Anda di halaman 1dari 56

BAB I PENDAHULUAN

Dalam era reformasi saat ini, hukum memegang peran penting dalam berbagai segi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi setiap orang, yang merupakan bagian integral dari kesejahteraan, diperlukan dukungan hukum bagi penyelenggaraan berbagai kegiatan di bidang kesehatan. Perubahan konsep pemikiran penyelenggaraan pembangunan kesehatan tidak dapat dielakkan. Pada awalnya pembangunan kesehatan bertumpu pada upaya pengobatan penyakit dan pemulihan kesehatan, bergeser pada

penyelenggaraan upaya kesehatan yang menyeluruh dengan penekanan pada upaya pencegahan penyakit dan peningkatan kesehatan. Paradigma ini dikenal dalam kalangan kesehatan sebagai paradigma sehat. Sebagai konsekuensi logis dari diterimanya paradigma sehat maka segala kegiatan apapun harus berorientasi pada wawasan kesehatan, tetap dilakukannya pemeliharaan dan peningkatan kualitas individu, keluarga dan masyarakat serta lingkungan dan secara terus menerus memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata, dan terjangkau serta mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat. Secara ringkas untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi setiap orang maka harus secara terus menerus dilakukan perhatian yang sungguhsungguh bagi penyelenggaraan pembangunan nasional yang berwawasan kesehatan, adanya jaminan atas pemeliharaan kesehatan, ditingkatkannya profesionalisme dan dilakukannya desentralisasi bidang kesehatan.

Kegiatan-kegiatan tersebut sudah barang tentu memerlukan perangkat hukum kesehatan yang memadai. Perangkat hukum kesehatan yang memadai

dimaksudkan agar adanya kepastian hukum dan perlindungan yang menyeluruh baik bagi penyelenggara upaya kesehatan maupun masyarakat penerima pelayanan kesehatan. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah yang dimaksud dengan hukum kesehatan, apa yang menjadi landasan hukum kesehatan, materi muatan

peraturan perundang-undangan bidang kesehatan, dan hukum kesehatan di masa mendatang. Diharapkan jawaban atas pertanyaan tersebut dapat memberikan sumbangan pemikiran, baik secara teoritikal maupun praktikal terhadap keberadaan hukum kesehatan. Untuk itu dilakukan kajian normatif, kajian yang mengacu pada hukum sebagai norma dengan pembatasan pada masalah kesehatan secara umum melalui tradisi keilmuan hukum. Dalam hubungan ini hukum kesehatan yang dikaji dibagi dalam 3 (tiga) kelompok sesuai dengan tiga lapisan ilmu hukum yaitu dogmatik hukum, teori hukum, dan filsafat hukum. Selanjutnya untuk memecahkan isu hukum, pertanyaan hukum yang timbul maka digunakan pendekatan konseptual, statuta, historis, dogmatik, dan komparatif. Namun adanya keterbatasan waktu maka kajian ini dibatasi hanya melihat peraturan perundang-undangan bidang kesehatan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Hukum Kesehatan Pada masa kini dapat disepakati luas ruang lingkup peraturan hukum untuk kegiatan pelayanan kesehatan menurut ilmu kedokteran mencakup aspek-aspek di bidang pidana, hukum perdata, hukum administrasi, bahkan sudah memasuki aspek hukum tatanegara. Persyaratan pendidikan keahlian, menjalankan pekerjaan profesi, tatacara membuka praktek pengobatan, dan berbagai pembatasan serta pengawasan profesi dokter masuk dalam bagian hukum administrasi. Hak dan kewajiban yang timbul dari hubungan pelayanan kesehatan, persetujuan antara dokter dan pasien serta keluarganya, akibat kelalaian perdata serta tuntutannya dalam pelayanan kesehatan masuk bagian hukum perdata. Kesaksian, kebenaran isi surat keterangan kesehatan, menyimpan rahasia, pengguguran kandungan, resep obat keras atau narkotika, pertolongan orang sakit yang berakibat bahaya maut atau luka-luka masuk bagian hukum pidana. Dalam negara hukum yang sudah meningkat kearah negara kesejahteraan menjadi kewajiban negara dengan alat perlengkapannya untuk mewujudkan keadaan bagi kehidupan setiap orang, keluarga dan masyarakat memperoleh kesejahteraan (well being) menurut penjelasan pasal 1-6 Undang-Undang no. 9/ 1960 berarti melibatkan tenaga kesehatan atau dokter turut secara aktif dalam semua usaha kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah. Usaha kesehatan pemerintah yang melibatkan tenaga kesehatan selaku aparat negara yang berwenang merupakan pengembangan aspek hukum tatanegara didalam hukum kedokteran kesehatan. Semua aspek hukum dalam peraturan hukum kedokteran kesehatan menjadi perangkat hukum yang secara khusus menentukan perilaku keteraturan atau perintah keharusan atau larangan perbuatan sesuatu itu berlaku bagi para pihak yang berkaitan dengan usaha kesehatan sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundangan.

Disamping norma-norma hukum yang terdapat didalam hukum kedokteran kesehatan, berlaku juga norma etik kesehatan / norma etik kedokteran sebagai petunjuk tentang perbuatan mana yang baik dan mana yang buruk dalam kehidupan yang susila sehari-hari. Tugas pekerjaan yang dilaksanakan secara profesional memerlukan dukungan yang ditaati berdasarkan kekuasaan moral dan salah satu diantaranya tercantum dalam rumusan kode etik kedokteran maupun kode etik tenaga kesehatan yang lainnya. Sebagaimana norma etika sukarela ditaati berdasarkan keluhuran sikap / tanggung jawab moral dari setiap orang yang menjalankan pekerjaan profesi, akan tetapi sebagian yang lain harus dikuatkan menjadi tatanan sosial (bukan peraturan hukum) yang dirumuskan secara tertulis, baik mengenai kewajiban moril / akhlak dalam kode etik profesi maupun mengenai kewajiban lain yang berhubungan dengan tugas pekerjaan profesi dalam hukum disipliner. Sanksi berupa celaan / teguran dan atau tindakan tata tertib / administratif diserahkan kepada kebijaksanaan badan organisasi profesi yang bertindak bukan sebagai badan peradilan.

Prof. DR. H. Bambang Poernomo, SH, 2008, Hukum Kesehatan, Aditya Media : Yogyakarta

A. Definisi dan Kedudukan Hukum Kesehatan Hukum kesehatan menurut Anggaran Dasar Perhimpunan Hukum

Kesehatan Indonesia (PERHUKI), adalah semua ketentuan hukum yang berhubungan langsung dengan pemeliharaan / pelayanan kesehatan dan penerapannya. Hal ini menyangkut hak dan kewajiban baik dari perorangan dan segenap lapisan masyarakat sebagai penerima pelayanan kesehatan maupun dari pihak penyelenggara pelayanan kesehatan dalam segala aspeknya, organisasi, sarana, pedoman standar pelayanan medik, ilmu pengetahuan kesehatan dan hukum serta sumber-sumber hukum lainnya. Hukum kedokteran merupakan bagian dari hukum kesehatan, yaitu yang menyangkut asuhan / pelayanan kedokteran (medical care / sevice).

Hukum

kesehatan

merupakan

bidang

hukum yang

masih

muda.

Perkembangannya dimulai pada waktu World Congress on Medical Law di Belgia pada tahun 1967. Perkembangan selanjutnya melalui World Congress of The Association for Medical Law yang diadakan secara periodik hingga saat ini. Di Indonesia perkembangan hukum kesehatan dimulai dari terbentuknya Kelompok studi untuk Hukum Kedokteran FK-UI / R.S. Ciptomangunkusumo di Jakarta pada tahun 1982. Perhimpunan untuk Hukum Kedokteran Indonesia (PERHUKI), terbentuk di Jakarta pada tahun 1983 dan berubah menjadi Perhimpunan Hukum Kesehatan Indonesia (PERHUKI) pada kongres I PERHUKI di Jakarta pada tahun 1987. Hukum kesehatan mencakup komponen-komponen hukum bidang

kesehatan yang bersinggungan satu dengan yang lainnya, yaitu hukum Kedokteran / Kedokteran Gigi, Hukum Keperawatan, Hukum Farmasi Klinik, Hukum Rumah Sakit, Hukum Kesehatan Masyarakat, Hukum Kesehatan Lingkungan dan sebagainya (Konas PERHUKI, 1993).

Sumber Rujukan: Hanafiah, M.J, Amir, A., 1999, Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan, EGC : Jakarta.

Perkembangan hukum di bidang kedokteran dan kesehatan dapat ditelaah mengenai pengertiannya, kedudukan pengembangan ilmunya, dan proyeksinya. Seringkali terdapat keraguan pemakaian istilah mana yang dapat dipakai untuk memilih istilah hukum kedokteran ataukah hukum kesehatan ataukah hukum kedokteran - kesehatan. Bagi ahli hukum pidana sudah kenal dengan istilah ilmu kedoteran kehakiman dan/atau ilmu kedokteran forensik yaitu ilmu yang menghasilkan bahan penyelidikan melalui pengetahuan kedokteran untuk membantu

menyelesaikan dan pembuktian perkara pidana yang menyangkut korban manusia. Oleh karena itu dalam hal memahami peraturan-peraturan hukum tentang kegiatan pelayanan kesehatan menurut ilmu kedokteran, akan dirasakan lebih serasi dengan menyebut istilah "hukum kedokteran kesehatan" disingkat HKK.

Penggunaan kata majemuk hukum kedoteran-kesehatan mempunyai latar belakang dari rumusan kalimat "kesehatan berdasarkan ilmu kedokteran" sebagaimana tercantum dalam penjelasan umum eks Undang-Undang tentang pokok-pokok kesehatan no. 9/1960. Sebab selama ini telah dikembangkan pemikiran baru dibidang kesehatan mengenai keluarga/sosial dalam kaitannya dengan kependudukan yang ruang lingkup tatanan peraturan hukumnya dihimpun dalam hukum keluarga berencana dan kependudukan yang diselenggaran oleh BKKBN. Kedudukan hukum kedokteran kesehatan menjadi bagian dari pertumbuhan ilmu hukum dan sebagai cabang/ranting pohon hukum yang dikemudian hari diharapkan dapat berkembang lebih jauh menjadi sub bidang tersendiri hukum kesehatan dan hukum kedokteran termasuk teknologi kedokteran. Kemajuan pembidangan hukum yang demikian itu dapat terlihat pada hukum acara pidana menjadi beberapa bagian antara lain hukum pembuktian dan hukum kepolisian yang mengandung teknologi penegakan hukum.

Sumber Artikel : Prof.DR.H. Bambang Poernomo, SH, 2008, Hukum Kesehatan, Aditya Media : Yogyakarta

B. Landasan, Asas Hukum dan Materi perundang-undangan Dalam Bidang Kesehatan. Hermien Hadiati Koeswadji menyatakan pada asasnya hukum kesehatan bertumpu pada hak atas pemeliharaan kesehatan sebagai hak dasar social (the right to health care) yang ditopang oleh 2 (dua) hak dasar individual yang terdiri dari hak atas informasi (the right to information) dan hak untuk menentukan nasib sendiri (the right of self determination).(6) Sejalan dengan hal tersebut Roscam Abing mentautkan hukum kesehatan dengan hak untuk sehat dengan menyatakan bahwa hak atas pemeliharaan kesehatan mencakup berbagai aspek yang merefleksikan pemberian perlindungan dan pemberian fasilitas dalam pelaksanaannya. Untuk merealisasikan hak atas pemeliharaan bisa juga mengandung pelaksanaan hak untuk hidup, hak atas

privasi, dan hak untuk memperoleh informasi.(7) Demikian juga Leenen secara khusus, menguraikan secara rinci tentang segala hak dasar manusia yang merupakan dasar bagi hukum kesehatan.(8) Asas Hukum adalah Norma dasar yang dijabarkan dari hukum positif dan yang oleh ilmu hukum tidak dianggap berasal dari aturan-aturan yang lebih umum (Bellefroid dalam Mertokusumo, 1986), sedangkan menurut Eikema Hommes, asas hukum tidak boleh dianggap sebagai norma hukum yang konkret, akan tetapi perlu dipandang sebagai dasar umum atau petunjuk bagi hukum yang berlaku. Dalam hal ini maka asas hukum bukanlah peraturan hukum yang konkret, melainkan merupakan pikiran dasar yang umum sifatnya. sas hukum diterapkan tidak langsung. Pada umumnya asas hukum akan berubah mengikuti perkembangan masyarakat dan terpengaruh pada waktu dan tempat. P Scholten menyatakan bahwa ada empat asas yang sifatnya sangat universal. Asas tersebut yaitu : 1. Asas Kepribadian Manusi menghendaki adanya kebebasan individu, sehingga berharap ada pengakuan kepribadian manusia, dimana manusia dipandang sebagai subyek hukum penyandang hak dan kewajiban. 2. Asas Persekutuan Manusia menghendaki persatuan, kesatuan, cinta kasih dan keutuhan masyarakat berdasarkan ketertiban. 3. Asas Kesamaan Menghendaki adanya keadilan, dimana manusia dipandang sederajad didalam hukum (equality before the law) 4. Asas Kewibawaan Menunjukkan bahwa hukum berwenang memberi keputusan yang mengikat para pihaknya.

Dalam ilmu kesehatan dikenal beberapa asas : 1. 2. 3. Sa science et sa conscience / ya ilmunya dan ya hati nuraninya Agroti Salus Lex suprema / keselamatan pasien adalah hukum yang tertinggi Deminimis noncurat lex / hukum tidak mencampuri hal-hal yang sepele

4.

Res ipsa liquitar / faktanya telah berbicara

Sumber : Dewi,A.I,2008, Etika :Yogyakarta dan Hukum Kesehatan, Pustaka Book Publisher

Segala sesuatu yang berkaitan dengan kesehatan seringkali dikatakan sebagian masyarakat kesehatan dengan ucapan saratnya peraturan. Peraturan dimaksud dapat berupa peraturan perundang-undangan yang berlaku umum dan berbagai ketentuan internal bagi profesi dan asosiasi kesehatan. Agar diperoleh gambaran yang lebih menyeluruh maka digunakan susunan 3 (tiga) komponen dalam suatu sistem hukum seperti yang dikemukakan Schuyt.(9) Ketiga komponen dimaksud adalah keseluruhan peraturan, norma dan ketetapan yang dilukiskan sebagai sistem pengertian, betekenissysteem, keseluruhan organisasi dan lembaga yang mengemban fungsi dalam melakukan tugasnya, organisaties instellingen dan keseluruhan ketetapan dan penanganan secara konkret telah diambil dan dilakukan oleh subjek dalam komponen kedua, beslisingen en handelingen. Dalam komponen pertama yang dimaksudkan adalah seluruh peraturan, norma dan prinsip yang ada dalam penyelenggaraan kegiatan di bidang kesehatan. Bertolak dari hal tersebut dapat diklasifikasikan ada 2 (dua) bentuk, yaitu ketentuan-ketentuan yang dibuat oleh penguasa dan ketentuan yang dibuat oleh organisasi profesi dan asosiasi kesehatan. Hubungan antara keduanya adalah ketentuan yang dibuat oleh organisasi profesi dan asosiasi kesehatan serta sarana kesehatan hanya mengikat ke dalam dan tidak boleh bertentangan dengan ketentuan yang dibuat oleh penguasa. Menurut inventarisasi yang dilakukan terhadap ketentuan yang dikeluarkan penguasa dalam bentuk peraturan perundang-undangan terdapat 2 (dua) kategori, yaitu yang bersifat menetapkan dan yang bersifat mengatur. Dari sudut pandang materi muatan yang ada dapat dikatakan mengandung 4 (empat) obyek, yaitu: 1. Pengaturan yang berkaitan dengan upaya kesehatan

2. Pengaturan yang berkaitan dengan tenaga kesehatan 3. Pengaturan yang berkaitan dengan sarana kesehatan 4. Pengaturan yang berkaitan dengan komoditi kesehatan Apabila diperhatikan dari ketentuan tersebut terkandung prinsip

perikemanusiaan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, manfaat, usaha bersama dan kekeluargaan, adil dan merata, perikehidupan dalam keseimbangan dan kepercayaan pada kemampuan dan kekuatan sendiri.(10)

Selanjutnya dari ketentuan yang ada dalam keputusan dan peraturan yang dibuat oleh organisasi profesi dan asosiasi bidang kesehatan serta sarana kesehatan adalah mencakup kode etik profesi, kode etik usaha dan berbagai standar yang harus dilakukan dalam penyelenggaraan upaya kesehatan.

Apabila diperhatikan prinsip-prinsip yang dikandung dalam ketentuan ini mencakup 4 (empat) prinsip dasar, yaitu autonomy, beneficence, non maleficence dan justice.(11) Sebelum memasuki komponen kedua, perlu dibahas terlebih dahulu komponen ketiga mengenai intervensi yang berupa penanganan yang dilakukan berdasarkan ketentuan yang diatur. Komponen ini merupakan aktualisasi terhadap komponen ideal yang ada dalam komponen pertama. Bila diperhatikan isi ketentuan yang ada dimana diperlukan penanganan terdapat 4 (empat) sifat, yaitu: 1. 2. 3. Perintah (gebod) yang merupakan kewajiban umum untuk melakukan sesuatu Larangan (verbod) yang merupakan kewajiban umum untuk tidak melakukan sesuatu Pembebasan (vrijstelling, dispensatie) berupa pembolehan khusus untuk tidak melakukan sesuatu yang secara umum diharuskan 4. Izin (toesteming, permissie) berupa pembolehan khusus untuk melakukan sesuatu yang secara umum dilarang.(12) Tindakan penanganan yang dilakukan apakah sudah benar atau tidak, kiranya dapat diukur dengan tatanan hukum seperti yang dikemukakan oleh Nonet dan Selznick, yaitu apakah masih bersifat represif, otonomous atau

responsive.(13) Selanjutnya dengan komponen kedua tentang organisasi yang ada dalam penyelenggaraan upaya kesehatan dapat dibagi dalam 2 (dua) bagian besar yaitu

organisasi

pemerintah

dan

organisasi

badan

swasta.

Pada organisasi pemerintah mencakup aparatur pusat dan daerah serta departemen dan lembaga pemerintah non departemen. Pada sektor swasta terdapat berbagai organisasi profesi, asosiasi dan sarana kesehatan yang mempunyai tugas dan fungsi di bidang kesehatan. Dari susunan dalam 3 (tiga) komponen tersebut secara global menurut Schuyt bahwa tujuan yang ingin dicapat adalah (14): 1. 2. 3. 4. Penyelenggaraan ketertiban sosial Pencegahan dari konflik yang tidak menyenangkan Jaminan pertumbuhan dan kemandirian penduduk secara individual Penyelenggaraan pembagian tugas dari berbagai peristiwa yang baik dalam masyarakat 5. Kanalisasi perubahan sosial

2.2. Hubungan Terapeutik A. Perjanjian Terapeutik Perjanjian terapeutik atau transaksi terapeutik adalah perjanjian antara dokter dengan pasien yang memberikan kewenangan kepada dokter untuk melakukan kegiatan memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien berdasarkan keahlian dan keterampilan yang dimiliki oleh dokter tersebut. dari hubungan hukum dalam transaksi terapeutik tersebut, timbullah hak dan kewajiban masingmasing pihak, pasien mempunyai hak dan kewajibannya, demikian juga sebaliknya dengan dokter. Karena transaksi terapeutik merupakan perjanjian, maka menurut

Komalawati (2002) terhadap transaksi terapeutik juga berlaku hukum perikatan yang diatur dalam buku III KUH Perdata, sebagaimana disebutkan didalam pasal 1319 KUH Perdata yang berbunyi : " Semua perjanjian, baik yang mempunyai nama khusus, maupun yang tidak terkenal dengan suatu nama tertentu, tunduk pada peraturan umum, yang termuat dalam Bab ini dan Bab yang lalu" Dengan demikian, untuk sahnya perjanjian tersebut, harus dipenuhi syaratsyarat yang termuat dalam pasal 1320 KUH Perdata, dan akibat yang

ditimbulkannya diatur dalam pasal 1338 KUH Perdata, yang mengandung asas pokok hukum perjanjian. Mukadimah Kode Etik Kedokteran Indonesia yang dilampirkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI, No 434/Men.Kes/X/1983 tentang Berlakunya Kode Etik Kedokteran Indonesia Bagi para Dokter di Indonesia, mencantumkan tentang transaksi terapeutik sebagai berikut : " Yang dimaksud dengan transaksi terapeutik adalah hubungan antara dokter dan penderita yang dilakukan dalam suasana saling percaya (konfidensial), serta senantiasa diliputi oleh segala emosi, harapan dan kekhawatiran makhluk insani. Menurut Subekti (1985), suatu perjanjian adalah suatu peristiwa bahwa seseorang berjanji kepada orang lain atau antara dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal. Untuk sahnya perjanjian terapeutik (Nasution : 2005), harus dipenuhi syarat-syarat sesuai pasal 1320 KUH Perdata : 1. Adanya kesepakatan dari mereka yang saling mengikatkan dirinya. 2. Adanya kecakapan untuk membuat suatu perikatan. 3. Mengenai suatu hal tertentu. 4. Untuk suatu sebab yang halal / diperbolehkan. Syarat 1 dan 2 merupakan syarat subjektif yang harus dipenuhi yaitu para pihak harus sepakat, dan kesepakatan itu dilakukan oleh pihak-pihak yang cakap untuk membuat suatu perikatan. Untuk keabsahan kesepakatan para pihak yang mengikatkan dirinya, maka kesepakatan ini harus memenuhi kriteria pasal 1321 KUH Perdata yang berbunyi : " Tiada sepakat yang sah apabila sepakat itu diberikan karena kekhilafan, atau diperolehnya dengan paksaan atau penipuan". Agar kesepakatan ini sah menurut hukum, maka didalam kesepakatan ini para pihak harus sadar (tidak ada kekhilafan), terhadap kesepakatan yang dibuat, tidak boleh ada paksaan dari salah satu pihak, dan tidak boleh ada penipuan didalamnya. Untuk itulah diperlukan adanya informed consent atau yang juga dikenal dengan istilah Persetujuan Tindakan Medik. Untuk syarat adanya kecakapan untuk membuat perjanjian, diatur dalam pasal 1329 dan 1330 KUH Perdata sebagai berikut :

Pasal 1329 : "Setiap orang adalah cakap untuk membuat perikatan-perikatan, jika ia oleh undang-undang tidak dinyatakan tidak cakap". Pasal 1330 : Tak cakap untuk membuat suatu perjanjian adalah : 1. Orang-orang yang belum dewasa. 2. Mereka yang ditaruh di dalam pengampuan. 3. Orang-orang perempuan, dalam hal yang ditetapkan oleh undang-undang, dan pada umumnya semua orang kepada siapa undang-undang telah melarang membuat perjanjian-perjanjian tertentu. Pihak penerima pelayanan medik yang tidak cakap untuk bertindak (tidak boleh membuat kesepakatan, atau kesepakatan yang dibuat bisa dianggap tidak sah) antara lain : 1. Orang dewasa yang tidak cakap untuk bertindak (misalnya : orang gila, pemabuk, atau tidak sadar), maka diperlukan persetujuan dari pengampunya (yang boleh membuat perikatan dengan dokter adalah pengampunya). 2. Anak dibawah umur, diperlukan persetujuan dari walinya atau orang tuanya. Yang dimaksud dengan dewasa menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 585/Men.Kes/per/IX/1989, Pasal 8 ayat (2) adalah telah berumur 21 tahun atau telah menikah. Jadi untuk seseorang yang berusia dibawah 21 tahun dan belum menikah, maka transaksi terapeutik harus ditanda tangani oleh orang tua atau walinya, yang merupakan pihak yang berhak memberikan persetujuan.

Sumber Rujukan : Isfandyarie, A, 2006, Tanggung Jawab Hukum dan Sanksi Bagi Dokter Buku I, Prestasi Pustaka Publisher : Jakarta.

B. Akibat Transaksi Teurapetik Jika transaksi terapeutik telah memenuhi syarat sahnya perjanjian, maka semua kewajiban yang timbul mengikat bagi para pihak, baik pihak dokter maupun pihak pasien.

Akibat hukum dari dilakukannya perjanjian tertuang di dalam pasal 1338 dan 1339 KUH Perdata sebagai berikut ; Pasal 1388 : " Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya" Suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu.

Pasal 1339 : " Suatu perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan didalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian, diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan atau undang-undang". Dari kedua pasal diatas dapat diambil pengertian sebagai berikut : 1. Perjanjian terapeutik (transaksi terapeutik) berlaku sebagai undang-undang baik bagi pihak pasien maupun pihak dokter, dimana undang-undang mewajibkan para pihak memenuhi hak dan kewajibannya masing-masing sesuai dengan hal yang diperjanjikan. 2. Perjanjian terapeutik tidak dapat ditarik kembali tanpa kesepakatan pihak lain, misalnya ; karena dokter tidak berhasil menyembuhkan pasien atau kondisi pasien memburuk setelah ditanganinya, dokter tidak boleh lepas tanggung jawab dengan mengalihkan pasien kepada sejawat yang lain tanpa indikasi medis yang jelas. Untuk mengalihkan pasien kepada sejawat yang lain, dokter yang bersangkutan harus minta persetujuan pasien atau keluarganya. 3. Kedua belah pihak, baik dokter dan pasien harus sama-sama beritikad baik dalam melaksanakan perjanjian terapeutik. Wawancara dalam pengobatan harus dilakukan berdasarkan itikad baik dan kecermatan yang patut oleh dokter, dan pasien harus membantu menjawab dengan itikad baik pula agar hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan dibuatnya transaksi terapeutik. 4. Perjanjian hendaknya dilaksanakan sesuai dengan tujuan dibuatnya perjanjian yaitu kesembuhan pasien, dengan mengacu kepada kebiasaan dan kepatutan

yang berlaku baik kebiasaan yang berlaku dalam bidang pelayanan medis maupun dari pihak kepatutan pasien. Dokter harus menjaga mutu pelayanan dengan berpedoman kepada standar pelayanan medik yang telah disepakati bersama dalam rumah sakit maupun orgnisasi profesi sebagai kebiasaan yang berlaku, serta memikirkan kelayakan dan kepatutan yang ada di masyarakat. Untuk memberikan gambaran lebih jelas tentang transaksi terapeutik, maka akan dipaparka kekhususan transaksi terapeutik dengan perjanjian pada umumnya sebagai berikut (Komalawati, 2002): 1. Subjek pada transaksi terapeutik terdiri dari dokter dan pasien. Dokter bertindak sebagai pemberi pelayanan medik profesional yang pelayanannya didasarkan pada prinsip pemberian pertolongan. Sedangkan paien sebagai penerima pelayanan medik yang membutuhkan pertolongan. Pihak dokter mempunyai kualifikasi dan kewenangan tertentu sebagai tenga profesional dibidang medik yang berkompeten untuk memberikan pertolongan yang dibutuhkan pasien, sedangkan pihak pasien karena tidak mempunyai kualifikasi dan kewenangan sebagaimana yang dimiliki dokter berkewajiban membayar honorarium kepada dokter atas pertolongan yang telah diberikan dokter tersebut. 2. 3. Objek perjanjian berupa upaya medik profesional yang mencirikan pemberian pertolongan. Tujuan perjanjian adalah pemeliharaan dan peningkatan kesehatan yang berorientasi kekeluargaan, mencakup kegiatan peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif).

Sumber Rujukan : Isfandyarie, A, 2006, Tanggung Jawab Hukum dan Sanksi Bagi Dokter Buku I, Prestasi Pustaka Publisher : Jakarta.

C. Hak dan Kewajiban Dokter-pasien Hak-Hak Dokter Meliputi :

1.

Melakukan praktik dokter setelah memperoleh surat ijin dokter dan surat ijin praktik.

2. 3. 4.

Memperoleh informasi yang benar dan lengkap dari pasien tentang penyakitnya. Bekerja sesuai standar profesi. Menolak melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan etika, hukum, agama, dan hati nuraninya.

5.

Mengakhiri hubungan dengan pasiennya, jika menurut penilaiannya kerjasama dengan pasiennya tidak ada gunanya lagi kecuali dalam keadaan gawat darurat.

6. 7. 8. 9.

Hak atas privasi dokter. Ketentraman bekerja. Mengeluarkan surat-surat keterangan dokter. Menerima imbalan jasa.

10. Menjadi anggota perhimpunan profesi. 11. Hak membela diri.

Kewajiban Dokter Meliputi : 1. Setiap dokter harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan sumpah kedokteran. 2. 3. Seorang dokter harus senantiasa melakukan profesinya menurut ukuran tertinggi. Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh pertimbangan keuntungan pribadi. 4. 5. Setiap dokter wajib melindungi makhluk insani. Dalam melakukan pekerjaannya, seorang dokter harus mengutamakan kepentingan masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh, serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenarnya. 6. Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan menggunakan segala ilmu dan keterampilannya untuk kepentingan penderita.

7.

Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang seorang penderita, bahkan setelah penderita meninggal.

8.

Setiap dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas kemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain bersedia dan mampu memberikannya.

9.

Setiap dokter tidak boleh mengambil alih penderita dari teman sejawatnya tanpa persetujuannya.

Sumber Rujukan : Dewi, A.I., 2008, Etika dan Hukum Kesehatan, Pustaka Book Publisher :Yogyakarta.

Hak Pasien Meliputi : 1. 2. 3. 4. Mendapatkan pelayanan yang manusiawi Memperoleh asuhan perawatan yang bermutu baik Memilih dokternya Meminta dokter yang merawat agar mengadakan konsultasi dengan dokter lain 5. 6. Dijaga privasinya (kerahasiaan penyakit yang diderita) Mendapatkan informasi yang lengkap tentang : a. Penyakit yang diderita b. Tindakan medik apa yang hendak dilakukan dan kemungkinan akibatnya c. Alternatif terapi yang lainnya d. Prognosis e. Perkiraan biaya pengobatan 7. 8. 9. Meminta tidak diinformasikan tentang penyakitnya (hak waiver) Menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya Mengajukan keluhan-keluhan dan memperoleh tanggapan

10. Didampingi keluarga dalam keadaan kritis 11. Mengakhiri pengobatan dan rawat inap atas tanggung jawab sendiri 12. Menjalankan agama dan kepercayaannya di rumah sakit (tidak mengganggu pasien lain)

Kewajiban Pasien di Rumah Sakit: 1. Pasien dan keluarganya berkewajiban untuk mentaati segala peraturan dan tata tertib rumah sakit. 2. 3. Pasien wajib untuk menceritakan sejujur-jujurnya tentang segala sesuatu mengenai penyakit yang dideritanya. Pasien berkewajiban untuk mematuhi segala instruksi dokter dalam rangka pengobatan. 4. Pasien dan/atau penanggungnya berkewajiban untuk melunasi semua imbalan dan jasa pelayanan rumah sakit / dokter. 5. Pasien dan/atau penanggungnya berkewajiban untuk memenuhi segala perjanjian yang ditandatanganinya.

Sumber Rujukan : Hanfiah, J., Amir, A., 1999, Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan, EGc: Jakarta. UU No 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit. D. Pertanggungjawaban Dokter dalam Hukum Dalam pengertian hukum, tanggung jawab berarti "keterikatan". Tiap manusia, mulai saat ia dilahirkan sampai saat ia meninggal dunia mempunyai hak dan kewajiban dan disebut sebagai subjek hukum. Demikian juga dokter, dalam melakukan suatu tindakan, harus bertanggung jawab sebagai subjek hukum pengemban hak dan kewajiban. Tindakan atau perbuatan dokter sebagai subjek hukum dalam pergaulan masyarakat, dapat dibedakan antara tindakannya sehari-hari yang tidak berkaitan dengan pelaksanaan profesi dan tindakan yang berkaitan dengan pelaksanaan profesi. Begitu pula dalam tanggung jawab hukum seorang dokter, dapat tidak berkaitan dengan profesi, dan dapat pula merupakan tanggung jawab hukum bekaitan dengan pelaksanaan profesinya. Perbuatan dokter yang tidak berkaitan dengan pelaksanaan profesi yang menimbulkan tanggung jawab hukum antara lain : dokter menikah, melakukan

perjanjian jual beli, dan sebagainya. Perbuatan dokter yang tidak berkaitan dengan pelaksanaan profesinya ini, pada umumnya juga bisa dilakukan oleh setiap orang yang bukan dokter. Tanggung jawab hukum timbul berkaitan dengan pelaksanaan profesi dokter, masih dapat dibedakan antara : 1. Tanggung jawab terhadap ketentuan profesionalnya yang termuat dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 434/Men.Kes/SK/X/1983 tentang Kodeki. 2. Tanggung jawab terhadap ketentuan-ketentuan hukum yang tercantum dalam undang-undang, yaitu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) beserta hukum acaranya (KUHAP), Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW/ Bugerlijk Wetboek) dan Undang-Undang perlindungan konsumen beserta hukum acaranya (HIR), Undang-Undang No 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan, dan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Dalam pertanggung jawaban hukum seorang dokter sebagai pengemban profesi, dokter harus selalu bertanggung jawab dalam menjalankan profesinya. Karena tanggung jawab dokter dalam hukum sedemikian luasnya, maka dokter juga harus mengerti dan memahami ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku dalam pelaksanaan profesinya. Termasuk didalamnya tentang pemahaman hakhak dan kewajiban dalam menjalan profesi sebagai dokter. Penguasaan ilmu dan keterampilan saja tidaklah cukup. Mungkin saja terjadi, seorang dokter yang mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang tinggi dibidang keahliannya, benar-benar menggunakan ilmunya demi menolong pasien tanpa dipengaruhi pertimbangan untuk mencari keuntungan pribadi. Namun perasaan tidak puas pasien atas upaya penyembuhan yang dilakukan dokter tersebut, dapat mengakibatkan pasien lalu menuntut sang dokter ke pengadilan. Walaupun pada akhirnya tuntutan pasien terhadap dokter tidak terbukti, dokter ternyata tidak melakukan tindakan yang merugikan pasien, namun nama dokter tersebut sudah terlanjur tercemar. Dalam hal demikian, suatu tindakan yang bersifat preventif akan sangat berarti bagi ketenangan bekerja dokter dalam melaksanakan profesinya. Pengertian tentang tanggung jawab

hukum akan sangat membantu dokter dalam mengantisipasi kemungkinan tuntutan pasien yang dapat terjadi dalam upaya medis yang dilakukan dokter. Kesadaran dokter terhadap kewajiban hukumnya baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain dalam menjalankan profesinya harus benar-benar dipahami oleh dokter sebagai pengemban hak dan kewajiban. Kewajiban hukum pada intinya menyangkut apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan seseorang dokter, atau apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang tidak seharusnya dilakukan dalam menjalankan profesi dokter. Kewajiban hukum dokter mencakup kewajiban hukum yang timbul karena profesinya dan kewajiban yang timbul dari kontrak terapeutik (penyembuhan) yang dilakukan dalam hubungan dokter dengan pasien. Kewajiban tersebut mengikat setipa dokter yang selanjutnya menimbulkan tanggung jawab hukum bagi diri dokter yang bersangkutan. Dalam menjalankan kewajiban hukumnya, diperlukan adanya ketaatan dan kesungguhan dari dokter tersebut dalam melaksanakan kewajiban sebagai pengemban profesi. Kesadaran hukum yang dimiliki dokter harus berperan dalam diri dokter tersebut untuk bisa mengendalikan dirinya sehingga tidak melakukan kesalahan profesi, agar terhindar dari sanksi yang diberikan oleh hukum. Fuady (2005) membagi kewajiban hukum yang utama dari seorang dokter menjadi 4 hal yang terdiri dari : 1. 2. 3. Kewajiban melakukan diagnosis penyakit. Kewajiban mengobati penyakit. Kewajiban memberikan informasi yang cukup kepada pasien dalam bahasa yang dimengerti oleh pasien, baik diminta maupun tidak. 4. Kewajiban untuk mendapatkan persetujuan pasien (tanpa paksaan atau penekanan) terhadap tindakan medik yang akan dilakukan oleh dokter setelah dokter memberikan informasi yang cukup dan dimengerti oleh pasien.

"Keterikatan"

dokter

terhadap

ketentuan-ketentuan

hukum

dalam

menjalankan profesinya merupakan tanggung jawab hukum yang harus dipenuhi dokter yang pada dasarnya meliputi 3 bentuk pertanggung jawaban, yaitu :

1.

Bidang hukum administrasi dimuat dalam Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang praktik kedokteran. Bidang hukum pidana, terdiri dari : a. b. c. KUHP, antara lain pasal 48-51, 224, 267, 268, 322, 344-361, 531. Ketentuan Pidana UU No 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Ketentuan Pidana UU No 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran. BW, antara lain pasal 1239, 1365, 1366, 1367. UU No 8 Tahun 1999 Tentang Konsumen Pasal 19.

2.

3.

Bidang Hukum Perdata, terdiri dari : a. b.

Sehubungan dengan tanggung jawab hukum dokter dalam bidang hukum perdata, maka ada 2 bentuk pertanggungjawaban pokok, yaitu : a. b. Pertanggungjawaban atas kerugian yang disebabkan karena wanprestasi. Pertanggungjawaban atas kerugian yang disebabkan karena perbuatan melawan hukum. Pada dasarnya, pertanggungjawaban perdata bertujuan untuk memperoleh kompensasi atas kerugian yang diderita disamping untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, dasar untuk menuntut tanggung jawab dokter yang dianggap telah merugikan pasiennya adalah mengenai perbuatan melawan hukum atau wanprestasi yang memberikan hak kepada yang dirugikan untuk menerima kompensasi dari pihak lain yang mempunyai kewajiban terhadap pihak yang menderita kerugian tersebut. Ada 3 prinsip pertanggungjawaban perdata, yaitu : 1. Setiap tindakan yang menimbulkan kerugian atas diri orang lain berarti orang yang melakukannya harus membayar kompensasi sebagai

pertanggungjawaban kerugian (pasal 1365 BW). 2. Seseorang harus bertanggung jawab tidak hanya karena kerugian yang dilakukannya dengan sengaja, tetapi juga karena kelalaian atau kurang hatihati (pasal 1366 BW). 3. Seseorang harus memberikan pertanggungjawaban tidak hanya atas kerugian yang ditimbulkan dari tindakannya sendiri, tetapi juga atas kerugian yang

ditimbulkan dari tindakan orang lain yang berada dibawah pengawasannya (pasal 1367 BW). Safitri Hariyani, dalam sengketa medik, membagi pertanggungjawaban dalam bidang hukum perdata sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Melakukan wanprestasi (1239 BW) Melakukan perbuatan melawan hukum (1365 BW) Melakukan kelalaian sehingga mengakibatkan kerugian (1366 BW) Melalaikan pekerjaan sebagai penanggung jawab (1367 ayat 3 BW).

Sumber Rujukan : Isfandyarie, A, 2006, Tanggung Jawab Hukum dan Sanksi Bagi Dokter Buku I, Prestasi Pustaka Publisher : Jakarta.

2.3. a.

Malpraktek Medis Pengertian Akhir-akhir ini tuntutan hukum terhadap dokter dengan dakwaan

melakukan malpraktek makin meningkat dimana-mana. Ini menunjukkan peningkatan kesadaran hukum masyarakat, dimana masyarakat lebih menyadari akan haknya. Disisi lain para dokter dituntut untuk melakukan kewajiban dan tugas profesinya dengan lebih hati-hati dan penuh tanggung jawab. Seorang dokter hendaknya dapat menegakkan diagnosis dengan benar sesuai dengan prosedur, memberikan terapi dan melakukan tindakan medik sesuai standar pelayanan medik, dan tindakan itu memang wajar dan diperlukan. a Malpraktek medik adalah kelalaian seorang dokter untuk mempergunakan tingkat ketrampilan dan ilmu pengetahuan yang lazim diperrgunakan dalam mengobati pasien atau orang yang terluka menurut ukuran di lingkungan yang sama. Yang dimaksud dengan kelalaian disini ialah sikap kurang hati-hati, yaitu tidak melakukan apa yang seseorang dengan sikap hati-hati melakukannya dengan wajar, atau sebaliknya melakukan apa yang seseorang dengan sikap hati-hati tidak akan melakukannya dalam situasi tersebut. Kelalaian diartikan pula dengan melakukan tindakan kedokteran dibawah standar pelayanan medik.a

Walaupun UU No.6 tahun 1963 tentang Tenaga Kesehatan sudah dicabut oleh UU No.23 tahun 1992 tentang kesehatan, namun perumusan

malpraktek/kelalaian medik yang tercantum dalam paal 11b masih dapat dipergunakan yaitu : 1. Dengan tidak mengurangi ketentuan-ketentuan di dalam KUHP dan peraturan perundang-undangan lain, maka terhadap tenaga kesehatan dapat dilakukan tindakan-tindakan administratif dalam hal sebagai berikut : a. b. melalaikan kewajiban melakukan sesuatu hal yang seharusnya tidak boleh diperbuat oleh seorang tenaga kesehatan , baik mengingat sumpah jabatannya, maupun mengingat sumpah sebagai tenaga kesehatan. Dari 2 butir tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pada butir (a) melalaikan kewajiban, yang berarti tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan. Sedangkan pada butir (b) berarti melakukan suatu tindakan yang seharusnya tidak dilakukan.
a

Kelalaian bukanlah suatu pelanggaran

hokum atau kejahatan, jika

kelalaian itu tidak sampai membawa kerugian atau cedera kepada orang lain dan orang itu dapat menerimanya. Ini berdasarkan prinsip hokum De minimis nonculat lex , yang berarti hokum tidak mencampuri hal-hal yang dianggap sepele. Tetapi jika kelalaian itu menimbulkan kerugian materi, mencelakakan, bahkan merenggut nyawa orang lain maka ini diklasifikasikan sebagai kelalaian berat (culpa lata), serius dan kriminil.a Tolak ukur culpa lata adalah : 1. Bertentangan dengan hukum 2. Akibatnya dapat dibayangkan 3. Akibatnya dapat dihindarkan 4. Perbuatannya dapat dipersalahkan Jadi malpraktek medik merupakan kelalaian yang berat dan pelayanan kedokteran dibawah standar.a Malpraktek medik murni (criminal malprctice) sebenarnya tidak banyak dijumpai. Misalnya melakukan pembedahan dengan niat membunuh pasiennya atau adanya dokter yang sengaja melakukan pembedahan pada pasiennya tanpa

indikasi medik, yang sebenarnya tidak perlu dilakukan, jadi semata-mata untuk mengeruk keuntungan pribadi. Memang dalam masyarakat yang menjadi materealistis, hedonistis, dan konsumtif, dimana kalangan dokter turut terimbas, malpraktek seperti diatas dapat meluas.a Dokter dikatakan melakukan malpraktek jika : 1. Dokter kurang memahami ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran yang sudah berlaku umum dikalangan profesi kedokteran 2. Memberikan pelayanan kedokteran dibawah standar profesi (tidak lege artis) 3. Melakukan kelalaian yang berat atau memberikan pelayanan dengan tidak hati-hati 4. Melakukan tindakan medik yang bertentangan dengan hukum.a Jika dokter hanya melakukan tindakan yang bertentangan dengan etik kedokteran, maka ia hanya telah melakukan malpraktek etik. Untuk dapat menuntut penggantian kerugian karena kelalaian, maka penggugat harus dapat membuktikan adanya 4 unsur berikut : 1. Adanya suatu kewajiban antara dokter dengan pasien 2. Dokter telah melanggar standar pelayanan medik yang lazim dipergunakan 3. Penggugat telah menderita kerugian yang dapat dimintakan ganti ruginya 4. Secara faktual kerugian itu disebabkan oleh tindakan dibawah standar.a Kadang-kadang penggugat tidak perlu membuktkan adanya kelalaian yang tergugat. Dalam hukum terdapat suatu kaedah yang berbunyi Res Ipsa Loquitur, yang berarti faktanya telah berbicara, misalnya terdapatnya kain kasa yang tertinggal di rongga perut pasien, sehingga menimbulkan komplikasi pasca bedah. Dalam hal ini maka dokterlah yang harus membuktikan bahwa tidak adanya kelalaian pada dirinya.a Kelalaian dalam arti perdata berebeda dengan arti pidana. Dalam arti pidana (kriminal), kelalaian menunjukkan kepada adanya suatu sikap yang sifatnya lebih serius, yaitu sikap yang sangat sembarangan atau sikap sangat tidak hati-hati terhadap kemungkinan timbulnya resiko yang bisa menyebabkan orang lain terluka atau mati, sehingga harus bertanggungjawab terhadap tuntutan kriminal oleh negara.a

b. Contoh Kasus a No 01 Contoh Kasus Aspek hukum yang berkaitan

Seorang dokter memberikan cuti Dokter terkena pelanggaran KODEKI Bab I pasal sakit berulang kali kepada seorang 7 dan KUHP pasal 267 tahanan, padahal orang tersebut KODEKI Bab I pasal 7 mampu menghadiri sidang Seorang dokter hanya memberi keterangan atau pendapat yang dapat dibuktikan kebenarannya. KUHP Pasal 267 Dokter yang dengan sengaja memberi surat keterangan palsu tentang adanya atau tidak adanya penyakit, kelemahan atau cacat, dikuhum dengan hukuman penjara selama 4 tahun

pengadilan perkaranya.

02

Seorang penderita gawat darurat di a.

Jika

tertundanya

pembedahan

tersebut

rawat di suatu rumah sakit dan disebabkan kelalaian dokter maka sikap dokter ternyata pembedahan pembedahan sehingga dunia membutuhkan tersebut segera. bertentangan dengan lafal sumpah

Ternyata dokter, KODEKI Bab II Pasal 10 dan KUHP

tertunda-tunda, pasal 304 dan 306 meninggal Lafal sumpah dokter : Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan penderita KODEKI Bab II Pasal 10 Seorang dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas kemanusiaan KUHP Pasal 304 Barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau membiarkan sedangkan ia seorang wajib dalam memberi kesengsaraan, kehidupan,

penderita

perawatan, dan pemeliharaan berdasarkan hukum yang berlaku baginya atau karena suatu

perjanjian, dihukum dengan hukum penjara selama-lamanya 2 tahun 8 bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp.4.500,-

KUHP Pasal 306 (2) Jika salah satu perbuatan tersebut berakibat kematian, maka bersalah dihukum dengan

hukuman penjara selama-lamanya 9 tahun

b.

Jika

tertundanya

pembedahan

tersebut

disebabkan keluarga penderita belum membayar uang panjar untuk rumah sakit, maka rumah sakitlah yang terkena pasal-pasal KUHP 304 dan 306, sedangkan dokter terkena pelanggaran KODEKI 03 Seorang dokter umum melakukan Daalam kasus ini dokter umum tersebut

pembedahan benjolan pada leher melanggar KODEKI Bab I Pasal 2 dan 11, KUHP seorang wanita yang kemudian Pasal 360 timbul komplikasi pendarahan. KODEKI Bab I Pasal 2

Dokter menghentikan tindakannya Seorang dokter harus senantiasa melakukan sedangkan benjolan tersebut belum profesinya menurut ukuran tertinggi. diangkat seluruhnya. Padahal di KODEKI Bab I Pasal 11 kota tempat dokter itu bekerja ada Dalam hal tidak mampu melakukan suatu dokter spesialis bedah pemeriksaan atau pengobatan maka ia wajib merujuk penderita kepada dokter lain yang mempunyai keahlian dalam penyakit tersebut. KUHP Pasal 350 Barang siapa karena kesalahannya menyebabkan orang lain mendapat luka berat atau luka sedemikian, sehingga berakibat penyakit atau halangan sementara untuk menjalankan jabatan atau pekerjaannya, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 5 tahun. 04 Seorang wanita usia 31 tahun di Dalam penyelidikan di pengadilan dibuktikan rawat dengan benjolan pada leher, bahwa prosedur punksi memang perlu dilakukan lemah, dan tidak mempunyai nafsu untuk diagnosis dan terapi serta tekniknya telah

makan. Dugaan diagnosis adalah dilaksanakan

dengan

hati-hati

serta

sesuai

suatu penyakit darah mungkin prosedur. Komplikasi yang timbul memang dapat limfoma atau leukemia. terjadi pada aspirasi sumsum tulang. Pertolongan

Pemeriksaan darah menunjukkan yang diberikan setelah terjadi komplikasi adalah suatu leukemia akut. Namun pada cepat dan tepat dan dinilai tidak ada kelalaian saat itu tidak dapat dipastikan tipe dokter. leukemianya, karena itu

diperlukan punksi sumsum tulang, untuk mengetahui tipe sel dan menetapkan terapi yang tepat. Punksi sumsum tulang telah

dicoba sebanyak 6 kali, pada tulang dada dan tulang panggul. Pada punksi tulang dada yang terakhir kali, tiba-tiba penderita menjadi sesak, resusitasi dilakukan segera, meninggal namun dunia 45 penderita menit

kemudian. Pada autopsi dijumpai bahwa penderita meninggal karena komplikasi hemopericardium

(perdarahan) yang disebabkan luka punksi pada bilik kanan jantung sewaktu melakukan punksi tulang dada. 05 Seorang wanita usia 70 tahun Dipengadilan dinyatakan bahwa dokter spesialis dirujukkan ke rumah sakit untuk bedah tersebut kurang teliti dan hati-hati dan appendektomi, karena radang usus dinilai buntu. Pada waktu pembedahan, Kalaupun ketrampilannya spesialis dibawah patologi standar. segera

spesialis bedah mengangkat suatu memberitahukan hasil pemeriksaannya kepada jaringan yang diduganya usus spesialis bedah tersebut dan ia sempat melakukan

buntu yang sedang meradang. operasi kedua, belum tentu penderita dapat

Namun

pada

pemeriksaan diselamatkan.

patologi, ternyata jaringan tersebut bukan merupakan usus buntu, melainkan jaringan lemak.

Penderita meninggal 2 hari setelah operasi. Pada autopsi dijumpai usus buntu yang mengalmi pada

perforasimasih coecum. sepsis

melekat

Kematian yang

disebabkan akibat

timbul

appendicitis akut perforasi

Dari kasus- kasus diatas dapat diambil kesimpulan : 1. Dari seorang dokter dituntut penampilan sesuai dengan standar dalam melaksanakan tugas profesinya, serta berusaha dengan sungguh-sungguh dan hati-hati dalam mencegah komplikasi sewaktu menegakkan diagnosis. 2. Jika pemeriksaan penderita telah dilakukan dengan teliti, menegakkan diagnosis berlandaskan data-data yang memadai, mempertimbangkan diagnosis deferensial dengan tes-tes tambahan yang diperlukan , mengobati penderitanya dengan cara-cara yang tepat, membuat catatan medik dengan adekuat termasuk follow upnya, menyadari benar-benar apa yang

dilakukannya, dan memberikan pertolongan dengan cepat dan tepat jika terjadi komplikasi, maka dokter tidak akan dituntut melakukan kelalaian apabila terjadi juga hal-hal yang tidak diinginkan. 3. Jika suatu kasus yang diduga malpraktek diajukan ke depan pengadilan, maka diperlukan bukti-bukti yang cukup untuk menegakkan kebenaran. Jika penderita meninggal dunia, diperlukan autopsi klinik untuk menetapkan sebab kematian yang pasti. Pada tahap sekarang ini, tindakan tersebut masih sulit untuk dilakukan disebabkan pengaruh sosio-budaya.a

c.

Penanganan Malpraktek Walaupun dalam KODEKI telah tercantum tindakan-tindakan yang

selayaknya tidak dilakukan oleh seorang dokter dalam menjalankan profesinya, akan tetapi sanksi bila terjadi pelanggaran etik tidak dapat diterapkan dengan seksama. Dalam etik sebenarnya tidak ada batas-batas yang jelas antara boleh atau tidak, oleh karena itu kadangkala sulit memberikan sanksi-sanksinya. a Di negara maju terdapat suatu Dewan Medis (Medical Council) yang bertugas melakukan pembinaan etik profesi dan menanggulangi pelanggaranpelanggaran yang dilakukan terhadap etik kedokteran. Di negara kita IDI telah mempunyai Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK), baik ditingkat pusat maupun di tingkat cabang. Walaupun demikian MKEK ini belum lagi dimamfaatkan dengan baik oleh para dokter ataupun masyarakat.a Masih banyak kasus yang terlanjur diajukan ke pengadilan sebelum ditangani oleh MKEK, oleh karena itu fungsi MKEK belum memeuaskan, maka pada tahun 1982 Departemen Kesehatan membentuk Panitia Pertimbangan dan Pembinaan Etik Kedokteran (P3EK) yang terdapat pula di pusat dan di tingkat propinsi. Tugass P3EK adalah menangani kasus-kasus malpraktek etik yang tidak dapat ditanggulangi oleh MKEK, dan memberi pertimbangan dan usul-usul kepada pejabat yang berwenang. a Jadi instansi pertama yang akan menangani kasus-kasus malpraktek etik ialah MKEK Cabang atau Wilayah. Masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh MKEK dirujuk ke P3EK Propinsi atau jika P3EK Propinsi tidak dapat menanganinya maka kasus tersebut diterusskan ke P3EK Pusat. a

2.4. Penanganan Penderita Gawat Darurat a. Pengertian Gawat darurat medik adalah suatu kondisi yang dalam pandangan penderita, keluarga, atau siapapun yang bertanggung jawab dalam membawa penderita ke rumah sakit, memerlukan pelayanan medik segera. Kondisi ini berlanjut hingga petugas kesehatan yang profesional menetapkan bahwa keselamatan penderita atau kesehatannya tidak terancam. Namun keadaan gawat darurat yang sebenarnya adalah suatu kondisi klinik yang memerlukan pelayanan medik.

Kondisi tersebut berkisar antara yang memerrlukan pelayanan ekstensif segera dengan rawat inap di rumah sakit dan yang memerlukan pemeriksaan diagnostik atau pengamatan yang setelahnya mungkin memerlukan atau mungkin juga tidak memerlukan rawat inap (The American Hospital Association) Gawat darurat medik dapat timbul pada siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Gawat darurat dapat menimpa sseseorang karena penyakit mendadak (akut) atau kecelakaan atau dapat menimpa sekelompok orang seperti pada kecelakaan massal, bencana alam, atau karena peperangan. Penderita gawat darurat ini memerlukan pelayanan medik yang cepat, tepat, bermutu dan terjangkau. Dalam pelayanan medik itulah para petugass kesehatan dituntut untuk benar-benar menghayati dan mengamalkan etik profesinya, karena dalam kondisi gawat darurat aspek psiko-emosional memegang peranan pentinng, baik bagi penerima pelayanan medik, maupun bagi petugas kesehatan terkait.a

b.

Landasan Etik Medik Etik medik terutama berlandaskan pada pancasila dengan silanya peri

kemanusiaan yang adil dan beradab. Di samping itu perlu dipahami, dihayati, dan diamalkan hak penderita dan kewajiban-kewajiban lainnya dari dokter. Hampir semua butir lafal sumpah dokter berkaitan erat dengan pelayanan medik penderita gawat darurat, yaitu bahwa setiap dokter akan membaktikan hidupnya guna kepentingan perikemanusiaan, mengutamakan kesehatan penderita,

mengutamakan kepentingan masyarakat, menghormati hidup insani, dan dalam menunaikan kewajibannya seorang dokter tidak akan terpengaruh oleh pertimbangan keagamaan, kesukuan, perbedaan kelamin, politik kepartaian atau kedudukan sosial.a Dalam KODEKI terdapat butir-butir yang berkaitan dengan kasus-kasus gawat darurat yang kalau ditempatkan menurut urutan yang relevan lebih dahulu, susunannya menjadi sebagai berikut : 1. Seorang dokter wajib melakukan pertolongan darurat sebagai suatu tugas kemanusiaan, kecuali bila yakin ada orang lain yang bersedia dan mampu memberikannya (Pasal 14)

2. Seorang dokter harus senantiasa melakukan profesinya menurut ukuran tertinggi (Pasal 2) 3. Setiap dokter harus senantiasa mengingatakan kewajibannya melindungi hidup insani (Pasal 10) 4. Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan ilmu keterampilannya untuk kepentingan penderita. Dalam hal ia tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan, maka ia wajib merujuk penderita kepada dokter lain yang mempunyai keahlian terhadap penyakit tersebut (Pasal 11) 5. Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi oleh pertimbangan keuntungan pribadinya (Pasal 3) 6. Seorang dokter dalam bekerjasama dengan pejabat dibidang kesehatan dan bidang lainnya serta masyarakat harus memelihar saling pengertian sebaikbaiknya (Pasal 9) 7. Setiap dokter harus memberikan kesempatan kepada penderita agar senantiasa ddapat berhubungan dengan keluarga dan penasehatnya dalam beribat dan atau dalam masalah lainnya (Pasal 12) 8. Setiap dokter wajib merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang penderita, bahkan juga setelah penderita itu meninggal dunia (Pasal 13) 9. Setiap dokter harus memelihara kesehatannya supaya dapat bekerja dengan baik (Pasal 17) Dari butir-butir KODEKI tersebut di atas jelas bagaimana seharusnya seorang dokter berperilaku pada saat menghadapi kasus-kasus gawat darurat, yang tidak jarang berakhir dengan kematian penderita. Upaya dokter dengan penuh perhatian membantu penderita disertai dengan sikap manusiawi dan empati pada saat penderita mengalami saat-saat kritis, alaupun akhirnya penderita meninggal dunia, kiranya keluarga dapat menerima musibah itu dengan ikhlas, bahkan berterima kasih kepada dokter yang telah berikhtiar dengan sungguh-sungguh untuk menyelamatkan jiwa penderita.a

c.

Contoh Kasus Pelayanan medik penderita gawat darurat mempunyai aspek khusus, karena

ini menyangkut kelangsungan hidup seseorang. Disini penderrita secara tiba-tiba tak terduga sebelumnya, menghadapi ancaman bahaya untuk maut, sehingga mencegah

memerlukan tindakan segera

menyelamatkan jiwanya,

bertambahnya penderitaan atau bertambah parahnya penyakit ataupun mencegah timbulnya cacat permanen anggota tubuhnya. Oleh karena itu ada hal-hal yang pada penderita biasa tidak dapat dibenarkan, pada kasus-kasus gawat darurat diperbolehkan pengecualian. a Contoh-contoh kasus gawat darurat yang berkaitan dengan etik dan pidana : No 01 Contoh Kasus Keterangan

Seorang dokter spesialis yang tugas jaga, yang  Dokter bukan saja dianggap telah tidak bersedia gawat datang darurat untuk yang memeriksa dikonsul melakukan malpraktek etik, tetapi juga malpraktek pidana, karena kelalaiannya menyebabkan seorang meninggal dunia  Instruksi dokter mengenai penderita

kepadanya dan kemudian penderita meninggal dunia.

pemeriksaan dan pengobatan per telfon juga dianggap pelanggaran, karena pelayanannya dibawah

standar pelayanan medik 02 Dokter yang langsung mentransfer seorang Malpraktek penderita gawat darurat ke rumah sakit rujukan pidana tanpa memberi pertolongan pertama untuk memperbaiki sehingga perjalanan 03 Rumah sakit dan atau seorang dokter yang Melanggar etik dan hukum sehingga menunda-nunda rawat inap penderita gawat dapat digugat di pengadilan darurat atau menunda-nunda tindakan medik terhadap penderitanya atas alasan belum keadaan umum penderita, dunia di etik dan malpraktek

penderita

meninggal

membayar uang muka

04

Untuk penderita gawat darurat yang dalam Tidak

diperlukan

Persetujuan

keadaan tidak sadar misalnya petinju dengan Tindakan Medik (PTM) dari siapa trauma capitis dan tidaak didampingi oleh pun. Ini sesuai dengan KODEKI keluarga pembedahan yang memerlukan segera (cyto) tindakan dimana dokter mengutamakan

untuk kesehatan penderita dan melindungi hidup insani. Permenkes Pasal 11 : Dalam hal pasien tidak sadar/pingsan atau tidak didampingi oleh keluarga terdekat dan secara medik berada dalam keadaan gawat dan atau darurat yang memerlukan tindakan medik segera untuk kepentingannya, tidak diperlukan persetujuan dari siapa pun. No.585 Tahun 1989

menyelamatkan jiwanya

05

Seorang anak atau seorang penderita penyakit Tindakan

dokter

melakukan

jiwa yang mendapat kecelakaan lalu lintas dan pembedahan itu dapat dibenarkan dan tiba di rumah sakit tanpa didampingi orang tua sesuai dengan KODEKI. atau walinya untuk menandatangani PTM, sedangkan pembedahan tidak dapat ditundatunda lagi demi mencegah bertambah parah penyakitnya

2.5. Euthanasia Ada dua masalah dalam bidang kedokteran/kesehatan yang berrkaitan dengan aspek hukum yang selalu aktual dibicarakan dari waktu ke waktu, sehingga dapat digolongkan ke dalam masalah klasik dalam bidang kedokteran yaitu tentang abortus provokatus dan euthanasia. Dalam lafal sumpah dokter yang disusun oleh Hipocrates (460-337 SM), Kedua masalah ini telah ditulis dan diingatkan. Sampai kini tetap saja persoalan yang timbul berkaitan dengan masalah ini tidak dapat diatasi atau diselesaikan dengan baik, atau didapatnya

kesepakatan yang dapat diterima oleh semua pihak. Di satu pihak tindakan euthanasia pada beberapa kasus dan keadaan memang diperlukan, sementara di lain pihak tindakan ini tidak dapat diterima, bertentangan dengan hukum, moral dan agama. Kedua masalah ini setiap waktu akan dihadapi oleh kalangan kedokteran dan masyarakat setiap waktu. Malah dapat diperkirakan akan semakin meningkat di masa mendatang.a Mengenai masalah euthanasia bila ditarik ke belakang boleh dikatakan masalahnya sudah ada sejak kalangan kesehatan menghadapi penyakit yang tak tersembuhkan, sementara pasien sudah dalam keadaan merana dan sekarat. Dalam situasi demikian, tidak jarang pasien memohon agar dibebaskan dari penderitaan ini dan tidak ingin diperpanjang hidupnya lagi atau dilain keadaan pada pasien yang sudah tidak sabar, keluarga orang sakit juga tidak tega melihat pasien yang penuh penderitaan menjelang ajalnya dan minta kepada dokter untuk tidak meneruskan pengobatan atau bila perlu memberikan obat yang mempercepat kematian. Dari sinilah istilah euthanasia muncul, yaitu melepas kehidupan seseorang agar terbebas dari penderitaan, atau mati secara baik (mati enak).a Masalah ini makin sering dibicarakan dan menarik banyak perhatian karena semakin banyak kasus yang dihadapi kalangan kedokteran dan masyarakat terutama setelah ditemukannya tindakan di dalam dunia pengobatan dengan mempergunakan teknologi canggih dalam mengatasi keadaan-keadaan gawat dan mengancam kelangsungan hidup. Banyak kasus-kasus di pusat pelayanan kesehatanterutama di bagian gawat darurat dan di bagian unit perawatan intensif yang pada masa lalu sudah merupakan kasus yang tidak dapat dibantu lagi.a Dengan demikian, pada kasus-kasus tertentu tetap saja muncul persoalan dasar kembali, yaitu dilema meneruskan atau tidak tindakan medis yang memperpanjang kehidupan. Apa yang harus dilakukan dokter menghadapi korban yang telah mati otak atau mati batang otak ini, karena belum ada kasus yang dapat keluar dari keadaan ini, sebab kerusakan jaringan otak sudah irreversible. Atau pada kasus kanker stadium terminal dengan penderitaan sakit yang hebat, sementara obat untuk itu belum ada. Begitu juga pada pasien gagal ginjal kronis yang memerlukan pencucian darah, sementara dana untuk tindakan ini ditanggung passien/keluarga dan lain-lain.a

Sesuai dengan makin meningkatnya kesadaran akan hak untuk menentukan nasib sendiri (self determination) dibanyak negara mulai timbul gerakan dan penghargaan atas seseorang untuk mengakhiri hidup. Dibeberapa negara hak ini diakui oleh pemerintah dan diatur oleh undang-undang.a

a.

Pengertian Euthanasia berasal dari kata Yunani Euthanathos. Eu berarti baik, tanpa

penderitaan, sedangkan tanathos berarti mati. Dengan demikian euthanasia dapat diartikan mati dengan baik tanpa penderitaan. Ada pula yang menterjemahkan mati cepat tanpa derita.a Belanda salah satu negara di Eropa yang maju dalam pengetahuan hukum kesehatan mendefinisikan euthanasia sesuai dengan rumusan yang dibuat oleh Euthanasia Study Group dari KNMG (Ikatan Dokter Belanda) : Euthanasia adalah dengan sengaja tidak melakukan sesuatu untuk memperpanjang hidup seorang pasien atau sengaja melakukan sesuatu untuk memperpendek hidup atau mengakhiri hidup seorang pasien, dan ini dilakukan untuk kepentingan pasien sendiri. a Aturan hukum mengenai masalah ini berbeda-beda di tiap negara dan seringkali berubah seiring dengan perubahan norma-norma budaya maupun ketersediaan perawatan atau tindakan medis. Di beberapa negara, eutanasia dianggap legal, sedangkan di negara-negara lainnya dianggap melanggar hukum. Oleh karena sensitifnya isu ini, pembatasan dan prosedur yang ketat selalu diterapkan tanpa memandang status hukumnya.b

b.

Konsep Tentang Kematian Perkembangan euthanasia tidak terlepas dari konsep tentang kematian.

Usaha manusia untuk memperpanjang kehidupan dan menghindari kematian dengan mempergunakan kemajuan iptek kedokteran telah membawa masalah baru dalam euthanasia, terutama berkenaan dengan penentuan kapan seorang dinyatakan telah mati a Dikenal beberapa konsep tentang mati seperti : 1. Mati sebagai berhentinya darah mengalir

Konsep mati dari berhentinya darah mengalir seperti dianut selama inidan yang juga diatur dalam PP. 18 Tahun 1991 menyatakan bahwa mati adalah berhentinya fungsi jantung dan paru-paru, tidak bisa dipergunakan lagi karena teknologi resusitasi telah memungkinkan jantung dan paru-paru yang semua terhenti, kini dapat dipacu untuk berddenyut kembali dan paru-paru dapat dipompa untuk berkembang kempis kebali. 2. Mati sebagai saat terlepasnya nyawa dari tubuh.a Konsep mati dari terlepasnya nyawa dari tubuh sering menimbulkan keraguan karena misalnya pada tindakan resusitasi yang berhasil, keadaan demikian menimbulkan kesan seakan-akan nyawa dapat ditarik kembali.a 3. Hilangnya kemampuan tubuh secara permanen Konsep mati mengenai hilangnya kemampuan tubuh secara permanen untuk menjalankan fungsinya secra terpadu juga dipertanyakan karena organ-organ berfungsi sendiri-sendiri tanpa terkendali karena otak telah mati. Untuk kepentingan transplantasi konsep ini menguntungkan tetapi secara moral tidak dapat diterima karena kenyataannya organ-organ masih berfungsi meskipun tidak terpadu lagi.a 4. Hilangnya manusia secara permanen untuk kembali sadar dan melakukan interaksi sosial. Bila dibandingkan dengan manusia sebagai makhluk sosial yaitu individu yang mempunyai kepribadian, menyadari kehidupannya, kekhususannya, kemampuannya mengingat, menentukan sikap, dan mengambil keputusan, mengajukan alasan yang masuk akal, mampu berbuat, menikmati, mengalami kecemasan dan sebagainya, maka penggerak dari otak baik secara fisik maupun sosial makin banyak dipergunakan.a Pusat pengendali terletak di batang otak, oleh karena itu jika batang otak telah mati maka dapat diyakini bahwa manusia ini secara fisik dan sosial telah mati. Dalam keadaan demikian kalangan medis sering menempuh pilihan tidak meneruskan resusitasi. Penentuan saat mati ini juga dibahas dan ditetapkan dalam World Medical Asembly tahun 1968 yang dikenal dengan Deklarasi Sydney. Disini dinyatakan penentuan saat kematian di kebanyakan negara merupakan tanggung jawab sah dokter. Dokter dapat menentukan seseorang sudah mati

dengan menggunakan kriteria yang lazim tanpa bantuan alat khusus yang telah diketahui oleh semua dokter.a Yang penting dalam penentuan saat mati disini adalah proses kematian tersebut sudah tidak dapat dibangkitkan lagi (irreversible), meski menggunakan teknik penghidupan kembali apapun. Walaupun sampai sekarang tidak ada alat yang sungguh-sungguh memuaskan dapat digunakan untuk menentukan saat mati ini, alat elektroensefalograf dapat diandalkan untuk maksud tersebut.a

c. Jenis Euthanasia 1. Berdasarkan cara dilaksanakan, euthanasia dapat dibedakan dalam :  Euthanasia Pasif Euthanasia pasif adalah perbuatan menghentikan atau mencabut segala tindakan atau pengobatan yang perlu untuk mempertahankan hidup manusia.  Euthanasia Aktif Euthanasia aktif adalah perbuatan yang dilakukan secara medik melalui intervensi aktif oleh seorang dokter dengan tujuan untuk mengakhiri manusia. Euthanasia aktif dibagi menjadi euthanasia aktif langsung dan tidak langsung. Euthanasia aktif langsung adalah dilakukannya tindakan medik secara terarah yang diperhitungkan akan mengakhiri hidup pasien, atau memperpendek hidup pasien. Jenis euthanasia ini dikenal juga sebagai mercy killing. Euthanasia aktif tidak langsung adalah dimana dokter atau tenaga kesehatan melakukan tindakan medik untuk meringankan penderitaan pasien, namun mengetahui adanya resiko tersebut dapat memperpendek atau mengakhiri hidup pasien.a 2. Berdasarkan dari permintaan , euthanasia dibedakan atas :  Euthanasia voluntir atau euthanasia sukarela Euthanasia voluntir adalah euthanasia yang dilakukan atas permintaan pasien secara sadar dan diminta berulang-ulang.  Euthanasia involuntir Euthanasia involuntir adalah euthanasia yang dilakukan pada pasien yang sudah tidak sadar , dan biasanya keluarga pasien yang meminta.a

Gambar. Mesin eutanasia b

d. Euthanasia Menurut Hukum Berbagai Negara Sejauh ini eutanasia diperkenankan yaitu dinegara Belanda, Belgia serta ditoleransi di negara bagian Oregon di Amerika, Kolombia dan Swiss dan dibeberapa negara dinyatakan sebagai kejahatan seperti di Spanyol, Jerman dan Denmark.b  Belanda Pada tanggal 10 April 2001 Belanda menerbitkan undang-undang yang mengizinkan eutanasia. Undang-undang ini dinyatakan efektif berlaku sejak tanggal 1 April 2002, yang menjadikan Belanda menjadi negara pertama di dunia yang melegalisasi praktik eutanasia. Pasien-pasien yang mengalami sakit menahun dan tak tersembuhkan, diberi hak untuk mengakhiri penderitaannya. b Tetapi perlu ditekankan, bahwa dalam Kitab Hukum Pidana Belanda secara formal euthanasia dan bunuh diri berbantuan masih dipertahankan sebagai perbuatan kriminal. Sebuah karangan berjudul "The Slippery Slope of Dutch Euthanasia" dalam majalah Human Life International Special Report Nomor 67, November 1998, halaman 3 melaporkan bahwa sejak tahun 1994 setiap dokter di Belanda dimungkinkan melakukan eutanasia dan tidak akan dituntut di pengadilan asalkan mengikuti beberapa prosedur yang telah ditetapkan. Prosedur tersebut adalah mengadakan konsultasi dengan rekan sejawat (tidak harus seorang spesialis) dan membuat laporan dengan menjawab sekitar 50 pertanyaan. b Sejak akhir tahun 1993, Belanda secara hukum mengatur kewajiban para dokter untuk melapor semua kasus eutanasia dan bunuh diri berbantuan. Instansi kehakiman selalu akan menilai betul tidaknya prosedurnya. Pada tahun 2002,

sebuah konvensi yang berusia 20 tahun telah dikodifikasi oleh undang-undang belanda, dimana seorang dokter yang melakukan eutanasia pada suatu kasus tertentu tidak akan dihukum.  Australia Negara bagian Australia, Northern Territory, menjadi tempat pertama di dunia dengan UU yang mengizinkan euthanasia dan bunuh diri berbantuan, meski reputasi ini tidak bertahan lama. Pada tahun 1995 Northern Territory menerima UU yang disebut "Right of the terminally ill bill" (UU tentang hak pasien terminal). Undang-undang baru ini beberapa kali dipraktikkan, tetapi bulan Maret 1997 ditiadakan oleh keputusan Senat Australia, sehingga harus ditarik kembali. b  Belgia Parlemen Belgia telah melegalisasi tindakan eutanasia pada akhir September 2002. Para pendukung eutanasia menyatakan bahwa ribuan tindakan eutanasia setiap tahunnya telah dilakukan sejak dilegalisasikannya tindakan eutanasia di negara ini, namun mereka juga mengkritik sulitnya prosedur pelaksanaan eutanasia ini sehingga timbul suatu kesan adaya upaya untuk menciptakan "birokrasi kematian".b Belgia kini menjadi negara ketiga yang melegalisasi eutanasia (setelah Belanda dan negara bagian Oregon di Amerika). Senator Philippe Mahoux, dari partai sosialis yang merupakan salah satu penyusun rancangan undang-undang tersebut menyatakan bahwa seorang pasien yang menderita secara jasmani dan psikologis adalah merupakan orang yang memiliki hak penuh untuk memutuskan kelangsungan hidupnya dan penentuan saat-saat akhir hidupnya.b  Amerika Eutanasia agresif dinyatakan ilegal di banyak negara bagian di Amerika. Saat ini satu-satunya negara bagian di Amerika yang hukumnya secara eksplisit mengizinkan pasien terminal ( pasien yang tidak mungkin lagi disembuhkan) mengakhiri hidupnya adalah negara bagian Oregon, yang pada tahun 1997 melegalisasikan kemungkinan dilakukannya eutanasia dengan memberlakukan UU tentang kematian yang pantas (Oregon Death with Dignity Act). Tetapi undang-undang ini hanya menyangkut bunuh diri berbantuan, bukan euthanasia. Syarat-syarat yang diwajibkan cukup ketat, dimana pasien terminal berusia 18

tahun ke atas boleh minta bantuan untuk bunuh diri, jika mereka diperkirakan akan meninggal dalam enam bulan dan keinginan ini harus diajukan sampai tiga kali pasien, dimana dua kali secara lisan (dengan tenggang waktu 15 hari di antaranya) dan sekali secara tertulis (dihadiri dua saksi dimana salah satu saksi tidak boleh memiliki hubungan keluarga dengan pasien). Dokter kedua harus mengkonfirmasikan diagnosis penyakit dan prognosis serta memastikan bahwa pasien dalam mengambil keputusan itu tidak berada dalam keadaan gangguan mental.Hukum juga mengatur secara tegas bahwa keputusan pasien untuk mengakhiri hidupnya tersebut tidak boleh berpengaruh terhadap asuransi yang dimilikinya baik asuransi kesehatan, jiwa maupun kecelakaan ataupun juga simpanan hari tuanya. b  Swiss Di Swiss, obat yang mematikan dapat diberikan baik kepada warga negara Swiss ataupun orang asing apabila yang bersangkutan memintanya sendiri. Secara umum, pasal 115 dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana Swiss yang ditulis pada tahun 1937 dan dipergunakan sejak tahun 1942, yang pada intinya menyatakan bahwa "membantu suatu pelaksanaan bunuh diri adalah merupakan suatu perbuatan melawan hukum apabila motivasinya semata untuk kepentingan diri sendiri.". Pasal 115 tersebut hanyalah menginterpretasikan suatu izin untuk melakukan pengelompokan terhadap obat-obatan yang dapat digunakan untuk mengakhiri kehidupan seseorang.b  Inggris Pada tanggal 5 November 2006, Kolese Kebidanan dan Kandungan Britania Raya (Britain's Royal College of Obstetricians and Gynaecologists) mengajukan sebuah proposal kepada Dewan Bioetik Nuffield (Nuffield Council on Bioethics) agar dipertimbangkannya izin untuk melakukan eutanasia terhadap bayi-bayi yang lahir cacat (disabled newborns). Proposal tersebut bukanlah ditujukan untuk melegalisasi eutanasia di Inggris melainkan semata guna memohon

dipertimbangkannya secara saksama dari sisi faktor "kemungkinan hidup si bayi" sebagai suatu legitimasi praktek kedokteran. Namun hingga saat ini eutanasia masih merupakan suatu tindakan melawan hukum di kerajaan Inggris demikian juga di Eropa (selain daripada Belanda). Demikian pula kebijakan resmi dari

Asosiasi Kedokteran Inggris (British Medical Association-BMA) yang secara tegas menentang eutanasia dalam bentuk apapun juga.b  Jepang Jepang tidak memiliki suatu aturan hukum yang mengatur tentang eutanasia demikian pula Pengadilan Tertinggi Jepang (supreme court of Japan) tidak pernah mengatur mengenai eutanasia tersebut. Ada 2 kasus eutanasia yang pernah terjadi di Jepang yaitu di Nagoya pada tahun 1962 yang dapat dikategorikan sebagai "eutanasia pasif". Kasus yang satunya lagi terjadi setelah peristiwa insiden di Tokai university pada tahun 1995 yang dikategorikan sebagai "eutanasia aktif ". Keputusan hakim dalam kedua kasus tersebut telah membentuk suatu kerangka hukum dan suatu alasan pembenar dimana eutanasia secara aktif dan pasif boleh dilakukan secara legal. Meskipun demikian eutanasia yang dilakukan selain pada kedua kasus tersebut adalah tetap dinyatakan melawan hukum, dimana dokter yang melakukannya akan dianggap bersalah oleh karena merampas kehidupan pasiennya. Oleh karena keputusan pengadilan ini masih diajukan banding ke tingkat federal maka keputusan tersebut belum mempunyai kekuatan hukum sebagai sebuah yurisprudensi, namun meskipun demikian saat ini Jepang memiliki suatu kerangka hukum sementara guna melaksanakan eutanasia.b  Republik Ceko Di Republik Ceko eutanisia dinyatakan sebagai suatu tindakan pembunuhan berdasarkan peraturan setelah pasal mengenai eutanasia dikeluarkan dari rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Sebelumnya pada rancangan tersebut, Perdana Menteri Jiri Posp il bermaksud untuk memasukkan eutanasia dalam rancangan KUHP tersebut sebagai suatu kejahatan dengan ancaman pidana selama 6 tahun penjara, namun Dewan Perwakilan Konstitusional dan komite hukum negara tersebut merekomendasikan agar pasal kontroversial tersebut dihapus dari rancangan tersebut.b  India Di India eutanasia adalah suatu perbuatan melawan hukum. Aturan mengenai larangan eutanasia terhadap dokter secara tegas dinyatakan dalam bab pertama pasal 300 dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana India (Indian penal

code-IPC) tahun 1860. Namun berdasarkan aturan tersebut dokter yang melakukan euthanasia hanya dinyatakan bersalah atas kelalaian yang

mengakibatkan kematian dan bukannya pembunuhan yang hukumannya didasarkan pada ketentuan pasal 304 IPC, namun ini hanyalah diberlakukan terhadap kasus eutanasia sukarela dimana sipasien sendirilah yang menginginkan kematian dimana si dokter hanyalah membantu pelaksanaan eutanasia tersebut (bantuan eutanasia). Pada kasus eutanasia secara tidak sukarela (atas keinginan orang lain) ataupun eutanasia di luar kemauan pasien akan dikenakan hukuman berdasarkan pasal 92 IPC.b  China Di China, eutanasia saat ini tidak diperkenankan secara hukum. Eutansia diketahui terjadi pertama kalinya pada tahun 1986, dimana seorang yang bernama "Wang Mingcheng" meminta seorang dokter untuk melakukan eutanasia terhadap ibunya yang sakit. Akhirnya polisi menangkapnya juga si dokter yang melaksanakan permintaannya, namun 6 tahun kemudian Pengadilan tertinggi rakyat (Supreme People's Court) menyatakan mereka tidak bersalah. Pada tahun 2003, Wang Mingcheng menderita penyakit kanker perut yang tidak ada kemungkinan untuk disembuhkan lagi dan ia meminta untuk dilakukannya eutanasia atas dirinya namun ditolak oleh rumah sakit yang merawatnya. Akhirnya ia meninggal dunia dalam kesakitan.b  Afrika Selatan Di Afrika Selatan belum ada suatu aturan hukum yang secara tegas mengatur tentang eutanasia sehingga sangat memungkinkan bagi para pelaku eutanasia untuk berkelit dari jerat hukum yang ada.b  Korea Belum ada suatu aturan hukum yang tegas yang mengatur tentang eutanasia di Korea, namun telah ada sebuah preseden hukum (yurisprudensi)yang di Korea dikenal dengan "Kasus rumah sakit Boramae" dimana dua orang dokter yang didakwa mengizinkan dihentikannya penanganan medis pada seorang pasien yang menderita sirosis hati (liver cirrhosis) atas desakan keluarganya. Polisi kemudian menyerahkan berkas perkara tersebut kepada jaksa penuntut dengan diberi catatan bahwa dokter tersebut seharusnya dinayatakan tidak bersalah. Namun kasus ini

tidak menunjukkan relevansi yang nyata dengan mercy killing dalam arti kata eutanasia aktif.b Pada akhirnya pengadilan memutuskan bahwa " pada kasus tertentu dari penghentian penanganan medis (hospital treatment) termasuk tindakan eutanasia pasif, dapat diperkenankan apabila pasien terminal meminta penghentian dari perawatan medis terhadap dirinya.b

e.

Euthanasia dan Hukum Indonesia Kitab undang-undang Hukum Pidana mengatur seseorang dapat dipidana

atau dihukum jika ia menghilangkan nyawa orang lain dengan sengaja ataupun karena kurang hati-hati.  Pasal 344 KUHP Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang disebutnya dengan nyata atau sungguh-sungguh dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun.  Pasal 388 KUHP Barang siapa dengan sengaja menghilangkan jiwa orang lain, dihukum karena makar mati dengan penjara selama-lamanya 15 tahun  Pasal 340 KUHP Barang siapa dengan sengaja atau direncanakan lebih dahulumenghilangkan jiwa orang lain, dihukum karena pembunuhan direncanakan (moord) dengan hukuman mati atau penjara selama-lamanya seumur hidup atau penjara selama-lamanya dua puluh tahun  Pasal 359 KUHP Barang siapa karena salahnya menyebabkan matinya orang dihukum penjara selama-lamanya lima tahun atau kurungan selama-lamanya satu tahun.  Pasal 345 KUHP Barang siapa dengan sengaja menghasut orang lain untuk membunuh diri, menolongnya dalam perbuatan itu atau memberikan daya upaya itu jadi bunuh diri dihukum penjara selama-lamanya empat tahun.a

f. Contoh Kasus  Kasus Hasan Kusuma - Indonesia Sebuah permohonan untuk melakukan eutanasia pada tanggal 22 Oktober 2004 telah diajukan oleh seorang suami bernama Hassan Kusuma karena tidak tega menyaksikan istrinya yang bernama Agian Isna Nauli, 33 tahun, tergolek koma selama 2 bulan dan di samping itu ketidakmampuan untuk menanggung beban biaya perawatan merupakan suatu alasan pula. Permohonan untuk melakukan eutanasia ini diajukan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Kasus ini merupakan salah satu contoh bentuk eutanasia yang di luar keinginan pasien. Permohonan ini akhirnya ditolak oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dan setelah menjalani perawatan intensif maka kondisi terakhir pasien (7 Januari 2005) telah mengalami kemajuan dalam pemulihan kesehatannya.b  Kasus seorang wanita New Jersey - Amerika Serikat Seorang perempuan berusia 21 tahun dari New Jersey, Amerika Serikat, pada tanggal 21 April 1975 dirawat di rumah sakit dengan menggunakan alat bantu pernapasan karena kehilangan kesadaran akibat pemakaian alkohol dan zat psikotropika secara berlebihan.Oleh karena tidak tega melihat penderitaan sang anak, maka orangtuanya meminta agar dokter menghentikan pemakaian alat bantu pernapasan tersebut. Kasus permohonan ini kemudian dibawa ke pengadilan, dan pada pengadilan tingkat pertama permohonan orangtua pasien ditolak, namun pada pengadilan banding permohonan dikabulkan sehingga alat bantu pun dilepaskan pada tanggal 31 Maret 1976. Pasca penghentian penggunaan alat bantu tersebut, pasien dapat bernapas spontan walaupun masih dalam keadaan koma. Dan baru sembilan tahun kemudian, tepatnya tanggal 12 Juni 1985,
b

pasien tersebut

meninggal

akibat

infeksi

paru-paru

(pneumonia). 

Kasus Terri Schiavo Terri Schiavo (usia 41 tahun) meninggal dunia di negara bagian Florida, 13 hari setelah Mahkamah Agung Amerika memberi izin mencabut pipa makanan (feeding tube) yang selama ini memungkinkan

pasien dalam koma ini masih dapat hidup. Komanya mulai pada tahun 1990 saat Terri jatuh di rumahnya dan ditemukan oleh suaminya, Michael Schiavo, dalam keadaan gagal jantung. Setelah ambulans tim medis langsung dipanggil, Terri dapat diresusitasi lagi, tetapi karena cukup lama ia tidak bernapas, ia mengalami kerusakan otak yang berat, akibat kekurangan oksigen. Menurut kalangan medis, gagal jantung itu disebabkan oleh ketidakseimbangan unsur potasium dalam tubuhnya. Oleh karena itu, dokternya kemudian dituduh malapraktek dan harus membayar ganti rugi cukup besar karena dinilai lalai dalam tidak menemukan kondisi yang membahayakan ini pada pasiennya.b Setelah Terri Schiavo selama 8 tahun berada dalam keadaan koma, maka pada bulan Mei 1998 suaminya yang bernama Michael Schiavo mengajukan permohonan ke pengadilan agar pipa alat bantu makanan pada istrinya bisa dicabut agar istrinya dapat meninggal dengan tenang, namun orang tua Terri Schiavo yaitu Robert dan Mary Schindler menyatakan keberatan dan menempuh langkah hukum guna menentang niat menantu mereka tersebut. Dua kali pipa makanan Terri dilepaskan dengan izin pengadilan, tetapi sesudah beberapa hari harus dipasang kembali atas perintah hakim yang lebih tinggi. Ketika akhirnya hakim memutuskan bahwa pipa makanan boleh dilepaskan, maka para pendukung keluarga Schindler melakukan upaya-upaya guna

menggerakkan Senat Amerika Serikat agar membuat undang-undang yang memerintahkan pengadilan federal untuk meninjau kembali keputusan hakim tersebut. Undang-undang ini langsung didukung oleh Dewan Perwakilan Amerika Serikat dan ditandatangani oleh Presiden George Walker Bush. Tetapi, berdasarkan hukum di Amerika kekuasaan kehakiman adalah independen, yang pada akhirnya ternyata hakim federal membenarkan keputusan hakim terdahulu.b  Kasus "Doctor Death" Dr. Jack Kevorkian dijuluki "Doctor Death", seperti dilaporkan Lori A. Roscoe. Pada awal April 1998, di Pusat Medis Adven Glendale , California diduga puluhan pasien telah "ditolong" oleh Kevorkian untuk

mengakhiri hidup. Kevorkian berargumen apa yang dilakukannya semata demi "menolong" pasien-pasiennya. Namun, para penentangnya menyebut apa yang dilakukannya adalah pembunuhan.b  Kasus rumah sakit Boramae - Korea Pada tahun 2002, ada seorang pasien wanita berusia 68 tahun yang terdiagnosa menderita penyakit sirosis hati. Tiga bulan setelah dirawat, seorang dokter bermarga Park umur 30 tahun, telah mencabut alat bantu pernapasan (respirator) atas permintaan anak perempuan si pasien. Pada Desember 2002, anak lelaki almarhum tersebut meminta polisi untuk memeriksa kakak perempuannya beserta dua orang dokter atas tuduhan melakukan pembunuhan. Seorang dokter yang bernama dr. Park mengatakan bahwa si pasien sebelumnya telah meminta untuk tidak dipasangi alat bantu pernapasan tersebut. Satu minggu sebelum meninggalnya, si pasien amat menderita oleh penyakit sirosis hati yang telah mencapai stadium akhir, dan dokter mengatakan bahwa walaupun respirator tidak dicabutpun, kemungkinan hanya dapat bertahan hidup selama 24 jam saja.b g. Euthanasia dan HIV/AIDS Sebagai bagian dari isu keedokteran yang penting, dalam produk fatwa lembaga fatwa MUI dan Bahtsul Masail fatwa tentang hukum euthanasia merupakan bagian dari fatwa tentang AIDS/HIV. Namun dalam penerapannya dapat terpisah. Bahtsul Masail dan MUI sepakat mengharamkan euthanasia bagi penderita HIV/AIDS. Logika yang dimaksud oleh kedua lembaga tersebut, jika untuk penderita HIV/AIDS yang jelas saat kematian dan kepedihan penderitaan yang dialaminya saja haram apalagi karena alasan lain. Dewan Hisbah termasuk yang mengharamkannya secara mutlak. Dewan Hisbah, MUI, dan Bahtsul Masail sepakat bahwa jenazah penderita HIV/AIDS harus tetap diurus sebagaimana mestinya, dilaksanakan oleh orang yang ahli. Bahtsul Masail secara khusus mengulas tentang hukum pernikahan bagi penderita HIV/AIDS, menurut mereka pernikahan bagi penderita HIV/AIDS adalah sah namun makruh.4

2.5. Abortus Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum berusia 22 minggu. Abortus dapat terjadi secara spontan atau secara buatan. Abortus spontan (keguguran, miscarriage) dapat merupakan suatu mekanisme alamiah untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang abnormal. Abortus buatan (pengguguran, aborsi, abortus provocatus) adalah abortus yang terjadi akibat intervensi tertentu yang bertujuan mengakhiri proses kehamilan. Abortus buatan dapat bersifat legal (abortus provocatus

medianalis/therapeuticus) yang dilakukan berdasarkan indikasi medik. Abortus buatan ilegal (abortus provocatus criminalis) adalah abortus yang dilakukan berdasarkan indikasi nonmedik. Abortus ini dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten atau tenaga yang tidak kompeten. Aborsi yang dilakukan oleh tenaga yang tidak kompeten biasanya dengan cara-cara seperti memijit-mijit perut bagian bawah, memasukkan benda acing atau jenis tumbuh-tumbuhan/rumput-rumputan ke dalam leher rahim, dan pemakaian bahan-bahan kimia yang dimasukkan ke dalam jalan lahir sehingga sering terjadi perdarahan dan infeksi yang berat, bahkan dapat berakibat fatal. Berlandaskan Lafal Sumpah Hippokrates, Lafal Sumpah Dokter Indonesia dan International Code of Medical Ethics maupun KODEKI, setiap dokter wajib menghormati dan melindungi makhluk hidup insani. Karena itu, aborsi berdasarkan indikasi nonmedik adalah tidak etis. Abortus buatan legal dilakukan dengan cara tindakan operatif (paling sering dengan cara kuretase, aspirasi vakum) atau dengan cara medikal. Dalam Deklarasi Oslo (1970) dan UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, mengenai abortus buatan legal terdapat ketentuan-ketentuan sebagai berikut: y Abortus buatan legal hanya dilakukan sebagai suatu tindakan terapeutik yang keputusannya disetujui secara tertulis oleh 2 orang dokter yang dipilih berkat kompetensi profesional mereka dan prosedur operasionalnya dilakukan oleh seorang dokter yang kompeten diinstalasi yang diakui suatu otoritas yang sah, dengan syarat tindakan tersebut disetujui oleh ibu hamil bersangkutan, suami, atau keluarga. y Jika dokter yang melaksanakan tindakan tersebut tnerasa bahwa hati nuraninya tidak membenarkan ia melakukan pengguguran itu, ia berhak

mengundurkan diri dan menyerahkan pelaksanaan tindakan medik itu kepada teman sejawat lain yang kompeten. y Yang dimaksud dengan indikasi medis dalam abortus buatan legal adalah suatu kondisi yang benar-benar menghaniskan diambil tindakan tersebut sebab tanpa tindakan tersebut dapat membahayakan jiwa ibu atau adanya ancaman gangguan fisik, mental dan psikososial jika kehamilan dilanjutkan, atau risiko yang sangat jelas bahwa anak yang akan dilahirkan menderita cacat mental, atau cacat fisik yang berat. y Hak utama untuk memberikan persetujuan tindakan medik adalah pada ibu hamil yang bersangkutan, namun pada keadaan tidak sadar atau tidak dapat memberikan persetujuannya dapat diminta pada suaminya/wali yang sah. Pernyataan Oslo didukung oleh General Assembly dari WMA, namun tidak mengikat para anggotanya. Ada negara yang melegalkan abortus sebagai salah satu cara keluarga berencana. Suatu masalah yang sulit dihadapi adalah kehamilan tidak diinginkan (KTD) seperti pada kasus kegagalan kontrasepsi, kehamilan di luar nikah, kehamilan karena perkosaan, tidak adanya akses untuk pelayanan KB, tekanan pasangan, dan faktor ekonomi. Setiap wanita memiliki hak reproduksi, yaitu hak menentukan jumlah, penjarakan, dan waktu kelahiran anak. Oleh karena aborsi atas alasan nonmedik dianggap tindakan melanggar hukum (tindakan kriminal) dan aborsi bukan salah satu cara KB di Indonesia, banyak wanita dengan KTD mencari pelayanan aborsi pada tenaga tidak terlatih dan memakan sendiri bermacam-macam obat untuk menggugurkan kandungannya. Akibatnya, angka kesakitan dan kematian ibu di Indonesia akibat aborsi tidak aman menjadi tinggi. Aborsi tidak aman merupakan ancaman bagi kesehatan dan hidup wanita. Tindakan konkrit pemecahan masalah aborsi tidak aman merupakan bagian upaya peningkatan kualitas kesehatan reproduksi di Indonesia dan pemenuhan hak reproduksi wanita. Penelitian pada banyak negara menunjukkan bahwa di negaranegara yang mengizinkan aborsi dengan indikasi yang lebih bias, insiders aborsi tidak aman lebih rendah dan angka kematian akibat aborsi tidak aman jauh

lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara yang melarang aborsi secara ketat. Di Indonesia, diperkirakan sekitar 1,5-2 juta aborsi tidak aman setiap tahunnya dan kontribusi Angka Kematian Ibu (AKI) sebab aborsi tidak aman adalah 11,1%. Oleh karena itu, dalam beberapa tahun terakhir ini diperkenalkan program aborsi berbasis konseling dengan tujuan menyelenggarakan aborsi yang aman sesuai standar setelah pasien mendapat konseling dengan baik. Bukan mustahil bahwa ibu dengan KTD mengurungkan niatnya untuk aborsi setelah mendapat konseling tersebut. Selanjutnya, konseling pasca-aborsi, pendidikan, dan pelayanan KB hams diberikan secara bermutu sehingga dapat mencegah aborsi berulang. Secara rinci KUHP mengancam pelaku-pelaku abortus buatan ilegal sebagai berikut: 1. Wanita yang sengaja menggugurkan kandungan atau menyuruh orang lain melakukannya, hukuman maksimal 4 tahun (KUHP pasal 336). 2. Seseorang yang menggugurkan kandungan tanpa seizinnya, hukuman maksimal 12 tahun dan bila wanita tersebut meninggal, hukuman maksimum 15 tahun (KUHP pasal 347). 3. Seseorang yang menggugurkan kandungan wanita dengan seizin wanita tersebut, hukuman maksimum 5 tahun 6 bulan dan bila wanita tersebut meninggal, maksimum 7 tahun (KUHP pasal 348). 4. Dokter, bidan atau juru obat yang melakukan kejahatan di atas, hukuman ditambah dengan sepertiganya dan pencabutan hak pekerjaannya (KUHP pasal 349). 5. Barang siapa mempertunjukkan alat/cara menggugurkan kandungan kepada anak di bawah usia 17 tahun/di bawah umur, hukuman maksimum 9 bulan (KUHP pasal 383). 6. Barang siapa menganjurkan/merawat/memberi obat kepada seorang wanita dengan memberi harapan agar gugur kandungannya, hukuman maksimum 4 tahun (KUHP pasal 299).2

Seluruh lembaga fatwa di Indonesia, Bahtsul Masail, Majlis Tarjih, MUI, dan Dewan Hisbah sepakat mengharamkan aborsi sejak terjadinya pembuahan, kecuali darurat, ada alasan medis. Demikian pula mereka sepakat tentang batas haramnya aborsi adalah sejak terjadinya konsepsi. MUI merupakan lembaga fatwa yang beberapa kali merevisi fatwanya. Awalnya termasuk yang

mengharamkannya secara mutlak, dalam perkembangan berikut-nya lebih merinci hukum pengecualian, jika karena adanya uzur syari, baik darurat maupun hajat, seperti akibat perkosaan atau demi menyelamatkan jiwa ibu, atau karena menderita penyakit berat yang dapat mengancam jiwa si ibu, mereka membolehkannya dengan batasan dan syarat tertentu, seperti sebelum usia kandungan 40 hari, diromendasikan oleh keluarga, dokter dan ulama, pelaksanaannya dsilakukan di rumah sakit tertentu. Fatwa MUI terakhir mengundang reaksi dari Dewan Hisbah yang kemudian menetapkan bahwa aborsi bagi korban perkosaan hukumnya haram.4

2.6. Transplantasi Organ dan Jaringan Tubuh Transplantasi organ dan atau jaringan tubuh manusia merupakan tindakan medik yang sangat bermanfaat bagi pasien dengan gangguan fungsi organ tubuh yang berat. Ini adalah terapi pengganti (alternatif) yang merupakan upaya terbaik untuk menolong pasien dengan kegagalan organnya, karena hasilnya lebih memuaskan dibandingkan dengan terapi konservatif. Walaupun transplantasi organ dan jaringan itu telah lama dikenal.

a.

Menurut Ulama Pada prinsipnya seluruh lembaga fatwa di Indonesia mengharamkan

transplantasi organ manusia. Majlis Tarjih, MPKS, MUI, dan Dewan Hisbah menambahkan kecuali darurat, juga termasuk untuk kepentingan ilmu

pengetahuan dan pendidikan kedokteran. Fatwa Bahtsul Masail mengalami pergeseran, awalnya mereka mengharamkannya secara mutlak namun kemudian direvisi yang selanjutnya difatwakan dengan dua pandangan, haram secara mutlak dan jaiz karena darurat. Dewan Hisbah dan Bahtsul Masail mempersyaratkan menggunakan organ muslim. Bedanya, Dewan Hisbah sebatas menyarankan

sedangkan Bah-tsul Masail mengharuskannya. MPKS, Bahtsul Masail, dan Dewan Hisbah secara khusus telah mengeluarkan fatwa yang mengha-ramkan transplantasi menggunakan organ babi, kecuali tidak ada pilihan lain. Namun jika ada bahan pengganti, maka penggunaan gigi babi, Bahtsul Masail

mengharamkannya secara mutlak.

2.7. Kesalahan dan Kelalaian Medis Tuntutan terhadap dokter, pada umumnya dilakukan oleh pasien yang merasa tidak puas terhadap pengobatan atau pelayanan medis yang dilakukan oleh dokter yang merawatnya. Ketidakpuasan tersebut terjadi karena hasil yang dicapai dalam upaya pengobatan tidak sesuai dengan harapan pasien dan keluarganya. Hasil upaya pengobatan yang mengecewakan pasien, seringkali dianggap sebagai kelalaian atau kesalahan dokter dalam melaksanakan profesinya. Hariyani (2005) mengemukakan bahwa dalam kaitan hubungan antara pasien dan dokter, penyebab dari ketidakpuasan tersebut pada umumnya karena kurangnya komunikasi antara dokter dengan pasiennya, terutama terkait masalah "informed consent". Perselisihan atau sengketa yang terjadi antara dokter dan pasien oleh Hariyani disebut dengan istilah "sengketa medik". Beberapa unsur dari persetujuan tindakan medik yang sering dikemukakan pasien sebagai alasan penyebab sengketa medik ini adalah : 1. Isi informasi (tentang penyakit yang diderita pasien) dan alternatif yang bisa dipilih pasien tidak disampaikan secara jelas dan lengkap. 2. Saat memberikan informasi seyogyanya sebelum terapi mulai dilakukan, terutama dalam hal tindakan medis yang beresiko tinggi dengan kemungkinan adanya perluasan dalam terapi atau tindakan medik. 3. Cara menyampaikan informasi tidak memuaskan pasien, karena pasien merasa bahwa dirinya tidak mendapatkan informasi yang jujur, lengkap dan benar yang ingin didapatkannya secara lisan dari dokter yang merawatnya. 4. Pasien merasa tidak diberi kesempatan untuk menentukan pilihan atau alternatif pengobatan yang telah dilakukan terhadap dirinya, sehingga hak pasien untuk menentukan dirinya sendiri (self determination) diabaikan oleh dokter.

5.

Kadang-kadang

pasien

hanya

mendapatkan

informasi

dari

perawat

(paramedis), padahal menurut hukum yang berhak memberikan informasi adalah dokter yang menangani pasien tersebut.

Apakah tidak diberikannya informasi ini termasuk dalam kategori kelalaian dokter? Menurut Fuady (2005) untuk dapat diajukannya gugatan atas dasar ketiadaan informed consent harus dipenuhi beberapa unsur yuridis sebagai berikut : 1. Adanya kewajiban dokter untuk mendapatkan persetujuan (consent) dari pasien. 2. 3. 4. Kewajiban tersebut tidak dilaksanakan tanpa justifikasi yuridis. Adanya kerugian dipihak pasien. Adanya hubungan sebab akibat antara ketiadaan informed consent dan kerugian tersebut.

Dalam buku hukum medik (medical law), Guwandi (2004) menyatakan bahwa "kelalaian" sebagai terjemahan dari 'negligence", yang dalam arti umum bukanlah merupakan suatu pelanggaran hukum maupun kejahatan. Seseorang dapat dikatan lalai kalau orang tersebut bersikap acuh tak acuh atau tidak peduli, dan tidak memperhatikan kepentingan orang lain sebagaimana kepatutan yang berlaku dalam pergaulan dimasyarakat. Selama akibat dari kelalaian ini tidak membawa kerugian atau mencederai orang lain, maka tidak ada akibat hukum yang dibebankan kepada orang tersebut, karena hukum tidak mencampuri hal-hal yang dianggap sepele (de minimus not curat lex, the law does not concern itself with trifles). Kelalaian yang terkena sanksi sebagai akibat hukum yang harus dipertanggungjawabkan oleh pelaku, bila kelalaian ini sudah menyebabkan terjadinya kerugian baik kerugian harta benda maupun hilangnya nyawa atau cacat pada anggota tubuh seseorang. Untuk menentukan adanya kelalaian dokter, Hariyani (2005) menyebutkan 4 unsur yang disingkat dengan "4D" yaitu sebagai berikut :

a. b. c. d.

Adanya duty (kewajiban) yang harus dilaksanakan. Adanya derelection of that duty (penyimpangan kewajiban) Terjadinya damaged (kerusakan / kerugian) Terbuktinya direct causal relationship (berkaitan langsung) antara

pelanggaran kewajiban dengan kerugian.

Bila kesalahan atau kelalaian tersebut dihubungkan dengan hukum pidana, maka Jonkers (Guwandi, 2004) mengemukakan 4 unsur sebagai berikut : a. b. c. d. Perbuatan tersebut bertentangan dengan hukum (wederrechtelijkheid) Akibat dari perbuatan bisa dibayangkan (voorzeinbaarheid) Akibat perbuatan sebenarnya bisa dihindari (vermijdbaarheid) Perbuatan tersebut dapat dipersalahkan kepadanya (verwijtbaarheid), karena sebenarnya pelaku sudah dapat membayangkan dan dapat menghindarinya.

Menurut hukum pidana (Nasution, 2005), kelalaian terbagi menjadi 2 : a. "Kealpaan perbuatan" ialah perbuatannya sendiri sudah merupakan suatu peristiwa pidana, sehingga untuk dipidananya pelaku tidak perlu melihat akibat yang timbul dari perbuatan tersebut (lihat pasal 205 KUHP) b. "Kealpaan akibat" ialah akibat yang timbul merupakan suatu peristiwa pidana bila akibat dari kealpaan tersebut merupakan akibat yang dilarang oleh hukum pidana, misalnya terjadinya cacat atau kematian sebagai akibat yang timbul dari suatu perbuatan (lihat pasal 359, 360, dan 361 KUHP).

Nasution (2005) mengemukakan pendapat Picard (1984) tentang 3 katergori yang dapat dipakai sebagai pedoman untuk mengetahui apakah dokter telah berbuat dalam suasana dan keadaan yang sama sebagai berikut : 1. Pendidikan, pengalaman, dan kualifikasi-kualifikasi lain yang berlaku untuk tenaga kesehatan 2. 3. Tingkat resiko dalam prosedur penyembuhan / perawatan Suasana, peralatan, fasilitas, dan sumber-sumber lain yang tersedia bagi tenaga kesehatan.

C. Berkhouwer dan L.D. Vorstman (Nasution, 2005) mengemukakan 3 faktor yang menjadi penyebab kesalahan dokter dalam melakukan profesi, yaitu : 1. Kurangnya pengetahuan 2. Kurangnya pengalaman 3. kurangnya pengertian

Dari semua pendapat diatas, ada 2 pakar hukum yang memberikan kesimpulan sebagai berikut : Guwandi (2005) menyatakan bahwa untuk menyebutkan bahwa seorang dokter telah melakukan kelalaian, maka harus dapat dibuktikan hal-hal sebagai berikut : a. Bertentangan dengan etika, moral dan disiplin b. Bertentangan dengan hukum c. Bertentangan dengan standar profesi medis d. Kekurangan ilmu pengetahuan atau tertinggal ilmu didalam profesinya yang sudah berlaku umum dikalangan tersebut. e. Menelantarkan (negligence, abandonment), kelalaian, kurang hati-hati, acuh, kurang peduli terhadap keselamatan pasien, kesalahan menyolok dan sebagainya.

Nasution (2005) menyimpulkan untuk menentukan adanya kealpaan harus terpenuhi adanya 3 unsur sebagai berikut : a. Pelaku berbuat lain dari apa yang seharusnya diperbuat menurut hukum tertulis maupun tidak tertulis, sehingga ia sebenarnya telah melakukan suatu perbuatan (termasuk tidak berbuat) yang melawan hukum. b. Pelaku telah berlaku kurang hati-hati, ceroboh, dan kurang berpikir panjang. c. Perbuatan pelaku itu dapat dicela, oleh karenanya pelaku harus

bertanggungjawab atas akibat perbuatan tersebut.

Sumber Rujukan : Isfandyarie, A, 2006, Tanggung Jawab Hukum dan Sanksi Bagi Dokter Buku I, Prestasi Pustaka Publisher : Jakarta.

2.8. Kecelakaan Medis Kecelakaan medis sering dianggap sama dengan kelalaian medis, karena kedua keadaan tersebut sama-sama dapat menimbulkan kerugian kepada pasien. bila ditinjau dari segi hukum, dua keadaan tersebut harus dibedakan, karena didalam hukum medis yang menganut "inspanning verbintenis" (perjanjian upaya) yang harus dipertanggungjawabkan bukan akibat dari perbuatan, tetapi pertanggungjawaban lebih mengarah kepada cara bagaimana sampai akibat tersebut terjadi. Walaupun akibatnya pasien tidak bisa sembuh atau meninggal atau cacat, tetapi bila dokter telah melakukan upaya sungguh-sungguh sesuai dengan standar profesi medis, maka dokter tidak bisa dipersalahkan. Sebagai contoh : Seorang pasien datang dengan nyeri kepala hebat, terus-menerus sehingga tidak dapat tidur. Ternyata hasil pemeriksaan menunjukkan pasien hypertensi berat. Selain itu, dokter juga menemukan adanya kelainan neurologis kelumpuhan ringan pada tangan dan kaki kiri pasien. Dokter telah melakukan pengobatan sesuai prosedur, tetapi pasien tidak bisa sembuh, dan terjadi kelumpuhan ringan (parese) yang menetap dari kaki dan tangan tersebut. Dalam hal terjadi seperti ini, dokter tidak bisa dipersalahkan telah mengakibatkan kelumpuhan atau cacat pada pasien, karena perjalanan penyakitnya memeng tidak bisa dicegah dan diobati oleh dokter yang bersangkutan. Demikian juga dalam kecelakaan medis yang merupakan kecelakaan murni tanpa ditemukan adanya unsur kelalaian pada dokter, dokter tidak bisa dipersalahkan bila terjadi akibat yang tidak dikehendaki pasien yang akibat tersebut disebabkan oleh kecelakaan medis yang tidak dapat diduga sebelumnya.

Untuk menentukan bahwa akibat yang diderita pasien merupakan kecelakaan medis dan bukan merupakan kelalaian medis, Guwandi (2004) memberikan ciriciri sebagai berikut : a. Kecelakaan merupakan peristiwa yang tidak terduga, tindakan yang tidak disengaja (accident, misfortune, bad fortune, mischance, ill luck). b. Tidak ditemukan adanya unsur kesalahan (schuld) dalam kecelakaan.

c.

Dokter sudah melakukan pekerjaannya sesuai dengan standar profesi medis dan etika profesi.

d.

Kecelakaan yang mengandung unsur yang tidak dapat dipersalahkan (verwijtbaarheid), tidak dapat dicegah (vermijdbaarheid) dan terjadinya tidak dapat diduga sebelumnya.

e.

Dokter sudah melakukan tindakan dengan hati-hati, melakukan upaya dengan sungguh-sungguh dengan menggunakan segala ilmunya, keterampilan dan pengalaman yang dimilikinya.

f.

Dokter telah berusaha meminimalisasi resiko yang mungkin terjadi dengan melakukan anamnese yang teliti, pemeriksaan pendahuluan yang adekuat, dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan.

g.

Dalam hal kasus pembedahan / pembiusan, dokter telah berusaha melakukan terapi awal terhadap kelalaian yang ditemukan atau telah melakukan konsultasi dengan spesialis lainnya yang berkompeten terhadap kelainan yang diderita pasiennya.

Contoh kasus kecelakaan medis dalam Guwandi (2004) : The Straits Times, 25 oktober 1986: Harian ini memuat berita tentang seorang ahli bedah yang melakukan operasi pada tumor paru atas. Tumor tersebut agak besar dan terletak ditempat yang sulit, didekat pembuluh darah arteri. Operasi harus dilakukan, karena tanpa operasi diperkirakan umur pasien tinggal 6 bulan lagi. Tindakan operasi yang dilakukan sangat beresiko, karena letaknya yang berdekatan dengan jantung dan pembuluh darh besar. Pada waktu dilakukan operasi, terjadi "kecelakaan" yang tak disengaja dengan tertusuknya dua pembuluh darah, dan perdarahan yang terjadi tidak dapat dihentikan, karena banyaknya perlekatan-perlekatan didaerah tersebut.

Berdasarkan keterangan ahli, operasi ini memang sulit sekali untuk bisa dilakukan, sehingga dokter ahli bedah yang terpandai sekalipun mungkin akan dapat mengalami hal yang sama. Walaupun akhirnya pasien meninggal, dokter tidak dapat dipersalahkan.

Sumber Rujukan ;

Isfandyarie, A, 2006, Tanggung Jawab Hukum dan Sanksi Bagi Dokter Buku I, Prestasi Pustaka Publisher : Jakarta.