BAB III
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum SDN 27 Sungai Rumbai Kabupaten Dharmasraya
1. Sejarah Singkat SDN 27 Sungai Rumbai Kabupaten Dharmasraya
SDN 27 Sungai Rumbai merupakan suatu lembaga pendidikan
dasar yang didirikan pada tahun 2003. Berdirinya SDN 27 Sungai
Rumbai ini diawali dari SDN 14 Sungai Rumbai yang pada waktu itu
jumlah muridnya sebanyak 10 lokal dan satu lokal digunakan untuk
Kantor Cabang Dinas Pendidikan (KCD).
Dengan jumlah murid yang sebanyak itu dan kurangnya
tenaga pendidik serta lokal yang kurang memadai menyebabkan tidak
efektif dan efisiennya proses belajar mengajar.
Dilihat dari segi letak geografis Sekolah Dasar Negeri 14 ini
terletak pada Sentral Kecamatan maka tidaklah mengherankan karena
muridnya begitu banyak yang berasal dari Sebelah Utara seperti dari
Sungai Betung dan dari sebelah selatan Tukum Kecamatan Bungo
Propinsi Jambi.
Melihat kondisi yang seperti ini pemerintah mengambil
kebijaksanaan dengan mendirikan sebuah Sekolah Dasar agar proses
belajar mengajar dapat berjalan sebagaimana mestinya maka pada
tahun 2003 berdirilah SDN 27 Sungai Rumbai yang letaknya ± 2
43
2
kilometer dari SDN 14 Sungai Rumbai dan berdampingan dengan
SMPN 1 Sungai Rumbai.
Setelah bangunan SDN 27 Sungai Rumbai ini siap, maka
siswa SDN 14 Sungai Rumbai dibagi berdasarkan tempat tinggalnya.
Siswa yang tinggal arah pasar sekitar dan Tukum tetap di SDN 14
Sungai Rumbai Sedang siswa yang berasal dari Sungai Betung dan
dekat SMPN sekitarnya dipindahkan ke SDN 27 Sungai Rumbai dan
begitu pula guru sebagian dipindahkan ke SDN 27 Sungai Rumbai.
Kepala Sekolah pada saat itu hingga sekarang dijabat oleh Bapak
Wahiruddin.
2. Bangunan fisik SDN 27 Sungai Rumbai Dharmasraya
Luas tanah SDN 27 Sungai Rumbai lebih kurang 400 meter, di
atas tanah tersebut dibangun ruang belajar berjumlah 6 lokal belajar, 1
ruang kepala sekolah dan 1 ruang majelis guru. Bangunan fisik SDN 27
Sungai Rumbai dapat dikategorikan ke dalam bentuk permanen namun
perlu diadakan perawatan dalam rangka mempertahankan bangunan
yang telah ada. Di samping bangunan sekolah SDN 27 Sungai Rumbai
terdapat sebuah Musholah milik SMPN 1 Sungai Rumbai, di sinilah
oleh guru agama tempat praktek sholat bagi siswa-siswinya.
3. Susunan Personalia SDN 27 Sungai Rumbai
Susunan personalia SDN 27 Sungai Rumbai yang berjumlah 15
orang yang terdiri dari Kepala Sekolah, 1 Wakil Kepala Sekolah, 10
3
orang Guru kelas, 3 Guru bidang studi dan 1 Penjaga Sekolah. Kepala
sekolah mempunyai wewenang sebagai pimpinan dan administrator
sekolah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar struktur
sebagai berikut :
STRUKTUR SDN 27 SUNGAI RUMBAI
Kepala Sekolah
Komite Sekolah
Wakil Kurikulum Wakil Kesiswaan Wakil Sarana dan
Prasarana
Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru
Kelas Kelas Kelas Kelas Kelas Kelas Bid.
VI V IV IIIa, b IIa, b Ia, b Studi
Siswa
Penjaga Sekolah
4. Keadaan Siswa SDN 27 Sungai Rumbai
Keadaan siswa ini dapat ditinjau dari berbagai segi, yaitu:
asalnya lulusannya dan faktor ekonominya. Kebanyakan siswa SDN 27
Sungai Rumbai Jorong Balai Tengah dan Sungai Betung. Dilihat dari
segi kelulusan SDN 27 Sungai Rumbai mampu mendapat peringkat
4
kedua tingkat kecamatan tahun 2006/2007, sedangkan kalau ditinjau
dari segi ekonomi umumnya siswa berekonomi menengah ke atas.
5. Tata Tertib SDN 27 Sungai Rumbai
a. Pada hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis siswa harus memakai pakaian
muslim yang dilengkapi dengan lambang dan lokasi yaitu kemeja
putih lengan panjang dan celana merah panjang bagi laki-laki. Bagi
perempuan memakai baju kurung putih rok merah panjang serta
memakai jilbab putih.
b. Pada hari Jum’at siswa memakai pakaian muslim/muslimah dengan
ketentuan sebagai berikut:
1) untuk putra koko putih dan celana panjang hitam
2) untuk perempuan baju kurung putih rok hitam serta memakai
jilbab warna putih.
c. Pada hari Sabtu siswa harus memakai pakaian pramuka lengkap
dengan atributnya.
6. Mata Pelajaran adalah Pendidikan Agama Islam, Kewarga-negaraan,
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS),
Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes), Kerajinan Kesenian
(Kertakes), Muatan Lokal, Buadaya Alam Minangkabau (BAM), Baca
Tulis Arab Melayu (BTAM) dan Baca Tulis Al-Qur’an (BTA).
5
7. Kegiatan pembelajaran di SDN 27 Sungai Rumbai terdiri dari dua shift
yaitu shift pagi dan shift siang. Shift pagi untuk Kelas I, V dan VI.
Sedangkan Kelas II parallel dengan Kelas I. Setelah kelas I pulang
maka Kelas II langsung mengikuti pelajaran. Dan shif siang kelas III
dan Kelas IV.
Demikianlah sepintas gambaran umum SDN 27 Sungai Rumbai
Kabupaten Dharmasraya.
B. Pelaksanaan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN 27
Sungai Rumbai Kabupaten Dharmasraya
Dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) terbagi kepada beberapa
aktivitas, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Yang
masing-masing juga mempunyai bagian-bagian. Dalam hal ini penulis akan
meneliti bagaimana pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam
oleh guru Pendidikan Agama Islam di SDN 27 Sungai Rumbai Kabupaten
Dharmasraya.
Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pembelajaran
Pendidikan Agama Islam di SDN 27 tersebut penulis melakukan penelitian
dengan melakukan observasi dan wawancara kepada obyek penelitian.
Adapun aspek-aspek yang penulis tanyakan kepada obyek penelitian yaitu
masalah kedisplinan, proses pembelajaran, dan hambatan-hambatan dalam
aktivitas pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN 27
sungai Rumbai adalah sebagai berikut :
6
1. Disiplin
Sebagaimana yang kita ketahui disiplin adalah merupakan
salah satu kunci keberhasilan. Berdasarkan hasil observasi yang penulis
lakukan di lapangan pada hari Senin tanggal 6 Agustus 2007 pukul
07.15 WIB terlihat bahwa disiplin guru Pendidikan Agama Islam di SD
27 baik, dimana guru Pendidikan Agama Islam sudah datang di
sekolah sekitar pukul 07.15 WIB.
Sejalan dengan hasil observasi di atas, Ibu Salma juga
memberikan penjelasan tentang kedisiplinan ini, di mana saat
wawancara dengan penulis pada hari Selasa tanggal 7 pukul 09.30
WIB. beliau mengungkapkan :
“Selama saya mengajar atau selama saya menjadi tenaga
pengajar disini, hal yang sangat saya perhatikan adalah tentang
kedisiplinan. Mengapa demikian ? Karena apabila kita sudah dapat
memberikan contoh disiplin yang baik maka kita akan mudah
memberikan contoh disiplin itu kepada siapa saja. Kalau di sekolah
tentu kita memberikan contoh kedisiplinan itu kepada semua yang
ada di lingkungan sekolah, terutama sekali kepada murid. Kalau kita
seorang guru tidak dapat mencerminkan kedisiplinan kepada
seorang murid atau siswa bagaimana kita harus menuntut
kedisiplinan kepada murid tersebut. Karena guru di sekolah
merupakan panutan bagi siswanya. Apabila seorang guru telah
mempunyai kedisiplinan tinggi, maka guru akan lebih mudah dalam
mempengaruhi atau membentuk siswa menjadi siswa yang disiplin
tentunya harus dengan melakukan pemantauan, pengarahan-
7
pengarahan atau nasehat-nasehat yang dapat merubah kepribadian
seorang siswa tidak hanya dengan memberikan contoh disiplin saja.1
Menyangkut hal di atas, keterangan yang sama diberikan oleh
Kepala Sekolah saat penulis wawancarai pada hari Senin tanggal 6
Agustus 2007 pukul 08.00 WIB mengenai kedisiplinan guru Pendidikan
Agama Islam di SDN 27 Sungai Rumbai, dimana beliau
mengungkapkan :
“Kedisiplinan adalah salah satu kunci keberhasilan. Di SDN 27
Sungai Rumbai ini disiplin merupakan salah satu hal yang harus
diperhatikan. Saya selaku kepala sekolah di sini memberikan
peraturan baik guru kelas maupun guru bidang studi harus hadir 15
menit sebelum lonceng tanda masuk berbunyi. Menurut pantauan
saya peraturan ini bisa dikatakan 90% sudah berjalan dengan baik.
Berarti di sini semua guru sudah memiliki disiplin yang tinggi atas
tanggung jawab yang dipikulnya”.2
Disamping kedisplinan dalam kehadiran di sekolah guru juga
dituntut untuk mematuhi dalam penggunaan seragam sekolah yang
telah ditetapkan. Sesuai dengan observasi yang penulis lakukan di
lapangan pada hari senin tanggal 13 Agustus 2007, terlihat bahwa guru
Pendidikan Agama Islam dalam penggunaan seragam sekolah sudah
sesuai dengan peraturan sekolah yang berlaku, begitu juga guru kelas
dan guru bidang studi lainnya.
1
Salma, Guru Agama, Wawancara, Sungai Rumbai, Tanggal 8 Agustus 2007
2
Wahiruddin, Kepala Sekolah, Wawancara, Sungai Rumbai, Tanggal 6 Agustus
2007
8
Selanjutnya dalam kegiatan ekstra kurikuler, yang menyangkut
Pendidikan Agama Islam seperti memperingti hari besar umat Islam,
guru Pendidikan Agama Islam juga dituntut untuk melaksanakan
kegiatan tersebut karena pada dasarnya melaksanakan kegiatan
Peringatan Hari Besar Agama Islam (PHBI) merupakan program guru
Pendidikan Agama Islam. Sejalan dengan hal tersebut di atas, penulis
mengadakan wawancara dengan Ibu septa Rina dalam masalah kegiatan
hari besar umat Islam pada hari kamis tanggal 23 Agustus 2007 pukul
09.30 di mana beliau mengungkapkan :
”Di SDN 27 Sungai Rumbai ini setiap ada peringatan hari
besar keagamaan selalu di peringati walaupun tidak pada hari
pasnya tanggal peringatan itu bisa juga di peringati pada hari
sebelum atau sesudah tanggal tersebut. Seperti peringatan Isra’
Mi’raj yang jatuhnya pada tanggal 11 agustus 2007, tetapi kami
memperingatinya pada hari juma’at pada tanggal 10 Agustus 2007”
di samping itu diadakan berbagai lomba dalam bidang keagamaan”. 3
Berdasarkan observasi yang penulis lakukan pada hari Jum’at
tanggal 10 Agustus 2007 di SDN 27 diadakan Isra’ mi’raj nabi
muhammad SAW 1428 H di mana dalam kegiatan ekstrakurikuler guru
Pendidikan Agama Islam melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler
tersebut dalam pelaksanaannya dibantu oleh guru Kelas dan guru
Bidang Studi lainnya. Dalam peringatan hari Isra’ Mi’raj tersebut
3
Septa Rina, Guru Agama, Wawancara Sungai Rumbai, Tanggal 23 Agustus 2007
9
diadakan berbagai lomba kegiatan keagamaan seperti Kasidah, Pildacil,
dan cerdas Cermat dalam bidang studi Pendidikan Agama Islam.
Berdasarkan observasi dan wawancara di atas penulis dapat
menyimpulkan bahwa kedisiplinan guru Pendidikan Agama Islam baik
dari segi kehadiran, segi pakaian, dan kegiatan ekstrakurikuler sudah
baik. Dimana guru Pendidikan Agama Islam telah dapat memberikan
contoh kedisiplinan ke seluruh yang ada dilingkungan sekolah, yaitu
salah satunya dengan mematuhi peraturan yang ditegaskan oleh kepala
sekolah, yaitu guru harus hadir 15 menit sebelum lonceng tanda masuk,
mengenakan seragam yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah, di
samping itu guru juga sudah berperan aktif dalam kegiatan ekstra
kurikuler yang juga telah ditetapkan oleh pihak sekolah.
2. Proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam
a. Kegiatan awal
Disamping disiplin dalam pelaksanaan pembelajaran guru
Pendidikan Agama Islam juga harus mampu dalam pengelolaan
kelas. Berdasarkan observasi penulis pada Rabu tanggal 15 Agustus
2007 pukul 14.00 WIB terlihat bahwa guru Pendidikan Agama
Islam sudah dapat mengelola kelas dengan baik.
Sejalan dengan hal tersebut di atas, penulis juga
mengadakan wawancara dengan Ibu Septa Rina pada hari Kamis
10
tanggal 9 pukul 15.30 WIB dalam masalah pengelolaan kelas,
beliau mengungkapkan :
”Di SDN 27 Sungai Rumbai ini dalam melakukan
pengelolaan kelas rasanya tidak terlalu sulit, hanya sebagian dari
kegiatan pengelolaan kelas yang sulit misalnya adanya anak
yang sering berpindah-pindah tempat duduk, dengan demikian
sebelum memulai pelajaran guru selalu harus mengatur tempat
duduk, dan memisahkan antara siswa yang suka ribut dengan
menempatkan siswa yang tidak suka ribut atau berbicara
sesamanya dengan siswa yang tidak suka ribut”.4
Sebelum guru memberikan materi pelajaran kepada murid
atau siswa guru hendaknya mempersiapkan Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) agar materi yang diajarkan kepada murid atau
siswa dapat lebih terarah dan dapat mencapai tujuan pembelajaran.
Berdasarkan observasi di lapangan pada hari Rabu Tanggal
15 Agustus 2007 pukul 07.30 WIB terlihat bahwa guru Pendidikan
Agama Islam dalam menyampaikan materi pelajaran selalu
mengacu kepada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang
telah dipersiapkan.
Sejalan dengan hal tersebut di atas, sesuai dengan hasil
wawancara penulis dengan Ibu Salma selaku guru Pendidikan
Agama Islam di SDN 27 Sungai Rumbai pada hari Senin tanggal 6
Agustus pukul 09.40 WIB, di mana beliau mengungkapkan :
4
Septa Rina, guru Agama, Wawancara Sungai Rumbai, tanggal 22 Agustus 2007
11
”Selama saya menjadi guru Pendidikan Agama Islam
sebelum menyampaikan materi pelajaran, saya selalu membuat
atau mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Karena dengan adanya RPP saya dalam menyampaikan materi
pelajaran dapat lebih terarah. Untuk itu saya selalu berpedoman
kepada RPP tersebut dalam menyampaikan materi pelajaran
setiap kali saya mengajar”. 5
Kemudian setiap guru masuk kelas, hal yang pertama kali
yang harus diperhatikan oleh guru adalah kehadiran siswa.
Berdasarkan hal ini Ibu Salma memberikan keterangan pada saat
penulis wawancarai hari Selasa tanggal 7 Agustus 2007 pukul 10.
30 WIB mengatakan bahwa :
“Selama saya mengajar di SDN 27 Sungai Rumbai
Kabupaten Dharmasraya setelah saya masuk lokal yang saya
lakukan terlebih dahulu adalah melihat siswa apa siswa terlihat
hadir dengan memperkirakan jumlah siswa yang ada di samping
itu saya bertanya kepada siswa apakah anak ibu hadir semua ?” 6
Pada hari yang sama penulis melakukan observasi mengenai
adakah guru menyuruh siswa berdo’a sebelum belajar dan apakah
dilanjutkan dengan kegiatan mengabsen siswa. Berdasarkan
observasi tersebut terlihat bahwa guru Pendidikan Agama Islam di
SDN 27 Sungai Rumbai menyuruh siswa berdo’a sebelum berdo’a
dan selalu dilanjutkan dengan mengabsen siswa satu persatu.
5
Salma, Guru Agama, Wawancara, Sungai Rumbai, Tanggal 6 Agustus 2007
6
Salma, Guru Agama, Wawancara, Sungai Rumbai, Tanggal 6 Agustus 2007
12
Sejalan dengan hal di atas, Ibu Salma memberikan
penjelasan saat penulis wawancara pada hari yang sama pukul
10.00 WIB juga mengemukakan bahwa :
“Setiap saya sebelum mengajar atau sebelum
menyampaikan materi pelajaran, saya selalu terlebih dahulu
menyuruh siswa untuk berdo’a terlebih dahulu, karena kita tahu
setiap akan memulai sesuatu kita harus memulai dengan do’a
semoga apa yang kita lakukan mendapat maghfirah dari Yang
Maha Kuasa setelah itu lalu saya teruskan dengan mengabsen
siswa”.7
Tidak berbeda dengan apa yang diungkapkan oleh salah
seorang siswa, yaitu Kurniati Laila Sari saat penulis wawancara
pada hari Selasa tanggal 7 Agustus 2007 pukul 09.30 dimana ia
mengatakan bahwa :
“Setiap saya belajar pada bidang studi Pendidikan Agama
Islam sebelum mengajar atau sebelum menyampaikan
materi pelajaran, saya dan teman lainnya se kelas sebelum
memulai belajar disuruh oleh ibu guru agama berdo’a terlebih
dahulu”.8
Selanjutnya dalam hal pemberian motivasi dan appersepsi.
Dari wawancara yang penulis lakukan kepada guru agama Islam,
yaitu Ibu Salma, pada tanggal 7 Agustus 2007 pukul 11.30 dimana
beliau mengatakan bahwa :
”Untuk kegiatan awal dalam proses belajar selain
melakukan kegiatan memperhatikan kehadiran siswa, menyuruh
siswa untuk berdo’a dan mengabsen siswa, memotivasi dan
melakukan appersepi itu sangat penting. Karena dengan adanya
7
Salma, Guru Agama, Wawancara, Sungai Rumbai, Tanggal 6 Agustus 2007
8
Kuniati Laila Sari, Siswa Kelas VI, Wawancara, Tanggal 7 Agustus 2007
13
motivasi anak akan dapat serius mengikuti jalannya proses
belajar mengajar disamping itu appersepsi juga perlu, dimana
dengan adanya appersepsi ini siswa dapat mengingat pelajaran
sebelumnya atau dapat memancing daya ingat siswa terhadap
pelajaran yang telah lalu yang akan memudahkan proses
pembelajaran selalnjutnya”.9
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di atas dapat
penulis simpulkan, dalam melakukan kegiatan awal guru
Pendidikan Agama Islam selalu mempersiapkan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), memperhatikan kehadiran siswa,
menyuruh siswa untuk berdo’a sebelum belajar, memotivasi siswa
dan melakukan appersepsi sebelum menyampaikan materi pelajaran
yang baru.
b. Kegiatan inti
Berdasarkan observasi penulis di kelas VI pada hari Selasa
tanggal 7 Agustus 2007 berkenaan dalam menyampaikan materi
pelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Dalam hal ini terlihat bahwa guru Pendidikan Agama Islam dalam
menyampaikan materi pelajaran sesuai dengan rencana
pembelajaran. Hal ini dibuktikan dengan adanya rencana
pembelajaran yang dibuat oleh guru Pendidikan Agama Islam yang
dapat penulis lihat secara langsung.
9
Salma, Guru Agama, Wawancara, Sungai Rumbai, Tanggal 7 Agustus 2007
14
Berdasarkan hasil observasi penulis pada hari Senin tanggal
13 Agustus 2007 di kelas VI, terlihat bahwa guru Pendidikan
Agama Islam menggunakan metode ceramah dan tanya jawab
dalam menerangkan pelajaran yang pada saat itu materinya adalah
sifat-sifat terpuji. Di mana terlihat metode yang digunakan dalam
penyampaikan materi pelajaran guru Pendidikan Agama Islam SDN
27 Sungai Rumbai sudah menggunakan metode yang bervariasi.
Hal ini senada dengan apa yang dijelaskan oleh guru agama
saat penulis wawancarai, pada hari Selasa tanggal 7 Agustus 2007
pukul 09.30 WIB di mana beliau mengatakan :
“Sebagaimana yang kita ketahui bersama metode-metode
pembelajaran itu sangat banyak sekali, seperti metode ceramah,
metode tanya jawab, metode diskusi, dan lain sebagainya.
Tetapi dalam proses belajar mengajar sebagai guru kita
hendaknya dapat memilih lebih jeli mana yang seharusnya kita
pakai, yang sekiranya nantinya dalam mendukung berjalannya
proses belajar mengajar dan dapat memberikan kemudahan
kepada murid dalam mempelajari dan mendorong agar murid
dapat memahami dan menguasai materi pelajaran yang kita
berikan. Di samping itu sebagai guru kita harus dapat
memadukan antara metode yang satu dengan metode yang
lainnya, sehingganya dalam satu pertemuan kita dapat
menggunakan metode yang berlainan yang dapat menggugah
ketertarikan siswa dalam belajar”.10
Hal ini tak jauh berbeda yang diungkapkan oleh Kepala
Sekolah saat penulis wawancarai pada hari Senin tanggal 6 Agustus
2007, tersebut, di mana beliau mengungkapkan bahwa :
10
Salma, Guru Agama, Wawancara, Sungai Rumbai, Tanggal 6 Agustus 2007
15
“Selama saya menjadi kepala sekolah selalu mematau guru-
guru dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran, baik kepada
guru agama maupun guru bidang studi lainnya dalam hal
metode. Guru-guru di sini sudah baik dalam penggunaan
metode pelajaran, di mana guru-guru tidak hanya monoton
dengan salah satu metode saja, tetapi mereka selalu
menyesuaikan dengan materi yang akan diajarkan kepada
siswanya. Misalnya dalam menyampaikan materi shalat yang
akan diikuti praktek. Dalam hal ini guru agama dalam
menyampaikan materi menggunakan metode ceramah dan pada
praktek shalatnya guru menggunakan metode atau pendekatan
berkelompok. Sehingganya apa yang menjadi tujuan
pembelajaran akan tercapai”.11
Hal yang sama diungkapkan oleh salah seorang siswa pada
saat penulis wawancarai pada tanggal hari Senin tanggal 6 Agustus
2007 pukul 11.30 WIB setelah melakukan wawancara dengan guru
Pendidikan Agama Islam dan kepala sekolah, penulis melakukan
wawancara dengan salah seorang siswa walaupun diujung waktu
istirahat yang hampir habis, tetapi siswa dapat memberikan
informasi yang cukup jelas. Adapun informasi yang diberikan
adalah :
”Sebagaimana yang saya ketahui selama saya sekolah di
SDN 27 Sungai Rumbai, guru dalam menyampaikan materi
pelajaran Pendidikan Agama Islam selalu menggunakan metode
yang bervariasi, misalnya untuk menyampaikan materi yang
sifatnya teoritis guru agama menggunakan metode ceramah,
sedangkan untuk materi yang menggunakan pemecahan masalah
guru menggunakan metode tanya jawab yang dapat memancing
aspirasi untuk lebih berfikir”.12
11
Septarina, Kepala Sekolah, Wawancara, Sungai Rumbai, Tanggal 6 Agustus 2007
12
Andreyan Novit, Siswa Kelas VI, Wawancara, Tanggal Agustus 2007
16
Disamping metode, dalam menyampaikan materi pelajaran
guru juga menggunakan media pembelajaran yang relevan. Sesuai
dengan hasil observasi yang penulis lakukan pada tanggal 6
Agustus 2007 terlihat bahwa guru agama Pendidikan Agama Islam
menggunakan media pembelajaran.
Hal ini senada dengan yang diungkapkan oleh guru
Pendidikan Agama Islam mengenai media pembelajaran, saat
penulis wawancarai pada tanggal 6 Agustus 2007 masih pada jam
istirahat kedua pukul 11.30 WIB bersama guru-guru lain dan kepala
sekolah di ruang guru, di mana beliau mengungkapkan :
17
“Masalah media pembelajaran ini, bisa dikatakan sangat
perlu sekali dalam bidang studi pendidikan agama Islam.
Mengapa demikian ? Sebagaimana yang kita ketahui sejak dulu
pada sekolah yang sifatnya sekolah umum jam pelajaran
pendidikan agama itu sangat sedikit sekali hanya 1 kali
pertemuan setiap minggunya dengan waktu 2 x 45 menit.
Dalam hal ini media pembelajaran itu sangat dibutuhkan yang
dapat mempercepat guru dalam menyampaikan materi pelajaran
tanpa harus menuliskan di papan tulis, misalnya medianya
hadits, atau dalam bentuk gambar seperti pada gambar praktek
shalat guru juga tidak menggambarkan pada saat proses belajar
mengajar. Jika ada media guru tinggal memasang dan langsung
menjelaskan tanpa harus menuliskan atau menggambarkan
terlebih dahulu yang dapat menunjang penggunaan efisiensi
waktu”.13
Hal yang tidak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan
kepada sekolah dalam selang waktu yang tak jauh beda, di mana
beliau mengungkapkan :
”Mengenai media pembelajaran ini memang sangat perlu
sekali, karena dengan adanya media pembelajaran dapat
mendukung jalannya proses belajar mengajar. Mungkin tidak
hanya pada bidang studi Pendidikan Agama Islam saja, bidang
studi lainnya juga membutuhkan media pelajaran seperti
bidang studi IPA, IPS, BAM, Bahasa Indonesia, Matematika,
dan lain sebagainya.”.14
Hal yang sama dikatakan oleh salah seorang siswa pada jam
istirahat kedua, yaitu pukul 11.30 WIB masih pada hari dan tanggal
yang sama, yaitu dengan siswa yang kelas VI yang bernama Dadang
dimana ia mengatakan :
”Jika guru Pendidikan Agama Islam dalam pelaksanaan
pembelajaran menggunakan media pada materi-materi tertentu,
13
Septarina, Guru Agama, Wawancara, Sungai Rumbai, Tanggal 6 Agustus 2007
14
Wahiruddin, Kepala Sekolah, Wawancara, Sungai Rumbai, Tanggal 6 Agustus 2007
18
saya merasa senang dan lebih tertarik untuk mengikutinya
karena dengan bantuan media tersebut dapat memberikan
pemahaman yang lebih mudah, di samping itu saya bisa juga
lebih termotivasi dengan variasi-variasi yang terdapat pada
media tersebut”.
Dengan adanya metode yang bervariasi dan media dapat
memotivasi siswa untuk lebih memperhatikan materi pelajaran yang
disampaikan. Berdasarkan observasi yang penulis lakukan di lokal
saat proses belajar mengajar berlangsung siswa sudah hampir
seluruhnya memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru
pendidikan agama Islam.
Dari uraian hasil observasi dan wawancara di atas dapat
disimpulkan bahwa guru Pendidikan Agama Islam dalam
melakukan kegiatan inti dalam proses belajar mengajar dalam
menyampaikan materi pelajaran berpedoman kepada Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan menggunakan metode yang
bervariasi dan media pembelajaran yang relevan sehingga siswa
dapat lebih memperhatikan materi pelajaran yang disampaikan oleh
guru pendidikan agama Islam.
c. Kegiatan akhir
Di setiap akhir pembelajaran, hal yang tak kalah penting
adalah memberikan rangkuman materi pelajaran. Berdasarkan
observasi penulis pada hari Selasa tanggal 7 Agustus 2007 tepatnya
19
jam 11.00 WIB, terlihat bahwa guru Pendidikan Agama Islam
diujung-ujung akhir jam pelajaran Pendidikan Agama Islam
memberikan rangkuman terhadap materi yang disampaikannya.
Hal yang senada dengan apa yang disampaikan oleh guru
Pendidikan Agama Islam saat penulis wawancarai pada tanggal
7 Agustus pukul 13.00 WIB di mana beliau mengungkapkan :
”Dalam hal rangkuman pelajaran ini, saya selaku guru
Pendidikan Agama Islam ini perlu diberikan karena ini dapat
memberikan kemudahan terhadap siswa dalam memahami
pelajaran dan pendalaman materi, yang dapat dibaca oleh
siswa saat mengulang pelajaran di rumah”.15
Selanjutnya dalam aktivitas pelaksanaan pembelajaran guru
juga harus memberikan latihan atau pemberian tugas untuk
melakukan evaluasi awal apakah materi yang di sampaikan sudah
dapat terkuasai oleh siswa. Sesuai dengan wawancara penulis pada
hari Selasa tanggal 23 Agustus 2007 pukul 17.00 WIB dengan
guru agama mengenai hal tersebut, di mana beliau mengung-
kapkan :
”Untuk mengetahui atau mengevaluasi apakah pelajaran
yang disampaikan dapat diterima atau dipahami oleh siswa
saya selaku guru Pendidikan Agama Islam yang mengajar di
SDN 27 Sungai Rumbai ini, setiap menit-menit terakhir atau
kalau diperkirakan 15 menit sebelum jam pelajaran habis saya
selalu memberikan latihan baik itu dalam bentuk tertulis atau
bisa dikatakan semacam pre-tess maupun tes lisan. Dengan
demikian saya selaku guru dapat mengukur bagaimana
15
Salma, Guru Agama, Wawancara, Sungai Rumbai, Tanggal 7 Agustus 2007
20
pemahaman siswa atau bagaimana penguasaan siswa terhadap
materi yang telah disampaikan”.16
Terakhir rangkaian kegiatan pelaksanaan kegiatan
pembelajaran adalah guru menyuruh siswa untuk berdo’a dan guru
mengucapkan salam.
Sesuai dengan observasi yang penulis lakukan pada hari
Selasa tanggal 30 Agustus 2007 terlihat bahwa guru Pendidikan
Agama Islam pada akhir kegiatan pembelajaran guru menyuruh
siswa untuk berdo’a dan memberikan salam baru guru
meninggalkan kelas.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di atas, dapat
disimpulkan bahwa guru Pendidikan Agama Islam dalam kegiatan akhir
pelaksanaan pembelajaran selalu memberikan rangkuman materi yang
telah disampaikan dan dilanjutkan dengan memberikan evaluasi dalam
bentuk latihan dan tugas rumah (PR) dan selalu mengakhiri pelajaran
dengan berdo’a dan menutup dengan mengucapkan salam.
C. Hambatan-hambatan yang Ditemui dalam Pelaksanaan Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam di SDN 27 Sungai Rumbai Kabupaten
Dharmasraya
Untuk mengetahui hambatan-hambatan yang ditemui dalam
pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN 27 Sungai
16
Salma, Guru Agama, Wawancara, Sungai Rumbai, Tanggal 7 Agustus 2007
21
Rumbai Kabupaten Dhamasraya, penulis melakukan wawancara, baik itu
kepada kepala sekolah maupun langsung kepada guru Pendidikan Agama
Islam dan siswa.
Dari hasil wawancara penulis dengan guru Pendidikan Agama Islam
pada hari Rabu tanggal 8 Agustus 2007 pukul 09.30, di mana beliau
mengatakan :
”Selama saya mengajar di SDN 27 Sungai Rumbai Kabupaten
Dhamasraya beberapa hambatan yang saya temui dalam pelaksanaan
pembelajaran Pendidikan Agama Islam di antaranya : “Kurangnya
media pembelajaran, kurangnya buku penunjang, tidak adanya
mushalla atau masjid di sekolah, kurangnya disiplin dari siswa itu
sendiri”.17
Tidak jauh beda dengan apa yang diungkapkan oleh Kepala Sekolah
sewaktu penulis wawancarai pada hari dan tanggal yang sama di atas,
tentang hambatan-hambatan yang ditemui dalam pelaksanaan
pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SDN 27 Sungai Rumbai, di
mana beliau mengatakan :
“Adapun hambatan-hambatan yang ada pada SD 27 Sungai Rumbai
yang saya pimpin ini banyak sebagai di antaranya Kurangnya sarana
dan prasarana penunjang seperti buku-buku agama, tempat praktek
17
Salma, Guru Agama, Wawancara, Sungai Rumbai, Tanggal 6 Agustus 2007
22
ibadah (masjid atau mushalla) belum memiliki, media pembelajaran,
minimnya waktu pelajaran agama.118
Untuk lebih jelasnya dari hasil wawancara yang penulis lakukan,
baik kepada Kepala Sekolah atau guru pendidikan agama Islam, akan
penulis jelaskan satu persatu, sebagaimana yang terlihat di bawah ini :
1. Kurangnya media pembelajaran
Di dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan agama Islam,
media pembelajaran itu sangat dibutuhkan, misalnya media karton. Di
sini dapat dituliskan berbagai jenis media misalkan ayat al-Qur’an,
Hadits atau gambar praktek shalat dan lain sebagainya. Jika media ini
ada, ini sangat mendukung kelancaran dari pada pelaksanaan
pembelajaran dan dapat menghemat waktu, karena guru tidak harus
menuliskan di papan tulis atau tidak harus menggambarkan terlebih
dahulu sebelum menjelaskan pelajaran..
Di samping itu dengan adanya media ini siswa mungkin dapat
lebih berkonsentrasi apalagi kalau media itu dikemas atau dirancang
dalam bentuk yang indah, dengan sendiri dapat menarik motivasi siswa
untuk belajar atau mengikuti pelaksanaan pembelajaran.
Berdasarkan wawancara penulis dengan kepala sekolah pada
hari Selasa tanggal 6 Agustus 2007 pada jam istirahat di ruang kepala
sekolah, di mana beliau mengungkapkan :
118
Wahiruddin, Kepala Sekolah, Wawancra, Sungai Rumbai Tanggal 8 Agustus 2007
23
“Untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran salah satunya
adalah dengan menggunakan media pembelajaran. Tetapi di SDN
27 Sungai Rumbai Kabupaten Dhamasraya yang saya pimpin ya
bisa dikatakan masih kurang, di mana jenis-jenis media tertentu
yang sudah menjadi standar sekolah-sekolah lain belum dimiliki.
Adapun jenis media yang ada baru ada seperti media kantor
itupun jumlahnya sangat minim sekali.”.18
Lebih lanjut yang diungkapkan oleh guru pendidikan agama
Islam menyangkut permasalahan media saat penulis wawancarai pada
hari dan tanggal yang sama, di mana beliau mengungkapkan :
“Media pembelajaran adalah alat pembantu yang dapat
mempercepat dalam pelaksanaan pembelajaran karena dengan
media dapat mempercepat guru dalam menyampaikan materi
pelajaran tanpa harus menuliskan di papan tulis, misalnya
medianya hadis, atau dalam bentuk gambar seperti pada gambar
praktek shalat guru juga tidak menggambarkan pada saat proses
belajar mengajar. Jika ada media guru tinggal memasang dan
langsung menjelaskan tanpa harus menuliskan atau
menggambarkan terlebih dahulu yang dapat menunjang
penggunaan efisiensi waktu. Tetapi media yang dimiliki oleh SDN
18
Wahiruddin, Kepala Sekolah, Wawancara, Sungai Rumbai, Tanggal 6 Agustus 2007
24
27 Sungai Rumbai sangat minim sekali baik itu dalam bentuk
media karton maupun jenis media lainnya.”19
2. Kurangnya buku-buku penunjang
Di samping siswa mendapat materi dari guru pendidikan agama
Islam, siswa dapat menambahkan pengetahuan yang diperoleh dari
buku-buku yang dapat menunjang dalam pendalaman materi atau bahan
bacaan yang bisa menambah wawasan pengetahuan agama.
Berdasarkan observasi yang penulis lakukan di perpustakaan
bahwasanya di perpustakaan SDN 27 Sungai Rumbai pada hari Senin
tanggal 27 Agustus 2007, terlihat bahwa buku-buku Pendidikan Agama
Islam kurang dibandingkan dengan buku pelajaran lain.
Sesuai dengan wawancara penulis dengan guru Pendidikan
Agama Islam pada hari Selasa tanggal 7 Agustus 2007 Islam di SDN
27 Sungai Rumbai Dharmasraya di mana beliau mengungkapkan :
“Pada sekolah umum sering dijumpai beberapa kelemahan
sekolah seperti tidak ditemukan buku-buku pelajaran yang
menyangkut tentang pendidikan agama, itu jumlahnya sangat
kurang sekali, dan buku-buku yang ada itupun kebanyakan hanya
19
Salma, Guru Agama, Wawancara, Sungai Rumbai, Tanggal 6 Agustus 2007
25
terbitan dari departemen agama RI, dan hanya bisa dibaca ketika
pustaka sekolah dibuka”.20
Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh salah seorang siswa
saat penulis wawancarai tentang buku paket agama yang dipinjamkan
sekolah, pada tanggal 27 Agustus 2007 saat jam istirahat kedua pukul
11.30 WIB, di mana ia mengatakan :
“Buku paket yang dipinjamkan kepada murid memang ada,
tetapi kami hanya dapat meminjam secara bergantian dikarenakan
jumlahnya sangat terbatas sekali, dan bentuk buku pendukung
lainnya di SDN 27 Sungai Rumbai ini bisa dikatakan sangat minim
sekali bahkan tidak ada”.21
3. Tidak adanya mushalla atau masjid
Mushalla atau masjid merupakan salah satu saran penunjang
bagi terlaksana proses pelaksanaan pembelajaran Islam, di mana di sini
akan dapat diterapkan beberapa bentuk materi pelajaran yang sifatnya
dilanjutkan dengan praktek, misalnya praktek berwudhuk dan praktek
shalat.
Di samping itu untuk melaksanakan peringatan hari besar
keagamaan umat Islam seperti Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi, Tahun baru
20
Septiana, Guru Pendidikan Agama Islam, Wawancara, Sungai Rumbai, Tanggal 6
Agustus 2007
21
Hendri, Siswa Kelas VI, Wawancara, Sungi Rumbai Tanggal 7 Agustus 2007
26
Hijriah (1 Muharam) dan lain sebagainya yang dapat menambah
pengetahuan Pendidikan Agama Islam yang biasanya diadakan di
mushalla atau masjid.
Namun kenyataan di SDN 27 Sungai Rumbai belum memiliki
mushalla atau masjid tersebut, sehingganya untuk melaksanakan hal di
atas mereka harus menumpang di mushalla SMPN I Sungai Rumbai
yang bersebelahan dengan SDN 27 Sungai Rumbai.
Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh kepala
sekolah saat penulis wawancarai :
“Setiap sekolah itu seharusnya memiliki mushalla atau masjid,
karena mushalla atau masjid merupakan salah satu sarana
penunjang dalam proses belajar mengajar khususnya pendidikan
agama Islam, tetapi berhubung SDN 27 Sungai Rumbai untuk
sarana ini belum ada dan baru tahap perencanaan akan didirikan
mushalla”.22
4. Minimnya waktu pelajaran agama
Kurangnya jam pelajaran Pendidikan Agama Islam juga
merupakan salah satu hambatan bagi pelaksanaan pembelajaran..
Seperti yang dikatakan guru Pendidikan Agama Islam saat penulis
wawancarai pada hari Senin tanggal 20 Agustus 2007, di mana beliau
mengungkapkan bahwa :
22
Wahiruddin, Kepala Sekolah, Wawancara, Sungai Rumbai, Tanggal 6 Agustus 2007
27
“Ya, kurangnya jam pelajaran agama juga merupakan salah
satu hambatan dalam pelaksanaan pembelajaran. Karena setia mata
pelajaran yang disampaikan harus tercapai sesuai dengan target,
sehingga akhirnya pelajaran itu kadang-kadang tidak membekas
atau tidak membawa perubahan bagi siswa. Di samping itu, materi-
materi yang dilanjutkan dalam bentuk praktek, itu ya … sulit untuk
dilakukan, misalnya praktek gerakan praktek shalat lima waktu
yang sangat membutuhkan waktu yang panjang”.23
5. Kurangnya disiplin dari siswa itu sendiri
Kurangnya disiplin dari siswa itu sendiri juga merupakan
hambatan bagi terlaksana pembelajaran. Dalam proses belajar mengajar
kedisiplinan, karena apabila disiplin yang dimiliki oleh siswa atau
murid itu kurang, akan mengganggu proses belajar mengajar. Apabila
siswa sering terlambat, maka ia dapat ketinggalan dengan siswa yang
lain dalam penerimaan materi pelajaran, dan jika siswa ribut dalam
belajar maka pelajaran yang disampaikan oleh guru tidak dapat diterima
dengan baik.
23
Salma, Guru Pendidikan Agama Islam, Wawancara, Sungai Rumbai, Tanggal 6 Agustus
2007
28
Berdasarkan observasi yang penulis lakukan pada hari Senin
tangga 21 Agustus 2007 di kelas VI pukul 7.30 WIB tentang
kedisiplinan siswa dapat dilihat masih adanya siswa yang datang
terlambat dan masih banyaknya siswa yang sering ribut dan keluar
masuk saat proses belajar mengajar berlangsung.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis dapat menyimpulkan
bahwa hambatan-hambatan yang ditemui dalam pelaksanaan pembelajaran
Pendidikan Agama Islam di SDN 27 Sungai Rumbai kabupaten
Dharmasraya adalah kurangnya sarana dan prasarana penunjang seperti
buku-buku agama yang dapat menunjang dalam pendalaman materi atau
bahan bacaan yang bisa menambah wawasan pengetahuan agama, tidak
adanya mushalla atau masjid sebagai tempat praktek ibadah, kurangnya
media-media pembelajaran, minimnya waktu pelajaran agama, dan kurang
kedisiplinan dari siswa itu sendiri.