Anda di halaman 1dari 28

KO N S TIPA SI D A N

G ASTRITIS
DISUSUN OLEH :
E R L I N DA N I L A S A R I 1061721014
PIPIT SEKARNINGRUM 1061721023
R I YA E F E N D I 1061721027
S Y I FA N A D I A A R D I N 1061721031
DEFINISI SEMBELIT (KONSTIPASI)
Sembelit atau konstipasi merupakan keadaan tertahannya feses (tinja)
dalam usus besar pada waktu cukup lama karena adanya kesulitan dalam
pengeluaran. (Akmal, dkk, 2010).
Konstipasi adalah suatu gejala bukan penyakit. Di masyarakat dikenal
dengan istilah sembelit, merupakan suatu keadaan sukar atau tidak dapat buang
air besar, feses (tinja) yang keras, rasa buang air besar tidak tuntas (ada rasa
ingin buang air besar tetapi tidak dapat mengeluarkannya), atau jarang buang air
besar (Herawati, 2012).
DEFINISI GASTRITIS
Gastritis adalah proses inflamasi pada mukosa dan submukosa
lambung atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh faktor iritasi
dan infeksi (Hirlan, 2009).
Gastritis adalah suatu keadaan peradangan atau peradangan
mukosa lambung yang bersifat akut, kronis, difus dan lokal. Ada dua
jenis gastritis yang terjadi yaitu gastritis akut dan kronik (Price dan
Wilson, 2005).
KLASIFIKASI
konstipasi akut bila keluhan berlangsung < 4 minggu

Sembelit (Konstipasi)
konstipasi kronik bila keluhan berlangsung > 4 minggu

Akut  peradangan bagian superfisial mukosa lambung


Gastritis
Kronik  peradangan yang bersifat menahun

1. Gastritis superfisial
2. Gastritis atropi
3. Gastritis hipertropi
ETIOLOGI SEMBELIT (KONSTIPASI)
1. Pola Hidup :
a. Diet rendah serat
b. kurang minum air
c. Kebiasaan buang air besar (BAB) yang tidak teratur
2. Obat–obatan : morfin, codein sama halnya dengan obat obatan adrenergic dan antikolinergik.
3. Kelainan struktural kolon ; tumor, stiktur, hemoroid, abses perineum, magakolon.
4. Penyakit sistemik ; hipotiroidisme, gagal ginjal kronik, diabetes mellitus.
5. Penyakit neurologik ; lesi medulla spinalis, neuropati otonom.
6. Disfungsi otot dinding dasar pelvis.
7. Idiopatik transit kolon yang lambat, pseudo obstruksi kronis.
8. Irritable Bowel syndrome tipe konstipasi (Djojoningrat, 2009).
ETIOLOGI GASTRITIS
Gastritis akut Gastritis kronik

1. Merokok
1. Infeksi  bakteri Helicobacter pylori
2. Jenis obat
2. Non Infeksi
3. Alkohol
1) Autoimmune atrophic gastritis
4. Bakteri & virus
2) Gastropati akibat kimia
5. Stres akut
3) Gastropati uremik
6. Radiasi, alergi
4) Gastritis granuloma non-infeksi
7. Intoksitasi dari bahan makanan dan
kronis
minuman
5) Gastritis limfositik
8. Trauma langsung (Muttaqin, 2011).
TANDA DAN GEJALA KONSTIPASI
1. Perut terasa begah, penuh dan kaku.
2. Tubuh tidak fit, terasa tidak nyaman, lesu, cepat lelah sehingga malas mengerjakan
sesuatu bahkan terkadang sering mengantuk.
3. Sering berdebar-debar sehingga memicu untuk cepat emosi, mengakibatkan stress.
4. Faeses lebih keras, panas, berwarna lebih gelap, dan lebih sedikit daripada biasanya,
terkadang harus mengejan atupun menekan-nekan perut terlebih dahulu supaya dapat
mengeluarkan dan membuang feses (bahkan sampai mengalami ambeien/wasir).
5. Bagian anus atau dubur terasa penuh, tidak plong, dan bagai terganjal sesuatu disertai rasa
sakit akibat bergesekan dengan feses yang kering dan keras atau karena mengalami wasir
sehingga pada saat duduk tersa tidak nyaman.
6. Lebih sering buang angin yang berbau lebih busuk daripada biasanya.
7. Terjadi penurunan frekuensi buang air besar.
TANDA DAN GEJALA GASTRITIS
1. Gastritis akut
Sindrom dispepsia berupa nyeri epigastrium, mual, kembung, muntah, merupakan salah
satu keluhan yang sering muncul. Ditemukan pula perdarahan saluran cerna berupa hematemesis
dan melena, kemudian disusul dengan tanda-tanda anemia pasca perdarahan. Biasanya, jika
dilakukan anamnesis lebih dalam, terdapat riwayat penggunaan obat-obatan atau bahan kimia
tertentu.
2. Gastritis kronik
Bagi sebagian orang gastritis kronis tidak menyebabkan gejala apapun (Jackson, 2006).
Hanya sebagian kecil mengeluh nyeri ulu hati, anoreksia, nausea dan pada pemeriksaan fisik tidak
dijumpai kelainan. Gastritis kronis yang berkembang secara bertahap biasanya menimbulkan
gejala seperti sakit yang tumpul atau ringan (dull pain) pada perut bagian atas dan terasa penuh
atau kehilangan selera setelah makan beberapa gigitan
1. Menghindari pemicu terjadinya keluhan,
1. Memperbaiki pola makan dan
mengkonsumsi makanan tinggi serat antara lain dengan makan tepat waktu,
seperti sayur-sayuran dan buah. makan sering dengan porsi kecil
2. Minum air putih minimum 8 gelas tiap
harinya. 2. Menghindari dari makanan yang
3. Berolahraga secara teratur karena meningkatkan asam lambung atau perut
olahraga dapat membantu meningkatkan
fungsi pencernaan. kembung seperti kopi, teh, makanan
4. Kurangi stress. pedas dan kol
5. Gunakan obat pencahar bila benar-benar
dibutuhkan.
TERAPI FARMAKOLOGI KONSTIPASI
Golongan Obat Laksatif untuk Terapi Farmakologi Konstipasi

1. Memperbesar dan melunakkan massa feses (Bulking Agents)


Psyllium Metilselulosa isphagula (4-6 g per hari)

Obat golongan ini kerjanya relatif lambat (1-3 hari), tetapi hanya sedikit yang
berpengaruh terhadap aktivitas usus normal dibandingkan dengan laksatif
lainnya.Bulking Agentsmengandung partikel yang dapat menyerap air lebih banyak,
sehingga meningkatkan aktifitas usus dalam membentuk feses.
2. Laksatif Osmotik
a. Laktulosa (15-30 mL oral)
b. Sorbitol (30-50 g per hari)
c. Garam magnesium (2-4 g 8% suspensi dalam air atau 5-10g dengan
segelas air)
d. Macrogol (½ - 1 tube perhari)
e. Gliserin (3 g perhari)
Menyebabkan efek osmotik pada usus besar. Digunakan pada konstipasi akut.
Golongan osmotik tidak diserap melainkan dapat meningkakan sekresi air kedalam
usus. Sehingga cukup aman untuk digunakan. Misalnya pada penderita gagal ginjal.
3. Laksatif Stimulan
a. Bisacodyl (10mg rektal)
b. Senna (½-2 tablet)
c. Sodium picosulfat (2-15mg per hari)
d. PEGelectrolyte solution (4 L)
e. Fenoftalein (30-270 mg/oral)
Obat golongan ini bekerja memiliki onset kerja yang cepat dan hanya digunakan bila
pengobatan yang lain gagal. Obat ini bekerja pada ujung saraf dinding usus, memicu
kontraksi otot, dan menyebabkan peristaltik usus.
4. Melunakkan atau pelumas feses (lubricant laxatives)
a. Minyak mineral (15-30 mL oral)
b. Docusate (50-360 mg/hari)

Obat ini bekerja dengan menurunkan tegangan permukaan feses, sehingga


mempermudah penyerapan air
TERAPI FARMAKOLOGI GASTRITIS
1. Tablet kombinasi yang mengandung:
Aluminium hidroksida 250 mg
Magnesium hidroksida 250 mg
Dimetilpoliksilosan 50 mg
− Dosis : Dewasa : 1 – 2 tablet, diminum 2 jam setelah makan atau sebelum tidur, dan saat gejala
timbul.

2. Tablet kombinasi yang mengandung:


Magnesium trisilikat 250 mg
Aluminium hidroksida 250 mg
Simetikon 50 mg
− Dosis : Dewasa : 1 – 2 tablet, 3 – 4 kali sehari (setiap 6 – 8 jam)
3. Tablet kunyah yang mengandung:
Aluminium hidroksida 30 mg
Magnesium hidroksida 300 mg
Simetikon 30 mg
− Dosis : Dewasa : 1 – 2 tablet, 3 – 4 kali sehari (setiap 6 – 8 jam) dan sebelum tidur.
− Perhatian : Tablet harus dikunyah.

4. Larutan yang mengandung:


Aluminium hidroksida 30 mg
Magnesium hidroksida 300 mg
Simetikon 30 mg
− Dosis : Dewasa : 1 – 2 sendok takar (5 ml), 3 – 4 kali sehari (setiap 6 – 8 jam) dan sebelum tidur

5. Tablet kunyah yang mengandung:


Aluminium hidroksida 200 mg
Magnesium hidroksida 200 mg
− Dosis : Dewasa : 1 – 2 tablet, 3 – 4 kali sehari (setiap 6 – 8 jam).
− Perhatian : Tablet harus dikunyah
BATASAN UNTUK APOTEKER DALAM
SWAMEDIKASI ( SELF-MEDICATION )

• Swamedikasi pada penderita konstipasi dan gastritis yang tidak mempan pada
perubahan pola hidup maka dapat diberikan diberikan beberapa obat golongan laksatif
dan gastritis yang lazim, disertai KIE yang tepat dan benar karena penggunaan dari
obat pencahar maupun obat gastritis tidak boleh untuk jangka panjang.
PILIHAN OBAT SELF-MEDICATION PADA
PASIEN KONSTIPASI DAN KIE
1. Psilium (Obat pembentuk masa yang berasal dari alam)
- Pasien harus diberi asupan cairan yang cukup untuk menghindari gangguan usus
KIE - Tidak boleh diminum sesaat sebelum tidur
- Pemakaian yang dianjurkan 1 sachet dalam segelas air untuk 1-3 kali pemakaian
perhari, untuk anak-anak dibawah 6 tahun dapat diberikan ½ sachet atau kurang
dari ½ dosis dewasa.
2. Metilselulosa  Obat pembentuk masa semisintetik (efek 12-24 jam)
 Pasien harus mengkonsumsi cairan yang cukup untuk menghindari dehidrasi dan
gangguan usus.
KIE  Tidak boleh diberikan pada pasien dengan kelainan mengunyah karena dapat
mengakibatkan obstruksi usus atau esophagus.
 Metilselulosa digunakan untuk melembekkan feses pada pasien yang tidak boleh
mengejan, misalnya pasien dengan hemoroid.
 Dosis anak 3-4 kali 500 mg / hari, sedangkan dosis dewasa 2-4 kali 1,5 g / hari.
3. Garam magnesium

 Tidak boleh diberikan pada anak dibawah 6 tahun


 Setiap kali minum obat harus dengan segelas air putih dingin atau lebih untuk
memaksimalkan efek obat. Dapat diimbangi denganan meminum jus buah untuk
KIE menghilangkan rasa tidak enak dari obat.
 Untuk cara penggunaan yang dianjurkan adalah 2 g magnesium hidroksida dilarutkan
dalam 25 mL air atau 5-10 g magnesium sulfat dalam segelas air penuh sebelum maan
pagi atau saat perut kosong.

4. Gliserin (waktu kerja kurang lebih 30 menit)


 Tidak boleh diberikan pada anak dibawah 6 tahun tanpa petunjuk dokter
KIE  Dosis yang direkomendasikan untuk dewasa adalah 3 g (suppositoria) atau 5-
15 mL sediaan cair melalui anus.
5. Laktulosa (kurang lebih berefek setelah diminum 48 jam)
 Setiap kali minum harus dengan segelas air atau jus buah untuk menghilangkan rasa tidak
enak.
 Tidak dianjurkan pemberian obat ini tanpa petunjuk dokter jika pasien mengalami
KIE diabetes karena dapat meningkatkan kadar gula dalam darah.
 Efek samping paling umum adalah iritasi pada rectum dan perlu diwaspadai.
 Dosis yang direkomendasikan pada pasien dewasa yaitu dosis awal 10-20 gram satu kali
sehari, selanjutnya diberikan sesuai dengan kebutuhan. Sedangkan untuk pasien anak di
bawah 1 tahun dapat diberikan 1,5 gram laktulosa yang dilarutkan dalam 25 ml air satu
kali sehari; untuk anak usia 1-5 tahun 3 gram laktulosa yang dilarutkan dalam 5 ml air
satu kali sehari sedangkan untuk anak usia 5-10 tahun dapat diberikan 2 kali sehari
dengan dosis yang sama
6. Minyak mineral (6-8 jam untuk menimbulkan efek)

 Sebaiknya dikonsumsi 2 jam setelah makan, karena dapat mengganggu penyerapan


makanan.
KIE
 Dosis yang direkomendasikan yaitu 10 mL diminum pada malam hari, tetapi tidak
boleh diminum sesaat sebelum tidur.
 Tidak boleh diberikan pada anak, lansia dan ibu hamil.
7. Bisakodil (efek 7 jam peroral dan kurang lebih 30 menit dalam bentuk suppositoria

 Dalam penggunaan obat ini ada kemungkinan terjadinya kram perut,


kekurangan cairan dan elektrolit, hilangnya protein usus, efek pencahar
berlebihan dan defisiensi kalium.
 Tidak boleh digunakan pada anak-anak dibawah 6 tahun
 Sebaiknya dikonsumsi pada saat perut kosong untuk mendapatkan efek
KIE yang cepat.
 Tablet bisakodil dapat menyebabkan iritasi dan rasa mual. Oleh karena itu
biasanya dibuat dalam bentuk salut dan tidak boleh dikunyah, digerus,
atau dikonsumsi bersama dengan susu.
 Untuk terapi pada orang dewasa adalah oral : 5-10 mg pada malam hari
atau suppositoria : 10 mg pada pagi hari
 Untuk anak di bawah 10 tahun dosis yang direkomendasikan adalah 5 mg
baik dalam sediaan oral ataupun dalam sediaan suppositoria.
PILIHAN OBAT SELF-MEDICATION PADA
PASIEN GASTRITIS DAN KIE
• Golongan obat ini dalam pengkonsumsiannya memang harus dikunyah terlebih dahulu, hal ini
untuk meningkatkan kerja obat dalam menurunkan asam lambung
• Hanya digunakan apabila telah diketahui bahwa gejala mual, nyeri lambung, rasa panas di ulu
hati dan dada benar-benar sakit maag bukan penyakit lain.
• Penggunaan terbaik adalah saat gejala timbul sewaktu lambung kosong dan menjelang tidur
malam.
• Antasida mengganggu absorbsi obat-obat tertentu (misal antibiotik), bila diminum bersama
harus diberi waktu 1-2 jam.
• Bila setelah 2 - 3 hari gejala tetap ada, hendaknya segera menghubungi dokter.
• Jangan digunakan lebih dari 4 gram sehari, karena dapat meningkatkan produksi asam
lambung/efek yang tidak diinginkan
• Bila dosis berlebihan dapat menimbulkan sembelit, wasir, perdarahan anus, feses padat, mual,
muntah, kekurangan fosfat dan osteomalasia.
Rujukan ke Dokter
a. Pasien sulit buang air besar yang disertai penurunan berat badan,
feses berukuran kecil-kecil dan feses bercampur darah
b. Ibu hamil yang mengalami konstipasi dan tidak dapat
ditangani dengan terapi non farmakologi seperti perubahan pola
hidup.
c. Penderita dengan radang usus dan radang usus buntu, karena pasien
tidak boleh sembarangan diberikan obat golongan laksatif sehingga
perlu dirujuk ke dokter.
d. Setelah satu minggu mengkonsumsi obat pencahar dan tidak terjadi
perubahan, maka perlu dirujuk ke dokter (Djuanda dkk., 2009;
Irhamayati dkk., 2013).
Pertanyaan yang Harus Digali
1. Siapa pasien dan berapa umurnya? 2. Apakah Anda sedang hamil? (Bila pasiennya wanita)

3. Kapan terakhir Anda BAB?


9. Apakah Anda sudah pernah
menggunakan pencahar?
4. Bagaimana frekuensi BAB
anda biasanya?
Bagaimana fesesnya?
8. Apakah Anda sedang dalam
pengobatan? Obat apa yang
Anda konsumsi? 5. Apa Anda merasa sakit perut/perut
kembung/mual/muntah?

7. Apakah Anda biasanya makan makanan 6. Apakah ada darah pada tinja yang Anda keluarkan?
berserat?
KASUS
Tn. A (25 tahun) datang ke apotek dengan keluhan sembelit selama 5 hari.
Perut terasa sakit tetapi saat dicoba untuk BAB susah keluar, perut juga terasa
penuh, kembung dan tidak nyaman. Pasien mengatakan bahwa kebiasaan makan
sehari-hari tidak teratur, jarang makan buah dan sayur, dan tidak suka minum air
putih.
ANALISIS SOAP
1. Subyektif
Nama : Tn. A
Umur : 25 tahun
Keluhan : sembelit selama 5 hari. Perut terasa sakit, penuh, kembung dan
tidak nyaman
2. Obyektif
Tidak ada.
3. Assesment
Kebiasaan makan sehari-hari pasien yang tidak teratur, jarang mengkonsumsi
buah dan sayur dan tidak suka minum air putih menyebabkan pasien mengalami
konstipasi.
3. Plan
a. Terapi Non Farmakologi
 Makan secara teratur dan makan makanan yang bergizi
 Mengkonsumsi makanan yang berserat seperti buah, sayur dan sereal
 Perbanyak minum air putih
 Hindari mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh seperti junk food, kurangi
makan gorengan
 Lakukan olahraga dan aktivitas fisik secara teratur
b. Terapi Farmakologi
Diberikan dulcolax merupakan suatu obat yang banyak digunakan sebagai obat pencahar
atau pelancar buang air besar. Obat dulcolax mengandung bisacodil yang berfungsi untuk
meningkatkan motilitas (gerakan) dinding usus besar serta memiliki efek meningkatkan kadar air
dalam feses (membuat feses menjadi lebih lunak).
Dosis:
Dosis untuk dewasa 5-10 mg secara peroral pada malam hari atau pagi hari digunakan sebelum
makan.

Kontra Indikasi:
Riwayat alergi dengan bisacodil, dehidrasi berat, intoleransi laktosa/sukrosa, gangguan
gerakan usus, sumbatan pada usus, pasien yang baru menjalani operasi pada bagian perut, usus
buntu, peradangan usus, dan nyeri perut hebat disertai muntah.

Semua obat pencahar termasuk dulcolax tidak dianjurkan digunakan setiap hari atau dalam
jangka waktu panjang, penggunaan yang berlebih dapat menyebabkan ketidakseimbangan cairan dan
elektrolit, serta terjadi ketergantungan dimana usus menjadi malas melakukan motilitas jika tidak ada
obat yang diberikan.
KESIMPULAN
1. Swamedikasi merupakan salah satu upaya yang sering dilakukan oleh seseorang dalam mengobati
gejala sakit atau penyakit yang sedang dideritanya tanpa terlebih dahulu melakukan
konsultasi kepada dokter.

2. Penatalaksanaan dari konstipasi yaitu menggunakan pengobatan non esensial yaitu dengan
menggunakan daun papaya, daun alamanda, dan mengkudu untuk pengobatan essensialnya dengan
menggunakan dulcolax , lactulose dan lain-lainnya yang bersifat laksatif.

3. Penatalaksanaan dari gastritis yaitu menggunakan pengobatan non esensial seperti mengkonsumsi
buat seperti manga, jambu biji, papaya dan buah yang kaya serat. Pengobatan esensialnya yaitu
menggunakan antasida (kombinasi Al dan Mg), maupun antasida simetikon.

4. Lama pengobatan selama 5 hari, bila dalam 5 hari tidak ada perbaikan klinis maka harus dirujuk.