Keanekaragaman Spesies Kupu-kupu (Lepidoptera) Sebagai Pengembangan Ekowisata
Suranadi.
PENDAHULUAN
Indonesia memiliki potensi pengembangan dan pelestarian sumber daya alam melalui ek
owisata. Ekowisata tersebut berfokus pada pelestarian sumber daya alam dengan strategi kons
ervasi, menjaga ekosistem alami, dan mendorong ekonomi masyarakat setempat (Adharani et
al., 2020).
Konsep wisata pedesaan dapat diidentifikasi melalui berbagai disiplin ilmu (Jaafar dkk.,
2015) . Pariwisata sendiri merupakan media yang tepat untuk merangsang perekonomian
pedesaan baik di negara maju maupun berkembang (Hall & Page, 2014) . Dibandingkan
dengan pariwisata massal, ekowisata dapat menawarkan hubungan sektoral yang lebih baik,
mengurangi kebocoran pariwisata internasional, menciptakan lapangan kerja lokal dan
mendorong pembangunan berkelanjutan. (Belsky, 1999 ; Khan, 1997). Oleh karena itu,
ekowisata merupakan cara konservasi yang populer dalam pembangunan ekonomi,
khususnya di negara-negara berkembang (Campbell, 1999) . Suatu kegiatan wisata dapat
dikatakan sebagai ekowisata apabila telah memenuhi tiga dimensi: (1) dimensi konservasi,
yaitu kegiatan wisata membantu upaya konservasi lokal dengan dampak negatif yang
minimal, (2) dimensi pendidikan, yaitu wisatawan yang mengikuti kegiatan wisata tersebut.
akan mendapatkan pengetahuan tentang ekowisata, kehidupan biologis dan sosial budaya
lokal yang unik, dan (3) dimensi sosial, yaitu masyarakat lokal yangselama ini menjadi aktor
kunci dalam pelaksanaan setiap kegiatan pariwisata (Butarbutar & Soemarno, 2013).
Hutan konservasi TWA Suranadi yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi me
rupakan salah satu contoh pengembangan dan pelestarian sumber daya alam melalui ekowisat
a. Potensi terkait keanekaragaman hayati adalah salah satu persoalan biologi yang menarik un
tuk dikaji (Amelia & Rahmahida 2017). Berdasarkan fakta, Indonesia memiliki keanekaraga
man hayati yang sangat tinggi (Laurance et al., 2023: Van Rintelen et al., 2017: Webb et al.,
2010). Tingginya keanekaragaman hayati di Indonesia memiliki potensi esensial untuk diman
faatkan dalam proses pembelajaran Biologi (Sunarsih et al., 2020). Pembelajaran biologi men
genai keanekaragaman hayati pada dasarnya memiliki topik yang menarik untuk dipelajari ol
eh peserta didik karena aplikasinya sangat terkait dengan kehidupan sehari-hari (Imtihana, 20
21; Schneiderhan & Bogner, 2021). Salah satu potensi yang dapat dijadikan sumber belajar y
aitu Hutan konservasi TWA Suranadi.
Kupu-kupu merupakan kelompok serangga yang termasuk dalam ordo Lepidoptera. Lepi
doptera terdiri dari kata latin “lepis”berarti timbangan dan “pteron”yang artinya sayap. Seran
gga ordo Lepidotera mempunyai sisik pada permukaan sayapnya. Menurut waktu aktifnya, L
epidoptera terbagi menjadi dua subordo, yaitu kupu-kupu (Rhopalocera) yang aktif pada sian
g hari, dan ngengat (Heterocera) yang merupakan serangga malam hari. Sebagai salah satu ne
gara megabiodiversity di dunia, Indonesia memiliki keanekaragaman jenis hewan dan tumbu
han yang tinggi, termasuk keanekaragaman jenis kupu-kupu. Kupu-kupu Indonesia diperkira
kan berjumlah sekitar 2.000 spesies. Dari total 17.000 spesies lepidoptera di dunia, kupu-kup
u hanya mencakup sekitar 10% dari jumlah tersebut, sedangkan sisanya adalah ngengat
(Amanda, et all., 2021). kupu-kupu sebagai satwa liar pada umumnya juga diketahui
memiliki kemampuan beradaptasi terhadap dinamika perubahan, termasuk dinamika
perubahan hutan sebagai habitatnya (Masy’ud, 2019).
Kupu-kupu dapat dibagi dalam superfamili Hesperioidea yang meliputi suku
Hesperiidae dan superfamili Papilionoidea yang terdiri dari suku Papilionidae, Pieridae,
Nymphalidae, Rionidae dan Lycaenidae. Sebagian besar anggota suku Rionidae dijumpai di
Amerika Selatan (Peggie & Amir, 2006). Secara ekologi kupu-kupu memiliki peran dalam
mendominasi rantai makanan dan jala di dalam biomassa dan kekayaan spesies. Adapun
peran yang menguntungkan yaitu, sebagai agen penyerbuk tanaman, pemakan bahan organik,
dan juga sebagai bahan penelitian. Sebagian besar tanaman berbunga (angiospermae),
termasuk banyak spesies pertanian penting, tergantung pada kupu- kupu untuk penyerbukan.
(Ilham, 2018). Oleh karena itu peneliti tertarik melakukan penelitian tentang
Keanekaragaman Spesies Kupu-kupu (Lepidoptera) Sebagai Pengembangan Ekowisata
Suranadi.
REFRENSI
Amanda, A. K., Herwina, H., Dahelmi, & Janra, M. N. (2021). Species composition of butterf
lies (lepidoptera: Rhopalocera) at solok botanical garden, solok, west sumatera, indone
sia. IOP Conference Series.Earth and Environmental Science, 757(1) doi:https://doi.or
g/10.1088/1755-1315/757/1/012077.
B, M., Puteri, A. N., & Ginoga, L. N. (2020). Comparison of species diversity of butterflies b
etween burnt and unburnt land at various levels of post-burnt land age in mount cirema
i national park. IOP Conference Series.Earth and Environmental Science, 528(1) doi:h
ttps://doi.org/10.1088/1755-1315/528/1/012025.
Butarbutar, R., & Soemarno, S. (2013). Environmental effects of ecotourism in Indonesia.
Journal of Indonesian Tourism and Development Studies, 1(3), 97-107.
Jaafar, M., Rasoolimanesh, SM, & Lonik, KAT (2015). Pertumbuhan pariwisata dan
kewirausahaan:Analisis empiris pembangunan dataran tinggi pedesaan.Perspektif
Manajemen Pariwisata,14 (April), 17–24. https://doi.org/10.1016/j.tmp.2015.02.001.
Hall, M. C., & Page, S. J. (2014). The geography of tourism and recreation: Environment,
place and space. Routledge.
Belsky, J. (1999). Misrepresenting Communities: The Politics of Community-based Rural
Ecotourism in Gales Point Manatee, Belize. Rural Sociology, 64, 641–666.
Campbell, L. M. (1999). Ecotourism in rural developing communities. Annals of Tourism
Research, 26(3), 534–553. https://doi.org/10.1016/S0160-7383(99)00005-5.
Ilhamdi, M. L. (2018). Kupu-kupu Taman Wisata Alam Suranadi.
Peggie, D dan Amir, M. 2006. Practical Guide to the Butterflies of Bogor Botanic Garden.
Jakarta: Pusat Penelitian Biologi, LIPI.