Anda di halaman 1dari 6

PATOFISIOLOGIS DAN GEJALA KLINIS GANGGUAN KESEIMBANGAN AIR DAN ELEKTROLIT

Dehidrasi Dehidrasi adalah pengurangan abnormal volume cairan tubuh,Gejala klinis t imbul ket ika kita kehilangan lebih dari 5% dari air tubuh total, dan akan menimbulkan kondisi yang mengancam kehidupan jika pasien kehilangan 20%. Adanya kehilangan cairan akibat berbagai sebab mennyebabkan peningkatan osmolalitas cairan ekstraseluller yang menyebabkan timbulnya stimulasi haus baik akibat peransangan osmoreseptor hipotalamus, dimana ADH dilepaskan. membran mukosa kering, dan penurunan elast isit as kulit atau turgor akibat hilangnya cairan intraseluller.. Kehilangan volume darah yang efekt if beredar menyiratkan tekanan darah rendah pada kedua vena dan sistem arteri. Kehilangan lebih dar i satu liter cairan intravaskuler menyebabkan hipotensi postural dengan

pusing, kebingungan dan kegagalan otak. Vena kosong dan kulit dingin mencirikan vasokontriksi perifer. Akhirnya, menyebabkan takikardia

ekstrem, yang berubah menjadi bradikardia terminal dan tekanan darah arteri yang mendekat i no l.

Tabel : derajat dehidrasi Penyebab utama dari dehidrasi adalah diare berat, muntah, demam dengan keringat yang sangat banyak. Tidak minum cukup air selama cuaca panas atau saat olahraga juga dapat menyebabkan dehidrasi. Setiap orang bisa mengalami dehidrasi, tetapi anak-anak, orang tua dan orang dengan penyakit kronis lebih berisiko mengalami dehidrasi.

Tabel : Gejala klinis dehidrasi

Khususnya pada anak-anak berumur kurang dari 4 tahun cenderung mengalami kehilangan cairan yang lebih mudah karena muntah, diare, atau peningkatan IWL, kehilangna caiaran dapat terjadi sangat cepat , proses kehilangan cairan pada anak tiga kali lebih cepat daripada orang dewasa, hal ini disebabkan oleh karena: y y y Tingginya metabolism rate pada anak-anak Index massa tubuh berdasarkan permukaan tubuh yang lebih tinggi. Kandungan cairan pada anak-anak lebih besar dalam komposisi tubuhnya dibandingkan dewasa.( 70% pada bayi, 65% pada anak-anak, 60% pada dewasa) Dehidrasi sering dikategorikan sesuai dengan kadar konsentrasi serum dari natrium menjadi isonatremik (130-150 mEq/L), hiponatremik (<139 mEq/L) atau hipernatremik (>150mEq/L). Dehidrasi isonatremik merupakan yang paling sering terjadi (80%), sedangkan dehidrasi hipernatremik atau hiponatremik sekitar 5-10% dari kasus. Dehidrasi isotonis (isonatremik) terjadi ketika kehilangan cairan hamper sama dengan konsentrasi natrium terhadap darah. Kehilangan cairan dan natrium besarnya relative sama dalam kompartemen intravaskuler maupun kompartemen ekstravaskuler.

Dehidrasi hipotonis (hiponatremik) terjadi ketika kehilangan cairan dengan kandungan natrium lebih banyak dari darah (kehilangan cairan hipertonis). Secara garis besar terjadi kehilangan natrium yang lebih banyak dibandingkan air yang hilang. Karena kadar natrium serum rendah, air di kompartemen intravaskuler berpindah ke kompartemen ekstravaskular, sehingga menyebabkan penurunan volume intravaskuler. Dehidrasi hipertonis (hipernatremik) terjadi ketika kehilangan cairan dengan natrium lebih sedikit dari darah (kehilangan cairan hipotoni). Secara garis besar besar terjadi kehilangan air yang lebih banyak dibandingkan natrium yang hilang. Karena kadar natrium tinggi, air di kompartemen ekstravaskuler berpindah ke kompartemen intravaskuler, sehingga meminimalkan penuruna volume intravaskuler. Komplikasi yang timbul akibat dehidrasi adalah: y y y Heat Injury Edema serebral Kejang, adanya gangguan keseimbangan elektrolit seperti kalium dan natrium menyebabkan gangguan pengontrolan kontraksi otot dan kadang sampai menimbulkan gangguan kesadaran. y y Syok hipovolemik Gagal ginjal, dimana ginjal tidak bias berfungsi baik dalam membuang kelebihan cairan dan sisa metabolisme dari darah y Koma dan kematian

Gangguan Keseimbangan Elektrolit 1. Na + (Sodium)


L, terdapat sedikit dalam cairan intraseluller. Sangat penting dalam regulasi keseimbangan cairan tubuh dan dalam fungsi kerja saraf dan otot. Reabsorbsi di tubuli Renal dipengaruhi oleh hormon :    Aldosterone Renin/angiotensin Atrial Natriuretic Peptide (ANP)

Natrium adalah 90 % dari kation di cairan ekstraseluler, kadar normalnya 136 -145 mEq /

Hiponatremi
adalah suatu keadaan dimana kadar Na+ serum < 135 mEq/ L. Penyebab hiponatremi seperti: penyakit ginjal, kehilangan melalui gastrointestinal, pengeluaran keringat meningkat, penggunaan diuretic, gangguan pompa natrium-kalium disertai penurunan kalium sel dan natrium serum serta asidosis metabolic. Tanda dan gejala klinis adalah timbulnya kelemahan, kram otot, mual muntah, koma dan konvulsi. Hasil pemeriksaan laboratorium : Natrium serum < 135 mEq/L, osmolalitas serum 280 mOsm/kg, dilusi dari komponen darah. Hypernatraemia adalah suatu kondisi klinis dimana didapatkan kadar Na olasma darah diatas 145 mM. Penyebab hipernatremi adalah diare, keringat yang banyak, peningkatan frekuensi pernafasan, diabetes insipidus, sekresi aldosteron yang berlebihan, near drowning. Gejala klinis yang ditimbulkan berupa: sakit kepala, agitation, penuruna reflek, kejang dan coma. Gejala klinis karena dehidrasi ekstraseluller berupa takikardi, nadi lemah dan cepat, penurunan tekanan darah, kolaps pembuluh darah, kekeringan pada kulit dan mukosa serta penurunan turgor, peningkatan ADH level yang menimbulkan keuhan urin jadi lebih kental, oligouri, polidipsi dan anuria. Dari pemeriksaan laboratorium didapatkan serum Natrium diatas 145 mEq/L. peningkatan osmalalitas serum, peningkatan hematokrit dan ureum.

2. Kalium Merupakan kation intraseluller yang utama, konsentrasi intraseluller 150-160 mEq/L, berfungsi dalam regulasi cairan, Keseimbangan PH, keseimbangan ion dalam sel. Pengaturan Kalium melalui ginjal lewat hormone aldosteron dan insulin.

Hipokalemi adalah suatu keadaan klinis dimana kadar Serum K+ kecil dari 3.5 mEq /L. Penyebab hipokalemi dan gejala klinisnya ditampilkan dalam table :

Tabel: Penyebab dan gejala klinis Hipokalemia

Hiperkalemia adalah suatu keadaan klinis dimana kadar kalium plasma lebih dari 5 mEq/L. Penyebab hiperkalemia adalah; kerusakan sel yang massive, defisiensi insulin, penyakit Addison, penggunaan diuretic hemat kalium, penurunan PH darah, Lat ihan yang menyebabkan benyaknya kalium keluar sel. Hiperkalemia mengurangi ukuran potensial membran ist irahat, dimana ambang batas untuk menembak didekat i dalam neuron dan sel-sel otot lurik. Rangsangan meningkat dalam keadaan hiperkalemia menyebabkan

kontraksi otot, kram diikut i oleh kelemahan otot. Hiperkalemia mengarah pada penurunan detak jantung jantung rangsangan, hipotensi, bradikardi dan akhirnya. EKG dit andai dengan peningkatan durasi dari kompleks QRS- dan Tgelo mbang Serangan jantung terjadi sebagai fibrilasi ventrikel (jantung tidak pernah dapat menghasilkan tetanus halus) atau sebagai detak jantung.