Status Gizi Balita di Balikpapan 2019
Topik yang dibahas
Status Gizi Balita di Balikpapan 2019
Topik yang dibahas
Disusun Oleh :
dr. Arviana Laurensia Chaiyadi Putri
Pendamping :
dr. Isdiawati
MINI PROJECT
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat, dan
Gambaran Status Gizi Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Manggar Baru, Balikpapan,
Kalimantan Timur, Maret 2019. Mini project ini disusun dalam rangka memenuhi
Dalam menyelesaikan mini project ini penulis mendapat banyak bantuan dan
bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu dengan segala kerendahan hati dan penuh
Manggar Baru yang telah banyak memberikan masukan, motivasi, serta dukungan
untuk terus belajar dan berlatih agar dapat menyelesaikan PIDI dengan baik.
3. dr. Amalia, dr. Hajrah, dr. Ade, dr. Zubaidah, dr. Aulia, dan dr. Natalia selaku
4. Ibu Fransisca Sitorus, Ibu Jubaidah, para kader Posyandu, seluruh perawat, bidan,
serta staf Puskesmas Manggar Baru dan berbagai pihak yang tidak dapat
Khalisha, dr. Friza Yossy Harlinda, dr. Novia Christina Margareta, dr. Oldi
Nelson Patadungan, dan dr. Brian Pasa Nababan yang selalu menemani dan
mini project ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari para
iii
pembaca agar penulis dapat memperbaiki karya-karya di kemudian hari. Meskipun
demikian, penulis berharap agar mini project ini dapat bermanfaat bagi banyak orang.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas setiap kebaikan, bantuan, dan semangat
Penulis
iv
DAFTAR ISI
v
3.4 Sampel Penelitian .................................................................................... 23
3.5 Sumber Data ............................................................................................ 23
3.6 Kriteria Penelitian .................................................................................... 23
3.6.1 Kriteria Inklusi .......................................................................... 23
3.6.2 Kriteria Eksklusi ........................................................................ 24
3.7 Cara Kerja ................................................................................................ 24
3.8 Identifikasi Variabel ................................................................................ 24
3.9 Definisi Operasional ................................................................................ 25
3.10 Alur Penelitian ......................................................................................... 26
3.11 Instrumen Pengumpulan Data ................................................................. 26
3.12 Analisa Data ............................................................................................ 27
BAB IV HASIL....................................................................................................... 28
4.1 Karakteristik Subjek Penelitian ............................................................... 28
4.2 Analisis Univariat .................................................................................... 30
4.2.1 Usia............................................................................................ 30
4.2.2 Tingkat Pendidikan ................................................................... 31
4.2.3 Pekerjaan ................................................................................... 32
4.2.4 Pendapatan Keluarga ................................................................. 32
4.2.5 Jumlah Anggota Keluarga ......................................................... 33
BAB V PEMBAHASAN ........................................................................................ 34
5.1 Usia .......................................................................................................... 34
5.2 Tingkat Pendidikan .................................................................................. 34
5.3 Pekerjaan ................................................................................................. 35
5.4 Pendapatan Keluarga ............................................................................... 36
5.5 Jumlah Anggota Keluarga ....................................................................... 36
5.6 Keterbatasan Penelitian ........................................................................... 37
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN................................................................ 38
6.1 Kesimpulan ............................................................................................... 38
6.2 Saran ......................................................................................................... 38
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 39
vi
DAFTAR TABEL
vii
DAFTAR GAMBAR
viii
BAB I
PENDAHULUAN
1
Faktor- faktor yang mempengaruhi tersebut berinteraksi satu dengan yang lainnya
sehingga dapat mempengaruhi masukan zat gizi dan infeksi pada anak (Supriasa,
2001).
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan adanya
penurunan pada proporsi status gizi buruk dan gizi kurang pada balita di
Indonesia, yaitu gizi buruk sebanyak 3,9% pada tahun 2018 dibandingkan dengan
5,7% pada tahun 2013, serta gizi kurang sebanyak 13,8% pada tahun 2018
dibandingkan dengan 13,9% pada tahun 2013. Proporsi keseluruhan gizi kurang
dan gizi buruk pada tahun 2018 adalah sebanyak 17,7%. Angka tersebut belum
mencapai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)
tahun 2019 yaitu sebanyak 17%. Proporsi balita sangat pendek dan pendek di
Indonesia juga mengalami penurunan dari 37,2% pada tahun 2013 menjadi 30,8%
pada tahun 2018. Demikian pula pada proporsi status gizi kurus dan sangat kurus
terdapat penurunan dari 12,1% pada tahun 2013 menjadi 10,2% pada tahun 2018.
Data hasil Riskesdas 2018 juga menunjukkan bahwa di wilayah
Kalimantan Timur, proporsi gizi buruk dan gizi kurang pada balita lebih dari 13%,
proporsi sangat pendek dan pendek sebanyak lebih dari 20%, dan proporsi gizi
kurus dan sangat kurus sebanyak lebih dari 6%. Sesuai dengan standar WHO,
suatu wilayah dikatakan mengalami masalah gizi akut bila prevalensi balita
pendek lebih dari 20% dan prevalensi balita kurus lebih dari 5% (WHO, 2018).
Berdasarkan data di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian
untuk mengetahui gambaran status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas
Manggar Baru Kota Balikpapan beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
2
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas Manggar Baru
Kota Balikpapan
2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita di wilayah
kerja Puskesmas Manggar Baru Kota Balikpapan
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
4
Kelurahan Manggar Baru terdiri dari 46 RT dengan jumlah penduduk
21.139 orang dengan WNI berjumlah 21.138 orang dan WNA berjumlah 1 orang
dan jumlah kepala keluarga adalah 6.973 orang.
Tabel 2.2 Jumlah sarana kesehatan Kelurahan Manggar Baru tahun 2017
5
Tabel 2.3 Jumlah sarana pendidikan umum di Kelurahan Manggar Baru tahun
2017
Tabel 2.4 Jumlah sarana pendidikan khusus di Kelurahan Manggar Baru tahun
2017
6
Tabel 2.5 Gambaran pegawai Puskesmas Manggar Baru
4 Perekam medis 1 - -
5 APKTS 1 - -
6 SMF 1 - -
7 Akzi 1 - -
8 Pekarya 1 - -
9 SLTA - - 11
10 SLTP - - 1
11 SD - - 0
12 Paket C - - 1
Jumlah 23 29
7
pemberian tablet besi untuk ibu hamil, PMT bayi/balita dan ibu hamil, monitoring
kegiatan penimbangan di Posyandu, sweeping balita KEP di posyandu, serta
penyuluhan kader di Posyandu.
8
lingkungan, tersedianya air bersih dan tersedianya pelayanan kesehatan dasar
yang terjangkau oleh setiap keluarga (Soekirman, 2000).
Metode Antropometri
Antropometri berasal dari kata anthropo yang berarti manusia dan metri
adalah ukuran. Metode antropometri dapat diartikan sebagai mengukur fisik
dan bagian tubuh manusia. Jadi antropometri adalah pengukuran tubuh atau
bagian tubuh manusia. Konsep dasar yang harus dipahami dalam
menggunakan antropometri untuk mengukur status gizi adalah konsep dasar
pertumbuhan.
Pada negara-negara berkembang termasuk Indonesia, penyakit infeksi
dan asupan gizi merupakan faktor utama yang mempengaruhi status gizi
terutama pada masa anak di bawah 5 tahun (balita). Gangguan gizi kronis yang
terjadi pada anak-anak akan tampak akibatnya pada pertumbuhan masa
berikutnya. Oleh karena itu, pertumbuhan yang terjadi sangat erat kaitannya
dengan masalah asupan energi dan protein, maka ukuran tubuh (keadaan
pertumbuhan) dapat digunakan sebagai refleksi keadaan pertumbuhan dan
keadaan gizi. Terdapat beberapa alasan kenapa antropometri digunakan
sebagai indikator status gizi, yaitu:
1. Pertumbuhan seorang anak agar berlangsung baik memerlukan asupan
gizi yang seimbang antara kebutuhan gizi dengan asupan gizinya.
2. Gizi yang tidak seimbang akan mengakibatkan terjadinya gangguan
pertumbuhan, kekurangan zat gizi akan mengakibatkan terhambatnya
pertumbuhan, sebaliknya kelebihan asupan gizi dapat mengakibatkan
9
tumbuh berlebih (gemuk) dan mengakibatkan timbulnya gangguan
metabolisme tubuh.
3. Oleh karena itu antropometri sebagai variabel status pertumbuhan dapat
digunakan sebagai indikator untuk menilai status gizi.
10
mempunyai berat yang ideal, padahal asupan gizinya lebih dari
umumnya.
c. Kesalahan waktu pengukuran dapat mempengaruhi hasil. Kesalahan
dapat terjadi karena prosedur ukur yang tidak tepat, perubahan hasil
ukur maupun analisis yang keliru. Sumber kesalahan bisa karena
pengukur, alat ukur, dan kesulitan mengukur.
(a) (b)
11
(c) (d)
Gambar 2.1 Jenis-jenis alat timbang; (a) timbangan dacin, (b) timbangan
detecto, (c) timbangan kamar mandi, (d) timbangan digital
12
3. Lingkar kepala
Pengukuran lingkar kepala merupakan predikator terbaik dalam
melihat perkembangan syaraf anak dan pertumbuhan global otak dan
struktur internal. Cara mengukur lingkar kepala dilakukan dengan
melingkarkan pita pengukur melalui bagian paling menonjol di bagian
kepala belakang (protuberantia occipitalis) dan dahi (glabella).
5. Panjang depa
Panjang depa merupakan ukuran untuk memprediksi tinggi badan
bagi orang yang tidak bisa berdiri tegak, misal karena bungkuk atau ada
kelainan tulang pada kaki.
6. Tinggi lutut
Ukuran tinggi lutut berkorelasi dengan tinggi badan dan bertujuan
untuk mengestimasi tinggi badan klien yang tidak dapat berdiri dengan
tegak, misalnya karena kelainan tulang belakang atau tidak dapat berdiri.
Pengukuran dilakukan dengan alat ukur kaliper pada posisi duduk atau
tidur.
7. Tinggi duduk
Tinggi duduk dapat digunakan untuk memprediksi tinggi badan,
terutama pada orang yang sudah lanjut usia. Pengukuran dapat dilakukan
dengan menggunakan mikrotoise dan dibantu bangku khusus.
13
8. Rasio lingkar pinggang dan panggul (waist to hip ratio)
Lingkar pinggang menunjukkan simpanan lemak. Tingginya
kandungan lemak di sekitar perut menggambarkan risiko kegemukan.
Pengukuran dilakukan dengan klien menggunakan pakaian seminimal
mungkin atau bahkan ditanggalkan, berdiri tegap dengan santai pada
kedua kaki, kedua kaki rapat, dan klien sebaiknya dalam keadaan
berpuasa.
Metode Laboratorium
Metode laboratorium mencakup dua pengukuran yaitu uji biokimia dan
uji fungsi fisik. Uji biokimia adalah mengukur status gizi dengan
menggunakan peralatan laboratorium kimia. Tes biokimia mengukur zat gizi
dalam cairan tubuh atau jaringan tubuh atau ekskresi urin. Misalnya mengukur
status iodium dengan memeriksa urin, mengukur status hemoglobin dengan
pemeriksaan darah dan lainnya. Tes fungsi fisik merupakan kelanjutan dari tes
biokimia atau tes fisik. Sebagai contoh tes penglihatan mata (buta senja)
sebagai gambaran kekurangan vitamin A atau kekurangan zink.
1. Kelebihan metode laboratorium untuk menilai status gizi dibandingkan
dengan metode yang lain antara lain:
a. Metode laboratorium dapat mengukur tingkat gizi pada jaringan
tubuh secara tepat, sehingga dapat dipastikan apakah seseorang
mempunyai kadar zat gizi yang cukup atau kurang. Bahkan dalam
jumlah kecil sekalipun dapat terdeteksi, seperti kekurangan iodium
dalam darah.
b. Dengan mengetahui tingkat gizi dalam tubuh, maka kemungkinan
kejadian yang akan datang dapat diprediksi. Dengan demikian dapat
segera dilakukan upaya intervensi untuk mencegah kekurangan gizi
yang lebih parah.
c. Data yang diperoleh pemeriksaan laboratorium hasilnya cukup valid
dan dapat dipercaya ketepatannya.
2. Kelemahan metode laboratorium untuk menilai status gizi dibandingkan
dengan metode yang lain antara lain:
a. Pada umumnya pemeriksaan yang dilakukan di laboratorium
memerlukan peralatan yang harganya cukup mahal. Semakin canggih
14
alat, maka harga akan semakin mahal, akibatnya biaya yang harus
dikeluarkan untuk melakukan pemeriksaan relatif mahal.
b. Peralatan laboratorium umumnya sangat sensitif dan mudah pecah,
sehingga alat laboratorium sulit untuk dibawa ke tempat yang jauh.
c. Pada waktu melakukan pemeriksaan dengan metode laboratorium,
umumnya memerlukan tempat dan kondisi yang khusus agar
pemeriksaan berjalan dengan baik dan aman.
d. Batasan kecukupan zat gizi setiap individu tidak mutlak, tetapi
berdasarkan kisaran. Misalnya batasan anemi bagi wanita adalah
kadar hemoglobinya 12 mg/dl, tetapi ada wanita dengan kadar
hemoglobin 11 mg/dl tidak menunjukkan gejala anemi.
Metode Klinis
Pemeriksaan klinis adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk
mengetahui ada tidaknya gangguan kesehatan termasuk gangguan gizi yang
dialami seseorang. Pemeriksaan klinis dilakukan dengan beberapa cara, di
antaranya melalui kegiatan anamnesis, observasi, palpasi, perkusi, dan/atau
auskultasi.
1. Kelebihan metode klinis dibandingkan metode lain antara lain:
a. Pemeriksaan status gizi dengan metode klinis mudah dilakukan dan
pemeriksaannya dapat dilakukan dengan cepat. Misal pemeriksaan
anak yang odema karena kekurangan protein cukup memijit bagian
kaki yang bengkak.
b. Melakukan pemeriksaan status gizi dengan metode klinis tidak
memerlukan alat-alat yang rumit. Misalnya pada pengukuran
pembesaran kelenjar gondok karena kekurangan iodium, cukup
dengan menggunakan jari-jari tangan pengukur.
c. Tempat pemeriksaan klinis dapat dilakukan di mana saja, tidak
memerlukan ruangan yang khusus. d. Kalau prosedur ukur dilakukan
dengan tepat, maka metode klinis menghasilkan data yang cukup
akurat dalam menilai status gizi.
2. Kelemahan metode klinis dibandingkan metode lain antara lain:
a. Pemeriksaan klinis untuk menilai status gizi memerlukan pelatihan
yang khusus. Setiap jenis kekurangan gizi akan menunjukkan gejala
15
klinis yang berbeda, masing-masing harus dilakukan pelatihan yang
berbeda.
b. Ketepatan hasil ukuran terkadang dapat bersifat subjektif. Terkadang
pengalaman melakukan pemeriksaan mempengaruhi hasil, semakin
lama pengalaman yang dimiliki, maka hasil akan semakin tepat.
c. Untuk kepastian data status gizi, terkadang diperlukan data
pendukung lain, seperti data pemeriksaan biokimia. Contohnya untuk
memastikan seseorang yang menunjukkan gejala anemi, perlu
didukung data pemeriksaan kadar hemoglobin dari pemeriksaan
biokimia.
d. Seseorang yang menderita gejala klinis kekurangan gizi, biasanya
tingkat defisiensi zat gizi cenderung sudah tinggi. Misalnya seseorang
yang menunjukkan adanya benjolan pada persendian kaki karena
kelebihan kolesterol, maka kelebihan kolesterol dalam tubuh sudah
dalam taraf yang tinggi.
e. Waktu pelaksanaan pengukuran dengan metode klinis, dipengaruhi
oleh lingkungan, seperti bising, anak rewel, tebal kulit/pigmen, dan
pengaruh yang lain. Misalnya sulit dilakukan pemeriksaan klinis
anemi pada orang yang berkulit hitam, karena kulitnya gelap.
16
Pengukuran konsumsi pangan untuk menilai status gizi mempunyai
kelebihan dan kelemahan.
1. Kelebihan:
a. Hasil ukur pengukuran konsumsi pangan dapat memprediksi status
gizi yang akan terjadi di masa yang akan datang.
b. Hasil pengukuran konsumsi pangan cukup akurat untuk menilai
asupan gizi atau ketersediaan pangan.
c. Pengukuran konsumsi pangan mudah dilakukan dengan pelatihan
yang khusus.
d. Pelaksanaan pengukuran tidak memerlukan alat yang mahal dan
rumit.
2. Kelemahan:
a. Pengukuran konsumsi pangan, tidak dapat untuk menilai status gizi
secara bersamaan, karena asupan gizi saat ini baru akan
mempengaruhi status gizi beberapa waktu kemudian.
b. Hasil pengukuran konsumsi pangan, hanya dapat dipakai sebagai
bukti awal akan kemungkinan terjadinya kekurangan atau kelebihan
gizi pada seseorang.
c. Lebih efektif bila hasil pengukuran konsumsi pangan disertai dengan
hasil pemeriksaan biokimia, klinis atau antropometri.
Faktor Ekologi
Faktor ekologi yang mempengaruhi status gizi di antaranya adalah
beberapa informasi ekologi yang berkaitan dengan penyebab gizi kurang.
Informasi tersebut di antaranya data sosial ekonomi, data kependudukan,
keadaan lingkungan fisik dan data vital statistik. Data yang termasuk sosial
ekonomi misalnya jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan, keadaan
budaya, agama, tingkat pendapatan, jenis pekerjaan, ketersediaan air bersih,
pelayanan kesehatan, ketersediaan lahan pertanian dan informasi yang lain.
2. Kelebihan faktor ekologi untuk menilai status gizi:
a. Keadaan ekologi lingkungan lebih mudah diketahui secara umum,
sehingga kemungkinan risiko yang akan datang dapat diprediksi.
b. Data tentang ekologi lingkungan tersebar di berbagai instansi, yang
memungkinkan informasi mudah diperoleh.
17
c. Data vital statistik selalu dikumpulkan setiap periode tertentu (misal
setiap 5 tahun dalam sensus penduduk), sehingga data akan tersedia.
3. Kelemahan faktor ekologi untuk menilai status:
a. Faktor ekologi tidak langsung mempengaruhi status gizi, tetapi
melalui berbagai faktor lain yang saling mempengaruhi.
b. Sering data yang diperoleh tidak akurat karena cara pengumpulan data
yang tidak sahih.
c. Terdapat data statistik yang tidak mempunyai kemampuan untuk
melakukan interpretasi data secara tepat.
d. Terdapat kecenderungan data ditutupi, karena alasan politik.
Beberapa kepala daerah menutupi data terjadinya kasus gizi buruk di
wilayah kerjanya, karena kasus gizi buruk dianggap akan
menjatuhkan nama baik.
e. Terdapat faktor lain yang mempengaruhi status gizi seperti kejadian
penyakit infeksi dan faktor sosial ekonomi lainnya.
18
(kelaparan) yang menyebabkan anak menjadi kurus. Indikator BB/TB
dapat digunakan untuk identifikasi kurus dan gemuk. Masalah kurus dan
gemuk pada umur dini dapat berakibat pada risiko berbagai penyakit
degeneratif pada saat dewasa.
19
Tabel 2.7 Kriteria gizi kurang dan gizi buruk WHO (Lowenthal, 2009)
Gizi Kurang Gizi Buruk
z-scores -3 sampai -2 SD
z-scores <-3 SD di bawah
BB/U di bawah rata-rata
rata-rata (persentil <85)
(persentil 85 sampai 89)
z-scores -3 sampai -2 SD
z-scores <-3 SD di bawah
BB/TB di bawah rata-rata
rata-rata (persentil <70)
(persentil 70 sampai 79)
Edema simetris Tidak ada Ada
SD = standar deviasi
2.3 Sosio-ekonomi
2.3.1 Pekerjaan
Pekerjaan adalah sebuah kegiatan aktif yang dilakukan oleh manusia
yang menghasilkan sebuah karya bernilai imbalan dalam bentuk uang atau
materi (Husni, 2008). Ibu bekerja adalah ibu yang memiliki pekerjaan di luar
rumah tangganya untuk berkarir sesuai profesinya untuk mendapatkan
penghasilan tertentu (Baswedan, 2015). Seringkali keadaan ekonomi keluarga
yang pas-pasan memicu seorang istri untuk membantu suaminya mencari
nafkah, dan hal tersebut menimbulkan dampak yang dirasakan oleh anak-
anaknya.
2.3.2 Pendapatan
Menurut Andiana dan Karimi, pendapatan adalah jumlah penghasilan
riil dari seluruh anggota rumah tangga yang disumbangkan untuk memenuhi
kebutuhan bersama maupun perorangan (Adiana dan Karmini, 2014).
Pendapatan adalah akhir dari setiap keinginan dari setiap bekerja, sebab dari
pendapatan seseorang dapat melangsungkan kehidupannya bersama
keluarganya. Pendapatan rumah tangga sendiri merupakan pendapatan anggota
keluarga yang meliputi upah atau gaji bagi anggota keluarga yang bekerja
sebagai buruh atau karyawan, pendapatan dari usaha anggota keluarga, dan
penghasilan lainnya yang diperoleh anggota rumah tangga sebagai pendapatan
rumah tangga (Muskananfola, 2013).
20
2.3.3 Jumlah Anggota Keluarga
Jumlah anggota keluarga menentukan jumlah kebutuhan keluarga.
Semakin banyak anggota keluarga berarti semakin jumlah pula jumlah
kebutuhan yang harus dipenuhi, begitu pula sebaliknya (Nababan, 2013).
Jumlah anggota keluarga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi
pola konsumsi rumah tangga, sehingga berkaitan dengan pendapatan rumah
tangga yang akhirnya akan mempengaruhi pola konsumsi rumah tangga
tersebut (Adiana dan Karmini, 2014).
2.3.4 Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha sadar memfasilitasi orang sebagai
pribadi yang utuh sehingga teraktualisasi dan terkembangkan potensinya
mencapai taraf pertumbuhan dan perkembangan yang dikehendaki melalui
belajar (Munandir, 2001). Menurut UURI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional Bab I Ketentuan Umum Pasal 1 Pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, dan akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara.
Menurut pasal 14 UURI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem pendidikan
Nasional, jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan
menengah, dan pendidikan tinggi. (1) Pendidikan dasar merupakan jenjang
pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Pendidikan dasar
berbentuk sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain
yang sederajat serta sekolah menengah pertama (SMO) dan madrasah
tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat; (2) Pendidikan menengah
terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan.
Pendidikan menengah berbentuk sekolah menengah atas (SMA), dan
madrasah Aliyah kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat. (3)
Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan
menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister,
spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi. Perguruan
21
tinggi dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institute, atau
universitas.
Menurut Nurseno (2009), stratifikasi pendidikan adalah sebagai
berikut: (1) pendidikan sangat tinggi (profesor, doktor); (2) pendidikan tinggi
(sarjana, mahasiswa); (3) pendidikan menengah (SMA); pendidikan rendah
(SD dan SMP); (4) tidak berpendidikan (buta huruf).
22
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
23
2. Bersedia terlibat dalam penelitian dengan menandatangani informed
consent.
24
3.9 Definisi Operasional
1. Usia adalah lama kronologis pasien telah hidup, dihitung dalam tahun
berdasarkan catatan tanggal lahir pasien. Data yang diperoleh dikelompokkan
menjadi:
a. < 25 tahun
b. 25-35 tahun
c. > 35 tahun
2. Tingkat pendidikan yaitu tingkat pendidikan sesuai dengan ijazah terakhir
yang diperoleh. Data yang diperoleh dikelompokkan menjadi 3 kategori yaitu
pendidikan rendah, sedang, dan tinggi.
a. Tidak berpendidikan : tidak tamat SD, tidak sekolah, buta huruf
b. Pendidikan rendah : tamat SD, tamat SMP
c. Pendidikan menengah : tamat SMA
d. Pendidikan tinggi : tamat diploma, sarjana
3. Pekerjaan yaitu kegiatan yang dilakukan subjek untuk memenuhi
kebutuhannya. Data yang diperoleh dikelompokkan menjadi:
a. Tidak bekerja/IRT
b. Bekerja
4. Pendapatan keluarga yaitu jumlah penghasilan riil dari seluruh anggota
rumah tangga yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan bersama maupun
perseorangan dalam rumah tangga. Data yang diperoleh dikelompokkan
menjadi 2 kategori yaitu cukup dan kurang.
a. Kurang : < Rp 2.828.601
b. Cukup : > Rp 2.828.601
5. Jumlah anggota keluarga yaitu jumlah semua anggota keluarga yang terdiri
dari kepala keluarga, isteri/suami, dan anak-anaknya serta orang lain atau
anak angkat yang ikut tinggal bersama keluarga tersebut. Data yang diperoleh
dikelompokkan menjadi:
a. 2-3
b. 4-5
c. >5
6. Status gizi balita yaitu keadaan gizi balita sesuai dengan kecukupan gizi
berdasarkan kurva BB/TB WHO. Berat badan dan tinggi badan yang di plot
menggunakan hasil pengukuran peneliti saat pengambilan data. Hasil plot
25
status gizi dikelompokkan menjadi 4 kategori yaitu gizi lebih, gizi baik, gizi
kurang, gizi buruk.
a. Gizi buruk : bila z-scores terletak < -3 SD
b. Gizi kurang : bila z-scores terletak -3 SD sampai dengan < -2 SD
c. Gizi baik : bila z-scores terletak -2 SD sampai dengan +2 SD
d. Gizi lebih : bila z-scores terletak > +2 SD
3.10Alur Penelitian
Pengumpulan data
26
3.12Analisa Data
Analisa data yang digunakan yaitu analisa univariat. Analisa dilakukan
terhadap variabel usia, tingkat pendidikan, pekerjaan, pendapatan keluarga, dan
jumlah anggota keluarga untuk mendapatkan gambaran distribusi frekuensi.
Semua data disajikan dalam bentuk diagram, tabel, dan narasi.
27
BAB IV
HASIL
Variabel f %
Jenis Kelamin
Laki-laki 0 0
Perempuan 19 100
Usia
<25 tahun 2 10
25-35 tahun 13 69
>35 tahun 4 21
Tingkat Pendidikan
Tidak berpendidikan 1 5
Pendidikan rendah 5 26
Pendidikan menengah 10 53
Pendidikan tinggi 3 16
Pekerjaan
Tidak bekerja/IRT 17 90
Bekerja 2 10
Pendapatan Keluarga
Kurang 7 37
Cukup 12 63
Jumlah Anggota Keluarga
2-3 7 37
4-5 10 53
28
>5 2 10
Usia Balita
12-24 bulan 8 42
24-36 bulan 3 16
36-48 bulan 4 21
48-60 bulan 4 21
29
subjek adalah sebanyak 4 orang, dengan jumlah terkecil sebanyak 3 orang dan
terbesar sebanyak 7 orang.
Berdasarkan 19 subjek yang dianalisis, terdapat sebanyak 8 (42%) balita
berusia 12-24 bulan, 3 (16%) balita berusia 24-36 bulan, 4 (21%) balita berusia
36-48 bulan, dan 4 (21%) balita berusia 48-60 bulan. Rerata usia balita adalah 33
bulan, dengan usia terendah 14 bulan dan tertinggi 59 bulan.
Variabel f %
Status Gizi Balita
Gizi buruk 1 5
Gizi kurang 5 26
Gizi baik 13 69
Gizi lebih 0 0
4.2.1 Usia
Berdasarkan tabel 4.3, orang tua balita dengan status gizi buruk berada
dalam rentang usia 25-35 tahun, yaitu 26 tahun. Dari 5 balita dengan status gizi
kurang, terdapat 4 (80%) balita yang memiliki orang tua berusia 25-35 tahun
dan 1 (20%) balita dengan orang tua berusia >35 tahun. Pada balita dengan gizi
baik, terdapat 2 (15%) orang tua yang berusia <25 tahun, 8 (62%) orang tua
yang berusia 25-35 tahun, dan 3 (23%) orang tua yang berusia >35 tahun.
30
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Usia berdasarkan Status Gizi Balita
Status Gizi Balita
Gizi Gizi
Usia Gizi Buruk Gizi Baik
Kurang Lebih
f % f % f % f %
<25 tahun 0 0 0 0 2 15 0 0
25-35 tahun 1 100 4 80 8 62 0 0
>35 tahun 0 0 1 20 3 23 0 0
Jumlah 1 100 5 100 13 100 0 0
31
4.2.3 Pekerjaan
Berdasarkan tabel 4.5, orang tua dari balita dengan gizi buruk tidak
memiliki pekerjaan atau merupakan ibu rumah tangga. Sebanyak 4 (80%)
balita dengan gizi kurang memiliki orang tua yang tidak bekerja/IRT, dan 1
(20%) balita memiliki orang tua yang bekerja sebagai penjaga warung. Dari
13 balita dengan gizi baik, 12 (92%) orang tua balita tidak memiliki pekerjaan
dan 1 (8%) orang tua balita bekerja sebagai karyawan swasta.
32
baik memiliki pendapatan keluarga yang tergolong kurang, sedangkan
sebanyak 10 (77%) memiliki pendapatan keluarga yang tergolong cukup.
33
BAB V
PEMBAHASAN
5.1 Usia
Berdasarkan hasil penelitian, balita dengan status gizi buruk memiliki
orang tua yang berusia 25-35 tahun. Sebanyak 4 (80%) orang tua dari balita
dengan status gizi kurang berada di usia 25-35 tahun, dan sebanyak 8 (62%) orang
tua dari balita dengan status gizi baik berada di usia 25-35 tahun. Data tersebut
menunjukkan bahwa kebanyakan orang tua balita di wilayah Puskesmas Manggar
Baru berada dalam usia yang optimal dalam merawat anak.
Penelitian oleh Myrskylä (2012) menunjukkan bahwa ibu yang berusia di
bawah 25 tahun dan di atas 35 tahun memiliki kesehatan yang lebih buruk
dibandingkan ibu yang berusia 25-35 tahun. Dengan kesehatan yang baik
tentunya ibu dapat merawat anaknya dengan lebih baik. Sebuah penelitian di
Australia menunjukkan bahwa anak dengan ibu yang berusia lebih muda lebih
cenderung memiliki kekurangan dalam status sosio-ekonomi yang meliputi
tingkat pendidikan lebih rendah dan pekerjaan orang tua, sedangkan ibu yang
berusia lebih tua cenderung memiliki keunggulan dalam sosio-ekonomi seperti
dalam hal asuransi kesehatan, lingkungan tempat tinggal yang lebih baik, dan
sebagainya (Falster, 2018). Hal tersebut menunjukkan bahwa usia orang tua,
dalam hal ini ibu, memiliki pengaruh terhadap status gizi anak secara tidak
langsung melalui kondisi sosio-ekonomi keluarga.
34
merupakan salah satu faktor vital terhadap status gizi (Girma dan Genebo, 2002).
Sebuah penelitian di yang dilakukan di India dan Vietnam menunjukkan bahwa
tingkat pendidikan orang tua, baik ibu maupun ayah, berpengaruh terhadap status
gizi anak. Tingkat pendidikan pada orang tua yang lebih tinggi mempengaruhi
tuntutan kebijakan terhadap komunitas di sekitarnya yang juga berpengaruh
secara tidak langsung terhadap pertumbuhan anak (Moestue, 2007).
Berdasarkan penelitian di Uganda pada tahun 2006, pemberian makanan
dan status gizi anak sangat berhubungan dengan tingkat pendidikan perempuan,
dalam hal ini ibu. Ibu yang lebih berpendidikan akan cenderung memberikan
asupan makanan dan gizi, serta pelayanan kesehatan yang lebih baik kepada anak-
anaknya. Di sisi lain, sebuah penelitian pada tahun 1996 menyatakan tingkat
pendidikan yang tinggi tidak akan berpengaruh secara signifikan terhadap status
gizi anak bila dalam kondisi sumber daya yang terbatas. Berdasarkan hal tersebut,
faktor yang mempengaruhi status gizi anak perlu ditelusuri secara keseluruhan
(Reed, 1996).
5.3 Pekerjaan
Berdasarkan hasil penelitian, orang tua dari balita dengan gizi buruk tidak
memiliki pekerjaan atau merupakan ibu rumah tangga, namun sebagian besar
orang tua dari balita dengan status gizi kurang maupun status gizi baik juga tidak
memiliki pekerjaan. Hanya 1 (20%) balita dengan status gizi kurang yang
memiliki orang tua yang bekerja sebagai penjaga warung dan 1 (8%) balita
dengan status gizi baik yang memiliki orang tua yang bekerja sebagai karyawan
swasta.
Dari data tersebut sulit untuk melihat pengaruh pekerjaan orang tua, dalam
hal ini ibu, terhadap status gizi anak. Namun dalam bukunya, Baswedan
menyatakan bahwa seorang istri yang membantu suaminya mencari nafkah, atau
bekerja, menimbulkan dampak yang dapat dirasakan oleh anak-anaknya.
Penelitian oleh Zarnowiecki menyatakan bahwa pekerjaan ibu berhubungan
dengan asupan makanan anak. Pada kelompok ibu yang memiliki pekerjaan
profesional, tingkat pengawasan asupan makanan anak lebih rendah dibandingkan
pada kelompok ibu yang tidak memiliki tuntutan pekerjaan (Zarnowiecki, 2015).
Hal ini bertentangan dengan pernyataan Girma dan Ganebo yang menyatakan
bahwa pekerjaan ibu dapat menambah penghasilan keluarga, sehingga
35
kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan dapat tercukupi, sehingga
dapat memenuhi kebutuhan nutrisi diri dan keluarganya (Girma dan Ganebo,
2002).
36
status gizi baik, terdapat 1 (8%) balita yang memiliki jumlah anggota keluarga >5
orang, yaitu sebanyak 6 orang.
Dalam penelitian ini tidak didapatkan pengaruh yang nyata dari jumlah
anggota keluarga terhadap status gizi balita. Hal ini dikarenakan perlunya melihat
juga pendapatan dalam keluarga tersebut agar dapat diperoleh data berupa
pendapatan perkapita rumah tangga yang lebih merepresentasikan kemampuan
rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan masing-masing anggota keluarga.
Di sisi lain, penelitian di Ethiopia menunjukkan adanya hubungan yang
bertolak belakang antara jumlah anggota keluarga dengan skor BB/TB pada anak,
yaitu dalam setiap peningkatan 1 jumlah anggota keluarga, terjadi penurunan skor
BB/TB anak sebesar 0,08 (Abate, 2017). Selain itu, dalam penelitiannya, Filmer
et al. juga menyatakan bahwa jumlah anggota keluarga yang besar dapat membuat
anak memiliki risiko lebih tinggi terkena malnutrisi akut dikarenakan adanya
ketidakseimbangan antara jumlah anggota keluarga dengan sumber daya yang
tersedia (Filmer, 2009).
37
BAB VI
6.1 Kesimpulan
a. Proporsi balita dengan statis gizi buruk di wilayah kerja Puskesmas Manggar
Baru adalah sebesar 5%, balita dengan status gizi kurang 26%, balita dengan
status gizi baik 69%, dan tidak ada balita yang memiliki status gizi lebih.
b. Kondisi sosio-ekonomi keluarga yang meliputi usia, tingkat pendidikan,
pekerjaan, pendapatan keluarga, dan jumlah anggota keluarga memiliki
pengaruh terhadap status gizi balita, namun faktor-faktor tersebut saling
mempengaruhi sehingga perlu dianalisa secara keseluruhan.
c. Terdapat perbedaan hasil BB dan TB balita yang didapatkan dari situs
sigiziterpadu.gizi.kemkes.go.id dengan data yang didapatkan dari
pengukuran oleh peneliti, sehingga ada kemungkinan terjadi kesalahan dalam
proses pengukuran maupun pencatatan data.
6.2 Saran
a. Perlunya dilakukan upaya untuk meningkatkan status gizi balita di wilayah
kerja Puskesmas Manggar Baru karena masih didapati balita dengan status
gizi buruk.
b. Dilakukan penelitian dengan jumlah sampel yang lebih banyak untuk
diperoleh hasil yang lebih representatif.
c. Dilakukan penelitian lebih lanjut untuk melihat signifikansi pengaruh
masing-masing faktor terhadap status gizi balita.
d. Dilakukan pelatihan kepada kader-kader Posyandu untuk dapat melakukan
pengukuran BB dan TB dengan metode yang sesuai sehingga didapatkan
hasil yang lebih valid.
e. Dilakukan pengawasan rutin oleh penanggung jawab program gizi
Puskesmas Manggar Baru terhadap pelaksanaan pengukuran BB dan TB
balita di Posyandu.
38
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier S (2010). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Arlina A (2000). Keep Smiling For Mom: Menjadi Ibu Yang Bahagia dan Luar
Biasa. Jakarta: Cindikia Sentral Muslim.
Baswedan AR (2015). Wanita Karier dan Pendidikan Anak. Yogyakarta: Ilmu Giri
Yogyakarta.
Harding KL, Aguayo VM, and Webb P (2018). Factors associated with wasting among
children under five years old in South Asia: Implications for action. PLoS ONE
13(7): e0198749. DOI: 10.1371/journal.pone.0198749.
39
Iran U and Butt MS (2006). Understanding the health and nutritional status of
children in Pakistan. International Journal of Social Economics 33(2): 111-
131. DOI: 10.1108/03068290610642210.
Kementerian Kesehatan RI (2018). Buku saku pemantauan status gizi tahun 2017,
Jakarta: Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat.
Moestue H and Huttly S (2007). Adult education and child nutrition: the role of
family and community. J Epedmiol Community Health 2008 62: 153-159.
DOI: 10.1136/jech.2006.058578.
Myrskylä M and Fenelon A (2012). Maternal age and offspring adult health:
Evidence from the health and retirement study. Population Association of
America 2012. DOI: 10.1007/s13542-012-0132-x.
Reed BA, Habicht JP, and Niameogo C (1996). The effects of maternal education on
child nutritional status depend on socio-environmental conditions.
International Journal of Epidemiology 1996(25): 585-592.
Rohijah I (2017). Pengaruh pekerjaan orang tua terhadap motivasi belajar anak
(Studi di RT 003 dan RT 008 Desa Wanayasa Kecamatan Pontang Kabupaten
Serang-Banten. Serang: Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Institut Agama Islam
Negeri (IAIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten.
40
Soekirman (2000). Ilmu Gizi dan Aplikasinya. Jakarta: Direktorat Jendral
Pendidikan Tinggi.
Supriasa IDN, Bakri B, and Fajar I (2001). Penilaian status gizi. Jakarta: EGC; 2001.
hlm.17-85.
Syed S and Rao R (2015). Factors influencing nutritional status of school children in
an urban slum of Hyderabad, India. Int J Contemp Pediatr 2015;2(4): 335-9.
DOI: 10.18203/2349-3291.ijcp20150969.
Tan C, Luo J, and Zong R et al. (2010). Nutrition knowledge, attitudes, behaviours
and the influencing factors among non-parent caregivers of rural left-behind
children under 7 years old in China. Public Health Nutrition 13(10): 1663-
1668. DOI: 10.1017/s138980010000078.
Uganda Bureau of Statistics (UBOS) and Macro International Inc (2007). Uganda
demographic and health survey 2006. UBOS and Macro International Inc.
Calverton, MD.
41
Using multiple methods to evaluate nutritional status is vital to obtain a comprehensive understanding of an individual's health. These methods include anthropometry, clinical laboratory tests, dietary surveys, and ecological factors . Each method provides unique insights—anthropometry measures physical growth; clinical tests can identify biochemical deficiencies; dietary surveys assess food intake patterns, and ecological assessments evaluate environmental influences. Together, they offer a holistic picture, improving diagnosis accuracy and intervention strategies .
Anthropometry is considered reliable because it provides accurate, simple, and cost-effective evaluations of physical growth and nutritional status reflective of recent and past nutritional intake . However, it is limited due to its inability to detect specific micronutrient deficiencies, like those of zinc, and can be influenced by non-nutritional factors such as infections, which may compromise its specificity and sensitivity .
Higher educational levels of parents, particularly mothers, often correlate with reduced malnutrition rates in children. Education enhances knowledge about nutrition, healthcare practices, and the importance of maintaining a balanced diet. It also provides better opportunities for economic stability, enabling access to nutritious foods and healthcare services. Conversely, low levels of parental education are linked to poorer dietary choices and health practices, leading to higher incidences of malnutrition in children .
Anthropometry aids in assessing nutritional status by providing a simple, safe, and cost-effective method to measure the physical growth of individuals. It effectively indicates past nutritional intake and can screen for potential health risks such as undernutrition or overnutrition . However, its limitations include insensitivity to certain micronutrient deficiencies, inability to distinguish specific nutritional issues (e.g., distinguishing zinc deficiency), and potential inaccuracies due to measuring errors or external factors like infections influencing the results .
The findings imply that parental employment status significantly influences children's nutritional status. Children of parents who do not work or are homemakers have varied nutritional outcomes, and their wellbeing may depend on other socio-economic factors such as education and household income. Meanwhile, working parents might provide better economic stability, potentially leading to improved nutritional security and better health services for children .
Nutritional monitoring efforts at community health centers, such as Posyandu, have several strengths. They effectively track growth and nutritional status using various assessments (e.g., anthropometry) and promote nutritional education among community members. However, their effectiveness can be hampered by challenges in data accuracy, resource limitations, and varying levels of parental engagement . These efforts are crucial for identifying at-risk groups and implementing timely interventions to address growth and development issues among children .
Household food security indirectly affects children's nutritional status by ensuring that family members have adequate and nutritious food. When a family can consistently provide such nutrition, it helps in preventing malnutrition and associated health issues in children. The lack of food security can lead to inadequate dietary intake, which indirectly harms the child's health and developmental outcomes .
Parental age and education significantly influence the nutritional status of children. Younger and older mothers might face more health challenges compared to those aged 25-35, potentially affecting their ability to care for their children . Parental education, especially the mother's, is closely linked to household management abilities that directly impact children's nutrition. Higher educational levels are associated with better awareness and practices regarding nutrition and health, leading to improved child nutritional outcomes .
The key direct factors affecting children's nutritional status include the quality of food and the presence of diseases. Children who receive good nutrition but suffer from frequent illnesses may still experience malnutrition. Conversely, if their diet is inadequate, their immune system might weaken, making them more susceptible to diseases . Indirect factors involve the family's ability to ensure food security, parenting styles, and the availability of healthcare services .
Socio-economic factors linked to parental education levels affect child nutrition by shaping parents' ability to make informed decisions about health, nutrition, and resource management. Higher education often results in better employment opportunities, improved household income, and access to health and nutrition information. This enables parents to provide a balanced diet, ensure proper healthcare, and create a more stable environment conducive to a child's growth and development .