perempuan
1 Januari 9 7 16
2 Februari 7 9 16
3 Maret 27 17 44
4 April 12 20 32
Total 55 53 108

Kasus ISPA di Puskesmas Tebing Tinggi Januari-April 2021


100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
Januari Februari Maret April

Laki-laki Perempuan Total

Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa proporsi penderita


ISPA paling banyak terjadi pada bulan Maret (44 kasus) dan paling
sedikit terjadi pada bulan Januari dan Februari (16 kasus). Berdasarkan
hasil di atas, dapat dilihat bahwa secara umum tidak terdapat perbedaan
yang terlalu signifikan antara proporsi penderita ISPA setiap bulannya.
Kejadian ISPA bulan Januari-Februari tidak terjadi peningkatan,
kemudian meningkat di bulan maret namun turun lagi di bulan April

17
2021. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan
atau hubungan yang berarti antara waktu terjadinya ISPA dengan
banyaknya kejadian ISPA di wilayah kerja Puskesmas Tebing Tinggi
tahun 2021. Namun, menurut Mairusnita (2007) dalam hasil
penelitiannya mengemukakan bahwa kasus ISPA cenderung banyak
ditemukan pada bulan Oktober sampai bulan Desember yang merupakan
musim hujan. Hal ini dikarenakan pada musim hujan menyebabkan
terjadinya kelembaban yang tinggi yang menyebabkan bakteri bertahan
lebih lama sehingga mudah terjadi penularan. Selain itu musim hujan
menyebabkan terjadinya kepadatan hunian yang akan memengaruhi
terjadinya cross infection dimana bila ada penderita ISPA berada dalam
ruangan yang padat akan cepat menularkannya ke orang lain melalui
udara pada saat batuk atau bersin.18

Kasus ISPA di Puskesmas Tebing Tinggi Tahun 2021 Berdasarkan Usia


dan Jenis Kelamin
No Usia Jenis Kelamin Total %
Laki-laki Perempuan
1 < 1 tahun 2 1 3 2,8%
2 1-5 tahun 11 5 16 14,8%
3 > 5 tahun 42 47 89 82,4%
Total 55(51%) 53(49%) 108 100%

Dari table di atas, dapat diketahui bahwa jenis kelamin laki-laki


memiliki proporsi paling besar yaitu 51% dan jenis kelamin perempuan
memiliki proporsi yang paling kecil yaitu sebesar 49%. Nasution (2009)
dalam hasil penelitiannya di Jakarta menyatakan bahwa jenis kelamin
penderita ISPA hampir seimbang antara laki-laki dan perempuan.19 Dari
hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa laki-laki lebih rentan
menderita ISPA dibandingkan dengan balita perempuan. Hal ini sesuai
dengan hasil penelitian Yulianti (2013) di kota Banjarmasin menyatakan
bahwa kasus ISPA yang ditemukan di wilayah penelitian selama bulan
Oktober – Desember 2011 lebih banyak terjadi pada balita laki-laki

18
(68%) dibanding balita perempuan (32%).20 Padmonobo dkk (2012) juga
menyatakan dalam hasil penelitiannya bahwa proporsi balita sebagai
subjek penelitian menurut jenis kelamin hampir sama antara laki-laki dan
perempuan. Namun Ranantha (2012) dalam hasil penelitiannya
menyatakan bahwa berdasarkan hasil uji chi square terlihat ada
hubungan antara jenis kelamin laki-laki dengan kejadian ISPA pada
balita di desa Gandon (p value = 0,003) dan jenis kelamin laki-laki
mempunyai risiko 5,641 kali lebih besar untuk terjadinya ISPA daripada
balita dengan jenis kelamin perempuan. Pada umumnya tidak ada
perbedaan insiden ISPA akibat virus atau bakteri pada laki-laki dan
perempuan. Akan tetapi terdapat sedikit perbedaan yaitu insidens lebih
tinggi pada anak laki-laki.21

Kasus ISPA di Puskesmas Tebing Tinggi Januari-


April 2021 berdasarkan usia

< 1 tahun 1-5 tahun > 5 tahun

Dari diagram atas dapat diketahui bahwa kelompok umur diatas 5


tahun adalah kelompok yang memiliki proporsi paling tinggi yaitu
82,4%, kemudian diikuti kelompok umur 1-5 tahun yaitu 14,8% dan
kelompok umur dibawah 1 tahun memiliki proporsi paling rendah yaitu
2,8%.
Dari hasil penelitian di atas dapat dilihat bahwa pasien dengan
umur diatas 5 tahun lebih rentan terkena penyakit ISPA dibandingkan
dengan kelompok umur yang lainnya. Hasil ini bertolak belakang dengan

19
penelitian yang dilakukan oleh Yulianti (2013) menyatakan bahwa kasus
ISPA ditemukan paling banyak pada balita dengan umur <2 tahun
(77,6%).20 Sambominanga dkk (2014) dalam penelitiannya di kota
Manado menyatakan bahwa balita dengan kelompok umur <3 tahun lebih
rentan mengalami ISPA dibandingkan dengan kelompok umur lainnya.
Hal ini dikarenakan sistem imunitas anak yang masih lemah dan organ
pernapasan anak yang belum mencapai kematangan sempurna sehingga
apabila terpajan faktor risiko akan lebih rentan terkena penyakit ISPA.22
Penelitian yang dilakukan oleh Ranantha (2012) menyatakan
bahwa tidak ada hubungan antara umur dengan kejadian ISPA pada
balita yang dilakukan di desa Gandon (p value = 1,000). Hal ini juga
sejalan dengan hasil penelitian Mairusnita (2007) di RSUD Kota Langsa
dengan desain case series, hasil analisis uji chi-square menunjukkan
bahwa tidak ada hubungan antara umur balita dengan frekuensi kejadian
ISPA (p value = 0,795).21

Daftar manifestasi klinis pasien ISPA yang datang ke Puskesmas Tebing


Tinggi bulan Januari-April 2021

No. Gejala Jumlah %


1 Batuk 68 32%
2 Demam 75 35%
3 Pilek 27 13%
4 Nyeri tenggorokan 25 12%
5 Sesak nafas 10 5%
6 Keluar Cairan dari Telinga 6 3%
Total 211 100%

Berdasarkan sumber dari data sekunder Puskesmas Tebing Tinggi


bulan Januari- April 2021 didapatkan manifestasi klinis ISPA paling
banyak demam (35%) diikuti batuk (32%), pilek (13%), nyeri
tenggorokan (12%), sesak nafas (5%), serta keluar cairan dari telinga
(3%).

20
Gejala Pasien ISPA yang Datang ke Puskesmas Tebing Tinggi Bulan
Januari-April 2021 Berdasarkan Berat Ringannya Gejala

No. Derajat ISPA Jumlah %


1 Ringan 87 81%
2 Sedang 21 19%
3 Berat 0 0%
Total 108 100%

Pasien yang datang ke Puskesmas Tebing Tinggi yang


didiagnosis ISPA, tidak hanya memiliki satu gejala saja, sehingga
didapatkan jumlah keluhan lebih banyak daripada jumlah pasien. Gejala
ISPA dapat dibagi menjadi tiga, yaitu, ringan, sedang, berat. Berdasarkan
data di atas, gejala ISPA ringan ditemukan sebanyak (81%), gejala ISPA
sedang sebanyak (19%), dan gejala ISPA berat sebanyak (0%).

21
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Proporsi penderita penyakit ISPA di wilayah kerja Puskesmas
Tebing Tinggi Januari-April 2021 yang paling tinggi adalah 108
pasien.
2. Proporsi penderita penyakit ISPA di wilayah kerja Puskesmas
Tebing Tinggi Januari-April 2021 yang paling tinggi terdapat pada
kelompok umur diatas 5 tahun (82,4%).
3. Proporsi penderita penyakit ISPA di wilayah kerja Puskesmas
Tebing Tinggi Januari-April 2021 yang paling banyak adalah laki-
laki yaitu 55 balita (51%).
4. Proporsi balita penderita penyakit ISPA di wilayah kerja Puskesmas
Tebing Tinggi Januari-April 2021 yang paling tinggi terjadi pada
bulan Maret 2021 yaitu sebanyak 44 pasien (40%).
5. Manifestasi klinis pasien ISPA di wilayah kerja Puskesmas Tebing
Tinggi Januari-April 2021 paling banyak adalah demam 75 kasus
(35%) dan batuk 68 kasus (32%).
6. Gejala pasien yang didiagnosis ISPA diwilayah kerja Puskesmas
Tebing Tinggi Januari-April 2021 paling banyak adalah gejala
Ringan 87 kasus (81%).

B. Saran

Masyarakat diharapkan bisa mengetahui tanda dan gejala ISPA


sehingga bisa memberikan pertolongan lebih dini dan dapat menurunkan
angka morbiditas dan mortalitas.

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI.


Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 2013.
2. World Health Organization (WHO). Penanganan ISPA pada Anak di Rumah
Sakit Kecil Negara Berkembang. Alih Bahasa: C. Anton Widjaja. Jakarta:
Penerbit Kedokteran EGC, 2003.
3. Harahap, Okto M F. Riwayat ASI Eksklusif pada Balita ISPA di Puskesmas
Sering. Medan: Universitas Sumatera Utara, 2010.
4. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Lingkungan. Pedoman
Pengendalian Infeksi Saluran Pernapasan Akut. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI, 2012.
5. Nelson. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: EGC, 2003.
6. Muttaqin. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta: EGC, 2008.
7. Widarini dan Sumasari. Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian
ISPA pada Bayi. Jurnal Ilmu Gizi (JIG), 1(1): 28-41, 2010.
8. Mirshahi, Seema et al. Prevalence of Exclusive Breastfeeding in Bangladesh
and Its Association with Diarrhoea and Acute Respiratory Infection. J Health
Popul Nutr, 25(2): 105-294, 2007.
9. Erlien. Penyakit Saluran Pernapasan. Jakarta: Sunda Kelapa Pustaka, 2008.
10. Elyana, Mei dan Chandra, Ayu. Hubungan Frekuensi ISPA dengan Status Gizi
Balita. Journal of Nutrition and Health, 1(1), 2014.
11. Layuk, R., Noer, N., Wahiduddin. Faktor yang Berhu***/+bungan dengan
Kejadian ISPA pada Balita di Lembang Batu Sura’. 2013. Diambil pada
tanggal 10 Januari 2016 dari
http://repository.unhas.ac.id/handle/123456789/4279.
12. Gulo, R.R., Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita di Kelurahan Ilir Gunung Sitoli
Kabupaten Nias Tahun 2008. Medan: Universitas Sumatera Utara, 2010.
13. Ibrahim, Hartati. Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian ISPA pada
Anak Balita di Wilayah Puskesmas Botumoito Kabupaten Boalemo Tahun
2010. Makassar: Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin, 2011.
23
14. Dharmage et al. Risk Factors of Acute Lower Respiratory Tract Infections in
Children Under Five Years of Age. Southeast Asian Journal of Trop Med Public
Health, 27(1): 107-110, 2009.
15. Gani, A. Strategi Penurunan Insiden Pneumonia pada anak Balita di
Kecamatan Banyuasin dan Betung Kabupaten Banyuasin Sumatera Selatan.
Medan: Universitas Sumatera Utara, 2004.
16. Gulo, R.R., Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Infeksi Saluran
Pernapasan Akut (ISPA) pada Balita di Kelurahan Ilir Gunung Sitoli
Kabupaten Nias Tahun 2008. Medan: Universitas Sumatera Utara, 2010.
17. Alsagaff, Hood dan Mukty, H. Abdul. (2010). Dasar-dasar Ilmu Penyakit
Paru. Surabaya : Airlangga University Press.
18. Mairusnita, 2007. Karakteristik Penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut
(ISPA) yang Berobat ke Badan Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Umum
Daerah (BPKRSUD) Kota Langsa Tahun 2006. Universitas Sumatera Utara,
Medan. Skripsi.
19. Nasution K., Sjahrullah M., Brohet K., 2009. Infeksi Saluran Napas Akut pada
Balita di Daerah Urban Jakarta. Jurnal Sari Pediatri : Vol 11 No 4.
20. Yulianti I, Ismail D, Supardi S. 2013. Faktor Risiko Kejadian Pneumonia Pada
Anak Balita di Kota Banjarmasin. Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat FK
UGM. Berita Kedokteran Masyarakat XVIII (2) 2013.
21. Ranantha R., L., Mahawati E., Kun K., S., 2012. Hubungan Antara
Karakteristik Balita dengan Kejadian ISPA pada Balita di Desa Gandon
Kecamatan Kaloran Kabupaten Temanggung. Fakultas Kesehatan Universitas
Dian Nuswantoro, Semarang. Skripsi.
22. Sambominanga P. S., Ismanto A. Y., Onibala F. 2014. Hubungan Pemberian
Imunisasi Dasar Lengkap dengan Kejadian Penyakit ISPA Berulang pada
Balita di Puskesmas Ranotana Weu Kota Manado. Program Studi Ilmu
Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Manado

24