Anda di halaman 1dari 11

ARTI WALI SONGO

Masjid Agung Demak, diyakini sebagai salah satu tempat berkumpulnya para wali yang
paling awal.
Ada beberapa pendapat mengenai arti Wali Songo. Pertama adalah wali yang sembilan,
yang menandakan jumlah wali yang berjumlah sembilan, atau sanga dalam bahasa
Jawa. Pendapat lain menyebutkan bahwa kata songo / sanga berasal dari kata tsana yang
dalam bahasa Arab berarti mulia. Pendapat lainnya lagi menyebut kata sana berasal dari
bahasa Jawa, yang berarti tempat.

Pendapat lain yang mengatakan bahwa Wali Songo adalah sebuah majelis dakwah yang
pertama kali didirikan oleh Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) pada tahun 1404
Masehi (808 Hijriah).[3] Para Wali Songo adalah pembaharu masyarakat pada masanya.
Pengaruh mereka terasakan dalam beragam bentuk manifestasi peradaban baru
masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan, bercocok-tanam, perniagaan, kebudayaan,
kesenian, kemasyarakatan, hingga ke pemerintahan.

Konsep Wali Songo atau Wali Sembilan dalam kosmologi Islam, sumber utamanya
dapat dilacak pada konsep kewalian yang secara umum oleh kalangan penganut sufisme
diyakini meliputi sembilan tingkat kewalian. Syaikh al-Akbar Muhyiddin Ibnu Araby
atau Ibnu Arabi dalam kitab Futuhat al-Makkiyah memaparkan tentang sembilan tingkat
kewalian dengan tugas masing-masing sesuai kewilayahan. Kesembilan tingkat
kewalian itu: 1) Wali Aqthab atau Wali Quthub, yaitu pemimpin dan penguasa para wali
di seluruh alam semesta. 2) Wali Aimmah, yaitu pembantu Wali Aqthab dan
menggantikan kedudukannya jika wafat. 3) Wali Autad, yaitu wali penjaga empat
penjuru mata angin . 4) Wali Abdal, yaitu wali penjaga tujuh musim. 5) Wali Nuqaba,
yaitu wali penjaga hukum syariat. 6) Wali Nujaba, yang setiap masa berjumlah delapan
orang. 7) Wali Hawariyyun, yaitu wali pembela kebenaran agama, baik pembelaan
dalam bentuk argumentasi maupun senjata. 8) Wali Rajabiyyun, yaitu wali yang
karomahnya muncul setiap bulan Rajab. 9) Wali Khatam, yaitu wali yang menguasai
dan mengurus wilayah kekuasaan umat Islam.[4]

ASAL USUL WALI SONGO

•Teori keturunan Hadramaut

Walaupun masih ada pendapat yang menyebut Wali Songo adalah keturunan
Samarkand (Asia Tengah), Champa atau tempat lainnya, namun tampaknya tempat-
tampat tersebut lebih merupakan jalur penyebaran para mubaligh daripada merupakan
asal-muasal mereka yang sebagian besar adalah kaum Sayyid atau Syarif. Beberapa
argumentasi yang diberikan oleh Muhammad Al Baqir, dalam bukunya Thariqah
Menuju Kebahagiaan, mendukung bahwa Wali Songo adalah keturunan Hadramaut
(Yaman):

•L.W.C van den Berg, Islamolog dan ahli hukum Belanda yang mengadakan riset pada
1884–1886, dalam bukunya Le Hadhramout et les colonies arabes dans l'archipel Indien
(1886)[8] mengatakan:
”Adapun hasil nyata dalam penyiaran agama Islam (ke Indonesia) adalah dari orang-
orang Sayyid Syarif. Dengan perantaraan mereka agama Islam tersiar di antara raja-raja
Hindu di Jawa dan lainnya. Selain dari mereka ini, walaupun ada juga suku-suku lain
Hadramaut (yang bukan golongan Sayyid Syarif), tetapi mereka ini tidak meninggalkan
pengaruh sebesar itu. Hal ini disebabkan mereka (kaum Sayyid Syarif) adalah keturunan
dari tokoh pembawa Islam (Nabi Muhammad SAW).”

•van den Berg juga menulis dalam buku yang sama (hal 192-204):
”Pada abad ke-15, di Jawa sudah terdapat penduduk bangsa Arab atau keturunannya,
yaitu sesudah masa kerajaan Majapahit yang kuat itu. Orang-orang Arab bercampul-
gaul dengan penduduk, dan sebagian mereka mempunyai jabatan-jabatan tinggi. Mereka
terikat dengan pergaulan dan kekeluargaan tingkat atasan. Rupanya pembesar-pembesar
Hindu di kepulauan Hindia telah terpengaruh oleh sifat-sifat keahlian Arab, oleh karena
sebagian besar mereka berketurunan pendiri Islam (Nabi Muhammad SAW). Orang-
orang Arab Hadramawt (Hadramaut) membawa kepada orang-orang Hindu pikiran baru
yang diteruskan oleh peranakan-peranakan Arab, mengikuti jejak nenek moyangnya."
Pernyataan van den Berg spesifik menyebut abad ke-15, yang merupakan abad spesifik
kedatangan atau kelahiran sebagian besar Wali Songo di pulau Jawa. Abad ke-15 ini
jauh lebih awal dari abad ke-18 yang merupakan saat kedatangan gelombang
berikutnya, yaitu kaum Hadramaut yang bermarga Assegaf, Al Habsyi, Al Hadad,
Alaydrus, Alatas, Al Jufri, Syihab, Syahab dan banyak marga Hadramaut lainnya.

•Hingga saat ini umat Islam di Hadramaut sebagian besar bermadzhab Syafi’i, sama
seperti mayoritas di Srilangka, pesisir India Barat (Gujarat dan Malabar), Malaysia dan
Indonesia. Bandingkan dengan umat Islam di Uzbekistan dan seluruh Asia Tengah,
Pakistan dan India pedalaman (non-pesisir) yang sebagian besar bermadzhab Hanafi.

•Kesamaan dalam pengamalan madzhab Syafi'i bercorak tasawuf dan mengutamakan


Ahlul Bait; seperti mengadakan Maulid, membaca Diba & Barzanji, beragam Shalawat
Nabi, doa Nur Nubuwwah dan banyak amalan lainnya hanya terdapat di Hadramaut,
Mesir, Gujarat, Malabar, Srilangka, Sulu & Mindanao, Malaysia dan Indonesia. Kitab
fiqh Syafi’i Fathul Muin yang populer di Indonesia dikarang oleh Zainuddin Al
Malabary dari Malabar, isinya memasukkan pendapat-pendapat baik kaum Fuqaha
maupun kaum Sufi. Hal tersebut mengindikasikan kesamaan sumber yaitu Hadramaut,
karena Hadramaut adalah sumber pertama dalam sejarah Islam yang menggabungkan
fiqh Syafi'i dengan pengamalan tasawuf dan pengutamaan Ahlul Bait.

•Pada abad ke-15, raja-raja Jawa yang berkerabat dengan Wali Songo seperti Raden
Patah dan Pati Unus sama-sama menggunakan gelar Alam Akbar. Gelar tersebut juga
merupakan gelar yang sering dikenakan oleh keluarga besar Jamaluddin Akbar di
Gujarat pada abad ke-14, yaitu cucu keluarga besar Azhamat Khan (atau Abdullah
Khan) bin Abdul Malik bin Alwi, seorang anak dari Muhammad Shahib Mirbath ulama
besar Hadramaut abad ke-13. Keluarga besar ini terkenal sebagai mubaligh musafir
yang berdakwah jauh hingga pelosok Asia Tenggara, dan mempunyai putra-putra dan
cucu-cucu yang banyak menggunakan nama Akbar, seperti Zainal Akbar, Ibrahim
Akbar, Ali Akbar, Nuralam Akbar dan banyak lainnya.
TOKOH PENDAHULU WALI SONGO

•Syekh Jumadil Qubro

Artikel utama: Syekh Jumadil Qubro


Syekh Jumadil Qubro adalah Maulana Ahmad Jumadil Kubra / Husain Jamaluddin al
akbar bin Ahmad Jalaluddin bin Abdillah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil
Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad
bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-
Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain
bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah Syekh Jumadil
Qubro adalah putra Husain Jamaluddin dari isterinya yang bernama Puteri Selindung
Bulan (Putri Saadong II/ Putri Kelantan Tua). Tokoh ini sering disebutkan dalam
berbagai babad dan cerita rakyat sebagai salah seorang pelopor penyebaran Islam di
tanah Jawa.

Makamnya terdapat di beberapa tempat yaitu di Semarang, Trowulan, atau di desa


Turgo (dekat Pelawangan), Yogyakarta. Belum diketahui yang mana yang betul-betul
merupakan kuburnya.[7]
•Syekh Datuk Kahfi

Syekh Datuk Kahfi merupakan guru dari Pangeran Walangsungsang dan Nyai Rara
Santang (Syarifah Muda'im), yaitu putera dan puteri dari Sri Baduga Maharaja (Prabu
Siliwangi), raja Kerajaan Pajajaran, Jawa Barat. Syekh Datuk Kahfi wafat dan
dimakamkan di Gunung Jati, bersamaan dengan makam Syarif Hidayatullah (Sunan
Gunung Jati), Pangeran Pasarean, dan raja-raja Kesultanan Cirebon lainnya.

Syekh Nurjati adalah tokoh utama penyebar agama Islam yang pertama di Cirebon.
Tokoh yang lain adalah Maulana Magribi, Pangeran Makhdum, Maulana Pangeran
Panjunan, Maulana Pangeran Kejaksan, Maulana Syekh Bantah, Syekh Majagung,
Maulana Syekh Lemah Abang, Mbah Kuwu Cirebon (Pangeran Cakrabuana), dan
Syarif Hidayatullah. Pada suatu ketika mereka berkumpul di Pasanggrahan Amparan
Jati, dibawah pimpinan Syekh Nurjati. Mereka semua muri-murid Syekh Nurjati. Dalam
sidang tersebut Syekh Nurjati berfatwa kepada murid-muidnya:

“Wahai murid-murid ku, sesungguhnya masih ada suatu rencana yang sesegera
mungkin kita laksanakan, ialah mewujudkan atau membentuk masyarakat Islamiyah.
Bagaimana pendapat para murid semuanya dan bagaimana pula caranya kita
membentuk masyarakat islamiyah itu?”.

Para murid dalam sidang mufakat atas rencana baik tersebut. Syarif Hidayatullah
berpendapat bahwa untuk membentuk masyarakat islam sebaiknya diadakan usaha
memperbanyak tabligh di pelosok dengan cara yang baik dan teratur. Pendapat ini
mendapat dukungan penuh dari sidang, dan disepakati segera dilaksanakan. Sidang
inilah yang menjadi dasar dibentuknya organisasi dakwah dewan Wali Songo.
NAMA PARA WALI SONGO

Dari nama para Wali Songo tersebut, pada umumnya terdapat 9 nama yang dikenal
sebagai anggota Wali Songo yang paling terkenal, yaitu:

~Sunan Gresik atau Maulana Malik Ibrahim


~Sunan Ampel atau Raden Rahmat
~Sunan Bonang atau Raden Makhdum Ibrahim
~Sunan Drajat atau Raden Qasim Syarifuddin
~Sunan Kudus atau Raden Ja'far Shadiq
~Sunan Giri atau Raden Paku atau Muhammad ~'Ainul Yaqin atau Prabu Satmata
~Sunan Kalijaga atau Raden Syahid
~Sunan Muria atau Raden Umar Said
~Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah
~Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) Sunting
~Artikel utama: Sunan Gresik

•SUNAN GRESIK ATAU MAULANA MALIK IBRAHIM

Makam Maulana Malik Ibrahim, desa Gapura, Gresik, Jawa Timur


Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad. Ia disebut juga
Sunan Gresik, atau Sunan Tandhes, atau Mursyid Akbar Thariqat Wali Songo. Nasab
As-Sayyid Maulana Malik Ibrahim Nasab Maulana Malik Ibrahim menurut catatan Dari
As-Sayyid Bahruddin Ba'alawi Al-Husaini yang kumpulan catatannya kemudian
dibukukan dalam Ensiklopedi Nasab Ahlul Bait yang terdiri dari beberapa volume
(jilid). Dalam Catatan itu tertulis: As-Sayyid Maulana Malik Ibrahim bin As-Sayyid
Barakat Zainal Alam bin As-Sayyid Husain Jamaluddin bin As-Sayyid Ahmad
Jalaluddin bin As-Sayyid Abdullah bin As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin As-
Sayyid Alwi Ammil Faqih bin As-Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin As-Sayyid
Ali Khali’ Qasam bin As-Sayyid Alwi bin As-Sayyid Muhammad bin As-Sayyid Alwi
bin As-Sayyid Ubaidillah bin Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin Al-Imam Isa bin Al-
Imam Muhammad bin Al-Imam Ali Al-Uraidhi bin Al-Imam Ja’far Shadiq bin Al-
Imam Muhammad Al-Baqir bin Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Al-Imam Al-Husain bin
Sayyidah Fathimah Az-Zahra/Ali bin Abi Thalib, binti Nabi Muhammad Rasulullah

Ia diperkirakan lahir di Samarkand di Asia Tengah, pada paruh awal abad ke-14. Babad
Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah
orang Jawa terhadap As-Samarqandy.[5] Dalam cerita rakyat, ada yang memanggilnya
Kakek Bantal.

•Maulana Malik Ibrahim memiliki, 3 isteri bernama:


1. Siti Fathimah binti Ali Nurul Alam Maulana Israil (Raja Champa Dinasti Azmatkhan
1), memiliki 2 anak, bernama: Maulana Moqfaroh dan Syarifah Sarah

2. Siti Maryam binti Syaikh Subakir, memiliki 4 anak, yaitu: Abdullah, Ibrahim, Abdul
Ghafur, dan Ahmad

3. Wan Jamilah binti Ibrahim Zainuddin Al-Akbar Asmaraqandi, memiliki 2 anak yaitu:
Abbas dan Yusuf.

Selanjutnya Sharifah Sarah binti Maulana Malik Ibrahim dinikahkan dengan Sayyid
Fadhal Ali Murtadha [Sunan Santri/ Raden Santri] dan melahirkan dua putera yaitu Haji
Utsman (Sunan Manyuran) dan Utsman Haji (Sunan Ngudung). Selanjutnya Sayyid
Utsman Haji (Sunan Ngudung) berputera Sayyid Ja’far Shadiq [Sunan Kudus].

Maulana Malik Ibrahim umumnya dianggap sebagai wali pertama yang mendakwahkan
Islam di Jawa. Ia mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam dan banyak merangkul
rakyat kebanyakan, yaitu golongan masyarakat Jawa yang tersisihkan akhir kekuasaan
Majapahit. Malik Ibrahim berusaha menarik hati masyarakat, yang tengah dilanda krisis
ekonomi dan perang saudara. Ia membangun pondokan tempat belajar agama di Leran,
Gresik. Ia juga membangun masjid sebagai tempat peribadatan pertama di tanah Jawa,
yang sampai sekarang masjid tersebut menjadi masjid Jami' Gresik. Pada tahun 1419,
Malik Ibrahim wafat. Makamnya terdapat di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.

Sunan Ampel (Raden Rahmat)

Sunan Ampel bernama asli Raden Rahmat, keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad,
menurut riwayat ia adalah putra Ibrahim Zainuddin Al-Akbar dan seorang putri Champa
yang bernama Dewi Condro Wulan binti Raja Champa Terakhir Dari Dinasti Ming.
Nasab lengkapnya sebagai berikut: Sunan Ampel bin Sayyid Ibrahim Zainuddin Al-
Akbar bin Sayyid Jamaluddin Al-Husain bin Sayyid Ahmad Jalaluddin bin Sayyid
Abdullah bin Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin Sayyid Alwi Ammil Faqih bin
Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin Sayyid Ali Khali’ Qasam bin Sayyid Alwi bin
Sayyid Muhammad bin Sayyid Alwi bin Sayyid Ubaidillah bin Sayyid Ahmad Al-
Muhajir bin Sayyid Isa bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Ali Al-Uraidhi bin Imam
Ja’far Shadiq bin Imam Muhammad Al-Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Imam
Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah. Sunan
Ampel umumnya dianggap sebagai sesepuh oleh para wali lainnya. Pesantrennya
bertempat di Ampel Denta, Surabaya, dan merupakan salah satu pusat penyebaran
agama Islam tertua di Jawa. Ia menikah dengan Dewi Condrowati yang bergelar Nyai
Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama Arya Teja dan menikah juga dengan Dewi
Karimah binti Ki Kembang Kuning. Pernikahan Sunan Ampel dengan Dewi
Condrowati alias Nyai Ageng Manila binti Aryo Tejo, berputera: Sunan Bonang,Siti
Syari’ah,Sunan Derajat,Sunan Sedayu,Siti Muthmainnah dan Siti Hafsah. Pernikahan
Sunan Ampel dengan Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning, berputera: Dewi
Murtasiyah,Asyiqah,Raden Husamuddin (Sunan Lamongan,Raden Zainal Abidin
(Sunan Demak),Pangeran Tumapel dan Raden Faqih (Sunan Ampel 2. Makam Sunan
Ampel teletak di dekat Masjid Ampel, Surabaya.

•SUNAN AMPEL ATAU RADEN RAHMAT

Kedatangan Sunan Ampel ke Majapahit diperkirakan terjadi awal dasawarsa keempat


abad ke-15, yakni saat Arya Damar sudah menjadi Adipati Palembang sebagaimana
riwayat yang menyatakan bahwa sebelum ke Jawa, Raden Rahmat telah singgah ke
Palembang. Menurut Thomas W. Arnold dalam The Preaching of Islam (1977), Raden
Rahmat sewaktu di Palembang menjadi tamu Arya Damar selama dua bulan, dan dia
berusaha memperkenalkan Islam kepada raja muda Palembang itu. Arya Damar yang
sudah tertarik kepada Islam itu hampir saja diikrarkan menjadi Islam. Namun, karena
tidak berani menanggung risiko menghadapi tindakan rakyatnya yang masih terikat
pada kepercayaan lama, ia tidak mengatakan keislamannya di hadapan umum. Menurut
cerita setempat, setelah memeluk Islam, Arya Damar memakai nama Ario Abdillah.

Keterangan dari Hikayat Hasanuddin yang dikupas oleh J. Edel (1938) menjelaskan
bahwa pada waktu Kerajaan Champa ditaklukkan oleh Raja Koci, Raden Rahmat sudah
bermukim di Jawa. Itu berarti Raden Rahmat ketika datang ke Jawa sebelum tahun 1446
M, yakni pada tahun jatuhnya Champa akibat serbuan Vietnam. Hal itu sejalan dengan
sumber dari Serat Walisana yang menyatakan bahwa Prabu Brawijaya, Raja Majapahit
mencegah Raden Rahmat kembali ke Champa karena Champa sudah rusak akibat kalah
perang dengan Kerajaan Koci. Penempatan Raden Rahmat di Surabaya dan saudaranya
di Gresik, tampaknya memiliki kaitan erat dengan suasana politik di Champa, sehingga
dua bersaudara tersebut ditempatkan di Surabaya dan Gresik, kemudian dinikahkan
dengan perempuan setempat.

•SUNAN BONANG

Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel, dan merupakan keturunan ke-23 dari Nabi
Muhammad. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila, putri adipati
Tuban bernama Arya Teja. Sunan Bonang banyak berdakwah melalui kesenian untuk
menarik penduduk Jawa agar memeluk agama Islam. Ia dikatakan sebagai penggubah
suluk Wijil dan tembang Tombo Ati, yang masih sering dinyanyikan orang.
Pembaharuannya pada gamelan Jawa ialah dengan memasukkan rebab dan bonang,
yang sering dihubungkan dengan namanya. Universitas Leiden menyimpan sebuah
karya sastra bahasa Jawa bernama Het Boek van Bonang atau Buku Bonang. Menurut
G.W.J. Drewes, itu bukan karya Sunan Bonang namun mungkin saja mengandung
ajarannya. Sunan Bonang diperkirakan wafat pada tahun 1525. Ia dimakamkan di
daerah Tuban, Jawa Timur.

•SUNAN DRAJAT
Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel, dan merupakan keturunan ke-23 dari Nabi
Muhammad. Nama asli dari sunan drajat adalah masih munat. masih munat nantinya
terkenal dengan nama sunan drajat. Nama sewaktu masih kecil adalah Raden Qasim.
Sunan drajat terkenal juga dengan kegiatan sosialnya. Dialah wali yang memelopori
penyatuan anak-anak yatim dan orang sakit. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai
Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama Arya Teja. Sunan Drajat banyak berdakwah
kepada masyarakat kebanyakan. Ia menekankan kedermawanan, kerja keras, dan
peningkatan kemakmuran masyarakat, sebagai pengamalan dari agama Islam. Pesantren
Sunan Drajat dijalankan secara mandiri sebagai wilayah perdikan, bertempat di Desa
Drajat, Kecamatan Paciran, Lamongan. Tembang macapat Pangkur disebutkan sebagai
ciptaannya. Gamelan Singomengkok peninggalannya terdapat di Musium Daerah Sunan
Drajat, Lamongan. Sunan Drajat diperkirakan wafat pada 1522.

•SUNAN KUDUS
Sunan Kudus adalah putra Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, dengan Syarifah
Ruhil atau Dewi Ruhil yang bergelar Nyai Anom Manyuran binti Nyai Ageng Melaka
binti Sunan Ampel. Sunan Kudus adalah keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad. Sunan
Kudus bin Sunan Ngudung bin Fadhal Ali Murtadha bin Ibrahim Zainuddin Al-Akbar
bin Jamaluddin Al-Husain bin Ahmad Jalaluddin bin Abdillah bin Abdul Malik
Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’
Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa
bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali
Zainal Abidin bin Al-Husain binti Sayyidah Fathimah Az-Zahra bin Nabi Muhammad
Rasulullah. Sebagai seorang wali, Sunan Kudus memiliki peran yang besar dalam
pemerintahan Kesultanan Demak, yaitu sebagai panglima perang, penasihat Sultan
Demak, Mursyid Thariqah dan hakim peradilan negara. Ia banyak berdakwah di
kalangan kaum penguasa dan priyayi Jawa. Di antara yang pernah menjadi muridnya,
ialah Sunan Prawoto penguasa Demak, dan Arya Penangsang adipati Jipang Panolan.
Salah satu peninggalannya yang terkenal ialah Mesjid Menara Kudus, yang
arsitekturnya bergaya campuran Hindu dan Islam. Sunan Kudus diperkirakan wafat
pada tahun 1550.
•SUNAN GIRI
Artikel utama: Sunan Giri
Sunan Giri adalah putra Maulana Ishaq. Sunan Giri adalah keturunan ke-23 dari Nabi
Muhammad, merupakan murid dari Sunan Ampel dan saudara seperguruan dari Sunan
Bonang. Ia mendirikan pemerintahan mandiri di Giri Kedaton, Gresik; yang selanjutnya
berperan sebagai pusat dakwah Islam di wilayah Jawa dan Indonesia timur, bahkan
sampai ke kepulauan Maluku. Salah satu keturunannya yang terkenal ialah Sunan Giri
Prapen, yang menyebarkan agama Islam ke wilayah Lombok dan Bima. Makam Sunan
Giri terletak di Desa Giri, Kabupaten Gresik.

•SUNAN KALIJAGA
Artikel utama: Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga adalah putra adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau
Raden Sahur atau Sayyid Ahmad bin Mansur (Syekh Subakir). Ia adalah murid Sunan
Bonang. Sunan Kalijaga menggunakan kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk
berdakwah, antara lain kesenian wayang kulit dan tembang suluk. Tembang suluk lir-
Ilir dan Gundul-Gundul Pacul umumnya dianggap sebagai hasil karyanya. Dalam satu
riwayat, Sunan Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishaq,
menikahi juga Syarifah Zainab binti Syekh Siti Jenar dan Ratu Kano Kediri binti Raja
Kediri.

•SUNAN MURIA
Sunan Muria atau Raden Umar Said adalah putra Sunan Kalijaga. Ia adalah putra dari
Sunan Kalijaga dari isterinya yang bernama Dewi Sarah binti Maulana Ishaq. Sunan
Muria menikah dengan Dewi Sujinah, putri Sunan Ngudung. Jadi Sunan Muria adalah
adik ipar dari Sunan Kudus.

•SUNAN JATI

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah putra Syarif Abdullah Umdatuddin
putra Ali Nurul Alam Syekh Husain Jamaluddin Akbar. Dari pihak ibu, ia masih
keturunan keraton Pajajaran melalui Nyai Rara Santang, yaitu anak dari Sri Baduga
Maharaja. Sunan Gunung Jati mengembangkan Cirebon sebagai pusat dakwah dan
pemerintahannya, yang sesudahnya kemudian menjadi Kesultanan Cirebon. Anaknya
yang bernama Maulana Hasanuddin, juga berhasil mengembangkan kekuasaan dan
menyebarkan agama Islam di Banten.

BIOGRAFI
WALISONGO

DI SUSUN OLEH
NUR ADELIA RAMADANI
4957
1X
MATA PELAJARAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SMPN 1 PAJUKUKANG

Anda mungkin juga menyukai