Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

UAS KEPERAWATAN TRAUMA


“Dampak Covid-19 dan Protokol Kesehatan
terhadap Kesehatan Psikososial Masyarakat”

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas UAS Mata Kuliah

Blok Keperawatan Trauma

Disusun Oleh :

TRINI AFIFAH NADIRAH

CKR0170109

Keperawatan B

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUNINGAN
2020
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya, tugas makalah ini dapat diselesaikan. Makalah ini disusun dalam rangka
memenuhi tugas UAS Mata Kuliah Keperawatan Trauma.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tidak akan tuntas tanpa
adanya bimbingan serta bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan
ini penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
menyelesaikan makalah ini.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Untuk
itu, kritik dan saran sangat dibutuhkan untuk dijadikan pedoman dalam penulisan ke
arah yang lebih baik lagi. Semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita
semua. Aamiin. Demikian yang dapat penulis sampaikan, kurang dan lebihnya mohon
maaf.

Wassalamualaikum Wr. Wb

Kuningan, Juli 2020

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................................i
DAFTAR ISI...............................................................................................................................ii
BAB I..........................................................................................................................................1
PENDAHULUAN.......................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang............................................................................................................1
1.2 Ruang Lingkup............................................................................................................2
1.3 Rumusan Masalah.......................................................................................................2
1.4 Tujuan Penulisan.........................................................................................................2
1.5 Sistematika Penulisan..................................................................................................2
BAB II.........................................................................................................................................3
TINJAUAN TEORI....................................................................................................................3
2.1 Definisi psikososial.....................................................................................................3
2.2 Dampak Covid-19 terhadap kesehatan psikososial masyarakat...................................7
2.3 Dampak Covid 19 dan Protokol Kesehatan terhadap kesehatan psikososial
masyarakat..............................................................................................................................9
BAB III.....................................................................................................................................11
HASIL KAJIAN KUESIONER................................................................................................11
BAB IV.....................................................................................................................................16
PEMBAHASAN.......................................................................................................................16
BAB V......................................................................................................................................23
PENUTUP.................................................................................................................................23
4.1 Kesimpulan................................................................................................................23
4.2 Rekomendasi.............................................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................24

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pandemi COVID-19 merupakan bencana non alam yang dapat memberikan
dampak kondisi psikososial setiap orang. Hingga hari Minggu (5/7/2020) di
Indonesia tercatat ada sebanyak 63.749 kasus infeksi virus corona. Sebanyak
31.473 di antaranya masih menjalani perawatan, sedangkan sebanyak 29.105
orang telah dinyatakan sembuh dan sebanyak 3.171 orang meninggal dunia.
Dalam sepekan, jumlah kasus baru infeksi virus corona di Indonesia bertambah
sebanyak 9.739 kasus.
Menurut WHO (2020), munculnya pandemi menimbulkan stres pada
berbagai lapisan masyarakat. Sejumlah penelitian terkait pandemi (antara lain flu
burung dan SARS) menunjukkan adanya dampak negatif terhadap kesehatan
mental penderitanya. Penelitian pada penyintas SARS menunjukkan bahwa
dalam jangka menengah dan panjang, 41-65% dari penyintas mengalami berbagai
macam gangguan psikologis (Maunder, 2009). Sebuah penelitian di Hongkong
menunjukkan bahwa masalah psikologis pada penyintas SARS tidak berkurang
dalam kurun waktu satu tahun setelah kejadian. Bahkan, diperkirakan 64% dari
penyintas berpotensi mengalami gangguan psikiatrik (Lee, dkk., 2007).
Dari tinjauan psikologi, sejak COVID-19 menyerang Indonesia dan ada
imbauan untuk berdiam diri di rumah, sebenarnya sendi-sendi kehidupan
masyarakat sudah mulai bergulir menuju tatatan hidup yang berbeda. Sejak
protokol kesehatan digembar-gemborkan, orang-orang mulai menerapkan
physical distancing, mencuci tangan teratur, hingga membiasakan diri
mengenakan masker. Psikolog dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta,
Laelatus Syifa mengungkapkan, kondisi pandemi virus corona ini memberikan
tiga efek psikologis bagi seseorang, yakni krisis, uncertainty (ketidakpastian), dan
loss of control. Untuk efek krisis ditandai dengan datang mendesak secara tiba-
tiba tanpa persiapan, dan memiliki efek negatif yang menekan.
Kemudian, untuk efek ketidakpastian, umumnya dirasakan seseorang
dengan kekhawatiran kapan kondisi ini akan berakhir, kapan bisa kembali bekerja
di perkantoran atau bertemu dengan banyak orang atau sanak saudara kembali.
Sedangkan untuk efek "loss of control", Latus mengungkapkan, orang hanya

1
dapat melihat atau mendengar tanpa bisa melakukan hal apa pun. Kondisi ini
memicu munculnya stres. Semakin tinggi stres seseorang, maka semakin besar
seseorang untuk tidak patuh terhadap aturan. Sementara itu, munculnya stres juga
dapat diakibatkan dari faktor perekonomian, urusan keluarga di mana kondisi ini
pun cenderung membuat seseorang tidak mau mematuhi aturan.
Tempat dan fasilitas umum merupakan area dimana masyarakat melakukan
aktifitas kehidupan sosial dan berkegiatan dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya. Risiko pergerakan orang dan berkumpulnya masyarakat pada tempat
dan fasilitas umum, memiliki potensi penularan COVID-19 yang cukup besar.
Agar roda perekonomian tetap dapat berjalan, maka perlu dilakukan mitigasi
dampak pandemic COVID-19 khususnya ditempat dan fasilitas umum.
Masyarakat harus melakukan perubahan pola hidup dengan tatanan dan adaptasi
kebiasaan yang baru (new normal) agar dapat hidup produktif dan terhindar dari
penularan COVID-19. Kedisiplinan dalam menerapkan prinsip pola hidup yang
lebih bersih dan sehat merupakan kunci dalam menekan penularan COVID-19
pada masyarakat, sehingga diharapkan wabah COVID-19 dapat segera berakhir.
1.2 Ruang Lingkup
Adapun ruang lingkup yang akan dibahas dalam makalah ini adalah bagaimana
respon kesehatan psikologis masyarakat selama pandemic penyakit / COVID-19.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka menimbulkan rumusan masalah sebagai
berikut :
1. Bagaimana respon psikososial masyarakat terhadap dampak dari penyakit
virus corona/ COVID-19?
2. Bagaimana masyarakat melaksakan protokol kesehatan terhadap aspek
psikososial ?
1.4 Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui respon masyarakat mengenai psikososial yang di alami
terhadap dampa dari penyakit virus corona/COVID-19.
1.5 Sistematika Penulisan
Metode yang dipakai dalam pembuatan makalah ini adalah metode pustaka yaitu
metode yang dilakukan dengan mempelajari dan mengumpulkan data dari
pustaka yang berhubungan dengan alat, baik berupa buku maupun informasi di
internet.
2
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi psikososial


Psikososial adalah suatu kondisi yang terjadi pada individu yang
mencakup aspek psikis dan sosial atau sebaliknya. Psikososial menunjuk
pada hubungan yang dinamis antara faktor psikis dan sosial, yang saling
berinteraksi dan memengaruhi satu sama lain. Psikososial sendiri berasal
dari kata psiko dan sosial. Kata psiko mengacu pada aspek psikologis dari
individu (pikiran, perasaan dan perilaku) sedangkan sosial mengacu pada
hubungan eksternal individu dengan orang-orang di sekitarnya (Pusat Krisis
Fakultas Psikologi UI). Istilah psikososial berarti menyinggung relasi sosial yang
mencakup faktor-faktor psikologis (Chaplin, 2011).
Konsep psikososial terdiri dari dua hal, yaitu psiko dan sosial. Kata psiko
mengacu pada jiwa, pikiran, emosi atau perasaan, perilaku, hal-hal yang diyakini,
sikap, persepsi dan pemahaman akan diri. Kata sosial merujuk pada orang lain,
tatanan sosial, norma, nilai aturan,system ekonomi, system kekerabatan, agama
atau religi serta keyakinan yang berlaku dalam suatu masyarakat.Psiko sosial
diartikan sebagai hubungan yang dinamis dalam interaksi antara manusia, dimana
tingkah laku, pikiran dan emosi individu akan mempengaruhi dan dipengaruhi
oleh orang lain atau pengalaman sosial.
Masalah-masalah psikososial menurut (Nanda, 2012) yaitu :
a. Berduka
Berduka adalah respon emosi yang diekspresikan terhadap kehilangan yang
dimanifestasikan adanya perasaan sedih, gelisah, cemas, sesak nafas, susah
tidur, dan lain-lain. Berduka merupakan respon normal pada semua kejadian
kehilangan. Dukacita adalah proses kompleks yang normal meliputi respon
dan perilaku emosional, fisik, spritual, sosial, dan intelektual yakni individu,
keluarga, dan komunitas, memasukan kehilangan, yang aktual, adaptif, atau
dipersepsikan kedalam kehidupan sehari – hari mereka.
b. Keputusasaan
Keputusasaan adalah keadaan emosional subjektif yang berkepanjangan ketika
individu tidak menemukan alternatif atau pilihan pribadi guna memecahkan

3
masalah yang dihadapi atau mencapai hal yang diinginkan dan tidak dapat
mengerahkan energi demi kepentingannya sendiri guna menetapkan sejumlah
tujuan. Keputuasaan berbeda dari ketidakberdayaan, yakni ketika seseorang
yang putus asa tidak menemukan solusi atas permasalahannya atau cara untuk
mencapai hal yang diinginkan, sekalipun ia memegang kendali atas
kehidupannya. Seseorang yang tidak berdaya mampu melihat alternatif atau
jawaban atas permasalahannya, namun tidak mampu melakukan upaya apapun
karena kurangnya kendali atau sumber daya yang dimiliki (Carpenito-Moyet,
2013).
c. Ansietas / Kecemasan
Kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, yang
berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi ini
tidak memiliki objek yang spesifik. Ansietas dialami secara subjektif dan
dikomunikasikan secara interpersonal. Ansietas berbeda dengan rasa takut
yang merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya.
Ansietas adalah respon emosional terhadap penilaian tersebut yang
penyebabnya tidak diketahui. Sedangkan rasa takut mempunyai penyebab
yang jelas dan dapat dipahami. Kecemasan adalah perasaan tidak nyaman atau
kekhawatiran yang sama disertai respon autonom (sumber sering kali tidak
spesifik atau tidak diketahui oleh individu), perasaan takut yang disebabkan
oleh antisipasi terhadap bahaya. Hal ini merupakan isyarat kewaspadaan yang
memperingatkan individu akan adanya bahaya dan memampukan individu
untuk bertindak menghadapi ancaman (Nurarif & Kusuma, 2013).
d. Ketidakberdayaan
Ketidakberdayaan adalah kondisi ketika individu atau kelompok merasa tidak
memiliki kendali personal atas peristiwa atau situasi tertentu yang
memengaruhi cara pandang, tujuan dan gaya hidup. Kebanyakan individu
mengalami perasaan tidak berdaya dalam berbagai tingkatan disejumlah
situasi berbeda. Diagnosis ini dapat digunakan untuk menggambarkan individu
yang berespons terhadap hilangnya kendali dengan menunjukkan sikap apati,
marah atau depresi. Suatu ketidakberdayan yang berkepanjangan dapat
mengarah pada keputusasaan (Carpenito-Moyet, 2013).

4
e. Risiko penyimpangan perilaku sehat
Risiko didefenisikan sebagai kemungkinan gagal, dan pengambilan risiko
sering didefenisikan sebagai keterlibatan dalam perilaku berisiko yang
mungkin memiliki konsekuensi berbahaya (Sales & Irwin,2009:32). Perilaku
berisiko terhadap kesehatan adalah berbagai keterlibatan perilaku yang
dilakukan orang–orang dengan intensitas yang meningkatkan kerentanan
terhadap risiko penyakit atau cidera atau yang mungkin memiliki konsekuensi
berbahaya.
f. Gangguan citra tubuh
Gangguan citra tubuh adalah perubahan presepsi tentang tubuh yang
diakibatkan oleh perubahan ukuran, bentuk struktur, fungsi keterbatasan,
makna dan obyek yang sering kontak dengan tubuh. Gangguan citra tubuh
adalah kekacauan pada cara seseorang merasakan citra tubuhnya. Evaluasi diri
dan perasaan tentang kemampuan diri negatif, yang dapat diekspresikan secara
langsung atau tidak langsung. Gangguan citra tubuh biasanya melibatkan
distorsi dan persepsi negatif tentang penampilan fisik mereka. Perasaan malu
yang kuat, kesadaran diri dan ketidaknyamanan sosial sering menyertai
penafsiran ini. Sejumlah perilaku menghindar sering digunakan untuk
menekan emosi dan pikiran negatif, seperti visual menghindari kontak dengan
sisa ekstremitas, mengabaikan kebutuhan perawatan diri dari sisa ekstremitas
dan menyembunyikan sisa ekstremitas lain. Pada akhirnya reaksi negatif ini
dapat mengganggu proses rehabilitasi dan berkontribusi untuk meningkatkan
isolasi sosial (Wald & Alvaro, 2004).
g. Koping tidak efektif
Koping individu tidak efektif merupakan suatu keadaan dimana individu
mempunyai pengalaman atau mengalami keadaan yang berisiko tinggi, suatu
ketidakmampuan untuk mengatasi stressor internal dan ekternal secara adekuat
yang berhubungan dengan tidak adekuatnya sumber-sumber (fisik, psikologi,
perilaku dankognitif (Carpenito, 2000). Sedangkan koping individu tidak
efektif merupakan ketidakmampuan untuk membentuk penilaian yang valid
tentang stressor, ketidakadekuatan pilihan respons yang dilakukan, dan atau
ketidakmampuan untuk menggunakan sumber daya yang tersedia (NANDA,
2011, Wilkinson, 2007). Menurut Kim (2006) koping individu tidak efektif
merupakan kerusakan perilaku dan kemampuan adaptif seporang individu
5
dalam memenuhi tuntutan dan peran hidupnya. Koping individu tidak efektif
merupakan keadaan ketika seorang individu mengalami atau berisiko
mengalami suatu ketidakmampuan dalam menangani stressor internal atau
lingkungan dengan adekuat karena ketidak adekuatan sumber-sumber (fisik,
psikologis, perilaku dan kognitif) (Carpenito-Moyet, 2007).
h. Koping keluarga tidak efektif
Koping keluarga tidak efektif adalah suatu keadaan dimana keluarga
menunjukkan risiko tinggi perilaku destruktif dalam berespons terhadap
ketidakmampuan untuk mengatasi stressor internal atau eksternal karena
ketidakmampuan (fisik, psikologis dan kognitif) yang dimiliki.
i. Sindroma post trauma
Gangguan stres pasca trauma adalah gangguan mental yang muncul setelah
seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan.
merupakan gangguan kecemasan yang membuat penderitanya teringat pada
kejadian traumatis. Peristiwa traumatis yang dapat memicu sindroma post
trauma antara lain perang, kecelakaan, bencana alam, dan pelecehan seksual.
j. Penampilan peran tidak efektif
Merupakan pola perilaku yang berubah atau tidak sesuai dengan harapan,
norma dan lingkungan. Penyebabnya yaitu harapan peran tidak realistis,
hambatan fisik, harga diri rendah, perubahan citra tubuh, ketidakadekuatan
system pendukung, stress, perubahan peran, dan faktor ekonomi.
k. HDR situasional
Harga diri (self esteem) merupakan salah satu komponen dari konsep diri.
Harga diri merupakan penilaian pribadi berdasarkan seberapa baik prilaku
sesuai dengan ideal diri (stuart 2009). Harga diri rendah adalah keadaan
dimana individu mengalami/beresiko mengalami evaluasi diri negatif tentang
kemampuan diri (Carpemito, 2007). Gangguan harga diri dapat dijabarkan
sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri,
serta merasa gagal mencapai keinginan (Dalami dkk, 2009). Harga diri rendah
dapat terjadi secara situasional dan kronis. Harga diri rendah stuasional
pengembangan persepsi negatif tentang dirinya sendiri pada suatu kejadian
(NANDA 2005). Harga diri rendah situasional adalah perasaan diri/ evaluasi
diri negatif yang berkembang sebagai respon terhadap hilangnya atau
berubahnya perawatan diri seseorang yang sebelumnya mempunyai evaluasi
6
diri positif (Suliswati, 2005). Sedangkan harga diri rendah kronis adalah
evaluasi diri atau perasaan tentang diri atau kemampuan diri yang negatif dan
di pertahankan dalam waktu yang lama (NANDA 2009).
2.2 Dampak Covid-19 terhadap kesehatan psikososial masyarakat
1. Dampak Psikis
Pandemi virus Corona tidak hanya mengancam kesehatan fisik, namun
juga kesehatan mental setiap individu. Tidak hanya rasa takut, efek psikologis
yang ditimbulkan pun bisa berdampak serius. Apalagi masyarakat di anjurkan
untuk diam di rumah serta kebijakan social distancing, yang kini disebut
physical distancing, sedikit banyak menimbulkan jarak secara emosional
antara keluarga, sahabat, rekan kerja, teman, atau umat persekutuan di tempat
ibadah yang dapat saling memberi dukungan. Bagi sebagian orang, hal ini bisa
dirasakan sebagai suatu tekanan atau beban yang sangat besar. Bila tidak
dikendalikan, tekanan tersebut akan berdampak negatif pada kesehatan mental.
Gangguan kesehatan mental yang terjadi selama pandemi dapat
disebabkan oleh berbagai hal, seperti ketakutan terhadap wabah, rasa terasing
selama menjalani karantina, kesedihan dan kesepian karena jauh dari keluarga
atau orang yang dikasihi, kecemasan akan kebutuhan hidup sehari-hari,
ditambah lagi kebingungan akibat informasi yang simpang siur. Hal-hal
tersebut tidak hanya berdampak pada orang yang telah memiliki masalah
kesehatan mental, seperti depresi atau gangguan kecemasan umum, namun
juga dapat memengaruhi orang yang sehat secara fisik dan mental.
Beberapa kelompok yang rentan mengalami stres psikologis selama
pandemi virus Corona adalah anak-anak, lansia, dan petugas medis. Tekanan
yang berlangsung selama pandemi ini dapat menyebabkan gangguan berupam
ketakutan dan kecemasan yang berlebihan akan keselamatan diri sendiri
maupun orang-orang terdekat, perubahan pola tidur dan pola makan, bosan
dan stres karena terus-menerus berada di rumah, terutama pada anak-anak,
sulit berkonsentrasi, penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan, memburuknya
kesehatan fisik, terutama pada penderita penyakit kronis, seperti diabetes dan
hipertensi, sampai munculnya gangguan psikosomatis.
2. Dampak Sosial
Semenjak pemerintah menerapkan kebijakan physical distancing dan
menganjurkan work from home untuk meminimalisir penyebaran virus corona,
7
berarti masyarakat juga menjadi mengurangi aktifitas diluar rumah, baik
bekerja maupun berinteraksi sosial yang mengakibatkan beberapa sektor,
antara lain industri pariwisata, transportasi, manufaktur, keuangan, pelayanan
publik, dan sekor lainnya mengurangi atau menghentikan aktivitasnya
sementara sampai waku yang belum ditentukan.
Dampak pengaruh virus corona (Covid-19) dalam kehidupan sosial
masyarakat, di antaranya adalah timbulnya rasa curiga dan hilangnya
kepercayaan terhadap orang-orang yang ada di seputaran mereka atau yang
baru di kenal. Pada saat masyarakat berbicang atau berjumpa baik di
lingkungan kantor maupun di lingkungan rumah masyarakat pun enggan
berjabat tangan. Untuk mematuhi imbauan dalam pertemuan atau rapat
mengharuskan masyarakat memakai masker, tapi di sisi lain ada juga yang
tidak menggunakan masker, bahkan batuk sembarangan, hal ini tentu
menimbulkan kecurigaan, meraka pun terkadang cepat menghindar. Masalah
ini tentu akan membuat yang bersangkutan merasa tersinggung, apalagi jika
ada masyarakat yang mengatakan bahwa itu corona, tentu langsung
meninggalkan atau menjauhinya.
Adapun dampak yang timbul yaitu adanya prasangka dan diskriminasi
terhadap korban Covid-19. Prasangka dan diskriminasi ini disebabkan oleh
ketakutan masyarakat terhadap situasi yang tidak menentu akibat penyebaran
virus Corona. Hal ini terlihat jelas dari sikap masyarakat yang menjaga jarak
saat berinteraksi dengan orang lain, menghindari salaman, menghindari
perkumpulan, dan lain-lain. Sikap masyarakat ini berawal dari adanya
prasangka sehingga kemudian memunculkan sikap diskriminatif. Prasangka
dan diskriminasi ini merupakan perwujudan dan disorganisasi sosial. Bukan
hanya menyebabkan disorganisasi sosial, namun juga menyebabkan disfungsi
sosial. Disfungsi sosial terjadi ketika seseorang tidak mampu menjalankan
fungsi sosial yang sesuai dengan status sosial akibat rasa takut terhadap Covid-
19.
Contoh nyata disfungsi sosial dapat terlihat pada sikap masyarakat yang
mulai membatasi jarak dengan orang lain serta tidak mau menolong orang lain
karena khawatir terkena Covid-19. Disfungsi sosial ini membuat individu
justru mengalami gangguan pada kesehatannya. Dalam perspektif sosiologi
kesehatan, seseorang disebut sehat jika kondisi fisik, mental, spritual maupun
8
sosial dapat membuat individu tersebut menjalankan fungsi sosialnya. Namun
jika kondisi ini terganggu maka seseorang tersebut dinyatakan sakit. Dalam
kasus Covid-19, sakit yang dimaksud adalah sakit secara sosial. Menurut
Talcott Parsons dalam bukunya “The Social System”, sakit bukan hanya
kondisi biologis saja, tetapi juga peran sosial yang tidak berfungsi dengan
baik. Parsons melihat sakit sebagai bentuk perilaku menyimpang dalam
masyarakat karena orang yang sakit tidak dapat memenuhi peran sosialnya
secara normal (Syaifudin, 2020). Disorganisasi dan disfungsi sosial inilah
yang merupakan wujud nyata dari sakit secara sosial.
2.3 Dampak Covid 19 dan Protokol Kesehatan terhadap kesehatan psikososial
masyarakat
Masyarakat memiliki peran penting dalam memutus mata rantai penularan
COVID-19 agar tidak menimbulkan sumber penularan baru/cluster pada tempat-
tempat dimana terjadinya pergerakan orang, interaksi antar manusia dan
berkumpulnya banyak orang. Masyarakat harus dapat beraktivitas kembali dalam
situasi pandemi COVID-19 dengan beradaptasi pada kebiasaan baru yang lebih
sehat, lebih bersih, dan lebih taat, yang dilaksanakan oleh seluruh komponen
yang ada di masyarakat serta memberdayakan semua sumber daya yang ada.
Peran masyarakat untuk dapat memutus mata rantai penularan COVID-19 (risiko
tertular dan menularkan) harus dilakukan dengan menerapkan protokol
kesehatan. Protokol kesehatan secara umum harus memuat:
a. Perlindungan Kesehatan Individu
Penularan Covid 19 terjadi melalui droplet yang dapat menginfeksi manusia
dengan masuknya droplet yang mengandung virus SARS-CoV-2 ke dalam
tubuh melalui hidung, mulut, dan mata. Prinsip pencegahan penularan Covid
19 pada individu dilakukan dengan menghindari masuknya virus melalui
ketiga pintu masuk ersebut dengan beberapa tindakan, seperti menggunakan
APD (Alat Pelindung Diri) seperti masker, membersihkan tangan secara
teratur dengan cuci tangan pakai abun dengan air yang mengalir atau dengan
cairan antiseptic, menjaga jarak minimal 1 meter dengan orang lain, dan
meningkatkan daya tahan tubuh dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih
dan Sehat (PHBS).
b. Perlindungan Kesehatan Masyarakat

9
Perlindungan kesehatan masyarakat merupakan upaya yang harus dilakukan
oleh semua kkomponen yang ada di masyarakat guna mencegah dan
mengendalikan penularan Covid 19. Potensi penularan Covid 19 di tempat dan
fasilitas umum disebabkan adanya pergerakan, kerumunan,atau interaksi orang
yang menimbulkan kontak fisik. Dalam perlindungan kesehatan masyarakat
peran pengelola, penyelenggara, atau penanggung jawab tempat dan fasilitas
umum sangat penting untuk menerapkan dalam unsur pencegahan seperti
promosi kesehatan melalui sosialisasi, edukasi, dan penggunaan media
informasi untuk memberikan pengertian dan pemahaman bagi semua orang.
Kemudian melakukan kegiatan perlindungan yang dilakukan melaui
penyediaan sarana cuci tangan pakai sabun yang mudah di akses dan
memenuhi standar atau penyediaan handsanitizer.
Masyarakat mampu meningkatkan kesehatan psikososial dalam mengatasi
pandemi Covid-19. Dampak Covid-19 bagi masyarakat turut menyangkut aspek
traumatis (psikologis), di samping sosial dan ekonomi. Masalah psikologis dan
emosional bisa muncul pada mereka yang anggota keluarganya terkena covid-19,
karena harus terpisah akibat isolasi, stigma dan perlakuan yang tidak pantas
mungkin timbul dari lingkungan. Misalnya dalam meningkatkan kedisiplinan
dalam mematuhi protokol kesehatan seperti mengenakan masker, mencuci
tangan, menjaga jarak, dan sebagainya. Dengan demikian, diharapkan pendemi
segera bisa berakhir.
Namun dengan masih adanya penambahan kasus baru pasien positif Covid-19
menunjukkan kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan belum optimal.
Untuk saling mengingatkan masyarakat agar mau mematuhi protokol kesehatan
yang sudah disosialisasikan, salah satu protokol yang sering dilupakan
masyarakat adalah menjaga jarak fisik saat beraktivitas. Masyarakat harus
mampu memiliki kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan yang ketat
dan hal itu menjadi sebuah kebiasaan untuk dilakukan dimana saja dan kapan
saja.

10
BAB III
HASIL KAJIAN KUESIONER

Pada hasil kajian kuesioner ini adalah dampak Covid 19 dan protokol kesehatan
terhadap aspek psikososial yang dirasakan dan di ungkapkan oleh masyarakat selama
pandemi virus Corona atau COVID-19. Adapun konsep dalam memberikan kuesioner
kepada masyarakat dilakukan secara daring dengan di beri beberapa pertanyaan
mengenai hal –hal yang berhubungan dengan kesehatan psikososial masyarakat selama
pandemi yang kini sedang melanda masyarakat, tujuannya untuk mengetahui respon
psikkologis dan sosial masyarakat terhadap protokol kesehatan yang dianjurkan selama
pandemic COVID-19 ini dengan total responden pada kuesioiner ini adalah 15 orang di
segala usia.

Dibawah ini merupakan hasil kuesioner dari masyarakat yang sudah menjawab
beberapa pertanyaan yang sudah diberikan :

Jenis Kelamin

13%

Perempuan
Laki - laki

87%

Usia

13%
20 - 30
33% 31 - 40
13%
41 - 50
> 50

40%

11
Pendidikan terakhir

13%
20%
SD
7%
SMP
7% SMA/SMK
Diploma
S1

53%

Pekerjaan
7%
7% IRT
Pedagang
13% 40%
Wiraswasta
Pelajar/Mahasiswa
PNS/Guru
33%

Apakah saudara selalu mengikuti perkembangan informasi


mengenai Covid-19?

33%
Ya
Kadang-kadang
67%

Dari manakah saudara lebih sering memperoleh informasi mengenai Covid-


19 ?

47% Media sosial


53% Media elektronik

12
Setelah adanya informasi semakin menyebarnya kasus Covid
19, apa yang saudara rasakan ?

Lebih hati-hati /waspada

100%

Selama pandemi Covid 19, apakah saudara merasa stress ?

27%

Ya
Tidak

73%

Apa yang menyebabkan saudara merasa stress ?

Penghasilan menurun
45% Merasa Bosan
55%

Apa yang saudara lakukan untuk mengatasi stress ?

7%
7% Melakukan kegiatan yang bermanfaat
7%
Berolahraga

Bekerja

80% Menonton Tv

13
Selama pandemi Covid 19, bagaimana emosi saudara ?

20%

Biasa saja
Menahan emosi

80%

Selama pandemi Covid 19, bagaimana saudara berinteraksi dengan orang


sekitar ?

20%

Jaga jarak

Lewat medsos
80%

Selama pandemi Covid 19, apakah saudara selalu mematuhi Protokol


Kesehatan yang di anjurkan ?

13%

Ya
Kadang-kadang

87%

Apa yang saudara rasakan setelah menerapkan Protokol Kesehatan seperti


yang di anjurkan ?

27%

Merasa aman
Biasa saja

73%

14
Selama mematuhi Protokol Kesehatan yang di anjurkan, hambatan apakah
yang saudara rasakan ?

27%
Keterbatasan APD
Keterbatasan pengetahuan

73%

Dengan adanya Protokol Kesehatan yang harus di patuhi, bagaimana aktivitas


sehari-hari saudara ?

Menurun
40% Biasa saja

60%

Selama di luar rumah, apakah saudara selalu menggunakan


masker ?

27%

Ya
Kadang-kadang

73%

15
BAB IV
PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil survey pada bab 2, maka dalam pembahasan ini penulis mengambil
sampel keseluruhan masyarakat sebanyak 15 orang. Berdasarkan deskripsi frekuensi
pada bab 3 dapat di definisikan tanggapan responden terhadap item-item pertanyaan
dampak Covid 19 terhadap psikososial masyarakat sebagai berikut :

4.1 Tabel 1.1


No Jenis Kelamin Jumlah Presentase
1 Perempuan 13 87%
2 Laki-laki 2 13%
Jumlah 15 100 %
Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa gender yang paling dominan adalah
perempuan yaitu sebanyak 13 responden dari 15 orang.
4.2 Tabel 1.2
No Usia Jumlah Presentase
1 20 – 30 5 34%
2 31 – 40 6 40%
3 41 – 50 2 13%
4 >50 2 13 %
Jumlah 15 100 %
Dari tabel di atas, terdapat rentang usia yang banyak mendominasi dari 4 kelompok
di atas. Sebanyak 40% masyarakat tersebut yang berusia 31-40 tahun. Kemudian
sebanyak 34% masyarakat yang berusia 20-30 tahun.
4.3 Tabel 1.3
No Pendidikan Terakhir Jumlah Presentase
1 SD 2 13%
2 SMP 1 7%
3 SMA/SMK 8 53%
4 Diploma 1 7%
5 S1 3 20%
Jumlah 15 100 %
Dari tabel diatas menunjukan bahwa lulusan terbanyak adalah SMA/SMK sebanyak
53%. Namun hanya 7% lulusan diploma dan SMP yang mewakili 1 orang saja.
4.4 Tabel 1.4
No Pekerjaan Jumlah Prresentase

16
1 IRT 6 40 %
2 Pedagang 5 33 %
3 Wiraswasta 2 13 %
4 Pelajar/Mahasiswa 1 7%
5 PNS/Guru 1 7%
Jumlah 15 100 %
Sebanyak 40 % masyarakat memiliki pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga yang
menjawab kuesioner ini.
4.5 Tanggapan responden masyarakat terhadap pertanyaan no. 5 yaitu :
“Apakah saudara selalu mengikuti perkembangan informasi mengenai Covid
19?”
Jawaban Jumlah Presentase
Ya 10 67%
Kadang-kadang 5 33%
Sebanyak 67% masyarakat menjawab Ya. Dan masyarakat yang menjawab
kadang-kadang memiliki 33% yang mewakili 5 orang. Kondisi ini termasuk
kedalam kategori baik. Karena dengan selalu mengikuti perkembangan informasi
mengenai Covid 19, masyarakat akan menjadi lebih mengetahui perkembangan
penyakitnya sampai mana, sehingga masyarakat dapat mengetahui dan
melakukan langkah pencegahan. Adapun sedikitnya masyarakat yang acuh tak
acuh untuk menghadapi wabah ini dikarenakan minimnya informasi tentang
Covid 19.
4.6 Tanggapan responden masyarakat terhadap pertanyaan no. 6 yaitu :
“Dari manakah saudara lebih sering memperoleh informasi mengenai Covid-19 ?”
Jawaban Jumlah Presentase
Media Sosial 8 53 %
Media Elektronik 7 47 %
Sebanyak 53 % masyarakat lebih sering memperoleh informasi terkait Covid-19
lewat media sosial, dan tak sedikit juga masyarakat mendapatkan informasi melaui
media elektronik sebesar 47%. Kemajuan teknologi dan informasi yang begitu
pesat memberikan dampak positif saat pandemi Covid-19 bagi masyarakat,
sehingga banyak masyarakat yang tidak mau ketinggalan dalam membagikan
informasi terkait virus corona penyebab penyakit Covid-19 itu melalui kanal media
sosial. Informasinya pun dipilih dari sumber-sumber terpercaya, yang mampu
menyajikan keadaan sebenarnya dengan sederhana dan masuk akal. Namun media
elektronik/massa harus menjadi sumber informasi terpercaya bagi masyarakat dan
saat menyikapi banyaknya hoaks (informasi bohong) yang marak di tengah wabah

17
virus Corona atau Covid-19 merebak maka media massa harus menjadi semacam
clearing house (rumah penjernih).
4.7 Tanggapan responden masyarakat terhadap pertanyaan no. 7 yaitu :
“Setelah adanya informasi semakin menyebarnya kasus Covid 19, apa yang
saudara rasakan ?”
Jawaban Jumlah Presentase
Lebih hati – hati/ 15 100%
waspada
Sebanyak 100% masyarakat menjawab lebih hati-hati dan waspada. Kondisi ini
termasuk kedalam kategori baik bahwa masyarakat mengingatkan dirinya untuk
menjaga kewaspadaan dengan memahami soal virus corona, cara penularan,
bagaimana mencegah agar tak tertular dari virus corona, dan selalu mengikuti
arahan atau anjuran dari pemerintah.
4.8 Tanggapan responden masyarakat terhadap pertanyaan no. 8 yaitu :
“Selama pandemi Covid 19, apakah saudara merasa stress ?”
Jawaban Jumlah Presentase
Ya 11 73 %
Tidak 4 27 %
Sebanyak 73 % masyarakat merasakan stress selama pandemic Covid-19 ini dan
sebanyak 27% masyarakat tidak mengalami stress. Stress secara alamiah memicu
respons tubuh untuk bereaksi menghadapi ancaman, dalam kondisi pandemi
corona wajar jika masyarakat merasa gelisah, susah tidur, pusing, mual, tidak
berselera makan, atau sering mimpi buruk, namun gejala tersebut dapat
menghilang seiring berjalannya waktu.

4.9 Tanggapan responden masyarakat terhadap pertanyaan no. 9 yaitu :


“Apa yang menyebabkan saudara merasa stress ?”
Jawaban Jumlah Presentase
Penghasilan menurun 6 55 %
Merasa bosan/dirumah 5 45 %
saja
Sebanyak 55% masyarakat merasakan stress dikarenakan penghasilannya kian
menurun dan tak sedikitpun masyarakat merasa bosan karena di rumah saja dengan
presentase 45%. Dikarenakan wabah Covid-19, pendapatan masyarakat menjadi
turun sehingga menyebabkan pengeluaran meningkat. Selama masa bekerja dan
belajar dari rumah, berpengaruh terhadap peningkatan konsumsi pulsa dan paket

18
data. Masyarakat juga merasakan stress dikarenakan terlalu lama tinggal di rumah
dikarenakan kebijakan pemerintah sehingga timbul perasaan bosan.
4.10 Tanggapan responden masyarakat terhadap pertanyaan no. 10 yaitu :
“Apa yang saudara lakukan untuk mengatasi stress ?”
Jawaban Jumlah Presentase
Melakukan kegiatan yang 12 80 %
bermanfaat
Berolahraga 1 6%
Bekerja 1 7%
Menonton TV 1 7%
Sebanyak 80 % masyarakat melakukan kegiatan yang bermanfaat / positif untuk
mengatasi stress selama pandemic Civid 19 ini. Dan sisanya masyarakat
melakukan kegiatan berolahraga, bekerja, dan menonton Televisi/hiburan yang
masing-masing diwakili oleh satu orang. Dengan masyarakat menjaga kesehatan
fisik dan mental tetap sehat adalah hal penting yang harus diperhatikan saat
pandemik Covid 19, karena imunitas yang masyarakat butuhkan terletak dari
kekuatan dan ketahanan kesehatan jiwa. Maka masyarakat senantiasa menyibukkan
diri melakukan kegiatan sesuai hobby saat melalui masa pandemi dengan di rumah
saja seperti berolahraga, berkerja, menghibur diri dengan menonton Tv, melakukan
aktivitas membaca agar otak terus terlatih untuk berfikir dengan baik, juga
melakukan kegiatan bersama keluarga di rumah, seperti bergotong royong
membersihkan atau merapikan rumah, bercengekerama dan khusyuk beribadah.
Tentunya semua kegiatan yang dilakukan tetap harus memperhatikan sosial
distancing/ physical distancing.
4.11 Tanggapan responden masyarakat terhadap pertanyaan no. 11 yaitu :
“Selama pandemi Covid 19, bagaimana emosi saudara ?”
Jawaban Jumlah Presentase
Biasa saja 12 80 %
Menahan emosi 3 20 %
Sebanyak 80% masyarakat tidak mengalami perubahan emosi selama pandemic
Covid 19 ini, dan sebanyak 20% masyarakat menahan emosinya. Disini
menunjukan banyak masyarakat yang tidak terganggu emosinya, kondisi ini
termasuk kedalam kategori baik, karena jika masyarakat mengalami emosi yang
tidak stabil sehingga nantinya akan menimbulkan emosi yang negative seperti

19
kecemasan, khawatir, sampai stress. Dengan kondisi emosi yang negative sangat
jelas dapat menurunkan imun atau antibody.
4.12 Tanggapan responden masyarakat terhadap pertanyaan no. 12 yaitu :
“Selama pandemi Covid 19, bagaimana saudara berinteraksi dengan orang
sekitar?”
Jawaban Jumlah Presentase
Jaga jarak 12 80 %
Lewat Media sosial 3 20 %
Sebanyak 80 % masyarakat melakukan interaksi dengan orang sekitar yaitu dengan
menjaga jarak dan sebesar 20% masyarakat melakukan interkasi sosialnya lewat
media sosial. Dengan ini, masyarakat sudah melakukan tindakan pencegahan baik
dengan menjaga jarak saat berinteraksi dengan orang – orang sekitanya ataupun
berinteraksi melalui media sosial. Menjaga jarak saat pandemi Covid 19 ini adalah
salah satu cara yang efektif untuk mengurangi jumlah penyebarannya dan
mendorong masyarakat agar tetap terhubung melalui media sosial.
4.13 Tanggapan responden masyarakat terhadap pertanyaan no. 13 yaitu :
“Selama pandemi Covid 19, apakah saudara selalu mematuhi Protokol Kesehatan
yang di anjurkan ?”
Jawaban Jumlah Presentase
Ya 13 87 %
Kadang - kadang 2 13 %
Sebanyak 87 % masyarakat mematuhi Protokol Kesehatan yang di anjurkan
pemerintah, dan sebesar 13% masyarakat jarang mematuhinya. Kondisi ini
termasuk kedalam kategori baik, karena masyarakat sudah patuh dalam mencegah
penyebaran Covid 19 dengan melakukan protokol kesehatan seperti memakai
masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan lainnya. Namun ada juga sedikit
masyarakat yang tidak patuh dikarenakan beberapa alasan yang mereka alami, dari
sini masyarakat harus saling mengingatkan dengan cara yang baik untuk mematuhi
protokol kesehatan. Jika tidak saling mengingatkan, kemungkinan terjadi
penambahan kasus Covid 19 setiap harinya.
4.14 Tanggapan responden masyarakat terhadap pertanyaan no. 14 yaitu :
“Apa yang saudara rasakan setelah menerapkan Protokol Kesehatan seperti yang di
anjurkan ?”
Jawaban Jumlah Presentase
Merasa aman dan nyaman 11 73 %

20
dan tercegah dari virus
Biasa saja 4 27 %
Sebanyak 73% masyarakat merasa aman dan nyaman setelah mereka menerapkan
protokol kesehatan, dan sedikitnya masyarakat menjawab biasa saja yaitu
sebanyak 27 %. Selama masa new normal, masyarakat kembali melakukan
aktivitasnya dengan normal, namun dengan tetap mematuhi protokol kesehatan dan
melakukan hal baru yang harus dibiasakan seperti selalu membawa handsanitizer,
memakai masker, dan semprotan desinfektan saat bepergian. Selama masa itu,
masyarakat menjadi lebih aman dan nyaman saat melakukan aktivitas/kegiatan
diluar rumah sehingga dapat meminimalisir penyebaran virus corona.
4.15 Tanggapan responden masyarakat terhadap pertanyaan no. 15 yaitu :
“Selama mematuhi Protokol Kesehatan yang di anjurkan, hambatan apakah yang
saudara rasakan ?”
Jawaban Jumlah Presentase
Keterbatasan APD 11 73 %
Keterbatasan pengetahuan 4 27%
Sebanyak 73 % masyarakat memiliki hambatan dalam mematuhi protokol
kesehatan yaitu keterbatasan penggunaan APD, dan sedikitnya masyarakat
mengalami keterbatasan pengetahuan yaitu sebanyak 27 %. Anjuran dalam
protokol kesehatan kepada masyarakat yaitu selalu memakai APD seperti
penggunaan masker saat berkegiatan di luar rumah, namun semenjak adanya panic
buying ketersediaan apd menjadi terbatas dan mengalami peningkatan harga,
sehingga ada sedikitnya masyarakat yang tidak memakai masker. Kemudian
pemerintah menganjurkan kepada masyarakat untuk berkreasi membuat masker
kain dalam mencegah Covid 19
4.16 Tanggapan responden masyarakat terhadap pertanyaan no. 16 yaitu :
“Dengan adanya Protokol Kesehatan yang harus di patuhi, bagaimana aktivitas
sehari-hari saudara ?”
Jawaban Jumlah Presentase
Menurun 9 60 %
Biasa saja 6 40 %
Sebanyak 60% masyarakat mengalami penurunan dalam melakukan kegiatan atau
aktivitas sehari-hari mereka, dan sebanyak 40% masyarakat melakukan aktivitas
sehari-harinya seperti biasa. Pandemi Covid-19 memaksa masyarakat untuk
menerapkan gaya hidup stay at home atau di rumah aja. Pada akhirnya, mobilitas

21
akan menurun drastis, masyarakat juga akan diminta selalu menggunakan masker
saat bepergian ke luar rumah. Belanja keperluan sehari-hari akan bergantung pada
aplikasi atau online.
4.17 Tanggapan responden masyarakat terhadap pertanyaan no. 17 yaitu :
“Selama di luar rumah, apakah saudara selalu menggunakan masker ?”
Jawaban Jumlah Presentase
Ya 11 73 %
Kadang - kadang 4 27 %
Sebanyak 73% masyarakat selalu menggunakan masker saat bepergian di luar
rumah dan sebanyak 27% masyarakat jarang memakai masker sebagai alat
pelindung diri. Kondisi ini termasuk ke dalam kondisi baik, karena banyak
masyarakat yang mematuhi protokol kesehatan yaitu dengan memakai masker.
Sebelumnya, hanya orang-orang yang berisiko tinggi terinfeksi virus corona jenis
baru direkomendasikan untuk memakai masker, namun pemerintah pun
merekomendasikan penggunaan masker untuk semua orang. Semakin banyak
masyarakat yang memakai masker, semakin sedikit partikel virus yang tersebar
sehingga mengurangi risiko penularan penyakit.
BAB V
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Dari data analisis di atas terdapat kesimpulan bahwa masyarakat selalu mengikuti
perkembangan informasi mengenai Covid-19 melalui media sosial dan media
massa agar masyarakat mengetahui informasi kasus penyebarannya. Namun
semakin meningkatnya kasus penyebaran Covid-19 di Indonesia menyebabkan
masyarakat menjadi lebih hati – hati dan waspada ketika berada di tempat umum
yaitu dengan mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah seperti
menjaga jarak jika berinteraksi dengan orang lain dan memakai masker. Tak hanya
itu, masyarakat mengalami stress dikarenakan dampak dari Covid-19 yaitu
menyebabkan penghasilannya menurun dan merasa bosan karena dirumah terus
menerus, maka masyarakat berusaha untuk mengatasi stress yang dialami yaitu
dengan melakukan kegiatan yang bermanfaat, berolahraga, bekerja, dan menonton
TV.

22
4.2 Rekomendasi
Diharapkan masyarakat yang sedang mengalami kondisi seperti saat ini, ada
baiknya masyarakat lebih menjaga kesehatannya secara psikososial baik kesehatan
fisik, mental, dan lingkungan dengan mematuhi protokol kesehatan yang sudah di
anjurkan kepada masyarakat selama masa pandemic corona ini agar terpenuhi
dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Retia Kartika Dewi (2020, April 14). Pandemi Corona Berikan 3 Efek Psikologis Bagi
Seseorang, Apa Saja?. Kompas.com. diunduh dari
https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/14/203728765/pandemi-corona-berikan-3-
efek-psikologis-bagi-seseorang-apa-saja?page=all
Andi Marsa Nadhira (2020, Mei 27). Menjaga Kesehatan Mental Saat Pandemi Virus
Corona. alodokter.com. diunduh dari https://www.alodokter.com/menjaga-kesehatan-
mental-saat-pandemi-virus-corona
Chairul Bariah (2020, Maret 21). Pengaruh Corona Terhadap Kehidupan Sosial
Masyarakat. Tribunnews.com. diunduh dari
https://aceh.tribunnews.com/2020/03/21/pengaruh-corona-terhadap-kehidupan-sosial-
masyarakat?page=2
Pandu wiratama (2020, Juli 21). Dampak Pandemi Covid-19 terhadap Kehidupan
Sosila Masyarakat Indonesia. kompasiana.com. diunduh dari

23
https://www.kompasiana.com/paandu14/5ebc00d7097f3633b91efab4/dampak-
pandemi-covid-19-terhadap-kehidupan-sosial-masyarakat-indonesia?page=2
Asytari Fauziah (2020, Juni 23). Masyarakat Belum Optimal Mematuhi Protokol
Kesehatan, Kunci Cegah Penularan Covid-19: Jaga Jarak. Tribunnews.com. diunduh
dari https://mataram.tribunnews.com/2020/06/23/masyarakat-belum-optimal-
mematuhi-protokol-kesehatan-kunci-cegah-penularan-covid-19-jaga-jarak?page=2.
Husni Afriadi (2020, April 01). Media Massa Harus Jadi Sumber Informasi Terpercaya
Ditengah Hoaks Terkait Covid-19. Covesia.com. diunduh dari
https://covesia.com/news/baca/93823/media-massa-harus-jadi-sumber-informasi-
terpecaya-ditengah-hoaks-terkait-covid-19
Ahmad Naufal Dzulfaroh (2020, Maret 10). Bagaimana Media Sosial Pengaruhi
Persepsi Publik Terhadap Virus Corona?. kompas.com. diunduh dari
https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/10/191137265/bagaimana-media-sosial-
pengaruhi-persepsi-publik-terhadap-virus-corona?page=all
Luthfia Ayu Azanella (2020, Maret 22). Cara Tetap Waspada tetapi Tidak Panik
diTengah kekhawatiran Wabah Virus Corona. Kompas.com. diunduh dari
https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/22/101752565/cara-tetap-waspada-tetapi-
tidak-panik-di-tengah-kekhawatiran-wabah-virus?page=all

24
LAMPIRAN

25
26