Anda di halaman 1dari 21

M A T E R I K U L IA H H U K U M A D A T

D isu su n O leh : JB . SO E S A N T O , S.H . M S

FAKULTAS H UKUM U N IV E R SIT A S W A H ID H A SY IM SE M A R A N G 2011

H U K U M A D A T W A R IS 1. P E N G E R T IA N H U K U M A D A T I S . W R
Hukum adat waris meliputi norma-norma hukum yang menetapkan harta

kekayaan baik yang materiil maupun yang immateriil yang manakah dari seseorang yang dapat diserahkan kepada keturunannya serta yang sekaligus juga mengatur saat, cara dan pro ses peralihannya. Prof. Soepomo dalam " Bab-bab tentang hukum Adat " hukum adat waris sebagai berikut: " Hu peraturan yang mengatur merumuskan

kum adat waris memuat peraturan-

proses meneruskan serta mengoperkan barangsia (generatie) kepada

barang har ta benda dan barang-barang yang tidak terwujud benda (immateriele goederen) dari suatu angkatan manu turunannya. (Halaman 67 buku tersebut). Ter Haar dalam "Beginselen en stelsel v/h adat hukum adat waris sebagai beri peraturan hukum recht" merumuskan

kut: "Hukum adat waris meliputi peraturan-

yang bersangkutan dengan proses yang sangat

mengesankan serta yang akan selalu berjalan tentang penerusan dan pengoperan kekayaan materiil, dan immateriil dari satu generasi kepada genera si berikutnya." (Halaman 197 buku tersebut), Proses peralihannya itu sendiri.sesungguhnya sudah dapat dimulai semasa pemilik harta kekayaan itu sendiri masih hidup serta proses itu selanjutnya berjalan terus hingga keturunannya itu masing-masing menjadi keluargakeluarga baru yang berdiri sendiri-sendiri (mentas dan mencar (Jawa). Hal yang penting dalam masalah warisan ini adalah, bahwa pengertian warisan itu memperlihat-kan adanya tiga unsur, yang masing-masing merupakan unsur esenaialia (mutlak), yakni :

a. b. c.

seorang peninggal warisan yang pada wafatnya meninggalkan harta kekayaan. seorang atau beberapa orang ahli waris yang berhak menerima kekayaan yang ditinggalkan itu. harta warisan atau harta peninggalan, yaitu kekayaan "in concreto" yang ditinggalkan dan sekali beralih kepada para ahli waris itu.

2.

SIFAT HUKUM ADAT WARIS.


Hukum Adat waris menunjukkan corak-corak yang khas dari aliran pikiran tradisionil Indonesia. Hukum Adat Waris bersendi atas prinsip yang timbul dari aliran-aliran pikiran komunal serta konkrit bangsa Indonesia.Oleh karena itu, maka hukum adat waris memperlihatkan perbedaan yang prinsipiil dengan Hukum Waris Barat a.l. sbb. :

Hukum Adat Waris Tidak mengenal legitieme portie, akan tetapi Hukum adat waris menetapkan dasar persamaan hak, hak sama ini mengandung hak untuk diperlakukan sama oleh orang tuanya di dalam proses meneruskan dan mengoperkan harta benda keluarga. Disamping dasar persamaan hak hokum adat waris juga meletakkan dasar kerukunan pada proses pelaksanaan pembagian berjalan secara rukun dengan memperhatikan keadaan istimewa dari tiap waris. Harta warisan tidak boleh dipaksakan untuk dibagi antara para ahli waris.

Hkum Waris Barat seperti yang tercantum dalam KUH Perd Mengenal hak tiap-tiap ahli waris atas bagian yang tertentu dari harta peninggalan, bagian warisan menurut ketentuan Undang-undang (wetttelijk erfdeel atau legitieme portie pasal 913 s/d 929). Menentukan adanya hak mutlak dari ahllli waris masing-masing untuk sewaktu-waktu menuntut pembagian dari harta warisan. (Pasal 1066 KUH. Perdata).

Sedangkan, kalau kita adakan perbandingan dengan hukum waris menurut hukum Islam, maka diketemukan perbedaan-perbedaan prinsipiil yang a.l. sbb : Hukum adat waris sangatlah erat hubungannya dengan sifat-sifat kekeluargaan daripada masyarakat hukum ybs. beserta pengaruhnya pada hartakekayaan yang ditinggalkan dan berada dalam masyarakat itu. Lain daripada itu, hukum adat waris juga mendapat pengaruh tidak hanya dari perubahan-perubahan sosial, misalnya yang disebabkan makin kuatnya hubungan kekeluargaan "somah" dan makin lemahnya ika tan clan dan kerabat, tetapi juga dari peraturan peraturan hukum asing sejenis- yang oleh para hakim agama selalu diterapkan in concrete walaupun pengaruhnya itu sangat kecil.

3. SISTIM KEWARISAN ADAT


Di Indonesia ini kita menjumpai tiga sistim kewarisan dalam hukum adat sebagai berikut : a. Sistim kewarisan individual. Cirinya harta peninggalan dapat dibagi-bagikan diantara para ahliwaris seperti dalam masyarakat bilateral di Java. b. Sistim kewarisan kolektif Cirinya harta peninggalan itu diwaris oleh sekumpulan ahli waris yang bersama-sama merupakan -semacam badan hukum dimana harta tsb., yang disebut harta pusaka, tidak boleh dibagi-bagikan pemilikannya diantara para ahliwaris dimaksud dan hanya boleh dibagi-bagikan pemakaiannya saja kepada mereka itu (hanya mempunyai hak pakai saja) seperti dalam masyarakat matrilineal di Minangkabau.

c. Sistim, kewarisan mayorat Ciri harta peninggalan diwaris keseluruhannya atau sebagian besar (sejumlah harta pokok dari satu keluarga) oleh seorang anak saja, halnya di Bali dimana terdapat hak mayorat anak laki-laki yang tertua dan di Tanah-Semendo di Sumatera Selatan dimana terdapat hak mayorat anak per rempuan yang tertua. Sebab sesuatu sistim tsb. diatas dapat diketemukan juga dalam berbagai bentuk susunan masya rakat ataupun dalam satu bentuk susunan masyarakat dapat pula dijumpai lebih dari satu sistim kewarisan dimaksud diatas. Contohnya misalnya : - sistim kewarisan mayorat (hak anak perempuan tertua) selain dijumpai pada masyarakat patri-lineal di Tanah Semendo Sumatera Selatan,didapat juga di Kalimantan Barat pada masyarakat bilateral suku Dayak. - sistim kewarisan kolektif, selain didapat dalam masyarakat matrilineal di Minangkabau, dalam batas-batas tertentu dijumpai pula di Minahasa, dalam masyarakat yang bilateral.

4. HARTA PENINGGALAN YANG TIDAK DAPAT DI BAGI-BAGI


Harta peninggalan yang tidak dapat dibagi-bagi ini, berdasarkan atas alasannya tidak dibagi-bagi, dapat dibeda-bedakan sbb. : a. Karena sifatnya memang tidak memungkinkan untuk dibagi-bagi (misalnya barang-barang milik suatu kerabat atau famili.) b. Karena kedudukan hukumnya memang terikat kepada suatu tempat/jabatan tertentu (contohnya misalnya barang-barang keramat keraton Kasepuhan Cirebon seluruhnya tetap jatuh pada ahliwaris yang menjadi Sultan Sepuh serta barang-barang itu tetap disimpan dikeraton Kesepuhan). c. Karena belum bebas dari kekuasaan persekutuan hukum ybs., seperti tanah kasikepan di daerah Cirebon.

d. Karena pembagiannya untuk sementara ditunda, seperti banyak dijumpai di Jawa,misalnya apabila terdapat anak-anak yang ditinggalkan masih belum dewasa, maka demi kepentingan janda berserta anak-anaknya supaya tetap mendapat nafkah untuk hidup terus harta peninggalan tidak dibagi-bagi. Dan tiap tuntutan untuk membagi-bagi dari ahliwaris yang menurut hakim akan mengakibatkan terlantarnya janda beserta anak-anak tsb. Selalu akan ditolak oleh hakim. e. Karena hanya diwaris oleh seorang saja (sistim kewarisan mayorat), sehingga tidak perlu dibagi-bagi. Harta peninggalan yang tidak dapat dibagi-bagi ini dibeberapa lingkungan hukum adat disebabkan karena sifatnya yang memang tidak memberi kemungkinan untuk tidak memiliki barang itu bersama-sama, dengan ahli waris lain-lainnya Sebagai contoh daripada harta peninggalan semacam ini dapat disebut : a. harta-pusaka di Minangkabau. b. tanah-dati disemenanjung Harta-pusaka di Minangkabau Sifat kekeluargaan di Minangkabau yang matriarchaal ini

memperlihatkan adanya barang-barang keluarga seperti tanah pertanian, pekarangan dengan rumah dan ternak, perkebunan, keris dlsb., yang merupa-kan harta-pusaka tnilik suatu keluarga. Barang-barang demikian ini hanya dapat dipakai saja ("genggambaun tuiq") oleh segenap warga keluarga ybs., tetapi ti dak boleh dimiliki oleh mereka itu masing Oleh para anggota keluarga tsb.hanya memiliki hak pakai saja, maka meninggalnya seseorang anggota tidak mempunyai akibat sedikitpun terhadap hubungan hukum antara para anggota keluarga dimaksud yang masih hidup dengan harta-pusaka ybs. Tetapi wafatnya seorang anggota malahan menambah harta-pusaka keluarga ybs. dengan barangbarang yang diperoleh orang yang wafat itu (harta pencaharian) setelah di
6

kurangi dengan pembayaran hutang-hutang si-wafat tsb. Misalnya di daerah Minangkabau ini ads seorang isteri yang mempunyai milik perorangan sebidang sawah meninggal dunia, maka sawah ini menjadi harta-pusaka dari anak-anak kandungnya; harta-pusaka demikian ini dinamakan "harta pusaka dalam generasi pertama", juga disebut "harta saka" atau "hartapusaka rendah. Dengan demikian, maka harta-pusaka itu mempunyai tingkatan yang sesuai, dengan tingkatan-tingkatan keluarga, artinya sebagai berikut : a. harta pusaka tinggi dikuasai oleh keluarga yg lebih besar atau kerabat (Ter Haar menyebut -"familie") yang dipimpin oleh seorang "penghulu andiko." b. "harta-pusaka rendah" dikuasai oleh keluarga yang lebih kecil, yang terdiri atas isteri de ngan anak-anaknya, atau suami dengan saudara-saudaranya sekandung beserta keturunan saudaranya perempuan yang sekandung. Tanah - dati disemenanjung Hitu (Ambon) Sifat kekeluargaan didaerah ini adalah patriarchaal. Tanah-tanah yang didapat seorang secara membeli atau membuka hutan, lama-lama menjadi miliknya keluarga dan kemudian menjadi miliknya famili keturunan-pemilik semula. Jadi sepeninggalnya pemilik semula tanah-tanah dengan tatanannya tetap tinggal tidak dibagi-bagi. Seperti halnya harta-pusaka di Minangkabau, maka tanah dati ini, apabila bati (=kerabat) yang menguasai tanah itu lenyap (habis karena tiada keturunannya lagi), maka tanah itu jatuh ketangan. Dati yang mempunyai hubungan kekeluargaan yang terdekat Di Minahasa terdapat juga suatu sebidang tanah yang selalu

dipertahankan menjadi milik bersama-famili, yaitu. yang disebut "tanah wawakes un teranak". Tanah demikian ini mempunyai fungsi sebagai tanda pengikat yang riil terhadap tali kekeluargaan famili, jadi sebagai lambang
7

persatuan, dan kesatuan famili. Disamping itu, tanah demian ini lazimnya merupakan sejengkal tanah yang kurang artinya apabila akan dibagi-bagi merata diantara para akhliwaris. Ada pula harta peninggalan yang tidak dibagi-bagi bukan karena harta itu tidak dapat dibagi-bagi, melainkan karena pembagiannya memang untuk semetara ditangguhkan. Hal demikian ini dapat dijumpai didaerah - daerah dengan sifat kekeluargaan parental, seperti misalnya di Jawa. Pertangguhan pembagian harta peninggalan di sini pada pokoknya berdasar atas kebutuhan menegakkan langsung hidupnya suatu somah yang terdiri atas suatni-isteri dan anak-anak.

5. PENGHIBAHAN

ATAU

PEWARISAN

(TER

HAAR:

"TOESCHEIDINGEN")
Merupakan kebalikan daripada harta-peninggalan yang tidak dapat dibagi-bagi adalah perbuatan penghibahan atau pewarisan, yaitu pembagian keseluruhan ataupun sebagian dari pada harta-kekaya-an semasa pemiliknya masih hidup. Adapun dasar pokok ataupun motif daripada penghibahan ini adalah tidak berbeda dengan motif dari pada tidak memperbolehkan membagi-bagi harta peninggalan kepada para akhliwaris yang berhak, yaitu harta kekayaan somah raerupakan dasar kehidupan materiil yang disediakan bagi warga somah ybs. beserta keturunannya. Agar supaya didapat gambaran yang jelas mengenai masalah

penghibahan ini, maka di bawah ini diuraikan beberapa contoh penghibahan yang terjadi diketiga daerah sifat kekeluargaan yang ada, yaitu parentil, patriarchaal dan matriarchaal.

a.

Pada suatu somah dengan sifat kekeluargaan parentil Kita ambil sebagai contoh suatu keluarga di Java yang terdiri atas suami-

isteri dengan beberapa anak laki-laki dan anak perempuan. Apabila anak yang tertua itu seorang anak laki-lakit maka ada suatu kebiasaan untuk memberikan kepadanya secara hibah sebagian daripada harta keluarga, misalnya sebidang tanah pertanian, pada waktu ia menjadi dewasa dan telah cakap bekerja sendiri ( kuat gawe ) sebagai dasar materiil untuk kehidupannya selanjutnya setelah ia mentas. Kepada anak perempuan yang telah dewasa dan dikawinkan, lazimnya pada waktu dikawinkan itu, juga sebagai dasar materiil bagi kehidupannya lebih lanjut setelah ia berdiri sendiri dengan suaminya sebagai suatu keluarga baru, dihibahkan dari harta keluarga itu sebagian, misalnya sebidang tanah perkebunan atau sebuah rumah. Penghibahan sebagian dari harta keluarga kcpa da seorang atau beberapa orang anak demikian ini, kemudian setelah meninggalnya orangtua yang menghibahkan itu dan akan dilakukan pembagian harta peninggalan kepada para ahliwaris, diperhatikan serta diperhitungkan dengan bagian yang semustinya diterima oleh anak-anak ybs

b.

Pada suatu keluarga dengan sifat kekeluargaan patriarchaal Menurut hukum adat waris yang berlaku di daerah Minangkabau, maka

harta-pencarian seorang suami tidak akan diwaris oleh anak-anaknya sendiri, melainkan oleh saudara-saudaranya sekandung beserta keturunan saudarasaudara perempuan sekandung. Ketentuan adat ini mungkin sekali kini,mengingat akan kenyataan adanya perkembangan-perkembangan yang sangat menguntungkan bagi hubungan kekeluargaan somah (suami-isteri dan
9

anak) didalam masyarakat Minangkabau, sudah berubah. c. Pada suatu keluarga dengan sifat kekeluargaan patriarchaal Pada suku Batak di daerah Toba, ketentuan hukum adat warisnya adalah, bahwa hanya anak-anak laki laki sajalah yang akan mewarisi harta peninggalan bapaknya. Ketentuan-ketentuan demikian ini dalam prakteknya diperlu nak dengan penghibahan sawah atau ternak oleh bapak kepada anak-anak perempuan yang tidak atau yang sudah kawin bahkan juga kepada cucu-cucunya yang pertama. Juga di Ambon, seorang bapak lazimnya melakukan penghibahan kepada anak perempuannya yang kawin yang berwujud kebun buah-buahan yang disebut "dusun lelepeello. Lain daripada itu, perlu pula diketahui, bahwa sesuai dengan Keputusan Mahkamah Agung tanggal 23-8-1960 Reg.No. 225 K/Sip/1960 tentang hibah ini ditetapkan sebagai berikut : a. Hibah tidak memerlukan persetujuan ahliwaris b. Hibah tidak mengakibatkan akhliwaris dari si-penghibah tidak berhak lagi atas harta pening galan dari sipenghibah.

6. HIBAH-WASIYAT (BATAK)

WEKASAN,

(JAWA)

UMANAT

(MINANGKABAU PENUNEUSAN, (ACEH ), NGENDESKAN

Hibah-wasiyat merupakan juga suatu jalan bagi pemilik harta kekayaan untuk semasa masih hidupnya menyatakan keinginannya yang terakhir tentang pembagian harta peninggalannya kepada ahli waris yang baru akan berlaku setelah ia meninggal dunia.

10

Keinginan terakhir ini, lazimnya diucapkan pada waktu sipeninggal warisan sudah sakit keras serta tidak dapat diharapkan sembuh kembali lagi, bahkan kadang-kadang dilakukan pada saat sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Mengucapkan kemauan terakhir ini, biasanya dilakukan dihadapan anggota keluarganya yang terdekat dan yang terpercaya olehnya. Ucapan terakhir tentang keinginannya inilah yang di Jawa disebut "wekasan"
:

atau"welingan", di Minangkabau "umanat", di Aceh "peuneusan" dan di

Tapanuli "ngeudes-kan. Di kota-kota besar khususnya, pada akhir-akhir ini tidak jarang hibahwasiyat itu ditulis oleh seorang notaris yang khusus diundang untuk mendengarkan ucapan terakhir itu dengan disaksikan oleh dua orang saksi; dengan cara demikian maka hibah-wasiyat memperoleh bentuk akta notaris dan disebut "testamen" Tetapi meskipun sudah berbentuk testamen, sah atau tidaknya, isi hibah wasiyat itu tetap dikuasai hukum adat materiil. Misalnya tidak akan sah semua ketentuan yang bertentangan dengan peraturan-peraturan hukum adat waris setetnpat, seperti pemberian sebidang sawah kasikepan kepada seorang yang bukan warga sedesa Dengan hibah wasiyat ini, peninggal warisan dapat menentukan bagaimana harta-kekayaannya kelak akan dibagi-bagi diantara anak-anaknya. Apakah sesungguhnya maksud hibah-wasiyat itu? Maksudnya ialah terutama untuk mewajibkan para ahliwarisnya membagi-bagi harta peninggalannya dengan cara yang layak menurut anggapannya. Maksud kedua ialah untuk mencegah perselisihan, keributan dan cekcok dalam membagi harta-peninggalannya dikemudian hari diantara para ahliwaris.

11

Hibah-wasiyat ini, seperti juga pewarisan atau penghibahan, menurut Prof. Soepomo mempunyai dua corak sbb. :
a.

Mereka yang menerima barang-barang harta itu adalah ahliwaris, yaitu isteri dan anak-anak. Olehsebab itu pewarisan atau hibah-wasiyat hanya merupakan perpindahan harta-benda didalam ahliwaris.

b.

Orang-tua yang mewariskan itu meskipun terikat oleh peraturan, bahwa segala anak harus mendapat bagian yang layak.

Lagi pula pewarisan atau hibah-wasiyat mempunyai fungsi lain, yaitu : "mengadakan koreksi dimana perlu, terhadap hukum waris abintestato menurut peraturan-peraturan tradisionil atau agama, yang dianggap tidak memuaskan lagi oleh peninggal warisan"

7. HARTA-KEKAYAAN

KELUARGA

YANG

MERUPAKAN

HARTA-PENINGGALAN.
Harta-peninggalan keluarga tidak merupakan satu kumpulan ataupun kesatuan harta benda yang semacam dan se-asal. Oleh karena itu, maka pelaksanaan pembagiannya kepada para ahliwaris yang berkepentingan tidak dapat begitu saja dilakukan melainkan wajib di-perhatikan sepenuhnya sifat (macam), asal dan kedudukan hukum dari pada barang-barang itu masingmasing. Didalam harta-benda kekayaan keluarga yang merupakan hartapeninggalan itu terdapat barang dari suami, barang asal dari isteri dan barang gono-gini. Perbedaan sifat dari pada barang barang ini, sama sekali tidak berarti, apabila suami-isteri ybs. mempunyai anak.

12

Barang-barang kerabat ataupun barang-barang famili Barang-barang ini biasanya dibawa kedalam harta kekayaan keluarga oleh isteri atau suami sebagai barang asal yang diperolehnya secara warisan dari orang-tuanya dan orang-tuanya ini memperoleh barang-barang itu dulu juga secara warisan dan be-gitu seterusnya; pokoknya barang-barang itu sudah turunmenurun menjadi barang warisan Apabila peninggal warisan tidak mempunyai anak, maka barang-barang famili demikian ini kembali lagi kepada famili ybs, artinya barang asal dari famili suami kembali kepada famili suami dan barang asal dari famili isteri kembali kepada famili isteri. Adapun maksud dari pada ketentuan ini adalah agar supaya barang-barang itu tetap menjadi harta milik famili ybs. Barang-barang pusaka yang keramat Barang-barang pusaka yang keramat, seperti keris , tumbak rencong dan lain sebagainya yang dianggap dapat membawa kebahagiaan kepada keluarga, tidak boleh disamakan dengan barang-barang biasa rumah - tangga lain-lainnya. Barang-barang keramat ini kadang-kadang terikat kepada kwalitas yang memegangnya, misalnya barang-barang keramat dari keraton Kesepuhan di Cirebon akan tetap selalu diwaris oleh yang akan mengganti jadi Sultan Sepuh. Barang-barang somah atau barang-barang keluarga. Hubungan kekeluargaan didalam somah (suami-isteri-anak-anak)

menyebabkan adanya perbedaan hak mewaris terhadap barang-barang somah bagi anak-anak dari per kawinan pertama, bagi anak-anak dari perkawinan kedua, ketiga dan seterusnya.

13

Anak-anak dari perkawinan pertama berhak mewaris-barang-barang yang diperoleh dalam masa perkawinan pertama, sedangkan anak-anak dari perkawinan kedua tidak mempunyai hak itu. Ketentuan inilah yg menyebabkan orang-orang di Sulawesi Selatan (Muna) ber kata " barang-barang somah yang satu tidak boleh, berpindah kesomah yang lain. Di Jawa kesulitan-kesulitan yang tirnbul karena seseorang kawin beberapa kali, lazimnya diatasi dengan jalan menghibahkan barang-barang ybs. semasa hi dupnya. Barang-barang yang belum bebas dari hak pertuanan, hak ulayat desa Seperti sawah "Kasikepan" di Cirebon yang tidak bebas dari hak pertuanan itu, apabila pemegangnya meninggal dunia, maka sawah itu tidak boleh jatuh kepada orang yang : a. bukan warga desa ybs. b. tidak bertempat-tinggal di desa didalam daerah mana sawah kasikepan dimaksud terletak. c. telah memiliki sawah kasikepan yang lain. Barang-barang dengan wujud tertentu. Peraturan sendiri yang mengatur tentang pengoperan barangbarang dengan wujud tertentu ini ("feit elijk bepaalde goederen") bukan merupakan peraturan yang melarang atau mewajibkan, melainkan merupakan suatu anjuran yang seberapa boleh supaya diturut Di Aceh misalnya, pekarangan yang menjadi tempat kediaman orang-tua, pada waktu mereka meninggal dunia, seberapa boleh beralih kepada anak perempuan yang tertua.
14

Hutang-hutang Terhadap peninggalan yang merupakan beban ini terdapat kebiasaankebiasaan sebagai berikut :

Di daerah-daerah Tapanuli (suku Batak), Kalimantan (suku Dayak) dan di pulau Bali misalnya, para akhliwaris wajib membayar hutang pewaris. Di daerah Gianyar di pulau Bali rupa-rupanya hutang-hutang sipeninggal warisan hanya beralih dari orang tua kepada anak-anaknya dan dari suami kepada isteri atau sebaliknya.

Di Jawa, orang menganggap bahwa hanya harta peninggalan pewaris dapat dipergunakan untuk membayar hutangnya, sehingga harta itu tidak boleh dibagi-bagi dulu, sebelum hutang pewaris dibayar dari harta tsb.

7. PEMBAGIAN HARTA PENINGGALAN


Pembagian harta-peninggalan adalah merupakan suatu perbuatan daripada para akhliwaris bersama sama. Apabila harta-peninggalan dibagi-bagi antara para akhliwaris, maka pembagian itu biasanya berjalan secara rukun, didalam suasana ramah- tamah dengan memperhatikan keadaan istimewa dari tiap-tiap waris. berjalan atas dasar kerukunan. Didalam menjalankan kerukunan itu semua pihak mengetahui haknya masing-masing menurut hukum, sehingga mereka mengetahui juga apabila ada pembagian yang menyimpang serta seberapa jauh penyimpangan tersebut dari peraturan-peraturan hukum Pembagian harta peninggalan yang dijalankan atas dasar kerukunan, biasanya terjadi dengan penuh pengetahuan, bahwa semua anak, baik laki mau
15

Pembagian

pun perempuan, pada dasarnya mempunyai hak sama atas harta peninggalan orang tuanya. Apabila ternyata tidak terdapat permufakatan dalam penyelenggaraan pembagian harta peninggalan ini, maka hakim berwenang atas permohonan para ahliwaris, untuk menetapkan cara pembagiannya serta memimpin sendiri pelaksanaan pembagiannya.

8. PARA AHLIWARIS.
Unsur akhliwaris ini, seperti telah diuraikan pada awal paragrap ini menimbulkan suatu persoalan, yaitu bagaimana dan sampai dimana harus ada tali-kekeluargaan antara si-peninggal warisan di satu pihak dan para akhliwaris dilain pihak agar harta-kekayaan si-peninggal warisan dapat beralih kepada para akhliwaris. Dalam hukum adat anak-anak dari sipeninggal warisan merupakan golongan akhliwaris yang terpenting oleh karena mereka pada hakekatnya merupakan satu-satunya golongan akhliwaris. Didalam masyarakat Indonesia tidak hanya dikenal anak kandung saja, melainkan terdapat juga : a. anak angkat. b. anak tiri, dan disamping itu, juga anak yang lahir diluar perkawinan. Anak yang lahir diluar perkawinan Menurut hukum adat waris di Jawa, anak yang lahir diluar perkawinan itu hanya menjadi waris didalam harta-peninggalan ibunya saja serta juga didalam harta-peninggalan kerabat ataupun famili dari pihak ibu.

16

Anak angkat Kedudukan hukum anak angkat ini, dibeberapa daerah lingkungan hukum adat di Indonesia ternyata tidak sama, Didalam masyarakat hukum yang sifat susunan kekeluargaannya parentil, seperti di Jawa Tengah dan di Jawa Barat, dan didalam masyarakat hukum yang sifat susunan kekeluargaannya patriarchaal, seperti dipulau Bali, kedudukan anak angkat adalah berbeda. Di pulau Bali perbuatan mengangkat anak adalah merupakan perbuatan hukum yang melepaskan anak itu dari pertalian keluarga dengan orang tuanya sendiri serta memasukkan anak itu kedalam keluarga bapak angkat. Di Jawa (Timur-Tengah-Barat) perbuatan mengangkat anak itu hanyalah memasukkan anak itu ke kehidupan rumah tangganya saja sehingga ia selanjutnya menjadi anggota rumah-tangga orang-tua yg mengangkatnya, tetapi tidak memutuskan pertalian-keluarga antara anak itu dengan orang-tuanya sendiri. Khusus di Jawa dan umumnya di daerah-daerah yang mengenal anak angkat ini, maka dengan perbuatan mengambil serta mengasuh anak itu sampai menjadi dewasa dalam lingkungan somahnya, lambat laun timbul dan berkembanglah hubungan kerumah-tanggaan antara orang-tua angkat dan anak yang diangkat Konsekwensi itu digambarkan dalam beberapa yuris prudensi seperti dibawah ini :
a.

Putugan Landraad Purworejo tanggal 25 Agustus 1937, barang pencarian dan barang gono-gini jatuh kepada janda dan anak angkat, sedangkan barang asal kembali pada saudara-saudara peninggal harta, jikalau yang meninggal itu tidak mempunyai anak kandung.

17

b.

Putusan Raad Justisi Jakarta dahulu tanggal 24 Mei 1940 menurut hukum adat Jawa-Barat, anak angkat berhak atas barang-barang gono-gini orangtuanya angkat yang telah meninggal, jikalau tidak ada anak kandung atau turunan seterusnya.

Dalam kedua yurisprudensi diatas nampak dengan jelas digambarkan kedudukan anak angkat sebagai anggota rumah-tangga, sedangkan ia bukan waris. Jikalau orang-tua angkat semasa hidupnya telah menghibahkan barangbarang kepada anaknya angkat , sejumlah demikian, hingga nafkah anak.tsb. telah terjamin seperlunya, maka ia pada pembagian harta peninggalan sudah tidak berhak apa-apa lagi Landraad Purworejo pada tanggal 6 Oktober 1937 dimuat dalam T.148 halaman 307 memutuskan, bahwa karena adopsi seorang-orang anak tidak kehilangan hak warisnya dari harta peninggalan orangtuanya kandung Anak tiri Anak tiri yang hidup bersama dalam satu rumah dengan Ibu kandung dan bapak tiri atau sebaliknya adalah warga serumah-tangga pula. Terhadap ibunya atau bapaknya kandung, anak itu adalah akhliwaris, tetapi terhadap ibunya atau bapaknya tiri, anak itu bukan akhliwaris, melainkan hanya warga serumahtangga saja. Hidup bersama dalam satu rumah-tangga ini membawa hak-hak dan kewajiban-kewajiban antara anggota yang satu terbadap anggota yang lain. Kadang-kadang pertalian rumah tangga antara bapak tiri dan anak tiri yang hidup bersama dalam satu-rumah-tangga itu menjadi begitu eratnya, hingga terjadi kenyataan kenyataan, bahwa seorang bapak tiri menghibahkan sebidang sawah kepada anak tirinya.

18

Anak tiri tidak berhak atas warisan bapak tirinya, tetapi ia ikut mendapat penghasilan dan bagian dari harta peninggalannya bapak tiri yang diberikan kepada ibu kandungnya sebagai nafkah janda (Putusan Landraad Purworejo tanggal 14 Agustus 1937 dalam T.148 halaman 286). Kedudukan Janda. Selanjutnya menurut hukum adat di daerah Tapanuli pada perjalanan zaman pada waktu sekarang temyata terdapat ketentuan- ketentuan sebagai berikut : a. Si isteri dapat mewarisi harta pencaharian sang suami yang meninggal dunia. b. Anak yang belutn dewasa dipelihara dan berada dalam pengampunan ibu. c. Karena anak berada dibawah pengampunan ibu, maka harta kekayaan anak dikuasai dan diurus oleh ibu. Putusan Mahkamah Agung tanggal 17-1-1959 Reg.No. 320 K/Sip./1958). Hanya si janda tsb.wajib tetap berada dalam ikatan kekeluargaan kerabat suaminya, bahkan sering terjadi janda itu kemudian menjadi isteri saudara lakilaki almarhum suaminya Janda berhak mendapat nafkah seterusnya, sehingga untuk keperluan itu kadang-kadang harta peninggalan dibiarkan padanya tak dibagi-bagi, termasuk juga barang asal suaminya. Janda atau orang tua lainnya yang masih hidup ( duda dalam bahasa Jawa ) selalu mendapat bagian waris bersama-sama dengan ahli waris lain-lainnya. Hukum Adat diseluruh Indonesia perihal warisan mengenai seorang janda perempuan dapat dirumuskan sedemikian rupa, bahwa seorang janda perempuan selalu merupakan akhliwaris terhadap barang asal suaminya dalam arti, bahwa sekurang-kurangnya dari barang-barang asal itu sebagian harus tetap berada ditangan janda, sepanjang perlu untuk hidup secara pantas sampai ia meninggal dunia atau kawin lagi.

19

Kedudukan janda laki-laki atau "duda" (Jawa) Juga kedudukan janda laki-laki atau " duda" (Jawa) ini dimasing-masing daerah dengan sifat kekeluargaannya yang matrilineal, patrilineal atau parentil itu tidak sama. Di daerah Minangkabau dengan sifat kekeluargaan matrilineal, suami pada hakekatnya tidak masuk keluarga isteri. Akibat daripada keadaan ini adalah, bahwa suami pada hakekatnya tidak berhak menerima.apa-apa dari harta warisan isterinya. Di pulau Bali yang sifat kekeluargaannya patriarchaal, ditegaskan, bahwa janda laki-laki mendapat bagian dari harta warisan isterinya, yaitu dari barangbarang yang dulu oleh isteri dibawa dari rumahnya sendiri pada waktu nikah. Ahli waris - ahli waris lainnya (selain anak dan janda) Kalau peninggal warisan tidak meninggalkan anak atau cucu serta keturunan seterusnya kebawah, maka orang tuanya adalah berhak atas harta warisannya bersama - sama dengan jandanya kalau ada; kalau orang tuanya itu sudah wafat lebih dahulu , maka harta warisannya jatuh kepada saudarasaudaranya sekandung.

20

9.

BEBERAPA HAL LAIN SEKITAR HUKUM ADAT ] WARIS.


Hadiah kepada orang bukan waris peninggal harta. Dapatkah seorang yang mempunyai isteri dan anak menghadiahkan barangbarang harta kekayaannya kepada seorang bukan waris?

Menurut

Djojodigoeno-Tirtawinata

di Jawa Tengah sering terjadi hadiah

kepada bukan waris. Pemberian hadiah ini tidak diganggu, kecuali jikalau peristiwa itu akan menyebabkan para waris kehilangan bagian warisannya. Dapatkah penghibahan itu dicabut ? Putusan Raad Justisi Jakarta tanggal 31 Maret 1939 dalam T.151 halaman 183 berbunyi, bahwa penghibahan dapat dicabut kembali atas alasan-alasan berdasar adat, sebagai misalnya kurang hormat atau tabiat lain yang membuktikan kelalaian anak terhadap orang tua. Djojodigoeno Tirtawinata menegaskan, bahwa pencabutan hibah demikian ini hanya mungkin, sekedar barang-barang yang dihibahkan itu. masih ditangan waris yang menerima hibah dimaksud.

21