Anda di halaman 1dari 49

BAGIAN IKM-IKK REFERAT

BADAN KOORDINASI PENDIDIKAN JULI 2019


RS IBNU SINA YW-UMI MAKASSAR

KARAKTERISTIK PASIEN ISPA


PADA BALITA
DI PUSKESMAS SUDIANG RAYA

DISUSUN OLEH:
Widya Kemalasari
111 2017 2101

PEMBIMBING:
dr. Armanto Makmun, M.Kes

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT & KEDOKTERAN KOMUNITAS
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2019

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ..........................................................................................

DAFTAR ISI ...........................................................................................................

ii

LEMBAR PENGESAHAN ....................................................................................

iv

KATA PENGANTAR ............................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang 18

1.2. Rumusan Masalah 19

1.3. Tujuan Penelitian 19

1.3.1. Tujuan Umum 19

1.3.2. Tujuan Khusus 19

1.4. Manfaat Penelitian 19

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Umum Tentang ISPA 21

2.1.1 Definisi ISPA 22

2.1.2 Faktor Resiko dan Etiologi 23

2.1.3 Epidemiologi 23

2.1.4 Klasifikasi ISPA 30

2.1.5 Tanda dan Gejala ISPA 31

iii
2.1.6 Penatalaksanaan ISPA 31

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian 32

3.2. Tempat Penelitian 32

3.3. Populasi dan Sampel Penelitian 32

3.4. Teknik Sampel 32

3.5. Kriteria Sampel 33

3.6. Definisi Operasional 33

3.7. Instrumen Penelitian 34

3.8. Teknik Pengumpulan Data 34

3.9. Pengolahan dan Penyajian Data 34

3.10. Etika Penelitian 34

3.11. Keterbatasan Penelitian 34

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN................................35

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1. Hasil Penelitian 38

5.2. Pembahasan 39

5.3. Keterbatasan Penelitian 39

BAB VI PENUTUP

6.1. Kesimpulan 40

6.2. Saran 40

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 41

iv
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini, menerangkan bahwa mahasiswa berikut:

Nama : Widya Kemalasari


Stambuk : 111 2017 2101

Telah menyelesaikan studi kasus yang berjudul “Karakteristik Pasien


ISPA pada Balita di Puskesmas Sudiang Raya Makassar” telah diperiksa
dan disetujui di hadapan Tim Laporan Studi Kasus.

Makassar, JuLi 2019


Mengetahui,

DPK Puskesmas Sudiang Raya Pembimbing

dr.Hj. Syamsiah dr. Armanto Makmun, M.Kes

v
ii
HALAMAN PERSETUJUAN

Yang bertanda tangan dibawah ini, menerangkan bahwa mahasiswa berikut:

Nama : Widya Kemalasari


Stambuk : 111 2017 2101

Telah menyelesaikan studi kasus yang berjudul “Karakteristik Pasien


ISPA pada Balita di Puskesmas Sudiang Raya Makassar” telah
mendiskusikannya dengan pembimbing.

Makassar, Juli 2019


Mengetahui,

Pembimbing

dr. Armanto Makmun, M.Kes

ii
ii
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa :

Nama : Widya Kemalasari

NIM : 111 2017 2101

Judul Refarat : Karakteristik Pasien ISPA pada Balita di Puskesmas


Sudiang Raya Makassar

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian

Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia

Makassar, Juli 2019


Mengetahui,

DPK Puskesmas Sudiang Raya Pembimbing

dr. Hj. Samsiah dr. Armanto Makmun, M.Kes

ii
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum.Wr.Wb.

Segala puji dan syukur atas kehadirat Allah S.W.T yang telah melimpahkan
Rahmat dan Karunia-Nya sehingga Referat dengan judul “Karakteristik Pasien
ISPA Di Puskesmas Sudiang Raya” dapat diselesaikan. Pada kesempatan ini
penyusun mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala bantuan
dan bimbingan dari dokter pembimbing bagian IKM-IKK di RS Ibnu Sina YW-
UMI Makassar dan DPK di Puskesmas Sudiang Raya sehingga referat ini dapat
terselesaikan.

Terima kasih yang sebesar – besarnya kami ucapkan kepada berbagai pihak
yang telah membantu kami dalam penyusunan referat ini sehingga dapat selesai
tepat pada waktunya. Permohonan maaf juga kami sampaikan apabila dalam referat
ini terdapat kesalahan. Semoga referat ini dapat menjadi acuan untuk menjadi bahan
belajar berikutnya.

Tidak lupa ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya untuk kedua orang
tua tercinta, yang selalu memberikan motivasi, dukungan do’a, dan selalu sabar
dalam memberikan nasehat serta arahan kepada penyusun. Semoga apa yang telah
kita lakukan bernilai ibadah disisi Allah SWT dan kita senantiasa mendapatkan
Ridho-Nya.

Makassar , Juli 2019

PENULIS

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu
masalah kesehatan yang ada di negara berkembang dan negara maju. Hal ini
dikarenakan masih tingginya angka kesakitan dan angka kematian karena ISPA
khususnya pneumonia, terutama pada bayi dan balita.1
Pedoman kerja puskesmas membagi ISPA menjadi 3 kelompok besar, yaitu
ISPA berat atau pneumonia berat ditandai oleh adanya tarikan dinding dada bagian
bawah ke dalam waktu inspirasi. ISPA sedang atau pneumonia bila frekuensi nafas
menjadi cepat. Dan ISPA ringan atau bukan pneumonia, ditandai dengan batuk
pilek tanpa nafas cepat, tanpa tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam, seperti
misalnya nasofaringitis, faringitis, rinofaringitis, dan lain sebagainya. Khusus
untuk bayi dibawah 2 bulan hanya dikenal ISPA berat dan ISPA ringan.2
ISPA merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien ke sarana
kesehatan, dari angka-angka di Rumah sakit Indonesia didapatkan bahwa 40%
sampa 70% anak yang berobat di Rumah sakit adalah penderita ISPA (Depkes,
1985). Sebanyak 40%-60% kunjungan pasien ISPA berobat ke puskesmas dan
15%-30% kunjungan pasien ISPA berobat ke bagian rawat jalan dan rawat inap
rumah sakit (Depkes,2000).1
Menurut laporan WHO tahun 2005, sekitar 19% atau berkisar 1,6-2,2 juta anak
meninggal dunia tiap tahun akibat pneumonia. Menurut survei kematian balita
tahun 2005, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) masih merupakan masalah
kesehatan masyarakat di Indonesia dan sebagian besar disebabkan karena
pneumonia 23,6%. Angka kesakitan diperkirakan mencapai 250 hingga 299 per
1000 anak balita setiap tahunnya.3
Tingginya mortalitas bayi dan balita karena ISPA-Pneumonia menyebabkan
penanganan penyakit ISPA-Pneumonia menjadi sangat penting artinya kondisi ini
disadari oleh pemerintah sehingga dalam program Pemberantasan Penyakit Infeksi
Saluran Pernapasan Akut (P2 ISPA) telah menggariskan untuk menurunka angka

4
kematian balita akibat pneumonia dari 5/1000 balita pada tahun 2000 menjadi
3/1000 pada tahun 2005 dan menurunkan angka kesakitan pneumonia balita dari
10-20% menjadi 8-16% pada tahun 2005.3
Ada banyak faktor yang mempengaruhi kejadian ISPA baik secara langsung
maupun tidak langsung, menurut Sutrisna (1993) faktor resiko yang menyebabkan
ISPA pada balita adalah sosio-ekonomi (pendapatan, perumahan, pendidikan orang
tua), status gizi, tingkat pengetahuan ibu dan faktor lingkungan (kualitas udara).
Sedangkan Depkes (2002) menyebutkan bahwa faktor penyebab ISPA pada balita
adalah berat badan bayi lahir rendah (BBLR), status gizi buruk, imunisasi yang
tidak lengkap, kepadatan tempat tinggal dan lingkungan fisik.1
Lingkungan yang berpengaruh dalam proses terjadinya ISPA adalah
lingkungan perumahan dimana kualitas rumah berdampak terhadap kesehatan
anggotanya. Kualitas rumah dapat dilihat dari jenis atap, jenis lantai, jenis dinding,
kepadatan hunian, jenis bahan bakar masak yang dipakai. Faktor-faktor diatas
diduga sebagai penyebab terjadinya ISPA (Depkes RI, 2003).1

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat diambil rumusan masalah
penelitian adalah "Bagaimanakah gambaran karakteristik pasien ISPA di
Puskesmas Sudiang Raya ?"

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran karakteristik pasien ISPA di
Puskesmas Sudiang Raya

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Untuk mengetahui gambaran jenis kelamin pada pasien ISPA di
Puskesmas Sudiang Raya
2. Untuk mengetahui gambaran usia pada pasien ISPA di
Puskesmas Sudiang Raya

5
3. Untuk mengetahui gambaran status gizi pada pasien ISPA di
Puskesmas Sudiang Raya
4. Untuk mengetahui gambaran faktor lingkungan pada pasien ISPA
di Puskesmas Sudiang Raya

1.4 Manfaat Penelitian


A. Bagi Institusi Kesehatan
1. Memberikan pengetahuan mengenai pentingnya pemantauan informasi
kesehatan dan penyakit ISPA
2. Memberikan pengetahuan mengenai pentingnya pemantauan ISPA
sehingga dapat dikontrol apabila terjadi masalah dengan penyakit ISPA
B. Bagi Peneliti
Sebagai pengalaman yang sangat berharga dalam rangka mengembangkan
ilmu pengetahuan serta pengembangan terkhusus dalam bidang penelitian.
C. Bagi Ilmu Pengetahuan
1. Menjadi acuan dalam hal pemantauan ISPA di wilayah kerja
Puskesmas Sudiang Raya
2. Dapat menjadi sumber informasi dan bahan bacaan bagi peneliti
berikutnya.

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Umum tentang ISPA

2.1.1 Definisi ISPA

Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah infeksi saluran


pernafasan akut yang menyerang tenggorokan, hidung dan paru-paru yang
berlangsung kurang lebih 14 hari, ISPA mengenai struktur saluran di atas
laring, tetapi kebanyakan penyakit ini mengenai bagian saluran atas dan
bawah secara stimulan atau berurutan.4
ISPA adalah penyakit yang menyerang salah satu bagian dan atau
lebih dari saluran pernafasan mulai dari hidung hingga alveoli termasuk
jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura.5
Jadi disimpulkan bahwa ISPA adalah suatu tanda dan gejala akut
akibat infeksi yang terjadi disetiap bagian saluran pernafasan atau struktur
yang berhubungan dengan pernafasan yang berlangsung tidak lebih dari 14
hari.

2.1.2 Etiologi
Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia.
Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptokokus,
Stafilokokus, Pneumokokus, Hemofillus, Bordetelia dan Korinebakterium.
Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus, Adnovirus,
Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus dan lain-lain.6
2
ISPA disebabkan oleh bakteri atau virus yang masuk kesaluran nafas. Salah
satu penyebab ISPA yang lain adalah asap pembakaran bahan bakar kayu yang
biasanya digunakan untuk memasak. Asap bahan bakar kayu ini banyak
menyerang lingkungan masyarakat, karena masyarakat terutama ibu-ibu rumah

7
tangga selalu melakukan aktifitas memasak tiap hari menggunakan bahan
bakar kayu, gas maupun minyak. Timbulnya asap tersebut tanpa disadarinya
telah mereka hirup sehari-hari, sehingga banyak masyarakat mengeluh batuk,
sesak nafas dan sulit untuk bernafas. Polusi dari bahan bakar kayu tersebut
mengandung zat-zat seperti Dry basis, Ash, Carbon, Hidrogen, Sulfur,
Nitrogen dan Oxygen yang sangat berbahaya bagi kesehatan.7

2.1.3 Epidemiologi
Data epidemiologi kasus ISPA/pneumonia di Indonesia berdasarkan hasil
Riskesdes tahun 2007, menunjukan prevalensi nasional ISPA 25,5% (16 provinsi
di atas angka nasional yaitu Nad, Sumatra utara, Sumatra barat, Riau, Jambi,
Sumatra selatan, Bengkulu, Lampung, Bangka belitung, Kepulauan Riau, DKI
Jakarta, Jawa barat, NTT, Gorontalo, Papua barat, Sulawesi tengah. Angka
kesakitan (morbiditas) pneumonia bayi 2,2%, angka kesakitan (morbiditas)
pneumonia balita 3%, kematian bayi karena pneumonia (mortalitas) 23,8% atau
kematian balita karena pneumonia (mortalitas) 15,5%. 4
Di dunia dari 9 juta kematian balita lebih dari 2 juta balita meninggal setiap
tahunnya akibat pneumonia atau sama dengan 4 balita meninggal setiap menitnya.
Dari lima kematian balita satu diantaranya disebabkan pneumonia. Kondisi di tahun
2003 tidak berbeda jauh dengan kondisi pada tahun 2007, dan berdasarkan Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdes) penyebab kematian umur 1-4 tahun adalah
pneumonia (ISPA) 15,5%, diare 25,2%, campak 5,8%, dan DBD 6,8%.4
Insidensi ISPA di Sulawesi Selatan menunjukan angka berfluktuasi setiap
tahun. Insidensi pneumonia pada bayi dan balita di sulawesi selatan pada tahun
2010 sebanyak 8,5/1000 bayi dan balita dengan angka Case Fetality Rate (CFR)
pneumonia 0,00059 tahun 2011 sebanyak 10,5/1000 bayi dan balita dengan angka
CFR 0,001. Adapun insidensi bayi dan balita penderita batuk bukan pneumonia
tahun 2010 sebanyak 30,5/100 bayi dan balita tahun 2011 sebanyak 26,7/100 bayi
dan balita.
Setiap tahunnya ± 40 juta orang mengunjungi pusat pelayanan kesehatan
karena faringitis. Anak-anak dan orang dewasa umumnya mengalami 3−5 kali infeksi
virus pada saluran pernafasan atas termasuk faringitis (Kementerian Kesehatan

8
Republik Indonesia, 2013). Frekuensi munculnya faringitis lebih sering pada populasi
anak-anak. Kira-kira 15−30% kasus faringitis 12 pada anak-anak usia sekolah dan
10% kasus faringitis pada orang dewasa. Biasanya terjadi pada musim dingin yaitu
akibat dari infeksi Streptococcus ß hemolyticus group A. Faringitis jarang terjadi pada
anak-anak kurang dari tiga tahun (Acerra, 2010).
Prevalensi infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) menurut riset kesehatan
dasar di Indonesia pada tahun 2013 terdapat (25,0%) kasus yang tertinggi pada
balita usia 1-4 tahun, ada lima provinsi setinggi yang menyumbang infeksi saluran
pernafasan akut yaitu Nusa Tenggara Timur (41,7%), Papua (31,1%), Aceh
(30,0%), Nusa Tenggara Barat (28,3%), dan Jawa Timur (28,3%). Yogyakarta
sendiri masuk dalam urutan ke 18 dari seluruh provinsi di Indonesia dengan jumlah
kasus (23,3%) dimana kasus tersebut tertinggi pada usia 1-4 tahun (Riskesdes RI,
2013). Pada tahun 2014 tercatat dari rekap laporan pengendalian infeksi saluran
pernafasan akut (ISPA) dinas kesehatan kota Yogyakarta pada umur < 1 tahun
insiden infeksi saluran pernafasan akut berjumlah 4.758 jiwa dan pada umur 1-4
tahun insiden infeksi saluran pernafasan akut berjumlah 12.022 jiwa (Dinkes DIY,
2014)

2.1.4 Klasifikasi ISPA


Klasifikasi penyakit ISPA dibedakan untuk golongan umur di bawah 2
bulan dan untuk golongan umur 2 bulan-5 tahun :4
a. Golongan Umur Kurang 2 Bulan
1) Pneumonia Berat
Bila disertai salah satu tanda tarikan kuat di dinding pada bagian bawah atau
napas cepat. Batas napas cepat untuk golongan umur kurang 2 bulan yaitu 6x
per menit atau lebih.
2) Bukan Pneumonia (batuk pilek biasa)
Bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau
napas cepat. Tanda bahaya untuk golongan umur kurang 2 bulan, yaitu:
o Kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun sampai kurang
dari ½ volume yang biasa diminum)
o Kejang

9
o Kesadaran menurun
o Stridor
o Wheezing
o Demam / dingin.

b. Golongan Umur 2 Bulan-5 Tahun


1) Pneumonia Berat
Bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan di dinding dada bagian bawah
ke dalam pada waktu anak menarik nafas (pada saat diperiksa anak harus
dalam keadaan tenang, tidak menangis atau meronta).
2) Pneumonia Sedang
Bila disertai napas cepat. Batas napas cepat ialah:
o Untuk usia 2 bulan-12 bulan = 50 kali per menit atau lebih
o Untuk usia 1-4 tahun = 40 kali per menit atau lebih.
3) Bukan Pneumonia
Bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada napas
cepat. Tanda bahaya untuk golongan umur 2 bulan-5 tahun yaitu :
o Tidak bisa minum
o Kejang
o Kesadaran menurun
o Stridor
o Gizi buruk
Klasifikasi ISPA menurut Depkes RI (2002) adalah :7
a. ISPA ringan
Seseorang yang menderita ISPA ringan apabila ditemukan gejala batuk, pilek
dan sesak.
b. ISPA sedang
ISPA sedang apabila timbul gejala sesak nafas, suhu tubuh lebih dari 390 C dan
bila bernafas mengeluarkan suara seperti mengorok.
c. ISPA berat

10
Gejala meliputi: kesadaran menurun, nadi cepat atau tidak teraba, nafsu makan
menurun, bibir dan ujung nadi membiru (sianosis) dan gelisah.

2.1.5 Patofisiologi

Infeksi antara
agent-environment
Prepatogenesis
Interaksi antara
host - environment

Perjalan penyakit Tahap inkubasi

Tahap penyakit dini


Patogenesis
Tahap penyakit
lanjut

Tahap penyakit
akhir

Gambar 1. Perjalanan Penyakit ISPA

A. Periode Prepatogenesis : Penyebab telah ada tapi belum menunjukan reaksi


- Interaksi antara agen - environment
Sebagai daerah tropis, Indonesia memiliki potensi daerah endemis,
beberapa penyakit infeksi yang setiap saat dapat menjadi ancaman bagi
kesahatan masyarakat. Pengaruh geografis dapat menyebabkan mudahnya
agen berkembang. Perubahan cuaca yg begitu cepat juga menjadi penyebab
penyebaran virus dan bakteri
- Interaksi antara host – environment
Pencemaran lingkungan seperti asap karena kebakaran hutan, gas buang
sarana transportasi dan polusi udara dalam rumah dapat menimbulkan
penyakit ISPA jika terhirup oleh host
B. Periode patogenesis
- Tahap inkubasi
Agen penyebab penyakit ISPA telah merusak lapisan epitel dan lapisan
mukosa saluran pernapasan, akibatnya tubuh menjadi lemah apalagi

11
diperparah dengan keadaan keadaan gizi dan daya tahan tubuh yang
sebelumnya rendah.
- Tahap penyakit dini
Tahap ini mulai dengan munculnya gejala-gejala klinis dapat karena adanya
interaksi.
- Tahap penyakit lanjut
Merupakan tahap dimana penyakit memerlukan pengobatan yang tepat
untuk menghindari akibat lanjut yang kurang baik
- Tahap penyakit akhir
Dapat sembuh sempurna, sembuh dengan atelektasis, menjadi kronis, dan
dapat meninggal akibat pneumonia.

2.1.6. Faktor Resiko

Faktor resiko timbulnya ISPA menurut Dharmage (2009) :8


A. Faktor Demografi
Faktor demografi terdiri dari 3 aspek yaitu :
1) Jenis kelamin
Bila dibandingkan antara orang laki-laki dan perempuan, laki-lakilah yang
banyak terserang penyakit ISPA karena mayoritas orang laki-laki
merupakan perokok dan sering berkendaraan, sehingga mereka sering
terkena polusi udara.
2) Usia
Anak balita dan ibu rumah tangga yang lebih banyak terserang penyakit
ISPA. Hal ini disebabkan karena banyaknya ibu rumah tangga yang
memasak sambil menggendong anaknya.
3) Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh dalam
kesehatan, karena lemahnya manajemen kasus oleh petugas kesehatan serta
pengetahuan yang kurang di masyarakat akan gejala dan upaya
penanggulangannya, sehingga banyak kasus ISPA yang datang kesarana
pelayanan kesehatan sudah dalam keadaan berat karena kurang mengerti

12
bagaimana cara serta pencegahan agar tidak mudahterserang penyakit
ISPA.

B. Faktor Biologis
Faktor biologis terdiri dari 2 aspek yaitu :9
1) Status gizi
Menjaga status gizi yang baik, sebenarnya bisa juga mencegah atau
terhindar dari penyakit terutama penyakit ISPA. Misal dengan
mengkonsumsi makanan 4 sehat 5 sempurna dan memperbanyak minum air
putih, olah raga yang teratur serta istirahat yang cukup. Karena dengan
tubuh yang sehat maka kekebalan tubuh akan semakin menigkat, sehingga
dapat mencegah virus ( bakteri) yang akan masuk kedalam tubuh.
Gizi merupakan salah satu penentu dari kualitas sumber daya
manusia. Akibat kekurangan gizi akan menyebabkan beberapa efek serius
seperti kegagalan dalam pertumbuhan fisik serta tidak optimalnya
perkembangan dan kecerdasan. Akibat lain adalah terjadinya penurunan
produktifitas, menurunnya daya tahan tubuh terhadap penyakit yang akan
meningkatkan resiko kesakitan salah satunya adalah infeksi saluran
pernapasan akut (ISPA) (Marimbi, 2010). Ditambahkan oleh Koch (2002)
menyatakan bahwa prevalensi ISPA akan meningkat pada anak dengan
status gizi buruk. Menurut Pudjiadi (2001), malnutrisi akan menurunkan
imunitas seluler, kelenjar timus dan tonsil menjadi atrofik dan jumlah T-
limfosit berkurang sehingga tubuh akan lebih rentan terhadap infeksi. Selain
itu malnutrisi juga dapat mengganggu proses fisiologis saluran napas dalam
hal proteksi terhadap agen penyakit. Pada saluran napas dalam keadaaan
normal terdapat proses fisiologis dalam menghalau agen penyakit, seperti
reflex batuk, peningkatan jumlah cairan mukosa ketika terdapat agen yang
membahayakan kesehatan saluran napas. Pada anak dengan keadaan
malnutrisi, proses fisiologi ini tidak berjalan dengan baik, sehingga agen
penyakit yang seharusnya dikeluarkan oleh tubuh menjadi terakumulasi
dalam saluran napas sampai paruparu. Pada anak yang mengalami kurang

13
gizi pada tingkat ringan atau sedang masih dapat beraktifitas, tetapi bila
diamati dengan seksama badannya akan mulai kurus, stamina dan daya
tahan tubuhnya pun menurun, sehingga mempermudah untuk terjadinya
penyakit infeksi, sebaliknya anak yang menderita penyakit infeksi akan
mengalami gangguan nafsu makan dan penyerapan zat-zat gizi sehingga
menyebabkan kurang gizi (Andarini dkk, 2005).
2) Faktor rumah
Syarat-syarat rumah yang sehat :6
Bahan bangunan
a. Lantai : Ubin atau semen adalah baik. Syarat yang penting disini adalah
tdak berdebu pada musim kemarau dan tidak basah pada musim hujan.
Untuk memperoleh lantai tanah yang padat (tidak berdebu) dapat
ditempuh dengan menyiram air kemudian dipadatkan dengan benda-
benda yang berat, dan dilakukan berkali-kali. Lantai yang basah dan
berdebu merupakan sarang penyakit gangguan pernapasan.
b. Dinding : Tembok adalah baik, namun disamping mahal tembok
sebenarnya kurang cocok untuk daerah tropis, lebih-lebih bila
ventilasinya tidak cukup. Dinding rumah di daerah tropis khususnya di
pedesaan lebih baik dinding atau papan. Sebab meskipun jendela tidak
cukup, maka lubang-lubang pada dinding atau papan tersebut dapat
merupakan ventilasi, dan dapat menambah penerangan alamiah.
c. Atap Genteng : Atap genteng adalah umum dipakai baik di daerah
perkotaan maupun pedesaan. Disamping atap genteng cocok untuk
daerah tropis, juga dapat terjangkau oleh masyarakat dan bahkan
masyarakat dapat membuatnya sendiri. Namun demikian, banyak
masyarakat pedesaan yang tidak mampu untuk itu, maka atap daun
rumbai atau daun kelapa pun dapat dipertahankan. Atap seng ataupun
asbes tidak cocok untuk rumah pedesaan, di samping mahal juga
menimbulkan suhu panas didalam rumah.
d. Lain-lain (tiang, kaso dan reng) Kayu untuk tiang, bambu untuk kaso
dan reng adalah umum di pedesaan. Menurut pengalaman bahan-bahan

14
ini tahan lama. Tapi perlu diperhatikan bahwa lubang lubang bambu
merupakan sarang tikus yang baik. Untuk menghindari ini cara
memotongnya barus menurut ruas-ruas bambu tersebut, maka lubang
pada ujung-ujung bambu yang digunakan untuk kaso tersebut ditutup
dengan kayu.
3) Ventilasi
Ventilasi rumah mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama adalah untuk
menjaga agar aliran udara di dalam rumah tersebut tetap segar. Hal ini berarti
keseimbangan O2 yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut tetap terjaga.
Kurangnya ventilasi akan menyebabkan O2 (oksigen) didalam rumah yang
berarti kadar CO2 (karbondioksida) yang bersifat racun bagi penghuninya
menjadi meningkat. Tidak cukupnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban
udara didalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan dari kulit dan
penyerapan. Kelembaban ini akan merupakan media yang baik untuk bakteri-
bakteri, patogen (bakteri-bakteri penyebab penyakit)
4) Cahaya
Rumah yang sehat memerlukan cahaya yang cukup, tidak kurang dan tidak
terlalu banyak. Kurangnya cahaya yang masuk kedalam ruangan rumah,
terutama cahaya matahari di samping kurang nyaman, juga merupakan media
atau tempat yang baik untuk hidup dan berkembangnya bibit-bibit penyakit.
Sebaliknya terlalu banyak cahaya didalam rumah akan menyebabkan silau, dam
akhirnya dapat merusakan mata.

C. Faktor Polusi
Adapun penyebab dari faktor polusi terdiri dari 2 aspek yaitu :10
1) Cerobong asap
Cerobong asap sering kita jumpai diperusahaan atau pabrik-pabrik industri
yang dibuat menjulang tinggi ke atas (vertikal). Cerobong tersebut dibuat agar
asap bisa keluar ke atas terbawa oleh angin. Cerobong asap sebaiknya dibuat
horizontal tidak lagi vertikal, sebab gas (asap) yang dibuang melalui cerobong
horizontal dan dialirkan ke bak air akan mudah larut. Setelah larut debu halus

15
dan asap mudah dipisahkan, sementara air yang asam bisa dinetralkan oleh
media Treated Natural Zeolid (TNZ) yang sekaligus bisa menyerap racun dan
logam berat. Langkah tersebut dilakukan supaya tidak akan ada lagi
pencemaran udara, apalagi hujan asam. Cerobong asap juga bisa berasal dari
polusi rumah tangga, polusi rumah tangga dapat dihasilkan oleh bahan bakar
untuk memasak, bahan bakar untuk memasak yang paling banyak
menyebabkan asap adalah bahan bakar kayu atau sejenisnya seperti arang.
2) Kebiasaan merokok
Satu batang rokok dibakar maka akan mengelurkan sekitar 4.000 bahan
kimia seperti nikotin, gas karbon monoksida, nitrogen oksida, hidrogen
cianida, ammonia, acrolein, acetilen, benzol dehide, urethane, methanol,
conmarin, 4-ethyl cathecol, ortcresorperyline dan lainnya, sehingga di bahan
kimia tersebut akan beresiko terserang ISPA. Terdapat seorang perokok atau
lebih dalam rumah akan memperbesar risiko anggota keluarga menderita
sakit, seperti gangguan pernafasan, memperburuk Asma dan memperberat
penyakit angine pectoris serta dapat meningkatkan risiko untuk mendapatkan
serangan ISPA khususnya pada Balita. Paparan Asap rokok merupakan
penyebab signifikan masalah kesehatan seperti ISPA dan penyakit yang
menyerang saluran pernafasan lainnya.
D. Faktor timbulnya penyakit
Faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit menurut Bloom dikutip dari
Effendy (2004) menyebutkan bahwa lingkungan merupakan salah satu faktor
yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, sehat atau tidaknya
lingkungan kesehatan, individu, keluarga dan masyarakat sangat tergantung
pada perilaku manusia itu sendiri. Disamping itu, derajat kesehatan juga
dipengaruhi oleh lingkungan, misalnya membuat ventilasi rumah yang cukup
untuk mengurangi polusi asap maupun polusi udara, keturunan, misalnya
dimana ada orang yang terkena penyakit ISPA di situ juga pasti ada salah satu
keluarga yang terkena penyakit ISPA karena penyakit ISPA bisa juga
disebabkan karena keturunan, dan dengan pelayanan sehari-hari yang baik maka

16
penyakit ISPA akan berkurang dan kesehatannya sedikit demi sedikit akan
membaik, dan pengaruh mempengaruhi satu dengan yang lainnya.

4.1.7 Tanda dan Gejala ISPA


ISPA merupakan proses inflamasi yang terjadi pada setiap bagian saluran
pernafasan atas maupun bawah, yang meliputi infiltrat peradangan dan edema
mukosa, kongestif vaskuler, bertambahnya sekresi mukus serta perubahan struktur
fungsi siliare.4
Tanda dan gejala ISPA banyak bervariasi antara lain demam, pusing,
malaise (lemas), anoreksia (tidak nafsu makan), vomitus (muntah), photophobia
(takut cahaya), gelisah, batuk, keluar sekret, stridor (suara nafas), dyspnea
(kesakitan bernafas), retraksi suprasternal (adanya tarikan dada), hipoksia (kurang
oksigen), dan dapat berlanjut pada gagal nafas apabila tidak mendapat pertolongan
dan mengakibatkan kematian.5
Sedangkan tanda gejala ISPA menurut Depkes RI (2002) adalah :7
a. Gejala dari ISPA Ringan
Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu atau
lebih gejala-gejala sebagai berikut:
1. Batuk
2. Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misal
pada waktu berbicara atau menangis).
3. Pilek, yaitu mengeluarkan lender atau ingus dari hidung.
4. Panas atau demam, suhu badan lebih dari 370 C atau jika dahi anak
diraba.

b. Gejala dari ISPA Sedang


Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala dari
ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut:
1. Pernafasan lebih dari 50 kali per menit pada anak yang berumur kurang
dari satu tahun atau lebih dari 40 kali per menit pada anak yang berumur
satu tahun atau lebih. Cara menghitung pernafasan ialah dengan

17
menghitung jumlah tarikan nafas dalam satu menit. Untuk menghitung
dapat digunakan arloji.
2. Suhu lebih dari 390 C (diukur dengan termometer).
3. Tenggorokan berwarna merah.
4. Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak.
5. Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga.
6. Pernafasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur).
7. Pernafasan berbunyi menciut-ciut.
c. Gejala dari ISPA Berat
Seorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejala-gejala
ISPA ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai
berikut:
1. Bibir atau kulit membiru.
2. Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) pada waktu
bernafas.
3. Anak tidak sadar atau kesadaran menurun.
4. Pernafasan berbunyi seperti orang mengorok dan anak tampak gelisah.
5. Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernafas.
6. Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba.
7. Tenggorokan berwarna merah.

4.1.8 Penatalaksanaan
Penemuan dini penderita pneumonia dengan penatalaksanaan kasus yang
benar merupakan strategi untuk mencapai dua dari tiga tujuan program (turunnya
kematian karena pneumonia dan turunnya penggunaan antibiotik dan obat batuk
yang kurang tepat pada pengobatan penyakit ISPA).
Pedoman penatalaksanaan kasus ISPA akan memberikan petunjuk standar
pengobatan penyakit ISPA yang akan berdampak mengurangi penggunaan
antibiotik untuk kasus-kasus batuk pilek biasa, serta mengurangi penggunaan obat
batuk yang kurang bermanfaat. Strategi penatalaksanaan kasus mencakup pula
petunjuk tentang pemberian makanan dan minuman sebagai bagian dari tindakan

18
penunjang yang penting bagi pederita ISPA . Penatalaksanaan ISPA meliputi
langkah atau tindakan sebagai berikut :11
a. Pemeriksaan
Pemeriksaan artinya memperoleh informasi tentang penyakit anak dengan
mengajukan beberapa pertanyaan kepada ibunya, melihat dan mendengarkan
anak. Hal ini penting agar selama pemeriksaan anak tidak menangis (bila
menangis akan meningkatkan frekuensi napas), untuk ini diusahakan agar anak
tetap dipangku oleh ibunya. Menghitung napas dapat dilakukan tanpa
membuka baju anak. Bila baju anak tebal, mungkin perlu membuka sedikit
untuk melihat gerakan dada. Untuk melihat tarikan dada bagian bawah, baju
anak harus dibuka sedikit. Tanpa pemeriksaan auskultasi dengan steteskop
penyakit pneumonia dapat didiagnosa dan diklassifikasi.
b. Klasifikasi ISPA
Program Pemberantasan ISPA (P2 ISPA) mengklasifikasi ISPA sebagai
berikut :
1. Pneumonia berat: ditandai secara klinis oleh adanya tarikan dinding dada
kedalam (chest indrawing).
2. Pneumonia: ditandai secara klinis oleh adanya napas cepat.
3. Bukan pneumonia: ditandai secara klinis oleh batuk pilek, bisa disertai
demam, tanpa tarikan dinding dada kedalam, tanpa napas cepat.
Rinofaringitis, faringitis dan tonsilitis tergolong bukan pneumonia.
c. Pengobatan
1. Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik parenteral,
oksigen dan sebagainya.
2. Pneumonia : diberi obat antibiotik kotrimoksasol peroral. Bila penderita
tidak mungkin diberi kotrimoksasol atau ternyata dengan pemberian
kontrmoksasol keadaan penderita menetap, dapat dipakai obat antibiotik
pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin atau penisilin prokain.
3. Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan perawatan
di rumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk tradisional atau obat
batuk lain yang tidak mengandung zat yang merugikan seperti

19
kodein,dekstrometorfan dan, antihistamin. Bila demam diberikan obat
penurun panas yaitu parasetamol. Penderita dengan gejala batuk pilek bila
pada pemeriksaan tenggorokan didapat adanya bercak nanah (eksudat)
disertai pembesaran kelenjar getah bening dileher, dianggap sebagai
radang tenggorokan oleh kuman streptococcuss dan harus diberi antibiotik
(penisilin) selama 10 hari.
Tanda bahaya setiap bayi atau anak dengan tanda bahaya harus diberikan
perawatan khusus untuk pemeriksaan selanjutnya.
d. Perawatan di rumah
Beberapa hal yang perlu dikerjakan seorang ibu untuk mengatasi anaknya
yang menderita ISPA.
1. Mengatasi panas (demam)
Untuk anak usia 2 bulan sampai 5 tahun demam diatasi dengan
memberikan parasetamol atau dengan kompres, bayi dibawah 2 bulan
dengan demam harus segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali tiap 6
jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai dengan
dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan kompres,
dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak perlu air es).
2. Mengatasi batuk
Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional yaitu
jeruk nipis ½ sendok teh dicampur dengan kecap atau madu ½ sendok teh
, diberikan tiga kali sehari.
3. Pemberian makanan
Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi
berulangulang yaitu lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika muntah.
Pemberian ASI pada bayi yang menyusu tetap diteruskan.

4. Pemberian minuman

20
Usahakan pemberian cairan (air putih, air buah dan sebagainya)
lebih banyak dari biasanya. Ini akan membantu mengencerkan dahak,
kekurangan cairan akan menambah parah sakit yang diderita.
5. Lain-lain
a. Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu tebal
dan rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam.
b. Jika pilek, bersihkan hidung yang berguna untuk mempercepat
kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah.
c. Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat yaitu yang
berventilasi cukup dan tidak berasap.
d. Apabila selama perawatan dirumah keadaan anak memburuk maka
dianjurkan untuk membawa kedokter atau petugas kesehatan.
e. Untuk penderita yang mendapat obat antibiotik, selain tindakan diatas
usahakan agar obat yang diperoleh tersebut diberikan dengan benar
selama 5 hari penuh. Dan untuk penderita yang mendapatkan
antibiotik, usahakan agar setelah 2 hari anak dibawa kembali ke
petugas kesehatan untuk pemeriksaan ulang.

4.1.9 Pencegahan
Menurut Depkes RI, (2002) pencegahan ISPA antara lain:
a. Menjaga kesehatan gizi agar tetap baik
Dengan menjaga kesehatan gizi yang baik maka itu akan mencegah
kita atau terhindar dari penyakit yang terutama antara lain penyakit ISPA.
Misalnya dengan mengkonsumsi makanan empat sehat lima sempurna,
banyak minum air putih, olah raga dengan teratur, serta istirahat yang
cukup, kesemuanya itu akan menjaga badan kita tetap sehat. Karena dengan
tubuh yang sehat maka kekebalan tubuh kita akan semakin meningkat,
sehingga dapat mencegah virus / bakteri penyakit yang akan masuk ke
tubuh kita.

b. Imunisasi

21
Pemberian immunisasi sangat diperlukan baik pada anak-anak
maupun orang dewasa. Immunisasi dilakukan untuk menjaga kekebalan
tubuh kita supaya tidak mudah terserang berbagai macam penyakit yang
disebabkan oleh virus / bakteri.
c. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan
Membuat ventilasi udara serta pencahayaan udara yang baik akan
mengurangi polusi asap dapur / asap rokok yang ada di dalam rumah,
sehingga dapat mencegah seseorang menghirup asap tersebut yang bisa
menyebabkan terkena penyakit ISPA. Ventilasi yang baik dapat
memelihara kondisi sirkulasi udara (atmosfer) agar tetap segar dan sehat
bagi manusia.
d. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) ini disebabkan oleh virus/
bakteri yang ditularkan oleh seseorang yang telah terjangkit penyakit ini
melalui udara yang tercemar dan masuk ke dalam tubuh. Bibit penyakit ini
biasanya berupa virus / bakteri di udara yang umumnya berbentuk aerosol
(anatu suspensi yang melayang di udara). Adapun bentuk aerosol yakni
Droplet, Nuclei (sisa dari sekresi saluran pernafasan yang dikeluarkan dari
tubuh secara droplet dan melayang di udara), yang kedua duet (campuran
antara bibit penyakit).

a. Kerangka Teori

22
KEJADIAN ISPA PADA
BAYI

KARAKTERISTIK BAYI KEJADIAN ISPA PADA BAYI

1. Umur 1. Kebiasaan Merokok

2. Berat Badan Lahir 2. Bahan Bakar Memasak

3. Status Gizi 3. Penggunaan Obat Nyamuk

4. Status Imunisasi 4. Tingkat Sosial Ekonomi Keluarga

5. Riwayat ASI Eksklusif 5. Tingkat Pengetahuan Orangtua Bayi

FAKTOR LINGKUNGAN

1. Luas ventilasi rumah

2. Kepadatan lingkungan

3. Tipe lantai rumah

4. Tingkat kelembaban

Gambar 2. Kerangka Teori

BAB III

23
METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian


Penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif dengan
menggunakan pendekatan observasional untuk melihat gambaran
karakteristik pasien ISPA di Puskesmas Sudiang Raya..

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian


Lokasi penelitian yang dipilih adalah di Puskesmas Sudiang Raya.
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Januari-Mei 2019.

3.3 Populasi dan Sample Penelitian


3.3.1 Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah pasien dengan ISPA di
Puskesmas Sudiang Raya yang berjumlah 250 orang.
3.3.2 Sampel Penelitian
Sampel pada penelitian ini adalah pasien dengan ISPA di
Puskesmas Sudiang Raya yang berjumlah 250 orang.
3.4 Teknik Sampel
Menggunakan teknik total sampling. Seluruh sampel yang masuk dalam
kriteria sample dijadikan sebagai sampel untuk penelitian ini.
3.5 Kriteria Sampel
A. Pasien dengan infeksi saluran pernafasan atas
B. Pasien dengan usia dibawah 5 tahun dan di atas 5 tahun
C. Terdaftar sebagai pasien rujuk balik di Puskesmas Sudiang Raya
D. Telah mendapat diagnosa keluar pada resume medis oleh dokter dengan
ISPA
E. Telah mendapatkan terapi farmakologik yang tertera pada catatan
terintegrasi dalam rekam medik.

3.6. Kerangka Konsep

24
Karateristik Pasien
ISPA
Meliputi: Pasien ISPA
- Jenis Kelamin
- Umur
- Status Gizi
- Faktor lingkungan

Variabel independent :

Variabel dependent :

3.7.Definisi Operasional
3.7.1 Definisi Operasional
A. ISPA
Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah infeksi saluran
pernafasan akut yang menyerang tenggorokan, hidung dan paru-
paru yang berlangsung kurang lebih 14 hari, ISPA mengenai struktur
saluran di atas laring, tetapi kebanyakan penyakit ini mengenai
bagian saluran atas dan bawah secara stimulan atau
berurutanKarakteristik
Karakteristik yang digunakan disini adalah gambaran kriteria
pasien ISPA berupa jenis kelamin dan usia.
3.8. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan adalah data rekam medik
pasien ISPA pada balita di Puskesmas Sudiang Raya.

3.8 Tekhnik Pengumpulan Data


Berdasaran cara memperoleh data, data yang dikumpulkan adalah data
sekunder. Data sekunder diperoleh dengan cara kunjungan ke Puskesmas

25
Sudiang Raya. Kemudian, melakukan pendataan sampel yang sesuai dengan
kriteria sampel.

3.9. Pengolahan dan Penyajian Data


Pengolahan data dilakukan secara elekronik dengan menggunakan
perangkat lunak komputer program Microsoft Excel 2007 dan SPSS 22 - For
windows. Sedangkan penyajian data menggunakan tabel distribusi frekuensi
presentasi disertai dengan penjelasan tabel.

3.10 Etika Penelitian


A. Dalam melakukan penelitian perlu membawa rekomendasi dari institusi
oleh pihak lain dengan cara mengajukan permohonan izin kepada institusi /
lembaga tempat penelitian yang dituju oleh peneliti. Setelah mendapat
persetujuan, peneliti kemudian dapat melakukan penelitian.
B. Setiap subjek akan dijamin kerahasiannya atas informasi yang diperoleh
dari rekam medik dengan tidak menuliskan identitas subjek dalam
penelitian melainkan hanya mnggunakan inisial untuk penamaan

3.11 Keterbatasan Penelitian


A. Peneliti masih dalam proses pembelajaran.
B. Waktu penelitian terbatas sehingga hasil penelitian yang didapatkan
kurang sempurna.

26
BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Profil Umum Lokasi Penelitian

Puskesmas Sudiang Raya dibangun pada tahun 2003 Atas bantuan Rotary Club of
Leiden yang diresmikan pada tanggal 9 Desember 2003 Oleh Walikota Makassar dengan
pihak donatur. Puskesmas ini memiliki bangunan seluas 1.300 m2 dengan luas 3.600 m2
serta mempunyai daya listrik 6.300 watt
Puskesmas Sudiang Raya merupakan salah satu pusat pelayanan kesehatan masyarakat
di kecamatan Biringkanaya, yang beralamat di jl. Perumnas Raya No.5 Bumi Sudiang
Permai. Selain memiliki fasilitas layanan standar Berdasarkan Permenkes No. 75 Tahun
2014, Puskesmas Sudiang Raya juga memiliki Poliklinik Umum, Poliklinik Gigi dan
Mulut. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana, pelayanan
Laboratorium dan Pelayanan Obat (Apotek).
Puskesmas Sudiang Raya dilengkapi dengan 1 unit mobil ambulance, 1 unit mobil
Dottorota, 5 Sepeda Motor. Rata-rata kunjungan ke Puskesmas Sudiang Raya kurang lebih
200 orang perhari, dengan jadwal buka pukul 08.00 sampai dengan 14.000 WIB.
Puskesmas Sudiang Raya terletak di kelurahan Sudiang Raya kecamatan Biringkanaya
dengan berbatasan wilayah:
- sebelah utara: Berbatasan dengan Kelurahan Pai
- sebelah selatan: Berbatasan dengan Kelurahan Paccerakkang
- Sebelah Barat: Berbatasan dengan Kelurahan Bira
- sebelah Timur: Berbatasan dengan Kelurahan Mandai/Maros

27
Data Geografi
Puskesmas Sudiang Raya terletak di kelurahan Sudiang Raya kecamatan
Biringkanaya dengan berbatasan wilayah :
sebelah utara :Berbatasan dengan Kelurahan Pai
sebelah selatan :Berbatasan dengan Kelurahan
Paccerakkang
Sebelah Barat :Berbatasan dengan Kelurahan Bira
sebelah Timur : Berbatasan dengan Kelurahan Mandai /
Maros
Luas Wilayah : 1,459 Ha , untuk tahun 2018

Puskesmas Sudiang Raya terdiri dari 3 Kelurahan yaitu :


kelurahan Sudiang Raya : 480 Ha
Kelurahan Laikang : 398 Ha
kelurahan Daya : 581 Ha

1.1.Sarana Pelayanan
Tabel.1: Data Sarana Pelayanan kesehatan Puskesmas Sudiang Raya
tahun 2016 – 2018
SARANA PELAYANAN JUMLAH / TAHUN

2016 2017 2018

Puskesmas Induk 1 1 1

Puskesmas Pembantu 2 2 2

1.2 Sarana Transportasi


Tabel 2 : Data Sarana Transportasi Puskesmas Sudiang Raya tahun 2016 –
2018

JUMLAH / TAHUN
NAMA FASILITAS
2016 2017 2018

Mobil Ambulance 1 1 1

Sepeda Motor 5 5 5

Mobil Dottorotta 1 1 1

28
DATA DEMOGRAFI
Tabel 3 : Data jumlah Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Sudiang Raya
Tahun 2016 – 2018

Jumlah Penduduk Laki- Jumlah Penduduk


KELURAH Jumlah Penduduk
Laki Permepuan
AN
2016 2017 2018 2016 2017 2018 2016 2017 2018

Kel. Sudiang
25,329 26,139 12.468 24,897 25,597 11.948 50,226 53.248 24.416
Raya

Kel. Laikang 15.228 15.136 30.364

Kel. Daya 6,921 7,147 7.567 7,252 7,452 7.890 14,173 15.025 15.457

Jumlah 32,250 33,049 35.263 32,149 33,049 34.974 64,399 68.273 70.237

Sumber : - Kantor kelurahan Sudiang Raya, Kl. Laikang dank el. Daya tahun 2018
- Untuk data jumlah penduduk pada Badan pusat Statustik tahun 2018
Sebanyak 70237 Penduduk

Tabel 4 : Data Jumlah Kepala Keluarga di wilayah kerja Puskesmas Sudiang


Raya Periode 2016 – 2018

Jumlah Kepala Keluarga ( KK )


KELURAHAN
2016 2017 2018

Kel. Sudiang Raya 11,079 10,167 4703

Kel. Laikang 6677

Kel. Daya 4,189 2,505 2089

Jumlah 15,268 12,672 13,469

- Sumber : - Kantor kel. Sudiang Raya, Kel. Laikang dan kel. Daya tahun 2018

29
Tabel 5 : Data Jumlah RW dan RT di Wlayah Kerja Puskesmas Sudiang
Raya tahun 2016– 2018

TAHUN

KELURAHAN 2016 2017 2018

RW RT RW RT RW RT

Kel. Sudiang Raya 24 123 24 123 11 57

Kel. Laikang 13 69

Kel. Daya 10 37 10 37 10 37

34 160 34 160 34 163

- Sumber : - Kantor kelurahan Sudiang Raya, Kl. Laikang dan Kel. Daya tahun 2018

Tabel 6 : Data Sarana Pendidikan di Wlayah Kerja Puskesmas Sudiang


Raya Periode 2016 – 2018

NAMA / JENJANG SEKOLAH JUMLAH / TAHUN

2016 2017 2018

TK 40 40 43

SD / MI 19 19 19

SLTP / MTsN 5 5 6

SLTA / MA 8 8 8

UNIVERSITAS / SEKOLAH 0 0 0
TINGGI

JUMLAH 72 72 76

30
Tabel 7 : Distribusi jenis dan jumlah Ketenagaan Kesehatan Puskesmas
Sudiang Raya tahun 2018

JUMLAH TENAGA DI PUSKESMAS


NO Jenis Tenaga
PNS SUKARELA JUMLAH

1 Dokter Umum 3 0 3

2 Dokter Gigi 1 0 1

3 Bidan 2 4 6

4 Perawat 10 5 15

5 Perawat Gigi 1 1 2

6 Laboratorium (PKL) 1 0 1

7 Apoteker 1 0 1

8 Asisten Apoteker 0 2 2

9 Pekarya (Manajemen) 1 0 1

10 Kesling 1 0 1

11 Sopir 0 1 1

12 Ahli Gizi 2 1 3

13 Tata Usaha 3 0 3

14 Cleaning Service 1 1 2

15 Security 0 1 1

16 SKM 0 4 4

Jumlah 27 20 47

31
Visi Dan Misi Puskesmas
Visi
“Mewujudkan Puskesmas Sudiang Raya yang bermutu menuju masyarakat Sehat”.
Misi
- Meningkatkan Pelayanan yang cepat, tepat dan terjangkau
- Meningkatkan sarana dan prasarana yang memadai untuk menciptakan
pelayanan yang lebih baik
- Meningkatkan peran aktif masyarakat dan Lintas Sektor
- Memberikan pelayanan tanpa diskriminasi
Motto
“Sehat Untuk Semua”

Upaya Kesehatan

Upaya Kesehatan di Puskesmas Sudiang Raya terbagi atas 2 (dua)


Upaya Kesehatan Yaitu Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya
Kesehatan Perorangan (UKP) sesuai peraturan Menteri Kesehatan No.75
tahun 2014 tentang Puskesmas.
Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM), meliputi :
a. Pelayanan promosi kesehatan beserta UKS
b. Pelayanan Kesehatan Lingkungan
c. Pelayanan Kesehatan ibu, anak dan Keluarga Berencana
d. Pelayanan Gizi
e. Pelayanan pencegahan penyakit menular dan penyakit tdak
menular
f. Pelayanan keperawatan kes masyarakat
Upaya Kesehatan Perorangan (UKP), meliputi :
a. Pelayanan kesehatan jiwa
b. Pelayanan kesehatan gigi masyarakat ( UKGM )
c. Pelayanan kesehatan tradisional komlpementer
d. Pelayanan kesehatan olah raga
e. Pelayanan Kesehatan indra

32
f. Pelayanan Kesehatan Lansia
g. Pelayanan Kesehatan Kerja

33
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Hasil Penelitian


Karakteristik sampel berikut ini menjelaskan mengenai distribusi frekuensi
dari setiap variabel terkait mengenai jenis kelamin dan usia pasien ISPA di
Puskesmas Sudiang Raya. Adapun hasil analisis data tersebut sebagai berikut:

Table 5.1 Distribusi frekuensi pasien ISPA berdasarkan jenis kelamin


Interval Usia Frekuensi Persentase

Laki-Laki 126 50,4%

Perempuan 124 49,6 %

Total 250 100 %

Sumber : Rekam Medik Puskesmas Sudiang Raya diolah dengan SPSS 22, 2017
Berdasarkan Tabel 5.1 dapat diketahui bahwa jumlah jumlah pasien laki -
laki dengan ISPA yaitu berjumlah 124 orang (49,6%) dan jumlah pasien perempuan
dengan ISPA yaitu berjumlah 126 orang (50,4%).

Table 5.2 Distribusi frekuensi pasien ISPA berdasarkan usia


Jenis Kelamin Frekuensi Persentase

>5 tahun 68 27,2 %

3-5 tahun 81 32,4 %

< 3 tahun 101 40,4%

Total 250 100 %

Sumber : Rekam Medik Puskesmas Sudiang Raya diolah dengan SPSS 22, 2017

34
Berdasarkan Tabel 5.2 dapat diketahui bahwa jumlah pasien anak di atas 5
tahun yaitu berjumlah 68 orang (27,2%). Sedangkan jumlah pasien anak usia 3-5
tahun yaitu berjumlah 90 (36,0%) dan pasien usia dibawah 3 tahun berjumlah 92
orang (36,8%).

Table 5.3 Distribusi frekuensi pasien ISPA berdasarkan status gizi


Status Gizi Frekuensi Persentase

Gizi baik 52 20,8 %

Gizi kurang 112 44,8 %

Gizi buruk 86 34,4%

Total 250 100 %

Sumber : Rekam Medik Puskesmas Sudiang Raya diolah dengan SPSS 22, 2017
Berdasarkan Tabel 5.3 dapat diketahui bahwa jumlah pasien anak yang
mengalami gizi baik yaitu berjumlah 52 orang (20,8%). Sedangkan jumlah pasien
anak yang mengalami gizi kurang yaitu berjumlah 112 orang (44,8%) dan pasien
anak yang mengalami gzi buruk berjumlah 86 orang (34,4%).

Table 5.4 Distribusi frekuensi pasien ISPA berdasarkan Faktor lingkungan


Faktor Lingkungan Frekuensi Persentase

Ada perokok 194 77,6 %

Tidak ada perokok 56 22,4 %

Total 250 100 %

Sumber : Rekam Medik Puskesmas Sudiang Raya diolah dengan SPSS 22, 2017
Berdasarkan Tabel 5.4 dapat diketahui bahwa ada perokok dalam keluarga
berjumlah 194 orang (77,6%). Sedangkan tidak ada perokok dalam keluarga
berjumlah 56 orang (22,4%).

35
5.2 Pembahasan
Berdasarkan tabel 1 diatas dapat dilihat bahwa frekuensi terbanyak pasien balita
ISPA berjenis kelamin laki-laki sebanyak 126 orang (50,4% dari keseluruhan
pasien balita ISPA), sedangkan balita perempuan sebanyak 124 orang (49,6% dari
keseluruhan pasien balita ISPA). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian
sebelumnya yang menyebutkan bahwa jenis kelamin tidak berhubungan secara
signifikan dengan kejadian ISPA pada balita.

Berdasarkan hasil penelitian tabel 2 menunjukkan bahwa persentase pasien


ISPA banyak terjadi di usia 0 sampi 3 tahun dengan presentase terbanyak 40,4%
dibandingkan dengan pasien diusia 3 sampai 5 tahun dengan pressentase 32,4%.
Sedangkan pasien yang berusia diatas 5 tahun lebih sedikit dengn presentase 27,2%.
sesuai dengan meningkatnya umur. Dari hasil penelitian sebelumnya juga
menyebutkan bahwa usia yang paling sering terkena ISPA adalah usia 0-3 tahun.
Hasil penelitian sebelumnya juga mengatakan bahwa Balita penderita Infeksi
Saluran pernafasan akut paling banyak terjadi pada kelompok umur 12-35 bulan
dimana keadaan balita umur ≤24 bulan belum memiliki sistem imun yang sempurna
dan lumen pernapasan masih sempit. 17 Balita umur 2-3 tahun merupakan puncak
terjadinya pneumonia akibat infeksi virus.

Berdasarkan hasil penelitian tabel 3 menunjukkan bahwa persentase pasien


ISPA banyak terjadi pada anak yang mengalami gizi buruk dengan presentase
terbanyak yaitu 44,8% dibandingkan dengan anak yang mengalami gizi kurang
dengan presentase 34,4%. Sedangkan pasien anak yang mengalami gizi baik lebih
sedikit dengan presentase 20,8%. Hasil penelitian Fonseca 1996 di Fortaleza Brazil
menunjukkan bahwa status gizi kurang menempati urutan pertama faktor resiko
terjadinya pneumonia pada anak balita. Maksud dari gizi kurang adalah kekurangan
energi protein yang terkandung didalam makanan sehari-hari yang mempengaruhi
keadaan gizi anak. Selain itu penelitian di Solapur india juga menunjukkan hasil
dari 160 anak usia dibawah lima tahun total hanya 44 (27,50%) memiliki status
gizi yang normal sisanya memiliki status gizi kurang, hasil dari anlisis data nya
menemukan hasil signifikan antara status gizi terhadap terjainya ISPA dengan (p

36
<0,001) dengan rasio odds 5,17 menunjukkan risiko 5,17 kali lebih buruk untuk
terjadinya ISPA pada balita yang mempunyai status gizi kurang dibandingkan
dengan yang mempunyai status gizi baik (Prasad dkk, 2010). Kemudian penelitian
dari Sukmawati & Sri Dara Ayu (2010) di wilayah kerja Puskesmas
Tunikamaseang Kabupaten Maros Sulawesi juga menunjukkan kejadian ISPA
berulang yang lebih banyak pada balita dengan status gizi kurang dengan p = 0,03,
hal ini disebabkan karena status gizi yang kurang menyebabkan ketahanan tubuh
menurun dan virulensi patogen lebih kuat, sehingga akan menyebabkan
keseimbangan terganggu dan akan terjadi infeksi. Salah satu determinan dalam
mempertahankan keseimbangan tersebut adalah status gizi yang baik. Namun dari
penelitian ini ditemukan juga responden yang berstatus gizi baik tetapi terkena
ISPA. Hal ini disebabkan oleh faktor lain yang dapat menyebabkan terjadinya ISPA
pada balita seperti umur, pemberian ASI, keteraturan pemberian vitamin A, polusi
udara, sosial ekonomi, imunisasi kepadatan dalam rumah dan BBLR. Selain itu
didapatkan juga responden yang berstatus gizi kurang tetapi tidak terkena ISPA.
Hal tersebut bisa terjadi kemungkinan karena faktor lingkungan tempat tinggalnya
yang tidak ada yang menderita ISPA meskipun status gizinya kurang, atau bisa
dikarenakan mereka sudah mendapatkan imunisasi yang lengkap sehingga mereka
mempunyai kekebalan tubuh terhadap serangan infeksi sehingga tidak mudah
terkena ISPA. Dari hasil diatas dapat disimpulkan bahwa gizi mempunyai peran
yang sangat besar dalam pemeliharaan kesehatan tubuh balita. Jika balita
mengalami status gizi yang kurang maka akan lebih mempermudah kuman-kuman
patogen menyerang tubuh sehingga terjadi ISPA. Maka dari itu untuk mengurangi
angka kejadian ISPA maka status gizi balita harus selalu dijaga dan ditingkatkan.

Berdasarkan hasil penelitian tabel 4 menunjukkan bahwa mayoritas balita ISPA


memiliki keluarga perokok aktif (77,6%) sedangkan balita ISPA yang memiliki keluarga
bukan perokok adalah (22,4%). Rata-rata jumlah anggota keluarga balita kasus yang
merokok yaitu 1 orang dengan paling sedikit tidak ditemukan perokok dan paling banyak
ditemukan 2 orang perokok. Sebagian besar perokok mampu menghabiskan lebih dari 1
bungkus rokok perhari. Ketika sedang di rumah, seringkali perokok merokok di dalam satu
ruangan yang sama dengan balita. Sehingga besar kemungkinan balita terpapar asap rokok

37
tersebut. Asap rokok mengandung racun yang sangat berbahaya bagi sistem pernapasan
manusia terutama perokok pasif. Rokok menjadi salah satu penyebab pneumonia karena
asap rokok merusak sistem pertahanan paru dengan mengganggu fungsi silia dan kerja sel
makrofag alveolus. Sehingga mikroorganisme masuk ke saluran pernapasan dan dengan
mudah mencapai paru-paru kemudian merusak jaringan paru dengan cara mengeluarkan
toksin, sehingga agen infeksius masuk ke dalam saluran pernapasan. Kemudian melakukan
adhesi pada dinding bronkus dan bronkiolus, selanjutnya bermultiplikasi dan timbul
pemicu terjadinya inflamasi. Pada saat terjadi inflamasi, kantung udara terisi dengan cairan
eksudat yang banyak mengandung protein. Zat-zat racun dalam rokok dapat mematikan
sistem kekebalan tubuh.24 Balita yang terpapar rokok pasif memiliki risiko lebih terkena
penyakit infeksi karena sistem kekebalan tubuh balita tersebut jauh lebih lemah
dibandingkan dengan balita yang jarang atau tidak sama sekali terpapar asap rokok.

5.3 Keterbatasan Penelitian


Dalam penelitian ini instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah data
sekunder dari rekam medik. Pada penelitian ini terdapat keterbatasan penelitian
yang didapatkan, yaitu :
a. Masa perawatan yang berbeda pada masing-masing pasien dikarenakan oleh
beberapa faktor, seperti penyakit penyerta pada pasien akan memberikan
pengaruh pada frekuensi pemberian terapi yang menjadi penentu efektifitas dari
terapi itu sendiri.
b. Faktor - faktor lain yang berada diluar kendali peneliti.

38
BAB VI
PENUTUP

6.1 Kesimpulan
6.1.1 Jenis kelamin terbanyak pasien balita ISPA di puskesmas Sudiang Raya
adalah laki-laki. Perbedaan frekuensi antara balita yang berjenis
kelamin perempuan dengan laki-laki yang didiagnosis ISPA pada
Puskesmas Sudiang Raya hanya berbeda 2 (dua) orang yaitu sebanyak
126 pada laki-laki dan 124 pada wanita.
6.1.2 Kelompok umur 0-3 tahun lebih berisiko terkena ISPA, dari hasil
penelitian ditemukan angka perbandingan yang lebih tinggi antara
sampel dan jumlah sasaran pada bayi atau kelompok umur 0-3 tahun
sebesar 40,4% dibandingkan kelompok umur 3-5 tahun sebesar 32,4%
dan di atas 5 tahun sebesar 27,2%.
6.1.3 Kejadian ISPA pada balita lebih berisiko pada balita yang memiliki
status gizi kurang dengan presentase 44,8% lebih tinggi dibandingkan
dengan gizi buruk dan gizi baik dengan presentase 34,4% dan 20,8%.
6.1.4 Salah satu faktor lingkugan yang mempengaruhi terjadinya ISPA pada
balita di penelitian ini yaitu adanya perokok aktif dalam keluarga
dengan presentase 77,6% lebih tinggi dibandingkan dengan keluarga
yang bukan perokok dengan hasil presentase 22,4%.

6.2 Saran
6.2.1 Untuk penelitian yang akan datang dan menggunakan topik yang sama
disarankan untuk lebih menganalisis lamanya masa perawatan untuk
terapi ISPA dalam mencapai target yang diharapkan.
6.2.3 Agar dapat meningkatkan kondisi yang telah dicapai saat ini yaitu
Puskesmas yang memiliki tingkat yang dapat dikategorikan dalam
penilaian yang baik, Puskesmas harus meningkatkan mutu pelayanan
kesehatan dengan lebih menuliskan secara lengkap rekam medik

39
pasien agar mempermudah peneliti selanjutnya dalam mengumpulkan
sampel penelitian.

40
DAFTAR PUSTAKA
1. Permatasari CAE. 2009. Faktor Resiko Kejadian ISPA. Jakarta : Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
2. Anonim. 2001. Pedoman Kerja Puskesmas jilid III. Jakarta : Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
3. Yovita WRS. 2010. Evaluasi Program Pemberantasan Penyakit Infeksi
Saluran Pernapasan Akut di Puskesmas kelurahan tanjung duren selatan
periode Februarin 2009 – Januari 2010. Jakarta : kepanitraan IKM Fakultas
Kedokteran UKRIDA.
4. Nelson. 2003. Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta. EGC.
5. Suhandayani I. 2006. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian
ISPA pada balita di Puskesmas Pati I kabupaten Pati tahun 2006. Skripsi
IKMFIKUNNES. Semarang.
http://digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/archives/HASH1450/712b077
8.dir/doc.pdf
6. Departemen Kesehatan RI. 2007. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) Indonesia tahun 2007. Depkes RI : Jakarta
7. Dharmage, Chandrika R, Lalani F, Dulitha N. 2009. Risk Factors of Acute
Lower Respiratory Tract Infeksion in Children Under Five Years of age.
Southeast Asian Journal of Trop. Med Public Health. P : 107-110
8. Notoatmodjo, S. 2007. Kesehatan dan ilmu perilaku. Cetakan pertama.
Jakarta. Rineka cipta. P : 143-146
9. Lamsidi A. 2016. Hubungan kondisi kesehatan lingkungan pemondokan
dengan kejadian ISPA di Pondok Pesantren Sabilal Muhtadin Desa Jaya
Karet kecamatan Mentaya Hilir Selatan Provinsi Kalimantan Tengah
(skripsi). Semarang : Pascasarjana, UNDIP.
10. Smeltzer, S & Bare, G. 2002. Buku ajar keperawatan medikal bedah edisi 8
volume 3. Jakarta : EGC.
11. Prasetyawati, Arsita. 2010. Kedokteran Keluarga dan Wawasannya.
Surakarta : Universitas Negeri Surakarta.

41
12. Rahajoe N., Supriyatno B., dan Setyanto Budi D., 2012. Buku Ajar
Respirologi Anak, cetakan ketiga. Ikatan Dokter Anak Indonesia
13. Depkes RI., 2010. Anak dengan Gizi Baik Menjadi Aset dan Investasi
Bangsa DiMasa Depan. www.depkes.go.id. Departemen Kesehatan
Republik Indonesia. Jakarta
14. Depkes RI,. 2010. Profil Kesehatan Indonesia. www.depkes.go.id.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.
15. Dinkes Provinsi DIY. 2014. Profil Kesehatan Propinsi D.I.Yogyakarta
Tahun 2014. Yogyakarta: Dinas Kesehatan DIY
16. Riskesdas. 2013. Prevalensi ISPA, Pneumonia, Tb Dan Campak. Jakarta :
Departemen Kesehatan RI.
17. Marimbi, H., 2010. Tumbuh Kembang Status Gizi, dan Imunisasi Dasar
Pada Balita. Nuha medika, Yogyakarta.

42