PENGARUH STRUKTUR AKTIVA ,
PROFITABILITAS ,UKURAN PERUSAHAAN, DAN
LIKUIDITAS TERHADAP STRUKTUR MODAL PADA
PERUSAHAAN MANUFAKTUR SUB SEKTOR MAKANAN
DAN MINUMAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK
INDONESIA (BEI) PERIODE 2018-2020
SKRIPSI
OLEH:
NAMA : DINDA YULIA PRAMESTI
NIM : 3023201023
PROGRAM STUDI : AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MH. THAMRIN
JAKARTA
2022
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Struktur modal merupakan rasio diantara ekuitas dan hutang. Pengelola
perusahaan tentunya perlu mampu melakukan penyeimbangan pemakaian antara
ekuitas dan utang dalam struktur modal yang maksimal manajer keuangan harus
melakukan pertimbangan banyak faktor yang dapat mempengaruhi struktur
modal. Sebagian faktor yang mempengaruhi struktur modal diantaranya struktur
aktiva ukuran perusahaan likuiditas dan profitabilitas. Ini mau pergunakan hasil
uji regresi linear berganda dari perusahaan manufaktur yang tercatat di Bursa Efek
Menggunakan Indonesia sebagai Objek Studi tahun 2018-2020 selaku periode
riset.
Struktur modal perusahaan adalah sebuah faktor pendorong mental
perusahaan yang melingkupi keputusan keuangan yang berkenaan dengan
perimbangan di antara pemakaian modal pinjaman yang terbagi atas akan jangka
pendek dan utang jangka panjang. Perusahaan yang akan menjalankan
perluasaan kemudian memerlukan modal. Sehingga perusahaan harus
menentukan besarnya modal yang diperlukan dalam mendanai bisnisnya.
Menurut (Tijow et al., 2018) Struktur modal memberikan gambaran
proporsi hubungan diantara ekuitas dan utang. Merupakan keputusan paling bait
dengan maksimal return dan memiliki dampak penting pada nilai perusahaan.
Struktur modal berlainan di antara satu perusahaan dengan perusahaan yang
lainnya yang mana jumlah struktur modal dalam perusahaan tergantung dari
jumlah sumber dana yang didapatkan dari pihak eksternal atau internal
perusahaan..
Sumber dana internal adalah sumber dana yang berasal dari perusahaannya
tersebut seperti keuntungan dari penjualan laba ditahan atau dana cadangan.
Sumber dana eksternal adalah dana yang ditarik dari para stakeholder ataupun
adanya pembelanjaan asing seperti dari luar.
Di era globalisasi informasi dan teknologi saat ini yang semakin canggih
serta perkembangan dunia usaha yang kian pesat dan meningkatkan persaingan
antar perusahaan untuk mencapai profit, Dalam menjankan usahanya untuk
meningkatkan kinerja perusahaan dan mempertahankan kelangsungan bisnisnya
dimasa yang akan datang. Saat itu pula perusahaan sangat membutuhkan modal
untuk menjalankan usahanya agar berkembang. Pengembangan usaha dilakukan
dari oleh anak perusahaan maupun induk perusahaan. Modal juga diperlukan
untuk mengembangkan usaha agar lebih besar, perihal ini akan mempunyai
dampak baik secara keuangan dari emiten ini sebab perusahaan dapat
mencukupi keperluan modal tanpa bantuan dari pihak external. Bertambahnya
modal dari pihak external dapat dipergunakan perusahaan untuk pengembagan
usaha.
Saat ini persaingan bisnis yang bisa dibilang berkembang adalah
perusahaan manufaktur dalam sektor makanan dan minuman. Hal ini bisa dilihat
dari banyaknya yang tertarik untuk mendirikan perusahaan dalam sektor
makanan dan minuman. Banyak peluang dan kesempatan untuk para pengusaha
melakukan pelunasan badan usaha agar usaha yang dilakukan dapat mencapai
target yang akan dicapai.
Bermacam teori perihal struktur modal dapat menjabarkan penarikan
keputusan struktur modal oleh pihak manajemen, misalnya trade off theory ,
pecking order theory dan agency theory. Struktur modal dapat dipengaruhi
banyak factor . dari penelitian sebelumnya ada beberapa factor yang
mempengaruhi struktur modal diantaranya profitabilitas, resiko bisnis, growth
opportunity, insider ownership, likuiditas, ukuran perusahaan dan strukur aktiva,
pada riset ini mempergunakan struktur aktiva, ukuran perusahaan, profitabilitas
dan likuiditas, selaku penentu struktur modal.
Profitabilitas dari setiap operasi perusahaan, yang merupakan tujuan
utama bisnisnya, pencarian profitabilitas atau keuntungan. Semakin
menguntungkan suatu perusahaan, semakin banyak laba ditahan yang tersedia
untuk operasinya (Nugrahani dan Sampurno, 2012).Laba ditahan akan
dipergunakan selaku pilihan utama untuk mendanai perusahaan maka pada
struktur modal pemakaian hutang makin kecil dengan adanya kenaikan
profitabilitas perusahaan. Profitabilitas yang dipergunakan pada riset ini Return
On Asset (ROA). Return On Asset (ROA) adalah rasio profitabilitas yang
dipergunakan dalam melakukan pengukuran mengukur efektifitas pada
perusahaan yang membuahkan keuntungan dengan mempergunakan assets yang
ada pada perusahaan. Kalkulasi ROA mempergunakan rumus laba bersih sesudah
pajak dengan total aktiva yang dimiliki perusahaan.
Rasio profitabilitas melakukan pengukuran banyaknya laba bersih yang
dapat diperoleh dari semua aktiva yang ditanamkan dan dimiliki ke perusahaan .
Return on Assets (ROA) yang semakin tinggi memperlihatkan perusahaan
semakin efektif dalam mendapatkan laba yang besar (Dewi et al., 2019).
Kemampuan perusahaan untuk melakukan pengelolaan aktiva dalam mendapatkan
laba mempunyai daya tarik dalam mempengaruhi investor agar membeli saham
atau menanam modal perusahaan tersebut. Naiknya return on assets (ROA) akan
menjadi daya tarik investor dalam membeikan modalnya dalam perusahaan. Maka
harga saham perusahaan akan terjadi peningkatan (Lugo & Londoño, 2020).
Struktur aktiva adalah faktor krusial kedua yang dapat berpengaruh
struktur modal. Struktur aktiva merupakan aset yang ada pada perusahaan yang
terbagi atas aktiva lancar dan aktiva tetap dengan harapan dapat memberi manfaat.
Sejalan dengan pecking order theory perusahaan yang mempunyai laba yang
maksimal akan mempergunakan dahulu dana internal tersebut bagi modal
perusahaan.
Ukuran perusahaan mempengaruhi kepada struktur modal sebab
perusahaan yang besar akan lebih mudah memperoleh investor dalam memberikan
modalnya, ukuran perusahaan yang semakin besar maka kesempatan memperoleh
pembiayaan akan semakin besar.
Likuiditas adalah sebuah indikator yang memberikan pengukuran
kemampuan perusahaan dalam membayarkan kewajiban jangka pendek tersebut
ketika jatuh tempo dengan mempergunakan aset lancar yang dimilikinya.
Menurut latar belakang, penulis tertarik dalam melaksanakan riset berjudul
“ Pengaruh profitabilitas, struktur aktiva, ukuran perusahaan dan likuiditas
terhadap struktur modal pada perusahaan manufaktur sub sektor makanan
dan minuman yang terdaftar di BEI periode 2018-2020”.
B. Rumusan Masalah Penelitian
1. Apakah Profitabilitas (ROA) berpengaruh kepada struktur modal dalam
perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia?
2. Apakah Struktur aktiva mempengaruhi kepada struktur modal pada perusahaan
manufaktur sektor makanan dan minuman yang tercantum pada BEI?
3. Apakah Ukuran perusahaan (Size) berpengaruh terhadap struktur modal pada
perusahaan manufaktur sektor makanan dan minuman yang tercantum pada
BEI?
4. Apakah Likuiditas (CR) berpengaruh terhadap struktur modal pada perusahaan
manufaktur sektor makanan dan minuman yang tercantum pada BEI?
5. Apakah Profitabilitas, Struktur Aktiva, Ukuran perusahaan dan Likuiditas
berpengaruh terhadap struktur modal pada perusahaan manufaktur sektor
makanan dan minuman yang tercantum pada BEI?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan permasalahan tersebut, sehingga tujuan dalam riset ini
seperti dibawah ini:
1. Dalam menelusuri dan menganalisa pengaruh profitabilitas kepada struktur
modal pada perusahaan .
2. Dalam menelusuri dan menganalisa pengaruh struktur aktiva terhadap struktur
modal pada perusahaan.
3. Dalam menelusuri dan menganalisa pengaruh likuiditas kepada struktur modal
pada perusahaan.
4. Untuk mengetahui dan menganalisa pengaruh ukuran perusahaan kepada
struktur modal pada perusahaan.
5. Dalam menelusuri dan menganalisa pengaruh profitabilitas, struktur aktiva,
ukuran perusahaan.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang ingin dicapai pada riset ini ialah:
1. Bagi Investor
Penulisan ini dapat dipergunakan sebagai referensi atau pertimbangan
yang dapat memberikan informasi kepada para investor. Untuk menyusun
keputusan berinvestasi dalam perusahaan yang mempuyai kinerja dan struktur
modal yang baik.
2. Bagi Penulis
Untuk memperkaya ilmu pengetahuan yang baru, wawasan yang baru,
serta dapat mengidentifikasi masalah atau fakta secara sistematik terutama
mengenai berbagai faktor yang berpengaruh struktur modal khususnya ukuran
perusahaan, profitabilitas,tingkat pertumbuhan assets dan struktur aktiva
kepada struktur modal.
3. Bagi Perusahaan
Dapat dipergunakan sebagai alat ukur untuk mengukur dan membantu
dalam menyusun struktur modal yang diharapkan dapat membantu
mengoptimalkan nilai perusahaan.
4. Bagi Kepustakaan
Riset ini diharapkan dapat menjadi informasi dan referensi untuk peneliti
lain dalam mengetahui pengaruh profitabilitas struktur aktiva, ukuran
perusahaan, dan likuiditas kepada struktur modal dalam perusahaan
manufaktur sektor makanan dan minuman yang terdapat di Bursa Efek
Indonesia.
E. Sistematika Penulisan
Agar dapat memberi gambaran secara garis besar perihal ke penulisan
tersebut sehingga dibuat sistematika pembahasan dalam jabarkan berbagai materi
yang akan diulas yang terdiri dari setiap bab. Sementara pembagian tersebut
seperti dibawah ini:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini menjabarkan mengenai latar belakang riset, rumusan
permasalahan riset, tujuan riset, dan manfaat riset serta
sistematika penulisan.
BAB II LANDASAN TEORI
Dalam bagian ini penjabaran seputar berbagai teori yang
berkaitan dengan topik riset yang dilaksanakan dengan
merujuk terhadap berbagai sumber yang berkenaan dengan
masalah pada riset. Serta rangkuman kerangka teori atau
tinjauan pustaka yang berikutnya dikembangkan menjadi
kerangka pemikiran atau kerangka konsep yang mana pada
kerangka pemikiran akan deskripsi hubungan antar variabel
pada riset yang dibuat menurut dasar teori tinjauan pustaka.
Berikutnya dalam bagian akhir akan menyusun hipotesis yang
memberikan gambaran tujuan dari riset.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini berisi penjabaran mengenai waktu dan tempat riset
teknik riset yang dipergunakan subjek riset yang menjadi
penentu populasi riset sampai riset yang akan menelaah teknik
sampling atau pengambilan sampel dan jumlah sampel.
Instrumen reset yaitu berbentuk bahan dan alat riset dan cara
kerja. Berikutnya dalam bagian akhir akan menjabarkan
metode analisis yang digunakan pada saat ini ialah pendapatan
analisa regresi linear. Melalui uji-uji tes statistik.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Waktu dan tempat penelitian
Riset ini dilakukan oleh penulis sepanjang waktu 6(enam) bulan dari
periode bulan Desember 2021 hingga selesai penelitian. Riset ini
mempergunakan datasekunder yang diunduh dari situs resmi Bursa Efek
Indonesia yaitu [Link].
TABLE III.1
Waktu Penelitian
No. Keteranagan Waktu Penelitian
Des Jan Feb Mar Apr Mei
1. Pencarian data awal
Pengumpulan data
Penyusunan Proposal
2. Bimbingan dan
Revisi Proposal
3. Pengumpulan dan
Pengolahan Data
4. Analisis Data dan
Bimbingan Skripsi
Sumber: Diolah oleh penulis, 2022
B. Metode Penelitian
Berdasarkan karakteristik pengaruh profitabilitas struktur Aktiva,
ukuran perusahaan, dan likuiditas kepada struktur modal pada perusahaan
sub sektor makanan dan minuman yang tertera pada BEI dengan teknik riset
yang dipergunakan ialah teknik kuantitatif
menurut (Paulo, 2019) kuantitatif adalah tahapan kerja yang diawali
dari perumusan permasalahan, lalu proses hipotesis, menyusun instrumen
penarikan data, berikutnya aktivitas penghimpunan data, baru
dilaksanakan analisa data, serta kemudian penulisan laporan riset.
Tahapan kerja itu tidak boleh tertukar, harus bertahap secara linier.
C. Populasi dan sampel
1. populasi penelitian
Menurut (Saputra & Riyadi, 2017), Populasi adalah semua data
yang menjadi pusat perhatian seorang peneliti menulis pada waktu dan
ruang lingkup yang telah ditetapkan. Populasi berkenaan dengan berbagai
data apabila setiap manusia memberi sebuah data, maka akan sama dengan
jumlah manusia tersebut.
Populasi yang dipergunakan pada riset ini ialah seluruh emiten
pada sub sektor makanan dan minuman yang tertera pada BEI berjumlah
10 Emiten dan berbagai faktor yang dapat berpengaruh pada struktur
modal yang tercermin dari variabel profitabilitas aset struktur, ukuran
emiten, dan likuiditas.
2. Sampel
Dalam buku Umar Yusuf ( 2014: 150), Dengan demikian secara
sederhananya dapat dinyatakan bahwa sampel merupakan beberapa dari
populasi yang mewakili dan terpilih populasi tersebut untuk menetapkan
Sample size (ukuran sampel) dapat dipergunakan selaku perumusan
statistik, maka sampel yang ditarik dari populasi itu benar-benar
mencukupi syarat taraf signifikansi yang dapat diterima dan tingkat
sample error (kesalahan sampel) yang mungkin ditoleransi.
Sampel yang digunakan pada riset ini mempergunakan metode
pengambilan Purposive sampling. Dimana Sampel yang dipergunakan
ialah emiten sub sektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia dengan periode tahun 2018-2020 melalui variabel
variabel-variabel: profitabilitas struktur aktiva, ukuran perusahaan, dan
likuiditas yang dipergunakan pada riset ini.
Sementara karakteristik atau kriteria yang dipergunakan dalam
melakukan pemilihan sampel dalam riset ini ialah seperti dibawah ini:
a. Emiten makanan dan minuman yang tercantum pada Bursa Efek
Indonesia
b. Emiten mengungkapkan dan menyajikan data yang dibutuhkan
peneliti selama periode 2018-2020
c. Emiten sektor makanan yang aktif diperjualbelikan pada Bursa
Efek Indonesia
d. Emiten yang Menyajikan laporan keuangannya dengan
menggunakan rupiah
D. Teknik Pengumpulan Data
Data yang dipergunakan pada riset ini ialah data sekunder, data Ini
berupa laporan keuangan emiten dalam sektor makanan dan minuman
yang terdaftar di BEI periode 2018-2020. Sumber data IDX yaitu, www
[Link] dan beberapa data juga didapatkan dari situs website
emiten yang bersangkutan.
E. Variabel penelitian
variabel yang dipergunakan ialah alat pengumpulan data:
a. variabel independen
Variabel independen ialah variabel yang biasa dinamakan
dengan variabel bebas. variabel ini berpengaruh ataupun yang
menjadi sebab timbulnya atau perubahannya variabel dependen
( Sugiyono, 2013). Pada riset ini yang menjadi variabel
independen atau variabel bebas ialah profitabilitas, struktur
aktiva, likuiditas dan ukuran perusahaan.
b. Variabel dependen pada bahasa Indonesia sering dinamakan
selaku Variabel terikat, variabel output, Kriteria dan konsekuen.
Variabel dependen adalah variabel yang yang menjadi akibat atau
dipengaruhi karena terdapatnya variabel bebas ( Sugiyono, 2013).
Pada riset ini yang menjadi variabel dependen atau Variabel terikat
adalah struktur modal
F. Operasional Variabel
1. Statistik deskriptif
Statistik deskriptif pada riset ini secara dasar adalah tahapan
transformasi data riset berbentuk maka mudah diinterpretasikan
dan dipahami. Penyusunan dan pengaturan data berbentuk grafik
dan tabel dengan dengan menggunakan deskriptif. ukuran yang
ukuran yang dipergunakan pada statistik deskripsi antara lain
berbentuk : frekuensi, dispersi( deviasi standar dan varian),
tendensi Sentral( rata-rata, median, modus), Nilai maksimum, dan
nilai minimum. ukuran yang dipergunakan bergantung dalam tipe
skala pengukuran construct yang dipergunakan pada riset. Dalam
penulisan ini data yang dikelompokkan menjadi 5 yaitu struktur
modal, struktur, profil profitability, ukuran, dan likuiditas.
2. Uji Asumsi Klasik
a. Uji Normalitas
Pengujian normalitas memiliki tujuan dalam menguji pada
model regresi variabel residual atau pengganggu memiliki
distribusi Normal atau tidak (Ghozali,2011). data yang baik ialah
data yang memiliki pola seperti distribusi
normal. Perihal ini juga dijelaskan oleh Imam am( 2005: 110)
bahwa data harus berdistribusi normal. Diantaranya Pengujian
yang dapat dipergunakan dalam melakukan pengujian normalitas
data ialah kolmogorov-smirnov test.
b. Uji multikolinearitas
Multikolinieritas ialah terdapatnya suatu hubungan linier yang
baik diantara semua atau beberapa variabel independen. uji
multikolinearitas mempunyai tujuan dalam melakukan pengujian
pada model regresi didapatkan korelasi antara variabel bebas
( independen). Baiknya model regresi adalah tidak ada hubungan di
antara variabel bebas (Ghazali, 2011). Pengujian multikolinieritas
dilaksanakan dengan mempergunakan pengujian nilai variance
inflation Factor atau Tolerance value
c. Uji AutoKorelasi
“Pengujian autokorelasi mempunyai tujuan dalam melakukan
pengujian pada model regresi linear terdapat korelasi diantara
kesalahan pengganggu dalam periode t dengan kesalahan
pengganggu dalam periode t-1 ( sebelumnya)” ( Ghozali, 2011).
Apabila ada korelasi, sehingga dinyatakan terdapat
permasalahan autokorelasi. Autokorelasi timbul sebab
pengamatan yang berurutan selama waktu berkenaan satu
dengan yang lainnya. permasalahan ini timbul karena reaksi 2
tidak bebas dari satu observasi observasi lainnya. model regresi
model regresi yang. dengan menggunakan dengan
mempergunakan pengujian Durbin Watson (DW), yang mana
temuan uji coba ditetapkan menurut nilai Durbin Watson (DW).
d. Uji heteroskedastisitas
Pengujian heteroskedastisitas mempunyai tujuan dalam
meninjau pada model regresi ada ketidaksamaan variance Dari
residual satu observasi ke observasi lainnya. Bila variance Dari
residual satu observasi lain konstan, sehingga dinamakan
homoskedastisitas berlainan dinamakan heteroskedastisitas.
3. Analisis regresi linear berganda
a. Model penelitian
Teknik analisa yang dipakai pada riset ini merupakan regresi
berganda yang dipergunakan dalam melakukan pengujian pengaruh
variabel independen kepada variabel terikat, teknik analisa regresi
berganda yang dapat dipergunakan ialah seperti dibawah ini: “
Y = α + β X 1 + β X 2+ β X 3 + β X 4 +ε
Keterangan:
Y: Struktur modal (Debt to Equity Ratio)
X1: Struktur Aktiva (Fixed Asset Ratio)
X2: Profitabilitas (ROA)
X3: Ukuran Perusahaan ()
X4: Likuiditas (Current Ratio)
ε: Error”
Uji Signifikan parsial ( uji t) dilaksanakan dalam
melakukan pengujian pada sebuah variabel bebas secara terpisah
mempengaruhi signifikan ataupun tidak kepada variabel terikat
serta dalam melakukan pengujian signifikansi konstanta serta pada
tiap variabel dalam membuat keputusan untuk menolak atau
menerima hipotesis riset yang sebelumnya telah disusun dalam bab
sebelumnya.
b. Uji Kelayakan Model ( Uji t )
Uji signifikan parsial (uji t) dialaksanakan dalam
melakukan pengujian pada sebuah variabel bebas secara terpisah
memparuhi signifikan ataupun tidak kepada variabel terikat serta
juga dalam melakukan pengujian signifikansi konstanta dari tiap
variabel dalam menyusun keputusan untuk menerima ataupun
menolak hipotesis penulisan yang sebelumnya telah disusun pada
bab sebelumnya.
c. Uji hipotesis tesis (Uji F)
Berdasarkan Ghozali (2011) Tujuan dari pengujian
signifikansi simultan ataupun pengujian statistik F ini merupakan
memperlihatkan Apakah seluruh variabel bebas yang terdapat
pada model mempengaruhi secara simultan kepada Variabel
terikat
d. koefisien determinasi (R2)
“Koefisien determinasi (R2) mengukur Seberapa jauh
kemampuan modal dalam menerangkan variasi variabel dependen
berupa nilai [Link] R2 antara nilai 0 dan 1 (0≤ R 2≤1).
R2 yang semakin besar (mendekati 1), hasil model regresi
tersebut pun semakin baik serta semakin mendekati 0, Sehingga
variabel bebas secara komprehensif tidak dapat menyebarkan
Variabel terikat. Nilai R2 yang rendah bermakna kapasitas
variabel bebas untuk menjabarkan variasi Variabel terikat sangat
terbatas. Nilai yang mendekati 1 bermakna berbagai variabel
independen memberi hampir seluruh informasi yang diperlukan
untuk memberikan prediksi Variabel terikat” (Ghozali, 2011) .
Dalam meninjau besarnya pengaruh dari tiap variabel bebas
kepada Variabel terikat secara parsial dilaksanakan perhitungan
dengan menggunakan rumus seperti dibawah ini: “
❑
Kd=r 2× 100
Keterangan :
Kd =Koefisien determinasi
r 2❑❑ = Koefisien Korelasi”
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Obyek Penelitian
Penelitilian ini menggunakan objek penelitian variable bebas yang
terbagi atas Profitabilitas , sturukur aktiva , ukuran perusahaan, dan
likuiditas , sedangkan objek penelitian variable dependen adalah strukur
modal perusahaan manufaktur pada sub sector makanan dan minuman
yang tercantum pada BEI periode 2018-2020 .
Bursa Efek Indonesia (BEI) ialah pihak yang menyajikan dan
menyelenggarakan system juga media dalam menjadi penghubung
penawaran beli dan jual efek pihak lainnya yang bertujuan
memperdagangkan Efek mereka.
Pemilihan sampel untuk riset ini didasari dalam teknik Purposive
Sampling, yakni metode penetapan sampel berdasarkan kriteria atau
pertimbangan tertentu . kemudian dari 26 Emiten tersebut, 10 Emiten
digunakan sebagai sampel untuk penelitian ini.
Ciri-ciri kriteria yang dapat digunakan pada peneitian ini ialah
seperti dibawah ini:
1. Emiten sub Sektor makanan dan minuman yang tercantum pada BEI.
2. Emiten yang menyajikan data yang dapat digunakan pada riset
sepanjang elama Periode 2018-2020
3. Emiten yang mendapatkan keuntungan secara terus menerus selama
periode 2018-2020
4. Emiten yang memberikan sajian data laporan keuangan
mempergunakan mata uang Kurs rupiah .
5. Pengambilan sampel riset dapar dideskripsikan dalam table berikut: “
TABEL IV.1
Deskripsi Jumlah
Perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan 26
minuman yang tercantum di BEI
Perusahaan yang tidak menyajikan laporan (10)
keuangan secara lengkap
Perusahaan manufaktur sub sektor makanan dan 10
minuman yang menjadi sampel
Total: (10 perusahaan x 3 periode ) 30
Pengambilan sampel penelitian
Sumber : Diolah penulis 2022”
Berikut adalah daftar emiten sebagai sampel penelitian dan terdaftar
di sub sector makanan dan minuman BEI Periode 2018-2022: “
TABEL IV.2
No Kode Nama Perushaan Tanggal IPO
1 AISA Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk 11-06-1997
2 BUDI PT. Budi Starch & Sweetener Tbk 08-05-1995
3 CLEO PT .SARIGUNA PRIMATIRTA 05-05-2017
4 CEKA PT. Wilmar Cahaya Indonesia Tbk 09-06-1996
5 MYOR PT. Mayora Indah Tbk 04-07-1990
6 INDF [Link] Sukses Makmur Tbk 14-07-1994
7 SKBM PT. Sekar Bumi Tbk. 05-01-1993
Relisting :28-09-2012
8 STTP PT. Siantar Top Tbk 16-12-1996
9 ROTI Nippon Indosari Corpindo Tbk. 28-06-2010
10 ULTJ Ultra Jaya Milk Industry & 02-07-1990
Trading Company Tbk
Sumber: Data diolah Penulis , 2022”
Berikut adalah profil dari 10 Emiten Sub sector makanan dan
minuman :
a. . PT. Tiga Pilar Sejahtera Tbk
PT. Tiga Pilar Sejahtera Tbk perusahaan telah menerapkan visi
menghasilkan makanan lezat Menyediakan konsumen dengan layanan
berkualitas tinggi dengan harga terjangkau. “Mengkonsolidasikan ada dan
kemudian pada tahun 2003 perusahaan ini terdaftar sebagai Perusahaan
yang terdaftar dan berganti nama menjadi PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk
(TPSF) sebagai perusahaan yang tercatat di BEI, kode emiten AISA
melakukan proses backdoor listing melalui akuisisi PT Asia Inti Selera
adalah produsen mie telur dengan merek Ayam 2 Telor. Sesuai dengan
anggaran dasar, ruang lingkup kegiatan perusahaan meliputi perdagangan,
perkebunan, industri, peternakan Pertanian, jasa dan perikanan. Pada saat
yang sama, kegiatan operasi anak perusahaan meliputi: Industri mie dan
perdagangan mie terutama mie instan, mie kering, makanan ringan, Kipas
angin, industri biskuit, kembang gula, perkebunan kelapa sawit, dan lainnya.
CSR dari TPSS implementasikan pada tiap perseroan dan setiap divisi
komunikasi maka menjadi budaya perseroan yang selalu difokuskan dan
menjadi bagian perseroan bagi lingkungan”. Komitmen TPSS ialah
membuat csar selaku bagian benda mental untuk upaya ya mengurangi
permasalahan sosial yang ada di masyarakat dengan anak ancaman terhadap
peningkatan potensi komunitas masyarakat agar selalu dikembangkan
bersama-sama mengarah masa depan menjadi lebih baik. Perusahaan
memiliki harapan agar selalu meningkatkan citra baik dimata pelanggan
sehingga loyalitas pelanggan akan semakin besar. Serta dapat menaikkan
harga nilai perusahaan dan harga saham untuk menjadi daya tarik investor
yang baru.
b. PT. Budi Starch & Sweetener Tbk
“Budi Starch & Sweetener Tbk (dahulu Budi Acid Jaya Tbk) (BU1DI)
berdiri di tanggal 15 Januari 1979. Kantor pusat Budi ada pada lantai 8-9 Jl.
Wisma Budi. Departemen Sumber Daya Manusia. Pabrik Rasuna Said Kav
C-6, Jakarta dan BUDI berlokasi di wilayah Subang, Lampung, Jambi dan
Surabaya. Januari 1981 Budi mulai beroperasi secara komersial
Budi Starch & Sweetener Tbk juga tergabung pada kelompok usaha
Sugai Budi. BUDI memiliki 5%, Sugai Budi memiliki saham (25,03%) dan
PT. Sobat Delta Swakaria (25,03%). Di seluruh perusahaan, BUDI terlibat
Dalam industri kimia dan makanan, produk-produk tersebut antara lain
singkong, kopra, kelapa sawit, ubi jalar, dan produk pertanian lainnya serta
turunan dari industri lain, khususnya produksi plastik. Produk utama BUDI
ialah penjualan dan pembuatan tepung tapioka, glukosa dan fruktosa,
maltodekstrin, kantong plastik, asam sitrat, sorbitol, asam sulfat serta bahan
kimia lainnya”.
“Visi menjadi produsen berbahan dasar singkong terintegrasi dengan
menerapakan konsep “Lingkungan Hijau”.
“Misi ingin meningkatkan persaingan perusahaan dengan
menjalankan efisiensi biaya produksi dan melakukan konversi limbah cair
menjadi listrik, limbah padat menjadi pupuk organik. Pengembangan
berbagai produk dengan bahan baku singkong dan bibit unggul singkong.
Pertumbuhan yang berkesinambungan baik dengan pembangunan pabrik
baru atau dengan akuisisi perusahaan yang sama”.
BUDI mendapatkan penawaran menarik dari BAPEMPAM-LK untuk
melakukan perdana saham tanggal 31 Maret 1995 Kepada masyarakat ,
Harga Persaham di tawarkan Rp. 3.000,- Persaham dan tercatat di Bursa
Efek Indonesia 05- Mei – 1995.
c. PT .Sariguna Primatirta
“Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) berdiri di tanggal 10 Maret 1998
sebagai PT. Sari Guna mulai berjalan secara komersial pada tahun 2003.
CLEO dengan kantor pusat di Jln. Raya A. Yani 41-43, Kompleks Central
Square Blok C-1 Gedangan Sidoarjo 61254- Indonesia.
Stakeholder yang mempunyai 5% atau lebih saham Sariguna
Primatirta Tbk, yaitu: PT. Transcorp Senatral Abadi (dahulu PT Global
Sentral Abadi) (51,64%) dan PT Transcorp Global Sentosa (dahulu PT
Global Sukses Makmur Sentosa) (27,91%) Perusahaan induknya adalah PT
Transcrop Sentral Abadi dan induk perusahaan terakhirnya adalah PT
Transcrop Global Sentosa”.
Visi menjadi perusahaan minuman nasional terkemuka di Indonesia.
Misinya adalah memproduksi minuman dengan kualitas tinggi, mudah
dan inovatif ditemukan dengan tahapan produksi yang memenuhi standar
internasional dan mempunyai integrasi dengan jaringan manufaktur di seluruh
Indonesia.
Lingkup kegiatan CLEO beroperasi pada bidang industri air minum dalam
kemasan.
demineralisasi (AMDK-DM) Sariguna Primatirta Tbk menggunakan merek
dagang "cleo" yang diolah dari mata air pegunungan Arjuna di Pandaan-Jawa
Timur, perusahaan mempunyai 96 gudang logistik dan 22 pabrik di bawah
“PT Sentralsari Prima Sentosa (Afiliasi), di wilayah Indonesia. CLEO di
tanggal 21 April 2017, perusahaan mendapat pernyataan yang sah dari OJK
agar penawaran umum perdana (IPO) sejumlah 450.000.000 saham yang
bernominal masing-masing Rp 100 dengan harga emisi Rp 115,- per saham.
Saham tersebut dicatatkan di BEI pada 5 Mei 2017”.
d. PT. Wilmar Cahaya Indonesia Tbk
“PT. Wilmar Cahaya Indonesia Tbk sebelumnya Cahaya Kalbar Tbk)
(CEKA) berdiri di tanggal 03 Februari 1968 yang bernama (CV Tjahaja
Kalbar) Operasi komersial diawali di tahun 1971. Kantor pusat CEKA ada
pada kawasan industri Jl. Jababeka II. South Industry 3 Block GG No.1,
Cikarang, Bekasi 17550, Jawa Barat – Indonesia, sementara pabrik berlokasi
di Kawasan Industri Jababeka, Pontianak, Kalimantan Barat dan Cikarang,
Jawa Barat.
Wilmar Cahaya Indonesia Tbk adalah perusahaan dari Wilmar
International Limited Kelompok. Wilmar International Limited ialah
perusahaan yang tercantum pada Bursa Efek Singapura. Aktivitas CEKA
menurut Anggaran Dasar, melingkup industri makanan, diantaranya industri
minyak nabati (minyak sawit dan turunannya), minyak denkavan, biji
denkavan, serta minyak nabati khusus bagi industri makanan dan minuman.
Perdagangan lokal, ekspor, impor. Sekarang produk utama yang dihasilkan
oleh CEKA ialah Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel serta turunannya”.
e. PT. Mayora Indah Tbk
“PT. Mayora Indah Tbk Mayora Indah Tbk (MYOR) berdiri pada 17
Februari 1977 serta mulai berjalan di tanggal Mei 1978. Mayora berkantor
pusat di Gedung Mayora, [Link] Raya No.21-23, Jakarta 11440-
Indonesia, dan pabriknya berlokasi di Bekasi dan Tangerang, Indonesia. 5%
saham MYOR dimiliki oleh PT Unita Branindo (32,93%), Jogi Hendra
Atmadja (25,22%) dan PT Mayora Dhana Utama (26,14%).” MYOR sendiri
bergerak di bidang industri, keagenan dan perdagangan. Sekarang Mayora
bergerak di bisnis biskuit (Sari Gandum, Royal Choice, Danisa, Roma,
Better, Slai O Lai, Much Better, Chees'Kress, Coffeejoy, Sari Gandum
Sandwich), confectionery (Kis, Kopiko, Juizy dan Tamarin), kopi (Kopiko
dan Torabika) wafer (Roma, Astor, Beng-beng,) coklat (Choki-choki), dan
makanan kesehatan (Energen), dan menjual produknya di pasar luar negeri
dan dalam negeri.
Visi & Misi ingin menjadi produsen minuman dan makanan yang
terpercaya dan berkualitas di mata konsumen domestic atau international
sehingga menguasai pangsa pasar yang berkategori sejenis. Mendapatkan
Keuntungan Operasi diaatas rata-rata industri dan memberi pendapatan yang
optimal untuk stakeholder perusahaan dan memberikan kontribusi baik
terhadap perusahaan berada.
MYOR mendapatkan pernyataan pertama sahamnya pada 25 Mei 1990
dengan harga saham Rp 1.000,- / saham dengan harga penawaran Rp 9.300,- /
Saham dan telah dicatat oleh BEI Pada 04 Juli 1990.
d. [Link] Sukses Makmur Tbk
“[Link] Sukses Makmur Tbk telah berdiri sejak 14 Agustus 1990
yang sebelumnya bernama PT Pangan Jaya Intikusuma Sejak tahun 1990 telah
melakukan usaha . Kantor Pusat Indofood Berada di Sudirman Plaza Tower
Lantai 21. , Jl Jendral sudirman Kav. 76-78, Jakarta 12910- Indonesia ,
sedangkan pabrik dan perkebunan Indofood berlokasi berbagai tempat di
Indonesia.
[Link] Sukses Makmur Tbk memiliki induk Perusahaan yaitu
CAB Holding Limited ( Miliki 50 , 07 % sama Indofood), Seychelles, INDF
Juga memiliki anak induk yang terakhir yaitu First Pasific Company Limited
(FP) , Di Hongkong .
[Link] Sukses Makmur beroperasi di industri makanan olahan,
bumbu, kemasan, minuman ringan, minyak nabati, pengolahan biji-bijian
gandum dan manufaktur tekstil kantong gandum. Indofood dikenal luas
dengan nama dan merek, termasuk mie instan (sarimi, supermi, pop mie,
sakura, indomi, sohun pop dan mie telurdengan 3 cap ayam), produk susu
(indomilk champ, tiga sapi, indomilk), calci skim, indoeskrim dan orchid
butter), snack (lays, Chitato, cheetoos, qtela, dan jets), penyedap makanan
(plate lombok, indofood, indofood maggi dan racik), makanan bernutrisi dan
speciality (SUN, promina, Provita dan Govit) ), minuman (ichi ocha, tekita,
cafela, club, 7up, tropicana twister, fruitamin dan indofood freiss), tepung
terigu dan pasta (Twin Cakra, Blue Triangle, Blue Kuaci, red badge, chesa, la
fonte), minyak goreng dan mentega (Palmia dan Bimmery).
Tahun 1994 Indofood Mendapatkan penawaran dari BAPEPAN -LK
dalam melaksanakan penawaran pertama sahamnya kepada masyarakat
dengan nominal Rp 1.000,- / saham dengan harga penawaran Rp 6.200,- /
Saham dan telah dicatat oleh Bursa Efek Indonesia Pada 14 Juli 1994.”
f. PT. Sekar Bumi Tbk.
“Sekar Bumi Tbk (SKBM) didirikan pada 12 April 1973 mulai
berjalan secara komersial di tahun 1974. Kantor pusat SKBM berlokasi di
Plaza Asia, Lt.2 Jl. Jend. Sudirman Kav.59, Jakarta 12190- Indonesia dan
pabrik berlokasi di [Link] 2 No.17 Waru, Sidoarjo serta tambak di Bone
dan Maros, Sulawesi.
SKBM Usaha yang dimiliki SKBM adalah kegiatan di bidang hasil
perikanan laut dan darat, hasil pertanian dan pengolahan peternakan. Sekar
Bumi memiliki 2 unit usaha yaitu Frozen Value Added Seafood (Udang,
Ikan, Cumi, dll) dan Makanan Olahan Beku (Dim Sum, Udang Berlapis
Tepung, Bakso Seafood, Sosis, dll). Selain itu, melalui anak perusahaan
tersebut, Sekar Bumi, menghasilkan produksi pakan udang, pakan ikan,
produk kacang tanah dan kacang mete. Produk Sekar Bumi diperjualkan
dengan bermacam merek diantaranya SKB, Mitraku dan Bumifood dengan
visi menjadi pemimpin pasar bagi industri makanan beku sambil
mengembangkan usaha yang berkualitas.
Misi berkomitmen untuk tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Praktik
CSR kami bersifat amal, etis dan ramah lingkungan. Dari membantu dan
menyumbang hingga amal hingga memulai bisnis lingkungan, kami berupaya
supaya melaksanakan dengan memberi kembali terhadap masyakat dan
lingkungan sekitar .
Pada Tanggal 18 September 1995 Sekar Bumi Tbk (SKBM) untuk melakukan
penawaran pertama sahamnya kepada masyarakat dan telah dicatat oleh Bursa
Efek Indonesia Pada 05 Januari 1993. Lalu 15 September 1999 Dihapus dari
BEI, di tanggal 24 September .”
g. PT. Siantar Top Tbk
“PT. Siantar Top Tbk berdiri di tanggal 12 Mei 1987 serta memulai
berjalan dengan komersial di bulan September 1898. Kantor pusat Siantar Top
berlokasi di Jl. Tambak Sawah No. 21-23 Waru , Sidoarjo Dengan pabrik
bertempat Di Sidoarjo, Bekasi, Medan, dan Makassar.
Stake holder yang mempunyai 5% ataupun lebih dengan kepemilikan sebesar
56,76% . Ruang Lingkup aktivitas Siantar Top yang berjalan di bidang
industry makanan ringan yakni kerupuk, mie, biskuit, wafer dan kembang gula.
Visi menjadi perusahaan terkemuka yang terus berkembang dan untuk
mencapai kepuasan bersama.
Misinya adalah menjadi pelopor perusahaan produk dengan ahli rasa,
menawarkan harga yang kompetitif, menjamin kualitas dan legalitas halal, dan
berkontribusi untuk kebaikan bersama.
STTP di tanggal 25 November 1996, mendapatkan pernyataan yang sah
dari Bapepam-LK agar penawaran umum perdana saham STTP (IPO) terhadap
masyarakat 27.000.000 saham yang bernilai nominal Rp1.000 per saham dan
harga emisi Rp2.200 per saham. Saham tersebut tertera pada Bursa Efek
Indonesia (BEI) di tanggal 16 Desember 1996”.
h. Nippon Indosari Corpindo Tbk.
“Nippon Indosari Corpindo Tbk. (ROTI) berditi pada tanggal 08 Maret
1995 yang sebelumnya PT. Nippon Indosari serta mulai berjalan di tahun 1996 .
kantor pusat serta sebuah pabrik ROTI berlokasi di kawasan industri MM 2100
Jl. Selayar Blok A9, Desa Mekarwangi , Cikarang barat , Bekasi Jawa barat
Indonesia
5% saham Nippon Indosari CorpindoTbk dimiliki sang Indoritel
Makmur International Tbk (DNET) (25,77%), Demeter Indo Investment Pte.
Ltd. (18,05%) Bonlight Investments, Ltd. (20,79%), dan Pasco Shikishima
Corporation (8,50%). Ruang lingkup bisnis ROTI berkiprah pada bidang
pabrikasi, penjualan & distribusi roti & minuman, termasuk namun nir terbatas
dalam macam-macam roti, roti tawar, roti isi & segala macam jenis kudapan
manis lainnya dan segala jenis minuman ringan, termasuk namun nir terbatas
dalam minuman sari buah, minuman berbahan dasar susu & minuman lainnya.
Sekarang, kegiatan usaha primer ROTI ialah pabrikasi, distribusi dan penjualan
roti (roti tawar, roti berlapis, roti manis, cake & bread crumb) mempergunakan
merek” “ Sari Roti”.
Visi & Misi perusahaan merupakan selalu mempertahankan posisi dan
tumbuh menjadi perusahaan roti paling besar pada Indonesia menggunakan
memakai jaringan distribusi yg luas buat menjangkau konsumean pada semua
indonesia. Misi menghasilkan & mendistribusikan majemuk produk yg halal,
berkualitas tinggi, bersih & terjangkau bagi semua konsumen Indonesia.
“Tanggal 18 Juni 2010, ROTI mendapat ijin Pernyataan efektif
menurut Bapepam-LK buat melakukan Penawaran Umum Perdana Saham
(IPO) Kepada rakyat sebesar 151.854.000 menggunakan nilai nominal
Rp100,- per saham menggunakan harga penawaran Rp1.250,- per saham.
Saham-saham tadi dicatatkan dalam Bursa BEI pada lepas 28 Juni 2010”.
i. Ultra Jaya Milk Industry &Trading Company Tbk
“Ultrajaya Milk Industry & Tranding Company Tbk (ULTJ)
didirikan lepas 2 November 1971 & mulai beroperasi secara komersial dalam
athun baru 1974. Kantor sentra & pabrik UltraJaya berlokasi pada Jl. Raya
Cimareme 131 Padalarang- 40552, Kab. Bandung Barat- Indonesia.
Pemegang saham mempunyai 5% atau lebih saham Ultra Jaya Milk
Industry & Trading Company Tbk, yaitu: Tuan Sabana Prawirawidjaja
(31,79%), PT Prawirawidjaja Prakarsa (21,40%) & PT Indolife Pensiontana
(14,98%). Ruang lingkup aktivitas Ultrajaya beranjak pada industri kuliner &
minuman, & bidang perdagangan. Di bidang minuman Ultrajaya menghasilkan
rupa-rupa jenis minuman misalnya susu cair, sari buah, the, minuman
tradisional, & minuman kesehatan, yg diolah menggunakan teknologi UHT
( Ultra Hight Temperature) & dikemas pada bungkus karton aseptik. Di bidang
kuliner Ultrajaya menghasilkan susu kental manis, susu bubuk, & konsentrat
buah-buahan tropis.
Merek-merek primer produk Ultrajaya antara lain : susu cair (Ultra Milk,
Ultra Mimi, Susu Sehat, Low Fat Hi Cal), teh ( The kotak & the bunga),
minuman kesehatan & lainnya (Sari asem, sari kacang ijo & coco pandan
drink), susu bubuk (morinaga, diproduksi buat PT Sanghiang perkasa yg adalah
anak bisnis berdasarkan kalbe farma Tbk (KLBF), susu kental manis (Cap
sapi), & konsentrat buah-buahan (ultra) dan perjanjian produksi menggunakan
Unilever Indonesia Tbk (UNVR) buat menghasilkan & mengemas minuman
UHT menggunakan merek dagang Buavita & Go- Go.
Visi sebagai perusahaan industri kuliner & minuman yg terbaik &
terbesar pada indonesia, menggunakan senantiasa mengutamakan kepuasan
konsumen, & menjunjung tinggi agama para pemegang saham dan kawan kerja
perusahaan.
Misi menjalankan bisnis yg dilandasi menggunakan kepekaan yg tinggi
buat senantiasa berorientasi pada pasar atau konsumen, & kepekaan dan
kepedulian buat senantiasa memperhatikan lingkungan yg dilakukan secara
optimal supaya menaruh nilai tambah menjadi wujud pertanggung jawaban
pada pemegang saham.
Tanggal 15 Mei 1990, ULTJ memperoleh ijin meneteri keuangan Republik
Indonesia buat melakukan penawaran generik perdana saham ULTJ (IPO) pada
warga sebesar 6.000.000 saham menggunakan nilai nominal Rp1.000,- per
saham menggunakan harg penawaran Rp7.500 per saham. Saham-saham tadi
dicatatkan dalam Bursa Efek Indonesia (BEI) lepas dua Juli 1990”.
B. Analisis Data
1. Hasil Analisis Statistik Deskriptif
Setelah penjelasan pengolahan data dan pengujian statistika
mempergunakan SPSS 20, sehingga hasil statistika yang didapatkan dari data
variabel yang dipergunakan pada riset ini ialah seperti dibawah ini: “
TABEL IV. 3
Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
X1_Struktur Aktiva 30 12,63 80,66 49,0363 21,79231
X2_ROA 30 ,05 18,23 8,4817 5,30723
X3_Ukuran Perusahaan
30 20,54 32,73 25,3123 3,88949
(Juta)
X4_Likuiditas 30 100,32 511,30 246,7760 130,15964
Y_Stuktur Modal 30 16,35 176,60 66,7797 38,86880
Valid N (listwise) 30
Sumber : Data Diolah SPSS 22”
1. Debt To Equity Ratio ( DER) (Y)
Temuan uji statistic deskriptif menggunakan SPSS 22 pada Tabel IV.3
menunjukan bahwa nilai minimum DER 16,35 dan nilai Maksimum 176,60
Perihal Ini memperlihatkan Debt-to-Equity Ratio (DER) dalam sampel riset ini
dengan kisaran diantara 16,35 hingga 176,60, rata-rata (mean) 66,7797 dengan
standar deviasi 38,86880. lebih berarti lebih besar dari standar deviasi, yang
berarti Nilai debt-to-equity ratio (DER) terdistribusi dengan baik.
2. Strukur Aktiva (SA) (X1)
Temuan uji statistika deskriptif dalam tabel 3 memperlihatkan bahwa nilai
minimal struktur aktiva (SA) sejumlah 12,63 dan nilai maksimal sejumlah 80,66
Perihal ini memperlihatkan bahwa jumlah struktur aktiva (SA) dalam sampel riset
ini berkisaran diantara 12,63 hingga 80,66 dengan mean (rata-rata) 49,0363 dalam
standar deviasi sejumlah 21,79231 Nilai mean (rata-rata) lebih tinggi dari standar
deviasi yakni 49,0363 > 21,79231 yang mendefenisikan bahwa sebaran nilai
struktur aktiva (SA) baik.
3. Profitabilitas (ROA)(X2)
Temuan uji statistika deskriptif dalam tabel 3 memperlihatkan bahwa nilai
minimum ROA sejumlah 0,5 dan nilai maksimal sejumlah 18,23. Perihal ini
memperlihatkan bahwa jumlah Return On Asset (ROA) dalam sampel riset ini
berkisaran diantara 0,5 hingga 18,23 dengan mean (rata-rata) 8,4817 dalam standar
deviasi sejumlah 5,30723. Nilai mean (rata-rata) lebih tinggi dari standar deviasi
yakni 8,4817 > 5,30723 yang mendefenisikan bahwa sebaran nilai ROA baik.
4. Ukuran Perusahaan (SIZE)( X3)
Temuan uji statistika deskriptif dalam tabel 3 memperlihatkan bahwa nilai
minimum ukuran perusahaan (SIZE) sejumlah 20,54 dan nilai maksimum sejumlah
32,73. Perihal ini memperlihatkan bahwa jumlah SIZE dalam sampel riset ini
dengan kisaran diantara 20,54 hingga 32,73 dengan mean (rata-rata) 25,3123
dalam standar deviasi sejumlah 3,88949
5. Likuiditas/Current Ratio (CR)(X4)
Temuan uji statistika deskriptif dalam tabel 3 memperlihatkan bahwa nilai
minimum Current Ratio (CR) sejumlah 100,32 serta nilai maksimum sejumlah
522,30 Perihal ini memperlihatkan bahwa jumlah CR dalam sampel riset ini
dengan kisaran diantara 100,32 hingga 522,30 dengan mean (rata-rata) 246,7760
dalam standar deviasi sejumlah 130,15964. Nilai mean (rata-rata) lebih tinggi dari
standar deviasi yakni 246,7760 > 130,15964 yang mendefenisikan bahwa sebaran
nilai CR baik.
C. Hasil Analisis Data
1. Uji Asumsi Klasik
Pengujian asumsi klasik dilaksanakan dengan bermacam cara dan jenis uji. Uji
coba ini di melingkupi pengujian heteroskedastisitas, pengujian
multikolinearitas, uji normalitas dan pengujian [Link]-tahapan
dalam melakukan pengujian asumsi klasik ini ialah seperti dibawah ini:
a. Uji Normalitas
Pengujian Normalitas merupakan cara dalam menelurusi suatu model
regresi terdistribusi normal ataupun tidak. Dengan metode
Kolmogorov_Smirnov, Suatu model regresi dinyatakan terdistribusi normal
bila nilai Asymp. Sig. (2 tailed) > 0,05 “
TABEL IV. 4
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N 30
Normal Parameters a,b
Mean ,0000000
Std. Deviation 26,93824383
Most Extreme Differences Absolute ,175
Positive ,175
Negative -,082
Test Statistic ,175
Asymp. Sig. (2-tailed) ,020c
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Sumber : Data Diolah SPSS 22”
Menurut Tabel diatas dengan menggunakan Metode Kolmogorov Smirnov ,
didapatkan nilai Asymp. Sig (2_tailed) Atau dinyatakan signifikan uji tersebut sebesar
0,20 > 0,05 Dengan demikian , data yang di uji terdistribusi normal.
b. Uji Multikolinearitas
Selaku persyaratan dipergunakannya analisa regresi linear berganda
dilaksanakan pengujian multikolinieritas. Hal ini bertujuan dalam menelusuri ada atau
tidak hubungan di antara variabel bebas. Pengujian multikolinieritas dilaksanakan
dengan meninjau nilai pengujian multikolinearitas VIF dan nilai tolerance. Apabila nilai
VIF ataupun nilai tolerance mendekati atau ada disekitar nilai 1 sehingga variabel
independen tidak ada multikolinearitas. Nilai yang menunjukkan adanya
multikolinieritas adalah nilai Tolerance ≥ 0,1 dan nilai VIF ≤ 10. Hasil pengujian
multikolinieritas tergambar pada tabel dibawah ini: “
TABEL IV. 5
Hasil Uji Multikolinearitas
Coefficientsa
Collinearity Statistics
Model Tolerance VIF
1 X1_Struktur Aktiva ,641 1,559
X2_ROA ,435 2,298
X3_Ukuran Perusahaan ,440 2,274
X4_Likuiditas ,494 2,023
a. Dependent Variable: Y_Stuktur Modal
Sumber : Data Diolah SPSS 22”
Menurut pengujian multikolinieritas dalam tabel 5, hasil kelakulasi
memperlihatkan bahwa seluruh variabel bebas bernilai Tolerance ≥ 0,1 serta nilai VIF
≤ 10, maka kesimpulannya bahwa model regresi dalam riset ini tidak ada
multikolinieritas dan model regresi baik untuk dipergunakan.
c. Uji Heteroskedastisitas
Pengujian Heteroskedastisitas mempunyai tujuan dalam melakukan pengujian
pada model regresi ada ketidaksamaan variance dari residual satu observasi ke
observasi yang lainnya. Uji coba dilaksanakan dengan pengujian Glejser yakni dengan
melakukan regresi variabel bebas kepada absolute residual. Standar yang dipergunakan
dalam menjelaskan terjadi heteroskedastisitas ataupun tidak diantara data observasi
dapat dijabarkan dengan mempergunakan koefisien signifikansi. Koefisien signifikansi
harus diperbandingkan dengan taraf signifikansi yang ditentukan sebelumnya (𝖺 = 5%).
Hipotesis yang dipergunakan pada uji coba heteroskedastisitas ialah seperti
dibawah ini:
H0 : Tidak ada heteroskedastisitas
Ha : Ada heteroskedastisitas
Landasan dalam membuat keputusan ialah, apabila signifikansi < 0,05 sehingga
H0 ditolak (terdapat heteroskedastisitas). Bila signifikansi > 0,05 sehingga H0 diterima
(tidak terdapat heteroskedastisitas). Temuan uji yang didapatkan ialah seperti dibawah
ini: “
TABEL IV. 6
KESIMPULAN
Variabel Sig.
X1_Struktur Aktiva 0,358 Tidak Terjadi
heteroskedastisitas
X2_ROA 0,481 Tidak Terjadi
heteroskedastisitas
X3_Ukuran Perusahaan 0,285 Tidak Terjadi
heteroskedastisitas
X4_Likuiditas 0,011 Tidak Terjadi
heteroskedastisitas
a. Dependent Variable: Y_Stuktur Modal
Hasil Uji Heteroskedastisitas
Sumber : Data Diolah SPSS 22”
Sumber : Data Diolah SPSS 22
d. Uji Autokorelasi
Pengujian Autokorelasi mempunyai tujuan dalam menelurusi pada model regresi
terdapat korelasi diantara kesalahan pengganggu dalam periode t dengan periode t-1
(sebelumnya). Baiknya model regresi merupakan yang tidak terdapat autokorelasi. Alat
ukur yang dipergunakan ialah tes Durbin Watson (D-W). Temuan pengujian
autokorelasi dapat ditinjau di tabel dibawah ini: “
Tabel 7. Uji Autokorelasi
TABEL IV. 7
Uji AutoKorelasi
Model Durbin- Kesimpulan
Watson
1 2.2614 Tidak Terjadi Autokorelasi
Sumber : Data Diolah SPSS 22”
Temuan pengujian autokorelasi dalam tabel 7 memperlihatkan bahwa nilai DW
sejumlah 2.2614 Nilai ini akan diperbandingkan dengan nilai tabel “Durbin Watson d
Statistic: Significance Points for dl and du at 0,05 Level of Significance” dengan
mempergunakan nilai signifikansi 5%, yang berjumlah sampel 30 (n = 30) dan jumlah
variabel bebas 4 (k = 4), sehingga dari tabel Durbin-Watson didapatkan nilai batas
bawah (dl) sejumlah 1.1426 serta nilai batas atas (du) sejumlah 1.7386.
Nilai DW yaitu 2.2614 lebih tinggi dari batasan atas (du) 1.7386. dan kurang
dari 4 - 1.7386 (4 - du). Apabila ditinjau dari pembuatan keputusan, hasil tersebut
diantaranya pada ketetapan du ≤ d ≤ (4-du), maka kesimpulannya bahwa 1.7386≤
2.2614 ≤ (4 - 1.7386) menerima H0 yang menjelaskan bahwa tidak terdapat
autokorelasi negatif atau positif menurut tabel Durbin-Watson. Perihal ini
memperliharkan bahwa tidak ada autokorelasi, maka model regresi layak dipergunakan.
2. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda
Analisa regresi linear berganda dipergunakan dalam mengamati berbagai faktor yang
mempengaruhi di antara variabel bebas kepada variabel terikat. Hal ini yang mana
variabel bebas yang dipergunakan pada riset ini lebih dari satu. Model persamaan
regresi linier berganda adalah: “
TABEL IV. 8
Hasil Uji Regresi Linear Berganda
Sumber : Data Diolah SPSS 22”
Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) 72,270 66,193 1,092 ,285
X1_Struktur Aktiva 72,270 ,309 -,162 -,936 ,358
X2_ROA -1,101 1,539 -,150 -,716 ,481
X3_Ukuran Perusahaan 2,284 2,089 ,229 1,094 ,285
X4_Likuiditas
-,161 ,059 -,540 -2,740 ,001
a. Dependent Variable: Y_Stuktur Modal
Temuan uji coba analisa regresi linier berganda dapat d i j a b a r k a n dengan
persamaan dibawah ini:
Y = 72,270 + 72,270 SA- 1,101 ROA+2,284 SIZE-0,161 CR+e
3. Hasil Pengujiann Hipotesis
a. Uji Parsial (Uji t)
Bagi kepentingan uji coba hipotesis harus dilaksanakan terlebih dahulu analisa
statistik dari data yang didapatkan. Analisa statistik yang dipergunakan pada riset ini
ialah analisa depresi Apa tipe tesis pada riset ini akan diuji mempergunakan pengujian
parsial (pengujian t). Teknis ini memiliki tujuan dalam menelusuri secara parsial atau
individu variabel bebas mempengaruhi kepada variabel terikat. Pengujian teh
dilaksanakan pada taraf kepercayaan sejumlah 95% ataupun α = 5%. Keputusan uji
hipotesis secara terpisah dilaksanakan dengan ketetapan antara lain:
1) Jika tingkat signifikansi > 5% sehingga H0 diterima dan Ha ditolak.
2)
Bila tingkat signifikansi < 5% sehinga H0 ditolak dan Ha diterima.
Menurut tabel 8, sehingga pengaruh Struktur Aktiva, Likuiditas, Profitabilitas
dan Ukuran Perusahaan, atas Struktur Modal dapat dijabarkan seperti dibawah ini:
1. Pengujian Hipotesis pertama
Dari hasil kalkulasi ini dapat ditinjau bahwa hasil pengujian t bagi variabel
Struktur Aktiva didapatkan tingkat nilai signifikansi sejumlah 0,358. Landasan
dalam membuat keputusan bagi variabel Struktur Aktiva adalah seperti dibawah
ini:
H0: jika nilai signifikansi > tingkat signifikansi (Sig>0,05) sehingga tidak terdapat
pengaruh Struktur Aktiva terhadap struktur modal pada emiten food and beverages
yang periode 2018-2020.
H1: Apabila nilai signifikansi < tingkat signifikansi (Sig<0,05) maka terdapat
pengaruh Struktur Aktiva kepada struktur modal dalam emiten food and
beverages periode 2018- 2020.
Dengan menggunakan dasar keputusan seperti diatas pada uji ini diperoleh
nilai Sig t untuk Struktur Aktiva sebesar 0,358 nilai tersebut lebih besar dari
tingkat signifikan nya (0,358 >0,05), dengan demikian dapat disimpulkan yang
artinya menolak H1 dan menerima H0. Sehingga hipotesis yang menjelaskan
Struktur Aktiva tidak mempengaruhi kepada Struktur Modal tidak terbukti
2. Pengujian Hipotesis kedua
Menurut hasil kalkulasi ini dapat ditinjau bahwa hasil pengjian t bagi variabel
Return On Asset ( ROA ) didapatkan tingkat nilai signifikansi sebesar 0,481.
Dasar pengambilan keputusan untuk variabel Return On Asset adalah sebagai
berikut :
H0: Apabila nilai signifikasi > tingkat signifikasi (Sig >0,5) maka tidak
terdapat pengaruh Retrun On Asset terhadap struktur modal pada emiten food and
beverages periode 2018-2020
H1: jika nilai signifikansi < tingkat signifikansi (Sig <0,05) maka terdapat
pengaruh Return On Asset terhadap struktur modal ada emiten food and
beverages periode 2018- 2020.
Dengan menggunakan dasar keputusan seperti diatas Pada uji ini diperoleh
nilai sig. t untuk ROA sebesar 0,481 nilai tersebut lebih besar dari tingkat
signifikannya (0,481>0,05), dengan demikian dapat disimpulkan yang artinya
menolak H1 dan menerima H0. Maka hipotesis yang menyatakan Return On
Assets berpengaruh terhadap struktur modal tidak terbukti
3. Pengujian Hipotesis ketiga
Menurut temuan kalkulasi ini dapat ditinjau bahwa hasil pengujian t bagi
variabel Ukuran Perusahaan ( Size ) didapatkan jenjang nilai signifikansi
sejumlah 0,285. Dasar pengambilan keputusan untuk variabel Ukuran Perusahaan
( Size ) ialah seperti dibawah ini:
H0: Apabila nilai signifikasi > tingkat signifikasi (Sig >0,5) maka tidak
terdapat pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap struktur modal pada emiten food
and beverages periode 2018-2020
H1: Apabila nilai signifikansi < tingkat signifikansi (Sig <0,05) maka terdapat
pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap struktur modal ada emiten food and
beverages periode 2018- 2020.
Dengan menggunakan dasar keputusan seperti diatas Pada uji ini diperoleh
nilai sig. t untuk Size sebesar 0,285 nilai tersebut lebih besar dari tingkat
signifikannya (0,285>0,05), dengan demikian dapat disimpulkan yang artinya
menolak H1 dan menerima H0. Sehingga hipotesis yang menjelaskan Ukuran
Perusahaan mempengaruhi kepada struktur modal tidak terbukti
4. Pengujian Hipotesis keempat
Menurut hasil kalkulasi ini dapat ditinjau bahwa hasil pengujian t bagi variabel
Likuiditas (CR) didapatkan tingkat nilai signifikansi sejumlah 0,001. Landasan
dalam membuat keputusan bagi variabel Likuiditas (CR) adalah sebagai berikut :
H0: Apabila nilai signifikasi > tingkat signifikasi (Sig >0,5) maka tidak
terdapat pengaruh Likuiditas (CR) terhadap struktur modal pada emiten food and
beverages periode 2018-2020
H1: Apabila nilai signifikansi < tingkat signifikansi (Sig <0,05) maka terdapat
pengaruh Likuiditas (CR) terhadap struktur modal ada emiten food and beverages
periode 2018- 2020.
Dengan menggunakan dasar keputusan seperti diatas Pada uji ini diperoleh
nilai sig. t untuk CR sebesar 0,001 nilai tersebut lebih kecil dari tingkat
signifikannya (0,001<0,05), dengan demikian dapat disimpulkan yang artinya
menolak HO dan menerima H1. Maka hipotesis yang menyatakan Ukuran
Perusahaan berpengaruh terhadap struktur modal .
b. Uji Simultan ( Uji F)
Pengujian statistik F secara mendasar dipergunakan dalam memperlihatkan
kepada seluruh variabel bebas atau independen yang termasuk pada model
memiliki pengaruh secara simultan atau bersamaan kepada variabel terikat atau
dependen. Uji coba simultan dilaksanakan juga dalam melakukan pengujian
ketepatan model regresi. Temuan kalkulasi pengujian pada riset ini dapat ditinjau
seperti dibawah ini; “
TABEL IV. 9
Uji F Statistik
ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 22768,327 4 5692,082 6,762 ,001b
Residual 21044,400 25 841,776
Total 43812,727 29
a. Dependent Variable: Y_Stuktur Modal
b. Predictors: (Constant), X4_Likuiditas, X2_ROA, X1_Struktur Aktiva, X3_Ukuran Perusahaan
Sumber : Data Diolah SPSS 22”
Menurut tabel 9 dapat ditinjau terdapatnya pengaruh struktur aktiva,
profitabilitas, dan ukuran perusahaan secara bersamaan kepada DER. Menurut
tabel tersebut didapatkan nilai F hitung 6,762 dan signifikansi sejumlah 0,001
maka tergambar nilai signifikansi ini lebih rendah daripada 0,05. Perihal ini
memperlihatkan bahwa pengaruh struktur aktiva ukuran likuiditas perusahaan dan
likuiditas profitabilitas secara bersamaan mempengaruhi kepada struktur modal
(DER) dalam emiten manufaktur di BEI periode 2018-2020.
c. Koefisien Determinasi (Adjusted R Square)
Pengujian statistik F secara dasar dipergunakan dalam memperlihatkan pada
seluruh variabel bebas atau independen yang termasuk pada model memiliki
pengaruh secara simultan atau persamaan pada Variabel terikat atau variabel
dependen. Temuan kalkulasi pengujian F pada saat ini dapat ditinjau pada gambar
di bawah: “
TABEL IV. 10
Hasil Uji Koefisien Determinasi
Model Summaryb
Adjusted R Std. Error of the
Model R R Square Square Estimate
1 ,721a ,520 ,443 29,01338
a. Predictors: (Constant), X4_Likuiditas, X2_ROA, X1_Struktur Aktiva,
X3_Ukuran Perusahaan
b. Dependent Variable: Y_Stuktur Modal
Sumber : Data Diolah SPSS 22”
Temuan Uji Adjusted R Square dalam riset ini didapatkan nilai sejumlah
0,520 Perihal ini memperlihatkan bahwa struktur modal (DER) terpengaruhi
oleh likuiditas, struktur aktiva, profitabilitas dan ukuran perusahaan, sejumlah
44,3%, sementara sejumlah 55,7% sisanya terpengaruhi oleh faktor lainnya
yang tidak diamati pada riset ini.
[Link]
1. . Pengaruh Struktur Aktiva terhadap struktur Modal (DER)
Temuan analisis statistic variable Struktur Aktiva didapatkan t hitung
dengan nilai -936 dengan signifikansi sejumlah 0,385. Nilai signifikasi lebih
besar dari 0,05 maka kesimpulannya bahwa struktur aktiva tidak mempengaruhi
negative strukur modal (DER).
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa struktur aktiva mempengaruhi
negatif kepada DER. Struktur aktiva emiten yang semakin tinggi sehingga
emiten akan relatif meminimalkan pemakaian pembiayaan eksternal. Pemakaian
sumber pembiayaan utang atau eksternal hanya dipergunakan pada saat
pembiayaan internal tidak terpenuhi.
Permasalahan pokok pada pecking order theory merupakan terdapatnya
asimetri informasi. Emiten yang mempunyai proposi aktiva berwujud yang lebih
tinggi penilaian aset tersebut lebih mudah maka masalah asimetri informasi lebih
kecil. Sehingga emiten akan meminimalkan kapasitas pemakaian modal utama
2. Pengaruh Return On Asset (ROA) terhadap strukur modal (DER)
Temuan analisa statistika Variabel ROA didapatkan t hitung dengan nilai -
0,716 yang bertingkat signifikansi sejumlah 0,481. Nilai ini melebihi 0,05 maka
kesimpulannya bahwa ROA mempengaruhi negatif serta tidak mempengaruhi
kepada struktur modal (DER). Temuan riset memperlihatkan bahwa ROA
mempengaruhi negatif kepada DER. Semakin tinggi profitabilitas emiten,
sehingga emiten akan lebih memilih menggunakan pembiayaan dari sumber
internal yakni mempergunakan pendapat yang didpaatkan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan profitabilitas atau
kecilnya profitabilitas profit emiten tidak akan mempengaruhi keputusan emiten.
Tinggi atau rendahnya profitabilitas tidak akan mempengaruhi perimbangan
permodalan emiten. Dengan profitabilitas yang tinggi emiten mungkin
melakukan pedoman hanya dengan laba ditahan yang diharapkan mampu
membiayai kegiatan usahanya. Riset ini sejalan dengan riset sebelumnya oleh I
Kadek Rico Andika (2019) menjelaskan bahwa profitabilitas mempengaruhi
positif namun tidak signifikan
3. Pengaruh Ukuran Perusahaan (Size) terhadap strukur modal (DER)
Temuan analisa statistika variabel ukuran perusahaan (SIZE) didapatkan t
hitung dengan nilai 1.094 yang bertingkat signifikansi sejumlah 0,285. Nilai ini
melebihi 0,05 maka kesimpulanya bahwa ukuran perusahaan (SIZE)
mempengaruhi positif dan tidak berpengaruh kepada struktur modal (DER),
Temuan riset ini memberikan indikasi bahwa ukuran perusahaan yang
semakin besar sehingga akan memerlukan dana eksternal atau utang yang cukup
tinggi dalam mencukupi aktivitas operasional emiten. Emiten besar dapat
dengan mudah memperoleh akses terhadap pasar modal. Hal ini memperlihatkan
bahwa emiten mempunyai kemampuan dan fleksibilitas dalam memperoleh dana
eksternal emiten sehingga akan naik. Temuan riset ini menunjang riset yang
dilaksanakan oleh Marlinah dan Wimelda (2013), akan tetapi riset ini tidak
sesuai dengan riset yang dilaksanakan oleh Hadianto (2010) yang menjelaskan
bahwa ukuran perusahaan mempengaruhi signifikan dan negatif kepada struktur
modal.
4. Pengaruh Likuiditas (CR) terhadap strukur modal (DER)
Temuan analisa statistika variabel likuiditas (CR) didapatkan t hitung bernilai
–2,740 yang bertingkat signifikansi sejumlah 0,001. Nilai tersebut kurang dari
0,05 maka kesimpulannya bahwa likuiditas (CR) mempengaruhi negatif dan
mempengaruhi kepada struktur modal (DER).
Emiten mempunyai likuiditas yang besar sehingga akan melakukan
pemilihan pembiayaan sumber internal terlebih dahulu yakni mempergunakan
harta lancar yang ada dibandingkan harus mempergunakan pembiayaan dari
hutang. Hasil ini menunjam pecking order theory yang menjelaskan bahwa
emiten akan lebih cenderung melakukan pemilihan pemakaian pembiayaan dari
internal yakni mempergunakan aset lancar dalam mencukupi keperluan
pembiayaannya. Tingkat likuiditas emiten yang semakin tinggi akan mengurangi
tingkat pemakaian dana internal sehingga likuiditas mempengaruhi negatif
kepada struktur modal (DER).
5. Pengaruh Struktur Aktiva, Likuiditas, Ukuran Perusahaan, dan
Profitabilitas secara simultan terhadap Struktur Modal
Menurut pengujian simultan tersebut, memperlihatkan bahwa
signifikansi F hitung sejumlah 6,762 yang bersignifikansi 0,001 yang mana
nilai ini kurang 0,05 yang bermakna bahwa model dapat dipergunakan agar
memberi prediksi pengaruh struktur aktiva, likuiditas, profitabilitas dan ukuran
perusahaan kepada struktur modal (DER) perusahaan manufaktur.
Adjusted R Square (Koefisien determinasi) bernilai sejumlah 0,443
ataupun 44,3% memperlihatkan bahwa struktur aktiva, ukuran perusahaan,
current ratio, ROA dapat menjabarka variabel DER sejumlah 44,3%,
sementara sejumlah 55,7% sisanya dijabarkan variabel lain disamping variabel
yang diamati ini.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Menurut hasil uji coba statistika dengan mempergunakan analisis data
melalui SPSS V.22. Riset ini mempunyai tujuan dalam menelurusi Pengaruh
Struktur Aktiva, Likuiditas, Ukuran Perusahaan, dan Profitabilitas kepada
Struktur Modal dalam Emiten Manufaktur yang tertera pada Bursa Efek
Indonesia Periode 2018– 2020.
1. Sturktur Aktiva tidak mempengaruhi kepada Struktur Modal (DER).
Temuan pengujian memperlihatkan yakni bernilai t hitung dari struktur
aktiva sejumlah -0,936 yang bertingkat signifikansi sejumlah 0,285
ataupun lebih tinggi dari 0,05, sehingga hipotesis pertama yang
menjelaskan struktur aktiva tidak mempengaruhi negatif kepada struktur
modal diterima.
2. Likuiditas yang diwakili Current Ratio (CR) mempengaruhi signifikan
dan negatif kepada Struktur Modal (DER). Temuan pengujian bernilai t
hitung CR sejumlah -0,540 yang bertingkat signifikansi sejumlah 0,001.
Maka dari itu hipotesis kedua yang menjelaskan current ratio
mempengaruhi negatif kepada struktur modal diterima.
3. Ukuran Perusahaan mempengaruhi kepada Struktur Modal (DER).
Temuan ini memperlihatkan dengan nilai t hitung dari ukuran perusahaan
sejumlah 1,094 yang bertingkat signifikansi sejumlah 0,285 ataupun
lebih besar 0,05, sehingga hipotesis ketiga yang menjelaskan ukuran
perusahaan tidak mempengaruhi positif kepada struktur modal.
4. Profitabilitas yang diwakili oleh Return On Asset (ROA) mempengaruhi
signifikan dan negatif kepada Struktur Modal yang diwakili oleh Debt to
Equity Ratio (DER). Perihal ini diperlihatkan dengan hasil uji coba yang
menghasilkan nilai t hitung sejumlah -0,716 yang bertingkat signifikansi
sejumlah 0,481 ataupun melebihi 0,05. Maka dari itu hipotesis pada
empat yang menjelaskan return on asset tidak mempengaruhi negatif
kepada struktur modal .
5. Struktur Aktiva, Likuiditas, Ukuran Perusahaan, dan Profitabilitas
berpengaruh dengan bersamaan kepada Struktur Modal. Temuan ini
diperlihatkan dari nilai signifikansi sejumlah 0,001 lebih rendah dari
tingkat signifikansi yang disyaratkan yakni sejumlah 0,05.
Koefisien determinasi (Adjusted R Square) bernilai sejumlah 0,443
ataupun 44,3% memperlihatkan bahwa struktur aktiva, ukuran perusahaan,
current ratio, return on asset dapat menjabarkan variabel DER sejumlah
44,3%, sementara sejumlah 55,7% sisanya dijabarkan variabel lain disamping
variabel yang diajukan pada riset ini.
B. Saran
Saran yang dapat disampaikan kepada emiten ialah emiten diharapkan
membuat keputusan perihal struktur modal dengan meninjau pada tiga
variabel tersebut. Pemakaian dana internal emiten keputusan emiten lebih
memberi keuntungan terhadap emiten pada saat kondisi yang tidak
menguntungkan pada ada beberapa hal lain.
Untuk pengguna laporan keuangan laporan ini termasuk informasi
yang bisa dipergunakan untuk bahan pertimbangan dalam memberikan
prediksi struktur modal. Jangan terdapat informasi keuangan ini sehingga
investor dapat menginformasikan jenjang kinerja dan perkembangan emiten
dimasa mendatang.
Untuk reset berikutnya diharapkan untuk mencukupi presentasi ini
supaya emiten lebih dapat meninjau secara komprehensif pengaruh variabel
penentu struktur modal dan dapat melaksanakan riset dengan
mempergunakan sektor ataupun sub sektor lain.