Rekayas Perangkat Lunak
Diskusi 4
Soal :
Sebuah klinik bernama SehatMed ingin mengembangkan sistem manajemen klinik untuk memb
antu pencatatan pasien, jadwal dokter, dan transaksi pembayaran.
Sistem ini akan digunakan oleh staf administrasi, dokter, dan pasien.
Sebagai analis sistem, Anda diminta untuk merancang Data Flow Diagram
(DFD) untuk sistem ini. Namun, tim pengembang masih memiliki pertanyaan:
Sampai level berapa DFD harus diturunkan agar sistem dapat dipahami dengan baik?
Bagaimana menentukan bahwa DFD sudah cukup detail untuk melanjutkan ke tahap des
ain pemrograman?
Jika
DFD terlalu sederhana, sistem bisa jadi kurang jelas. Tetapi jika terlalu rinci, bisa jadi me
mbuang waktu dan membuat analisis lebih kompleks dari yang diperlukan.
Pertanyaan Diskusi:
1. Sampai kapan analisis DFD dilakukan? Bagaimana menentukan bahwa DFD sudah cukup
detail dan tidak perlu diturunkan lebih lanjut?
2. Apa dampak dari DFD
yang terlalu sederhana atau terlalu kompleks dalam pengembangan sistem berbasis pem
rograman terstruktur?
3. Bagaimana pendekatan terbaik untuk menjaga keseimbangan antara kejelasan sistem da
n efisiensi dalam perancangan DFD?
Jawaban :
1. Sampai Kapan Analisis DFD Dilakukan? Bagaimana Menentukan Bahwa DFD Sudah Cukup
Detail dan Tidak Perlu Diturunkan Lebih Lanjut?
Analisis DFD dilakukan hingga sistem memiliki pemahaman yang cukup jelas dan lengkap
mengenai aliran data dan proses yang terlibat, agar dapat dilanjutkan ke tahap desain
pemrograman dengan efisien dan akurat.
Beberapa indikator bahwa DFD sudah cukup detail adalah:
a. Semua proses utama telah teridentifikasi
Proses seperti pendaftaran pasien, pencatatan rekam medis, penjadwalan dokter,
transaksi pembayaran, dan pengelolaan farmasi telah dimasukkan dalam DFD.
b. Input dan output setiap proses sudah jelas
Setiap proses memiliki aliran data masuk dan keluar yang terdokumentasi dengan baik
dan tidak ambigu.
c. Aliran data antar entitas, proses, dan data store sudah logis dan tidak redundan
Semua entitas eksternal (dokter, pasien, staf admin) telah terhubung secara logis ke
proses yang relevan, dan data flow tidak tumpang tindih.
d. DFD telah mencapai level teknis yang bisa diterjemahkan ke desain
Jika dari DFD dapat dibangun struktur database dan rancangan modul program, maka
tidak perlu diturunkan lebih lanjut.
e. Validasi dengan stakeholder
Jika pengguna dan pengembang merasa bahwa tidak ada informasi tambahan yang
diperlukan, maka DFD dianggap selesai.
Umumnya, DFD disusun hingga level 1 atau 2, tergantung kompleksitas proses. Level 0 memberi
gambaran umum, Level 1 memecah proses utama, dan Level 2 menggambarkan sub-proses jika
ada kerumitan tertentu.
2. Apa Dampak dari DFD yang Terlalu Sederhana atau Terlalu Kompleks dalam Pengembangan
Sistem?
Dampak DFD yang Terlalu Sederhana:
Kurangnya Kejelasan: Tidak cukup informasi bagi pengembang untuk membangun
sistem sesuai kebutuhan.
Kesalahan Implementasi: Pengembang bisa salah menginterpretasikan proses.
Seringnya Revisi: Karena banyak hal tidak tercakup sejak awal.
Meningkatkan Biaya dan Waktu: Karena harus bolak-balik klarifikasi.
Dampak DFD yang Terlalu Kompleks:
Sulit Dipahami: Membingungkan bagi tim teknis dan non-teknis.
Memakan Waktu dan Sumber Daya: Terlalu banyak rincian yang tidak perlu.
Komunikasi Tidak Efektif: Stakeholder non-teknis kesulitan memahami sistem.
Risiko Kesalahan Interpretasi: Detail berlebihan bisa membebani pengambilan
keputusan teknis.
3. Bagaimana Pendekatan Terbaik untuk Menjaga Keseimbangan antara Kejelasan Sistem dan
Efisiensi dalam Perancangan DFD?
Untuk mencapai keseimbangan yang optimal, berikut adalah pendekatan terbaik:
Gunakan Prinsip Bertahap dan Modular
Mulailah dari DFD Level 0 (konteks diagram) untuk melihat hubungan sistem dengan
entitas luar.
Lanjut ke Level 1 untuk membagi sistem menjadi proses-proses utama.
Tambahkan Level 2 hanya jika ada proses yang cukup kompleks dan butuh rincian
tambahan.
Fokus pada Kebutuhan Nyata
Jangan terlalu fokus pada proses internal yang tidak menambah nilai analisis.
Fokuslah pada aliran data dan proses yang mendukung kebutuhan fungsional sistem.
Libatkan Stakeholder Secara Aktif
Lakukan validasi dengan pengguna sistem (dokter, admin, pasien) dan pengembang
untuk memastikan semua pihak memahami diagram yang dibuat.
Gunakan Simbol dan Penamaan yang Konsisten
Gunakan simbol standar DFD secara benar (proses, data flow, data store, entitas).
Pastikan setiap elemen diberi nama yang jelas dan konsisten.
Evaluasi Kompleksitas Secara Iteratif
Jika suatu bagian diagram terasa membingungkan, pertimbangkan untuk
menyederhanakan atau memecahnya menjadi sub-proses yang lebih mudah dicerna.
Kesimpulan
DFD merupakan alat analisis yang sangat penting dalam pengembangan sistem. Namun,
efektivitasnya bergantung pada tingkat kedalaman dan kejelasan informasi yang disajikan.
Dengan menjaga keseimbangan antara detail dan efisiensi, serta melibatkan stakeholder secara
aktif, maka DFD akan menjadi fondasi yang kuat dalam membangun sistem manajemen klinik
yang handal dan sesuai kebutuhan.
Sumber Referensi : BMP Rekayasa Perangkat Lunak (MSIM4303)