Anda di halaman 1dari 26

PENERIMA AM DAN FM

A. Penerima AM 1. Blok Diagram Penerima AM

Antena
Penguat Mixer Penguat IF Detektor Penguat Loud Audio

Speaker

RF

OSC

2. Fungsi Masing-masing Blok a. Antena : sebagai penangkap getaran/sinyal yang membawa dan berisikan informasi yang dipancarkan oleh pemancar. b. Penguat RF : berfungsi untuk menguatkan daya RF ( Radio Frequency/ Frekuensi tinggi) yang berisi informasi sebagai hasil modulasi pemancar asal. Setelah diperkuat, geteran RF dicatukan ke mixer. c. Mixer (pencampur) : berfungsi mencampurkan getaran/sinyal RF dengan Frekuensi Osilator Lokal, sehingga diperoleh frekuensi

intermediet (IF/Intermediate Frequency). d. Penguat IF : digunakan untuk menguatkan Frekuensi Intermediet (IF) sebelum diteruskan ke blok detektor. IF merupakan hasil dari pencampuran getaran/sinyal antara RF dengan Osilator Lokal. e. Detektor : digunakan untuk mengubah frekuensi IF menjadi frekuensi informasi. Degan cara ini, unit detektor memisahkan antara

getaran/sinyal pembawa RF dengan getaran informasi ( Audio Frequency/AF). d. Penguat AF : digunakan untuk menyearahkan getaran/ sinyal AF serta meningkatkan level sinyal audio dan kemudian diteruskan penguat AF ke suatu pengeras suara. e. Speaker (pengeras suara) digunakan untuk mengubah sinyal atau getaran listrik berfrekuensi AF menjadi getaran suara yang dapat didengar oleh telinga manusia.

B. Penerima FM 1. Blok Diagram Penerima FM a. Blok Diagram Penerima FM Mono

Penguat

Limiter

Antena

IF

Penguat RF

Mixer

Detekto r FM

DeEmphasi s

Penguat Audio Lo

ud Speaker
OSC

AFC

b. Blok Diagram Penerima FM stereo Loud Speaker


Penguat IF Limiter Penguat Audio

Antena

Penguat RF

Mixer

Detekto r FM

DeEmphasis

Dekoder Stereo

Loud Speaker
OSC AFC Penguat Audio

2. Fungsi Masing-masing Blok a. Antena : berfungsi menangkap sinyal-sinyal bermodulasi yang bersal dari antena pemancar. b. Penguat RF : berfungsi unutk menguatkan sinyal yang ditangkap oleh antena sebelum diteruskan ke blok Mixer (pencampur). c. OSC (Osilator Lokal) : berfungsi unutk mebangkitkan getaran frekuensi yang lebih tinggi dari frekuensi sinyal keluaran RF. Dimana hasilnya akan diteruskan ke blok Mixer. d. Mixer (pencampur) : Berperan untuk mencampurkan kedua frekuensi yang AFC berasal dari RF Amplifier dan Osilator Lokal. Hasil dari olahan mixer adalah Intermediate Frequency (IF) dengan besar 10,7 MHz.

e. Penguat IF : digunakan untuk menguatkan Frekuensi Intermediet (IF) sebelum diteruskan ke blok limiter. f. Limiter (pembatas) : berfungsi unutk meredam amplitudo gelombang yang sudah termodulasi (sinyal yang dikirim pemancar) agar terbentuk sinyal FM murni (beramplitudo rata). g. Detektor FM : digunakan untuk mendeteksi perubahan frekuensi bermodulasi, menjadi sinyal informasi (Audio). h. De-emphasis : berfungsi untuk menekan frekuensi audio yang besarnya berlebihan (tinggi) yang dikirim oleh pemancar. i. AFC (Automatic Frequency Control / Pengendali Frekuensi Otomatis) : berfungsi unutk mengatur frekuensi osilator local secara otomatis agar tetap stabil. j. Dekoder Stereo : digunakan unutk memproses sinyal Stereo, sehingga hasilnya diteruskan pada 2 buah penguat AF (FM Stereo). k. Penguat Audio : digunakan untuk menyearahkan getaran/ sinyal AF serta meningkatkan level sinyal audio dan kemudian diteruskan penguat AF ke suatu pengeras suara. e. Speaker (pengeras suara) digunakan untuk mengubah sinyal atau getaran listrik berfrekuensi AF menjadi getaran suara yang dapat didengar oleh telinga manusia.

Amplifier AF dan RF

Amplifier AF Frekuensi Distribusi & Audio

Audio dalam

(AF)

penguat AF

membantu (Audio untuk suara,

memasok

Frequency) mengoperasikan

kekuatan pengeras

bagian tangan atau perangkat output lainnya. Mereka sebagian besar

digunakan dalam perangkat audio dan pasokan AF (Audio Distribution & Frekuensi Audio) kekuatan

rentang frekuensi yang berbeda. Ini AF (Audio Distribution & Frekuensi Audio) amplifier memiliki tiga tahap menggunakan satu VT-triode dan tiga VT-pentodes. Tahap Amplifier AF termasuk kontrol volume dan kontrol kadang treble dan bass dan dengan fasilitas memadamkan atau mematikan. Grid dari tabung pertama terhubung ke lengan bergerak dari kontrol gain audio melalui sebuah kapasitor memblokir. Pelat dari amplifier ini digabungkan ke jaringan penguat kedua melalui sebuah kapasitor, resistor piring dan kebocoran grid. Tabung penguat kedua, sementara sebuah pentoda, dioperasikan sebagai triode dengan menghubungkan piring dan layar bersama-sama. Mereka tersedia dalam rentang frekuensi yang luas yang membutuhkan aplikasi yang beragam. Mereka digunakan dalam perangkat yang berbeda dalam rentang frekuensi yang berbeda seperti frekuensi rendah untuk perangkat yang memerlukan tingkat daya rendah audio. Pada penerima portabel amplifier frekuensi tinggi digunakan

Amplifier RF

Pengertian Penguat RF Penguat RF merupakan perangkat yang berfungsi memperkuat sinyal frekuensi tinggi yang dihasilkan osilator RF dan diterima oleh antena untuk dipancarkan. Penguat RF yang ideal harus menunjukkan tingkat perolehan daya yang tinggi, gambaran noise yang rendah, stabilitas dinamis yang baik, admitansi pindah baliknya rendah sehingga antena akan terisolasikan dari osilator, dan selektivitas yang cukup untuk mencegah masuknya frekuensi IF, frekuensi bayangan, dan frekuensi-frekuensi lainnya. Pada penguat RF, rangkaian yang umum digunakan adalah penguat kelas A dan Kelas C. Secara umum, penguat RF lengkap terdiri dari tiga buah tingkatan, yaitu buffer, driver, dan final. 1. Buffer Buffer merupakan blok rangkaian yang berfungsi sebagai penyangga atau penyaring sinyal masukan (input) agar sesuai dengan karakteristik kerja penguat. Buffer merupakan penguat tingkat satu dengan daya output yang kecil. Buffer merupakan suatu rangkaian penguat yang mempunyai impedansi input tinggi dan impedansi output rendah. Impedansi input tinggi berarti pembebanan yang rendah dari tingkat sebelumnya. Jika buffer tidak digunakan, maka transfer daya dari tingkat sebelumnya ke tingkat selanjutnya tidak akan maksimum. Penguat buffer umumnya mempunyai daya output maksimum 0,5 watt.

2. Driver Driver merupakan penguat tingkat dua yang juga merupakan rangkaian kendali dari penguat RF. Rangkaian penguat pada driver akan menentukan daya pada rangkaian final. Rangkaian penguat driver ini mempunyai daya output yang lebih besar dari rangkaian buffer. Penguat driver umumnya

mempunyai daya output maksimum 5 watt, rangkaian penguatnya dikatakan rangkaian penguat sinyal menengah atau daya sedang.

3. Final Final merupakan penguat tingkat akhir. Rangkaian penguat final menentukan daya output secara keseluruhan dari penguat RF. Rangkaian final ini merupakan penguat tingkat akhir yang dihubungkan ke antena pemancar. Komponen penguat dari rangkaian final ini mempunyai daya yang tinggi.

2.2 Kelas Operasi Penguat Daya Penguat daya diklasifikasikan berdasarkan kelas operasinya. Masingmasing kelas operasi mempunyai sifat yang berbeda satu sama lain. Pengggunaan dari masing-masing kelas disesuaikan dengan kebutuhan. Kelas operasi menentukan linieritas dan efisiensi dari penguat daya. Linieritas berhubungan dengan besar distorsi yang terjadi pada kaki kolektor transistor, sedangkan efisiensi menentukan besar catu daya yang dibutuhkan utuk memperoleh keluaran daya tertentu. Berdasarkan lokasi titik kerja, kelas operasi penguat daya dapat dibagi beberapa kelas yaitu kelas A, B, dan C.

2.2.1 Penguat daya Kelas A Operasi kelas A berarti bahwa transistor selalu beroperasi di daerah aktif. Ini mengandung arti bahwa arus kolektor mengalir sepanjang 360o dari siklus ac. Hal ini disebabkan karena pada kondisi tanpa sinyal, basis transistor telah diberi tegangan bias. Sifat-sifat penguat kelas A, yaitu: Bati Tegangan dengan Beban

Di dalam penguat CE pada gambar 2.7, tegangan ac Vin menggerakkan basis, menghasilkan tegangan keluar ac Vout. Bati tegangan tanpa beban adalah

Gambar 2.1 Penguat CE Karena resistansi yag dilihat oleh kolektor adalah

Sehingga dapat

dihitung bati

tegangan terhadap beban dengan

menggunakan persamaan sebagai berikut:

AV

rc ....................................(2.3) r 'c

Dimana : rc rc RC A RL AV Bati Arus Pada gambar 2.1, bati arus sebuah transistor adalah perbandingan arus kolektor ac terhadap arus basis ac. Persamaannya adalah sebagai berikut: = Resistansi emiter ac = Resistansi kolektor ac = Resistansi kolektor dc = Bati Tegangan tanpa beban = Resistansi beban = Bati tegangan dengan beban

Dimana : Ai = Bati arus ic = Arus kolektor ac ib = Arus basis ac

Bati Daya

Tanda minus (-) diperlukan karena adanya pembalikan fasa. Perbandingan Pout/Pin disebut sebagai bati daya dan ditulis dengan Ap. dengan mengambil perbandingan tersebut, didapatkan:

Dimana : P in v in ib ic vout Pout Ap Av Ai Daya beban Pada gambar 2.1, daya ac ke dalam tahanan beban RL adalah = Daya input ac = Tegangan melintas pada resistansi emiter = Arus basis ac = Arus kolektor ac = Tegangan keluar = Daya output ac = Bati daya = Bati tegangan = Bati arus

Dimana : PL = Daya beban ac VL = Tegangan beban rms RL = Resistansi beban

Efisiensi Tahapan Efisiensi tahapan kelas A diberikan oleh

Dimana :

PL(maks) =Daya beban maksimum PS = daya dc dari catu = Efisiensi tahapan

(Albert Paul Malvino, Ph. D. Prinsip-Prinsip Elektronika Jilid I , 1991:260)

2.2.2 Penguat daya Kelas B

Operasi kelas B sebuah transistor berarti bahwa arus kolektor hanya mengalir 180o dari siklus ac. Ini berarti bahwa titik Q ditempatkan di dekat titik putus dari kedua garis beban dc dan ac. Keuntungan operasi kelas B adalah rendahnya disipasi daya transistor dan kekurangannya penguras arus. Rangkaian Dorong Tarik Bila transistor dioperasikan pada kelas B, ia akan menggunting setengah siklus. Untuk menghindari distorsi yang dapat terjadi maka harus menggunakan dua transistor dalam susunan dorong tarik. Ini berarti bahwa satu transistor bekerja selama setengah siklus dan transistor yang lain bekerja selama setengah siklus yang lain. Dengan rangkaian dorong tarik, kita dapat membangun penguat kelas B yang mempunyai distorsi rendah, daya besar dan efisiensi tinggi

Gambar 2.2 Pengikut Emiter Dorong Tarik Kelas B

Garis Beban DC Karena tidak ada resistansi dc pada rangkaian kolektor atau emitter pada gambar 2.3, arus jenuh dc berharga tak terhingga. Ini berarti bahwa garis beban dc verikal, seperti ditunjukkan pada gambar 2.4.

Gambar 2.3 Rangkaian Ekivalen DC penguat Kelas B

Gambar 2.4 Garis Beban Penguat Kelas B Garis Beban AC Untuk sebuah pengikut emitor, arus jenuh ac adalah

Dengan tegangan putus ac adalah

Dalam pengikut emitor kelas B pada gambar 2.2. ICQ = 0, VCEQ = VCC/2, dan rE = RL. Dengan demikian, arus jenuh ac dan tegangan putus ac disederhanakan menjadi:

Dimana : I C( jen) rE RL VCC = Arus jenuh ac

= Resistansi pembenaman = Resistansi beban = Tegangan catu = Arus jenuh ac = Tegangan kolektoremiter tenang

I C( jen) CEQ V

V CE( put ) = Tegangan putus ac I CQ = Arus kolektor tenang

Gambar 2.4 memperlihatkan garis beban ac. Bila sebuah transistor bekerja, ti0tik operasi transistor itu hanya akan berayun ke atas sepanjang garis beban ac, sementara itu titik operasi transistor yang lain tetap berada pada titik putusnya. Tegangan dari transistor yang menghantar dapat berayun dari keadaan putus sampai keadaan jenuh. Efisiensi Tahapan Efisiensi tahapan kelas A diberikan oleh

Dimana :

PL(maks) =Daya beban maksimum PS = daya dc dari catu = Efisiensi tahapan

Kelas B mempunyai efisiensi tahapan yang lebih besar daripada kelas A karena maenghasilkan jauh lebih banyak daya keluar dengan lebih sedikit daya dc dari catu. Kenyataannya, kelas B mempunyai efisiensi maksimum 78,5 persen, sedangkan penguat kelas A memiliki efisiensi maksimum 25 persen. (Albert Paul Malvino, Ph. D. Prinsip-Prinsip Elektronika Jilid I , 1991:266)

2.2.3 Penguat daya Kelas C Daerah dimana arus kolektor yang mengalir kurang dari 180o siklus ac disebut daerah operasi kelas C. Hal ini berarti bahwa arus kolektor penguat kelas C tidak sinusoidal, karena arus mengalir dalam bentuk pulsa-pulsa. Untuk menghindari distorsi yang disebabkan oleh beban yang bersifat tidak murni, penguat kelas C selalu menggerakkan rangkaian bejana resonansi. Cara ini menghasilkan tegangan keluar berupa tegangan sinusoidal.

Penguat Tertala Gambar 2.4 memperlihatkan salah satu cara utnuk membuat penguat kelas C. Rangkaian bejana resonansi ditala pada frekuensi sinyal masuk. Bila rangkaian mempunyai faktor kualitas (Q) yang tinggi, resonansi paralel akan terjadi disekitar.

Dimana :

fr = Frekuensi resonansi L = Induktansi C = Kapasitansi.

Gambar 2.5 Penguat Kelas C Tertala

Garis Beban DC Karena RS sangat kecil, garis beban dc tampak hampir vertikal, seperti ditunjukkan pada gambar 2.6. transistor tidak mempunyai arus selain arus bocor sehingga tidak ada pelanturan termal. Titik Q diletakkan pada titik putus tanpa resiko pengatur termal.

Gambar 2.6 Garis beban Penguat Kelas C

Garis beban ac yang diturunkan masih tetap sama. Untuk penguat CE

..........................................(2.17)

Dan

..........................................(2.18)

Dimana : I C( jen rC V CEQ I CQ = Arus jenuh ac = Resistansi kolektor ac = Tegangan kolektor emiter tenang = Arus kolektor tenang

V CE( put ) = Tegangan putus ac

. Gambar 2.6 memperlihatkan garis beban ac. Bila transistor bekerja, titik operasinya berayun ke atas sepanjang garis beban ac. Dengan

demikian arus jenuh ac pada penguat kelas C adalah VCC/rC, dan ayunan maksimumnya adalah VCC.

Resistansi Kolektor AC Setiap kumparan atau induktor mempunyai resistansi seri RS. Harga Q dari sebuah induktor diberikan oleh

Pemancar FM Di antara keuntungan FM adalah bebas dari pengaruh gangguan udara, bandwidth (lebar pita) yang lebih besar, dan fidelitas yang tinggi. Jika dibandingkan dengan sistem AM, maka FM memiliki beberapa keunggulan, diantaranya : Lebih tahan noise Frekuensi yang dialokasikan untuk siaran FM berada diantara 88 108 MHz, dimana pada wilayah frekuensi ini secara relatif bebas dari gangguan baik atmosfir maupun interferensi yang tidak diharapkan. Jangkauan dari sistem modulasi ini tidak sejauh, jika dibandingkan pada sistem modulasi AM dimana panjang gelombangnya lebih panjang. Sehingga noise yang diakibatkan oleh penurunan daya hampir tidak berpengaruh karena dipancarkan secara LOS (Line Of Sight). Bandwith yang Lebih Lebar Saluran siar FM standar menduduki lebih dari sepuluh kali lebar bandwidth (lebar pita) saluran siar AM. Hal ini disebabkan oleh struktur sideband nonlinear yang lebih kompleks dengan adanya efek-efek (deviasi) sehingga memerlukan bandwidth yang lebih lebar dibanding distribusi linear yang sederhana dari

sideband-sideband dalam sistem AM. Band siar FM terletak pada bagian VHF (Very High Frequency) dari spektrum frekuensi di mana tersedia bandwidth yang lebih lebar daripada gelombang dengan panjang medium (MW) pada band siar AM. Fidelitas Tinggi Respon yang seragam terhadap frekuensi audio (paling tidak pada interval 50 Hz sampai 15 KHz), distorsi (harmonik dan intermodulasi) dengan amplitudo sangat rendah, tingkat noise yang sangat rendah, dan respon transien yang bagus sangat diperlukan untuk kinerja Hi-Fi yang baik. Pemakaian saluran FM memberikan respon yang cukup untuk frekuensi audio dan menyediakan hubungan radio dengan noise rendah. Karakteristik yang lain hanyalah ditentukan oleh masalah rancangan perangkatnya saja. Transmisi Stereo Alokasi saluran yang lebar dan kemampuan FM untuk menyatukan dengan harmonis beberapa saluran audio pada satu gelombang pembawa, memungkinkan pengembangan sistem penyiaran stereo yang praktis. Ini merupakan sebuah cara bagi industri penyiaran untuk memberikan kualitas reproduksi sebaik atau bahkan lebih baik daripada yang tersedia pada rekaman atau pita stereo. Munculnya compact disc dan perangkat audio digital lainnya akan terus mendorong kalangan industri peralatan dan teknisi siaran lebih jauh untuk memperbaiki kinerja rantai siaran FM secara keseluruhan. Hak komunikasi Tambahan Bandwidth yang lebar pada saluran siar FM juga memungkinkan untuk memuat dua saluran data atau audio tambahan, sering disebut Subsidiary Communication Authorization (SCA), bersama dengan transmisi stereo. Saluran SCA

menyediakan sumber penerimaan yang penting bagi kebanyakan stasiun radio dan

sekaligus sebagai media penyediaan jasa digital dan audio yang berguna untuk khalayak. Teori Modulasi Frekuensi (FM) Baik FM (Frekuensi Modulation) maupun PM (Phase Modulation) merupakan kasus khusus dari modulasi sudut (angular modulation). Dalam sistem modulasi sudut frekuensi dan fasa dari gelombang pembawa berubah terhadap waktu menurut fungsi dari sinyal yang dimodulasikan (ditumpangkan). Misal persamaan gelombang pembawa dirumuskan sebagai berikut : Uc = Ac sin (wc + qc) Dalam modulasi amplitudo (AM) maka nilai 'Ac' akan berubah-ubah menurut fungsi dari sinyal yang ditumpangkan. Sedangkan dalam modulasi sudut yang diubah-ubah adalah salah satu dari komponen 'wc + qc'. Jika yang diubah-ubah adalah komponen 'wc' maka disebut Frekuensi Modulation (FM), dan jika komponen 'qc' yang diubah-ubah maka disebut Phase Modulation (PM). Jadi dalam sistem FM, sinyal modulasi (yang ditumpangkan) akan menyebabkan frekuensi dari gelombang pembawa berubah-ubah sesuai perubahan frekuensi dari sinyal modulasi. Sedangkan pada PM perubahan dari sinyal modulasi akan merubah fasa dari gelombang pembawa. Hubungan antara perubahan frekuensi dari gelombang pembawa, perubahan fasa dari gelombang pembawa, dan frekuensi sinyal modulasi dinyatakan sebagai indeks modulasi (m) dimana : m = Perubahan frekuensi (peak to peak Hz) / frekuensi modulasi (Hz) Dalam siaran FM, gelombang pembawa harus memiliki perubahan frekuensi yang sesuai dengan amplituda dari sinyal modulasi, tetapi bebas frekuensi sinyal modulasi yang diatur oleh frekuensi modulator. Pre-Emphasis

Pre-emphasis dipakai dalam pesawat pemancar untuk mencegah pengaruh kecacatan pada sinyal terima. Karena iru komponen pre-emphasis ditempatkan pada awal sebelum sinyal itu sempat masuk pada modulator. Pengaruh kecacatan itu berasal dari differential gain (DG-penguatan yang berbeda) dan differential phase (DP-fasa yang berbeda). Pre-emphasis akan menekan amplitudo dari frekuensi sinyal FM yang lebih rendah pada input. Dengan penggunaan alat ini ketidaklinearan (cacat) akibat sifat DG dan DP dalam transmisi dapat dikurangi. Nantinya di ujung terima pada demodulator dipasang komponen de-emphasis yang mempunyai fungsi kebalikan dari pre-emphasis. Pemancar FM Tujuan dari pemancar FM adalah untuk merubah satu atau lebih sinyal input yang berupa frekuensi audio (AF) menjadi gelombang termodulasi dalam sinyal RF (Radio Frekuensi) yang dimaksudkan sebagai output daya yang kemudian diumpankan ke sistem antena untuk dipancarkan. Dalam bentuk sederhana dapat dipisahkan atas modulator FM dan sebuah power amplifier RF dalam satu unit. Sebenarnya pemancar FM terdiri atas rangkaian blok subsistem yang memiliki fungsi tersendiri, yaitu: 1. FM exciter merubah sinyal audio menjadi frekuensi RF yang sudah termodulasi 2. Intermediate Power Amplifier (IPA) dibutuhkan pada beberapa pemancar untuk meningkatkan tingkat daya RF agar mampu menghandle final stage 3. Power Amplifier di tingkat akhir menaikkan power dari sinyal sesuai yang dibutuhkan oleh sistem antena

4. Catu daya (power supply) merubah input power dari sumber AC menjadi tegangan dan arus DC atau AC yang dibutuhkan oleh tiap subsistem 5. Transmitter Control System memonitor, melindungi dan memberikan perintah bagi tiap subsistem sehingga mereka dapat bekerja sama dan memberikan hasil yang diinginkan 6. RF lowpass filter membatasi frekuensi yang tidak diingikan dari output pemancar 7. Directional coupler yang mengindikasikan bahwa daya sedang dikirimkan atau diterima dari sistem antena FM Exciter Jantung dari pemancar siaran FM terletak pada exciter-nya. Fungsi dari exciter adalah untuk membangkitkan dan memodulasikan gelombang pembawa dengan satu atau lebih input (mono, stereo, SCA) sesuai dengan standar FCC. Gelombang pembawa yang telah dimodulasi kemudian diperkuat oleh wideband amplifier ke level yang dibutuhkan oleh tingkat berikutnya. Direct FM merupakan teknik modulasi dimana frekuensi dari oscilator dapat diubah sesuai dengan tegangan yang digunakan. Seperti halnya oscilator, disebut voltage tuned oscilator (VTO) dimungkinkan oleh perkembangan dioda tuning varaktor yang dapat merubah kapasitansi menurut perubahan tegangan bias reverse (disebut juga voltage controlled oscillator atau VCO). Kestabilan frekuensi dari oscillitor direct FM tidak cukup bagus, untuk itu dibutuhkan automotic frekuensi control system (AFC) yang menggunakan sebuah kristal oscillator stabil sebagai frekuensi referensi. Komponen AFC berperan sebagai pengatur frekuensi yang dibangkitkan oscillator lokal untuk dicatukan ke mixer, sehingga frekuensi oscillator menjadi stabil.

Penguat Mikropon dengan Kompresor Tingkat Nada Dinamik Pada rancangan ini transistor BC547C berlaku sebagai penguat awal sebesar 20 dB untuk sinyal dari mikropon. Tegangan kolektornya mengeset level tegangan DC untuk input op-amp sebesar kurang lebih setengah dari tegangan catu. Output sinyal audio dari op-amp disearahkan oleh diode D1 dan D2 yang mencatu kapasitor C1 dan C2 berturut-turut positif dan negatif. Beda tegangan antara C1 dan C2 menimbulkan pembuangan muatan yang melewati R3, D3, D4, dan R4. Kapasitor C3 dan C4 mempunyai fungsi ganda yaitu mengurangi riak-riak AC dari arus melalui D3 dan D4 dan menyediakan pembumian (ground) untuk pembagi tegangan yang terdiri atas R5 dan impedansi dari dioda D3 dan D4 ( paralel ). Impedansi pada kedua dioda tersebut bergantung pada besarnya pembuangan muatan oleh kapasitor C1 dan C2 yang melewati kedua dioda ini. Semakin besar arus pada rangkaian dioda, semakin kecil impedansinya, dan berati semakin kecil pula tegangan input untuk op-amp pada pin noninverting (positif). Pada saat sinyal voltase di input op-amp kecil, ketidaklinearitasan dioda menciptakan distorsi yang kecil, sebesar 2,5 V p-p di output op-amp. Oleh: Team RTC-UI

Rangkaian

Detektor

Sinyal

AF/RF

beserta

komponen

dan

cara

pembuatannya Rangkaian Detektor Sinyal AF / RF ini adalah rangkaian elektronik khusus yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya sinyal AF/RF pada bagian tertentu dari sebuah rangkaian. Seluruh perangkat detektor sinyal AF / RF dapat dibuat sekecil mungkin sehingga dapat dimasukkan dalam wadah untuk menjaga keamanan. Dasar rangkaian detektor sinyal AF/RF ini menggunakan sebuah audio amplifier dan sebuah loudspeaker dengan saklar masukan untuk sinyal AF dan RF. Bagian Audio amplifier pada rangkaian ini dibuat oleh IC TDA 2822M, dengan low power stereo amplifier pada 8-pin mini DIP. IC ini digunakan sebagai bridge cofiguration untuk mengecilkan output power hingga 250 mW, loudspeaker yang digunakan 4 ohm, 500mW. Arus yang dibutuhkan lebih kecil dari 10mA dengan tegangan 3V baterei.

Gambar Detektor Sinyal AF/RF

Skema

Rangkaian

Ketika selektor switch pada posisi AF, detektor sinyal audio bekerja pada masukan input AF amplifier (pin 7 IC 1) melalui kapasitor C2 dan Potensiometer VR1. Kapasitor C2 selalu menahan input amplifier dari tegangan DC dan mewujudkannya dalam sinyal frekuensi audio. Sinyal input IC 1 dapat diatur dengan bantuan potensiometer VR1.

Ketika selector switch pada posisi RF, detektor dan demodulator dibentuk oleh kapasitor C1, diode D1, dan resistor R1 serta R2 yang dihubungkan pada input rangkaian. Bila sinyal audio terdeteksi maka akan secara nyata masuk ke rangkaian untuk diperkuat. Pendeteksian sinyal ini dilakukan dengan cara mencolokkan peraba (probe) pada kaki-kaki komponen yang ada dalam rangkaian detektor sinyal AF/RF.