0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan8 halaman

Eng Artike - En.id

Penelitian ini menganalisis peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika dan kepercayaan diri siswa melalui pembelajaran berbasis masalah di SMA Negeri 6 Medan. Hasil menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan kemampuan dan kepercayaan diri siswa, tanpa adanya interaksi signifikan antara kedua variabel tersebut. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen dengan analisis data menggunakan ANOVA Dua Jalur.

Diunggah oleh

firdayulianizahra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan8 halaman

Eng Artike - En.id

Penelitian ini menganalisis peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika dan kepercayaan diri siswa melalui pembelajaran berbasis masalah di SMA Negeri 6 Medan. Hasil menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan kemampuan dan kepercayaan diri siswa, tanpa adanya interaksi signifikan antara kedua variabel tersebut. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen dengan analisis data menggunakan ANOVA Dua Jalur.

Diunggah oleh

firdayulianizahra
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia - www.onlinedoctranslator.

com

Tersedia online di http://journal.uny.ac.id/index.php/jrpm

Jurnal Riset Pendidikan Matematika 5 (1), 2018, 127-134

Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika dan


kepercayaan diri siswa melalui pembelajaran berbasis masalah

Rahmi Ramadhani
Universitas Potensi Utama. Jalan KLYos Sudarso KM 6,5 No.3-A Kota Medan, 20241, Indonesia.
* Penulis Korespondensi. Email: rahmiramadhani3@gmail.com
Diterima: 8 Maret 2017; Direvisi: 16 Mei 2018; Disetujui: 5 Juni 2018

Abstrak
Makalah ini melaporkan hasil penelitian yang berupaya menganalisis: peningkatan KKM dan SC siswa
dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah; dan melihat interaksi antara KKM siswa dan
pembelajaran terhadap peningkatan KKM dan SC siswa. Jenis penelitian ini adalah eksperimen semu. Populasi
penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Negeri 6 Medan. Kemudian 33 siswa dipilih sebagai kelas eksperimen dan
33 siswa di kelas lainnya dipilih sebagai kelas kontrol dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data
dalam penelitian ini dianalisis menggunakan ANOVA Dua Jalur. Hasil validitas tes KKM siswa sebesar 0,808. Kedua
reliabilitas tes sebesar 0,86. Hasil penelitian ini adalah: (1) Peningkatan kemampuan KKM dan SC siswa dengan
menggunakan pembelajaran berbasis masalah lebih tinggi daripada pembelajaran konvensional; (2) Tidak
terdapat interaksi antara KKM dan pembelajaran terhadap kemampuan KKM dan SC siswa.

Kata Kunci: kemampuan pemecahan masalah matematika, pembelajaran berbasis masalah, kepercayaan diri

Cara Mengutip: Ramadhani, R. (2018). Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika dan rasa percaya diri siswa melalui pembelajaran
berbasis masalah.Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 5Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan (Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan), vol. 1,
127-134. doi:http://dx.doi.org/10.21831/jrpm.v5i1.13269

Tautan permanen/DOI: http://dx.doi.org/10.21831/jrpm.v5i1.13269


____________________________________________________________________________

PERKENALAN Seperti yang kita ketahui, kemampuan


matematika siswa di Indonesia masih rendah. Hasil
Matematika dalam pandangan filsafat adalah
penelitian TIMSS 2007, TIMSS 2011, dan PISA 2009
(a) kegiatan manusia yang melibatkan penyelesaian
menunjukkan bahwa siswa Indonesia memiliki
masalah; (b) masalah dan penyelesaian matematika
kemampuan yang rendah dalam menjawab soal
dibagi ke dalam bagian-bagian atau kolektif tertentu
matematika berstandar internasional, terutama
dalam mempelajari masalah; (c) matematika adalah
pada pemecahan masalah matematika (Pure,
bahasa simbolik yang di dalamnya masalah dan
Sabandar, Kusumah & Kartasamita, 2013, p.194).
penyelesaian akan disajikan secara sistematis; dan (d)
Herman mendukung hasil penelitian TIMSS yang
matematika adalah sistem konseptual logis yang
menyatakan bahwa kemampuan pemecahan
terorganisasi (Ernest, 2013, hlm.25). Tymoczko (1998,
masalah siswa SMP relatif lebih baik pada
hlm.8) juga menyatakan bahwa filsafat matematika
pemecahan masalah tugas prosedur, tetapi sangat
dimulai ketika bagaimana kita menggunakan
lemah pada pemecahan masalah nonrutin dan
matematika dalam menyelesaikan masalah dalam
pemecahan masalah (Fauziah, 2010, p. 2).
kehidupan sehari-hari. National Council of Teachers of
Kemampuan pemecahan masalah merupakan kemampuan
Mathematics (Gordah & Astuti, 2013, hlm.228)
siswa dalam menyelesaikan masalah matematika dengan
merumuskan tujuan pembelajaran matematika: (1)
memperhatikan proses pencarian jawaban berdasarkan langkah-
belajar berkomunikasi (matematical communication);
langkah pemecahan masalah (memahami masalah, merencanakan
(2) belajar bernalar (mathematical reasoning); (3)
penyelesaian masalah, menyelesaikan masalah dan memeriksa
belajar memecahkan masalah (mathematical problem
kembali) yang dikemukakan oleh Polya (Nurdalilah, Syahputra, &
solving); (4) belajar menghubungkan ide-ide
Armanto, 2013, p.117). Branca menyatakan bahwa, kemampuan
(mathematical connections); dan (5) pembentukan
pemecahan masalah merupakan jantungnya matematika (Effendi,
sikap positif terhadap matematika (positive attitudes
2012, p.2). Kemampuan pemecahan masalah merupakan hal yang
towards math).
penting dalam matematika, tidak hanya bagi mereka yang akan
belajar matematika.

Ini adalah artikel akses terbuka di bawahCC-BY-SAlisensi.


Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 5 (1), 2018 - 128
Rahmi Ramadhani

atau mempelajari matematika, tetapi juga bagi mereka yang akan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara rasa
menerapkannya dalam berbagai bidang kehidupan sehari-hari percaya diri dengan prestasi belajar matematika.
(Effendi, 2012, hlm. 3). Berdasarkan temuan tersebut, maka Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dalam
kemampuan pemecahan masalah harus dimiliki oleh siswa untuk artikel ini akan dibahas mengenai peningkatan rasa
melatih mereka agar terbiasa dengan masalah, baik dalam percaya diri siswa, khususnya siswa Sekolah
matematika maupun bidang studi lainnya, terlebih lagi untuk Menengah Atas. Ada beberapa cara yang dapat
diterapkan dalam menyelesaikan masalah yang kompleks dalam dilakukan untuk meningkatkan rasa percaya diri
kehidupan sehari-hari. siswa, salah satunya melalui penerapan model
Alasan lain rendahnya hasil belajar siswa adalah pembelajaran matematika.
rendahnya kepercayaan diri siswa dalam memecahkan Banyak peneliti telah melakukan penelitian yang
masalah matematika. Kepercayaan diri adalah keyakinan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan matematika
seseorang terhadap kemampuan mereka untuk siswa, terutama pada pemecahan masalah dan kepercayaan
meningkatkan kinerja dan itu mempengaruhi kehidupan diri siswa. Lousiell dan Descamps (Trianto, 2010, p.57),
sehari-hari mereka (Bandura, 1995, hlm.2). Kepercayaan menggunakan pembelajaran kooperatif jigsaw untuk
diri sangat penting bagi siswa untuk berhasil dalam mengembangkan keterampilan dalam menemukan konsep
belajar matematika (Martyanti, 2016, hlm.16). Dengan dan keterampilan pemecahan masalah. Effendi (2012, p.1)
kepercayaan diri, siswa akan lebih termotivasi dan suka menggunakan pembelajaran penemuan terbimbing dalam
belajar matematika, yang terakhir, diharapkan meningkatkan keterampilan representasi dan pemecahan
pencapaian atau hasil belajar matematika juga optimal. masalah siswa sekolah menengah. Chapman (2005, p.255)
Didukung oleh penelitian sebelumnya, terungkap menggunakan pendekatan penyelidikan reflektif untuk
hubungan positif antara kepercayaan diri dalam belajar meningkatkan kesadaran diri dan pemecahan masalah. Dan
matematika dan hasil belajar matematika (Hannula, penelitian yang dilakukan oleh Surya, Sabandar, Kusumah, &
Maijala, & Pehkonen, 2004, hlm.17; Mullis, Martin, Foy, & Darhim (2013, p.11), menggunakan Pembelajaran Pengajaran
Arora, 2012, hlm.326; Suhendri, 2012, hlm.397). Berarti, Kontekstual untuk meningkatkan kemampuan berpikir visual,
hasil belajar matematika yang tinggi adalah untuk siswa representasi dan pemecahan masalah.
yang memiliki indeks kepercayaan diri yang tinggi. Oleh
karena itu, kepercayaan diri harus dimiliki dan Berdasarkan uraian penelitian terdahulu,
dikembangkan dalam diri siswa. pembelajaran berbasis masalah (PBM) merupakan
salah satu model pembelajaran yang dapat
Kenyataannya, kebutuhan akan rasa percaya meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
diri dalam diri siswa dalam mempelajari matematika PBM merupakan model pembelajaran yang
tidak didukung oleh fakta di lapangan. Masih banyak menggunakan masalah sebagai landasan dalam
siswa yang memiliki rasa percaya diri yang rendah. pembelajaran (Napitupulu, Suryadi, & Kusumah, 2016,
Hal ini terungkap dalam penelitian Mullis et al. (2012, hlm. 119). Dalam pembelajaran berbasis masalah,
p.338) tentang tingkat rasa percaya diri siswa di siswa dikelompokkan ke dalam kelompok diskusi,
Indonesia, yang disajikan pada Gambar 1. kemudian diberikan lembar kerja yang berisi soal
nonrutin dan mendiskusikannya. Siswa berkolaborasi
untuk menyelesaikan soal tersebut. Guru berperan
memfasilitasi pembelajaran melalui teknik scafolding
dengan memberikan arahan langsung atau
mengajukan pertanyaan stimulus untuk membantu
siswa mencari kemungkinan cara penyelesaian akhir
dari masalah matematika melalui pengalaman sehari-
hari siswa (Napitupulu et al., 2016, hlm. 119).
Sintaksis PBM adalah (1) orientasi siswa
terhadap masalah; (2) mengorganisasikan siswa untuk
belajar; (3) membimbing penyelidikan individu dan
kelompok; (4) mengembangkan dan memajang hasil
kerja; dan (5) menganalisis dan mengevaluasi proses
Gambar 1. Tingkat Kepercayaan Diri Siswa dalam Pembelajaran
pemecahan masalah (Trianto, 2010, hlm. 98).
Indonesia
Berdasarkan uraian sintaksis PBM tersebut,
Selain itu, didukung oleh penelitian yang diharapkan dapat memberikan kontribusi yang
dilakukan oleh Hanulla (Wijayanti, 2013, p.192) tentang signifikan dalam meningkatkan kemampuan
Pengembangan Pemahaman dan Kepercayaan Diri dalam pemecahan masalah dan rasa percaya diri siswa,
Matematika; kelas 5-8. Hasil penelitian menunjukkan khususnya pada siswa kelas IX SMA.

Hak Cipta © 2018, JurnalRisetPendidikanMatematika


ISSN 2356-2684 (cetak), ISSN 2477-1503 (online)
Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 5 (1), 2018 - 129
Rahmi Ramadhani

METODE penghargaan, optimis, objektif, bertanggung


jawab, serta rasional dan realistis. Reliabilitas skala
Metode Penelitian
SC berada pada kategori tinggi. Tes KPMM terdiri
Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimen. dari 5 item pertanyaan tingkat sedang dan sulit.
Variabel bebasnya adalah pembelajaran berbasis Indikator tes KPMM adalah: memahami masalah,
masalah dan pembelajaran konvensional. Variabel merencanakan pemecahan masalah,
terikatnya adalah pemecahan masalah matematika melaksanakan rencana pemecahan masalah dan
dan kepercayaan diri setelah perlakuan. Variabel memeriksa kembali.
kontrolnya adalah Kemampuan Matematika Awal Sebelum instrumen penelitian digunakan,
(KAM) siswa dan diklasifikasikan menjadi tiga dilakukan tahap validasi instrumen. Tahap
kategori: tinggi, sedang, dan rendah. Desain validasi dilakukan dengan memberikan tes
penelitian yang digunakan adalah pretestposttest kepada siswa yang bukan sampel penelitian.
control group design. Dua kelompok dipilih secara Kemudian dilanjutkan dengan perhitungan uji
acak untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol. validitas item dengan rumus korelasi Pearson
Product Moment. Setelah diperoleh instrumen
yang valid, instrumen siap digunakan. Data
Populasi dan Sampel
dalam penelitian ini dianalisis dengan
Populasi dalam penelitian ini adalah menggunakan ANOVA Dua Jalur.
seluruh siswa SMA Negeri 6 Medan.
Sebanyak 33 siswa kelas IPA 1 dijadikan Teknik Analisis Data
kelas eksperimen dan 33 siswa kelas lainnya Data dianalisis menggunakan Uji-T, ANOVA
dijadikan kelas kontrol dengan Satu Arah, dan ANOVA Dua Arah. Semua uji
menggunakan teknik purposive sampling. statistik menggunakan nilai signifikansi di bawah
Seluruh kelas diberikan materi ajar yang 0,05. Perangkat lunak SPSS versi 17 dan Microsoft
sama yaitu aturan sinus, kosinus, dan luas Excel digunakan dalam seluruh pengujian.
segitiga. Materi tersebut termasuk dalam
HASIL DAN PEMBAHASAN
materi ajar matematika kelas 9 sesuai
kurikulum 2013. Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematika (KPMM)
Prosedur Penelitian
Tabel 1 menyajikan informasi umum tentang KPMM
Penelitian ini menggunakan desain quasi-experiment
siswa menurut faktor-faktornya. Secara keseluruhan atau
dengan pretest-posttest group design. Penelitian ini
menurut kategori KAM (Kemampuan Awal Matematika)
menggunakan dua kelas, yaitu kelas eksperimen (yang diberi
siswa, kelompok eksperimen (yang diberi perlakuan
perlakuan pembelajaran berbasis masalah) dan kelas kontrol
menggunakan pembelajaran berbasis masalah) memperoleh
(yang tidak diberi perlakuan). Kedua kelas tersebut diberikan
hasil yang lebih baik daripada kelompok kontrol (yang diberi
pretest dan posttest, serta angket kepercayaan diri.
perlakuan menggunakan pembelajaran konvensional).
Tujuannya adalah untuk mengetahui peningkatan yang
Berdasarkan hasil perhitungan data menggunakan Uji
signifikan terhadap perkembangan kemampuan pemecahan
Kolmogorof-Smirnov dan Uji Leneve, menunjukkan sampel
masalah matematis dan kepercayaan diri siswa sebelum dan
berdistribusi normal dan memiliki varians yang homogen.
sesudah perlakuan.

Data, Instrumen dan Pengumpulan Data


Tabel 1. Deskripsi KPMM
Penelitian ini menggunakan dua jenis
instrumen, yaitu kuantitatif dan kualitatif. N Min Maks?̅?SD Var
Instrumen yang digunakan adalah tes kemampuan Pra-uji_Eksperimen 33 6,0 12,0 8,36 1,61 2,59
pemecahan masalah matematis (KPMM), data Pasca-uji_Eksperimen 33 13,0 19,0 15,5 1,61 2,59
kemampuan awal matematika (KAM), dan skala Pra-uji_ Kontrol 33 5,5 10,5 8,29 1,26 1,59
rasa percaya diri (SC). Data kualitatif berupa
Posttest_ Kontrol 33 11,5 18,0 14,0 1,62 2,63
observasi proses pembelajaran dan respon siswa
terhadap pembelajaran. Tabel 2 dan Tabel 3 menyajikan deskripsi data
Skala SC terdiri dari 20 item valid yang KPMM berdasarkan skor N-Gain dilihat dari kelompok
terdiri dari lima pilihan jawaban yaitu sangat setuju mahasiswa dan kelompok mahasiswa KAM.
(SS), setuju (S), kurang setuju (KS), tidak setuju (TS)
dan sangat tidak setuju (STS). Item pernyataan SC
terdiri dari lima indikator yaitu self-

Hak Cipta © 2018, JurnalRisetPendidikanMatematika


ISSN 2356-2684 (cetak), ISSN 2477-1503 (online)
Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 5 (1), 2018 - 130
Rahmi Ramadhani

Tabel 2. Deskripsi KPMM Berdasarkan N-


Dapatkan Setiap Pembelajaran

Data dariKeuntungan Nskor


Kelompok
SD Kategori
Percobaan 0,30 0,88 0,62 0,12 Sedang
Kontrol 0,24 0,80 0,49 0,13 Sedang
Tabel 3. Deskripsi KPMM Berdasarkan N-
Mendapatkan KAM siswa

PBM Konvensional
KAMI
N ?̅? SD N ?̅? SD
Tinggi 18 0,71 0,92 6 0,69 0,64
Sedang 13 0,54 0,38 23 0,47 0,70
Rendah 2 0,37 0,99 4 0,28 0,25

Setelah dilakukan pretest dan posttest Gambar 2. Interaksi antara KPMM mahasiswa
diperoleh N-Gain pada masing-masing kelas untuk dan KAM
mengetahui peningkatan KPMM antara siswa kelas
kontrol dan siswa kelas eksperimen. Rata-rata skor N- Tabel 4 menunjukkan faktor pembelajaran dan
Gain KPMM pada kelas eksperimen sebesar 0,62 dan KAM, diperoleh nilai F sebesar 1,117 dan nilai
pada kelas kontrol sebesar 0,49. signifikansi sebesar 0,334. Karena nilai signifikansi
Hasil uji ANOVA Dua Arah dan N-Gain lebih besar dari taraf signifikansi 0,05 maka H0
KPMM kelompok eksperimen dan kontrol ditolak.1ditolak dan Hangka 0diterima. Dengan demikian,
disajikan pada Tabel 4. dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat interaksi
yang signifikan antara pembelajaran dengan KAM
Tabel 4. Hasil Uji Hipotesis KPMM terhadap peningkatan skor KPMM siswa. Hal ini
Menggunakan Dua Cara ANAVA membuktikan bahwa rata-rata skor KPMM siswa
dengan KAM (tinggi, sedang, dan rendah) yang diajar
Uji Efek Antar Subjek
dengan pembelajaran berbasis masalah tidak
Variabel Terikat:NGain_KPMM
menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan
Tipe III Jumlah Berarti
Sumber df F Tanda tangan. siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional.
dari Kotak Persegi
Grafik uji interaksi disajikan pada Gambar 2.
Model yang Dikoreksi 1.067A 5.213 tahun 42.242.000
Gambar 3 menunjukkan peningkatan
Mencegat 8.570 1 8,57 1695,7 .000 KPMM siswa berdasarkan indikator KPMM dan
Sedang belajar .028 halaman 1 5.537 .022
.028 halaman kelompok belajar siswa.
KAMI . 742 2 . 371 73.366.000
Belajar * KAM . 011 2 . 006 1.117 .334
Kesalahan . 303 60 . 005
Total 21.678 66
Total yang Dikoreksi 1.371 65
a. R Kuadrat = ,779 (R Kuadrat yang Disesuaikan = ,760)

Berdasarkan Tabel 4 pada faktor pembelajaran


diperoleh nilai F sebesar 5,537 dan nilai signifikansi
sebesar 0,022. Karena nilai signifikansi lebih kecil dari
taraf signifikansi 0,05 maka H0 ditolak.angka 0ditolak dan H1
Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa
peningkatan KPMM siswa yang memperoleh
pembelajaran berbasis masalah lebih tinggi
dibandingkan dengan peningkatan KPMM siswa yang
Gambar 3. Peningkatan KPMM Berdasarkan
memperoleh pembelajaran konvensional.
Indikator KPMM
Berdasarkan Gambar 3, siswa yang memperoleh
pembelajaran berbasis masalah memperoleh peningkatan
skor KPMM yang lebih tinggi pada mata pelajaran IPS.

Hak Cipta © 2018, JurnalRisetPendidikanMatematika


ISSN 2356-2684 (cetak), ISSN 2477-1503 (online)
Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 5 (1), 2018 - 131
Rahmi Ramadhani

indikator pemahaman masalah (0,696) lebih baik ditolak dan H1dapat diterima. Dengan demikian, dapat
daripada pembelajaran konvensional (0,516). Pada disimpulkan bahwa terdapat peningkatan SC siswa yang
kelas kontrol, peningkatan tertinggi juga terjadi pada signifikan pada siswa yang diajar dengan pembelajaran berbasis
indikator pemahaman masalah yaitu (0,516). masalah dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.
Peningkatan skor terkecil pembelajaran berbasis Berdasarkan Tabel 8 faktor pembelajaran dan
masalah dan konvensional terdapat pada indikator KAM diperoleh nilai F sebesar 0,395 dan nilai
pengecekan yaitu 0,42 (pembelajaran berbasis signifikansi sebesar 0,675. Karena nilai signifikansi
masalah) dan 0,364 (pembelajaran konvensional). lebih besar dari taraf signifikansi 0,05 maka H0
ditolak.1ditolak dan Hangka 0diterima. Dengan demikian,
Kepercayaan Diri
dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat interaksi
Tabel 5 menyajikan rata-rata deskripsi data SC yang signifikan antara pembelajaran dengan KAM
baik pada kelompok pembelajaran (pembelajaran terhadap peningkatan SC siswa. Hal ini membuktikan
berbasis masalah dan konvensional). bahwa nilai rata-rata SC siswa dengan KAM (tinggi,
sedang belajar). sedang, dan rendah) yang diajar dengan
pembelajaran berbasis masalah tidak menunjukkan
Tabel 5. Deskripsi SC
perbedaan yang signifikan dengan siswa yang diajar
N Min Maks Rata-rata SD dengan pembelajaran konvensional. Grafik uji
Pra-uji_ Eksperimen 33 54 83 67.67 8.11 interaksi disajikan pada Gambar 4.

Posttest_ Eksperimen 33 80 98 90.51 4.54 Tabel 8. Hasil Uji Hipotesis SC Menggunakan


Pra-uji_ Kontrol 33 50 68 60.09 4.53 Dua Cara ANAVA
Posttest_ Kontrol 33 78 88 80.97 2.92 Variabel Terikat: Kepercayaan Diri
Tabel 6 dan Tabel 7 menyajikan deskripsi Sumber
Tipe III Jumlah
Df
Berarti
F Tanda tangan.
dari Kotak Persegi
data kuesioner SC berdasarkan skor N-Gain
dilihat dari kelompok mahasiswa dan kelompok Telah diperbaiki 9079.908A 5 1815.98 47.42.000
mahasiswa KAM. Model
Mencegat 178879.59 1 178879.59 4671.40 .000 1
Tabel 6. Deskripsi Kuesioner SC Berbasis
Sedang belajar 3632.52 3632.52 94,86 .000
pada N-Gain Setiap Pembelajaran
KAMI 435.784 2 217.892 5.690 .005
Kelompok
Data dariKeuntungan Nskor
Sedang belajar 30.245 2 15.123 . 395 .675
SD Kategori * KAM
Percobaan 0,33 0,69 0,40 0,08 Sedang Kesalahan 2297.54 60 38.292
Kontrol 0,24 0,50 0,31 0,07 Sedang
Total 424232. 66
Tabel 7. Deskripsi Angket SC Berdasarkan N- Telah diperbaiki 11377.4 65
Gain dan KAM Siswa Total
a. R Kuadrat = ,798 (R Kuadrat yang Disesuaikan = ,781)
PBM Konvensional
KAMI
N SD N SD
Tinggi 18 64,83 6,58 18 88,89 5,18
Sedang 13 71,61 8,54 13 92,85 2,67
Rendah 2 67,50 2
12.02 tanggal 12.02 90,00 4,54
Setelah dilakukan pretest dan posttest, diperoleh
N-Gain pada masing-masing kelas untuk mengetahui
peningkatan SC antara siswa kelas kontrol dan siswa
kelas eksperimen. Rata-rata skor N-Gain SC pada kelas
eksperimen adalah 0,40 dan pada kelas kontrol adalah
0,31.
Hasil perhitungan ANAVA Dua Jalur, N-
Gain SC kelas eksperimen dan kontrol disajikan
pada Tabel 8. Berdasarkan Tabel 8, pada faktor
belajar-belajar diperoleh nilai F sebesar 94,863
dan nilai signifikansi sebesar 0,000. Karena nilai
signifikansi lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05
Gambar 4. Interaksi antara SC dan KAM
maka H0 ditolak.angka 0adalah

Hak Cipta © 2018, JurnalRisetPendidikanMatematika


ISSN 2356-2684 (cetak), ISSN 2477-1503 (online)
Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 5 (1), 2018 - 132
Rahmi Ramadhani

Berdasarkan Gambar 2 dan Gambar 4, terlihat Dalam proses pembelajaran di sekolah, diperlukan
bahwa tidak ada interaksi antara pembelajaran dan komitmen yang tinggi baik dari siswa maupun
KAM terhadap SC. Namun, yang menarik, SC pada guru. Hal yang sangat penting lainnya adalah
KAM sedang memiliki skor angket yang lebih tinggi penerapan model pembelajaran yang mampu
daripada skor SC pada KAM tinggi dan rendah pada melibatkan siswa dalam proses pembelajaran.
kelas eksperimen (yang diberi perlakuan Kontribusi siswa terjadi melalui kegiatan investigasi
pembelajaran berbasis masalah). Hal yang sama juga dan diskusi kelompok. Investigasi kelompok
terjadi pada kelas kontrol (yang diberi perlakuan bertujuan untuk menciptakan suasana belajar yang
pembelajaran konvensional). Skor angket SC pada bermakna dan meningkatkan rasa percaya diri
KAM sedang memiliki skor angket yang lebih tinggi siswa, terutama dalam proses penyelesaian
daripada skor SC pada KAM tinggi dan rendah. masalah matematika.
Berdasarkan pembahasan sebelumnya, dapat Kolaborasi antara siswa, guru, dan model
disimpulkan bahwa siswa yang diajar dengan pembelajaran yang tepat dapat menciptakan
pembelajaran berbasis masalah lebih banyak mendapat suasana belajar yang kondusif, dan dengan
perlakuan dalam peningkatan KPMM dan SC karena nilai suasana tersebut mampu meningkatkan
rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi daripada nilai kemampuan matematika siswa, seperti
rata-rata kelas konvensional. Dengan kata lain, tidak ada kemampuan pemecahan masalah matematika.
interaksi antara pembelajaran dengan KAM terhadap Tidak hanya faktor kognitif siswa yang
peningkatan KPMM dan SC siswa. berkembang, tetapi faktor afektif siswa juga
Temuan penelitian ini sejalan dengan dapat mengembangkan rasa percaya diri siswa.
pernyataan Mellin-Olsen (Ernest, 2013, p 245) yang
REFERENSI
menyatakan: “semakin diakui bahwa tingkat
kognitif respon siswa dalam matematika Ajai, JT, Imoko, BI, & O'kwu, EI (2013).
ditentukan bukan oleh ‘kemampuan’ siswa, tetapi Perbandingan efektivitas pembelajaran
keterampilan yang dimiliki guru dalam melibatkan pembelajaran berbasis masalah (PBL) dan
siswa dalam ‘aktivitas’ matematika”. Berdasarkan metode pengajaran aljabar konvensional.
pernyataan tersebut, disimpulkan bahwa tingkat Jurnal Pendidikan dan PraktikBahasa
kognitif siswa dalam matematika tidak ditentukan Indonesia:4(1), 131–135.
Diperoleh kembali dari
oleh kemampuan siswa, tetapi keterampilan yang http://www.iiste.org/Jurnal/index.php/JEP/
dimiliki guru dalam melibatkan siswa dalam artikel/tampilan/4053
aktivitas matematika. Selain itu, pembelajaran Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan.Efikasi diri dalam perubahan
berbasis masalah juga didukung oleh teori masyarakatCambridge, MA: Cambridge
konstruktivisme. Teori konstruktivisme yang University Press.
didukung oleh teori (Perkins, Piaget, dan Vygotsky)
Chapman, O. (2005). Membangun model pedagogis
menjelaskan bahwa individu dapat membangun
pengetahuan pemecahan masalah: Calon
pengetahuan melalui lingkungannya. Singkatnya,
guru matematika.Kelompok Internasional
melalui penyelidikan, percakapan, atau aktivitas,
untuk Psikologi Pendidikan Matematika(
seorang siswa dapat membangun pengetahuan
Vol. 2, hlm. 225–232). Cape Town:
baru dengan membangun pengetahuan mereka
Kelompok Internasional untuk Psikologi
saat ini (Grant, 2002, p 2).
Pendidikan Matematika. 35 Aandwind
Hasil penelitian terdahulu yang serupa, seperti penelitian
Street, Kirstenhof, Cape Town, 7945,
yang dilakukan oleh (Ajai, Imoko, & O'kwu, 2013, hlm. 131)
Afrika Selatan. Telp: +27-21-715-3559 ;
menunjukkan bahwa siswa yang diajar dengan menggunakan
Faks: +27-88-021-715-3559 ; e-mail:
pembelajaran berbasis masalah memiliki nilai tes akhir yang lebih
info@igpme.org ; Jaringan lokasi:
tinggi daripada mereka yang diajar dengan menggunakan
http://igpme.org. Diperoleh kembali dari
pembelajaran konvensional. Hasil serupa lainnya juga ditemukan
http://igpme.org
oleh Khoiriyah, AminFauzi, & Syahputra (2014), yang menyatakan
bahwa keterampilan pemecahan masalah siswa yang
Effendi, LA (2012). Pembelajaran matematika
menggunakan pembelajaran berbasis masalah lebih tinggi
dengan metode penemuan terbimbing untuk
meningkat daripada siswa yang menggunakan pembelajaran
meningkatkan kemampuan representasi dan
konvensional.
pemecahan masalah matematis siswa SMP.
Jurnal Penelitian PendidikanBahasa Indonesia:
KESIMPULAN 12(2). Diperoleh dari
Bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa http://jurnal.upi.edu/penelitianpendidikan/

dalam memecahkan masalah matematika dan percaya diri. view/1852/pembelajaran-

Hak Cipta © 2018, JurnalRisetPendidikanMatematika


ISSN 2356-2684 (cetak), ISSN 2477-1503 (online)
Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 5 (1), 2018 - 133
Rahmi Ramadhani

matematika-dengan-metode- MatematikaBahasa Indonesia: 3(1), 1–15.


penemuanterbimbing-untuk- https://doi.org/10.21831/jrpm.v3i1.9825
meningkatkankemampuan-representasi-dan- Mullis, IVS, Martin, MO, Foy, P., dan Arora,
pemecahanmasalah-matematis-siswa-smp.html JURNAL INTERNASIONAL INDONESIA NEGARA (PERSERO)
Ernest, P. (2013).Filsafat Matematika Hasil internasional TIMSS 2011 dalam bidang
Pendidikan. Bahasa Indonesia: Routledge. matematikaBoston, MA: Pusat Studi Internasional TIMSS

Fauziah, A. (2010). Peningkatan kemampuan & PIRLS. Diperoleh kembali dari


pemahaman dan pemecahan masalah matematik https://timssandpirls.bc.edu/timss2011/
siswa SMP melalui strategi react.Forum download/
PendidikanBahasa Indonesia:30(1), 1–13. T11_IR_Matematika_Buku_Lengkap.pdf
Diperoleh kembali dari Murni, A., Sabandar, J., Kusumah, YS, &
http://forumkependidikan.unsri.ac.id/userf Kartasamita, BG (2013). Peningkatan
iles/ANA FAUZIAH.pdf kemampuan pemecahan masalah
Gordah, EK, & Astuti, R. (2013). matematika siswa SMP dengan
Meningkatkan kemampuan komunikasi menggunakan pembelajaran
matematis siswa melalui pengembangan metakognitif berbasis soft skill.Jurnal
bahan ajar geometri dasar berbasis Pendidikan MatematikaBahasa
model recipcoral teaching di STKIP PGRI Indonesia:4(2), 194–203. https://doi.org/
Pontianak. Di dalamSeminar Nasional 10.22342/jme.4.2.554.194-203
Matematika dan Pendidikan Matematika Napitupulu, EE, Suryadi, D., & Kusumah, Y.
2013. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan S. (2016). Menumbuhkan kemampuan penalaran
Matematika FMIPA UNY. Diambil dari matematis dan sikap terhadap matematika pada
http://eprints.uny.ac.id/10752/ siswa sekolah menengah atas melalui
Grant, MM (2002). Memahami proyek pembelajaran berbasis masalah.Jurnal Pendidikan
pembelajaran berbasis.Meridian: Jurnal Teknologi MatematikaBahasa Indonesia:7(2), 117–128.
Komputer Sekolah MenengahBahasa Indonesia: 5(1) https://doi.org/10.22342/jme.7.2.3542.117
adalah Diperoleh kembali dari - 128
https://projects.ncsu.edu/meridian/win200 Nurdalilah, N., Syahputra, E., & Armanto, D.
2/514/ (2013). Perbedaan kemampuan penalaran
Hannula, MS, Maijala, H., & Pehkonen, E. matematika dan pemecahan masalah pada
(2004). Pengembangan pemahaman dan pembelajaran berbasis masalah dan
kepercayaan diri dalam matematika; Kelas pembelajaran konvensional di SMA Negeri 1
5-8.Kelompok Internasional untuk Kualuh Selatan.Paradikma Jurnal Pendidikan
Psikologi Pendidikan MatematikaBergen, MatematikaBahasa Indonesia:6(2), 30.
Norwegia: International Group for the Diperoleh dari
Psychology of Mathematics Education, 35 http://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/
Aandwind Street, Kirstenhof, Cape Town, paradikma/article/view/1056
7945, Afrika Selatan. Situs web: http:// Suhendri, H. (2012). Pengaruh kecerdasan
igpme.org. matematis-logis, rasa percaya diri dan
Khoiriyah, D., AminFauzi, KM, & Syahputra, kemandirian belajar terhadap hasil belajar
E.(2014). Peningkatan kemampuan pemecahan matematika. Di dalamSeminar Nasional
masalah matematika dan self-efisiensi siswa Matematika dan Pendidikan Matematika
melalui pembelajaran berbasis masalah di 2012. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan
MAN 1 Padangsidimpuan.Paradikma Jurnal Matematika Fakultas Matematika dan
Pendidikan MatematikaBahasa Indonesia:7(2), Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas
30. Negeri Yogyakarta. Diambil dari http://
Diperoleh kembali dari eprints.uny.ac.id/8082/
http://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/ Surya, E., Sabandar, J., Kusumah, YS, &
paradikma/article/view/2959 Darhim, D. (2013). Peningkatan kemampuan
Martyanti, A. (2016). Pendekatan keefektifan representasi visual thinking siswa SMP dalam
pemecahan masalah dengan setting STAD pemecahan masalah matematika melalui CTL.
dan TAI tinjauan dari prestasi dan Jurnal Pendidikan MatematikaBahasa
kepercayaan diri.Jurnal Riset Pendidikan Indonesia: 4(1), 113–126.

Hak Cipta © 2018, JurnalRisetPendidikanMatematika


ISSN 2356-2684 (cetak), ISSN 2477-1503 (online)
Jurnal Riset Pendidikan Matematika, 5 (1), 2018 - 134
Rahmi Ramadhani

https://doi.org/10.22342/ Pers Universitas Princeton.


jme.4.1.568.113-126 Wijayanti, PS (2013). Pengaruh pendekatan
Trianto, Mendesain model
Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan (2010). MEAs terhadap kemampuan pemecahan
pembelajaran inovatif-progresif : masalah, komunikasi matematis, dan
konsep, landasan, dan implementasinya kepercayaan diri siswa.Pythagoras: Jurnal
pada kurikulum tingkat satuan Pendidikan MatematikaBahasa Indonesia:8
pendidikan (KTSP)Jakarta: Kencana. (2), 181–192.
Jurnal Ilmu Komputer dan Teknologi, Vol. 11 (1998).Arah baru dalam https://doi.org/10.21831/PG.V8I2.8948
Filsafat Matematika: Sebuah Antologi.

Hak Cipta © 2018, JurnalRisetPendidikanMatematika


ISSN 2356-2684 (cetak), ISSN 2477-1503 (online)

Anda mungkin juga menyukai