Minipro Ispa
Minipro Ispa
Disusun oleh:
dr. Muhammad Marzain
dr. Arif baharsyah Bangun
dr. Ghina Mardiah Afifah
dr. May Zelin Arpinda
Pendamping:
dr. Dessi Yusmiati
1
LEMBAR PENGESAHAN
Oleh:
dr. Muhammad Marzain
dr. Arif baharsyah Bangun
dr. Ghina Mardiah Afifah
dr. May Zelin Arpinda
Dokter Pendamping,
2
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur atas segala nikmat, karunia, dan rahmat yang
diberikan Tuhan Yang Maha Esa dalam menempuh Internship di
Puskesmas Tebing Tinggi. Atas ridho-Nya pula, akhirnya penulis dapat
menyelesaikan tugas penulisan Mini Project dengan judul “Manifestasi
Klinis Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Puskesmas Tebing
Tinggi” untuk memenuhi salah satu syarat program Internship di
Puskesmas Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan.
Terima kasih kami ucapkan kepada :
1. Rafiqoh Karama, S.Kep., Ners., M.Kes selaku Kepala
Puskesmas Tebing Tinggi.
2. dr. Dessi Yusmiati sebagai dokter pendamping Puskesmas
Tebing Tinggi.
3. Rekan-rekan paramedis yang telah membantu pengerjaan mini
project.
Penulis
3
DAFTAR ISI
I. PENDAHULUAN ............................................................................................. 6
A. Latar Belakang ........................................................................................... 6
B. Rumusan Masalah ...................................................................................... 8
C. Tujuan ........................................................................................................8
D. Manfaat ......................................................................................................8
4
IV. KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................................22
C. Kesimpulan .............................................................................................. 22
D. Saran ........................................................................................................22
5
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah infeksi saluran
pernapasan yang disebabkan oleh virus atau bakteri dan berlangsung selama 14
hari. ISPA merupakan penyakit infeksi akut yang menyerang saluran
pernapasan bagian atas dan bagian bawah. ISPA dapat menimbulkan gejala
ringan (batuk, pilek), gejala sedang (sesak, mengi) bahkan sampai gejala berat
(sianosis, pernapasan cuping hidung).1
Pada umumnya anak-anak lebih sering mengalami ISPA baik di negara
berkembang maupun di negara maju. Kejadian ISPA lebih sering terjadi di
negara yang sedang berkembang. Insidensi kejadian ISPA bila dikelompokkan
menurut kelompok umur balita diperkirakan sebesar 0,29 episode per
anak/tahun di negara berkembang dan 0,05 episode per anak/tahun di negara
maju. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat 156 juta episode baru di dunia per
tahun dimana 151 juta episode (96,7%) terjadi di negara berkembang. Kasus
terbanyak terjadi di India (43 juta), China (21 juta), dan Pakistan (10 juta). Di
Bangladesh, Indonesia dan Nigeria masing-masing sekitar 6 juta episode.1, 2
DAFTAR PUSTAKA Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)
masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia. Prevalensi ISPA di
Indonesia pada tahun 2013 sebesar 25,0%, tidak jauh berbeda dengan
prevalensi pada tahun 2007 sebesar 25,5%. Prevalensi ISPA tertinggi terjadi
pada kelompok umur 1-4 tahun sebesar 25,8%, diikuti kelompok umur kurang
dari 1 tahun sebesar 22,0%. ISPA mengakibatkan sekitar 20-30% kematian
pada balita.1,3
Manifestasi klinis ISPA sangat bervariasi mulai dari gejala ringan
seperti batuk, pilek, demam hingga gejala yang berat seperti penurunan
kesadaran, retraksi dinding dada dan nafas cuping hidung. Berat ringannya
gejala yang muncul dipengaruhi oleh beberapa hal seperti imunitas pasien,
virulensi dari agen penyebab, dan intervensi yang dilakukan untuk mengatasi
gejala-gejala tersebut.
ISPA merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien ke sarana
6
kesehatan. Sebanyak 40-60% kunjungan pasien untuk berobat ke Puskesmas
dan 15-30% kunjungan pasien berobat di bagian rawat jalan dan rawat inap di
rumah sakit karena menderita ISPA.4 Dengan mengetahui manifestasi klinis
dari ISPA, diharapkan dapat memberi pemahaman bagi masyarakat, sehingga
bisa melakukan deteksi dini dan mendapat penanganan yang cepat dan tepat.
7
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang tersebut, terdapat rumusan
masalah yaitu bagaimana manifestasi klinis ISPA?
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui bagaimana manifestasi klinis ISPA.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui distribusi frekuensi ISPA di Puskesmas Tebing Tinggi
tahun 2020.
b. Mengetahui manifestasi klinis ISPA di wilayah kerja Puskesmas
Tebing Tinggi.
D. Manfaat
1. Manfaat bagi Penulis
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan penulis lebih
mendalam tentang manifestasi klinis ISPA
2. Manfaat bagi Puskesmas
Laporan ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan pertimbangan
bagi perumusan program kerja di Puskesmas Tebing Tinggi, sehingga
dapat menurunkan angka kejadian ISPA.
3. Manfaat bagi Masyarakat
Memberikan informasi kepada masyarakat tentang manifestasi klinis
ISPA, sehingga masyarakat bias mengenali ISPA lebih dini dan dapat
memberikan penanganan yang cepat dan tepat.
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2. Epidemiologi
ISPA merupakan salah satu masalah kesehatan utama di dunia,
baik di negara maju maupun di negara berkembang. ISPA banyak terjadi
di negara berkembang dan sering menyerang anak-anak terutama bayi
dan balita.7 Di Bangladesh, ISPA merupakan penyakit infeksi yang
menyebabkan kematina sebesar dua per tiga dari total kematian anak
berusia di bawah satu tahun.8 Insidens kejadian ISPA menurut kelompok
umur balita diperkirakan 0,29 episode per anak/tahun di negara
berkembang dan 0,05 episode per anak/tahun di negara maju. Di
Indonesia, angka kejadian ISPA pada tahun 2013 sebesar 25,0%. Lima
provinsi dengan prevalensi ISPA tertinggi yaitu Nusa Tenggara Timur
(41,7%), Papua (31,1%), Aceh (30,0%), Nusa Tenggara Barat (28,3%)
dan Jawa Timur (28,3%). ISPA paling banyak diderita oleh kelompok
usia 1-4 tahun (25,8%). Tidak ada perbedaan angka kejadian ISPA pada
laki-laki maupun perempuan. Penyakit ini lebih banyak dialami pada
kelompok penduduk dengan ekonomi menengah kebawah.1
9
3. Etiologi
ISPA merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri atau
virus. Etiologi ISPA meliputi lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan
riketsia. Bakteri penyebab ISPA terbanyak dari genus Streptococcus,
Staphylococcus, Pneumococcus, Haemophylus, Bordetella, dan
Corinebacterium. Virus penyebab ISPA antara lain dari golongan
Myxovirus, Adenovirus, Coronavirus, Picornavirus, dan lain-lain.
Kebanyakan ISPA disebabkan oleh virus. 1,9
4. Klasifikasi
Berasarkan lokasi anatomi terkena infeksi, ISPA dibagi menjadi:
a. ISPA bagian atas
Yang termasuk ISPA bagian atas adalah nasofaringitis atau common
cold, faringitis akut, rhinitis akut, dan sinusitis akut.5
b. ISPA bagian bawah
Yang termasuk ISPA bagian bawah adalah bronkitis akut, bronkiolitis,
dan pneumonia.5
Menurut Kemenkes RI dalam Pedoman Pengendalian ISPA, ISPA
diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
a. ISPA Pneumonia, merupakan ISPA yang sampai mengenai jaringan
paru-paru (alveoli).4
b. ISPA bukan pneumonia, merupakan penyakit yang dikenal masyarakat
dengan istilah batuk dan pilek (common cold).4
10
hingga <5 tahun 40 kali atau lebih/menit.
5. Faktor Risiko
a. Mikroorganisme penyebab
Penyebab tersering ISPA adalah virus, karena sifatnya yang mudah
menular sehingga angka kejadian ISPA di masyarakat menjadi tinggi.
Tetapi, ISPA yang disebabkan virus tidak memerlukan tatalaksana
khusus karena bersifat self-limiting.
b. Faktor host (pejamu)
1) Usia
ISPA lebih sering terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun. Anak
berusia kurang dari 2 tahun mempunyai risiko terkena ISPA lebih
besra daripada anak yang lebih tua karena pada usia kurang dari 2
tahun anak tersebut belum memiliki imunitas yang sempurna dan
lumen saluran napas yang relatif sempit.10
2) Jenis kelamin
Suatu studi menyebutkan laki-laki lebih banyak mengalami ISPA
daripada perempuan.11 Tetapi dalam Riskesdas disebutkan tidak
terdapat perbedaan angka kejadian ISPA pada laki-laki maupun
perempuan.1 Terdapat sedikit perbedaan anatomi saluran napas
antara anak laki-laki maupun perempuan, namun hal ini tidak
mempengaruhi kejadian ISPA.10
3) Berat lahir
ISPA cenderung terjadi pada balita dengan riwayat berat badan lahir
rendah (BBLR) dibandingkan dengan balita tanpa riwayat BBLR.12
11
Bayi BBLR memiliki sistem pertahanan tubuh yang belum
sempurna.
12
7) Pemberian ASI eksklusif
Pemberian ASI secara eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan
merupakan langkah yang efektif dan efisien dalam memenuhi
kebutuhan gizi dan memberikan perlindungan bagi bayi dari serangan
infeksi khususnya ISPA. ASI mengandung banyak faktor kekebalan
dan bermanfaat terhadap pencegahan ISPA terutama sejak
pemberian ASI di awal kehidupan bayi hingga bayi berusia 6 bulan,
salah satunya adalah imunoglobulin. Imunoglobulin yang banyak
ditemukan pada saluran cerna dan saluran napas adalah
imunoglobulin A (IgA). Selama minggu pertama kehidupan (4-6
hari) payudara ibu akan menghasilkan kolostrum, yaitu ASI awal
yang banyak mengandung zat-zat kekebalan tubuh (imunoglobulin,
komplemen, lisozim, laktoferin, dan sel-sel leukosit) yang sangat
penting untuk melindungi bayi dari serangan infeksi.15
Bayi yang diberi ASI eksklusif cenderung tidak pernah mengalami
ISPA sedangkan bayi yang mendapatkan ASI non-eksklusif
cenderung lebih sering mengalami ISPA. Risiko anak yang diberi
ASI tidak secara eksklusif lebih besar dibandingkan dengan anak
yang diberi ASI secara eksklusif. Kematian akibat penyakit saluran
pernapasan 2-6 kali lebih banyak pada bayi yang diberi susu formula
dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI.15
c. Faktor lingkungan
Beberapa faktor dari lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan,
meliputi udara, kelembapan, air, dan pencemaran udara. ISPA termasuk
air-borne disease yang merupakan penyakit yang penularannya melalui
udara yang tercemar dan masuk ke dalam tubuh melalui saluran
pernapasan. Karena itu, secara epidemiologi, udara mempunyai
peranan yang besar pada transmisi penyakit infeksi saluran pernapasan.
Selain itu, faktor dari lingkungan yang meningkatkan risiko terjadinya
kejadian ISPA adalah asap yang dihasilkan pabrik, asap kendaraan
bermotor, asap dari perokok, asap dari bahan bakar yang digunakan
untuk memasak, kurangnya ventilasi di rumah, suhu ruangan rumah di
bawah 18°C atau di atas 30°C, kepadatan hunian rumah, penggunaan
antinyamuk, dan partikel debu.16
13
d. Faktor lingkungan
Beberapa faktor dari lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan,
meliputi udara, kelembapan, air, dan pencemaran udara. ISPA termasuk
air-borne disease yang merupakan penyakit yang penularannya melalui
udara yang tercemar dan masuk ke dalam tubuh melalui saluran
pernapasan. Karena itu, secara epidemiologi, udara mempunyai
peranan yang besar pada transmisi penyakit infeksi saluran pernapasan.
Selain itu, faktor dari lingkungan yang meningkatkan risiko terjadinya
kejadian ISPA adalah asap yang dihasilkan pabrik, asap kendaraan
bermotor, asap dari perokok, asap dari bahan bakar yang digunakan
untuk memasak, kurangnya ventilasi di rumah, suhu ruangan rumah di
bawah 18°C atau di atas 30°C, kepadatan hunian rumah, penggunaan
antinyamuk, dan partikel debu.16
6. Patofisiologi
14
7. Manifestasi Klinis
15
8. Diagnosis
16
BAB III
PEMBAHASAN
17
2021. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan
atau hubungan yang berarti antara waktu terjadinya ISPA dengan
banyaknya kejadian ISPA di wilayah kerja Puskesmas Tebing Tinggi
tahun 2021. Namun, menurut Mairusnita (2007) dalam hasil
penelitiannya mengemukakan bahwa kasus ISPA cenderung banyak
ditemukan pada bulan Oktober sampai bulan Desember yang merupakan
musim hujan. Hal ini dikarenakan pada musim hujan menyebabkan
terjadinya kelembaban yang tinggi yang menyebabkan bakteri bertahan
lebih lama sehingga mudah terjadi penularan. Selain itu musim hujan
menyebabkan terjadinya kepadatan hunian yang akan memengaruhi
terjadinya cross infection dimana bila ada penderita ISPA berada dalam
ruangan yang padat akan cepat menularkannya ke orang lain melalui
udara pada saat batuk atau bersin.18
18
(68%) dibanding balita perempuan (32%).20 Padmonobo dkk (2012) juga
menyatakan dalam hasil penelitiannya bahwa proporsi balita sebagai
subjek penelitian menurut jenis kelamin hampir sama antara laki-laki dan
perempuan. Namun Ranantha (2012) dalam hasil penelitiannya
menyatakan bahwa berdasarkan hasil uji chi square terlihat ada
hubungan antara jenis kelamin laki-laki dengan kejadian ISPA pada
balita di desa Gandon (p value = 0,003) dan jenis kelamin laki-laki
mempunyai risiko 5,641 kali lebih besar untuk terjadinya ISPA daripada
balita dengan jenis kelamin perempuan. Pada umumnya tidak ada
perbedaan insiden ISPA akibat virus atau bakteri pada laki-laki dan
perempuan. Akan tetapi terdapat sedikit perbedaan yaitu insidens lebih
tinggi pada anak laki-laki.21
19
penelitian yang dilakukan oleh Yulianti (2013) menyatakan bahwa kasus
ISPA ditemukan paling banyak pada balita dengan umur <2 tahun
(77,6%).20 Sambominanga dkk (2014) dalam penelitiannya di kota
Manado menyatakan bahwa balita dengan kelompok umur <3 tahun lebih
rentan mengalami ISPA dibandingkan dengan kelompok umur lainnya.
Hal ini dikarenakan sistem imunitas anak yang masih lemah dan organ
pernapasan anak yang belum mencapai kematangan sempurna sehingga
apabila terpajan faktor risiko akan lebih rentan terkena penyakit ISPA.22
Penelitian yang dilakukan oleh Ranantha (2012) menyatakan
bahwa tidak ada hubungan antara umur dengan kejadian ISPA pada
balita yang dilakukan di desa Gandon (p value = 1,000). Hal ini juga
sejalan dengan hasil penelitian Mairusnita (2007) di RSUD Kota Langsa
dengan desain case series, hasil analisis uji chi-square menunjukkan
bahwa tidak ada hubungan antara umur balita dengan frekuensi kejadian
ISPA (p value = 0,795).21
20
Gejala Pasien ISPA yang Datang ke Puskesmas Tebing Tinggi Bulan
Januari-April 2021 Berdasarkan Berat Ringannya Gejala
21
BAB IV
A. Kesimpulan
1. Proporsi penderita penyakit ISPA di wilayah kerja Puskesmas
Tebing Tinggi Januari-April 2021 yang paling tinggi adalah 108
pasien.
2. Proporsi penderita penyakit ISPA di wilayah kerja Puskesmas
Tebing Tinggi Januari-April 2021 yang paling tinggi terdapat pada
kelompok umur diatas 5 tahun (82,4%).
3. Proporsi penderita penyakit ISPA di wilayah kerja Puskesmas
Tebing Tinggi Januari-April 2021 yang paling banyak adalah laki-
laki yaitu 55 balita (51%).
4. Proporsi balita penderita penyakit ISPA di wilayah kerja Puskesmas
Tebing Tinggi Januari-April 2021 yang paling tinggi terjadi pada
bulan Maret 2021 yaitu sebanyak 44 pasien (40%).
5. Manifestasi klinis pasien ISPA di wilayah kerja Puskesmas Tebing
Tinggi Januari-April 2021 paling banyak adalah demam 75 kasus
(35%) dan batuk 68 kasus (32%).
6. Gejala pasien yang didiagnosis ISPA diwilayah kerja Puskesmas
Tebing Tinggi Januari-April 2021 paling banyak adalah gejala
Ringan 87 kasus (81%).
B. Saran
22
DAFTAR PUSTAKA
24