PROPOSAL KERJA SAMA
“PENGEMBANGAN DAN PENGELOLAAN
JASA KEPELABUHANAN MELALUI SKEMA
BUP (BADAN USAHA PELABUHAN) DI
WILAYAH TERSUS/TUKS PROVINSI
SULAWESI TENGGARA”
OLEH:
BADAN USAHA PELABUHAN
SULAWESI TENGGARA
TAHUN 2025
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki potensi ekonomi maritim yang
sangat besar, terutama dari sektor pertambangan dan energi. Berdasarkan data dari
Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Direktorat Kepelabuhanan, per 31 Oktober
2024, tercatat terdapat 113 Terminal Khusus (TERSUS) dan 7 Terminal Untuk
Kepentingan Sendiri (TUKS), yang menjadikan total fasilitas pelabuhan di
wilayah ini mencapai 120.
Sebagian besar dari fasilitas tersebut berada di bawah kendali perusahaan-
perusahaan yang beroperasi di sektor pertambangan, dengan total 94 fasilitas,
diikuti oleh sektor energi yang memiliki 9 fasilitas, serta dok dan galangan kapal
yang mencatatkan 8 fasilitas. Konsentrasi fasilitas ini menunjukkan bahwa sektor
pertambangan dan energi memiliki peran dominan dalam pengoperasian
pelabuhan di Sulawesi Tenggara.
Namun, meskipun banyak fasilitas pelabuhan tersebut telah mendapatkan
izin operasional, yang dapat diibaratkan seperti STNK pada kendaraan,
pemanfaatan mereka belum dioptimalkan untuk kegiatan komersial. Hal ini
menjadi tantangan yang perlu diatasi agar potensi ekonomi yang ada bisa
dimanfaatkan secara maksimal.
Pada konteks ini, Badan Usaha Pelabuhan (BUP) memiliki peran penting.
Sebagai entitas yang memegang Izin Usaha Jasa Kepelabuhan dari pemerintah,
BUP memiliki kewenangan untuk menyelenggarakan layanan kepelabuhanan
secara komersial. Dengan pengelolaan yang tepat, BUP dapat membantu
memaksimalkan penggunaan fasilitas TERSUS dan TUKS, serta berkontribusi
pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi dan pungutan
atas layanan yang diberikan.
Dengan demikian, Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki kesempatan
untuk mengembangkan sektor maritimnya lebih lanjut. Kerjasama yang efektif
antara pemerintah, BUP, dan sektor swasta sangat diperlukan untuk memastikan
bahwa izin operasional dapat dimanfaatkan secara optimal, sehingga mendukung
pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan.
B. Tujuan Proposal
1. Mengoptimalkan fasilitas TERSUS/TUKS untuk peningkatan PAD
(Pendapatan Asli Daerah).
2. Meningkatkan kapasitas pelayanan pelabuhan di daerah.
3. Membangun sinergi antara Perusda Provinsi Sulawesi Tenggara dan mitra
swasta melalui pembentukan atau kerja sama dengan BUP.
II. DASAR HUKUM
1. Undang-Undang No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran.
2. Peraturan Pemerintah No. 61 Tahun 2009 tentang Kepelabuhanan.
3. Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 51 Tahun 2015 tentang
Penyelenggaraan Pelabuhan Laut.
4. Peraturan Menteri Perhubungan No. PM 15 Tahun 2015 tentang
Penyelenggaraan dan Pengusahaan Jasa Terkait dengan Angkutan di
Perairan.
III. GAGASAN KERJA SAMA
A. Skema Kerja Sama
Gagasan kerja sama ini bertujuan untuk membangun Joint Operation
(Kerja Sama Operasi) antara Perusda dan mitra calon Badan Usaha Pelabuhan
(BUP). Skema ini akan dirancang secara teknis dan terperinci, meliputi beberapa
komponen utama:
1. Penyertaan Modal oleh Perusda:
o Struktur Kepemilikan
Perusda akan menjadi pemegang saham minoritas, dengan proporsi saham
yang dapat ditentukan berdasarkan negosiasi, misalnya 20-30%. Hal ini
memastikan Perusda memiliki suara dalam keputusan strategis.
o Investasi Awal
Perusda akan melakukan investasi awal yang mencakup penyediaan modal
untuk pembangunan atau peningkatan infrastruktur pelabuhan, seperti
dermaga, gudang, dan fasilitas lainnya.
o Pengembalian Investasi
Dalam perjanjian, akan ditetapkan mekanisme pengembalian investasi
melalui pembagian keuntungan yang dihasilkan dari operasional
pelabuhan.
2. Konsesi/Sewa Jangka Panjang:
o Durasi Konsesi
Perjanjian konsesi atau sewa akan disusun untuk jangka waktu 20-30
tahun, dengan opsi perpanjangan berdasarkan kinerja dan kesepakatan
bersama.
o Syarat dan Ketentuan
Konsesi akan mencakup syarat-syarat teknis, seperti standar operasional,
pemeliharaan fasilitas, dan kewajiban pelaporan ke pemerintah daerah.
o Hak dan Kewajiban
Dokumen konsesi akan menjelaskan hak dan kewajiban masing-masing
pihak, termasuk tanggung jawab dalam hal pengelolaan, pemeliharaan, dan
penyediaan layanan.
B. Ruang Lingkup Usaha BUP
Berdasarkan regulasi yang berlaku, BUP akan memberikan berbagai
layanan yang mendukung operasional pelabuhan. Ruang lingkup usaha ini
mencakup:
1. Penyediaan dan/atau pelayanan jasa dermaga untuk bertambat kapal:
o Pengelolaan fasilitas tambat sandar (berth management) untuk kapal
barang, kapal penumpang, kapal tanker, dan kapal kargo umum.
o Sistem pemesanan tambat (berthing schedule system) berbasis elektronik.
o Fasilitas bollard, fender, dan sistem navigasi dermaga (port navigation aid
system).
2. Penyediaan dan/atau pelayanan pengisian bahan bakar dan pelayanan air
bersih:
o Fasilitas stasiun pengisian bahan bakar kapal (marine fueling station) yang
memenuhi standar IMO dan lingkungan hidup.
o Tangki penyimpanan BBM dan sistem distribusi berbasis pompa
bertekanan tinggi.
o Sistem pengolahan dan suplai air bersih (water treatment & distribution
system) untuk kapal dan area pelabuhan.
3. Penyediaan dan/atau pelayanan fasilitas naik turun penumpang dan/atau
kendaraan:
o Terminal penumpang dengan fasilitas check-in counter, ruang tunggu
berpendingin, boarding bridge, dan layanan disabilitas.
o Area kendaraan dengan pengaturan jalur keluar-masuk (traffic flow),
dermaga Ro-Ro, serta layanan pengamanan dan keselamatan.
o Sistem ticketing, informasi penumpang, dan integrasi transportasi darat.
4. Penyediaan dan/atau pelayanan jasa dermaga untuk kegiatan bongkar muat
barang dan peti kemas:
o Sistem crane dan hoist otomatis (STS crane, RTG, RMGC, dan forklift
berat).
o Area dermaga dengan kapasitas beban tinggi (heavy-duty quay) untuk
kapal curah dan kapal peti kemas.
o Integrasi teknologi Terminal Operating System (TOS) untuk memantau
alur logistik dan produktivitas.
5. Penyediaan dan/atau pelayanan jasa gudang dan tempat penimbunan barang,
alat bongkar muat, serta peralatan pelabuhan:
o Gudang tertutup dan terbuka dengan sistem penyimpanan berbasis barcode
dan RFID.
o Lapangan penumpukan (container yard) dengan sistem stacking dan
tracking digital.
o Penyediaan alat mekanis bongkar muat seperti reach stacker, side loader,
crane, dan pallet mover.
6. Penyediaan dan/atau pelayanan jasa terminal peti kemas, curah cair, curah
kering, dan Ro-Ro:
o Terminal peti kemas dengan jalur logistik terotomatisasi, gate in/gate out
digital, dan container scanner.
o Terminal curah cair dengan sistem perpipaan bawah tanah, flow meter, dan
tangki silo.
o Terminal curah kering dengan fasilitas conveyor belt, bucket elevator, dan
dust suppression system.
o Terminal Ro-Ro dengan loading ramp kuat, vehicle marshalling area, dan
sistem manajemen kendaraan.
7. Penyediaan dan/atau pelayanan jasa bongkar muat barang:
o Pengelolaan operasional bongkar muat berbasis waktu (time-efficiency)
dan keamanan barang.
o Sistem pelaporan real-time kepada pemilik barang dan otoritas pelabuhan.
o Koordinasi dengan TKBM, perencanaan kerja shift, dan monitoring
produktivitas operasional harian.
8. Penyediaan dan/atau pelayanan pusat distribusi dan konsolidasi barang:
o Fasilitas distribution center terpadu dengan cold storage, inventory system,
dan fleet management.
o Konsolidasi muatan kecil ke dalam container penuh (Less than Container
Load - LCL to Full Container Load - FCL).
o Sistem pelacakan barang (tracking & tracing) dan pengiriman multilevel
(last mile delivery).
9. Penyediaan dan/atau pelayanan jasa penundaan kapal (tug services):
o Armada kapal tunda modern dengan kapasitas tenaga kuda (horsepower)
sesuai bobot kapal.
o Layanan pemanduan (pilotage) kapal masuk dan keluar dermaga secara
aman dan efisien.
o Kesiapsiagaan operasional 24/7, termasuk penanganan kedaruratan laut
dan keselamatan kapal.
Setiap layanan akan disesuaikan dengan karakteristik wilayah pelabuhan, standar
nasional maupun internasional (IMO, ISPS Code), serta peraturan perundang-undangan
yang berlaku. BUP juga wajib mengadopsi teknologi informasi dalam pengelolaan
pelabuhan guna meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas layanan.
C. Lokasi Prioritas (Berdasarkan Data DJPL)
Dalam implementasi kerja sama ini, beberapa lokasi prioritas telah
diidentifikasi berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut
(DJPL):
1. UPP Kelas III Molawe:
o Fasilitas
Terdapat 45 TERSUS yang mayoritas digunakan untuk tambang nikel.
Fokus pada peningkatan kapasitas layanan di sini akan sangat
mendukung industri pertambangan.
o Pengembangan Infrastruktur
Rencana peningkatan dermaga dan fasilitas penyimpanan untuk
mendukung arus barang.
2. Kolaka dan Pomalaa:
o Basis Operasi
Merupakan pusat operasi PT ANTAM dan industri nikel lainnya.
Pengelolaan pelabuhan yang efisien di lokasi ini akan mendorong
peningkatan produktivitas.
o Kerjasama dengan Industri
Membina hubungan dengan perusahaan lokal untuk memastikan
kebutuhan logistik mereka terpenuhi.
3. Lapuko dan Morosi:
o Kawasan Energi
Menjadi kawasan industri dan energi yang sedang berkembang. Fokus
pada pengelolaan pelabuhan di sini akan mendukung kegiatan industri
energi dan manufaktur.
o Inisiatif Pengembangan
Membangun kemitraan dengan pengembang energi untuk menyediakan
layanan logistik yang diperlukan.
Dengan skema kerja sama yang terperinci dan teknis ini, diharapkan
kolaborasi antara Perusda dan BUP dapat meningkatkan efisiensi operasional
pelabuhan, memperluas ruang lingkup layanan, dan menciptakan nilai tambah
bagi perekonomian Provinsi Sulawesi Tenggara. Keberhasilan implementasi
skema ini akan bergantung pada komitmen semua pihak dan pengelolaan yang
baik dari fasilitas serta layanan yang disediakan.
IV. ANALISIS EKONOMI DAN POTENSI PAD
A. Estimasi Pendapatan
Dalam analisis ekonomi ini, kita akan menghitung estimasi pendapatan
yang dapat diperoleh dari pengelolaan layanan bongkar muat oleh Badan Usaha
Pelabuhan (BUP) dengan asumsi yang realistis. Contoh yang digunakan adalah
untuk satu BUP yang mengelola layanan bongkar muat:
1. Volume dan Fee Bongkar Muat:
o Volume: 1 juta ton per tahun (ini adalah estimasi konservatif untuk
komoditas nikel yang diangkut).
o Fee Bongkar Muat: Rp 20.000 per ton.
2. Perhitungan Pendapatan Kotor:
o Pendapatan Kotor:
Pendapatan Kotor = Volume × Fee Bongkar Muat
Pendapatan Kotor = 1.000.000 ton × Rp20.000/ton = Rp20.000.000.000
Jadi, pendapatan kotor yang dihasilkan oleh satu BUP adalah Rp 20 miliar per
tahun.
3. Potensi Bagi Hasil ke Perusda:
o Dalam skema kerja sama ini, diasumsikan bahwa Perusda akan
mendapatkan bagi hasil sebesar 20% dari pendapatan kotor.
o Potensi Bagi Hasil:
Bagi Hasil = Pendapatan Kotor × 20% Bagi Hasil = Rp20.000.000.000 ×
0,20 = Rp4.000.000.000
Dengan demikian, potensi pendapatan bagi hasil untuk Perusda dari satu BUP
adalah Rp 4 miliar per tahun.
4. Estimasi Jika 3 BUP Beroperasi:
o Jika terdapat 3 BUP yang beroperasi dalam tahun pertama, total potensi
PAD langsung yang dapat diperoleh adalah:
o Total Potensi PAD:
Total PAD = Bagi Hasil per BUP × 3
Total PAD = Rp4.000.000.000 × 3 = Rp12.000.000.000
Oleh karena itu, total potensi PAD langsung dari 3 BUP beroperasi adalah Rp
12 miliar per tahun.
B. Sumber PAD Tambahan
Selain pendapatan langsung dari bagi hasil, terdapat beberapa sumber
tambahan yang dapat meningkatkan PAD Provinsi Sulawesi Tenggara, antara
lain:
1. Dividen dari Penyertaan Saham Perusda:
Perusda yang memiliki saham di BUP akan berhak atas dividen. Estimasi
dividen dapat dihitung berdasarkan kinerja keuangan BUP. Misalnya, jika
BUP menghasilkan laba bersih Rp 10 miliar, dan Perusda memiliki 30%
saham, maka dividen yang diperoleh Perusda adalah:
Dividen = Laba Bersih × Persentase Saham
Dividen = Rp10.000.000.000 × 0,30 =Rp3.000.000.000
2. Retribusi Daerah dari Aktivitas Pelabuhan:
Retribusi yang dikenakan kepada pengguna jasa pelabuhan, seperti tarif
parkir kapal, tarif penyimpanan barang, dan lainnya. Misalnya, jika total
retribusi yang dikumpulkan dari aktivitas pelabuhan mencapai Rp 5 miliar per
tahun, ini akan menjadi tambahan yang signifikan bagi PAD.
3. Pajak dan PPh dari Aktivitas BUP:
Pajak Penghasilan (PPh) yang dibayarkan oleh BUP berdasarkan laba yang
dihasilkan dari operasional. Jika BUP membayar PPh sebesar 25% dari laba
bersihnya, ini juga akan berkontribusi pada pendapatan daerah.
Contoh:
PPh = Laba Bersih × 25%
Jika laba bersih BUP sebesar Rp 10 miliar, maka PPh yang dibayarkan
adalah:
PPh = Rp10.000.000.000 × 0,25 = Rp2.500.000.000
Mempertimbangkan estimasi pendapatan dari satu BUP dan potensi PAD
dari sumber tambahan lainnya, total PAD yang dapat diperoleh dari aktivitas
pelabuhan di Provinsi Sulawesi Tenggara dapat mencapai angka yang signifikan.
Dengan 3 BUP beroperasi, potensi PAD langsung mencapai Rp 12 miliar, dan
dengan sumber tambahan seperti dividen, retribusi daerah, dan pajak, total PAD
dapat meningkat jauh lebih tinggi, memberikan dampak positif bagi
perekonomian daerah.
V. TAHAPAN IMPLEMENTASI
Untuk memastikan kelancaran pelaksanaan kerja sama antara Perusda dan
Badan Usaha Pelabuhan (BUP), tahapan implementasi perlu direncanakan dan
dilaksanakan secara sistematis. Berikut adalah rincian setiap tahapan, kegiatan,
dan waktu pelaksanaan yang diperlukan.
No Tahapan Kegiatan Waktu
Penandatanganan Nota
1 Inisiasi Bulan 1
Kesepahaman (MoU)
Studi Kelayakan dan Due
2 Kajian Bulan 1-2
Diligence
Pendirian BUP dan Pengurusan
3 Legalitas Bulan 2-3
Izin
Launching Operasional dan
4 Operasional Bulan 4
Audit Awal
1. Inisiasi
o Kegiatan: Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU)
MoU akan menjadi landasan hukum dan kesepakatan awal antara Perusda
dan mitra calon BUP. Dokumen ini akan mencakup tujuan kerja sama,
tanggung jawab masing-masing pihak, serta kerangka waktu pelaksanaan.
o Langkah-langkah:
a) Penyusunan draft MoU oleh tim hukum Perusda.
b) Diskusi dan negosiasi mengenai isi MoU dengan mitra.
c) Penandatanganan MoU oleh kedua belah pihak.
Waktu: Bulan 1
2. Kajian
o Kegiatan: Studi Kelayakan dan Due Diligence
Melakukan studi kelayakan untuk menilai potensi ekonomi, teknis, dan
finansial dari pengelolaan pelabuhan. Due diligence bertujuan untuk
memastikan bahwa semua aspek hukum, keuangan, dan operasional telah
diperiksa dengan cermat.
o Langkah-langkah:
a) Pengumpulan data dan informasi terkait fasilitas pelabuhan dan industri
yang ada.
b) Analisis pasar untuk menentukan volume dan jenis barang yang akan
dikelola.
c) Penilaian risiko dan peluang yang terkait dengan pengelolaan BUP.
d) Penyusunan laporan hasil studi kelayakan.
Waktu: Bulan 1-2
3. Legalitas
o Kegiatan: Pendirian BUP dan Pengurusan Izin
Pendirian BUP sebagai entitas hukum yang akan mengelola layanan
kepelabuhanan. Proses ini juga mencakup pengurusan izin operasional
yang diperlukan untuk menjalankan kegiatan.
o Langkah-langkah:
a) Penyusunan dokumen pendirian BUP, termasuk anggaran dasar dan
anggaran rumah tangga.
b) Pengajuan permohonan izin usaha kepada pemerintah daerah dan
instansi terkait.
c) Proses verifikasi dan evaluasi oleh pihak berwenang.
d) Penerbitan izin operasional dan dokumen legal lainnya.
Waktu: Bulan 2-3
4. Operasional
o Kegiatan: Launching Operasional dan Audit Awal
Peluncuran resmi operasional BUP setelah semua persiapan dan izin
selesai. Audit awal dilakukan untuk memastikan bahwa semua sistem dan
prosedur berfungsi dengan baik sebelum pelayanan dimulai.
o Langkah-langkah:
a) Persiapan acara launching, termasuk undangan kepada stakeholder dan
media.
b) Pelaksanaan acara launching operasional BUP.
c) Melakukan audit awal terhadap fasilitas, peralatan, dan sistem
operasional untuk memastikan kepatuhan pada standar yang ditetapkan.
d) Penyusunan laporan hasil audit awal sebagai dasar untuk perbaikan.
Waktu: Bulan 4
Mengikuti tahapan implementasi yang terstruktur ini, diharapkan kerja
sama antara Perusda dan BUP dapat berjalan dengan lancar dan efektif. Setiap
tahapan direncanakan untuk memastikan bahwa semua aspek hukum, teknis, dan
operasional terkelola dengan baik, sehingga dapat memberikan kontribusi
maksimal bagi pengembangan ekonomi Provinsi Sulawesi Tenggara.
VI. PENUTUP
Proposal ini merupakan langkah awal yang penting dalam membangun
kerja sama strategis antara Perusda Sulawesi Tenggara dan mitra calon Badan
Usaha Pelabuhan (BUP). Kerja sama ini bertujuan untuk membangun ekosistem
pelabuhan daerah yang efisien, modern, dan berkontribusi secara signifikan
terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Dukungan regulasi yang kuat dari pemerintah, ditambah dengan potensi
geografis yang dimiliki Provinsi Sulawesi Tenggara, menjadikan kerja sama ini
layak dan prospektif. Dengan posisi strategis yang menghubungkan berbagai rute
perdagangan maritim, provinsi ini memiliki peluang besar untuk menjadi pusat
kegiatan pelabuhan yang penting di Indonesia.
Melalui kerja sama ini, diharapkan akan tercipta berbagai manfaat, antara
lain:
a. Peningkatan Efisiensi Operasional. Dengan pengelolaan yang lebih baik
melalui BUP, proses bongkar muat dan layanan pelabuhan lainnya dapat
dilakukan dengan lebih efisien.
b. Peningkatan PAD. Pendapatan yang dihasilkan dari aktivitas pelabuhan akan
memberikan kontribusi langsung kepada PAD provinsi, mendukung
pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik.
c. Peningkatan Kualitas Layanan. Modernisasi fasilitas dan teknologi yang
diterapkan akan meningkatkan kualitas layanan kepada pengguna jasa
pelabuhan, menciptakan pengalaman yang lebih baik bagi pengusaha dan
masyarakat.
Perusda Sultra berkomitmen untuk menjalankan semua tahapan dalam
proposal ini dengan penuh tanggung jawab dan transparansi. Kami akan berupaya
menjalin komunikasi yang baik dan kolaboratif dengan semua pihak terkait untuk
memastikan keberhasilan proyek ini.
Dengan keyakinan terhadap potensi yang ada, kami berharap proposal ini
dapat menjadi landasan yang kokoh untuk memulai kerja sama yang saling
menguntungkan. Mari bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik
untuk Provinsi Sulawesi Tenggara melalui pengembangan sektor kepelabuhanan
yang berkelanjutan.
Kendari, April 2025
Mengetahui,
[Nama Mitra Calon Bup]
(_______________________)
Direktur Utama
NASKAH MoU (MEMORANDUM OF UNDERSTANDING) ANTARA
PERUSAHAAN DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA DAN
NAMA CALON BUP / MITRA USAHA
TENTANG KERJA SAMA PENGEMBANGAN DAN PENGELOLAAN
JASA KEPELABUHANAN DI WILAYAH TERSUS/TUKS PROVINSI
SULAWESI TENGGARA
Pasal 1
Para Pihak
1. Perusahaan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara (selanjutnya disebut
“PERUSDA”), berkedudukan di Kendari, mewakili kepentingan
Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara.
2. [Nama Mitra Calon BUP], badan hukum berbentuk Perseroan Terbatas
yang berkedudukan di [alamat lengkap], selanjutnya disebut “MITRA”.
Pasal 2
Maksud dan Tujuan
MoU ini dimaksudkan sebagai landasan awal untuk menjalin kerja sama dalam
rangka pengembangan dan pengelolaan jasa kepelabuhanan berbasis izin BUP di
wilayah TERSUS/TUKS Provinsi Sulawesi Tenggara.
Pasal 3
Ruang Lingkup
1. Pengelolaan fasilitas jasa kepelabuhanan di wilayah TERSUS/TUKS
melalui pembentukan atau pengembangan Badan Usaha Pelabuhan (BUP).
2. Penyelenggaraan layanan seperti:
o Penyediaan dan/atau pelayanan jasa dermaga untuk bertambat;
o Penyediaan dan/atau pelayanan pengisian bahan bakar dan
pelayanan air bersih;
o Penyediaan dan/atau pelayanan fasilitas naik turun penumpang
dan/atau kendaraan;
o Penyediaan dan/atau pelayanan jasa dermaga untuk pelaksanaan
kegiatan bongkar muat barang dan peti kemas;
o Penyediaan dan/atau pelayanan jasa gudang dan tempat
penimbunan barang, alat bongkar muat, serta peralatan pelabuhan;
o Penyediaan dan/atau pelayanan jasa terminal peti kemas, curah
cair, curah kering, dan Ro-Ro;
o Penyediaan dan/atau pelayanan jasa bongkar muat barang;
o Penyediaan dan/atau pelayanan pusat distribusi dan konsolidasi
barang; dan/atau
o Penyediaan dan/atau pelayanan jasa penundaan kapal.
3. Skema kerja sama dapat berupa: penyertaan modal, kerja sama
operasional, maupun konsesi.
Pasal 4
Hak dan Kewajiban Para Pihak
PERUSDA:
o Menyediakan dukungan kebijakan dan kemudahan perizinan.
o Menyertakan modal atau aset dalam skema kerja sama sesuai kapasitas.
MITRA:
o Melaksanakan studi kelayakan teknis dan bisnis.
o Mengurus perizinan BUP secara sah.
o Mengelola kegiatan jasa kepelabuhanan sesuai standar pelayanan
minimum.
Pasal 5
Jangka Waktu dan Evaluasi
MoU ini berlaku selama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal ditandatangani dan
dapat diperpanjang atas kesepakatan kedua belah pihak.
Pasal 6
Penyelesaian Perselisihan
Segala perselisihan akan diselesaikan secara musyawarah untuk mufakat. Jika
tidak tercapai, akan ditempuh jalur arbitrase sesuai ketentuan hukum yang berlaku
di Indonesia.
Ditetapkan di : Kendari
Tanggal : [Tanggal Penandatanganan]
Mengetahui,
Perusda Provinsi Sulawesi Tenggara [Nama Mitra Calon BUP]
(_______________________) (_______________________)
Direktur Utama Direktur Utama