Hikmah Puasa
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahirobbil alamin, Asyhadu alla ilaha illallah. Wa asyhadu anna muhammadarrasulullah. Allahumma shalli ’ala
sayyidina muhammadin wa’ala alihi washahbihi ajma’in.
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kita kesempatan untuk bertemu kembali dengan bulan Ramadan, bulan
penuh berkah, ampunan, dan rahmat. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat,
dan seluruh umatnya yang senantiasa istiqamah di jalan-Nya.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Pernahkah kita bertanya, mengapa Allah mewajibkan puasa kepada kita? Apa sebenarnya tujuan dari ibadah puasa? Apakah
hanya sekadar menahan lapar dan dahaga? Atau ada makna yang lebih dalam? Seperti yang telah disampaikan dalam Surat Al-
Baqarah ayat 183, di mana Allah menjelaskan tentang hikmah puasa. Ayat ini tidak hanya berbicara tentang kewajiban, tetapi
juga tentang tujuan besar yang ingin dicapai oleh setiap orang yang berpuasa.
Isi
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
َأ
َيا ُّيَه ا اَّلِذيَن آَم ُنوا ُكِتَب َعَلْيُكُم الِّص َياُم َكَم ا ُكِتَب َعَلى اَّلِذيَن ِم ْن َق ْبِلُكْم
َلَع َّلُكْم َتَّتُق وَن
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum
kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini dimulai dengan panggilan yang sangat spesial: “Wahai orang-orang yang beriman”. Ini menunjukkan bahwa puasa
adalah ibadah khusus bagi orang-orang yang memiliki iman. Puasa bukan hanya ritual fisik, tetapi juga ibadah yang
membutuhkan keimanan dan kesadaran spiritual.
Pertama, Allah menyebutkan bahwa puasa juga diwajibkan kepada umat-umat sebelum kita. Ini mengajarkan kita bahwa puasa
adalah ibadah yang universal, bukan hanya milik umat Islam. Umat Yahudi, Nasrani, dan agama-agama sebelumnya juga memiliki
tradisi puasa. Ini menunjukkan bahwa puasa memiliki nilai spiritual yang tinggi dan diakui oleh berbagai agama sebagai sarana
mendekatkan diri kita kepada Sang Pencipta.
Kedua, tujuan utama puasa adalah untuk mencapai ketakwaan (la’allakum tattaqun). Apa itu takwa? Takwa adalah keadaan hati
yang selalu merasa diawasi oleh Allah, sehingga seseorang akan senantiasa menjaga diri dari segala perbuatan dosa dan maksiat.
Puasa melatih kita untuk mengendalikan hawa nafsu, menahan diri dari hal-hal yang halal sekalipun, seperti makan dan minum,
demi meraih ridha Allah.
Menjaga diri dari perbuatan maksiat, seperti ghibah (menggunjing), berbohong, atau berbuat curang. Selalu berusaha jujur
dalam setiap tindakan, baik di tempat kerja, sekolah, atau di rumah.
Bayangkan, jika kita bisa menahan diri dari hal-hal yang halal, tentu kita akan lebih mudah menahan diri dari hal-hal yang haram.
Inilah esensi puasa: melatih diri untuk menjadi pribadi yang lebih disiplin, lebih sabar, dan lebih dekat dengan Allah.
Ketiga, puasa mengajarkan kita tentang kesabaran. Ketika kita menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam
matahari, kita belajar untuk bersabar dalam menghadapi ujian dan cobaan hidup. Kesabaran ini akan membentuk karakter kita
menjadi lebih kuat dan tahan uji. Puasa melatih kita untuk mengendalikan hawa nafsu, baik nafsu makan, minum, maupun
emosi. Tidak marah atau emosi meskipun sedang dalam situasi yang memicu amarah. Menahan diri dari mengonsumsi hal-hal
yang berlebihan, seperti makanan atau hiburan yang tidak bermanfaat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Puasa adalah separuh kesabaran.” (HR. Tirmidzi)
Artinya, puasa adalah latihan kesabaran yang luar biasa. Jika kita bisa sabar menahan lapar dan dahaga, insya Allah kita juga bisa
sabar menghadapi masalah hidup, sabar dalam menghadapi ujian, dan sabar dalam menjalankan perintah Allah.
Keempat, puasa mengingatkan kita tentang nikmat Allah yang seringkali kita lupakan. Ketika kita merasakan lapar dan dahaga,
kita akan lebih menghargai nikmat makanan dan minuman yang Allah berikan. Ini juga mengajarkan kita untuk lebih peduli
terhadap sesama, terutama mereka yang kurang beruntung. Memberikan sedekah atau bantuan kepada fakir miskin dan orang
yang membutuhkan.
Berbagi makanan berbuka puasa (ta’jil) dengan tetangga atau orang yang kurang mampu.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang memberi makan orang yang berpuasa untuk berbuka, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang
yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
Ini adalah pelajaran penting: puasa bukan hanya tentang diri kita sendiri, tetapi juga tentang kepedulian kita terhadap orang lain.
Kelima, puasa adalah sarana untuk membersihkan jiwa dan mendekatkan diri kepada Allah. Dengan menahan diri dari hal-hal
yang membatalkan puasa, kita belajar untuk lebih disiplin dan fokus pada ibadah. Puasa juga menjadi momentum untuk
memperbanyak amal shaleh, seperti sedekah, membaca Al-Qur’an, dan shalat malam.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan dengan penuh iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan
diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Penutup yang Menginspirasi:
Hadirin yang dirahmati Allah,
Mari kita renungkan kembali hikmah-hikmah puasa yang telah Allah jelaskan dalam Surat Al-Baqarah ayat 183. Puasa bukan
hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga sarana untuk meningkatkan ketakwaan, kesabaran, dan kepedulian kita
terhadap sesama.
Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan peluang meraih pahala dan ampunan. Mari kita manfaatkan bulan ini sebaik-
baiknya dengan memperbanyak ibadah, menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, dan meningkatkan kualitas
ketakwaan kita.
Semoga Ramadhan kali ini menjadi momentum bagi kita untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, dan meraih
ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amin ya robbal alamin. Sekian yang dapat saya sampaikan. Mohon maaf apabila ada kekeliruan
dan kata-kata yang kurang berkenan.
Wabillahi tawfiq wal hidayah, Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.